Ekonomi

+10 Arti & Penerapan Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Pertama Pancasila


Arti & Penerapan Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Pertama Pancasila

Kita hanyalah manusia biasa yang tidak mampu melakukan banyak hal tanpa pihak lainnya termasuk dalam hal ini makhluk hidup lainnya dan sumber daya alam yang ada disekitar. Sadar atau tidak, manusia tidak dapat hidup sendiri di dunia ini melainkan selalu membutuhkan dukungan dari berbagai-bagai pihak. Identitas kita sebagai manusia menunjukkan bahwa kita ini lemah dan tidak dapat hidup tanpa dukungan dari pihak lain termasuk dalam hal ini adalah makhluk hidup lainnya dan materi. Tidak cukup disitu saja kebutuhan kita melainkan juga sangat membutuhkan yang namanya, Tuhan.

Dampak nyata dari keberadaan Tuhan di dalam hati manusia

Keberadaan Tuhan dalam kehidupan manusia tidak hanya sebuah formalitas belaka. Sebab orang yang memiliki Allah dalam hatinya (fokus Tuhan), memiliki kemampuan mengendalikan diri yang mumpuni saat menghadapi berbagai-bagai masalah. Tidak hanya sampai disitu saja, kemampuan fokus kepada Tuhan juga membuat seseorang mampu tetap damai ditengah perbedaan dan gejolak sosial yang sedang berlangsung. Aktivitas ini juga turut membuat seseorang tetap bahagia sekalipun kemampuan materinya biasa saja bahkan kurang. Bisa dikatakan bahwa kebiasaan mengkonsentrasikan pikiran kepada Sang Khalik merupakan suatu cara untuk mengendalikan sifat konsumtif dan menghilangkan kecanduan akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Baca juga, Gangguan saat fokus Tuhan.

Penerapan sila, “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Pancasila sebagai dasar negara telah menjamin setiap orang untuk memeluk agama tertentu sesuai keyakinan yang dimilikinya. Tidak hanya itu saja, ideologi negara kita juga memiliki tujuan untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang menjamin setiap pemeluk agama untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Keadaan ini sudah sangat sesuai dengan keberadaan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk mulai dari sabang sampai merauke. Ada beberapa keyakinan yang diizinkan di Indonesia, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha.

Pancasila, khususnya sila pertama tentang “Ketuhanan Yang Maha Esa” juga menegaskan bahwa Indonesia tidak memperkenankan warganya untuk tidak memiliki agama. Sebab Pancasila juga bersifat memaksa dalam pelaksanaannya sehingga mengharuskan seseorang memilih salah satu dari kelima agama tersebut. Keadaan ini jelas saja menunjukkan bahwa status yang tidak beragama adalah tidak sah. Artinya, negara tidak mengenal dan tidak memperbolehkan warganya tidak punya agama alias ateis. Bahkan sila pertama ini juga menunjukkan bahwa keberadaan, penyebaran dan perkembangan paham ateis tidak diperkenankan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penghapusan kolom agama dari KTP

Wacana tentang hal ini jelas sangat santer di telinga kita. Kami sendiri melihat hal ini sebagai sebuah kejanggalan tetapi mereka yang mengusulkannya beranggapan bahwa keadaan ini dilakukan agar manusia Indonesia tidak pilih-pilih kasih dalam bersikap. Ini terutama di tujukan bagi aparatur negara yang bekerja di bagian pelayanan publik dan berurusan dengan KTP dan lain sebagainya. Wacana lainnya, mengapa penghapusan kolom agama ini dilakukan adalah agar mempererat persatuan dan kesatuan diantara warga negara.

Bagi kami sendiri, pengosongan ini jelas ambigu sebab jika hendak mempersatukan seluruh rakyat yang dibutuhkan adalah kesetaraan. Juga jika hendak membuat manusia melayani tanpa pilih kasih maka kembali lagi setarakan pendapatannya agar tidak ada yang kaya dan miskin sehingga para pelayan publik bekerja tanpa membeda-bedakan. Lagipula selama ini para pelayan itukan mungkin saja mendapatkan tip (salam tempel) dari orang-orang kaya sehingga keadaan tersebutlah yang membuat mereka pilih-pilih kasih, bukannya malah agamanya.

Tidak semua ajaran agama diangkat, dilegalkan dan diterapkan secara universal oleh Pancasila

Secara umum setiap agama memiliki gaya tersendiri yang khas dalam mewujudkan cinta kasihnya kepada Tuhan. Ideologi kita tidak membenarkan dan tidak menyalahkan setiap ciri khas pujian dan pemujaan terhadap Allah. Melainkan menyerahkan semuanya itu berdasarkan ajaran yang diyakini oleh masing-masing orang. Kekhasan semacam ini jelas dijamin keberlangsungannya secara konstitusi sebab berhubungan dengan kehidupan pribadi masing-masing pemeluk agama yang bersangkutan.

Selain itu, di dalam penerapannya juga mengharuskan agar jaminan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa tidak bertentangan dengan sila-sial lainnya. Artinya, ajaran agama yang diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari tidaklah boleh bertentangan dengan sila lainnya. Ini bermanfaat untuk menepis  potensi agama yang dijadikan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memecah-belah masyarakat. Oleh karena itu, dalam penerapan nilai-nilai dari sila pertama harus memperhatikan empat sila/ azas lainnya. Sebab bisa saja ada ajaran dalam keyakinan tertentu yang berpotensi menciptakan Ancaman, Tantangan, Halangan dan Gangguan (ATHG) bagi NKRI.

Pengertian dan penerapan sila pertama Pancasila.

Ini harus menjadi perhatian kita, jangan berpikir bahwa semua pandangan yang diajarkan oleh keyakinan yang kita miliki diperbolehkan secara ideologi. Pada dasarnya, semua sila di dalam dasar negara kita, tidak bisa berdiri sendiri. Artinya, di dalam penerapan sila yang satu harus juga memperhatikan sila yang lain. Sebab jika satu sila berdiri sendiri maka beresiko menyebabkan ketidakseimbangan manakala hal tersebut bertentangan dengan butir yang lainnya.

Sekalipun demikian ideologi negara kita juga menjamin kekhasan setiap agama dan aturan-aturan yang diajarkan didalamnya. Sebab masing-masing keyakinan memiliki cara-cara tersendiri untuk menyembah Tuhannya. Kekhasan yang semacam inipun telah dijamin secara konstitusional. Akan tetapi nilai-nilai agama yang bertentangan dengan sila/ azas lainnya di dalam Pancasila jelas tidak diperkenankan atau disebut juga sebagai sebuah tindakan yang inkonstitusional.

Kami berpendapat bahwa pengertian dan penerapan sila pertama ini tidaklah jauh berbeda. Oleh karena itu, apa pengertian yang kami hubungkan dengan sila yang lainnya dapat juga menjadi sesuatu yang dapat diterapkan/ diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini akan kami berikan selengkapnya.

Ketuhanan Yang Maha Esa, itu sendiri berati bahwa.

  1. Setia warga negara diharuskan untuk memiliki salah satu dari lima agama yang dilegalkan di Indonesia.

    Artinya, tidak ada satupun penduduk yang berstatus sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan. Harus memilih agamanya sesuai dengan pilihan hati masing-masing. Pilihannya yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu.

  2. Negara menjamin pelaksanaan ibadah setiap warga menurut keyakinan masing-masing.

    Bermakna bahwa setiap umat yang beragama berhak untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinan masing-masing tanpa harus takut ditekan, digusur dan diusir oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

  3. Pemerintah sebagai pelaksana harus mengawasi dan mengantisipasi keberadaan paham ateis di Indonesia.

    Berarti aparat pemerintah harus mengawasi dan memantau keberadaan paham ateis di Indonesia bahkan bila perlu melakukan tindakan tegas untuk membubarkan organisasi yang berhubungan dengan hal-hal tersebut.

    Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, bila dihubungkan dengan sila pertama.

  4. Tidak memperkenankan setiap ajaran agama yang mengedepankan kebinatangan alias kekerasan.

    Pengertiannya adalah melarang setiap ajaran agama yang berusaha mendoktrin para pengikutnya untuk mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

  5. Mengharuskan setiap umat beragama untuk berbagi kasih tidak hanya dengan orang yang sekeyakinan dengannya tetapi juga dengan mereka yang berbeda keyakinan.

    Berarti bahwa setiap manusia di Indonesia diwajibkan untuk memiliki sikap-sikap yang lebih manusiawi saat menjalin hubungan dengan orang lain. Sikap yang manusiawi/ humanisme/ kemanusiaan ini bisa dilatih lewat kebaikan yang diberikan/ dibagikan kepada sesama. Sebaiknya hal tersebut dimulai dari hal-hal kecil, yaitu ramah tamah.

  6. Mewajibkan umat beragama untuk tabah dan kuat menjalani ujian kehidupan.

    Pada dasarnya, ujian sosial melatih sisi kemanusiaan/ manusiawi/ humanisme dalam diri seseorang. Ini adalah salah satu cara untuk membentuk umat agar tidak temperamen dan mampu mengendalikan diri saat menghadapi masalah besar ataupun masalah kecil. Hanya saja sebatas persoalan tersebut tidak merugikan secara materi.

    Persatuan Indonesia, bila dihubungkan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

  7. Menjunjung tinggi kebersamaan di dalam masyarakat, tidak hanya antar orang yang seagama melainkan juga antara orang yang berbeda.

    Maknanya adalah untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan diantara seluruh warga negara perlu dijalin rasa kebersamaan yang diwujudkan dalam berbagai aktivitas yang mengedepankan gotong royong. Aktivitas bersama seperti ini tidak hanya diciptakan/ dilakukan dengan orang-orang seagama saja melainkan juga dengan mereka yang berbeda keyakinan dengan kita.

  8. Meminimalisir potensi yang memungkinkan terjadinya perpecahan (regangnya persatuan) melalui acara/ perlombaan/ pertandingan tertentu.

    Artinya, pemerintah akan memantau berbagai pelaksanaan even/ acara/ perlombaan/ pertandingan tertentu agar tidak mendiskriminasi agama tertentu. Pelalaksanaan berbagai-bagai acara yang berpotensi untuk menyebarkan ajaran kebencian (mengancam persatuan dan kesatuan) akan diberi peringatan keras bahkan bila perlu dibubarkan.

    Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksaaan dalam Per-musyawaratan/Perwakilan, bila dihubungkan dengan sila pertama.

  9. Mengedepankan cara-cara kekeluargaan untuk menyelesaikan persoalan baik antar orang seagama maupun antar mereka yang berbeda agama.

    Berarti menjauhkan cara-cara yang keras saat menyelesaikan masalah. Melainkan mengedepankan penyelesaian persoalan dengan cara kekeluargaan baik antar orang-orang yang seagama maupun antar manusia yang berbeda agama.

  10. Memberi kebebasan bagi umat untuk berdemokrasi memilih pemimpin sesuai dengan pilihan hatinya tanpa mengharuskan agar memilih agama tertentu.

    Maknanya adalah menjamin kebebasan setiap umat beragama untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Setiap umat diberi kebebasan memilih seturut kata hatinya tanpa mengharuskan/ mengarahkan mereka untuk memilih agama tertentu.

    Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, bila dihubungkan dengan sila pertama.

  11. Mengajarkan umat untuk menjunjung tinggi keadilan sosial.

    Berarti bahwa setiap umat yang beragama mengedepankan kesetaraan di dalam mengambil keputusan, baik antara orang-orang sekeyakinan maupun antara mereka yang berbeda keyakinan.

  12. Mengarahkan warga untuk melayani sesama secara sejajar tanpa membeda-bedakan keyakinannya.

    Bermakna bahwa setiap umat beragama yang bekerja dan berhubungan langsung dengan bidang pelayanan kepada masyarakat wajib melayani warga secara adil/ setara baik antar sesama warga yang seagama maupun antar warga yang berlainan keyakinannya.

Demokrasi Tuhan

Khusus bagian ini hanyalah pendapat kami secara pribadi untuk lebih membersihkan sistem pemerintahan kita dari berbagai-bagai praktek gelap dan kotor. Demokrasi Tuhan adalah memberi kesempatan kepada Tuhan untuk memilih pemimpin yang baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini dilaksanakan dengan cara melakukan pengundian diakhir setiap pemilihan legislatif, yudikatif dan eksekutif. Mengapa hal ini sangat penting? Ini dilakukan agar para kandidat tidak lagi berusaha mati-matian untuk memenangkan pemilu dan berbagai proses pemilihan pemimpin lainnya.

Selama ini para calon pemimpin kita cenderung mengedepankan mahar yang tinggi saat seorang pemimpin masuk partai, melakukan praktek sogok-menyogok, menyebarkan kampanye hitam (black campaign), menggugat hasil pemilu hingga menimbulkan perpecahan di dalam masyarakat. Akhirnya terjadilah bentrok antara masyarakat pendukung si A dengan masyarakat pendukung si B. Keadaan ini jelas menunjukkan bahwa para pemimpin kita cenderung mengandalkan kekuatannya, mengedepankan relasinya dan bertaruh dengan uangnya sehingga berpotensi besar menyebabkan gelombang kerusuhan diantara rakyat.

Atas dasar kepentingan inilah kami mengusulkan diberlakukannya kedaulatan Tuhan di Indonesia. Demokrasi rakyat memang tetap ada, setiap orang memilih pemimpin yang ditentukan oleh pilihan hatinya. Setiap kandidat yang mengajukan diri akan memperoleh nomor urut lalu pemenangnya akan ditentukan lewat pesta demokrasi. Dua orang/ dua pasangan calon pemimpin yang mendapatkan suara tertinggi akan ditentukan pemenang sebenarnya dengan melaksanakan penarikan undian. Keadaan ini jelas akan membuat masa kampanye dan pemilihan umum berlangsung secara kondusif tanpa kekerasan sebab masing-masing calon pemimpin tidak hanya sibuk untuk “show power” dengan membagi-bagikan ini itu kepada rakyat. Melainkan juga lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan agar proses undian berpihak padanya.

Kesimpulan

Pada dasarnya tidak ada satupun nilai/ azas dalam Pancasila yang bertentangan dengan agama manapun. Sebab semua agama pastilah menjunjung tinggi kemanusiaan (humanisme), kebersamaan (persatuan), permusyawaratan (kenegaraan) dan keadilan sosial bagi seluruh umat. Pancasila sebagai ideologi negara merupakan sebuah falsafah hidup yang tidak saja hanya diterapkan dalam kehidupan bernegara melainkan dalam seluruh lini kehidupan masyarakat juga wajib untuk menghidupi hal tersebut. Bila ideologi yang satu ini diterapkan diseluruh lapisan masyarakat, niscaya kita akan maju bersama meraih kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan yang sejati tanpa harus mengorbankan pihak tertentu (termasuk lingkungan hidup).

Ingatkan kami jika ada yang salah dari hal ini!

Salam  cintailah negerimu!

 

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s