Kepribadian

11 Cara Terbiasa Dengan Rasa Sakit – Jika Anda Benar Mengapa Harus Merasa Sakit, Biasakan Diri Tersakiti Demi Kebenaran


Apa kebiasaan kita sangat menentukan keberlangsungan hidup ini. Itulah yang membentuk kehidupan anda, membentuk seluruh tanggapan orang dan mengarahkan hari-hari yang dihadapi dalam pola-pola yang khas. Sadar atau tidak, apa yang sudah biasa dilakukan akan lebih mudah untuk dikerjakan. Selain itu ada semangat yang timbul karena kebiasaan terbentuk akibat kita mencintai hal tersebut. Jadi, awalilah segala sesuatu karena hal tersebut adalah penting untuk di lakukan.

Segala yang baik bisa kita capai lewat kebiasaan

Ada pepatah mengatakan bahwa “Allah bisa karena biasa.” Ini adalah yang mendasari seluruh aktivitas kita hari lepas hari. Mau bahagia? Biasakan diri untuk melakukan aktivitas tertentu. Mau terbiasa dengan ejekan? Biarkan orang lain mengejek dan tetap tanggapi mereka dengan hangat. Ingin terbiasa dengan fitnah? Biarkan diri untuk difitnah orang lalu tanggapi itu dengan santai sambil tersenyum. Mau terbiasa dengan penghinaan? Kenali diri sendiri, cari tahu kata-kata yang membuatmu merasa hina. Lalu perkatakan itu kepada diri sendiri sambil berusaha untuk tetap fokus bernyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati.

Rasanya mudah mengatakan ini tetapi sulit bagi kita untuk melakukannya. Kesulitan pertama pada umumnya terjadi diawal-awal saja. Tetapi setelah itu semuanya pasti aman, lancar dan terkendali. Diawal-awal ini, yang harus anda temukan adalah motivasi yang kuat. Harus ada alasan yang masuk akal agar mau membiasakan diri dengan rasa sakit. Berikut akan kami berikan beberapa referensinya.

  • Hidup ini penuh masalah jadi terbiasalah dengan masalah itu agar tidak terkejut saat hal tersebut datang kepadamu.
  • Kepahitan itu bagian dari hidup ini, mustahil anda hanya mengalami yang baik-baik saja. Pasti suatu saat akan mengalami yang buruk juga. Jadi mengapa tidak dibiasakan dari sekarang.
  • Hidup ini butuh keseimbangan. Ada yang menyenangkan dan ada pula yang menyakitkan. Jangan terus barada dalam zona yang menyenangkan tetapi hiduplah juga dalam penderitaan karena perlakuan buruk orang lain.
  • Kita harus membiasakan rasa ini dimulai dari yang paling sederhana, yakni ramah tamah. Alhasil jika saat beramah tamah saja kita kuat walau diabaikan maka demikian juga saat menghadapi pergumulan yang lebih besar.
  • Selanjutnya temukan sendiri teman….

Konsistensi adalah awal yang sulit

Harus ada konsistensi agar suatu kebiasaan dapat terbentuk (membentuk pola) dalam kehidupan kita. Yang jelas untuk membentuk sistem kerja yang konsisten ini dibutuhkan perjuangan. Di awal-awal pastilah terasa sulit tetapi teruslah berjuang, lawan kemalasan, biarkan saja orang meledek, lakukan semuanya itu seolah-olah untuk Tuhan dan tetaplah bernyanyi-nyanyi di dalam hati memuliakan namanya. Tidak ada semangat dan tidak ada kebahagiaan yang lebih baik selain yang berasal dari dalam diri sendiri, yaitu saat hati selalu bergirang meninggikan nama-Nya dan saat mampu tampil bermanfaat bagi sesama.

Pastikan kebutuhanmu selalu terjangkau

Pastikan selalu bahwa apa yang biasa anda lakukan selalu dapat dijangkau hari lepas hari. Buat kebutuhanmu terjangkau lewat uang yang dihasilkan dari jerih lelah sehari-hari. Sebaiknya, hindari menginginkan hal-hal yang terlalu tinggi melainkan semampunya saja. Tekan arogansi di dalam hatimu lalu biarkan orang lain menang, biarkan mereka lebih unggul dan restui kelebihan mereka. Nikmati hidup secara fluktuatif, jangan terus yang enak-enak saja. Sesekali juga mengkonsumsi sesuatu yang tidak ada harganya. Kami sendiri mengaku bahwa sampai sekarang masih selalu bahagia sekalipun hanya mengkonsumsi makanan buatan sendiri dan beberapa roti dari warung kecil: tidak pernah makan mewah dan tidak pernah jalan-jalan.

Tidak ada kebahagiaan tanpa rasa sakit

Tahukah anda bahwa rasa sakit yang kita alami mempertegas kebahagiaan yang kita rasakan? Lewat kesakitan inilah kita mengerti betapa berharganya kebahagiaan hidup sekalipun kita tak memiliki sesuatu yang wah. Dari sini juga kami memahami dan mengenali bagaimana itu kesakitan yang sebenarnya. Sehingga ketika hal tersebut berlangsung dengan alasan atau tanpa alasan: langsung kami “cut” dengan cara menyanyikan lagu-lagu rohani yang bernada gembira. Biasanya lagu bernada gembira ini akan membuat tangan dan kaki anda bekerja cepat tetapi hindari terburu-buru. Bernyanyilah dengan nada gembira tetapi pastikan aktivitas yang dilakukan santai saja.

Cara terbiasa dengan rasa sakit

Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa sakit hati atau disebut juga luka hati atau pernah juga ada yang mengatakannya sebagai kepahitan merupakan fatamorgana, mengapa kami berkata demikian? Mari ingat-ingat lagi pengalaman anda di masa lalu. Pernahkan mengalami luka goresan atau terkilir atau memar di bagian tertentu pada tubuh anda? Bukankah pertama-tama rasa nyeri tersebut akan sangat-sangat menyakitkan? Bahkan mungkin beberapa orang mengatakan bahwa sakitnya menusuk-nusuk hingga ke tulang-tulang. Sadarilah bahwa hal ini terjadi saat pertama-tama saja tetapi setelah terbiasa, niscaya semua lancar dan semua tenang.

Berikut ini akan kami uraikan beberapa aturan umum yang anda perlukan untuk membiasakan diri dengan rasa sakit.

  1. Berjalan dalam segitiga emas kekristenan dan taklukkan pencobaan dari dunia ini.

    Bagi anda yang meyakini jalan hidup Kristus, harus menguasai dan mampu mewujudkan hal-hal tersebut dalam hidup sehari-hari. Semuanya itu terdiri dari menyangkal diri, memikul salib dan mengkiti jalan kebenaran. (a) Dengan menyangkal diri, kita merendahkan hati bahkan merendahkan diri sendiri sembari menepis berbagai-bagai arogansi yang bisa saja muncul dari waktu ke waktu. (b) Selalu siap sedia memikul salib dengan membiarkan diri diuji oleh orang lain tanpa menanggapinya secara berlebihan melainkan tetap lembut dan ramah. (c) Mengikut jalan kebenaran dengan senantiasa fokus kepada Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian) dan senantiasa melakukan kebaikan kepada sesama (dalam pekerjaan, saat sedang belajar dan dalam segala aktivitas yang memungkinkan). Bacalah, Syarat mengikut Yesus.

    Ada tiga cobaan hidup yang juga pernah dialami oleh Yesus. Semuanya itu terdiri dari godaan terhadap kenikmatan duniawi, godaan kemuliaan duniawi dan kemampuan untuk tidak semena-mena mencobai Allah. (a) Kita perlu belajar untuk bertahan dari kenikmatan duniawi yang kemungkinan besar merayu-rayu dari jauh. (b) Demikian juga saat ada kesempatan untuk meninggikan diri sekalipun itu sudah sepatutnya: jangan pernah ambil! melainkan segala kemuliaan dan hormat serta syukur hanya bagi Allah saja. (c) Juga jangan pernah tertawan oleh keinginan di dalam hati sendiri. Saat keinginan itu tidak terjadi lalu kita mulai menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan juga. Ini jelas sebagai sebuah pertanda bahwa kita sedang mencobai Allah.

  2. Biasakan diri untuk ramah kepada orang lain.

    Ramah itu ada banyak macamnya, misalnya senyum, sapa, salam, tolong, terimakasih, maaf dan menjadi pendengar yang baik. Lakukanlah ini kepada semua orang, kepada orang yang besar atau yang kecil. Jangan menunggu mereka melakukannya kepada anda melainkan selalu duluankan diri untuk itu.

    Kapan saatnya menyapa dengan senyum, kapan saat dengan anggukan, kapan saat menyapanya dengan mengeluarkan sepatah kata: silahkan coba-coba sendiri. Dahulu kami juga demikian, awalnya agak-agak lebay karena baru pertama-tama tetapi setelah mengamati baik-baik dan mengontrol suara, semua bisa dilakukan dengan santai.

    Harap ingat, ini adalah kuncinya: jangan melakukan aktivitas ini saat pikiran sedang kosong atau saat sedang bersedih hati atau sedang galau. Melainkan lakukan aktivitas ini saat hati sedang berbahagia. Ingatlah bahwa KEBAHAGIAAN ADALAH ENERGI KEBAIKAN HATI. Selama hati ini bahagia maka selama itu pula aktivitas beramah tamah lancar terkendali. Salah satu cara terbaik dari kami untuk senantiasa membuat hati berbahagia adalah dengan selalu bernyanyi memuliakan Allah di dalam hati.

    Dari apa yang yang kami alami selama ini, kebiasaan ramah inilah yang membuat kami mampu menyesuaikan diri dan terbiasa dengan rasa sakit.

  3. Mampu menerima segala sesuatu apa adanya.

    Saat anda diejek orang; iyakan saja. Ketika dimaki orang lain; anggukkan kepala. Sewaktu dituduh yang bukan-bukan; tanggapi dengan santai dan tetap ramah kepada mereka. Ketika berada dalam masa-masa sulit; katakan “ini sudah sepantasnya terjadi, kuatkan hati kami ya Tuhan!”

    Ada banyak situasi yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jangan biasakan diri untuk melawan hal-hal tersebut di dalam hati. Redakan kekesalan hati dengan menganggap bahwa hal itu adalah yang terbaik. Jangan menganggap mereka sebagai musuh melainkan maafkan setiap yang terlibat sesegera mungkin dan tetap tanggapi semuanya dengan santun.

    Kemampuan anda menerima kenyataan apa adanya dibangun diatas dasar kesabaran. Tanpa hati yang sabar maka tidak ada kemampuan menerima kenyataan. Latihlah kemampuan ini dimulai dari masalah-masalah kecil yang kerap kali terjadi di dalam keluarga sendiri. Saat anda mampu belajar dari yang kecil niscaya hal yang lebih besar sekalipun mampu dihadapi dengan lapang dada.

    Lain halnya ketika anda adalah seorang yang berwenang mengubah sesuatu. Selama mampu mengubahnya silahkan ubah itu tetapi ketika keluar dari batas-batas kewenangan (tupoksi) anda maka biarkan saja. Sedikit teguran mungkin sangat berarti tetapi bukan dalam arti memaksa.

  4. Minimalisir terbentuknya keinginan.

    Semakin banyak keinginan yang terbentuk maka semakin besar potensi untuk merasakan sakit karena kekecewaan. Pikirkan masa depan tetapi jangan terus-menerus berkutak pada hari esok melainkan puji-pujilah Tuhan di dalam hatimu untuk menepis berbagai keinginan itu.

    Anda bisa saja bercita-cita, ingin meraih sesuatu di masa depan tetapi jangan hanya memikirkan semua itu. Melainkan jalankan (terapkan) rencana praktis untuk melakukannya. Hindari menjadikan cita-cita sebagai sumber kebahagiaan: ini sama saja dengan ngeyel – berangan-angan. Selalu camkan dalam diri anda bahwa bahagia itu saat kita selalu aktif untuk fokus kepada Tuhan dan berbagi kasih kepada sesama.

    JANGAN TERLALU SERAKAH TERHADAP INFORMASI. Ketahuilah bahwa keinginan terbentuk dari indra. Saat mata dan telinga terlalu banyak menyerap berbagai-bagai hal di dalam televisi dan internet niscaya keinginan kitapun akan meningkat. Oleh karena itu, kendalikan kebiasaan menonton televisi dan online di internet dengan senantiasa membatasi waktu yang digunakan.

    Kami harus mengaku kepada para pembaca sekalian bahwa selama ini jangka waktu dua jam lebih yang digunakan di depan layar kaca dipakai untuk menulis dan berkarya, bukan untuk online. Pernah kami online di media sosial dan melakukan blog walking: kami hanya tahan dua jam saja setelah itu langsung ngantuk, mata lelah, capek dan juga agak jenuh.

  5. Lepaskan semua tentang harga diri dan penghormatan: Buat hidupmu ringan – jangan terlalu banyak aturan.

    Kita membatasi diri dengan membuat sekat-sekat tertentu untuk melindungi sesuatu yang disebut sebagai harga diri dan penghormatan dari orang lain. Sadarilah bahwa kita tidak dapat mengontrol hal-hal tersebut sebab semuanya berasal dari luar diri ini.

    Sadarilah bahwa kepala kita akan semakin pusing ketika membuat banyak aturan sendiri tentang sejauh mana batasan harga diri atau sampai dimana penghormatan yang diberikan orang. Kami sendiri tidak mau ribet untuk hal-hal semacam ini, sehingga cenderung menyetarakan semua perlakuan (ramah tamah) kepada sesama, baik kepada anak, remaja, muda, orang tua.

  6. Saat hati tersakiti jangan melakukan pelarian pada kenikmatan indra.

    Ini biasanya dilakukan oleh kebanyakan orang. Disaat mereka disakiti maka langsung saja melakukan pelarian, misalnya jalan-jalan ke mall, makan-minum, belanja, nonton televisi, mendengarkan radio, musik dan lain sebagainya.

    Sadarilah bahwa pelarian semacam ini cenderung tidak membuat kita dewasa. Justru saat kita sering melarikan diri maka tidak akan pernah terbiasa dengan rasa sakit itu. Oleh karenanya, seperti yang kami katakan sebelumnya: terima dan hadapi semua apa adanya. Sewaktu keramahan anda diabaikan, tersenyumlah dan katakan dalam hati “terimakasih Tuhan.” Saat dihina orang, katakan “Yes.” Ketika dicuekin orang, bilang dalam hati “terimakasih Tuhan.” Saat kejadian buruk menimpa anda, katakan “ini yang terbaik untukku, kuatkan aku menghadapinya Tuhan.” Sembari menghadapi kepahitan itu maka teruslah bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati atau beraktivitas memberi manfaat lewat pelajaran atau pekerjaan yang dilakukan sehari-hari.

  7. Biarkan orang lain menang – restui kehebatannya.

    Jika disekitar anda, ada orang yang sengaja menimbulkan gejolak atau sekedar cari sensasi untuk cari-cari soal: biarkan saja mereka menang. Tidak perlu menanggapinya serius melainkan redakan kekesalan di dalam hati dengan mengatakan “biarkan orang-orang ini menang dan kuatkan kami menghadapi semuanya ini Tuhan.”

    Sambil-sambil merestui kehebatan orang lain, jangan biarkan diri sendiri berpangku tangan sehingga pikiran kosong. Melainkan sambil-sambil lakukanlah aktivitas anda sehari-hari, berupa fokus kepada Tuhan, belajar, bekerja dan sebisa mungkin berupaya memberi manfaat kepasa sesama lewat semunya itu.

  8. Jangan biasakan bahagia dengan merendahkan orang lain lalu meninggikan diri sendiri di dalam hati (arogansi).

    Jangan biarkan kelebihan anda membuatmu tersenyum bahagia dan jangan biarkan kekurangan orang lain membuatmu tertawa senang.”

    Selalu jaga hati tetap jauh dari dua hal di atas. Ketahuilah bahwa keadaan semacam ini justru membuat kehidupan kita semakin rapuh saja karena kita bukan manusia sempurna sedangkan di luar sana masih banyak orang yang lebih hebat dari diri ini. Bagaimana jadinya perasaan anda saat menyadari keterbatasan diri dan kehebatan orang lain?

    Selalu pastikan bahwa segala kebahagiaan di dalam hati anda hanya berasal dari dua hal saja, yaitu dari kebiasaan fokus kepada Tuhan dan dari kemampuan berbagi kasih/ kebaikan kepada sesama.

  9. Jangan gantungkan kebahagiaanmu dengan apa yang tampak oleh panca indra tetapi hasilkan kebahagiaan itu dari dalam hati sendiri.

    Kemungkinan ada orang di luar sana yang masih menggantungkan kebahagiaannya dari perolehan materi atau dari perolehan pujian atau dari perolehan penghormatan. Sadarilah bahwa semua sumber kebahagiaan itu tidak bisa kita kendalikan. Ketika ketergantungan dengan hal tersebut maka sudah otomatis rasa sakit dan stres akan mendekap ketika sudah tidak ada lagi.

    Ada beberapa orang di luar sana yang masa-masa mudanya penuh dengan pujian dan ketenaran. Tetapi saat usia mulai menua dan karya yang dihasilkannyapun berkurang bahkan tidak ada lagi: resiko mengalami stres sangat tinggi. Beberapa artis yang dahulu saat mudanya tenar ketika memasuki masa pensiun (usia tua), mereka cenderung bunuh diri karena terlalu terpaku dengan masa lalu yang wow dan telah kehilangan segalanya saat ini.

    Sekali lagi kami ingatkan: HANYA GANTUNGKAN KEBAHAGIAAN LEWAT AKTIVITAS FOKUS TUHAN DAN BERBAGI KASIH KEPADA SESAMA.

  10. Pastikan apa yang kita lakukan penting dan ada dasarnya (jangan terlalu banyak melawan kebenaran).

    Jika kita tersakiti setelah melakukan dosa, itu sudah sepantasnya terjadi. Rasa malu yang timbul yang mungkin disertai dengan kepahitan sudah seharusnya terjadi karena melanggar perintah dan larangan-Nya.

    Mengapa kita mampu bertahan dalam rasa sakit? Atau lebih tepatnya, mengapa masih melakukan hal yang sama sekalipun diabaikan secara bertubi-tubi? Satu kuncinya adalah karena apa yang kita lakukan benar dan tertulis jelas dalam Kitab Suci yang kita yakini.

    Firman yang tertulis dalam Kitab Suci yang mengajar agar kita selalur ramah kepada semua orang adalah sebuah motivasi sekaligus penyemangat yang membuat kita terbiasa dengan rasa sakit itu. Atau lebih tepatnya mari kita bandingkan langsung dengan rasa sakit yang dialami oleh Sang Penyelamat Yang Agung: Ia mati di kayu salib sedangkan kita hanya dicuekin toh. Bukankah seharusnya kita lebih giat beramah tamah karena penderitaan yang kita alami tidak sampai mencucurkan darah?

  11. Konsisten dalam penderitaan.

    Ini adalah rahasia terakhir untuk terbiasa dengan rasa sakit, yakni konsisten dalam penderitaan. Janganlah pernah bosan menderita melainkan nikmati penderitaan itu dengan senantiasa bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati niscaya hati tetap berbunga-bunga.

    Terkadang rasa arogan di dalam hati membuat kita berhenti di tengah jalan. Sebab kita ingin hidup lebih baik bukan dihina-hina seperti ini. Sadarilah bahwa selama kita berjalan dalam kebenaran maka selama itu pula penghinaan yang kita alami tidak sia-sia. Teruslah tegakkan kebenaran pada batas-batas kewenangan anda sebab di dalam kebenaran hati bahagia dan damai menjalaninya.

    Seperti saat pertama kali kita menyiram luka dengan air, rasanya pastilah perih teramat dalam. Tetapi semakin sering kita siram dan siram lagi maka rasa sakitnya akan terbiasa sehingga kita mampu menanggung semuanya itu sembari bernyanyi-nyanyi memuliakan Allah.

Kunci terbiasa adalah selalu merasakannya setiap waktu. Menurut anda apa rasa sakit yang berpotensi untuk selalu kita rasakan setiap waktu? Tidak lain dan tidak bukan adalah ramah tamah. Tidak ada kebaikan yang paling simple (sederhana) dengan resiko diabaikan seperti saat anda sedang beramah tamah dengan orang lain. Oleh karena itu, biarlah orang lain menguji kita lewat kebaikan ini, biarlah rasa sakit itu terus tercipta, toh kita juga melakukannya untuk Tuhan dan untuk sorga. Jadi jangan pernah menyesal karena kepahitan yang terjadi sebab bukankah semuanya itu telah tertulis jelas dalam Kitab Suci yang kita yakini? Selalu fokuskan pikiran untuk memuji-memuliakan nama Tuhan (bisa juga dengan berdoa dan membaca firman). Bila ada kesempatan, berbuat baiklah kepada sesama manusia. Patokkan dan tetapkan kedua aktivitas ini sebagai sumber kebahagiaan sejati seumur hidup.

Salam tegar tapi santun!

 

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.