Gejolak Sosial

Inti Awal Segala Dosa Ingin Lebih, Unggul, Menang Dari Orang Lain Bahkan Sama Seperti Tuhan


 Inti Awal Segala Dosa Ingin Lebih, Unggul, Menang Dari Orang Lain Bahkan Sama Seperti Tuhan

Selama ini kita selalu membahas tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dosa tapi masih belum sampai membahas tentang awal mula dari segala dosa manusia. Saat menghubungkan awal dengan Kitab Suci maka akan menemukan bahwa sesungguhnya hal tersebut dimulai dari kitab Kejadian, tepatnya saat Tuhan pertama kali menempatkan nenek moyang kita di Taman eden. Dari tempat yang indah inilah segala sesuatu tentang dosa muncul ke permukaan dan terus ada juga bertahan sampai sekarang.

Dosa awal manusia yang tidak pernah berakhir sampai sekarang

Dari awal inilah kita mulai memahami bahwa kesalahan yang sama terus saja berulang dan berkembang hingga sekarang. Mungkin ini jugalah yang membuat kita semakin jauh dari hadirat Tuhan karena hati dipenuhi oleh hawa nafsu yang syarat dengan ego keakuan.  Sifat yang memaksa kita untuk berpikir dan bekerja lebih bahkan bisa sampai melebihi batas-batas kewajaran. Semuanya itu demi aku yang lebih baik, lebih unggul dan memenangkan pertarungan/ pertempuran entah berantah yang tidak jelas.

Memang yang tertulis dalam kitab Kejadian adalah saat iblis menawarkan Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat dengan menjanjikan, “kamu akan menjadi seperti Allah” (Bnd Kejadian 3:4-5). Mengapa kami mengatakan bahwa ini adalah keinginan untuk menjadi lebih unggul dari yang lainnya? Karena yang tertinggi saat itu adalah Allah sendiri yang notabene dapat berjumpa langsung dengan manusia manusia pertama dengan segala kemuliaan dan kegemilangannya. Karena indranya melihat hal yang tinggi dan hebat maka manusia pertama sangat menginginkan, kemuliaan dan kemegahan yang dimiliki Tuhan.

Semua manusia menginginkan apa yang lebih tinggi

Karena itu janganlah bertanya-tanya lagi, mengapa saat ada posisi yang begitu tinggi maka banyak orang akan beramai-ramai memperebutkan? Ini ada hubungannya dengan dosa pertama umat manusia yang menginginkan kemuliaan dan kebesaran Allah bagi dirinya sendiri. Ternyata sampai sekarangpun dosa yang sama ini terus berlanjut. Oleh karena itu, selalu waspada dengan keinginanmu. Jika hati mulai membahas-bahas kelebihan diri ini dari sesama segera patahkan nafsu arogan semacam itu dengan menyangkal diri.

Kita ambil beberapa contoh, posisi yang diinginkan oleh kebanyakan manusia di dunia ini adalah pemimpin tertinggi. Atau setidak-tidaknya menjadi kepala bagian/ kepala instalasi di kantor tertentu. Mengapa mereka menginginkan hal ini padahal semua orang sudah memiliki pekerjaan tetap? Soalnya posisi/ jabatan tersebut memiliki sejumlah hak istimewa, gaji tinggi dan fasilitas komplit. Semu benefit/ keuntungan inilah yang menjadi bahan rebutan yang bisa saja dipertahankan dan diperjuangkan sampai titik darah penghabisan sekalipun. Jadi dimana ada kekuasaan yang besar dan pendapatan yang besar maka kesanalah manusia berbondong-bondong. Lain halnya ketika semua sudah disetarakan, sekalipun ada perbedaan tetapi tetap terkendali dan tidak saling sikut atau tidak saling menjebak.

Arogansi tidak bisa dihilangkan sampai sekarang

Ketahuilah bahwa temperamen manusia pada umumnya selalu menginginkan hal-hal yang lebih tinggi dalam hidupnya jelas tidak dapat disangkal oleh siapapun. Ketika seseorang melihat betapa cepatnya hewan berlari, manusia membuat sepeda dayung, sepeda motor dan mobil. Saat orang-orang melihat betapa gemulainya pergerakan ikan dilautan, kita berbondong-bondong untuk berlayar ke sana lalu membuat kapal dan kapal selam. Sewaktu melihat betapa tingginya burung-burung terbang di udara, kitapun membuat pesawat yang bisa menembus angkasa. Saat kita melihat negara lain membuat bom nuklir niscaya Indonesia pasti juga akan membuatnya secara diam-diam sebagai persiapan. Begitulah tabiat manusia sampai sekarang ini, apa saja hal-hal yang waw yang dicitrakannya pastilah secara otomatis dinginkannya pula. Jadi jelaslah bahwa arogansi yang sudah ada secara default di dalam diri kita tidak dapat dihilangkan sama sekali melainkan hanya diminimalisir

Kenalilah pikiranmu kawan, saat otak mulai memuji diri sendiri maka hati akan menyombong. Pikiran akan menciptakan semacam fatamorgana dimana dalam kenangan tersebut kitalah rajanya/ kitalah pemimpinnya/ kitalah petingginya. Lalu diri sendiri merasa bahagia karena terus berimajinasi tentang hal-hal yang luar biasa. Kita hidup dalam dunia mimpi karena disana kita bisa jadi apa saja bahkan menuhankan diri sendiri sekalipun. Sayang, kebiasaan ini justru akan berakibat fatal bagi kepribadian anda yang tidak mampu menerima kenyataan terlebih ketika hal tersebut menyakitkan/ merugikan. Ujung-ujungnya kerap kita musuh-musuhan dan berduel dengan orang lain dalam perang mulut: ejekan, hinaan, makian, fitnah dan lain sebagainya.

Merasa bahagia saat hidupnya lebih baik dari orang lain

Beberapa orang lainnya menjadikan arogansi semacam ini sebagai alasan untuk berbahagia. Hatinya berbunga-bunga saat orang lain dihina sedangkan dia dipuja-puji orang. Seseorang yang merasa baru dipenuhi oleh rasa senang saat musuh-musuhnya mendapatkan kesialan. Manusia yang baru bisa tersenyum saat menyadari bahwa banyak orang yang masih hidup dalam kemelaratan. Orang yang hatinya baru bersuka saat karyanya lebih baik daripada karya orang lain. Mereka yang baru berbahagia saat ia menyaksikan orang lain miskin sedangkan harta miliknya melimpah-limpah dan bertambah setiap hari. Mereka yang menghibur hatinya dengan melihat orang lain sebagai pegawai rendahan, honorer, magang sedangkan mereka adalah pejabat, petinggi dan pemimpin yang punya nama besar.

Sikap arogan menghancurkan persaudaraan

Orang yang di dalam pikirannya hanya ada maksud-maksud untuk menjadi lebih unggul dari pihak lain cenderung menganggap orang lain sebagai saingan. Mungkin saja dari luar kesannya mereka sangatlah dekat tetapi di dalam hatinya kadang muncul niat, “kapan ya si kawan ini jatuh?” Atau “bagaimana ya cara menjatuhkan si kawan ini?” Mereka bertindak, seolah-olah berbuat baik dengan nilai yang mengagumkan tetapi ada maksud-maksud lain dibalik semuanya itu. Bahkan saking parahnya, ada yang membawa diri sebagai saudara dan sahabat bagi orang lain tetapi ternyata secara diam-diam menjadi musuh dalam selimut. Sikap yang arogan diantara saudara dan sahabat akan selalu ada terlebih ketika ada posisi tertentu yang menawarkan penghasilan (gaji) dan fasilitas yang memukau.

Cenderung menolak ujian sosial

Orang yang terlalu mementingkan diri sendiri dalam bersikap lebih banyak mencari-cari keunggulannya di dalam hati. Saat berada dalam situasi yang tidak mengenakkan, selalu merasa harga dirinya hancur oleh ujian kehidupan. Padahal semua ujian itu terjadi karena banyak orang yang menginginkan posisi dimana dia berdiam. Sama halnya dengan kecerdasan, orang yang pintar akan mendapatkan lebih banyak masalah dari pada orang yang biasa-biasa saja. Intinya adalah semakin tinggi kemampuan anda maka semakin banyak pula masalah yang akan dihadapi. Semakin tinggi posisi kita maka ada-ada saja persoalan yang dihadapi. Jika persoalan itu ditanggapi dengan arogansi niscaya akan lebih banyak energi yang berlebihan dihabiskan untuk hal yang sia-sia. Tetapi sikap yang mau mengalah adalah kunci untuk menemukan kedamaian di tengah persoalan semacam ini. Mengalah juga bukan berarti takut, karena buktinya kita tetap ramah dengan mereka. Jadi keramahan itu bukanlah sekedar kebaikan melainkan juga sebuah tanda keberanian.

Ego keakuan menciptakan persaingan tinggi hingga seleksi alam

Prinsip dasarnya adalah sama dengan bermain olahraga tertentu, misalnya basket, voli, bola kaki dan lain sebagainya. Ketika kita hendak lebih unggul dari orang lain maka harus mengalahkan tim lain untuk beroleh kehormatan dengan gelar “yang lebih baik.” Dalam pertandingan resmi, persaingan semacam ini selalu terukur dan tidak melewati batas aturan yang berlaku. Tetapi bagaimana jadinya ketika persaingan untuk memperebutkan siapa yang paling unggul terjadi secara luas dalam masyarakat? Tentu saja persaingan sosial atau gejolak sosial semacam ini cukup melelahkan bahkan beresiko menyebabkan kekacauan akibat ekspresi yang lebay bahkan kadang berlangsung diluar norma yang berlaku. Orang lain akan dikorbankan bahkan lingkungan juga akan dikobankan demi kepentingan sempit tersebut.

Arogansi membuat seseorang menjadi jahat

Ketahuilah teman, saat yang ada di dalam hati ini, bagaimana caranya menjadi lebih baik dari orang lain niscaya damai di hati tidak selalu ada. Ketika berpapasan dengan orang yang lebih baik, hati menjadi kesal bahkan syarat dengan dengki & kebencian. Energi negatif yang selama ini terkumpul, terus bertambah seiring semakin banyaknya masalah yang dihadapi dengan penuh arogansi. Hingga pada suatu titik ego keakuan ini membuat kita merasa diri lebih tinggi dan lebih baik sedangkan orang lain adalah orang-orang rendahan yang tidak punya nilai sema sekali. Mereka yang hatinya sudah dipenuhi arogansi akan terus mencari cara bagaimana agar dia unggul terus dari sesamanya bahkan sekalipun itu ditempuh dengan cara yang tidak halal dan tidak legal.

Kesimpulan

—-#—-
Awal dari semua dosa manusia adalah menginginkan sesuatu yang tinggi dari yang dicitrakannya dengan indra. Posisi yang menjanjikan keuntungan tertinggi dalam masyarakat akan menjadi incaran semua orang. Inilah inti segala dosa manusia, hasrat yang tinggi untuk memperebutkan hal yang tinggi tersebut. Perebutan semacam inilah yang kerap kali menimbulkan masalah berkepanjangan dan berdampak luas.
—-#—-

Dalam hidup ini, ketika kita membiarkan arogansi berkuasa niscaya hidup ini tidak tenang dan hatipun jauh dari kedamaian. Sebab kita selalu berusaha menempatkan diri di atas orang lain seolah-olah lebih sempurna dan tuhan atas semuanya. Oleh karena itu, (1) berhenti berpikir bahwa hidup kita lebih baik dari orang lain melainkan kita semua adalah sama dan setara. (2) Jangan jadikan hal-hal duniawi sebagai kebanggaan di dalam hati. (3) Kalahkan diri sendiri dengan cara menyangkal diri. Hinakan dan injak diri sendiri agar sikap arogan tidak menghilangkan ketenangan dan kedamaian di dalam hati. (4) Jadikanlah aktivitas fokus kepada Tuhan (firman, doa, nyanyian pujian) sebagai penghiburan sejati. Bukankah kita dapat selalu bernyanyi memuliakan Allah di dalam hati untuk menciptakan kebahagiaan sendiri hari lepas hari. (5) Jangan lupa juga untuk senantiasa berbagai kasih kepada orang lain yang dimulai dari hal-hal kecil semisalnya ramah tamah. (6) Lakukanlah semuanya itu dengan tekun, konsisten dan penuh integritas hingga menjadi kebiasaan bahkan membudaya. (7) Terakhir, usahakan kesetaraan di lingkungan tempat anda berada.

Salam keadilan sosial, yes!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s