Kesetaraan Manusia

Negara Keadilan Sosial Adalah Tuhan Tidak Mau Manusia Berkuasa Atas Sesamanya Melainkan Hanya Atas Makhluk Hidup Lain

Negara Keadilan Sosial Adalah Tuhan Tidak Memerintahkan Kita Untuk Berkuasa Atas Sesama Manusia Lainnya Melainkan Hanya Atas Makhluk Hidup Lain

Tahukah anda bahwa Tuhan itu adalah firman dan firman adalah Tuhan sendiri? Mustahil kita bisa membedakan yang mana Tuhan dan yang mana peraturan sebab keberadaan-Nya tidak pernah lepas dari aturan hidup tentang apa yang pantas dilakukan dan apa yang tidak pantas untuk dilakukan. Demikian halnya juga dengan negara, pemerintah hanyalah bagian dari negara yang menjalankan, mengawasi dan menindaklanjuti aturan tersebut. Tanpa adanya aturan yang jelas dan terstruktur maka sebuah negara tidak akan pernah ada. Pada dasarnya semua peraturan itu diperuntukkan untuk melindungi dan memelihara setiap warga yang hidup didalamnya.

Pengertian

Keadilan sosial adalah kerja sama untuk menghasilkan masyarakat yang bersatu secara organis sehingga setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan nyata untuk tumbuh dan belajar hidup pada kemampuan aslinya. Negara adalah (1) organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat; (2) kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya (KBBI Luring).

Antara Tuhan dan seluruh umat

Tuhan adalah pencipta, Ayah dari seluruh makhluk ciptaan, termasuk manusia didalamnya. Khusus untuk kita, Bapa telah memberikan hak yang istimewa, yaitu untuk menaklukkan dan berkuasa atas makhluk lainnya. Perintah untuk berkuasa dan menaklukkan ini bukan untuk memunahkan makhluk lainnya sebab hal tersebut cenderung merusak tata keseimbangan ciptaan. Demikianlah kita harus memanfaatkan sambil memelihara segala kehidupan yang ada di bumi ini. Memaanfaatkan itu berarti tidak membunuh makhluk hidup lain dengan sia-sia namun membunuhnya karena diperlukan untuk hari itu juga.

Tuhan memerintahkan kita untuk menaklukkan dan berkuasa atas ciptaan lainnya bukan atas sesama manusia

Sedang perilaku manusia yang cenderung serakah telah dengan sengaja menyingkirkan makhluk hidup lainnya demi sebuah nama baik, pujian, popularitas dan keuntungan materi lainnya. Sifat semacam ini jelas tidak disukai oleh Tuhan sebab dengan berlaku demikian kita mengganggu keseimbangan alam. Tetapi sadarilah bahwa sehebat dan seserakah apapun manusia, alam semesta tetap mampu mencapai titik keseimbangan. Cara alam untuk mengimbangi kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia, yaitu dengan memunahkan orang-orang yang ada diwilayah tersebut, yaitu lewat bencana alam (misal badai, angin topan, puting beliung, banjir, longsor, gelombang panas dan lainnya).

(Kejadian  1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Tuhan memerintahkan manusia untuk menaklukkan dan berkuasa atas makhluk lainnya tetapi tidak pernah memerintahkan manusia untuk berkuasa atas sesamanya. Disinilah banyak orang salah mengerti, beberapa orang menganggap bahwa Tuhan turut pula memerintahkan kita untuk berkuasa atas sesama manusia lainnya. Pemahaman ini jelas salah, Tuhan tidak pernah memilih seorang penguasa layakknya raja-raja yang memerintah atas kehidupan umat manusia lainnya. Fakta tersebut jelas tertulis saat Tuhan enggan memberikan seorang raja kepada bangsa Israel, seperti firman-Nya yang berpesan.

(I Samuel 8:4-22) Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu. Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya PERINGATKANLAH mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.”

Dan Samuel menyampaikan segala firman TUHAN kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, katanya: “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya; dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.”

Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kami pun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada TUHAN. TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.” Kemudian berkatalah Samuel kepada orang-orang Israel itu: “Pergilah, masing-masing ke kotanya.”

Tuhan tidak berkenan dengan sistem pemerintahan yang tidak adil

Dari firman ini bisa kita saksikan bahwa sebenarnya Tuhan tidak mengizinkan seorang manusia ditinggikan atas sesamanya. Sebab lewat proses meninggikan manusia inilah akar arogansi akan semakin kuat dan menyebar diantara orang-orang yang berkuasa. Dari sinilah sesungguhnya bermula ketidakadilan itu dimana nabi telah menjelaskan hal tersebut kepada  seluruh umat Israel. Tetapi bangsa Israel tetap menginginkan seorang raja selain Tuhan sekalipun ada imbalan yang harus mereka bayar yang merupakan cikal bakal ketidakadilan di dalam masyarakat.

Diatas semuanya itu, Tuhan tahu bahwa suatu saat kita akan menyadari betapa rugi dan bobroknya memiliki seorang raja. Dimana-mana terjadi ketidakadilan, hanya orang-orang tertentu saja yang menikmati uang negara sedangkan sebagian besar masyarakat tidak merasakan kemakmuran yang asalnya langsung dari kas negara (APBN). Inilah moment yang tepat bagi kita untuk memahami dan mengerti hal tersebut sehingga setiap orang berjuang demi kesetaraan, mendukung pemimpin (legislatif dan eksekutif) yang memperjuangkan keadilan sosial dan turut menyampaikan ajaran kesetaraan kepada anak-cucu kita (kepada generasi selanjutnya).

Tanpa keadilan sosial maka orang-orang yang berkuasa akan menghisap banyak-banyak uang negara (serakah) bagi dirinya sendiri sedangkan sebagian rakyat diseluruh negeri ini tidak mendapat apa-apa. Kita hanya dijanjikan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah sedangkan infrastruktur itu sendiri terbengkalai (tidak terawat) dan tidak langsung bersentuhan (tidak banyak memberi manfaat) bagi kesejahteraan seluruh masyarakat di wilayah tersebut. Oleh karena itu, mulai sekarang perjuangkanlah kesetaraan pendapatan sebab Tuhan mengasihi seluruh umat manusia tanpa pandang bulu.

Semua manusia setara di mata Tuhan

Sadar atau tidak, semua manusia adalah anak Tuhan. Sebab Adam dan Hawa, nenek moyang kita langsung dihembuskan nafasnya oleh Allah. Sayang arogansi membuat mereka menginginkan yang lebih dan lebih lagi, yakni ingin menjadi sama seperti Tuhan. Inilah awal dari semua dosa manusia, yaitu ingin lebih lagi dan lagi, suatu hasrat yang tidak pernah puas. Demikian juga dengan sistem pemerintahan yang syarat dengan ketidakadilan, merupakan sistem yang melanggengkan sifat arogan yang sudah ada di dalam hati manusia itu sendiri. Keadaan ini semakin membua manusia jatuh ke dalam dosa dan menjauh dari Allah sebab arogansi adalah permulaan dari semua dosa kecil maupun besar.

Apakah Tuhan tidak mengizinkan seorang raja diangkat atas sesamanya?

Seperti yang difirmankan-Nya kepada nabi Samuel agar mengangkat raja bagi orang Israel, dengan demikian kita juga mengetahui bahwa Tuhan tidak menolak sistem pemerintahan yang syarat dengan ketidakadilan. Melainkan Dia membiarkan mereka dan kita sampai saat ini untuk memiliki seorang kepala pemerintahan. Memang dari awal Tuhan tidak mau mengangkat seorang raja sebab hanya Dialah Raja atas seluruh umat manusia. Tetapi Tuhan ingin kita belajar dari semuanya itu, Ia mau kita merasakan akibat dari sistem pemerintahan yang tidak adil sehingga dari hal tersebutlah kita berubah (berevolusi) untuk meninggalkan sistem semacam itu dan memperjuangkan keadilan sosial. Dari sini kita memahami bahwa Allah tidak mengehendaki agar kita seperti robot melainkan kita harus belajar, berkembang dan bergerak maju untuk meninggalkan kesalahan yang telah dilakukan oleh nenek moyang terdahulu.

Dimana ada kebersamaan disitu ada Tuhan

(Mazmur 133:1-3) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Saat kita hidup rukun bersama orang lain maka tepat saat itu jugalah hidup kita diberkati. Sebab di dalam kebersamaan ada yang namanya kesetaraan, tidak ada seorangpun yang ditinggikan melainkan semuanya sama-sama saling tolong-menolong. Tidak ada orang yang mengatakan bahwa “jatah saya harus lebih besar” atau “nama saya harus lebih termasyur” atau “bagian saya harus yang paling bagus.” Melainkan masing-masing “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.” Di dalam kebersamaan seperti inilah Tuhan akan memberkati dengan sungguh, tidak hanya satu-dua orang dan tidak hanya segelintir orang saja melainkan seluruh masyarakat akan mendapat berkat yang sebanding dengan apa yang dibutuhkannya.

Rasanya tidak perlu menyampaikan kepada orang lain bahwa ditengah-tengah kita ada Tuhan sebab mereka bisa melihat penyertaan Tuhan lewat sikap (perkataan, perilaku) dan berkat yang kita peroleh. Bukti yang paling nyata adalah saat mereka menyaksikan keadilan sosial berlaku diantara kita. Mereka tidak lagi melihat, satu pihak memeras pihak lainnya untuk beroleh keuntungan. Tidak juga menyaksikan orang yang satu kelimpahan sedangkan yang lainnya masih hidup dalam garis kemiskinana. Biasanya, dimana ada kesetaraan maka disana jugalah ada yang namanya keamanan sebab tidak ada lagi kejahatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sekalipun ada reaksi antara iri hati dan kesombongan namun dampaknya sangat minimal.

Negara yang adil adalah wujud kebersamaan sejati adalah Tuhan sendiri

Dimana ada kebersamaan maka disitu ada kerukunan. Sedang hidup yang rukun itu mustahil dapat tercipta tanpa keadilan sosial. Saat kita hidup saling tolong-menolong maka saat itu jugalah hidup ini berkecukupan dan semua yang dibutuhkan ada, bahkan kita akan mencapai puncak kemakmuran hidup yang sejati. Oleh karena itu, selalu ingat kuncinya adalah keadilan sosial. Saat seluruh masyarakat hidup dalam kesetaraan maka tepat saat itu kebersamaan yang sejati akan berlangsung turun-temurun dan disanalah Tuhan bertahta bersama-sama dengan umat manusia sehingga berkat-berkat yang luar biasa akan tercurah dari zaman ke zaman.

Sekali lagi kami ingatkan, Tuhan tidak mengehendaki agar seorang manusia berkuasa atas sesama manusia lainnya. Bahkan Tuhan sendiri tidak menghendaki seorang kepala pemerintahan atas kita sebab Dialah Raja, Sang Pemimpin Agung untuk seluruh umat manusia. Sekalipun demikian, Ia membiarkan kita dalam keinginan yang salah itu sehingga semakin tenggelam dalam dosa yang penuh arogansi. Akibatnya, sampai sekarang kita bisa merasakan betapa buruknya pengaruh kapitalisme terhadap masyarakat sampai-sampai memecah-belah tatanan kehidupan bahkan lingkungan sekitar juga turut mengalami degradasi. Oleh karena itu, mari bercermin dari masa lampau untuk memahami betapa buruknya sistem pemerintahan kapitalisme, ini sama saja dengan menginjak orang lain demi kepentingan pribadi dan kelompok. Mari perjuangkan keadilan sosial bagi seluruh umat manusia sebab negara yang menganut kesetaraan adalah Tuhan sendiri.

Salam, kesetaraan adalah dasar kebersamaan yang sejati!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.