Lingkungan

7 Alasan Manusia Diciptakan Terakhir, Pesan Penting Bahwa Kita Butuh Ciptaan (Makhluk Hidup) Lain Selama Hidup Di Dunia Ini

Alasan Manusia Diciptakan Terakhir, Pesan Penting Bahwa Kita Butuh Ciptaan (Makhluk Hidup) Lain Selama Hidup Di Dunia Ini

Kristen Sejati – Waktu awal dan waktu akhir adalah adalah hak Tuhan, tidak ada seorangpun manusia yang mengetahui rahasia ini. Kita hanya diberikan pengetahuan tentang bagaimana semuanya berlangsung, dari tiada menjadi ada sampai semuanya membentuk sistem yang berputar sempurna. Sadar atau tidak, siklus ini berlangsung dalam semua lini kehidupan manusia. Tidak hanya manusia, tumbuhan dan hewan juga mengalam perputaran siklus kehidupan bahkan materi tak bernyawa sekalipun turut mengalami siklus panjang di seluruh alam semesta (misalnya siklus hidrologi, siklus udara, siklus tanah dan lain sebagainya.

Semua ciptaan terhubung dan saling membutuhkan

Karya Tuhan atas alam semesta ini memang luar biasa. Semua ciptaan ditariknya dalam suatu rangkaian yang saling terhubung satu-sama lain. Tidak ada ciptaan yang berdiri sendiri melainkan ada hubungan yang saling ketergantungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Setiap bagian ini saling menyeimbangkan dan tidak ada yang kalah ataupun menang. Inilah yang menyebabkan setiap bagian-bagian tersebut membentuk suatu sistemyang saling mempengaruhi dan sangat aktif sampai membuatnya terus berputar tanpa akhir.

Segala sesuatu harus berlangsung dalam siklus yang sempurna mengharuskan manusia bersimbiosis

Apa yang diciptakan oleh Tuhan tidak akan pernah berakhir sebab semuanya sangat rapi dan seimbang. Sifat yang saling menyeimbangkan inilah yang membuat ciptaan Tuhan sempurna. Jadi bukan saat satu ciptaan dapat berdiri sendiri tetapi saat masing-masing ciptaan saling bersinergi membentuk sistem yang berputar sempurna. Oleh karena itu, mari belajar lewat semuanya ini agar kita tidak egois dan mau menang sendiri (arogan) lalu memusnahkan/ memunahkan ciptaan lainnya, demi kemewahan, kemegahan dan kenyamanan pribadi. Tetapi marilah kita hidup bersimbiosis (hidup bersama) dengan berbagai komponen ciptaan lainnya agar keberadaan kita terus ada dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi.

Semuanya ini, menegaskan kepada kita agar tidak mengeksploitasi seluruh ciptaan yang ada. Sebab biar bagaimanapun kita masih membutuhkan mereka untuk melanjutkan hidup. Kita bisa memanfaatkan keberadaan alam sekitar dengan segala sumber daya yang ada didalamnya, akan tetapi pemanfaatan yang berlebihan dapat berakibat fatal bagi manusia itu sendiri. Keadaan ini beresiko menyebabkan bencana alam (banjir, tanah longsor, banjir bandang, badai, gelombang panas, kekeringan, fuso) dan bencana kemanusian (kelaparan, penyakit-wabah, peperangan).

Faktor penyebab manusia diciptakan paling akhir (hari ke enam)

Ada pesan yang tertuang jelas dibalik kisah penciptaan alam semesta khususnya bagi manusia itu sendiri. Seperti kita ketahui bersama, dalam proses penciptaan yang  termuat jelas dalam Alkitab, diketahui bahwa kita adalah ciptaan terakhir dari semuanya. Apa alasan Tuhan sehingga menempatkan kita pada posisi terakhir dari semua ciptaan-Nya? Apa pula pesan yang bisa kita simak dan renungkan dari semua kisah tersebut? Berikut ini akan kami berikan beberapa alasan mengapa manusia diciptakan terakhir oleh Yang Maha Kuasa.

No Masa – Waku – Hari Ciptaan
1. Masa awal Allah menciptakan langit dan bumi.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya.

2. Hari Pertama Terang dan gelap adalah dua esensi dasar yang diciptakan Tuhan. Bumipun mengalami siang dan malam.
3. Hari Kedua Air masih menutupi bumi lalu menguaplah itu menjadi awan sehingga terbentuklah langit (cakrawala) yang memisahkan antara air yang di bawah dan di atas.
4. Hari Ketiga Tanah terbentuk lalu semakin besarlah itu sehingga mulai kelihatan daratan yang kering sedang perairannya disebut lautan.
5.   Tumbuh-tumbuhan dari berbagai jenis mulai bertunas di atas tanah.
6. Hari Keempat Matahari diciptakan untuk menguasai siang.
7.   Bulan dan bintang diciptakan untuk menguasai malam.
8. Hari Kelima Hewan-hewan laut diciptakan Tuhan.
9.   Burung-burung di udara diciptakan Tuhan.
10. Hari Keenam Hewan-hewan di darat diciptakan Tuhan.
11   Manusia diciptakan Tuhan.

 

Sumber : Tahapan penciptaan alam semesta menurut Alkitab.

  1. Tuhan merencanakan segala sesuatu dengan matang.

    Pada umumnya, kebanyakan manusia menganggap bahwa yang pertama adalah yang terbaik. Yang ada di hati kita ya, maunya kita ciptaan pertama dengan begitu Tuhan jelas menyukai kita. Tetapi rencana Tuhan sangat berbeda dari rencana kita.

    • Bagaimana coba, bila manusia diciptakan di hari pertama, apa yang terjadi? Tidak ada apa-apa, semuanya kosong bahkan cahayapun tidak ada: bisakah kita hidup dalam keadaan seperti itu?
    • Mari berpikir lagi, bagaimana jadinya jika manusia diciptakan di hari ke dua? Tidak ada tanah untuk dipijak karena seluruh bumi masih dipenuhi oleh air. Mungkinkah kita bisa bertahan hidup dengan terus berenang-renang tak tentu arah di dalam air?
    • Terus kita coba memasuki hari ke tiga, apa yang terjadi jika hal tersebut berlangsung? Masih juga belum ada tanah untuk dipijak dan air memenuhi permukaan bumi. Kita tidak mungkin mampu bertahan lebih lama dalam keadaan demikian.
    • Bagaimana pula dengan hari keempat, bisakah kita mengenal waktu tanpa bulan bintang dan matahari?

      Disinilah kita harus mengembangkan sudut pandang yang dimiliki. Jika matahari baru diciptakan di hari ke lima lalu siapakah yang memisahkan siang dan malam di hari pertama?

      Kita perlu menjawab pertanyaan semacam ini dengan rendah hati agar benar-benar menemukan jawaban yang tepat. Ini bisa saja terjadi akibat perbedaan sudut pandang. Mungkin saja ketika Roh Allah membawa Musa dalam penglihatan tersebut. Ia ditempatkan di luar angkasa menghadap bumi dan membelakangi matahari sehingga tidak menyadari bahwa Tuhan sudah menciptakan matahari tepat saat terang diciptakan. Barulah di hari ke empat nabi tersebut diajak Roh untuk menghadap ke luar angkasa yang luas, menghadap matahari dan membelakangi bumi untuk melihat bintang dan bulan. Sehingga ia berpikir bahwa sesungguhjnya matahari itu baru diciptakan di hari ke empat bersamaan dengan keberadaan bintang dan bulan. Sekali lagi kami katakan. Ini hanya soal perbedaan sudut pandang.

    • Mungkinkah kita dapat bertahan hidup saat diciptakan di hari yang kelima? Jawabannya mungkin saja, hanya tidak ada daging untuk dimakan melainkan yang baru ada saat itu hanyalah tumbu-tumbuhan semata.

      Ini tepat seperti yang dikatakan firman, demikian bunyinya.
      (Yesaya 55:8-9) Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

  1. Sang Khalik mempersiapkan kebutuhan kita.

    Manusia diciptakan terakhir karena Tuhan ingin di awal-awal mempersiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup di bumi ini. Kita harusnya bersyukur sebab Tuhan tidak membiarkan hidup ini sia-sia begitu saja melainkan Ia telah mempersiapkan segala yang kita perlukan mulai dari A sampai Z, semua sudah ada. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika tidak ada lagi orang yang merasa kekurangan diantara kita karena semuanya sudah disediakan. Masalahnya sekarang adalah kita harus berusaha (bekerja keras) untuk mencari, mengambil dan mengumpulkannya seperlunya saja.

  2. Allah mengasihi kita lebih dari yang lainnya – yang terakhir akan menjadi yang pertama.

    Manusia diciptakan terakhir bukan berarti karena kita tidak penting melainkan oleh karena keberadaan kita lebih penting dan utama dari makhluk hidup lainnya. Justru hal-hal yang diadakan terakhir akan menjadi yang pertama alias siapa yang paling diabaikan akan menjadi yang terutama. Ini sudah termuat jelas dalam firman yang disampaikan oleh Tuhan Yesus yang berkata demikian.

    (Lukas  13:30) Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir.”

  3. Allah membentuk kita untuk menjadi ahli manajemen (pengatur yang segambar dengan-Nya).

    Kita diciptakan paling akhir agar dapat mengelola ciptaan lainnya. Maksudnya adalah agar kita mampu memanejemen semua sumber daya yang ada untuk dimanfaatkan seperlunya sekaligus menjaga keberadaannya turun-temurun. Disinilah ilmu pengetahuan dan wawasan yang kita miliki dimanfaatkan sebaik-baiknya.

    Sebagai ahli manajemen kita juga dituntut untuk tidak serakah lalu menimbun sumber daya yang ada untuk diri sendiri sehingga beresiko merusak keseimbangan alam. Harus berhati-hati dalam mengelola semuanya itu agar tidak mengganggu tatanan ciptaan Tuhan yang sudah sempurna dari awalnya. Sebab jika sinergisitas ciptaan tidak harmonis maka yang dirugikan adalah manusia itu sendiri.

    Kita perlu “kenal batas” menggunakan pengetahuan yang dimiliki, jangan sampai teknologi mesin yang kita ciptakan justru menjadi perusak dan pencemar bagi lingkungan hidup yang ada disekitar.

  4. Kita membutuhkan makhluk hidup lain agar bisa bertahan di bumi ini.

    Sekalipun kita adalah makhluk yang lebih penting dan lebih utama tetapi bukan berarti bahwa makhluk hidup lainnya harus kita singkirkan demi kepentingan pribadi. Kita butuh tumbuhan untuk mengimbangi panasnya pengaruh buruk matahari. Demikian juga kita butuh makhluk hidup lainnya (khususnya predator) untuk mengendalikan kehidupan hewan-hewan yang lebih kecil. Tanpa keberadaan tumbuhan dan hewan maka kehidupan kita ternacam di bumi ini. Oleh karena itu marilah kita semua menyadari hakekat manusia sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan peran serta makhluk hidup lainnnya untuk diam di bumi ini dengan aman, tenteram dan sejahtera dari generasi ke generasi.

  5. Kita harus menjaga dan mempertahankan siklus diseluruh alam semesta.

    Dasar dari segala sesuatu di bumi ini adalah siklus. Kita harus menjaga perputaran sistem berlangsung sempurna di segala lini kehidupan ini. Apapun yang berlangsung disekitar kita selalu pastikan bahwa itu adalah siklus.

    • Ini seperti yang berlangsung dalam kehidupan tanaman: yang akan tumbuh dari kecil menjadi besar, menghasilkan buah, lalu mati sehingga menjadi pupuk untuk tanaman yang baru.
    • Sama halnya dengan hewan yang dari kecil akan menjadi besar, menghasilkan keturunan dan pada akhirnya dikorbankan sebagai bahan konsumsi. Sedangkan setiap daging yang kita konsumsi akan menjadi kotoran yang di bawa ke laut. Lalu garam diekstrak sehingga akan menjadi pupuk bagi tanaman sebagai pakan ternak dan menjadi faktor pemacui pertumbuhan untuk hewan yang kecil-muda.
    • Demikian juga dengan sampah. Diperoleh dari bahan organik atau organik yang dikonsumsi lalu sisanya akan dibuang ke tempat sampah. Semua sampah ini bisa dijadikan sebagai sumber biogas/ biomassa dan sisanya akan menjadi pupuk untuk memacu pertumbuhan tanaman pertanian.
    • Seharusnya, demikian juga halnya dengan harta duniawi. Dicari sedikit-demi sedikit lalu menjadi banyak. Tetapi ketika seseorang wafat semuanya akan menjadi nol kembali kepada negara. Ini adalah upaya terbaik untuk mendorong kesetaraan, meneken keserakan dan menghilangkan kebiasaan korup diantara para petinggi negeri.
    • SEGALA SESUATU DI BUMI INI ADALAH SIKLUS : ITU HUKUM ALAM YANG HARUS KITA PERTAHANKAN DARI GENERASI KE GENERASI.
  6. Mahal haraga yang harus di bayar jika kita arogan.

    Bila arogansi menguasai manusia maka masing-masing pihak akan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara besar-besaran yang semata-mata hanya demi kepentingan pribadi/ kelompok. Manusia akan membangun kemewahan, kemegahan dan kenyamanan di atas tekanan terhadap tumbuhan dan hewan sehingga kehidupan makhluk hidup lainnya akan tersingkir. Bahkan bumipun akan kita rusak dalam-dalam demi mencari penghargaan dan kemuliaan diantara bangsa-bangsa lain.

    • Akibat nyata jika tumbuhan sudah tak ada atau sedikit jumlahnya adalah sinar matahari akan terasa semakin panas, kemarau berkepanjangan, kekeringan bahkan gelombang panas menimpa seluruh elemen masyarakat. Sebab tumbuh-tumbuhan adalah penghasil atmosfer hijau yang melindungi bumi dari teriknya siang, menyerap sinar matahari lebih banyak di siang hari, mengundang hujan dan masih banyak manfaat lainnya.
    • Akibat nyata jika manusia hampir memunahkan seluruh hewan di lingkungan sekitarnya adalah semakin suburnya kehidupan serangga. Jadi keberadaan serangga pengganggu yang sangat banyak adalah pertanda gangguan keseimbangan ekosistem alamiah.
    • Bilal kita egois dan tidak membutuhkan makhluk hidup lain, malah menyingkirkan mereka di kamar-kamar kecil isolasi yang kita banggakan yang disebut sebagai kebun binatang dan segala macamnya. Maka kita akan membutuhkan energi lebih untuk menciptakan atmosfer sendiri (atmosfer buatan dengan bantuan mesin berteknologi canggih) dan membutuhkan gedung-gedung berlapis tebal dengan fasilitas teknologi lengkap untuk merawat kehidupan setiap manusia yang ada di dalam hunian tersebut. Keadaan ini beresiko membuat kita haus dan candu akan energi yang diperoleh dari minyak bumi (BBM).
    • Pada akhirnya, segala sikap arogan yang kita miliki untuk menunjukkan betapa hebat dan betapa luar biasanya diri ini akan merugikan sesama manusia, makhluk hidup lainnya dan alam sekitar kita. Bencana alam akan terjadi, misalnya banjir, tanah longsor, banjir bandang, badai (topan, puting beliung, tornado), musim kemarau berkepanjangan, kekeringan, gagal panen, gelombang panas dan lain sebagainya. Bahkan para petinggi negeri akan terlibat bentrok (langsung maupun tidak langsung) dengan bangsa lain untuk memperebutkan ladang minyak karena stok BBM di bumi kita mulai menipis/ hampir habis.

Segala ciptaan Tuhan sempurna adanya dan manusia adalah ahli manajemen yang mengelola semuanya itu. Ketahuilah bahwa kesempurnaan ciptaan bukan karena masing-masing mampu berdiri sendiri tetapi karena masing-masing saling terhubung, bersinergi dan menyeimbangkan satu sama lain dalam sistem yang berputar. Siklus kehidupan adalah dasar dari segala sesuatu yang ada di bumi ini, maka seharusnya demikianlah segala hal yang kita lakukan di bawah matahari harus berlangsung dalam siklus yang berputar sempurna. Bila kita mengabaikan keberadaan siklus kehidupan yang seimbang maka akan timbul instabilitas yang beresiko tinggi melemahkan manusia itu sendiri bahkan membuat kita saling berperang satu-sama lain.

Salam, mari jaga siklus kehidupan tetap berlangsung!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.