Kristen Sejati

7 Makna Proses Penciptaan (Kejadian 1:1-31) – Perbedaan Sudut Pandang Tidak Harus Dikalahkan Atau Dimenangkan


Makna Proses Penciptaan Menurut Alkitab – Perbedaan Sudut Pandang Tidak Harus Dikalahkan Atau Dimenangkan

Kristen sejati – Alkitab menceritakan urutan penciptaan manusia yang terstruktur dan rapi. Ini adalah urutan yang sangat logis sebab dihari-hari tersebut semuanya sudah berbentuk dalam siklus kehidupan. Artinya, tidak ada satu ciptaan yang diciptakan tanpa tersedianya kebutuhannya melainkan polanya adalah kebutuhannya dahulu yang disediakan lalu barulah setelah itu diadakan makhluk-makhluk yang sudah siap untuk hidup dalam ekosistemnya masing-masing. Langsung saja kita simak ceritanya dari Alkitab yang kami peroleh dari software Alkitab elektronik, berikut selengkapnya.

(Kejadian 1:1-31) Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Kita padatkan lagi point-point penting yang terkandung didalamnya

No Masa – Waku – Hari Ciptaan
1. Masa awal Allah menciptakan langit dan bumi.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya.

2. Hari Pertama Terang dan gelap adalah dua esensi dasar yang diciptakan Tuhan. Bumipun mengalami siang dan malam.
3. Hari Kedua Air masih menutupi bumi lalu menguaplah itu menjadi awan sehingga terbentuklah langit (cakrawala) yang memisahkan antara air yang di bawah dan di atas.
4. Hari Ketiga Tanah terbentuk lalu semakin besarlah itu sehingga mulai kelihatan daratan yang kering sedang perairannya disebut lautan.
5. Tumbuh-tumbuhan dari berbagai jenis mulai bertunas di atas tanah.
6. Hari Keempat Matahari diciptakan untuk menguasai siang.
7. Bulan dan bintang diciptakan untuk menguasai malam.
8. Hari Kelima Hewan-hewan laut diciptakan Tuhan.
9. Burung-burung di udara diciptakan Tuhan.
10. Hari Keenam Hewan-hewan di darat diciptakan Tuhan.
11 Manusia diciptakan Tuhan.

Beberapa pertimbangan

Dari pemahaman di atas bisa diamati bahwa pantaslah pada zaman dahulu kala orang-orang berpikir bahwa bumi ini adalah pusat segala tata surya. Sebab berdasarkan sudut pandang yang diambil oleh penulis kitab Kejadian langit (tata surya) dan bumi adalah masih kosong saat penciptaan baru dimulai. Bisa dikatakan bahwa alam semesta sudah ada atau belum ada saat penciptaan sudah di mulai. Sebab bisa saja sudut pandang penulis saat mengalami penglihatan tersebut, berada dalam proses penciptaan yang sedang berlangsung sebelum dia datang.

Dibalik semuanya itu, secara logis semuanya sudah sangat akurat dimana segala sesuatu diawali dari air sebagai sumber kehidupan segala makhluk. Sebab tidak ada makhlu hidup yang bisa tetap bertahan hidup tanpa air. Kemudian muncullah tanah setelah itu tumbuhan hijau. Ini sudah tersusun rapi, sebab mustahil ada tumbuhan tanpa tanah. Setelah itu, proses akan berlanjut dengan munculnya hewan-hewan di dalam lautan (masih ingat bahwa garam itu mengandung energi dan manusia bisa hidup hanya dengan air garam?). Sedang burung diudara yang mengkonsumsi tumbuhan hijau dan ikan di laut. Kemudian muncullah hewan-hewan daratan yang makananya adalah tumbuhan hijau. Pada akhirnya di hari yang terakhir diciptakanlah manusia yang bisa mengkonsumsi apa saja yang tersedia.

Penulis menggunakan sudut pandang yang berbeda

Dalam hal ini, penulis kitab Kejadian memiliki sudut pandang yang unik saat menentukan tahapan penciptaan. Ini jelas sebagai hasil pengilhaman Roh Kudus sehingga ia menuliskannya seperti itu. Sewaktu Roh Allah menceritakan kisah penciptaan ini, kita masih belum tahu sudut pandang yang digunakan. Apakah si pengamat berada di luar angkasa atau berada di luar sistem tata surya atau malah berada di bumi. Sekalipun pada kalimat pertama pasal ini dikisahkan bahwa “Allah menciptakan langit dan bumi,” kita juga masih belum tahu apakah posisi si pengamati pindah-pindah atau tidak. Sadarilah bahwa kitapun saat menyaksikan suatu kejadian yang lengkap dan jelas bisa saja menceritakannya lain ketika kita tidak mengerti apa yang sedang di utarakan.

Kisahnya seperti ini, bisa saja saat pengamatan tersebut sedang berlangsung, si penulis kitab Kejadian berada di atas awan/ langit dan sedang membelakangi matahari sebagai sumber cahaya yang memisahkan siang dan malam. Atau kejadiannya bisa juga terjadi bahwa terang yang dilihat si pengamat berasal dari sinar kemuliaan Allah seperti yang tertulis dalam kitab Wahyu  (bandingkan Wahyu 21:23). Perbedaan sudut pandang jelas membuat firman yang dituliskan oleh pengamat tersebut memiliki keunikan yang harus ditanggapi dengan penuh kerendahan hati. Bila terlalu memasang logika yang dangkal maka bisa terjebak dalam pemahaman yang salah.

Ada ujian yang kental dalam cerita tentang proses penciptaan ini

Disinilah banyak orang terjebak untuk memahami Kitab Suci. Terutama yang banyak mengalam sesak dada dan kegeraman adalah orang-orang yang merasa dirinya lebih pintar dari orang lain. Lantas saja ia ingin mencari nama agar populer lewat berbagai pertentangan yang ditunjukkannya. Sehingga dengan demikian menjadi murtad karena tidak mampu memahami perbedaan sudut pandang tersebut. Artinya, hanya karena perbedaan logikanya dengan sudut pandang yang dikisahkan oleh penulis kisah penciptaan ini, langsung saja ia menolak seluruh isi Kitab Suci.

Seperti yang kami katakan pada bagian sebelumnya bahwa sesungguhnya karena kita terlalu fokus pada pengetahuan yang dimiliki maka secara otomatis dan tanpa disadari, diri ini menjauh dari Tuhan bahkan juga menjauhi sesama manusia. Biasanya saat kita sudah jauh dari Tuhan maka kemampuan untuk bergaul dan berbaur dengan sesama juga semakin berkurang. Apalagi ketika ada masalah diantara teman yang sesungguhnya merupakan ujian kehidupan yang mau tidak mau harus kita alami. Disaat-saat seperti inilah arogansi di dalam hati semakin meninggi dan semakin tidak peduli dengan kehidupan orang lain juga muak dengan Tuhan.

Inilah sebenarnya ujian terberat bagi orang-orang cerdas, yaitu ketika semua orang mengabaikan mampukah mereka menanggapi hal tersebut dengan santai, tetap ramah dan tabah? Ketika disaat-saat  seperti ini kita terlalu fokus mencari harga diri, penghormatan dan pengakuan maka tepat saat itu jugalah kepala semakin pusing dan stres memikirkan kehidupan ini. Saat kita terjebak dalam dendam yang berkepanjangan dengan orang lain maka tepat saat itu jugalah kita cenderung menjadi anti sosial yang sangat psikopat.

Semakin melejit potensi maka semakin banyak ujian

Masih ingatkan dengan tulisan kami tentang betapa beratnya ujian hidup yang dihadapi oleh orang-orang bijak yang mempunyai bakat khusus? Semakin mencolok bakat anda maka akan semakin banyak pula orang yang mencobai diri ini. Dibalik semuanya itu, kita juga harus menyadari bahwa lewat sikap mereka yang menjengkelkan itu, kita tampil lebih cerdas, kemampuan mengelola emosi lebih terkendali, kesantunan semakin terlatih dan bakat yang kita miliki akan semakin terasah. Kami sendiri mau mengakui bahwa apa yang kami tuliskan di blog ini tidak diperoleh dengan gratis tetapi dibayar dengan rasa sakit karena perlakuan buruk orang lain. Tapi lihat sisi positifnya, lewat semuanya itu kami bisa lebih bijak dalam menjalani hidup sambil berkarya.

Ini kebahagiaan yang membuat kita semakin gila

Ketika pola pikir kita terbentuk lalu menganggap bahwa kebahagiaan itu ada pada materi, pujian, popularitas, gelar, kehormatan, harga diri, potensi, kelebihan, kemenangan, muzizat dan lain sebagainya maka tepat saat itu juga kehidupan ini rapuh. Mengapa kami berkata demikian? Sebab menggantungkan sukacita pada kenikmatan dan kemuliaan duniawi beresiko tinggi membuat perasaan ini dipermain-mainkan oleh orang lain. Ingat bahwa inti kehidupan manusia adalah pikirannya, tepat saat pikiran kita dipermain-mainkan oleh karena terlalu berharap kepada dunia ini maka tepat saat itu juga resiko mengalami stres tinggi. Akhirnya, muncul niat untuk cari-cari sensasi, salah satunya dengan menolak dan menentang segala sesuatu yang ada di dalam Kitab Suci dengan begitu beroleh kebahagiaan lewat popularitas yang melejit.

Hanya memberi, itulah kebahagiaan sejati.

Ingatlah bahwa di dalam kekristenan jalan kebahagiaan itu tidak mudah. Ini termuat jelas dalam segitiga emas kekristenan. Pertama-taman adalah fokus kepada Tuhan, baik lewat doa, firman dan nyanyian pujian (lakukan ini secara selang-seling dan lebih banyaklah memuliakan Tuhan di sela-sela waktu luang anda). Setelah itu berbuat baik kepada sesama yang dimulai dari hal-hal kecil. Pastikan dalam satu hari ini minimal ada tujuh kebaikan yang anda lakukan (lebih adalah lebih baik). Kami sendiri lebih memilih untuk melakukan ramah tamah kepada siapa saja: cukup dengan senyuman, anggukan dan sedikit kata-kata sapaan sudah merupakan kebaikan (mana yang digunakan dari ketiganya, silahkan coba-coba sendiri lalu gunakan sesuai pengalaman). Keramahan ini juga berpotensi sebagai ujian yang butuh ketabahan, kemauan memaafkan dan tetap positif (tidak menyalahkan siapapun) ketika hal tersebut diabaikan orang lain. Sadarilah bahwa ada tantangan besar dibalik setiap kebaikan kita.

Fokus Berpikir Manusia Agar Hidup Lebih Berkualitas

Kunci kebahagiaan yang kami maksudkan disini adalah membiasakan diri dan senantiasa melakukan aktivitas positif. Saat kita melakukan apa yang sudah terbiasa maka saat itu jugalah ada rasa damai dan tenang di dalam hati. Ketika kita senantiasa memiliki aktivitas positif maka saat itu jugalah pikiran dibebaskan dari berbagai-bagai hal buruk. Kebahagiaan itu berasal dari dalam hati, apa yang mampu kita berikan kepada Tuhan dan apa yang mampu kita berikan kepada sesama. Diatas semua manfaat yang kita berikan rendahkanlah hati, jangan sombong kalau mampu memberi lebih kepada orang lain, jangan marah ketika keramahan anda hanya di jawab dengan diam dan pada akhirnya janganlah membalas dendam dari perlakuan orang lain yang tidak sesuai dengan pendapat anda.

Manusia jangan serakah – makna di balik kisah penciptaan.

Ada pemahaman yang mendalam dibalik kisah tentang penciptaan ini. Tertulis jelas bahwa segala sesuatu di alam semesta telah tersusun dengan sangat terencana dan terstruktur tanpa ada satupun yang kurang. Hanya saja kita memerlukan sudut pandang yang positif untuk memahami semunya itu. Berhati-hatilah dengan logika sendiri sebab kepintaran yang lebay beresiko menyebabkan Tuhan menjauh dari kehidupan kita. Pertanda jelas saat Tuhan sudah tidak ada lagi yaitu saat kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan hilang dari diri ini.

Adapun beberapa makna positif yang dapat kita gali dari proses penciptaan ini adalah sebagai berikut.

  1. Segala sesuatu telah terencana dan sempurna.

    Mungkin ada yang berkata, “mengapa sih manusia diciptakan yang terakhir? Bukankah kita makhluk kesayangan Tuhan, maunya yang pertama dong….?” Kita harus menyadari bahwa rencana Tuhan adalah indah dalam kehidupan ini. Ia tidak menempatkan kita dalam situasi yang salah tetapi merencanakan keberadaan manusia di posisi terakhir. Sebab diakhir inilah segala jenis yang kita butuhkan telah tersedia, seadanya. Demikian juga dalam menjalani kehidupan ini jangan mengandalkan rencana kita seorang, terkadang rencana Allah berbeda dan masih jauh lebih baik dibandingkan dengan rencana manusia. Oleh karena itu, pasrahkan kehidupan kepada Tuhan, jangan terlalu banyak menginginkan tetapi lakukanlah kebaikan kepada siapa saja.

    Dari apa yang diciptakan sejak masa permulaan sampai hari yang ke enam, kita telah memahami betapa baik ciptaan Tuhan tersebut. Artinya, hanya dengan menggantungkan kebutuhan hidup pada ciptaan itu saja maka semua keperluan kita sudah terpenuhi. Apa yang sudah disediakan Tuhan di seluruh alam semesta ini, sudah mampu untuk memuaskan kehidupan kita. Jadi bisa kami katakan bahwa ketika kita bisa tampil alami apa adanya: itu sudah cukup untuk membuat diri sendiri bahagia.

    Sekali lagi kami ingatkan kepada para pembaca, hindari menggunakan teknologi dan karya seni sebagai sumber kebahagiaan. Jangan terus fokus kepada hal-hal tersebut. Gunakanlah apa adanya, satu-dua jam menonton, browsing dan lain sebagainya sudah cukup untuk menambah wawasan kita. Terkecuali jika memang pekerjaan kita berhubungan langsung dengan teknologi tertentu.

  2. Ciptaan lain ada untuk mendukung aktivitas manusia.

    Bagaimana rasanya seandainya kita diciptakan pertama sekali di alam semesta? Bukankah dengan demikian kehidupan kita melayang-layang dalam kegelapan lalu tiba-tiba meninggal sebab tidak ada apa-apa yang bisa kita konsumsi. Tapi lihatlah Tuhan telah menyediakan lautan sebagai sumber garam dan air, tumbuhan sebagai sayur mayur dan hewan sebagai lauk pauk. Dari sini kita pahami bahwa sesungguhnya ciptaan lain diadakan Tuhan untuk mendukung dan memenuhi kebutuhan umat kesayangan-Nya.

  3. Tumbuhan hijau ada untuk menyeimbangkan aktivitas manusia.

    Selain digunakan untuk mendukung kehidupan manusia tumbuhan hijau juga berperan aktif untuk melindungi manusia dari teriknya matahari. Komponen yang sangat bermanfaat dihasilkan oleh tanaman adalah udara bersih. Saat udara hijau terus dihasilkan tumbuhan maka atmosfer di tempat kita akan semakin padat dan tebal. Ini adalah tabir surya alami yang membuat panas di siang hari tidak terlalu menyengat dan tidak sampai membakar kulit.

    Saat the guadian yang dititipkan Tuhan kepada kita mengalami degradasi yang parah maka ketergantungan akan energi sangat tinggi. Sebab kita menggunakan mesin berteknologi tinggi untuk menciptakan lingkungan alamiah di tengah tingginya angka polusi dan teriknya sang mentari.

  4. Menaklukkan bukan berarti mengeksploitasi secara berlebihan sampai punah.

    Memanfaatkan ciptaan adalah hak kita, Tuhan sudah memberikan wewenang penuh untuk memenuhi kebutuhan kita. Sayang, saat pikiran kita menjadi liar, hawa nafsu akan menguasai hati sehingga meluaplah keserakahan terhadap materi dan kemuliaan duniawi. Sistem, teknologi dan karya lebay yang kita ciptakan pada akhirnya akan menjauhkan kita dari Tuhan sedang gangguan keseimbangan alam terjadi dimana-mana akibat keserakahan yang luar biasa terhadap sumber daya alam. Semua ini akan berjung pada rusaknya hubungan baik dengan orang lain hingga akhirnya merusak segalanya (termasuk alam sekitar kita).

  5. Berkuasa atas ciptaan lainnya berarti mengelola/ memanajemen agar terus ada dari generasi ke generasi.

    Ini adalah peran terpenting bagi manusia. Disinilah seharunya kecerdasan kita digunakan dan bukannya hanya mendedikasikan hidup untuk menikmati hal-hal duniawi. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan mengelola? Ini adalah kemampuan untuk memanfaatkan sembari memelihara ciptaan lainnya. Kemampuan ini juga disebut sebagai manajemen sumber daya yang selalu mempertimbangkan antara output dan input juga antara produksi dan konsumsi.

  6. Manusia tidak bisa hidup tanpa ciptaan lainnya.

    Ini adalah hekekat manusia yang sebenarnya. Kita harus menyadari bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna. Kalau kita memang sempurna maka cukup manusia saja di bumi ini dan tidak ada makhluk lain. Artinya, hanya kita seorang saja, bertahan dan memenuhi kebutuhan sendiri tanpa membutuhkan pihak lain: “apa sanggup memenuhi kesempurnaan ini?” Tetapi nyatanya kita tidak bisa hidup sendiri, manusia butuh pihak lain, butuh makhluk lain untuk menopang dan mendukung kehidupan sehari-hari sehingga jelaslah bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna. Oleh karena itu, jangan egois lalu membunuh hewan tanpa alasan, membabat hutan demi uang sehingga kita bisa membangun tempat-tempat yang mewah dan megah untuk diri sendiri. Melainkan hiduplah bersama orang lain, hidup bersama hewan lain, hidup bersama tumbuh-tumbuhan sebab itulah hakekat keberadaan kita, yakni sebagai makhluk sosial.

  7. Kita tidak pernah diperintahkan untuk berkuasa atas sesama manusia.

    Dalam firman kali ini, lagi-lagi kita dipertemukan oleh kesetaraan antar manusia. Bila kita kembali memperhatikan perintah Tuhan terhadap manusia pertama maka akan menemukan bahwa kita hanya diarahkan untuk menaklukkan dan berkuasa atas ciptaan lainnya dan tidak pernah diperintahkan untuk menaklukkan/ mengalahkan dan berkuasa atas sesama manusia. Kembali lagi kami ingatkan untuk memperjuangkan kesetaraan pendapatan, kesamaan ilmu pengetahuan umum dan kesetaraan kekuasaan.

Tahapan penciptaan sebaiknya jangan dipandang berdasarkan logika sempit melainkan kembangkanlah sudut pandang yang dimiliki untuk memahami setiap proses yang tertulis. Dibalik semuanya itu, pahamilah bahwa apa yang dipersiapkan dan diberikan Tuhan kepada kita adalah baik adanya dan itu sudah cukup untuk memuaskan kebutuhan kita. Berhati-hatilah dengan sikap yang serakah akan materi dan kemuliaan duniawi sebab sikap semacam ini hanya akan mendorong kita untuk mengeksploitasi lingkungan alamiah secara berlebihan. Akibatnya, lama kelamaan kita juga yang kena getahnya karena lebih memilih menjauhkan pepohonan dari lingkungan sekitar  dan membangun berbagai sarana dan prasaran yang elit plus super mewah. Oleh karena itu, milikilah hidup yang sederhana, apa adanya dan ramah lingkungan.

Salam, ciptaan yang sempurna itu ahli memanajemen!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.