Gejolak Sosial

11 Sikap Konsisten Bukan Berarti Membuat Masalah – Terbiasa Dengan Persoalan Bukan Berarti Kita Lupa Melakukan Kebaikan Ke Orang Lain


Sikap Konsisten Berarti Kita Membuat Masalah – Terbiasa Dengan Persoalan Bukan Berarti Kita Cari-Cari Pasal Dengan Orang Lain

Manusia dikelilingi oleh banyak rasa tetapi segelintir orang hanya berusaha untuk menikmatinya dengan memilih-milih, dimana yang menurutnya baik maka itulah yang diwujudkannya. Kebiasaan memelihara rasa tertentu, misalnya bahagia, sukacita, senang dan lain sebagainya; sedangkan rasa yang lainnya diabaikan adalah sebuah tindakan yang kurang antisipatif, mengapa demikian? Sebab selama kita hidup di dunia ini maka semua rasa yang ada beresiko untuk kita alami. Termasuk didalamnya adalah rasa sakit. Bagi mereka yang baru pertama-tama merasakannya niscaya akan mengalami suasana hati yang terburuk seperti diiris-iris karena terus fokus kepada hal tersebut.

Mengantisipasi sama dengan membiasakan diri

Tidak ada tindakan antisipasi yang lebih baik selain membiasakan diri dengan sesuatu. Misalnya, ada orang yang betah makan hanya sekali sehari dan itu membuatnya bahagia. Dilain pihak ada orang yang tidak pernah jalan-jalan tetapi iapun tetap bahagia. Disisi lain terdapat juga mereka yang jarang sekali bahkan tidak pernah mendapat penghargaan dari pihak tertentu tetapi toh mereka juga tetap tersenyum bahagia. Apa soal atau lebih tepatnya apa rahasia orang-orang ini, mengapa mereka tetap berbahagia sekalipun hidup di dunia yang menurut beberapa orang kurang normal? Rahasianya adalah terbiasa, itu saja titik.

Syarat utama terbiasa, konsistensi

Terbiasa itu memang bagus ya… Sebab segala sesuatu yang sudah dibiasakan pastilah akan berlangsung selancar-lancarnya bahkan sampai membuat kita bahagia melakukannya. Dalam banyak tulisan kami mengajak para pembaca untuk membiasakan diri dengan persoalan hidup. Ini memang harus dilakukan oleh siapapun dia diseantero bumi yang luas nan indah ini tetapi perhatikanlah baik-baik. Hindari aktivitas yang terlalu berlebihan untuk menguji orang lain agar kita sendiripun tetap damai ketika segelintir orang mencoba melakukan keresahan disekitar kehidupan ini.

Untuk menjadi terbiasa dibutuhkan perjuangan yang konsisten. Ini adalah kunci dari sikap yang terbiasa. Biasanya apa yang belum biasa dilakukan akan dikerjakan dengan berat hati. Akan tetapi saat kita menemukan motivasi dan menetapkan sebuah komitmen yang benar maka tepat saat itu jugalah ada semangat untuk melakukannya hari lepas hari. Demikian jugalah saat kita sedang menghadapi suatu permasalahan yang menyebabkan sakit hati: semua keadaan ini bisa kita tanggung secara konsisten, bila menyadari apa yang sedang terjadi itu sangatlah bermanfaat bagi perkembangan kepribadian ini dari waktu ke waktu.

Pengertian konsisten

Konsisten adalah (1) ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak); ketaatasasan; (2) kekentalan; (3) kepadatan, kepejalan, atau ketetalan jaringan yang menyusun bagian tubuh buah; (4) ketahanan suatu material terhadap perubahan bentuk atau perpecahan; derajat kohesi atau adhesi massa tanah (KBBI Luring). Bagi kami sikap ini adalah aktivitas yang ditekuni secara terus-menerus sepanjang hidup di dunai ini. Orang yang plin-plan biasanya kurang bisa dipercaya, hati kurang tenang, kurang damai dan cenderung berubah-ubah. Sikap ini tidak dibawa sejak dari dalam kandungan melainkan senantiasa dilatih dari waktu ke waktu.

Hati-hati anda bisa terbiasa dengan yang baik atau malah yang buruknya!

Tahukah anda bahwa dalam kasus terbiasa disini ada dua target yang dicapai? Yang satu adalah terbiasa melakukan hal positif dengan menanggapi masalah penuh ketenangan. Tetapi ada pula yang lain, orang yang terbiasa melakukan hal negatif untuk sengaja mencari gara-gara kepada pihak lainnya. Pertanyaannya adalah dimana posisi anda saat ini? Disinilah kita menerapkan sikap konsisten tersebut, yaitu berpegang teguh pada aktivitas positif dengan meninggalkan dan menjauhkan diri untuk melakukan hal lainnya terkecuali jikalau tindakan tersebut tidak disengaja (terjadi tanpa disadari/ direncanakan sebelumnya).

Syarat utama tahan uji

Seperti Tuhan Yesus yang selalu berpesan bahwa “tidak mungkin seorang hamba mengabdi kepada dua tuan. Jika demikian, ia akan menurut yang satu dan mengabaikan yang lainnya” (Bandingkan Matius 6:24). Ini seiras dengan pesan yang berbunyi bahwa “mustahil air bersih dan air got keluar dari saluran yang sama.” Jadi “mustahil kita bisa tahan uji jikalau kita sendiri suka menguji orang lain.” Inilah maksud sebenarnya dari kata konsisten: jika anda diuji orang lain, hadapi dengan tenang dan janganlah mencobai kembali.” Justru sikap inkonsistensi inilah (diuji dan juga menguji) yang beresiko membuat hati semakin jauh dari rasa damai yang sesungguhnya.

Sikap konsisten bukan berarti bahwa kita membiasakan diri dengan yang buruk-buruk

Memang berat untuk menjadi orang yang konsisten, terlebih ketika kita terus diuji oleh situasi sedangkan orang yang melakukannya terlihat happy-happy aja. Membutuhkan motivasi dan komitmen yang besar juga termasuk didalamnya adalah kemampuan menyangkal diri. Mustahil kita bisa menanggung pencobaan tersebut jika belum mampu menekan arogansi di dalam hati. Sikap arogan ini akan mendorong kita untuk tidak mau kalah saat dicobai orang. Sehingga timbullah aksi balasan yang serupa seolah-olah diri ini membeo yang buruk dari orang lain. Oleh karena itu, katakan kepada dirimu, “biarkan mereka menang yang Tuhan, saya pantas mendapatkannya, kuatkanlah hati menanggung semuanya ini.”

Membiarkan diri diuji orang lain tentu saja tidak semudah mengatakannnya. Dari pengalaman kami semuanya itu berawal dari masalah-masalah kecil yang kita alami dari hari ke hari. Oleh karena itu, jangan pernah abaikan pergumulan recehan yang terjadi dalam keluarga sebab dari sanalah kita belajar dan siap untuk menanggung sesuatu yang lebih besar lagi lewat aktivitas yang dilakoni di luar rumah. Berikut ini beberapa sikap konsisten yang perlu anda tiru hari lepas hari.

  1. Terbiasa mengalami permainan komunikasi bukan berarti anda harus mempermainkan kembali.

    Jika kita belajar untuk senantiasa berkonsentrasi kepada Tuhan dan bersikap tenang menghadapi ujian komunikasi niscaya beranjak dari permainan yang satu ke permainan lainnya akan membuat kita semakin mahir menjalani gejolak sosial semacam ini. Tetapi jagalah konsistensi anda sehingga mampu bertahan hingga akhir. Sayang, bila kita masih saja sengaja melakukannya maka semuanya ini pastilah akan mendatangkan ketidakdamaian di dalam hati sendiri.

  2. Terbiasa diejek orang bukan berarti andapun turut serta mengejek orang lain.

    Hilangkan dendam dari dalam hati saat menghadap pergumulan hidup manapun. Melainkan jalani semuanya dengan tulus hati seolah-olah tidak ada yang terjadi. Bahkan bila perlu berikan senyuman manis anda yang paling ramah sembari senantiasa memuji-muji Tuhan di dalam hati

  3. Terbiasa dihina bukan berarti kita juga bisa melakukan hal yang sama kepada orang lain.

    Penghinaan yang kita terima harus dihadapi dengan menyangkal diri sembari membiarkan orang tersebut menang. Iyakan aja semuanya lalu sambutlah dia dengan senyuman termanis anda sembari fokus memuliakan nama Tuhan di dalam hati. Niscaya semuanya bisa dilalui dengan penuh damai tanpa harus melakukan aksi balasan.

  4. Terbiasa dibully bukan berarti andapun membullynya kembali.

    Ketika kita dibully oleh seseorang, pandanglah hal tersebut dari sudut yang positif. Anggap bahwa hal tersebut terjadi karena izin Tuhan yang ingin melatih kita untuk hidup membiasakan diri dengan rasa sakit tanpa harus kembali menyakiti orang tersebut. Saksikan juga, Tips agar tidak tersakiti saat dibully orang.

  5. Terbiasa difitnah orang bukan berarti kita juga bisa melakukan hal yang sama dilain waktu.

    Kata orang, “fitnah lebih kejam daripada membunuh.” Tetapi kami yakin bahwa ini adalah bagian dari pencobaan hidup yang hawanya seperti angin lalu. Berhembus sesaat lalu hilang sesaat. Oleh karena itu, jangan memasukkan fitnah tersebut ke dalam hati tetapi tetapi tetap fokuslah kepada Tuhan sembari menanggapi orang-orang tersebut dengan ramah.

  6. Terbiasa diabaikan orang bukan berarti kitapun harus mengabaikan orang lainnya.

    Ketika anda diabaikan oleh orang lain, jangan ambil jalan pintas lalu melakukan pelampiasan dengan mengabaikan orang yang kebetulan berkomunikasi dengan anda saat itu. Anda harus melepaskan dan mengabaikan rasa kesalnya diabaikan dengan senantiasa bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati sembari tetap menanggapi orang lain dengan menjadi komunikan yang baik.

  7. Terbiasa dengan pornografi bukan berarti kita membiarkan diri sengaja terjebak untuk menyaksikan hal-hal porno di dalam internet.

    Hal-hal yang berbau porno memang harus dibiasakan tetapi bukan dalam arti andapun harus menontonnya selama berjam-jam agar menjadi terbiasa. Ini jelas prosedur yang salah saat. Melainkan lihatlah hal tersebut sedikit-sedikit agar anda kecewa lalu terbiasa menghadapinya ketika sudah puluhan, ratusan bahkan ribuan kali melihatnya sesaat. Simak juga, Cara membiasakan diri dengan hal-hal porno.

  8. Terbiasa dengan kebohongan orang lain bukan berarti kitapun bisa bisa menipu sesama.

    Saat orang lain berbohong kepada anda, hadapi dengan santai dan jangan fokus kepada ketidakjujuran itu melainkan arahkanlah pikiranmu kepada Tuhan untuk berdoa, membaca firman atau memuji-muji kebesarannya. Jadilah orang yang cerdik menghadapi penipuan dan tulus dalam menanggapi semuanya dengan ramah.

  9. Terbiasa dengan jebakan orang bukan berarti kitapun bisa menjebaknya suatu saat nanti.

    Saat kita terjebak dalam perangkap orang lain, ada rasa malu membumbung dari dalam hati. Tetapi jangan fokus dengan rasa tersebut melainkan berupayalah untuk tetap tenang dan lanjutkan aktivitas anda yang positif (belajar dan bekerja) atau setidak-tidaknya fokuskan pikiran kepada Tuhan sembari berdoa dan memuji-muji nama-Nya (bisa juga dengan membaca firman).

  10. Terbiasa menikmati hidup fluktuatif bukan berarti tidak menikmatinya sama sekali.

    Ketika kita hendak menikmati hidup, alangkah baiknya jikalau itu tidak dilakukan terus-menerus melainkan kadang-kadang. Janganlah terlalu sering tetapi bukan juga dengan tidak menikmatinya sama sekali. Sesuaikanlah semuanya itu dengan kemampuan keuangan anda. Jangan juga hanya karena gara-gara menikmati hidup tabungan masa depan jadi terancam.

  11. Terbiasa tidak mengharap untuk dihargai orang bukan berarti kitapun tidak menghargai mereka yang ada disekitar kita.

    Berbicara tentang membiasakan diri untuk tidak mengharapkan penghargaan dari orang lain bisa kita lakukan dengan senantiasa menyibukkan diri dengan aktivitas positif. Akan tetapi, bukan berarti saat berusaha untuk melupakan keinginan untuk dihargai orang, kitapun malah turut pula lupa untuk menghargai orang lain. Jangan biasakan diri pada hal-hal yang buruk tetapi pada hal-hal yang baik saja, itulah konsistensi sejati.

Terbiasa Dengan Persoalan Bukan Berarti Kita Cari-Cari Pasal Dengan Orang Lain

Hidup ini adalah pilihan. Sekalipun demikian anda tidak dapat hanya memilih rasa senang dan sukacita disisimu sebab kita senantiasa berinteraksi dengan orang lain, itulah takdir sebagai makhluk sosial. Ada baiknya juga untuk membiasakan diri dengan rasa sakit dan pahitnya hidup lewat berbagai ketidaksengajaan yang terjadi dalam hidup ini dari waktu ke waktu. Tetapi, berhati-hatilah…. Jangan sampai perilaku membiasakan diri dengan hal buruk membuat kita terbawa untuk melakukan hal tersebut kepada sesama. Melainkan, jaga konsistensi pada hal-hal yang baik, pertahankan itu sekalipun keburukan kerap kali menimpa kehidupan anda sembari tetap fokuskan pikiran kepada Tuhan, pelajaran dan pekerjaan.

Salam, konsistensi itu indah!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s