Kesetaraan Manusia

9 Alasan Manusia Anak Allah – Segala Sesuatu Terhubung Oleh Energi Yang Membuat Kita Saling Membutuhkan


Alasan Semua Manusia Anak Allah - Segala Sesuatu Terhubung Oleh Energi Yang Membuat Kita Saling Membutuhkan

Semua yang ada di bumi ini terhubung dan saling membutuhkan

Terkadang manusia tak menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah terhubung satu-sama lain. Layaknya hubungan suami dengan istri yang saling mencintai. Seperti orang tua yang selalu ada dan peduli kepada anak-anaknya. Bagaikan manusia yang begitu ketergantungan dengan oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau berklorofil. Semacam kehidupan hewan yang selalu bernaung dan membuat sarangnya di bawah pepohonan rimbun. Terlihat seperti hubungan antara hewan predator yang mematikan korbannya untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dan masih banyak lagi hal di bawah kaki langit, yang menunjukkan bahwa segala sesuatu terhubung satu sama lain.

Kebutuhan akan energi menghubungkan kita satu sama lain

Di alam semesta yang luas ini, ada banyak bentuk hubungan yang dijalin oleh setiap komponen, baik yang tak bernyawa (benda mati) maupun yang bernyawa (makhluk hidup). Masing-masing menjalin suatu sistem yang saling seimbang satu sama lain. Semuanya itu dihubungkan oleh sesuatu yang disebut sebagai energi. Hanya saja energi ini sifatnya tetap tetapi wujudnya berubah-ubah. Konsep energi pertama-tama sebagai sebuah elektromagnetik yang bersumber dari sinar  matahari. Ini adalah kekuatan yang membuat berbagai benda mati mampu bergerak menentukan tujuannya sendiri agar roda kehidupan senantiasa berputar dari waktu ke waktu.

Segala Sesuatu Di Alam Semesta Terhubung Satu Sama Lain

Haus energi antara makhluk hidup lebih kejam dari perubahan energi oleh benda-benda mati

Hubungan antara benda-benda yang tidak hidup biasanya tidak saling membunuh sebab bentuk energi tersebut dapat langsung berubah. Misalnya sinar matahari tidak dikatakan membunuh air agar menjadi uap padahal telah terjadi perubahan bentuk energi. Akan tetapi, hubungan antar makhluk hidup terkesan melibatkan perubahan energi yang lebih kejam, misalnya hewan herbifora harus memakan tumbuhan/ rerumputan sampai batas bagian di atas tanah. Ini membuat tanaman tersebut hampir mati tetapi akan tumbuh kembali. Yang lebih kejam adalah perilaku hewan predator yang mengejar energi dari hewan herbivora dengan membunuh dan mengunyah mangsanya  hingga yang tersisa tulang-belulang dan bangkainya saja. Sekalipun demikian pemanfaatan energi semacam ini tetap mencapai titik keseimbangan.

Segala bentuk ketamakan akan dikendalikan, ditekan dan dimusnahkan oleh alam secara masif

Keingin masing-masing komponen untuk memanfaatkan komponen lainnya demi kepentingannya adalah sebuah takdir yang tidak dapat dilepaskan oleh siapapun. Sebaliknya ketika bagian tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan energi komponen tertinggi maka akan terjadi bencana untuk mencapai keseimbangan antara keduanya. Misalnya, akan tercipta semacam wabah kelaparan, penyakit dan saling membunuh antara hewan karnivora sampai jumlahnya benar-benar menemukan titik keseimbangan dengan jumlah makanan (mangsa) yang tersedia di alam. Inilah salah satu yang menjadi alasan mengapa masing-masing komponen alamiah tidak serakah terhadap sumber daya yang ada sebab sebaga bentuk ketamakan secara otomatis akan dimusnahkan oleh alam, cepat atau lambat.

Manusia yang tamak terhadap sumber daya pasti akan dinetralisir oleh alam sekitarnya

Bila alam sekitar kita menemukan dan menentukan keseimbangan energi lewat perubahan dan pembunuhan maka hal yang sama juga akan terjadi kepada umat manusia.  Kita terlalu serakah akan kemegahan maka mulailah dibangun gedung-gedung yang luas, besar dan tinggiyang membelah langit. Manusia juga tamak akan daging-daging segar sampai binatang yang dilindungi disembelih demi alasan pengobatan. Kita serakah akan teknologi mesin di dalam dan di luar rumah sehingga kehidupan ini semakin memburuk. Berpikir bahwa semua tindakan yang berlebihan itu akan didiamkan saja oleh alam tetapi nyatanya tidak. Alam akan selalu memunahkan setiap bagian-bagiannya yang serakah.

Bukti pertama yang menandakan bahwa alam mulai menghilangkan keserakahan itu adalah lewat bencana yang terjadi. Memang ini terkesan general sebab justru para perusak itu aman-aman saja sedangkan yang dikorbankan adalah rakyat jelata yang tak berdosa dan tak tau apa-apa. Tetapi lama kelamaan bencana yang lebih buruk akan terjadi, suatu keadaan yang membuat manusia saling berseteru satu sama lain. Ini tidak lain disebabkan oleh karena kecanduan yang membuat para kapitalis intelek ini haus akan energi yang hampir habis. Menipisnya cadangan minyak akibat penggunaan yang berlebihan membuat mereka kehilangan akal sehat lalu saling membunuh satu sama lain (perang antar kapitalis)

Tanpa kesetaraan masing-masing orang akan saling memanipulasi dan alam akan mencari keadilan dengan mengkondisikan konspirator dalam peperangan

Oleh karena itu kita harus mengusahakan kesetaraan dimanapun berada. Meminimalisir pengrusakan hutan dan menekan aktivitas yang menghambur-hamburkan energi untuk tujuan yang tidak jelas. Mengapa kesetaraan ini begitu penting? Karena manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk mengejar sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Menginginkan uang yang lebih banyak sekedar untuk membuktikan bahwa dirinyalah yang paling hebat. Artinya, secara tidak langsung ketidaksetaraan akan membuat manusia saling berkonspirasi untuk memanipulasi sebanyak-banyaknya orang semata-mata agar dirinya lebih unggul dari sesamanya. Ini adalah sikap arogan manusia yang sudah ada sejak awal kita diciptakan.

Dibalik kejadian ini, orang intelek dan kapitalis yang beroleh untung besar dari semunya itu menjadi sangat materialistis. Mereka akan mengagung-angungkan (membanggakan) kekuatan uang dan kekuasaan yang dimiliki, membangun fasilitas pribadi yang egois sehingga makhluk hidup lainnya turut disingkirkan. Bahkan hutan-hutan rimbun yang dulu ada kini telah menghilang demi kemewahan pribadi .Akibatnya alam mencari keadilan untuk mencapai titik keseimbangan sehingga terjadilah bencana alam yang menyingkirkan banyak rakya pribumi karena tidak mampu bertahan. Para konglomerat ini berpikir bahwa mereka akan selamat padahal didepannya sudah menanti bencana kemanusiaan yang paling dahsyat yang disebut dengan peperangan untuk berebut sumber daya.

Solusi masalah ini adalah kesetaraan karena semua manusia adalah anak Allah

Perilaku yang saling memanipulasi jelas bukanlah sesuatu yang menenangkan hati sebab orang-orang yang melakukannya tidak mampu lagi bahagia bahkan ketenangan tidak ada dalam dirinya. Yang dilakukannya semata-mata hanyalah untuk menutup-nutupi kegelisahan yang muncul dari dalam dirinya. Mereka sangat konsumtif akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi semata-mata untuk meredakan gejolak yang timbul dari dalam hatinya. Sebab semua manusia adalah anak Allah sehingga ketika kita menekan atau membunuh satu orang manusia baik secara langsung maupun tidak langsung maka hal tersebut akan menjadi sumber kekuatiran yang membuat diri ini tidak bisa tidur dengan tenang.

Pengertian anak Allah dan faktor penyebab kita semua adalah anak-anak-Nya

Anak adalah (1) keturunan yang kedua; (2) manusia yang masih kecil; (3) binatang yg masih kecil; (4) pohon kecil yang tumbuh pada umbi atau rumpun tumbuh-tumbuhan yang besar; (5) orang yang berasal dari atau dilahirkan di (suatu negeri, daerah, dan sebagainya); (6) orang yang termasuk dalam suatu golongan pekerjaan (keluarga dan sebagainya); 7 bagian yang kecil (pada suatu benda); (8) yang lebih kecil daripada yang lain (KBBI Luring). Jadi bisa dikatakan bahwa anak Allah adalah segala sesuatu yang merupakan bagian dari entitas yang tak terdefenisikan  yang disebut sebagai TUHAN Allah.

Jadi, karena semua hal yang ada di bumi ini adalah ciptaan Allah maka sudah sepatutnya segala sesuatu dimanfaatkan secara bijak dan tidak berlebihan (serakah). Sehingga masing-masing kehidupan terhubung satu-sama lain dalam keseimbangan yang terjaga dari generasi kegenerasi.

Berikut ini akan kami berikan beberapa alasan, mengapa semua manusia harus hidup dalam kesetaraan karena kita adalah anak-anak Allah sendiri.

  1. Manusia segambar dengan Allah.

    Bisa dikatakan bahwa Allah bentuknya sama/ mirip/ seragam/ seperti  manusia itu sendiri. Hal ini di tegaskan oleh Tuhan Yesus sendiri yang berkata bahwa “barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Seperti kata pepatah, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Dari sini sudah tersirat dengan jelas bahwa sebenarnya kita adalah anak-anak Allah sendiri sebab manusia mirip dengan Bapanya. Jadi tidak diragukan/ tidak disangsikan/ tidak dapat dibantah lagi bahwa semua orang adalah keturunan Allah.

    Seperti firman yang berbunyi demikian.
    (Kejadian  1:26) Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

    (Yohanes  14:9) Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

  2. Semua manusia terikat oleh satu nafas – yaitu nafas Allah.

    Masing-masing kita adalah anak Adam dan Hawa hanya saja budaya dan adat istiadat telah memetak-metakkan kita satu sama lain. Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang nafasnya langsung dihembuskan oleh Allah sendiri. Dimana nafas itu terus diturunkan kepada semua keturunannya hingga saat ini. Itulah nafas kebenaran yang mengalir dalam setiap aliran darah dalam tubuh ini. Nafas ini juga sekaligus akan menuntut setiap pribadi untuk melakukan dan menegakkan kebenaran di dalam setiap detik yang dilalui.

    Seperti firman yang berkata demikian.
    (Kejadian  2:7) ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

  3. Rasul Lukas menyebut Adam sebagai anak Allah.

    Ini adalah bukti konkrit bahwa nenek moyang kita jelas adalah anak Allah sendiri. Tidak ada yang tidak mirip dengan Bapanya dan tidak ada yang bentuknya tidak serupa dengan orang tuanya sendiri. Oleh karena kita adalah baik bagi kita untuk berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Hal tersebutlah yang kelak akan mengantarkan kita untuk kembali kepada Sang Pencipta di sorga yang kekal.

    Seperti firman yang bersaksi demikian.
    (Lukas 3:38) anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.

  4. Allah tidak pernah berpesan kepada kita untuk saling menguasai satu sama lain.

    Karena semua orang adalah anak Allah maka tidak ada orang yang berhak berkuasa atas orang lain selain dari Bapa kita sendiri. Satu-satunya perintah untuk menaklukkan dan menguasai hanya diperbolehkan terhadap makhluk hidup lainnya, yaitu hewan dan tumbuh-tumbuhan dan entitas lainnya selain manusia. Jadi ini adalah alasan kuat untuk memberlakukan kesetaraan bagi seluruh umat manusia.

    Seperti termuat dalam firman-Nya.
    (Kejadian 1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

  5. Yesus Kristus adalah anak Allah yang pertama-tama memberi contoh bagaimana seharusnya hidup dalam kebersamaan yang setara.

    Mungkin ada orang yang baru menyadari bahwa selama ini dia bukan siapa-siapa bahkan menurut teori evolusi manusia berkerabat dekat dengan simpanse. Bahkan beberapa ada yang mengatakan bahwa nenek moyang kita dahulu bentuk dan rupa yang hampir-hampir bersamaan dengan kera.

    Hingga akhirnya Yesus Kristus datang lalu menyatakan dirinya sebagai Anak Allah sedang seluruh murid-murid dan pengikutnya diangap sebagai sahabat dan saudara. Jadi samua manusia saudara Tuhan Yesus, yang berarti bahwa semua adalah manusia adalah anak  Allah sendiri.

    Seperti firman-Nya yang berkata.
    (Lukas  12:4)  Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

    (Matius  12:50) Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

  6. Kebenaran adalah sumber kedamaian, ketenangan, kebahagiaan dan ketenteraman hati.

    Ini adalah resep bahagia yang sederhana, yaitu lakukan kebenaran. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatanmu. Juga kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

    Jika seumur hidup kita memperjuangkan dua kebenaran ini maka bisa dipastikan bahwa tiada hari yang kita lewati tanpa kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan di dalam hati. Bahkan ketika dunia bergejolak sekalipun kita tetap mampu menghadapinya dengan santai karena kebenaran ada di pihak kita sebab hal yang benar itu adalah Allah sendiri. Jadi sudah sepantasnya bagi anak-anak Allah untuk memperjuangkannya.

  7. Menganggap orang lain lebih rendah dari kita cenderung menciptakan sifat manipulasi.

    Ketika seseorang menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya maka rasa kepedulian antar sesama anak Allah mulai berkurang bahkan meredup. Kita cenderung memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi, memanfaatkan kebodohannya untum membuat diri sendiri beruntung. Kita memanfaatkan uang yang dimiliki untuk mengendalikan kehidupan sesama manusia sekehendak hati ini. Lewat semuanya itu ada rasa senang sesaat karena keuntungan besar yang diperoleh tetapi sadarilah bahwa hal tersebut begitu dangkal.

  8. Meninggikan diri di atas sesama manusia cenderung membuat manusia lainnya iri hati.

    Iri hati itu sudah takdiri manusia sehingga tidak mungkin dihilangkan tetapi hanya bisa diminimalisir dan ditekan serendah-rendahnya agar efek sampingnya minimal. Salah satu cara menekan arogansi yang syarat kedengkian adalah dengan merendahkan diri dihadapan Allah. Cara lainnya adalah dengan tetap setia mengikuti ujian kehidupan.

    Sebagai anak Allah kita harus menyadari dan mencontoh teladan yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Yaitu setiap orang yang memiliki kelebihan maka harus juga melewati ujian kehidupan yang lebih dari orang-orang pada umumnya. Jadi, janganlah bertanya-tanya atau menjadi galau saat harta, jabatan, kekuasaan kita lebih banyak dan lebih tinggi dari orang lain: ujian kehidupan yang dialamipun lebih berat.

    Saran kami, ditengah beratnya pencobaan hidup jangan mencari penghiburan dengan menikmati gemerlapan duniawi – ini tidak menyelesaikan masalah. Pelarian semacam ini hanya akan membuat anda mengalami kegalauan yang sama saat hal tersebut terjadi lagi. Tetapi bersandarlah dan mohonkanlah kekuatan kepada Allah saja (fokus kepada Tuhan) dan tekan arogansi. Hindari terlalu berlebihan menikmati materi karena hal tersebut bisa mengganggu fokus kepada Bapa kita.

  9. Sikap yang jauh dari “kebenaran yang adalah Allah sendiri” hanya mendorong hati ini dalam kegelisahan dan kekuatiran.

    Sebagai anak-Nya sudah kodrat/ takdir kita untuk memperjuangkan kebenaran dalam seumur hidup yang dilalui. Ketahuilah bahwa ketika kita menentang kebenaran itu maka nafas Allah yang selama ini menguatkan dan menegakkan kita akan memicu efek sebaliknya. Perkataan dan perilaku (sikap) yang jahat, syarat manipulasi: jelas-jelas akan mengantarkan kita pada ketakutan, kegelisahan dan kesusahan yang tidak akan pernah berakhir.

    Memang dari tampang kita tidak akan kelihatan tetapi hati menjadi sangat bergejolak karena berbagai dosa yang diperbuat. Lalu secara otomatis manusia mulai mencari pelarian pada kenikmatan dan kemuliaan duniawi tetapi itu hanya berlangsung sesaat saja. Kebiasaan ini membuat kita sangat konsumtif yang pada akhirnya mengantarkan diri ini pada titik over dosis yang melampaui batas. Akhirnya, berbagai penyakit metabolis muncul, kecanduan terhadap minuman keras dan narkoba.

    Ketakutan, kegelisahan dan kegalauan yang muncul karena dosa  pada akhirnya membuat diri ini tidak mampu hidup tenang bahkan dalam tidur sekalipun kita merana. Keadaan ini akan terus berlanjut sebelum ada pertobatan dan niat yang tulus untuk kembali memperjuangkan kebenaran yang hakiki (mengasihi Allah dengan sepenuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri).

Andaikan semua orang menyadari bahwa kita adalah anak Allah maka masing-masing akan memperjuangkan kebenaran. Sekalipun kita adalah anak tetap saja harus juga menjaga kelestarian ciptaan lainnya disamping memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan. Ketika kebersamaan kita tidak menjunjung tinggi kesetaraan (kesejajaran tiga kekuatan utama) maka pemanfaatan sumber daya akan terkesan berlebihan. Ini terjadi karena kita menutup-nutupi dosa tersebut dengan menjadi pribadi konsumtif ditengah derasnya ujian kehidupan. Akibatnya, eksploitasi lebay terhadap sumber daya alam akan menimbulkan bencana sedangkan kegilaan terhadap budaya instan dan mudah besutan teknologi membuat manusia haus energi. Alam selalu menemukan titik keseimbangannya, jika orang serakah tidak tersisih lewat bencana alam maka kelaparan dan peperangan (bencana kemanusiaan) sudah menanti di depan.

Salam, mari jaga keseimbangan alam!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s