Gejolak Sosial

10 Alasan Adat Istiadat Ditinggalkan – Yang Lama Dilupakan Karena Yang Baru, Yang Lebih Baik Sudah Dekat

Pengertian adat istiadat

Menurut KBBI (Luring), adat adalah (1) aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala; (2) cara (kelakuan dan sebagainya) yang sudah menjadi kebiasaan; kebiasaan; (3) wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem; (4) cukai menurut peraturan yang berlaku (di pelabuhan dan sebagainya). Sedangkan adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat.

Tinggalkan aturan yang melanggengkan terwujudnya sifat arogan

Kami sendiri mengartikan adat istiadat sebagai suatu aturan yang ditetapkan oleh pemipin adat untuk membuat dirinya lebih diuntungkan dari orang lain. Artinya, ciri khas dari kebiasaan adat yang tidak baik adalah melanggengkan arogansi para pemimpinnya. Jika aturan tersebut semakin jauh dari prinsip-prinsip keadilan soisial maka bisa digolongkan dalam kebiasaan nenek moyang yang tidak boleh ditiru oleh generasi ini dan juga generasi selanjutnya. Kita harus mulai meninggalkan kebiasaan buruk semacam ini agar tidak terkesan memelihara dosa nenek moyang terdahulu.

Adat cenderung ditiru dari binatang sedang Tuhan mengajarkan kesetaraan

Sadar atau tidak, adat murni di tiru dari perilaku hewan. Mungkin para ketuanya dahulu melihat binatang yang hidup berkelompok. Dimana ada satu ratu/ raja yang harus selalu dilindungi dan diberi makan oleh para anggotanya, seperti halnya yang terjadi pada kelompok rayap dan semut. Keadaan ini juga bisa kita saksikan dalam kawanan lebah dan serigala. Khusus untuk kelompok serigala, yang terkuat akan menjadi raja yang harus dilayani dan jatahnya lebih besar dalam setiap hasil tangkapan/ hasil buruan.

Sewaktu masih belum ada agama, manusia lebih cenderung untuk meniru sifat-sifat binatang. Mereka berlaku seperti hewan yang hampir-hampir tidak berperikemanusiaan. Oleh karenanya, jangan bertanya-tanya, mengapa jaman dahulu manusia saling bunuh-bunuhan demi memperebutkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada harganya. Akan tetapi setelah hadirnya agama atau lebih tepatnya Tuhan dalam kehidupan manusia maka sejak saat itulah mulai terjadi revolusi mental berupa transformasi dari sikap-sikap kebinatangan menjadi lebih manusiawi. Simak juga, Sosialisme kristen sayap kiri.

Tidak semua aturan zaman dulu berhubungan dengan ketidakadilan

Memang tidak semua adat menunjukkan ketidakadilan, ada pula beberapa aturan yang justru menciptakan masyarakat yang sopan dan santun dalam bersikap. Adat istiadat mengenai kesopanan dan kesusilaan sebaiknya biarkan tetap begitu. Tetapi yang berhubungan dengan kekuasaan dan pembagian jatah ini-itu (materi): sebaiknya disetarakan antara petinggi dengan rakyat biasa. Mengapa demikian? Sebab hal-hal yang berhubungan dengan materi dan kekuasaan syarat dengan godaan penyimpangan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, buang jauh-jauh ketidakadilan yang beresiko memicu reaksi sombong dan iri hati agar masyarakat bisa hidup bersama dalam persatuan.

Faktor penyebab adat istiadat zaman dahulu harus ditinggalkan/ dilupakan (dimuseumkan)

Tidak bagus juga jikalau aturan nenek moyang kita lupakan lalu dibuang sejauh mungkin dari kehidupan ini. Melainkan biarkanlah itu dicatat dalam sejarah kehidupan sehingga kita dan generasi selanjutnya bisa belajar sesuatu dari sana. Adalah baik untuk memuseumkan hal-hal yang sudah tidak relevan lagi di dalam masyarakat sebab aturan adat yang cenderung hanya memperlakukan oknum tertentu secara khusus jelas akan menimbulkan berbagai gejolak. Persoalan ini memang tidak terlihat langsung/ tidak selalu nyata melainkan berjalan lambat (masif) yang suatu saat akan meledak juga. Berikut ini beberapa alasan mengapa hal-hal tersebut harus dimuseumkan.

  1. Mengedepankan adat meninggalkan Tuhan.

    Seperti ada tertulis dalam Kitab Suci:
    (Markus 7:8) Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
    Lagi….
    (Markus  7:13) Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”
    Firman ini dipertegas lagi oleh Tuhan Yesus dengan bersabda
    (Matius  6:24) Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

    Jadi intinya adalah, saat lewat aturan adat kita meninggikan oknum tertentu maka secara otomatis telah menjadikannya sebagai berhala dalam hidup ini. Saat kita mengikuti aturan adat tertentu yang mengharuskan mahar yang besar dalam pernikahan maka secara otomatis kita mengabaikan ajaran Tuhan Yesus tentang kesederhanaan.

  2. Syarat dengan arogansi – Terpusat untuk meninggikan, memuji dan menguntungkan pihak tertentu saja (terutama ketua adat).

    Tahukah anda bahwa dosa manusia yang paling awal adalah arogansi? Sebuah hasrat yang tinggi untuk menginginkan lebih dan lebih lagi. Adam dan Hawa sudah diberi kekuasaan atas Taman Eden dan atas semua hewan disekitarnya akan tetapi mereka masih belum puas juga, ingin lebih lagi, hendak menjadi seperti Allah. Sedang aturan adat yang kita anut terkadang melanggengkan hasrat untuk meninggikan diri ini sekalipun hanya dalam kurun waktu satu, dua atau tiga hari saja. Saat kita melebih-lebihkan dan memuji-muji orang lain secara lebay maka tepat saat itu juga dosa mulai menancapkan pengaruhnya dari dalam hati manusia: kesombongan dan gila hormat bisa saja muncul tanpa kita sadari.

  3. Syarat dengan ketidakadilan.

    Segelintir orang berkata bahwa tidak apa-apa kalau sesekali berlaku tidak adil dengan sesama, sesekali kita juga harus lebih baik dari orang lain dengan demikian muncullah rasa senang dan bahagia dari dalam hati. Ketahuilah cara-cara bahagia semacam ini jelas beresiko melemahkan kehidupan kita diwaktu-waktu mendatang. Sebab “di atas monyet masih ada burung,” sedang “kita sendiri hanya manusia biasa yang pasti punya kelemahan dan melakukan kesalahan cepat atau lambat.”

    Biasanya, dimana ada ketidakadilan maka disanalah lahir bibit-bibit pemberontakan. Bagi yang tidak menyadari ketidaksetaraan ini, cenderung akan diam-diam saja. Tetapi mereka yang menyadari hal ini, sudah pasti akan menentang dan melakukan gerakan revolusi.

  4. Adat istiadat hanya melindungi harga diri dan penghormatan para pemimpinnya.

    Dari awal pembuatannya, adat istiadat ditujukan untuk menguntungkan pihak tertentu lalu mengabaikan pihak lainnya. Biasanya orang yang adatnya terlalu kuat cenderung menetapkan standar tinggi untuk harga dirinya sendiri. Keadaan ini juga disusul oleh hasrat yang tinggi untuk dihormati orang lain (gila hormat). Alasan utama sifat harga diri tinggi/ berlebihan adalah karena sebelumnya telah terbiasa dihormat-hormati oleh orang.

    Sesungguhnya, harga diri dan penghormatan dari orang lain tidak bisa kita kendalikan dan cenderung menjadi fatamorgana yang berpotensi menipu diri sendiri saat terlalu diinginkan. Melainkan yang terpenting dalam hidup ini adalah selalu fokuskan hidup kepada Tuhan (doa, firman dan nyanyian pujian) dan bebuat baiklah kepada sesama lewat aktivitas belajar dan bekerja (sesuai potensi) hari lepas hari.

  5. Manusia cenderung memperebutkan posisi tertinggi yang menimbulkan perbuatan menyimpang.

    Apa yang tinggi-tinggi, berpotensi besar menjadi bahan rebutan diantara masyarakat. Keadaan ini jelas-jelas membuat suasana kebersamaan terganggu bahkan retak hanya karena mempersoalkan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Oleh karena itu, jika kita semua ingin kondisi masyarakat lebih kondusif dengan gejolak yang minimal maka sudah sepatutnya, aturan yang syarat dengan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dikembalikan ke jalan yang sebenarnya (kesetaraan).

    Saat suatu adat istiadat tertentu memberikan terlalu banyak kelonggaran kepada para pemimpinnya maka sadarilah bahwa tepat saat itu juga potensi penyimpangan akan semakin tinggi. Maka semakin besar kewenangan yang diberikan kepada ketua adat maka semakin besar pula potensi penyimpangan yang mungkin akan dilakukannya.

    Perbuatan menyimpang juga muncul akibat seseorang terlalu besar kewenangannya mengatur ini dan itu. Lagipula, siapakah yang bertugas mengawasi perilaku para pemimpin adat? Bukankah selama ini mereka bertindak sekehendak hatinya dan mengambil semau-maunya tanpa ada seorangpun yang berani menegur atau memperingatkan mereka?

  6. Masyarakat ada untuk kepentingan pemimpin adat.

    Semua aturan yang ada hanya menguntungkan pihak tertentu tetapi merugikan pihak yang lain. Aturan tersebut membuat para pemimpin mendapatkan jatah yang lebih banyak sedangkan apa yang tersedia berasal dari rakyat. Ini seperti memanfaatkan posisi yang dimilikinya untuk memperoleh keuntungan dari berbagai-bagai acara adat yang ada. Seolah-olah mereka menginjak orang lain secara halus (secara diam-diam) untuk membuat dirinya sendiri beroleh manfaat yang lebih besar.

  7. Menyebabkan lingkaran kebencian – reaksi kesombongan dan iri hati.

    Lingkaran kebencian di dalam masyarakat akan semakin kuat ketika status seseorang sangat tinggi melebihi orang lain. Itulah mengapa saat seseorang begitu ditinggikan oleh sistem/ aturan yang berlaku maka ada-ada saja orang yang iri akan hal tersebut. Keadaan ini secara langsung akan menimbulkan semacam hasrat untuk menguji orang lain. Itulah mengapa saat kita termasuk orang cerdas atau pemimpin atau pejabat maka orang-orang akan ramai-ramai menguji diri ini. Kehidupan masyarakat dalam kebersamaan saat semua setara akan membuat hati lega tetapi kebersamaan yang dipenuhi oleh iri hati dan kesombongan hanya akan menghasilkan masalah/ gejolak yang tidak pernah berhenti.

  8. Acara adat hanya memiskinkan orang.

    Orang susah-susah mengumpulkan uang tetapi bukan digunakan untuk kesejahteraannya melainkan hanya demi melanggengkan pelaksanaan berbagai acara yang menghambur-hamburkan uang. Biaya untuk menikah menjadi lebih besar sedangkan uang yang dikeluarkan itu bukan ditujukan untuk kesejahteraan pasangan yang baru membentuk rumah tangga baru melainkan demi memuaskan kerabat, saudara dan para tamu yang diundang.

  9. Membuat manusia menjadi materialistis.

    Ini jelas sebuah bencana sebab hasrat akan kenikmatan duniawi tidak akan pernah berakhir. Ketika berbagai acara adat istiadat menjadi icon dalam sebuah masyarakat, terlebih ketika orang yang melaksanakan dipuja-puji oleh berbagai pihak. Alhasil, hasrat untuk  dipuji dan populer lewat acara adat akan menawan hati banyak orang. Mereka akan melakukan pesta-pesta besar yang menghabikskan banyak sumber daya, hanya demi mencari nama dan kehormatan entah berantah. Akibatnya, trend semacam ini hanya akan menggiring masyarakat untuk mengejar materi sebesar-besarnya sekalipun dengan melegalkan segala cara.

  10. Acara adat juga berpotensi merusak lingkungan.

    Foya-foya yang syarat dengan penggunaan materi secara besar-besaran sungguh jauh dari kesederhanaan. Acara semacam ini hanya akan menimbulkan pemborosan sumber daya. Akibatnya, ada banyak bahan pangan dikonsumsi, sampah yang dihasilkan dan BBM yang digunakan untuk mewujudkan semuanya itu. Sebab semakin tinggi jumlah konsumsi manusia maka semakin tinggi pula polutan dan sampah yang dihasilkan. Sebaliknya, pemborosan semacam ini bisa saja menyebabkan kelangkaan sembako dan barang kebutuhan manusia lainnya.

Ketika adat istiadat hanya ada untuk memuaskan hasrat para petingginya terhadap penghormatan maka sudah sebaiknya hal tersebut dilupakan. Saat aturan nenek moyang cenderung menggiring manusia untuk hidup mewah dan berfoya-foya maka sebaiknya kebiasaan tersebut dimuseumkan. Jika, aturan-aturan jaman dulu hanya ada untuk membela kepentingan pihak tertentu dan melanggengkan kesewenang-wenangan juga kebanggaan akan hal-hal duniawi maka sudah sepantasnya adat itu dibuang jauh-jauh ke dalam museum untuk kebaikan generasi ini dan dari generasi yang akan datang. Sebab segala sesuatu yang berpotensi meninggikan oknum tertentu syarat dengan aturan hewan. Tetapi, apa yang baru sudah datang, yang berasal dari Tuhan, yaitu keadilan sosial bagi seluruh umat manusia.

Salam kesetaraan itu hebat!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.