Kesetaraan Manusia

Penyebab & Solusi Pemanasan Global Menurut Alkitab


Penyebab & Solusi Pemanasan Global Menurut Alkitab

Kristen Sejati – Alkitab adalah surat cinta Tuhan kepada setiap manusia yang percaya kepada kehendak-Nya. Disanalah tertulis jelas, asal mula keberadaan manusia (masa penciptaan), kehidupan di zaman sekarang dan kehidupan yang akan datang (hari penghakiman). Semua catatan kehidupan umat manusia yang begitu panjang, dan lebar ini sesungguhnya sudah termuat dan dipadatkan di dalam Kitab Suci. Tidak ada satupun hal yang terlewat di tengah zaman ini melainkan semuanya telah tertulis jelas. Hanya saja hal tersebut telah termuat dalam bentuk perumpamaan yang harus dimengerti dengan penuh hikmat yang daripada Allah.

Pemanasan global wujud nyata kerusakan ciptaan

Pemanasan global adalah tanda dan gejala kerusakan ciptaan Allah. Sebab saat hari-hari itu tiba, bencana akan datang secara bertubi-tubi, mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Keadaan inipun telah tertulis jelas di dalam Alkitab. Hanya saja mungkin kita masih belum menyadari kenyataan tersebut. Oleh karenanya, mintalah petunjuk Tuhan untuk menyibak semua rahasia tersebut. Tetapi tidak baik juga jika kita meminta petunjuk Tuhan sedang diri sendiri duduk dan tiduran terus tidak ada kerjaan seharian. Melainkan pastikanlah bahwa anda selalu aktif melakukan hal positif. Sebab lewat aktivitas itulah Allah berkarya dalam kehidupan anda.

Keseimbangan yang harus di jaga di bumi ini

Pada dasarnya, bumi ini memiliki dua komponen utama yaitu pemanas dan pendingin. Kompenen utama yang menjadi pemanas adalah matahari, aktivitas hewan, manusia dan kerja mesin berteknologi. Sedangkan komponen utama pendinginnya adalah air laut (mengandung nitrogen dan klorofil), sungai dan tumbuhan berklorofil. Jadi saat Tuhan menciptakan bumi ini diawal-awal keberadaan alam semesta dimana manusia telah diciptakan di hari ke enam, semuanya baik adanya. Seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian setiap kali berakhirnya masa penciptaan dimana ada kalimat yang mengatakan bahwa semuanya itu “baik“. Salah satunya ditujukan seperti ayat di bawah ini.

(Kejadian  1:31) Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Seharusnya tidak ada global warming sebab semua ciptaan di bangun dan di hubungkan dalam sistem yang sempurna

Dalam masa-masa penciptaan, tepatnya ada enam masa, Allah bertutur bahwa hal itu “baik” sebanyak delapan kali. Setiap kali Allah selesai menciptakan satu komponen alam semesta, misalnya terang maka langsung saja Ia menegaskan bahwa terang itu baik. Jadi, Allah Bapa sendiri bersaksi tentang segala sesuatu yang diciptakan-Nya bahwa semua itu baik. Tidak ada satupun hasil ciptaan yang merupakan sumber masalah atau lebih tepatnya tidak ada satupun ciptaan yang dipersiapkan untuk mengacaukan ciptaan lainnya. Melainkan semuanya ada dalam keadaan saling terhubung, medukung dan seimbang satu sama lain.

“Baik” menunjukkan betapa sempurnanya seluruh ciptaan

Jelaslah bahwa Allah sendiri yang menjadi saksi lalu menyatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya dari hari pertama sampai hari yang ke enam adalah baik adanya. Kata “sungguh amat baik” dalam hal ini sepadan dengan kata “sempurna”. Seperti yang termuat dalam KBBI Luring, sempurna adalah (1) utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela); (2) lengkap; komplet; (3) selesai dengan sebaik-baiknya; teratur dengan sangat baiknya; (4) baik sekali; terbaik. Jadi jelaslah bahwa kesaksian Allah tentang betapa baik seluruh ciptaan-Nya seiras/ semakna/ sejajar dengan kata sempurna.

Kesempurnaan ciptaan Tuhan tidak terjadi saat kita hidup sendiri lalu menyingkirkan makhluk hidup lainnya. Melainkan semua itu baru terwujud jikalau kita mau hidup dan berbaur dengan ciptaan lainnya. Itulah sebabnya kesempurnaan ciptaan Allah merujuk kepada sebuah sistem yang terhubung, berputar dan seimbang satu-sama lainnya. Sedangkan pemanasan global nyatanya telah mengganggu keseimbangan alam yang sejak dari mulanya dirancangkan oleh Allah. Jadi jelaslah bahwa pemanasan global adalah suatu bentuk sikap yang salah karena menentang lebih tepatnya menghancurkan keseimbangan ciptaan Allah.

Pengetahuan yang kita miliki yang menjauhkan kita dari Allah

Saat manusia tidak taat kepada perintah Allah maka tepat saat itu juga kita tergiur akan rasa yang lebih baik. Kita tidak puas dengan menjadi diri sendiri melainkan menginginkan sesuatu yang lebih. Keadaan ini jelas saja membuat kita tidak setia dan tidak patuh pada kehendak-Nya. Justru kita masih membiarkan diri untuk mencuri ilmu pengetahuan Allah demi kepentingan pribadi. Aksi Adam dan Hawa  yang mencuri jelas tidak disukai oleh Allah (Kejadian 3:1-24). Dari sini jelaslah bahwa ketidaktaatan dan hawa nafsu yang tinggi terhadap kemuliaan Allah membuat kita rakus akan ilmu pengetahuan. Hasrat yang menginginkan lebih hingga sama seperti Allah yang membuat manusia dibuang dari Taman Eden sampai sekarang.

Sampai sekarang sikap arogan yang selalu saja ingin lebih terus berlanjut. Manusia tidak puas dengan apa yang sudah diciptakan Allah. Mereka lebih memilih untuk membuat rancangannya sendiri terhadap alam semesta. Lebih tepatnya kita menata ulang alam yang sudah sempurna adanya menurut seperti yang diinginkan hati ini. Itu sama saja dengan menolak rancangan Allah yang sudah susah-susah diciptakan selama enam masa. Lalu sekonyong-konyong kitapun membuat diri sendiri ditinggikan dari keberadaan orang lain, lewat ilmu pengetahuan, teknologi, harta benda dan kekuasaan yang dimiliki.

Ini persis sama dengan kejadian sewaktu manusia hendak membangun menara Babel untuk mencapai surga kediaman Allah (Kejadian 11:1-9). Lagi-lagi manusia ingin mencapai kemuliaan Allah dengan membangun menara babel bagi dirinya sendiri. Mereka ingin cari nama, sekali lagi kami tegaskan INGIN CARI NAMA untuk mencapai surga. Ini sama halnya dengan hasrat tinggi manusia untuk mencapai dan mendarat di bulan. Dimana semuanya itu ditempuh untuk mencari nama besar sehingga ujung-ujungnya berakhir dengan kekacauan.

Pengetahuanlah yang membuat bumi ini berantakan

Ketika ilmu yang kita miliki digunakan untuk mencapai kemuliaan menjadi sama seperti Allah maka tepat saat itulah pengetahuan telah menjauhkan kita dari Allah. Saat teknologi yang kita punya dimanafaatkan untuk mencari nama diantara manusia maka tepat saat itu jugalah keberadaan teknologi tersebut menjadi ancaman bagi keberadaan umat manusia. Sewaktu kita memanfaatkan harta-benda dan kemampuan ekonomi yang dimiliki untuk terlihat lebih unggul dari orang lain maka tepat saat itu juga harta yang kita miliki akan menimbulkan bencana alam (banjir, tanah longsor, gempa bumi, lainnya) dan bencana kemanusiaan (peperangan). Saat kekuasaan yang dimiliki dimanfaatkan untuk menekan sesama lalu menyombongkan diri niscaya kekuasaan tersebut akan menyebabkan kerugian besar terhadap orang lain, lingkungan sekitar bahkan terhadap diri sendiri.

Kita berpikir bahwa rumah-rumah besar dengan fasilitas lengkap akan membuat hati bangga. Mengira bahwa kenyamanan hidup yang ditawarkan oleh teknologi membuat bahagia, dimana kita hanya duduk manis dan diam saja sedangkan yang bekerja keras adalah mesin-mesin berteknologi. Berpikir bahwa gedung-gedung tinggi dengan fasilitas yang megah dan mewah adalah simbol kemakmuran sejati. Bodohnya kita, menyingkirkan tumbuhan hijau dan hutan sebagai salah satu komponen penting penyeimbang panas bumi. Pada akhirnya, semua hal yang kita banggakan dan sombongkan dihadapan sesama & Tuhan menyebabkan gangguan keseimbangan alam yang berakibat pada bencana alam (badai, topang, puting beliung, longsor lainnya), bencana kemanusiaan (kelaparan, penyakit, perang, lainnya) dan semakin panasnya bumi ini atau populer dengan pemanasan global.

Solusi pemanasan global

Untuk solusi penyelesaian terhadap masalah pemanasan global dan bencana yang menyertainya maka kita kembali lagi kepada dua dasar Kitab Suci dan Kitab para Nabi, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Selama menujukan segala kemampuan kita bukan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok melainkan untuk kemuliaan nama Allah maka selama itu pula kehidupan ini terarah benar. Juga, selama kita mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri dan mengusahakan kesetaraan dimanapun berada maka selama itu pula kemampuan yang dimiliki lebih mengarah kepada kepentingan umum, bukan kepentingan sempit segelintir orang.

(Matius 22:36-40) “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Mencuri Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat merupakan kejahatan paling awal yang membuat kita semakin jauh dari Tuhan sampai sekarang. Oleh sebab itu, ada baiknya jikalau ilmu yang kita miliki dikembalikan untuk kemuliaan Allah. Hindari memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki untuk meninggikan diri sendiri diantara manusia dengan beroleh pujian dan popularitas yang lebih baik dari orang lain (sikap arogan). Yang ke dua adalah kasihilah sesamamu manusia seperti diri sendiri dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Hindari meninggikan diri diantara sesama lalu mengoleksi ilmu, harta benda dan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Melainkan usahakan kesetaraan pengetahuan, pendapatan dan kekuasaan dimanapun anda berada.

Cara terakhir untuk mengantisipasi pemanasan global adalah dengan hidup sederhana. Pernahkah anda melihat film Tuhan Yesus diputar di channel televisi atau secara kolektif dalam kelompok kristen? Perhatikanlah, pernahkah Ia menaiki kuda, kereta atau kendaraan lainnya saat berjalan dari satu daerah ke daerah lainnya? Tidak pernah kecuali ketika Ia menaiki keledai saat memasuki Yerusalem menjelang waktu penyaliban untuk menggenapi firman yang disampaikan nabi sebelumnya. Bahkan Tuhan sendiri bersaksi bahwa “anak manusia” tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. “Anak manusia” yang dimaksudkan-Nya di situ adalah kita (kristus-kristus kecil), yakni setiap orang yang percaya kepada-Nya. Jadi puncak hidup sederhana adalah “kita tidak memiliki harta milik di dunia ini melainkan semua milik negara dan kita hanya meminjam.” Sebab semakin banyak harta benda yang kita miliki maka semakin banyak masalah yang timbul dan dijumpai dalam kehidupan ini. Juga semakin banyak harta maka semakin banyak kerusakan lingkungan yang bisa kita timbulkan.

(Matius 8:20) Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Salam, hijaukan Indonesia dengan memulai hidup sederhana!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s