Kepribadian

17 Perbedaan Kekayaan & Kebahagiaan; Kesenangan Dari Materi & Rasa Senang Karena Bahagia – Dua Gelombang Kebahagiaan Dalam Hidup Manusia


Perbedaan dan Perbandingan Antara Kekayaan Dan Kebahagiaan; Kesenangan Dari Materi & Rasa Senang Karena Bahagia - Dua Gelombang Kebahagiaan Dalam Hidup Manusia

Hidup ini terdiri dari dua unsur utama bila dibedakan dari kemampuan indra untuk mencitrakannya. Ada yang disebut dengan komponen yang sepenuhnya dapat dicitrakan oleh indra dan ada pula bagian yang tidak dapat dicitrakan oleh indra (sekalipun bisa tetapi minimal). Material yang dapat kita citrakan biasanya dibutuhkan sesekali saja (tidak selalu hanya pada waktu-waktu tertentu). Tetapi bagian yang tidak dapat diindrakan biasanya selalu dibutuhkan dari waktu ke waktu. Sekalipun demikian kedua hal ini tidak dapat dipisahkan satu-sama lainnya, artinya keduanya harus sama-sama ada dan kita konsumsi untu membuat kehidupan tetap terasa hidup.

Dua belahan yang bisa dibedakan menurut indra tetapi sama-sama dibutuhkan

Manusia makan dan minum pada jadwal tertentu saja, tidak ada dari kita yang melakukannya secara terus-menerus sepanjang hari. Anak-anak butuh makanan yang lebih sering, mereka biasanya mengkonsumsinya tiga kali sehari. Saat seseorang mulai beranjak dewasa, kebiasaan makannya berkurang menjadi dua kali sehari bahkan beberapa orang yang tidak memiliki aktivitas berat hanya melakukannya sekali sehari. Kitapun minum rata-rata delapan sampai sepuluh kali sehari (untuk orang dewasa). Tetapi, udara atau lebih dikenal sebagai oksigen adalah entitas yang selalu kita butuhkan dalam setiap hari, jam, menit bahkan setiap detik dalam hidup ini memerlukannya.

Dua gelombang kebahagiaan yang bisa diraih oleh siapapun

Dari berbagai ilustrasi yang kami berikan pada bagian di atas dan berdasarkan tulisan kami sebelumnya maka kita menemukan bahwa ada dua gelombang besar yang menciptakan kebahagiaan di dalam hati setiap manusia. Belahan pertama adalah keberadaan materi dengan segala gemerlapan duniawi yang ada didalamnya. Sedangkan gelombang kedua adalah yang berlangsung di dalam diri masing-masing orang, tepatnya kemampuan seseorang memanajeman pikiran dan aktivitas yang diekspresikannya (sikap). Rasa senang akan kekayaan yang dimiliki sangat tergantung dengan kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang ditawarkan oleh berbagai media yang ada. Namun rasa bahagia di dalam hati sangat bergantung pada aktivitas positif yang kita lakukan hari demi hari.

A. Kekayaan (harta duniawi – kebahagiaan semu).

Bahagia lewat kekayaan sama artinya dengan menggantungkan diri dengan trend pasar yang dikuasai kapitalis

Ini jelas ya, ada orang yang bahagianya dirasakan lewat kekayaan yang dimilikinya. Dimana dengan semuanya itu, ia bisa membeli segala sesuatu yang berupa kenikmatan duniawi, misalnya makanan, minuman, aksesoris, barang elektronik dan kendaraan yang mewah dan megah sesuai trend. Juga ia bisa membeli kemuliaan duniawi dengan membeli gelar pendidikan tinggi, jabatan strategis, penghargaan, tampil populer di televisi, radio dan media sosial tertentu. Semuanya itu hanyalah sesaat saja sebab kapitalis dengan dalil untuk memutar roda perekonomian senantiasa mengubah trend yang berlaku. Jadi, itulah mengapa saat seseorang candu terhadap gemerlapan duniawi maka ia akan menginginkan lebih seiring dengan perubahan trend yang terus berlangsung.

Materi kita butuhkan dalam kadar standar

Minuman kita perlukan setidaknya delapan sampai sepuluh kali sehari. Makanan kita konsumsi sebanyak tiga, dua bahkan satu kali sehari.  Pakaian kita perlu ganti dua atau tiga kali sehari dan dibeli sekali dua bulan, sekali tiga bulan, sekali empat bulan dan sekali enam bulan bahkan sekali setahun. Kendaraan kita beli sekali dua puluh tahun, tiga puluh tahun bahkan sekali seumur hidup. Rumah kita buat sekali atau dua kali seumur hidup. Setiap jenis materi yang kita butuhkan memiliki waktu-waktu tertentu untuk membeli dan memakainya. Biasanya, bila terlalu menggantungkan rasa senang pada hal-hal duniawi maka akan timbullah ketergantungan bahkan muncul niat untuk menginginkan yang lebih bernilai tinggi.

Ketamakan akan materi menghentikan siklus alamiah diseluruh muka bumi

Ketika kami menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di bawah kaki langit adalah siklus kehidupan yang senantiasa berputar-putar dari waktu ke waktu. Maka itu tidak hanya terjadi pada bagian tertentu saja tetapi seluruh material yang ada selalu terlibat dalam sistem yang berputar. Sesungguhnya, termasuk didalamnya adalah kepemilikan uang – harta benda. Jika uang seseorang semakin menumpuk-numpuk maka dapat dipastikan bahwa kemampuannya untuk mengkonsumsi materi menjadi sangat tinggi. Akibatnya, sampah yang dihasilkan juga menggunung-gunung dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya berdampak luas bahkan orang lain juga turut dirugikan karena aktivitasnya yang lebay.

Secara kasat mata, kita tidak melihat ketika udara menjadi kotor ketika semakin tingginya penggunaan mesin berteknologi canggih. Hutan-hutan berpohon lebat kita tumpas habis hingga ke dusun-dusun yang membuat atmosfer menipis. Tidak juga memahami mengapa tiba-tiba saja kemarau menjadi sangat panjang sedangkan musim hujan menjadi lebih pendek tetapi hujan deras berlangsung dengan debit air yang sangat tinggi. Tiba-tiba saja, berbagai-bagai bencana alam terjadi: banjir, tanah longsor, banjir bandang, badai (angin ribut), kekeringan, fuso, gelombang panas dan lain sebagainya. Kita merasa bahwa itu adalah seleksi alam, karena jumlah manusia terlalu banyak jadi harus ada yang mati untuk mengurangi jumlah penduduk.

Keserakahan – Manusia bahkan lebih kecil dari sebatang pohon tetapi luas tempat tinggalnya segede lapangan bola dimana bisa ditumbuhi oleh puluhan bahkan ratusan tanaman didalamnya.

Betapa liciknya pemikiran kita karena menganggap bahwa semuanya ini karena pertumbuhan penduduk yang semakin banyak. Kita menyalahkan sesuatu yang sudah menjadi perintah Tuhan sejak dari awal mula dunia ini dijadikan. Padahal sesungguhnya perilaku kitalah yang sangat konsumtif saat menikmati materi. Karena kekayaan yang berlimpah-limpah di tangan, kita menghasilkan lebih banyak sampah dan polutan. Manusia bahkan lebih kecil dari sebatang pohon tetapi luas tempat tinggalnya segede lapangan bola dimana bisa ditumbuhi oleh puluhan bahkan ratusan tanaman didalamnya. Semakin tinggi nilai kekayaan yang kita miliki maka semakin besar pula kemampuan untuk merusak lingkungan sekitar dan merugikan sesama.

Menggantungkan kesenangan hanya pada kekayaan, pujian, penghargaan dan popularitas: awal dari suasana hati yang berubah-ubah (kacau)

Mungkin ada yang berpikir bahwa untuk menikmati kebahagiaan harus selalu hidup mewah, nyaman, mudah, duduk santai terus-menerus dan tetap bergelimangan harta kekayaan. Sadarilah bahwa hal semacam ini hanyalah berlangsung sesaat saja. Ketika anda terus-menerus mengkonsumsinya maka akan timbullah rasa ketagihan lalu masih ingin lagi sesuatu yang lebih dari semuanya itu. Artinya, rasa candu terhadap gemerlapan duniawi cenderung mendorong manusia mengalami rasa senang yang terombang-ambing. Semakin intens kita menggantungkan kesenangan pada kenikmatan (makanan, minuman, aksesoris, barang elektronik, kendaraan, perumahan) dan kemuliaan (pujian, penghargaan, pupularitas penghormatan), maka semakin sering pula suasana hati tiba-tiba berubah.

Hindari melakukan sesuatu dengan dasar/ dalil untuk beroleh kekayaan yang lebih banyak. Keadaan ini, cenderung hanya membuat kita tidak bahagia dan malah sesak dada karena uang yang kita cari pastilah kita gunakan sebagian, jadi tidak pernah kaya dong? Jika itu saja yang ada dalam pikiran kita, biar kaya raya maka hal tersebut beresiko tinggi membuat kita menghalalkan segala cara untuk meraihnya, termasuk korupsi. Hindari juga melakukan sesuatu dengan alasan untuk dipuji dan biar populer; sebab keadaan ini bisa mendorng kita untuk mencari-cari sensasi negatif. Sensasi yang lebay bisa saja menjurus pada kejahatan namun sampulnya kebaikan.

Candu terhadap kenikmatan dan kemuliaan duniawi untuk meraih kesenangan hanya akan membuat hati menebal, terbiasa lalu merasa bosan dan akhirnya menginginkan lebih. Keadaan ini sangat kuat dipengaruhi oleh aktivitas berbagai-bagai media yang berseliwaran disekitar anda. Belum lagi kalau ada orang yang juga punya keuangan yang sama baik atau lebih baik. Niscaya orang tersebut akan menjadi pesaing berat anda untuk semakin membeli dan membeli lagi berbagai-bagai barang yang mahalnya selangiti semata-mata demi kesenangan sesaat. Biasanya, saat seseorang begitu ketagihan dengan materi tetapi tidak dapat menggapainya atau kalah saing dari rivalnya maka rasa kesal-kebencian akan memenuhi hati yang akan meluap lewat amarah yang tidak jelas.

B. Kebahagiaan sejati.

Bahagia adalah manajemen aktivitas otak

Setiap manusia berpotensi untuk merasa senang tanpa harus memiliki harta duniawi melimpah dan  pujian juga popularitas layaknya para artis. Inilah yang kami sebut dengan kebahagiaan sejati, yang tidak berasal dari dunia ini tetapi yang berasal dari dalam diri sendiri, yaitu dari otak masing-masing. Teorinya sederhana saja, rasa senang asalnya dari otak lalu mengapa harus menunggu dunia ini menyenangkan indra agar otak merasa senang? Mengapa tidak membuatnya sendiri lalu terus merasa senang dari waktu ke waktu. Inilah kebahagiaan sejati yang kami maksudkan, yaitu kemampuan masing-masing orang untuk memanajemen aktivitas pikirannya sehingga selalu senang dalam segala waktu yang dijalani.

Bahagia itu menerima diri apa adanya dan orang lain disekitar kita

Untuk membuat hati senantiasa berbahagia, kita harus menepis berbagai-bagai pertentangan yang muncul dari dalam diri sendiri. Bila ada semacam pribadi dalam dirimu yang selalu saja menentang dan melawan setiap prinsip dan keputusan yang diambil, segera atas hal tersebut. Ini adalah salah satu bentuk arogansi yang manusiawi, selalu ingin lebih dari orang lain dan tidak rela saat menyaksikan ada yang lebih baik dari dirinya. Segera rendahkan hati dengan menyangkal diri lalu katakan “Ini sudah seharusnya terjadi, saya pantas mendapatkannya. Kuatkan hati menghadapi semuanya ya Tuhan.” Atau bisa juga dengan mengatakan dalam hati “Biarkan dia menang Bapa, dia pantas mendapatkannya. Kuatkan hatiku menjalani semuanya ini.”

Kebahagiaan adalah saat kita merasa cukup

Merasa cukup adalah sebuah pemahaman dimana seseorang tidak lagi menginginkan yang lain dalam hidup sebab semua yang dibutuhkannya sudah diperoleh. Kita bisa memiliki berbagai-bagai harapan di masa depan tetapi terus-menerus memikirkan hal tersebut adalah sebuah awal dari kegalauan yang panjang. Melainkan orang yang senantiasa merasa cukup tidak memenuhi hatinya dengan hal-hal duniawi tetapi terus fokus kepada Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian), mempelajari sesuatu dan mengerjakan tanggung jawab yang diembannya dengan setulus hati. Tidak lupa juga untuk selalu mengambil kesempatan untuk berbagi kasih kepada sesama lewat semua aktivitas positif tersebut.

Bahagia yang sesungguhnya adalah aktivitas

Ada tiga macam bentuk aktivitas dalam kehidupan manusia, yaitu pikiran, perkataan dan perbuatan. Pada dasarnya semua aktivitas ini ditujukan untuk memuliakan nama Tuhan dan berbuat baik kepada sesama. Untuk memusatkan pikiran kepada Tuhan yang dibutuhkan adalah berdoa, membaca firman-Nya dan bernyanyi-nyanyi memuliakan nama-Nya. Sedangkan untuk berbuat baik kepada sesama, terlebih dahulu harus mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga lewat kemampuan itulah kita berbagi. Jadi yang kami sarankan adalah kembangkan bakat yang dimiliki sebab lewat hal tersebutlah kita bermanfaat bagi sesama. Pekerjaan yang kita geluti juga merupakan suatu bakat yang bisa bisa dimanfaatkan untuk membantu sesama.

Perbedaan Antara Kesenangan Akan Kekayaan & Rasa Senang Karena Bahagia

C. Perbedaan kesenangan dari kekayaan dan rasa senang dari kebahagiaan hati.

Pada hakekatnya kedua hal ini memiliki ujung yang sama tetapi jalan untuk menempuhnya masing-masing berbeda. Hal ini menyebabkan rasa senang yang disebabkannya juga tidak serta-merta sama. Semua ini sama saja dengan membedakan antara kebutuhan jasmani dan rohani juga sama dengan saat kita membedakan antara materi dan kebenaran. Tidak ada manusia yang hidup di dunia ini, hanya dengan mengandalkan salah satunya tetapi memanfaatkan materi dan kebenaran itu agar dapat memberi arti positif bagi kehidupan. Berikut ini akan kami tampilkan perbandingan antara kesenangan yang dinikmati lewat kekayaan dan kesenangan dari kebahagiaan sejati.

Dalam tulisan ini, ada beberapa persamaan istilah yang kami tampilkan. Sekalipun kata-katanya berbeda tetapi makna dan maksudnya sama, yaitu.

Materi =  kebahagiaan semu = kekayaan = kenikmatan duniawi = kemuliaan duniawi >>Merasa Senang<<

Kebenaran  =  kebahagiaan sejati = mengasihi Tuhan = fokus Tuhan = mengasihi sesama = melakukan kebaikan lewat aktivitas belajar dan bekerja >>Merasa Senang<<

No Kekayaan Kebahagiaan Sejati
1.

Diperoleh dari luar.

Segala materi yang membuat manusia kaya-raya berasal dari luar dirinya. Semuanya itu adalah hasil eksploitasi lingkungan alamiah.

Dikelola dari dalam.

Asalnya dari pikiran dan semuanya bersumber dari dalam otak manusia itu sendiri.

2.

Tidak membutuhkan kebersihan hati tetapi bisa menutupi sesaat kekalutan yang dialami.

Beberapa orang justru sangat pandai menutupi betapa kacau pikirannya dengan berfoya-foya menikmati materi. Memang dalam sesaat saja, ia bisa melupakan berbagai rasa sakit dan pikiran negatif. Tetapi begitu gemerlapan duniawi tersebut habis maka hal-hal kotor/ netif itu akan mengembang lalu kembali menggerogotinya.

Sangat memerlukan kebersihan hati dari berbagai pikiran negatif.

Orang yang mampu membersihkan  pikirannya dari berbagai-bagai rasa dengki (iri hati), sungut-sungut, pikiran kotor (suudzon), kekecewaan, penyesalan, rasa sakit. Juga termasuk kesombongan, dendam, kebencian, rasa bersalah dan pikiran negatif lainnya. Tanpa hati yang bersih dari dalam maka tidak ada kebahagiaan sejati.

3.

Bisa dirasakan semua kalangan, balita dan anak kecil sekalipun bisa menikmatinya.

Ini adalah rasa senang yang membuat siapa saja bisa menikmatinya. Belilah itu maka balita dan anak kecil sekalipun akan melompat dengan girangnya.

Biasanya hanya dapat dirasakan oleh orang muda, dewasa dan tua.

Rasa senang yang berasal dari dalam pikiran tidak serta merta ada begitu saja saat seseorang lahir. Balita dan anak-anak mungkin tidak memilikinya sebab pikirannya masih belum bisa fokus pada hal-hal positif.

4.

Semua berbayar dan tidak ada yang gratis.

Kekayaan yang dimiliki saat dipergunakan untuk membuat hati senang maka yang dibutuhkan adalah dengan membeli ini-itu dengan harga yang sudah ditetapkan.

Hampir semuanya gratis, tinggal diekspresikan.

Hati bisa merasakan kebahagiaan yang menyenangkan saat kita bisa senantiasa memuliakan Allah dengan sepenuh hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

5.

Sangat dipengaruhi oleh trend yang beredar di berbagai media.

Ini disebarluaskan oleh berbagai-bagai media yang cuap-cuap disekitar kita. Seperti, televisi, radio, internet, majalah, media sosial, entertainment lainnya.

Semuanya tergantung dari kebenaran sejati.

Asal rasa senang jenis ini adalah kebenaran yang sejati. Saat kita melakukan kebenaran maka tepat saat itu juga ada kebahagiaan di dalam hati.

6.

Dikumpulkan dari hasil mengerjakan sesuatu.

Masing-masing orang harus hidup hemat agar bisa menabung sehingga lama-kelamaan semua materi yang dibutuhkannya bisa tercukupi.

Diasah latihan fokus pada hal positif.

Otak yang mampu menghasilkan sendiri rasa senang yang kita butuhkan adalah  murni dari hasil latihan fokus berpikir. Ini tidak ada secara otomatis sejak dari awal kehidupan.

7.

Harta duniawi ditinggalkan ketika wafat.

Sebanyak dan sebesar apapun harta kekayaan yang kita miliki, semuanya itu akan ditinggalkan kepada orang lain. Bahkan dalam prinsip hidup sosialis sejati, kesemuanya itu akan dikembalikan kepada negara untuk memenuhi siklus kehidupan.

Rasa bahagia juga di bawa ke akhirat bagi yang masuk sorga.

Bila anda adalah orang yang baik hatinya, senantiasa mendedikasikan kehidupan untuk kemuliaan nama Tuhan dan berbagi kebaikan kepada sesama. Sadarilah bahwa rasa bahagia yang anda alami kelak akan dibawa hingga ke sorga yang kekal.

8.

Dibangun dari hasil kreativitas mengalahkan  orang lain.

Untuk memperoleh uang yang lebih banyak, biasanya beberapa orang akan melakukan aksi manipulasi agar meraih keuntungan besar lewat semua itu. Ada juga kekayaan yang diperoleh dari hasil melakukan konspirasi, korupsi, tipu-menipu dan berbagai hal buruk lainnya.

Dibangun dari hasil kebaikan hati: memuliakan Tuhan dan berbagi kasih kepada sesama.

Kebahagiaan sejati dibangun atas dasar kebenaran sejati. Sebab nafas yang berhembus di dalam diri kita berasal dari Allah dan itulah yang menuntut kita untuk senantiasa memperjuangkan kebenaran.

9.

Dinikmati sesekali (pada waktu-waktu tertentu).

Orang-orang memiliki waktu khusus untuk menikmati materi dari hasil kekayaan yang dimilikinya. Mereka akan melakukannya secara fluktuatif dan tidak terus menerus untuk menghindari kebosanan. Akibatnya, rasa senang yang diberikan oleh kekayaan sifatnya hilang timbul seiring dengan waktu-waktu khusus tersebut begitu cepat berlalu.

Selalu dibutuhkan dalam setiap waktu yang dijalani.

Orang yang mampu terus beraktivitas untuk menyatakan kemuliaan Allah sembari hadir memberi faedah kepada sesama. Mereka akan menghabiskan waktu untuk belajar dan bekerja. Bahkan sekalipun dirinya kedapatan sedang break (istirahat) tetap saja pikiran senantiasa ditujukan untuk memuji-muji Tuhan.

10.

Berhubungan dengan daya beli terhadap gemerlapan duniawi.

Orang yang memiliki banyak uang harus mampu membeli ini-itu sesuai dengan trend yang berkembang dipasaran. Bagi mereka yang tidak mampu mengikuti perkembangan trend, rasa senangnya akan serta-merta meredup. Disanalah dibutuhkan uang untuk membeli berbagai-bagai kemewahan dan kenyamanan duniawi.

Berhubungan dengan kemampuan merasa cukup – apa adanya.

Mereka yang mengejar kebahagiaan hati tidak begitu ketergantungan dengan trend yang berlaku dipasaran. Yang panting baginya adalah semua yang dibutuhkannya sudah ada sedangkan yang masih belum ada akan diusahakan di waktu mendatang dengan menabung. Lebih dari pada itu mereka akan menghabiskan waktunya untuk melakukan berbagai aktivitas positif.

11.

Hanya melibatkan kesenangan sesaat saja.

Kesenangan yang diperoleh dari kenikmatan dan kemuliaan duniawi sifatnya hanya sesaat saja. Jika hendak menikmatinya lagi maka butuh uang tambahan untuk membeli ini-itu. Lagipula terlalu sering menikmatinya bisa beresiko jenuh.

Dapat membuat seseorang senang terus dan terus senang.

Asal kita selalu beraktivitas memuliakan Tuhan lewat doa, firman dan nyanyian pujian. Bisa juga dengan senantiasa berbagi kasih kepada sesama lewat pelajaran dan pekerjaan yang ditekuni hari demi hari. Alhasil, aktivitas positif semacam ini akan menjadi sumber sukacita seumur hidup.

12.

Orang lain adalah saingan dan sarana untuk meraih lebih banyak kekayaan.

Seseorang yang ingin lebih kaya raya dibandingkan semua pihak yang ada disekelilingnya akan berupaya untuk bersaing dengan pihak lainnya memperebutkan hati para pelanggan. Mereka akan tampil semaksimal mungkin agar bisa menuai lebih banyak rupiah dari kantong orang lain (konsumen).  Semua ini semata-mata demi uang dan kekayaan pribadi yang akan dibanggakan kepada pihak lainnya.

Orang lain adalah partner yang menjadi sarana untuk berbagi kasih.

Saat kita berusaha untuk menegakkan kebenaran demi kebahagiaan sendiri maka tepat saat itu jugalah harus hidup bersama dengan orang lain. Kita bersatu  dalam berbagai bidang termasuk dalam pekerjaan sehingga masing-masing bisa memberikan kontribusi positif. Sebab tujuan kebersamaan kita adalah agar bisa membawa faedah bagi kehidupan masing-masing dan bagi kehidupan orang lain di luar kelompok kita juga.

13.

Masalah yang dihadapi bisa mengurangi bahkan menghilangkan kadar kesenangan saat menikmati materi.

Persoalan yang datang adalah sebuah pengganggu yang cukup mengesalkan bagi orang-orang kaya. Mereka menempatkan dirinya bak dewa yang tak bisa disentuh bahkan dicibir sekalipun. Cenderung memanfaatkan uang yang dimiliki untuk membalas setiap orang yang disebutnya sebagai pengganggu. Menggunakan rumah yang luas, tembok yang tebal dan pagar yang tinggi untuk melindunginya dari kejahilan kecil yang terjadi disekelilingnya.

Masalah adalah permulaan yang bisa menjadi sesuatu yang membahagiakan saat bisa diselesaikan.

Bagi mereka yang mengejar kesenangan dari kebahagiaan hati, cenderung memandang persoalan sebagai kesempatan untuk melatih kemampuan mengendalikan diri. Memanfaatkan gejolak kecil yang sedang berlangsung untuk melatih indra agar terbiasa dari berbagai gangguan sana-sini. Ini juga sama artinya dengan melatih kecerdasan otak agar mampu menyesuaikan diri dengan buruknya situasi. Di tengah semuanya itu tidak fokus pada gangguan melainkan selalu memuliakan Tuhan dalam hati sembari berbagi kebaikan kepada sesama lewat aktivitas belajar dan bekerja.

14.

Kesenangan materi identik dengan duduk santai dimana pekerjaan yang lebih sedikit

Kekayaan materi membuat kita lebih suka duduk santai tak ada kerjaan. Saat menikmati materi, lebih banyak dilayani orang sebab uangnya ada di tangan kita. Keadaan ini jelas menciptakan ketidakseimbangan di dalam diri sendiri sebab jika hanya dilayani saja tanpa melayani maka kita bermental raja. Orang yang egois, suka foya-foya tetapi doyan marah kepada bawahannya.

Kebahagiaan sejati erat kaitannya dengan aktivitas belajar, bekerja dan setidak-tidaknya senantiasa fokus kepada Tuhan.

Ini bukan tentang bagaimana kita dilayani orang melainkan bagaimana  melayani Tuhan dan orang lain. Kita melayani Tuhan dengan senantiasa berdoa, membaca firman dan bernyanyi memuji-Nya. Saat melayani orang lain kita melakukan kebaikan dalam aktivitas belajar dan bekerja yang ditekuni hari lepas hari.

15.

Saat ketergantungan maka beresiko menginginkan lebih.

Uang yang banyak di tangan, kebiasaan menikmati hidup dan bersantai lebih lama juga konsumsi terhadap berbagai informasi dari media (online dan offline) yang sangat tinggi. Jika si kaya ini terlalu sering berlebihan menikmati hidup maka ada kecenderungan merasa jenuh sendiri. Oleh karena dorongan perubahan trend yang disebarkan melalui media, iapun akan membeli sesuatu yang notabene lebih bernilai dari sebelumnya. Masalahnya sekarang, apakah keberadaan uangnya selalu ada seumur hidup?

Saat candu melakukannya maka semakin bahagia saja hidup ini.

Satu-satunya trending topic yang menjadi acuan kebahagiaan sejati adalah Kitab Suci yang kita yakini masing-masing. Dari sana kita tahu bagaimana caranya melayani Tuhan dan juga bagaimana caranya melayani sesama. Terus menerus melakukan hal ini tidak ada bosan-bosannya sebab pilihannya banyak, misalnya berdoa, membaca firman, memuliakan Tuhan, bermanfaat bagi sesama lewat pelajaran, pekerjaan. Dimulai dari hal-hal kecil, yaitu ramah-tamah selebihnya menurut potensi dan sumber daya yang dimiliki. Tidak ada kata bosan sebab tidak putus-putusnya kebaikan dan tantangan yang ditemukan saat berbaik hati kepada sesama.

16.

Bila rasa ketagihan itu tidak terpenuhi maka hati kesal-penuh kebencian.

Kekayaan duniawi jelas-jelas membuat kita bisa ketergantungan untuk menikmatinya. Pasalnya, bagaimana jika tiba-tiba uang hilang atau tiba-tiba jatuh miskin atau tiba-tiba bangkrut? Situasi yang semacam ini jelas akan membuat hati kesal sehingga saat menanggapi orang lainpun tidak bisa menjaga sikap. Bahkan rasa benci ini akan membuat pikiran sendiri kacau, hubungan dengan Tuhan dan sesama amburadur hingga beresiko stres sendiri.

Di satu sisi rasa candu kita tidak terpenuhi maka selalu ada aktivitas positif yang bisa dilakukan.

Candu kepada aktivitas positif tidak membawa dampak apa-apa dalam hidup kita. Sebab saat satu aktivitas positif tidak bisa dilakukan maka masih ada aktivitas lainnya untuk membuat kita tetap sibuk. Misalnya saat waktu kerja sudah selesai maka dapat mengisinya dengan belajar. Bila sudah jenuh belajar maka dapat mengisinya dengan beristirahat sambil bernyanyi-nyanyi memuji Tuhan dalam hati. Disela-sela semuanya itu, kita bisa berbagi kasih kepada sesama lewat keramahan dan potensi/ bakat yang dimiliki. Misalnya menulis, membuat puisi, melukis, membuat lagu, musik, menggambar dan lain sebagainya lalu memuatnya di internet dan media sosial.

17.

Akibatnya jika hanya mencari kesenangan materi.

Saat orang hanya meraih berbagai-bagai kesenangan duniawi dengan cara menikmati materi saja maka hal tersebut akan berdampak buruk bagi kepribadiannya sendiri. Mereka hanya akan mementingkan dirinya sendiri, penuh arogansi, menjadi psikopat, koruptor, penjahat seksual dan lain sebagainya. Mereka cenderung anti sosial, tidak suka diganggu dan lebih suka menyendiri.

Akibatnya jika hanya mencari kebahagiaan sejati

Tidak baik juga bila kita hanya mencari kebenaran di bumi ini. Bila semua yang kita peroleh diberikan kepada orang lain maka bisa dipastikan bahwa kita akan jatuh miskin. Bukan kami melarang para pembaca untuk berbagi kasih lewat materi tetapi berikan apa adanya saja. Berikan apa yang bisa anda berikan setidak-tidaknya keramah tamahan adalah kebaikan yang paling murah-meriah. Jika uang yang dimiliki pas-pasan maka berbagi kasih lewat keramahan dan lewat potensi (bakat/ kemampuan/ pekerjaan) saja sudah cukup. Tetapi jika anda memiliki nilai materi yang lebih maka bagikanlah itu kepada orang yang membutuhkan.

Dalam hidup ini, yang dibutuhkan manusia adalah perbedaan rasa dimana salah satu yang menawarkan hal tersebut adalah saat kita menghadapi masalah. Ini adalah tantangan yang beresiko menyakitkan hati tetapi sekaligus sangat melegakan dan membahagiakan saat dapat diatasi dan diselesaikan. Keadaan ini jugalah yang membuat kita tidak pernah bosan berbuat baik karena ada tantangan yang menyertainya, dimana kadang-kadang kita diabaikan karena hal tersebut namun pada saat-saat tertentu juga ada yang menanggapinya santai. Jadi perbedaan rasa inilah yang membuat suasana hati menjadi indah bagaikan pelangi.

Sedangkan yang namanya menikmati kesenangan dari gemerlapan duniawi sifatnya baik-baik saja/ datar-datar saja sehingga berkesan mudah bosan. Sekalipun muncul perbedaan rasa tetapi tetap saja hal tersebut adalah sama-sama enak. Oleh karena itulah rasa bosannya itu kentara sekali saat terlalu sering dinikmati. Ada baiknya nikmatilah hal tersebut secara fluktuatif, kadang yang mahal-kadang yang murah, kadang enak-kadang pahit, kadang di tempat nyaman dan kadang di kaki lima dan lain sebagainya. Anda harus mampu mebuat rasa di indra terkesan campur aduk sehingga hidup tetap indah untuk dilalui.

Apakah ini berarti bahwa kita tidak membutuhkan yang satu sedang yang lain dapat dibuang?

Bukan kita tidak butuh materi atau hanya memperjuangkan kebenaran yang sejati saja tetapi kita harus menentukan prioritas. Dalam hidup ini, harus ada yang lebih penting dan terutama untuk diperjuangkan, memperjuangkan kebenaran sejati: mengasihi Tuhan dan sesama juga sambil-sambil mencari keperluan kita sehari-hari, seadanya saja. Tidak perlu berlebihan mencari materi melainkan cukup apa yang bisa kita pakai sehari-hari dan beberapa untuk ditabung demi keperluan masa depan. Oleh karena itu, dalam setiap hal yang kita lakukan, jangan hanya mencari materi saja melainkan juga harus selalu memuliakan Tuhan, sambil-sambil melakukan kebaikan kepada sesama.

Salam, jadilah orang kaya yang dermawan!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s