Keluarga

+10 Alasan Penyebab Pengangguran – Secara Personal, Sosial, Swasta & Pemerintahan

Alasan & Faktor Penyebab Pengangguran Secara Personal, Sosial, Swasta dan Pemerintahan

Pengangguran adalah hal atau keadaan menganggur (KBBI Luring). Merupakan seseorang yang masih belum memiliki pekerjaan yang menghasilkan sesuatu untuk menafkahi dirinya sendiri maupun orang-orang terdekatnya. Ini momok yang tidak saja dihadapi oleh negara-negara miskin dan berkembang saja, melainkan negara maju juga mengalaminya. Dalam tulisan kali ini, kami akan membahas sampai tuntas apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang/ sekelompok orang menganggur? Kami akan meninjaunya dari faktor kepribadian, sosial dan bernegara.

Alasan pemicu secara personal

Penyebab yang paling lumrah mengapa seseorang menganggur adalah kurangnya kemampuan/ potensi yang dimiliki. Ini bisa saja terjadi dalam masyarkat yang masih belum mengenyam pendidikan yang layak. Biar bagaimanapun masalah pendidikan selalu saja tidak disebabkan oleh faktor tunggal, pemerintah sebagai pemegang kendali sangat berperan dalam menyediakan sarana dan prasarana juga sumber daya tenaga pendidik yang berkualitas dimana tentu saja terjangkau bahkan gratis agar semua orang.

Secara personal manusia memiliki potensi yang seragam, ada yang memiliki kelebihan yang unik & spesial hanya saja jarang. Sedangkan potensi yang general ini dimiliki oleh rata-rata masyarakat. Bila kita membuka mata lebar-lebar maka akan menemukan bahwa tidak ada seorangpun manusia yang tidak memiliki potensi. Bahkan orang yang mengalami disabilitas sekalipun memiliki talenta, bila ada pihak yang mau mempekerjakannya. Terlebih lagi orang-orang biasa yang anggota tubuhnya lengkap, asal saja ada orang yang mau mempekerjakan mereka, pasti bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sistem.

Secara sosial, kebersamaan & gotong royong buat pekerjaan ringan sehingga ada yang menganggur

Pengangguran sudah seharusnya ada dalam suatu sistem. Artinya setiap sistem dalam masyarakat selalu membuat orang-orang menganggur, mengapa demikian? Karena saat jumlah manusia bertambah banyak maka pekerjaan yang dapat diselesaikan sudah ringan. Terlebih ketika masyarakat dipersatukan dalam sistem kerja yang terstruktur dengan baik. Itulah gotong-royong, saat masing-masing orang saling bahu-membahu untuk menyelesaikan sesuatu niscaya pekerjaan lebih ringan dan cepat selesai. Sehingga banyak waktu luang yang tersedia bahkan ada juga orang yang menganggur saking efektifnya kebersamaan itu.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pertumbuhan demografi turut ambil bagian dalam menyebabkan situasi semacam ini. Bukannya tidak ada orang-orang yang memiliki potensi. Percayalah, siapapun dia tidak ada yang menolak mendedikasikan hidupnya agar bermanfaat bagi sesama, melainkan semua ingin bekerja. Tetapi karena jumlah penduduk yang terus bertambah, perebutan lahan pekerjaan lebih tinggi. Bagi mereka yang tidak bisa berkesempatan memiliki tempat untuk mengabdikan diri, akan menjalani hari-hari yang menganggur. Mustahil kita menentang pertumbuhan penduduk, paling juga mengendalikannya. Sedang setiap keluarga harus mendapatkan jatah penghidupan yang layak menurut Pancasila hari lepas hari. Satu-satunya jalan untuk ini adalah dengan mengadakan lapangan kerja sandiwara.

Pengaruh penguasa yang kurang peduli

Seharusnya negara ada untuk semua kaum. Republik ini didirikan bukan hanya demi kepentingan pemerintah dan pengusaha swasta melainkan untuk semua orang; dari yang besar sampai yang kecil; dari pejabat sampai rakyat jelata. Pengangguran bisa jadi merupakan salah satu petunjuk betapa tidak pedulinya negara dengan keberadaan orang-orang di dalamnya. Tapi tunggu dulu, negara itu hanyalah peraturan belaka (yang berdaulat dan diakui secara de facto & de jure) sedang yang menjalankannya adalah pemerintah.

Banyaknya orang yang sedang menganggur adalah kerugiaan besar bagi pemerintah sebagai pelaksana perundang-undang sekaligus sebagai keuntungan bagi pihak swasta. Mengapa demikian? Karena satu orang yang menganggur sama dengan kehilangan sumber daya manusia yang berpotensi untuk menyumbangkan kekayaan bagi khasanah ilmu pengetahuan sekaligus tenaga. Tetapi bagi pihak swasta, keadaan ini sebagai surplus sebab orang yang menganggur tersebut akan menjadi sumber penghasil (pundi-pundi) uang bagi mereka.

Sesungguhnya, di zaman sekarang dimana negara kita, Indonesia sangat mendukung keadilan sosial, pengangguran sekalipun berhak mendapatkan penghidupan yang layak dari APBN. Ini sudah termuat jelas dalam pancasila tepatnya tertulis dalam sila ke lima. Pancasila sebagai dasar negara membela semua kaum dan kalangan tanpa membeda-bedakan sedikitpun. Bukankah semua orang sama kedudukannya di mata hukum? Sedang dasar segala hukum di Indonesia adalah Pancasila. Dari sini saja dapat kita tangkap dengan jelas bahwa dasar negara kita sangat mendukung kesetaraan yang adil dan makmur.

Apa keuntungan swasta saat banyak orang yang menganggur?

Pengusaha swasta sebagai pemilik sekaligus pengelola sumber daya yang tersedia dalam suatu negara berperan penting dalam menurunkan dan meningkatkan angka pengangguran. Jika orang-orang ini dikuasai oleh nafsu rakus akan uang, alhasil mereka akan pelit mengeluarkan anggaran perusahaan untuk membiayai kehidupan tenaga kerja. Mereka akan mencari alibi untuk merampingkan struktur organisasi sekaligus mem-PHK-kan karyawan yang tidak efektif. Itulah bedanya industri swasta yang hanya berpatokan pada hasil, yang penting untung lebih banyak lagi dan lagi.

Di sisi lain, ada pula industri swasta yang bergerak di area-area gelap yang syarat dengan foya-foya dan hura-hura. Mereka menawarkan berbagai kenikmatan duniawi yang berlebihan kepada orang-orang, terutama kalangan muda-mudi. Biasanya ketika seorang pemuda/ pemudi menganggur maka minatnya akan hal-hal yang negatif ini sangat tinggi. Para penganggur ini akan menghabiskan waktunya untuk merokok seharian, minum-minuman keras semalaman, masuk diskotik saat malam tiba, nge-drugs dimana dan lain sebagainya. Biasanya orang yang tidak memiliki pekerjaan ini akan berharap bantuan dari pemerintah lalu pihak swasta menawarkan mereka kenikmatan hidup yang lebay sehingga semua uang tersebut disedot olehnya.

Faktor penyebab timbulnya pengangguran

Tidak ada yang dapat mengatasi pengangguran selain sikap yang peduli kepada kehidupan sesama. Sebab munculnya orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan yang menghasilkan adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat ditolak oleh negara manapun di dunia ini. Sebelum kita membahas tentang bagaimana cara menanggulanginya di masa-masa yang akan datang, marilah terlebih dahulu membahas, apa-apa saja faktor yang mempengaruhi keadaan ini, berikut selengkapnya.

Faktor personal.

  1. Tingkat pendidikan kurang.

    Rendahnya tingkat pendidikan seseorang membuat pekerjaan yang dapat dilamarnya semakin kecil. Saat berbagai perusahaan mensyaratkan kualifikasi yang cukup tinggi, misalnya dalam salah satu syarat bursa pencari kerja, “Dibutuhkan calon karyawan berpendidikan SMA atau sederajat.” Pemerintah yang peduli dengan perkembangan sumber daya manusia, tentu saja akan mengusahakan pendidikan yang terjangkau dan berkapasitas tinggi seluruh rakyat. Terkecuali jika pemerintah adalah kapitalis yang ingin mengangkat kaum tertentu lalu merendahkan kaum yang lain demi kepentingan kelompoknya.

  2. Skill yang dimiliki bersifat general/ umum.

    Bagaimana seseorang bisa memiliki skill yang cukup jika pendidikannya kurang. Tetapi lain halnya saat jumlah masyarakat bertambah-tambah banyak, perolehan talenta dimiliki oleh rata-rata manusia. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan khusus itu jarang sekali, lebih banyak skill general ditemukan. Bila pemerintah tidak adil dan pilih-pilih kasih maka orang yang memiliki bakat umum tersebut akan dirumahkan sebagian besar untuk menganggur. Padahal berdasarkan Pancasila, keadilan sosial berlaku untuk seluruh rakyat Indonesia.

  3. Memiliki soft skil yang lemah.

    Soft skill sangat diperlukan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan yang general. Sikap yang meliputi atititude secara umum akan menjadi pertimbangan besar bagi pihak manajemen ketika pekerjaan yang dilamar bukan sesuatu yang membutuhkan kemampuan sekelas staff ahli. Saat melamar menjadi karyawan biasa yang bekerja ditempat yang tidak membutuhkan inovasi sebab semuanya telah terstruktur, atititude sangat diperhitungkan. Mereka yang cenderung tidak sabar, memiliki temperamen yang labil, kurang sopan-santun, suka bersaing dan melakukan perlawan yang sebenarnya tidak dibutuhkan akan didepak dengan senang hati.

  4. Terlalu pilih-pilih gengsi, hanya bekerja di tempat tertentu.

    Saat suatu sistem tidak menerapkan kesetaraan niscaya lahan-lahan subur penuh sumber daya dan gaji tinggi (disebut juga, lahan basah) akan menjadi favorit beberapa orang. Mereka akan berjuang mati-matian untuk bekerja ditempat tersebut, padahal karyawan yang mendaftar sangat tinggi. Akibatnya, ada banyak orang yang tidak diterima/ ditolak lamarannya. Mereka yang dari awal terlalu yakin akan kecewa berat karena tidak diterima lalu terus mencoba di masa yang akan datang. Mereka tidak sadar, telah lama menganggur hanya untuk mengejar posisi terbaik menjadi Pegawai Negeri Sipil. Umurnya yang keburu tinggi tidak lagi dimungkinkan untuk diterima bekerja pada bidang lain di wilayah kerja swasta.

  5. Ada jaminan harta peninggalan orang tua, kakek dan buyutnya.

    Bagi mereka yang kaya-kaya dan dompetnya tebal sekalipun tidak melakukan apa-apa, bekerja di tempat-tempat recehan itu, gengsi! Bagaimana tidak, harta peninggalan warisan orang tuanya sudah sangat besar untuk membuatnya tetap hidup. Saat uang yang ada sudah menjamin kehidupan seseorang, maka minatnya untuk bekerja minim tsekali. Sekalipun ingin kerja, maunya ditempat-tempat tenar sekaligus lahan basah. Gaji satu-dua jutaan itu tidak ada artinya bagi mereka. Daripada mengharapkan nilai sekecil itu, lebih baik mereka duduk, goyang-goyang kaki di rumah menjadi pengangguran sedang uangnya pasti akan berbunga dengan sendirinya di bank.

    Faktor sosial bermasyarakat.

  6. Pertumbuhan penduduk.

    Seharusnya peningkatan jumlah penduduk menjadi surplus bagi pemerintah. Tetapi saat orang-orang atas tidak mau memikirkan nasib masyarakat luas, niscaya hal ini akan dianggap sebagai sebuah bencana yang menimbulkan konspirasi manipulasi yang masif untuk mengendalikannya.

    Saat penduduk semakin bertambah banyak maka persaingan kerja juga akan semakin tinggi. Akibatnya lebih banyak orang yang ditolak daripada yang diterima untuk bekerja dalam suatu perusahaan.

  7. Perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi).

    Banyak masyarakat pedesaan akan melakukan urbanisasi untuk menemukan lahan pekerjaan di perkotaan. Mereka meninggalkan tempatnya yang kurang diperhatikan oleh pemerintah daerah setempat menuju ke wilayah yang padat industri. Keadaan ini membuat persaingan kerja semakin padat merapat, akibatnya pengangguran juga semakin menjadi-jadi.

  8. Kemampuan daya beli masyarakat kurang (perekonomian yang lesu).

    Saat jumlah uang yang ada di tangan masyarakat terbatas maka kemampuan mereka untuk membeli barang akan menurun. Keberadaan barang dan jasa yang tersedia di pasaran akan terus menumpuk sedangkan daya beli kurang. Inilah salah satu akibat dari tidak adanya keadilan sosial di dalam suatu sistem. Saat daya beli minim maka jumlah barang dan jasa yang laku sedikit sehingga tenaga kerja yang dibutuhkan juga sedikit.

    Faktor industri/ perusahaan bersangkutan.

  9. Industri yang terlalu terpusat dan perusahaan daerah yang tidak ada.

    Suatu wilayah membutuhkan barang-barang tertentu tetapi semuanya itu diproduksi dari tempat yang jauh di daerah pusat. Perusahaan yang terlalu tersentralisasi di pusat Ibu Kota Negara dan Provinsi hanya mensejahterakan daerah pusat. Sedangkan daerah lainnya hanya mau menerima siap saja.

    Sudah seharusnya diadakan desentralisasi agar industri yang menghasilkan kebutuhan masyarkat di produksi oleh perusahaan daerah itu sendiri. Tetapi semuanya ini kembali lagi kepada industri pusat apa mau membuka cabang di daerah terpenncil atau tidak. Ini juga kembali kepada komitmen pemerintah daerah yang menggiring warganya untuk lebih cerdas sehingga mampu menghasilkan sendiri apa yang dibutuhkannya.

  10. Informasi seputar lowongan kerja yang bersifat sembunyi-sembunyi.

    Namanya juga perusahaan perorangan, sudah otomatis mereka lebih mengutamakan orang-orang yang dikenalnya dengan dekat sebagai karyawan baru. Biasanya perusahaan swasta ini tidak melakukan publikasi kepada publik seputar kebutuhan karyawan, baik melalui media masa, online maupun offline. Mereka mengumumkan kebutuhan karyawan baru hanya secara internal saja agar yang bekerja disana hanya kerabat, saudara, sahabat, tetangga dan kaum keluarga lainnya.

  11. Efisiensi yang dilakukan oleh manajemen.

    Para petinggi perusahaan adalah orang yang cukup pelit. Mereka sangat berorientasi pada hasil sedang yang lain-lainnya itu akan dipangkas seefisien mungkin. Efisiensi ini juga dapat dicapai karena telah diberlakukannya sistem komputerisasi. Terlebih ketika para pekerja diganti oleh mesin-mesin mekanik bertenaga listrik yang disebut dengan teknologi robotika. Teknologi semacam ini menempatkan manusia sebagai operator semata sehingga kebutuhan tenaga kerja lebih minim.

  12. Guncangan dalam perusahaan itu sendiri.

    Masalah internal bisa saja terjadi dalam suatu perusaan, terlebih ketika perusahaan tersebut dikuasai oleh perorangan/ swasta. Perusahaan keluarga yang belum memiliki alokasi dana khusus saat terjadi krisis cenderung akan merumahkan karyawannya (PHK) sehingga pengangguran terus meningkat.

    Persaingan antara pengusaha cenderung terjadi secara tidak terkontrol. Sebab masing-masing orang cerdas membentuk industrinya sendiri yang sebenarnya memiliki produk yang tidak jauh beda dari produk industri sebelah. Mereka yang kalah dalam setiap persaingan yang terjadi, tentu akan merumahkan karyawan terlebih duhulu. Oleh karena itu, ada baiknya setiap perusahaan swasta dinasionalisasi oleh pemerintah agar keadaan semacam ini bisa diantisipasi sejak awal.

  13. Perusahaan swasta yang turut berkonspirasi agar pengangguran semakin banyak.

    Industri swasta yang membidangi kenikmatan duniawi menyukai mereka yang pengangguran. Para muda-mudi yang tidak ada kerjaan ini akan diarahkan untuk menikmati hidup secara berlebihan. Rokok akan ditawarkan sebagai penghilang rasa suntuk. Ganja akan dilegalkan untuk mengatasi stres. Seks bebas akan dipamerkan sebagai pemuas dahaga sesaat. Mabuk-mabukan di diskotik akan disahkan sebagai pelarian dari masalah. Game dan judi online akan menjadi mainan para muda-mudi yang sekaligus membuat mereka malas. Industri yang menawarkan kenikmatan duniawi semacam ini cenderung menganggap pengangguran sebagai lahan potensial penghasil rupiah.

    Faktor yang disebabkan oleh pemerintah.

  14. Birokrasi yang korup.

    Mustahil suatu negara bisa makmur saat para petingginya terlalu sibuk untuk mengisi kantong sendiri. Mereka akan memanfaatkan uang negara untuk disimpan bagi diri sendiri bahkan jejak uang tersebut akan hilang. Aset yang seharusnya dikenakan biaya pajak tinggi, lebih banyak disembunyikan untuk diri sendiri. Orang-orang ini berpikir untuk memperkaya diri sendiri padahal dengan berlaku demikan negara menjadi miskin. Lalu untuk apa uangmu yang banyak kalau negara ini miskin?

  15. Pemerintah yang tidak adil.

    Tanpa keadilan sosial maka negara ini adalah padang belantara yang kejam dan beringas. Seleksi alam akan dilancarkan, hanya secara masif dan terstruktur sehingga oknum tertentu akan diuntungkan dari konspirasi tersebut. Ada pula seleksi sosial dalam pencarian bursa kerja, dimana banyak lamaran yang ditolak sehingga pengangguran meningkat dari tahun ke tahun. Tanpa keadilan sosial maka kita akan saling melemahkan, hanya saja berlangsung secara halus dan diam-diam (masif).

  16. Kepedulian pemerintah kurang.

    Saat pemerintah tidak peduli dengan keadaan rakyatnya, orang yang bodoh akan tetap bodoh, yang miskin akan tetap miskin dan yang sedang menganggur akan tetap menjadi pengangguran. Para petinggi negeri tidak berusaha menggali potensi sumber daya manusia yang tersedia sebab mereka hanya peduli dengan golongan tertentu saja.

    Para petinggi negeri tidak peduli tentang manusia dengan skill general sehingga mereka dirumahkan. Padahal jika saja pemerintah mau mengadakan ekonomi/ pekerjaan sandiwara maka semua rakyat akan beroleh pekerjaan yang layak.

  17. Pemerintah secara tidak sengaja memelihara orang-orang malas.

    Saat negara mau menggaji orang yang tidak bekerja maka keadaan ini membuat seseorang tidak memiliki motivasi yang kuat untuk mencari pekerjaan, toh pemerintah menggaji kita! Mental pengangguran semacam ini akan terbentuk seiring dengan semakin sulitnya mencari pekerjaan.

    Tentu saja pemeliharaan negara kepada para pengangguran ini sudah kita tahu akan kemana perginya uang itu. Pastilah semuanya akan masuk dalam kas perusahaan swasta yang berkecipung dalam bisnis lendir, rokok, narkoba, minuman keras, diskotik, game online, judi online dan lain sebagainya.

    Faktor penyebab lainnya.

  18. Minimnya sumber daya alam.

    Untunglah Indonesia adalah negara yang limpah dengan sumber daya alam. Lain halnya dengan negara-negara miskin di kawasan Afrika. Jika tidak ada sumber daya alam, apa yang mau dikerjakan?

  19. Krisis ekonomi.

    Mengapa terjadi krisis ekonomi? Karena pemerintah lebih fokus untuk menghasilkan uang daripada menghasilkan barang dan jasa. Keadaan ini membuat permintaan tidak sebanding dengan penawaran. Istilahnya kebutuhan tidak sebanding dengan produksi. Situasi semacam ini jelas akan membuat harga-harga barang meningkat tajam sedangkan kemampuan ekonomi masyarakat pada umumnya tidak mumpuni untuk membeli barang tersebut.

  20. Sentralisasi jenis usaha secara online.

    Keadaan ini jelas hanya menguntungkan daerah pusat dari suatu wilayah. Semua uang akan terkumpul ke daerah tersebut sehingga terus diperkaya. Sedangkan di wilayah yang jauh, masyarakat tidak lagi melihat pasar secara nyata sebab semuanya sudah online. Keadaan ini membuat perputaran ekonomi hanya tersentralisasi di wilayah pusat saja, seperti Ibu Kota negara dan Ibu Kota Provinsi.

  21. Globalisasi dan pasar bebas.

    Sistem perekonomian pasar bebas jelas tidak peduli dengan karyawan sebagai manusia. Mereka hanya peduli kepada hasil sedangkan tenaga kerja adalah alat untuk mencapai hal tersebut. Ketika alat itu sudah tidak berguna lagi maka ia akan dibuang (di-PHK-kan) begitu saja. Sehebat apapun negara kapitalis, bahkan Amerika sekalipun selalu membutuhkan intervensi pemerintah untuk mendukung industri swasta. Ini terbukti Saat Presiden Trump memberikan dana kepada perusahaan AC agar tidak memindahkan produksinya ke Meksiko.

Pada dasarnya pengangguran adalah fenomena yang sudah ada sejak dari zaman dahulu kala. Jika kita kembali kepada Pancasila maka setiap warga negara berhak atas APBN, pernyataan ini tersirat dari sila ke lima. Bila pemerintah mau peduli kepada seluruh warga masyarakat maka mustahil ada orang yang menganggur. Sebab uang negara yang sangat banyak: dari pajak, BUMN, BUMD, ekpor, visa, bantuan luar negeri, dikemanakan? Seandainya kesetaraan pendapatan diberlakukan maka daya beli masyarakat akan meningkat, barang dan jasa akan laku sehingga kebutuhan akan tenaga kerja juga lebih baik.

Salam keadilan sosial!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.