Cerpen

7 Alasan Hidup Tak Seindah Lagu (Film, Sinetron & Karya Seni Lainnya) – Perumpamaan/ Ilustrasi Hanya Gambaran Kehidupan Bukan Sumber Kebahagiaan


Alasan Hidup Tak Seindah Lagu (Film, Sinetron, FTV & Karya Seni Lainnya) - Perumpamaan, Ilustrasi Hanya Gambaran Kehidupan Bukan Sumber Kebahagiaan

Kita selalu berpikir bahwa segala sesuatu baik adanya tetapi masih belum mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak selalu baik. Selalu saja mengatakan bahwa semua akan baik saja padahal sedang mengalami goncangan besar. Itulah manusia selalu saja mampu menyembunyikan dirinya yang sejati dibalik kata-katanya yang manis. Kita harap keadaannya memang sepenuhnya baik karena memang segala sesuatu akan lebih melegakan jika disyukuri dan dihadapi dengan sorak-sorai sambil memuliakan nama Tuhan di dalam hati.

Tidak ada ketenteraman hati tanpa konsistensi

 Perkataan memang senjata ampuh untuk melakukan kebaikan kepada orang lain, sayang lewat kata-kata juga kita sering mencerca orang lain. Bila diumpamakan, “kita membuat mulut ini seperti tetek yang menghasilkan susu yang manis di langit-langit sekali sebagai dubur yang mengeluarkan bau busuk dan aneka sampah-serapah.” Bisakah hal semacam ini menyatu dalam saluran yang sama? Seolah-olah saluran got dan air bersih adalah sama? Adakah kebahagiaan dari sana? Mungkinkah hal ini dapat mendatangkan berkat dalam kehidupan kita? Silahkan tanya dalam hati sendiri.

Satu kali anda memberkati dan dilain waktu anda mengutuki. “Kita membuat mulut ini seperti tetek yang menghasilkan susu yang manis di langit-langit sekaligus sebagai dubur yang mengeluarkan bau busuk dan aneka sampah. Mungkinkah ini bisa berjalan lancar? Ini jelas perilaku yang tidak normal yang membuat kita tersendak, kekurangan oksigen, jatuh dan hidup jadi tak indah lagi.

Selama menjalani hidup, berupayalah untuk selalu berada dalam jalur kebenaran. Jalanilah rel kebenaran tanpa keluar menyimpang ke kanan atau ke kiri. Gunakanlah firman sebagai pedoman hidup ini, niscaya berkat-berkat yang tak terduga akan menghampiri kita, indah pada waktunya. Keindahan sifat yang konsisten tidak terletak pada hasil yang kita dapatkan melainkan membuat kita mampu menikmati hari yang tidak selalu baik. Hasil yang kita peroleh bahkan berada diluar dugaan/ diluar target tetapi pekerjaan yang ditekuni konsisten membuat kita puas karena sudah maksimal dari awal sampai akhir.

Manusia masih belum lepas dari dosanya di awal kehidupan: “mau sama seperti Tuhan

Manusia memang suka terjatuh oleh indranya sendiri. Ia merasa hal tersebut waw, luar biasa tetapi nyatanya itu hanya semacam fatamorgana yang membuat otak berimajinasi liar. Kita suka menikmati sesuatu yang waw, bahkan kami sendiripun suka menonton film bergenre misteri, sci-fi dan kisah fiksi lainnya. Kami sendiripun harus mengakui bahwa sampai sekarang masih suka menonton film superhero keluaran marvel, DC Comic dan lain sebagainya. Semua kebiasaan ini menunjukkan bahwa manusia suka berbagai hal yang bernada tinggi, melebihi batas-batas logik. Ini jelas ada hubungannya dengan dosa pertama manusia, yaitu ingin jadi sama seperti Tuhan.

Faktor penyebab hidup tak seindah pantun/ puisi/ lagu/ film/ sinetron

Berkarya adalah salah satu cara tepat untuk membuat ilustrasi untuk memberikan pelajaran positif yang bermanfaat bagi kesehariaan kita. Ilustrasi ini juga disebut daengan perumpamaan. Sayang beberapa orang menjadikan karya tersebut untuk beroleh pujian, penghargaan, penghormatan, popularitas dan kemuliaan duniawi lainnya. Bahkan kita tidak lagi memperhatikan makna positif di balik karya yang dihasilkan melainkan cenderung mengajak manyesatkan masyarakat

Manusia ingin dipuji, ingin populer, ingin jadi pahlawan bahkan ingin pula jadi manusia super. Semua keadaan ini menunjukkan bahwa kita terjatuh terlalu dalam karena terperosok oleh dosa yang kita buat sendiri. Kita beraktivitas untuk menghasilkan berbagai karya yang tujuan sesungguhnya agar dituhankan oleh orang lain. Atau istilah kasarnya adalah agar di tinggikan oleh sesama manusia. Kita membuat karya yang sangat imajinatif tetapi maknanya sangatlah dangkal bahkan cenderung mengajarkan kesesatan di dalam masyarakat. Tragisnya, tidak hanya diri sendiri yang terperosok tetapi orang lain dan lingkungan alamiah ikut merasakan dampak dari ilmu pengetahuan yang kita bagikan.

Berikut ini akan kami jelaskan beberapa alasan mengapa hidup ini tidak seindah karya seni (puisi, pantun, lagu, film, sinetron, drama dan lainnya) yang dihasilkan oleh sesama manusia.

  1. Karya seni hanya menampilkan satu sisi kehidupan dari sekian banyak kompleksitas hidup yang sesungguhnya.

    Sampai berapa lamakah anda menyaksikan sebuah karya seni? Jika itu puisi dan pantun, bukankah itu hanya terdiri dari beberapa kata dan kalimat saja? Tetapi hidup kita tersusun atas banyak kata bahkan bisa mencapai miliaran yang kita buat selama hidup di dunia ini.

    Demikian juga soal seni lukis, ukir, patung dan lain sebagainya. Bukankah itu hanyalah satu bidikan / satu scane/ satu gambaran saja sedangkan kehidupan kita terdiri dari bermiliaran bahkan triliunan gambaran yang diambil dari berbagai sudut pandang.

    Sama halnya juga dengan saat kita menonton film, paling net-net tiga jam maka endungnya sudah kelihatan. Sedangkan kehidupan kita di dunia ini bisa terdiri dari 525.600 jam (pada umur 60 tahun). Jadi jelaslah bahwa hidup kita yang terdiri dari ratusan ribu jam tidak dapat mewakili film/ sinetron/ ftv yang hanya berlangsung satu sampai dua jam saja.

  2. Karya seni sengaja di dramatisir hanya untuk menghibur indra sedang pelakonnya sendiri kehidupannya jauh dari yang dilakonkannya.

    Ada berbagai kisah-kisah dalam ilustrasi yang kita hasilkan/ kita serap dimana semuanya adalah hasil dramatisasi yang berlebihan. Ini dilakukan untuk memberi efek fluktuasi yang mencampur adukkan perasaan pemirsa/ penonton sehingga menghasilkan sensasi nano-nano. Para pelaku seni mengerti betul dengan ilmu psikologi sehingga mereka cenderung mampu mempermainkan perasaan kita terkecuali jika kita mengenali dan mengantisipasi hal tersebut.

  3. Kebanyakan dari karya seni tidak dijumpai dalam dunia nyata.

    Jadi selama ini karya yang dihasilkan oleh para pegiat di bidang seni hanyalah angan-angan yang tidak kesampaian. Semacam imajinasi yang luar biasa dimana mustahil dapat diwujudkan di dalam dunia nyata tetapi bisa saja terjadi dalam khayalan manusia itu sendiri.

    Di zaman ini, kita bisa menghitung dengan jari berapa karya seni yang dihasilkan dari kisah nyata. Sedangkan film, sinetron, cerpen, komik dan lainnya yang bersifat fiksi (khayalan) terdapat dalam jumlah jutaan hardcopy maupun softcopy di pasaran. Dari sini saja sudah dapat kita tebak bahwa hidup ini tidak seindah yang difilmkan orang di balik layar kaca.

  4. Seniman pintar memilah-milah, menutupi fakta yang satu sedang yang lain di buat terang benderang.

    Pegiat di bidang seni sangat lihai dan mampu mengenali perasaan para penonton. Buktinya sampai sekarang jarang sekali kita dapatkan seorang pemeran utama yang berakhir dengan kesialan/ kematian kecuali dia adalah tokoh antagonis.

    Ada istilah film India yang sangat khas di zaman Bollywood, yaitu “anak muda India kalah-kalah pertama.” Jika ini kita aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari niscaya tidak ada kenyataan yang semacam itu. Ada orang yang gagal berulang-ulang, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Bahkan terkadang kita akan terus kalah oleh karena ego sendiri yang tidak bisa dibendung.

  5. Pola masalah dalam karya seni: menghadapi masalah > jatuh > kalah > bangkit > menang-menang terus….

    Bisakah anda membaca kisah dalam setiap film/ sinetron/ drama yang anda tonton? Sekalipun pelakon dan jalan ceritanya berbeda-beda. Tetap saja alur ceritanya tidak jauh-jauh dari hal ini. Yaitu intro >> menghadapi masalah >> jatuh >> kalah >> bangkit >> menang >> menang terus >> ending.

    Padahal jika kita hidupi hari-hari yang dilalui maka semuanya tidaklah selalu begitu. Persoalan tidak hanya datang sesaat, terkadang hal tersebut datang secara bertubi-tubi. Sedangkan kemenangan tidak selalu dapat diraih terus-menerus melainkan terkadang kemenangan kita adalah saat dimana kita mengalah.

  6. Intinya perumpamaan yang salah itu membuat kita mengharapkan yang tinggi-tinggi dan lupa dengan adanya penderitaan dan masalah yang terus-menerus terjadi.

    Inilah yang sesungguhnya menjadi ketakutan terbesar saat kita menikmati suatu karya seni, termasuk lagu, film, sinetron, ftv, drama, carpen, novel, komik dan lain sebagainya, yaitu harapan di dalam hati terlalu tinggi tentang sesuatu. Akibatnya, membuat semangat sesaat menjalani hidup lalu kemudian jatuh lebih dalam lagi dalam kekecewaan yang membuat hidup kita lebih terpuruk dari sebelumnya.

    Kekuatiran kedua kami saat seseorang melihat/ menyaksikan/ menonton suatu karya seni adalah ketika hal tersebut membuatnya lupa dengan masalah yang terkadang datang secara bertubi-tubi. Harapannya bahwa hidup ini indah tidak sesuai dengan kenyataan yang dialaminya sehingga ada kecenderungan menghindari masalah dan bersembunyi di balik kemewahan/ kemegahan harta duniawi yang dimiliki. Sangat jelaslah bahwa hidup ini tidak seindah lagu yang kita nyanyikan atau film yang kita tonton.

  7. Emang bisa semua orang jadi tokoh utama? Sebab dalam kehidupan masing-masing orang menjalankan fungsi yang setara.

    Derajat keparahan lainnya saat kita sedang mendengar lagu atau menonton film/ sinetron adalah “membayangkan bahwa kitalah anak muda, tokoh utama dari kisah seru tersebut.” Ini memang awal-awalnya memberikan kesan dimana suasana hati sangatlah ringan, seolah diri ini melayang ke awan-awan. Padahal itu hanyalah imajinasi sesaat yang beresiko membuat anda kecewa suatu saat kelak.

    Dalam zaman kesetaraan mustahil juga untuk berbicara tentang menjadi tokoh utama. Sebab saat kita menjadi tokoh utama berarti kita harus menyingkirkan orang lain sekalipun dengan cara-cara licik-busuk. Justru keadaan inilah yang membuat suasana dalam masyarakat menjadi kacau balau karena semua ingin jadi the one/ yang utama/ nomor satu. Ingin lebih dari orang lain adalah tabiat manusia yang paling lumrah. Lain halnya ketika kita memberlakukan sistem kesetaraan dimana semuanya sama dan tidak ada rendah ataupun tinggi.

  8. Ilustrasi (perumpamaan) di buat hanya untuk menghasilkan uang, pujian dan popularitas.

    Inilah alasan terakhir mengapa karya seni atau perumpamaan yang dihasilkan oleh orang-orang duniawi tidak bisa disamakan dengan kehidupan manusia yang komplikate. Ternyata semua karya yang mereka hasilkan itu tidak didasarkan dari pengalaman yang benar & nyata melainkan hanya dorongan akan kekayaan, kehormatan, pujian, popularitas dan berbagai-bagai manfaat besar lainnya.

    Bisa dikatakan bahwa beberapa karya terkesan dipaksakan karena dipicu dan dipancing oleh kenikmatan juga kemuliaan duniawi yang luar biasa. Sedang kami sendiri menulis blog ini untuk mengungkap kebenaran sekaligus mendapatkan benefit dari semuanya itu, setidak-tidaknya uang makan agar bisa keluar dari pekerjaan lama. Sebab hidup kami terkesan syarat dengan dualisme (bekerja di instansi tertentu tetapi ternyata waktu habis di belakang meja untuk menulis ini itu untuk perusahaan entah berantah). Tapi apa boleh buat kamipun tidak dapat apa-apa, untunglah sampai sekarang kami bekerja disatu instansi. Jadi kami tidak menulis blog ini untuk mendapatkan pujian dari orang lain, sampai sekarang kamipun tidak begitu populer. Juga tidak ada penghormatan yang kami peroleh dari orang lain malahan kami menghormati mereka adanya.

Karya seni yang kita hasilkan pastilah ada batasnya. Kami sendiripun menyadari bahwa suatu saat nanti semua tulisan ini akan berhenti tapi entah kapan itu akan terjadi. Tetapi, saat kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang luar biasa disodorkan untuk memancing karya seni niscaya apapun akan dihasilkan bahkan karya yang diluar norma & nilai yang berlakupun akan disodorkan ke publik.

Bukan tidak boleh untuk mendengar lagu, menonton film, sintetron, membaca carpen, novel dan roman. Tetapi sadarilah bahwa semuanya itu hanyalah perumpamaan untuk memotivasi diri tetapi bukan untuk membahagiakan diri ini. Jika sesaat setelah mendengar dan menonton suatu karya seni, hati menjadi berbunga-bunga. Ketahuilah bahwa namanya juga karya yang tujuannya adalah untuk memanjakan indra pada dosa awal umat manusia, yaitu ingin menjadi sama seperti Tuhan atau setidaknya lebih unggul dari orang lain. Berhati-hatilah saat menghidupi pola-pola yang ingin lebih unggul atau menang dari orang lain. Sutradara & produser tahu arogansi semacam ini ada di dalam diri setiap manusia sehingga hal tersebutlah yang mereka gunakan untuk membuat pemirsa/ penonton semakin tergila-gila terhadapnya. Oleh sebab itu, hindari menjadikan karya seni yang kami hasilkan sebagai penghiburan-sumber kebahagiaan dalam hidup anda. Tetapi hiduplah mengasihi Tuhan seutuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dua hal ini adalah penghiburan yang menjadi sumber kepuasan, kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman hati.

Salam, jadilah realistis!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.