Gejolak Sosial

7 Alasan Harga Diri Menahan Kebaikan Hati – Buang Hal Yang Berlebihan Itu!

Alasan Harga Diri Menahan Kebaikan Hati - Buang Hal Yang Berlebihan Itu!

Harga diri adalah kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri (KBBI Luring). Merupakan faktor penilaian eksternal yang tidak dapat kita kontrol sepenuhnya. Orang yang satu bisa menganggap kita tidak memilikinya dan orang yang lain bisa saja berpikir memilikinya. Ini penilaian yang paling tidak jelas yang kami temukan hingga saat ini. Sebab tidak ada suatu standar yang dapat menilai ukurannya untuk masing-masing orang.

Ungkapan ini berkembang untuk mendatangkan keuntungan kepada kalangan atas

Ada baiknya jikalau kita mulai bergerak keluar dari pemahaman kuno yang terkesan dibuat-buat untuk sekedar menambah-nambah gaya bahasa. Bila kita telisik lebih dalam lagi maka kemungkinan besar penggunaan kata “harga diri” pertama sekali dilakukan oleh kalangan atas untuk merendahkan dan menghina kaum terpinggirkan. Kecerdasan manusia cenderung menggiring kehidupannya kepada sesuatu yang membuatnya merasa untung, hingga dibesar-besarkan. Tetapi saat ada yang membuatnya merasa dirugikan, langsung mengubur hal tersebut dalam-dalam.

Manusia selalu memperebutkan harga yang paling tinggi

Jelaslah bahwa pemahaman kata harga diri dibentuk dalam masyarakat yang berjenjang dan dipisahkan oleh berbagai-bagai kelas. Manusia yang hidup di dalam masyarakat yang masih mempercayai sistem kasta cenderung hidup melegalkan pemahaman akan penghargaan yang berlebihan terhadap diri seseorang. Sistem semacam ini jelas ditiru dari hewan-hewan yang hidup liar di padang belantara, makhluk yang menggunakan taring, cakar dan ototnya untuk menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Sadar atau tidak ini juga akan terjadi dalam masyarakat kapitalis dimana posisi puncak selalu menjadi bahan rebutan dari generasi ke generasi. Korban materi bahkan korban jiwa mungkin saja bisa terjadi.

Akhirnya harga diri menurunkan kecerdasan

Orang yang sudah biasa berdiri dalam starata sosial tinggi cenderung menolak pekerjaan recehan karena dianggap recehan. Lalu meletakkan pekerjaan tersebut pada seseorang yang lebih rendah posisinya. Dengan berlaku demikian, mereka hidup nyaman dan tenggelam dalam kemewahan yang terkesan berlebihan. Padahal keadaan ini sama saja dengan mengurangi pekerjaan bahkan menghilangkan tanggung jawab yang semestinya diselesaikannya sebab semuanya sudah diserahkan kepada bawahan. Dia benar-benar tidak memahami apa yang sedang dihadapinya, minimnya pekerjaan membuat aktivitas otak mengalami penurunan hingga turunnya kecerdasan manusia itu sendiri.

Arahkan rasa malu kepada kebenaran bukan kepada gengsi

Sadar atau tidak harga diri erat kaitannya dengan gengsi. Saat seseorang gengsi melakukan ini dan itu maka tepat saat itu juga, merasa malu jika dipaksa untuk mengerjakannya. Tetapi ketika yang ada di dalam hati seseorang bukanlah suatu sifat yang khas dengan perilaku gengsi gede-gedeaan, alhasil apapun tanggung jawab yang diberikan akan diselesaikan tepat waktu. Sadarilah bahwa saat kita bisa beraktivitas memberi manfaat kepada sesama, tepat saat itu juga ada rasa puas dan bahagia karena dapat menggeluti ajaran kebenaran yang disampaikan di dalam Kitab Suci. Kebenaran adalah panggilan hidup manusia yang pertama dan utama, saat anda bisa menekuninya dengan setulus hati maka tepat saat itu juga hidup ini lebih berarti.

Pilih kebenaran atau penghargaan terhadap diri sendiri?

Menurut anda dimanakah yang lebih penting, harga diri atau kebenaran? Saat diperhadapkan dalam dua situasi yang semacam ini, dimanakah yang anda pilih? Atau lebih tepatnya apa yang akan ditekuni hari lepas hari, menjaga agar selalu berharga atau selalu tampil berbuat yang benar? Sebenarnya apa sih pentingnya harga diri? Bisakah anda membeli sebuah bon-bon dengan itu? Lalu apa juga pentingnya kebenaran? Bukankah dengan menerapkan nilai-nilai yang benar maka kehidupan ini akan bahagia, puas, damai dan tenteram di bumi maupun di sorga? Jadi sekarang, anda perlu memilih yang mana yang harus diusahakan!

Jalan terbaik untuk memilih semuanya ini adalah dengan cara kembali menyadari eksistensi akan keberadaan manusia di tengah dunia yang penuh gejolak. Semunya ini akan kembali lagi kepada apa tujuan anda selama hidup di bumi? Jikalau tujuan itu tidak jauh jauh dari nilai kebenaran berarti lebih memilih mengasihi Tuhan dengan seutuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Inilah yang menjadi dasar yang teguh untuk membuat kita tidak begitu mementingkan penghargaan yang diperoleh tetapi lebih fokus untuk memperjuangkan hal yang benar hari demi hari.

Faktor penyebab harga diri menghambat kebaikan hati yang seharusnya mampu kita ekspresikan

Hati-hati dengan fokusmu selama menjalani hari demi hari. Kita bisa saja membutuhkan uang dan materi tetapi saat terlalu fokus kepadanya maka akan menjadi orang yang materialistis. Seseorang bisa saja berkarya menghasilkan banyak hal tetapi karena terlalu fokus kepada pujian yang menyertainya maka beresiko membuatnya gila popularitas. Karena terlalu fokus untuk menghargai diri sendiri maka secara tidak sadar beberapa orang telah lupa untuk memperjuangkan nilai-nilai yang benar dalam kehidupannya. Berikut ini kami akan memberikan beberapa alasan mengapa hal tersebut bisa sampai meniadakan kemauan anda untuk berbuat yang benar.

  1. Fokus kepada harga diri membuat kita lupa melakukan kebenaran.

    Hidup ini tergantung dari fokus, kemana arah yang anda tuju maka kesanalah segenap kekuatan, potensi dan sumber daya diarahkan. Saat terlalu membawa hati dalam pertimbangan tentang cara-cara bagaimana memperoleh penghargaan dari orang lain maka tepat saat itu jugalah nilai-nilai yang benar bisa saja terkikis.

  2. Harga diri erat kaitannya dengan kemalasan dan kebenaran erat kaitannya dengan sikap yang rajin.

    Kami sendiri baru menyadari hal ini, saat anda lebih mementingkan penghargaan terhadap diri sendiri maka tepat saat itulah terkesan menyuruh sana-sini untuk mengerjakan sesuatu. Misalnya saat ada kesempatan untuk menyuci piring, dia malas lalu menyuruh orang lain dengan mengatakan “goa nggak level dengan pekerjaan itu.” Ketika ada pekerjaan untuk mengambil ini-itu, langsung saja ia berkata: “Tik ambilin minum gua dululah.” < Alamak, cuma ngambil air minum aja kagak mampu, ini malas atau gengsi 😀 >

    Perhatikan orang yang mau membuat dirinya bermanfaat bagi orang lain, pasti pekerjaan yang bisa dikerjakan akan diselesaikannya. Terkecuali jikalau memang dia sedang sibuk melakukan sesuatu.

  3. Harga diri adalah fatamo rgana sedangkan kebenaran itu sejati.

    Tahukah anda bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai harga diri hanyalah semacam ilusi yang dibuat oleh diri sendiri. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa “ini hanyalah kata-kata sindiran yang digunakan para kaum bangsawan untuk merendahkan rakyat jelata dalam masa raja-raja kuno.” Coba tanyakan hal tersebut kepada orang lain, “Menurutmu berhargakah saya ini?” Pastilah jawabannya berbeda-beda.

    Mau bukti untuk lebih meyakinkan lagi? Silahkan cari di dalam Alkitab atau Kitab Suci lainnya, apakah ada sesuatu yang disebutkan tentang kepribadian seseorang yang berharga? Tetapi coba cari kata-kata tentang kebenaran atau yang lebih sederhananya adalah “benar.” Niscaya anda akan menemukan lebih dari 900 ayat yang berkata demikian.

  4. Harga diri berhubungan dengan gengsi sedang kebenaran adalah berkorban.

    Orang yang sangat mementingkan penghargaan terhadap dirinya, memiliki gengsi yang cukup tinggi. Rasa gengsi inilah yang cenderung membuat kita terhambat/ terhalang/ tertahan untuk melakukan hal yang baik. Saat melihat pakaian seseorang lusuh dan dekil, kita enggan untuk tersenyum kepadanya sebab merasa bahwa “pastilah dia babu, konglomelarat menghormati babu, so what gitu lho…. (maksudnya konglomerat) 😀 “

  5. Harga diri bisa di beli tetapi kebenaran butuh pengorbanan.

    Jika anda adalah seseorang yang sangat ingin dihargai dimana-mana, tidak perlu banyak pusing sana-sini. Melainkan cukup membagikan amal dalam nilai yang tinggi-tinggi dalam setiap acara sosial dan keagamaan. Niscaya orang lain akan tepuk tangan dan andapun akan merasa kebanggaan di dalam hati sendiri.

    Tetapi saat anda memutuskan untuk memperjuangkan nilai-nilai yang benar maka amal yang anda berikan kepada seseorang atau sekelompok orang akan disedekahkan secara sembunyi-sembunyi. Akibatnya nama andapun tidak akan pernah didengarkan oleh orang lain/ dipublikasikan.

    Bagi anda yang sudah terbiasa membeli segala sesuatu akan berat rasanya saat diminta untuk mengorbankan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai harga diri. Tentu saja lebih memilih untuk tidak melakukan hal yang benar itu ketimbang kehilangan penghargaan itu.

  6. Harga diri bisa diperoleh dengan membayar tetapi kebenaran harus diperjuangkan.

    Saat anda ingin dihargai oleh seseorang, cukup dengan memberikannya uang secara rutin, entah dia fakir atau bukan. Niscaya dia akan sangat berterimakasih sekaligus menghargai anda, bagaikan perangko lengket terus dengan anda.

    Tetapi saat anda memulai hubungan dengan orang lain tanpa ada sesuatu yang memikat hatinya, melainkan hanya keramahan dan kesantunan kitalah yang kita dorong ke depan. Memang kedekatan itu pasti terjalin tetapi mungkin saja anda akan diuji  olehnya saat pertama-tama dan tidak tertutup kemungkinan untuk yang selanjutnya. Jadi berjuanglah untuk menghadapi pencobaan itu dengan kepala dingin sembari tetap pertahankan kebaikan hati ini.

  7. Penghargaan terhadap diri anda tidak dihitung di sorga tetapi kebenaran akan menjadi alasan anda masuk sorga.

    Kelak saat kita semua menghadap sorga, Tuhan tidak pernah bertanya, “seberapa besar, seberapa lebar dan seberapa tinggi harga dirimu?” Melainkan “Apakah kamu sudah melakukan kebenaran selama hidup?”

Malu timbul karena belum terbiasa. Jangan fokus pada harga diri karena memicu perasaan gengsi yang berakibat pada semakin besar dan sensitifnya rasa malu itu. Melainkan fokuslah untuk melakukan kebenaran; “kalau anda benar, mengapa mesti malu?”

Tidak ada indikator pasti yang dapat menilai dan membedakan diri seseorang lebih berharga atau tidak dengan yang lainnya. Sadarilah bahwa melakukan kebenaran tidak ada hubungannya dengan harga diri. Justru saat kita terlalu fokus untuk menghargai diri sendiri maka lupa untuk melakukan hal-hal yang baik kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Dibalik semuanya itu, lakukanlah kebenaran dengan cara yang tidak terkesan berlebihan seolah terkesan “show time” melainkan lakukanlah dengan rendah hati dan tulus adanya. Silahkan beranikan diri untuk mencoba-cobanya sendiri, niscaya suatu saat kelak andapun akan mengerti seperti apa yang namanya lebay itu dan bagaimana batas-batasnya. Jika kami tahu, andapun pasti tahu hanya belum menggalinya saja. Roh yang ada di dalam diri kita adalah sama!

Salam, buang hal yang tidak penting itu!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.