Keluarga

10 Alasan Kenikmatan & Kemuliaan Duniawi Sementara – Jangan Merusak Kesempatan Hidup Dalam Kekekalan Demi Sesuatu Yang Sangat Fana


Alasan Kenikmatan & Kemuliaan Duniawi Hanya Sementara – Jangan Merusak Kesempatan Hidup Dalam Kekekalan Demi Sesuatu Yang Sangat Fana

Hidup ini seperti asap tebal yang mengepul ke atas, sesaat saja dia terlihat lalu setelah itu hilang entah kemana. Demikianlah sebenarnya hari-hari yang kita lalui dalam dunia ini. Pernahkah anda merasa, hal-hal yang terjadi beberapa tahun yang lalu seperti baru terjadi kemarin? Misalnya, kami yang mengingat masa-masa kuliah dulu saat menjadi anak rantau, rasa-rasanya semua itu masih baru dan segar seolah baru terjadi kemarin. Dibalik semuanya itu, kami hampir tidak ingat kesenangannya tetapi rasa sakit dan masalah yang dijumpai terasa hangat. Kamipun mempelajari banyak hal lewat semuanya itu hingga membentuk pribadi yang seperti sekarang ini.

Dari hal ini kami bisa belajar bahwa tidak ada kenikmatan duniawi yang rasanya bisa bertahan lama, justru masalah yang kita hadapi lebih melekat di dalam hati. Sebab ditengah-tengah persoalan ada banyak hal yang bisa kita pelajari, baik yang berguna untuk hari ini maupun untuk hari esok. Oleh karena itu, bisa kami katakan bahwa pergumulan hidup yang kita hadapi lebih tahan lama di dalam hati daripada sekedar kenikmatan dan kemuliaan duniawi belaka. Jadi, mulai sekarang hadapilah masalahmu dengan tegar, tenang dan cerdas karena kenangan akan hal tersebut di bawa sampai mati.

Pengertian kenikmatan  dan kemuliaan duniawi

Menurut KBBI Luring, kenikmatan adalah keadaan yang nikmat; keenakan; kesedapan; kesenangan. Menurut kami kenikmatan duniawi adalah segala kesenangan materi yang bisa kita peroleh (baik yang sifatnya dikonsumsi maupun yang digunakan/ dipakai) selama hidup di dunia yang fana ini. Tidak ada dari kita yang tidak pernah merasakannya, semua pasti pernah menikmatinya. Sekarang tergantung dari standar yang digunakan oleh masing-masing orang. Kalau kami sendiri, minum dan makan itu juga termasuk didalamnya tetapi ada juga beberapa yang berpikir pada sesuatu yang nilainya lebih tinggi, misalnya perhiasan, jalan-jalan ke luar kota, kendaraan baru dan lain sebagainya.

Kemuliaan duniawi adalah segala penghargaan, penghormatan dan popularitas yang kita peroleh selama hidup di dunia yang sementara saja. Pada umumnya diperoleh seseorang saat umurnya dewasa dan mandiri tetapi dalam beberapa keadaan in juga bisa diperoleh dari orang tua. Biasanya, beberapa orang yang sudah sepenuhnya menikmati seluruh kenikmatan duniawi akan meningkatkan/ menggeser hasratnya untuk meraih kemuliaan seperti yang kami sebutkan. Seseorang yang usianya bertambah tua biasanya akan memperoleh hal-hal tersebut dari anak-anaknya sendiri. Sedang mereka yang melakukannya dengan perjuangan, meraihnya dengan mengukir prestasi.

Pendekatan perumpamaan yang menunjukkan bahwa segala hal yang di dunia ini tidak kekal

Makanan bisa membusuk, minuman menjadi basi, pakaian akan melapuk, barang elektronik menjadi usang, perhiasan akan memudar dan bisa saja hilang karena terjatuh begitu saja atau karena dicuri orang lain. Semuanya ini adalah bukti bahwa di dunia tidak ada yang abadi. Sehebat dan sejaya apapun kehidupan seseorang pastilah ia akan mati juga. Jadi, bila kita tahu bahwa kenikmatan dan kemuliaan duniawi hanyalah sementara saja, mengapa mencarinya sampai menghalalkan segala cara? Seolah kita merusak kesempatan hidup dalam kekekalan demi sesuatu yang sifatnya terlalu fana, bukankan ini sangat merugikan?

Mari kembali melakukan refleksi diri. Ingat kembali masa lalu yang selama ini dihadapi. Seolah waktu lampau yang telah lama terjadi baru saja berlalu dari pandangan kita, itulah mengapa orang mengatakan bahwa dunia ini hanyalah sementara saja. Kita berpikir bahwa waktu satu tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, enam puluh tahun yang lalu adalah masa-masa yang panjang tetapi sebenarnya semuanya itu begitu cepat berlalu. Terkadang kita terlena dengan segala gemerlapan duniawi tersebut sehingga lupa diri dan lupa umur lalu terjerumus dalam berbagai-bagai hal yang salah.

Gemerlapan dunia besar atau kecil – manfaatnya sama saja

Saat melihat orang makan besar dengan daging dan ikan yang berkelas, itu luar biasa. Ketika mengkonsumsi ikan asin, hati berkata bahwa ini tidak berarti. Tetapi tahukah anda bahwa hal terebut hanya dinilai berbeda oleh indra saja. Memang lidah akan menterjemahkan rasa keduanya dengan cara yang berbeda namun bukankah itu hanya berlangsung beberapa saat saja lalu lidah akan kembali netral saat semuanya sudah selesai? Ketika hal tersebut sampai di perut apakah kenyangnya berbeda? Nyatanya tidak kan…. Rasa di lidah hanya berlangsung beberapa detik/ menit saja tetapi di perut sama saja dan tahan sampai siang bahkan sampai sore.

Mari ambil contoh lainnya, kita membeli baju baru lalu mengenakannya. Mata terpesona begitu melihatnya walau hanya sesaat saja. Saat menggunakan baju lama, mata biasa saja melihatnya. Tetapi tahukah anda bahwa manfaat yang diberikan oleh baju baru dan baju lama untuk menutupi aurat adalah sama saja? Jadi, intinya adalah rasa di indra itu hanya berlangsung sementara saja sedangkan manfaat yang anda rasakan berlangsung dalam waktu yang lebih lama tetapi tidak kekal. Mulai sekarang saat membeli sesuatu jangan lihat rasa, harga, penampilan atau gengsi tetapi pastikan manfaatnya nyata.

Bedakan sesuatu dari manfaatnya bukan dari rasa-kenikmatan yang diberikannya. Sebab rasa di indra itu seperti angin lalu yang berakhir dengan cepat tetapi manfaat yang dirasakan akan bertahan selama beberapa waktu sebelum kita membelinya lagi.

Kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang luar biasa dan yang biasa – kesenangan dan tawanya sama saja

Ada orang yang liburan ke Bali lalu berkata bahwa itu luar biasa. Juga ada orang yang berlibur di pantai yang dekat dengan kotanya lalu berkata biasa saja. Tahukah anda bahwa kesenangan yang mereka rasakan sama saja? Mungkin saja masing-masing tersenyum, bukankah itu sama saja? Mereka bisa saja sama-sama tertawa, bukankah itu sama saja? Atau apakah senyuman orang yang ke bali lebar-lebar dan tawanya juga lebih lama sedangkan yang ke pantai terdekat senyumnya kecut sedang tawanya datar? Sekarang kami tanya, apakah kesenagannya sama? Tentu saja sama, bahkan orang yang melakukan perjalanan jauh justru akan kecapean di jalan dan pingin menambah panjang liburannya untuk istrahat di rumah satu atau dua hari lagi. Sedangkan orang yang tempat liburannya dekat, pulang dengan sukacita dan besoknya akan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Kita berpikir bahwa yang mahal dan mewah itu waw…. Tetapi sesungguhnya melelahkan. Lebih baik yang sederhana saja, manfaatnya check! Senangnya check! Segera kita bisa melanjutkan aktivitas sehari-hari. Jadi pilih kesenangan yang melelahkan atau sesuatu yang biasa saja tapi senangnya juga ada?

Kebahagiaan itu sama saja, hanya nikmat di indra yang berbeda tetapi sukacitanya sama jika disyukuri

Seheran apapun kita saat menikmati berbagai-bagai gemerlapan duniawi ini tetap saja ada bahagia di hati. Demikian juga sesederhana apapun kenikmatan duniawi yang kita miliki bila dinikmati dengan rasa syukur pastilah hati juga tetap bahagia. Tahukah anda, dalam perjalanan hidup kami orang lain merasakan kenikmatan dan kemuliaan duniawi lebih banyak dan lebih besar sedangkan kami beroleh ejekan dan pengabaian lebih banyak, tetapi bahagia di dalam hati tak pernah hilang. Tahu apa alasannya? Karena hati terus bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan sampai pikiran terbuka dipenuhi oleh rasa senang/ sukacita yang damai, tenang dan terkendali hingga meluap dalam bentuk senyuman mungil di bibir masing-masing.

Faktor penyebab kenikmatan dan kemuliaan duniawi fana

Mau bukti konkrit bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini fana? Uang bisa terbakar, kendaraan bisa penyok, rumah bisa hancur, tubuh bisa terluka dan memar bahkan emas yang kita miliki sekalipun hanya di pakai selama hidup. Ketika sudah meninggal nanti, yang menggunakannya adalah anak-anak dan orang lain. Justru bisa saja harta benda yang kita tinggalkan akan membawa efek samping bagi kehidupan keturunan kita yang kemudian. Mereka bisa jadi individuali, merasa tidak butuh orang lain, merasa sombong dan menjadi sangat kikir bahkan moralitas terancam amburadur karena cepat stres dan melakukan pelarian saat ada masalah.

Berikut selengkapnya alasan mengapa gemerlapan duniawi hanya sesaat saja.

  1. Rasa di indra hanya sesaat saja.

    Saat kita makan hanya terasa 15 menit, paling net-net setengah jam setelah itu nikmatnya di lidah segera berlalu. Ketika dipuji orang malah lebih cepat berlalu, hanya 3-5 detik saja lalu semuanya berlalu begitu saja. Sewaktu membeli baju baru, paling-paling rasa senangnya dua-tiga hari saja lalu semua biasa saja. Demikian juga saat kita baru membeli barang elektronik keluaran baru, rasa senangnya 2-3 bulan saja lalu semua biasa saja.

    Saat membelanjakan uang, jangan fokus kepada kesenangan yang ditimbulkannya tetapi fokuslah pada manfaat yang kita peroleh dari barang/ jasa tersebut. Pastikan harganya terjangkau oleh kantong sendiri.

  2. Mengharuskan kita untuk membelinya lagi.

    Berapa kali anda makan dalam sehari? Mungkin ada dari kita yang puasa dan hanya melakukannya sekali saja tetapi tetap saja besok akan kembali makan lagi. Demikianlah hidup ini, segala sesuatu akan habis dan harus di beli lagi agar memberi manfaat yang sama. Saat anda menggunakan sepeda motor pastilah akan membeli bensin sekali atau beberapa kali dalam seminggu. Bagaimana pula saat kita menggunakan sepeda? Bukankah keduanya sama-sampai di tempat tujuan?

  3. Manfaatnya sementara saja – fatamorgana.

    Seperti orang yang liburan ke pantai, ia berkendara ke tempat wisata pukul 10.00 pagi lalu pulang pulang pukul 16.00. Pertanyaannya, apa yang didapatkannya? Kesenangan ya… tapi juga kelelahan sehingga memaksanya untuk isterahat terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas lainnya. Bukankah itu hanya hari itu saja sedangkan besoknya sudah seperti biasa?

    Oleh karena itu, jangan menyombongkan diri pada hal-hal yang berlangsung sesaat sebab semuanya itu hanyalah fatamorgana yang akan segera berlalu. Saat kita dipuji orang karena melakukan satu tindakan, bukankan itu hanya berlangsung sesaat saja lalu besoknya anda sudah lupa akan rasa senang yang terjadi semalam

  4. Terlalu sering dikonsumsi bisa bosan hingga mati rasa.

    Saat seseorang dipuji-puji terus pastilah rasanya jadi biasa saja. Oleh karena itu, jangan terus memuji lakukan itu pada moment yang tepat saja. Demikian juga saat kita terus mengkonsumsi daging, bisa jadi bosan lidah ini. Oleh sebab itu, lakukan semuanya secara fluktuatif, kadang daging dan ikan dan kadang pula ikan asin agar rasanya tetap nikmat.

    Sekalipun demikian, pada satu titik nantinya ketika usia anda sudah lebih dari 40, semuanya itu akan terasa biasa saja sebab sensitivitas syaraf-syaraf di indra akan mulai menurun.

  5. Rasanya bisa berbeda-beda bahkan bertentangan.

    Keluarga kita mungkin akan menghargai ketika bersama dengan mereka. Tetapi siapa yang tahu bagaimana respon orang asing yang tidak mengenal saat melihat diri ini? Inilah yang kami sebut orang yang satu menghargai sedang yang lain mengabaikan. Orang yang ini menghormati sedangkan orang yang itu menyepelekan. Jadi, yang namanya kemuliaan duniawi MURNI TIDAK PASTI. Semuanya bisa berbeda-beda setiap orang, bahkan terkadang pribadi yang sama mengekspresikannya dengan cara yang berubah-ubah.

    Menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang tak pasti jelas akan membuat suasana hati turut berubah-ubah. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jikalau kita menggantungkan kebahagiaan kepada diri sendiri saja. Yaitu saat memfokuskan pikiran kepada Tuhan, mempelajari sesuatu dan menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita.

  6. Ingatan tentangnya pasti akan hilang dan harus dibaharui lagi.

    Dalam hidup ini, bisakah anda ingat kesenangan yang di alami di masa lalu? Baiklah anda mengingatnya, bagaimana rasanya, apa masih senang saat mengingat hal tersebut? Kami yakin tidak! Dari sinilah bisa kita tahu bahwa yang namanya kenikmatan dan kemuliaan duniawi itu hanyalah sesaat saja. Jika, kita ingin merasakan kesenangannya lagi maka silahkan beli/ bayar/ pesan lagi.

  7. Beresiko membuat candu.

    Sifat candu ini menunjukkan bahwa kita melakukan sesuatu secara berulang-ulang. Ketika kita sudah terbiasa melakukannya maka hal tersebut akan sangat sulit ditinggalkan. Melainkan cenderung mengulanginya lagi dan lagi. Masalahnya sekarang apakah itu tidak ada efek sampingnya bagi kesehatan fisik, mental dan sosial anda? Sadarilah bahwa orang yang ketagihan terhadap sesuatu biasanya cendrung mengalami over dosis. Lagipula bukankah itu beresiko membuat uang anda terus berkurang bahkan mungkin saja habis karena ketagihan?

  8. Lebih indah menyelesaikan masalah daripada sekedar menikmati hidup.

    Tahukah anda apa yang lebih indah dalam hidup ini ketimbang merasakan kenikmatan dan kemuliaan duniawi? Tepat saat kita mampu menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi. Bagi mereka yang sudah dewasa dan terbiasa materi itu pasti akan dirasakan datar saja. Tetapi saat mereka mampu menyelesaikan pergumulan hidup yang sedang dihadapi maka tepat saat itu juga ada rasa lega di dalam hati seolah kita terbebas dari sesuatu yang mengikat dan mengekang diri ini sebelumnya.

  9. Dapat membuat kita terlena, lupa diri, lupa waktu dan lupa kebenaran bahkan membuat seseorang menghalalkan segala cara.

    Sekalipun kenikmatan dan kemuliaan duniawi hanya sementara saja tetapi ketika kita memiliki sumber daya yang besar (uang/ harta banyak) untuk membelinya lagi dan lagi. Sadarilah bahwa kebiasaan yang terus-menerus menikmati hidup tidaklah baik. Ini bisa membuat anda terlena, hati menjadi sombong dan perilaku bisa saja menyimpang.

    Oleh karena itu, kami sarankan kepada anda untuk melakukan puasa. Hindari menikmati hidup terus menerus tetapi berikan waktu juga untuk istirahat, fokus kepada Tuhan dalam doa, firman juga bernyanyi memuji-Nya, mempelajari sesuatu dan menyelesaikan pekerjaan tertentu: bukankah semuanya ini gratis dan tinggal melakukannya saja?

  10. Tidak di babwa ke akhirat tetapi penggunaannya dipertanggung jawabkan.

    Disinilah kenikmatan dan kemuliaan duniawi kalah telak. Sebab di akhirat nanti, Tuhan tidak bertanya “berapa materi yang sudah kamu nikmati? Sebanyak apa jenis kenikmatan yang sudah dicicipi? Sebanyak apa kemuliaan yang kamu peroleh?” Tetapi yang ditanyakan Tuhan adalah “seberapa besar kasihmu kepada Allah dan seberapa besar kasihmu kepada sesama manusia. Apa kebaikan yang telah kamu lakukan kepada Allah dan apa kebaikan yang telah kamu perbuat kepada sesama?

Ingat clue-nya adalah bukan “apa yang kita terima” tetapi “apa yang kita berikan

Pusing kepala saat hidup ini kita fokuskan untuk mencari kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Tetapi ada kelegaan di dalam hati saat kita bisa selalu memuliakan nama Tuhan dan berbuat baik kepada sesama lewat pikiran, perkataan dan perbuatan sehari-hari. Oleh karena itu, jangan hanya memanfaatkan sumber daya dan potensi yang dimiliki untuk diri sendiri saja tetapi pastikanlah juga bahwa anda mendedikasikannya untuk kemuliaan nama Tuhan dan mengasihi sesama. Sebab sebanyak apapun materi yang kita nikmati untuk diri sendiri tidak akan di tanyakan di akhir zaman. Tetapi apa yang kita berikan kepada Tuhan dan sesama, itulah yang membahagiakan hati dan akan ditanyakan di akhirat.

Salam, bersukacitalah apa adanya!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s