Kepribadian

7 Masalah Kebanyakan Orang Jaman Now Yang Buat Hati Tidak Tenang, Gelisah, Kuatir & Stres Bahkan Depresi

Masalah Kebanyakan Orang Jaman Now Yang Buat Hati Gelisah, Kuatir & Stres Bahkan Depresi

Manusia berusaha mencapai kedamaian dan ketenteraman hati dengan cara memanjakan ego yang tersembunyi di dalam hatinya. Ini adalah sesuatu yang lebih dikenal dengan sebutan arogansi. Sifat yang arogan memberikan dampak buruk ketika terlalu fokus kepada diri sendiri. Tetapi saat arogansi kita dikeluarkan untuk kepentingan sendiri, yaitu agar kita selalu lebih dan lebih lagi dari orang lain. Alhasil tepat saat itu juga berbagai hal buruk akan kita timpakan kepada orang-orang disekeliling dan lingkungan sekitar (alamiah) bahkan terhadap diri sendiri.

Keinginan yang maunya yang baik terus dan menolak yang buruk-buruk

Sudah tahukah anda apa saja kelakuan manusia jaman sekarang yang membuat hidupnya semakin tidak damai? Sebenarnya bukan orang lain yang membuat kita tidak damai melainkan diri kita sendirilah yang melakukannya. Sebab ada sesuatu di dalam diri kita dimana ingin sesuatu yang wah tetapi menolak yang jelek; mau yang baik tetapi menolak yang buruk; ingin di atas tetapi ogah di bawah. Suasana hati semakin rusak saja ketika kita tidak mampu menerima kenyataan apa adanya. Ketika apa yang kita inginkan tidak terwujud maka tepat saat itu juga pikiran rusak dan hidup kacau balau.

Mau sama seperti tuhan

Di dalam diri setiap manusia ada keinginan untuk menjadi tuhan terhadap sesama. Ini bermula sejak peristiwa di Taman Eden tepat dimana manusia pertama melakukan dosa awal, yaitu “ingin menjadi sama seperti Tuhan.” Ketahuilah bahwa sampai sekarang dosa ini terus berlanjut. Jika di dalam diri anda ada perasaan agar “kita menang terus dari orang lain,” inilah pertanda bahwa keinginan untuk meninggikan diri itu masih meradang di dalam sanubari.

Arogansi tidak mengharamkan hal buruk untuk mencapai tujuan

Apa yang bisa kami katakan tentang arogansi yang sudah ada dan melekat kuat di dalam daging manusia? Bila diumpamakan, itu seperti suatu hasrat yang ingin berada di posisi paling atas menara puncak kehidupan. Akibat dari keinginan semacam ini, seseorang akan berusaha mati-matian bahkan sampai berpikir diluar batas-batas kewajaran. Mereka cenderung melakukan usaha maksimal untuk mencapai tujuannya. Baginya menghalalkan segala cara bukanlah perkara yang memberatkan melainkan suatu usaha untuk mempermulus jalan menuju puncak kehidupan yang diiming-imingi.

Kesetaraan ada untuk meminimalisir dampak buruk arogansi

Inilah sebabnya, mengapa kami begitu memperjuangkan kesetaraan manusia, terutama dalam hal ilmu pengetahuan umum, pendapatan dan kekuasaan. Arogansi adalah sebuah hasrat yang tidak bisa dicabut dari dalam hati siapapun. Itu sepertinya telah menyatu dalam hidup kemanunsiaan itu sendiri. Sehingga ketika faktor luar memicu persaingan maka tepat saat itu juga masing-masing pihak akan berlomba-lomba untuk meraihnya. Terlebih ketika hadiah/ jabatan/ posisi/ pendapatan yang di tawarkan menjanjikan sesuatu yang besar. Niscaya perjuangan yang mereka lakukan juga memakan biaya yang besar (entah itu dalam sisi buruk atau baik).

Bahagia itu menghancurkan arogansi dengan cara lembut

Jika di dalam hati anda masih saja ada hasrat untuk hidup lebih baik dari orang lain; Masih ada hasrat dengki saat melihat orang lain hidupnya lebih baik dari kehidupan kita. Niscaya bahagianya hati inipun akan mengalami instabilitas (gonjang-ganjing) yang tidak pasti. Oleh karena itu, baik bagi anda untuk ikhlas mengalahkan diri sendiri lalu menerima keunggulan orang lain. Inilah maksudnya “menyangkal diri” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Kami sendiripun selalu merasakan hasrat untuk lebih baik dari orang lain. Demikian juga saat ada orang yang lebih baik dari kita, kerap muncul rasa iri di dalam hati. Keinginan untuk lebih unggul dari orang lain juga terlihat jelas saat kita menghadapi masalah: yang ada dalam hati adalah bagaimana caranya agar kita menang terus mengalahkan musuh-musuh kita. Sadarilah bahwa hal-hal semacam inilah yang kerap kali membuat kita tidak damai dan hidup ini jauh dari kebahagiaan.

Tips & Trik mengatasi ego keakuan: Untuk menangani arogansi negatif ini (keinginan untuk terus unggul dari yang lain), kami selalu berkata di dalam hati: “biarkan dia lebih unggul ya Tuhan Yesus…. Dia pantas mendapatkannya!” Atau “biarkan mereka menang ya Tuhan…. Tidak ada yang berdosa disini… Mohon sabarkan hati melewati semuanya.” Alhasil ucapan semacam ini dalam hati membuat hati tenang, bahagia, damai dan tenteram.

Masalah kebanyakan orang jaman now

Jaman now…. 😀 wkwkwkkkkk 😀 Sekali-sekali kita ikut trend, tidak apa-apa ya teman…? Masalah yang kami bahas disini bukanlah sesuatu yang bisa di timbulkan orang lain kepada anda. Melainkan ini adalah persoalan yang asalnya berawal dari dalam hati sendiri. Jika anda tidak mampu mengendalikan hasrat untuk terus unggul dari orang lain, alhasil komunikasi dengan sesama akan terganggu, merasa musuh kita semakin banyak, dendam terus berkobar di dalam hati, tidak ada kebahagiaan di dalam hati dan akhirnya stres bahkan depresi. Berikut ini beberapa pergumulan hidup yang datangnya dari dalam diri sendiri.

  1. Keinginan untuk lebih baik (lebih unggul) dari orang lain.

    Jika itu saja yang ada dalam pikiran kita, “bagaimana caranya ya agar lebih unggul dari orang lain?” Niscaya kehidupan kita tidak pernah tenang bahkan pikiran dipenuhi kegelisahan yang mendalam. Kita sulit melupakan masalalu dimana diri ini lemah, berkekurangan, salah dan teledor. Sekaligus sulit menghadapi masa depan karena terlalu kuatir, “bagaimana caranya agar besok saya bisa tampil lebih baik?”

    Tidak ada waktu yang bisa kita nikmati sepenuhnya baik sebagai pribadi maupun bersama orang-orang yang kita cintai sebab terlalu sibuk memikirkan agar hidupnya lebih melenting lagi dari orang lain. Pada akhirnya, kita akan melegalkan segala cara untuk meraih semuanya sedang disamping itu berjatuhan korban dari sesama dan lingkungan alamiah juga tercemar bahkan rusak bahkan kita sendiripun hancur karena sesatnya keinginan tersebut.

  2. Iri saat melihat orang lain lebih baik.

    Kita terlalu sibuk mengerjai orang lain dan memikirkan “bagaimana caranya agar sikawan ini jatuh?” Terlalu sibuk dengan teman-teman kita untuk beramai-ramai menjatuhkan seseorang. Sampai-sampai diri sendiri tidak menyadari bahwa telah terjebak dalam lumuran dosa yang membuat diri ini semakin jauh dari Tuhan dan jauh dari sesama manusia (Jauh dari kebenaran sejati).

    Kita tertawa terbahak-bahak padahal semuanya itu hanyalah kepalsuan. Kita pamer seolah-olah lebih baik dari orang lain padahal hati ini menjerit karena mulai banyak masalah recehan yang timbul disekitar kita. Diri ini mulai menggila lalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang tak pasti. Rajin memasang jerat terhadap orang lain tetapi nyatanya kita sendirilah yang masuk ke dalam jerat tersebut.

  3. Hasrat yang kuat untuk memenangkan pertarungan.

    Hidup kita sepertinya selalu berada di atas awan-awan. Merasa sudah sangat hebat dari orang lain bahkan mereka terlalu kecil di mata kita, padahal kitalah yang terlalu jauh dari kehidupan mereka yang besar.

    Ketika muncul masalah-masalah sepele yang menghampiri hidup ini, tidak mau kalah dengan orang-orang yang terlibat. Kesabaran kita hilang menghadapi mereka sehingga mulai membentak bahkan melakukan aksi balasan dengan menirukan hal yang buruk. Emosional kita jauh tidak stabil karena maunya ingin memenangkan gejolak tersebut sekalipun dengan cara-cara yang keras dan kasar. Pada akhirnya, kita terjebak oleh kesalahan yang telah di lakukan sendiri.

  4. Tidak mampu menerima kelemahan sendiri/ kesalahan yang kita lakukan.

    Kita terlalu menggilai pujian yang diberikan oleh teman di media sosial. Juga sangat terlena dengan puji-pujian yang didapatkan sesaat setelah bermain game di PC/ Smartphone/ Laptop/ Tablet dan benda elektronik lainnya. Perilaku kita persis seperti saat bermain game, begitu menang: hore!; tetapi saat kalah: berkata sial! bahkan mulai memaki dan mengutuk.

    Kita seperti manusia perfeksionis yang menginginkan kesempurnaan di dalam segala sesuatu. Terlalu menjaga sikap, terlalu hati-hati sehingga tidak mau dirugikan. Diri ini terlalu pelit untuk berbagi kepada orang lain karena enggan berkorban demi kepentingan bersama. Di dunia ini, siapa saja boleh salah tetapi bukan berarti nyali anda menjadi kendur untuk memperjuangkan kebenaran. Melainkan jadikan ketelodoran itu sebagai pengalaman dan teruslah berjuang menegakkan kebenaran (sesuai tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita).

  5. Maunya yang enak-enak saja.

    Ini salah satu penyakit hati yang paling menggegerkan dunia. Bagaimana mungkin kita hanya mau yang baik-baiknya saja sedangkan enggan untuk mencicipi hal-hal yang tidak disukai. Kita merasa hanya harus mencicipi yang baik-baik saja dalam kehidupan ini sedangkan yang buruknya kita buang jauh-jauh. Saat ada masalah kita menolaknya bahkan cenderung menjauhinya padahal itu adalah kesempatan emas untuk belajar mengendalikan diri dan melatih kecerdasan otak.

    Yang kita inginkan agar indra selalu mencicipi hal-hal yang baik, berkelas, mewah dan nyaman. Padahal dengan berlaku demikian kita membiasakan diri pada sesuatu yang sebenarnya tidak dapat kita dijamin keberadaannya seumur hidup. Sebaiknya kita juga harus mampu menikmati saat masalah terjadi juga harus mampu menikmati hal-hal yang sederhana dan murahan. Sebab kita tidak dapat mendefenisikan kebaikan tanpa sebelumnya telah mencicipi keburukan: itulah proses belajar!

  6. Tidak mampu menerima kenyataan bahwa kita semakin menua.

    Harus menyadari bahwa diri ini semakin menua: kekuatan kita tidak akan seperti dulu lagi dan rupa kita tidak akan sebagus dulu lagi. Ini adalah kenyataan yang harus di terima oleh semua orang. Sebab ada banyak orang jaman sekarang karena terlalu bangga dengan rupa dan kekuatannya akan menjadi cemas bahkan stres saat menyadari bahwa rupanya mulai memburuk dan kekuatannya mulai lemah.

    Keadaan ini juga terjadi diantara suami-istri pasangan seumur hidup. Jikalau anda hendak belajar menerima kenyataan apa adanya maka belajarlah menerima keadaan pasangan anda yang mungkin saja udah mulai ada ubannya, muncul keriputnya, kulitnya legam, kekuatannya lemah dan lain sebagainya bentuk penuaan itu.

  7. Menolak kesetaraan.

    Saat kita menolak kesetaraan maka dari sini bisa ditebak bahwa “kita terlalu cinta uang.” Padahal akar dari segala dosa adalah cinta uang (Bnd I Timotius 6:10). Sadarilah bahwa nilai uang dan kekuasaan juga pengetahuan yang terlalu tinggi menjadi bahan rebutan sehingga membuat situasi bermasyarakat kurang kondusif, penuh tipu muslihat dan syarat dengan persaingan.

    Saat terlalu membanggakan uang, jabatan dan pengetahuan yang kita miliki maka tepat saat itu jugalah semuanya akan menjadi jerat untuk menjatuhkan kita. Dampak buruk uang ini ngeri kali lho teman: bagaimana jika orang-orang kaya yang ada disekitar anda memborong barang-barang pangan lalu menyembunyikannya di gudang mereka? Jelas mereka bisa melakukan hal ini toh uangnya banyak, akibatnya harga bahan pangan akan meningkat tajam dan terjadi instabilitas perekonomian hanya gara-gara perilaku menimbun tersebut.

    Kesetaraan adalah salah satu usaha untuk menyingkirkan kebanggaan yang berlebihan akan pengetahuan, kekuasaan dan uang. Dengan demikian pihak tertentu tidak bisa lagi memperlakukan pihak lain semena-mena, seperti di zaman kapitalisme. Apa saja tabiat buruk kapitalis itu: melegalkan narkoba, seks bebas, menjadikan perempuan sebagai objek untuk melariskan jualannya dan masih banyak tabiat buruk lainnya.

Masalah orang jaman naw adalah arogansi: “bagaimana caranya agar dia selalu unggul dari orang lain, bagaimana agar selalu menang dalam pertarungan yang tidak ada ujung-pangkalnya.” Pikiran semacam ini hanya akan membuat hidup anda lebih berat dan semakin terbeban. Oleh karena itu lepaskan dengan menyangkal diri!

Kita terlalu bangga terhadap diri sendiri, terlalu bangga terhadap kemampuan yang dimiliki, terlalu sombong dengan pengetahuan yang dimiliki, terlalu senang dengan kekuasaan yang kita pegang, terlalu diatas angin karena harta benda yang dimiliki. Akibatnya hubungan dengan orang lain memburuk, ada orang lebih dikit: mendengki; ada gejolak dikit-dikit: emosian; ada makanan rusak/ pahit dikit: dibuang, dan lain sebagainya. Kita melakukan semuanya itu agar terasa, terlihat dan terdengar lebih unggul dengan orang lain. Sadarilah bahwa perasaan melebih-lebihkan diri (arogan) semacam ini hanya membuat hati semakin tidak tenang, jauh dari damai, kurang bahagia dan ketenteraman hatipun pergi. Oleh karena itu, adalah lebih baik menyangkal diri: ikhlas membiarkan orang lain lebih unggul dan membiarkan mereka menang. Jika anda terus melakukan hal ini sembari tetap fokus kepada Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian) dan selalu berbagi kasih kepada sesama. Alhasil ada ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, dan ketenteraman memenuhi hati dari waktu ke waktu!

Tambahan dari teman.

Orang yang suka menilai orang lain tetapi tidak mengoreksi diri sendiri.

Ini jelas sebagai sebuah tindakan yang dimiliki oleh orang-orang cerdas. Mereka terlalu pede menilai orang lain sedangkan diri sendiri tidak pernah dikoreksi. Oleh karena itu adalah baik bagi setiap orang untuk mengoreksi diri sendiri sebelum menilai orang lain.

Salam dahsyat!

2 replies »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.