Kecerdasan Manusia

Hal Yang Tidak Bisa Dilakukan Orang Pintar – Jika Semua Cerdas Siapa Yang Jadi Cleaning Service – Hidup Kesetaraan!


Pekerjaan Yang Tidak Bisa Dilakukan Orang Pintar – Kalau Semua Orang Cerdas Siapa Yang Jadi Cleaning Service – Hidup Kesetaraan!

Kelebihan yang fantastis, terkadang membuat kita lupa menginjakkan kaki di bumi, cenderung lebih suka melayang-layang di atas awan gemawan yang membuat hati semakin terlena. Lantas saja keadaan inipun membuat kita lupa daratan, lupa dengan orang lain, lupa pula dengan lingkungan sekitar bahkan lupa diri. Sikap mulai saja arogan yang didorong oleh hasrat yang tidak mau kalah dari orang lain. Situasi semakin buruk saja ketika kita menyimpan dendam kepada orang yang suka membuat masalah dengan diri ini. Lantas, komitmen yang kuat mulai berkembang di dalam hati. Muncul semacam perkataan, “tunggu sampai saya sukses, akan kubuktikan bahwa akulah yang lebih baik dari semua orang.”

Jangan hanya cerdas di sekolah, cerdas juga dalam menjalani kehidupan

Sebagai orang yang cerdas, kita sebaiknya jangan hanya membina kemampuan intelektual di bidang akademik saja. Tetapi perlu juga melatih kemampuan untuk menghadapi gejolak sosial. Sebab semakin pintar seorang manusia maka semakin banyak tantangan yang dihadapinya. Bila cobaan ini tidak dihadapi dengan lapang dada maka beresiko membuat kita semakin membenci orang lain. Akibatnya, hubungan dengan beberapa orang menjadi tegang dan cenderung memanas. Keadaan ini jelas mengurangi kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan di dalam hati. Oleh karena itu, berusahalah menjalin hubungan baik kepada para pembencimu sebab kehadiran mereka sangat bermanfaat untuk membentuk kepribadianmu menjadi lebih tangguh.

Tidak perlu pusing dengan cara mereka menanggapi tetapi tetaplah berbuat baik dimulai dari hal-hal sederhana

Ketika memiliki para pembenci, berusahalah untuk selalu menanggapi sikap mereka yang menjengkelkan dengan santai. Kalau diejek diiyakan saja, saat difitnah di tanggapi datar, iyakan sambil tersenyum dan saat diabaikan tetaplah ramah. Mengapa saat diejek, kita ngangguk saja? Sebab bila menolak hal tersebut maka mulailah timbul berbagai kekesalan di dalam hati. Alasan apa kita iyakan saja saat difitnah? Sebab saat menanggapi fitnah tersebut masalahnya semakin panjang dan membuat pusing: dari awal mereka memang ingin membuat pikiranmu kacau. Demikian juga saat kita ramah tetapi diabaikan, tempuhlah situasi ini sembari bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan. Pikiran yang selalu fokus bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan adalah candu yang bisa membuatmu tetap bahagia.

Akibat fatal dendam, memanfaatkan pengetahuan kita untuk memeras/ merugikan orang lain secara diam-diam

Dendam kesumat orang-orang pintar adalah bencana besar sekelas sunami, hanya saja berlangsung dari belakang dan tanpa disadari. Inilah yang harus diwaspadai oleh setiap orang sebab dendam semacam ini hanya akan memperburuk suasana hati. Sikap pendendam ini jugalah yang membuat kita selalu saja mencari-cari cara untuk membalaskan kejahatan dengan kejahatan atau setidak-tidaknya membuat mereka membayar lunas rasa sakit yang dulu pernah dialami. Beberapa orang mewujudkannya dengan memamerkan kesuksesannya kepada orang-orang yang dahulu pernah mengejeknya. Pembalasan dendam semacam ini hanya akan membawa petaka sebab pamer adalah memberi kesempatan kepada arogansi sehingga hasrat untuk mencari uang semakin menjadi-jadi bahkan sampai melegalkan hal-hal yang salah. Satu contoh konkritnya adalah dengan memanfaatkan orang-orang bodoh untuk menghasilkan rupiah bagi orang-orang intelek.

Bukan berarti kalau cerdas maka tidak membutuhkan orang bodoh!

Inilah yang menjadi dasar inspirasi bagi orang-orang cerdas untuk memanfaatkan pihak lain. Kita seperti dedaunan pada sebuah pohon, memang masing-masing dari mereka terpisah-pisah satu sama lain tetapi semuanya dihubungkan oleh banyak ranting-ranting kecil dan besar dengan satu batang. Ukuran daun-daunnya memang saling setara satu sama lain dimana masing-masing mengambil peran yang sama untuk menyerap energi karbon lalu diubah menjadi bahan makanan. Kemudian daun, buah, batang, umbi dan bagian-bagian lainnya dimanfaatkan oleh makhluk hewan lain. Selanjutnya akan seperti itu terus hewan yang satu akan memanfaatkan hewan yang lain. Sedangkan manusia sendiri memanfaatkan tumbuhan dan hewan untuk kepentingannya masing-masing.

Jika demikian kehidupan kita (seluruh umat manusia) sama strukturnya seperti kehidupan di alam liar maka apa bedanya kecerdasan yang kita miliki? Bila orang pintar hanya ada untuk memanfaatkan sekaligus menginjak orang-orang bodoh maka lebihnya kita dari kehidupan binatang? Ketika hidup hanya kita dedikasikan untuk melakukan aksi manipulatif kepada sesama apa bedanya kita dengan para penjahat, koruptor dan para kriminal lainnya? Oleh karena itu, sudah sepantasnya lewat kepintaran yang dimiliki, kita menciptakan suatu sistem yang saling memanfaatkan dan menguntungkan satu-sama lain. Artinya, yang mendapatkan khasiatnya tidak hanya satu-dua pihak saja melainkan semua orang yang tergabung didalamnya akan diperkaya.

Arti hidup bersosial adalah kolaborasi yang setara – pendekatan keadilan sosial dari alam

Jangan pernah menirukan liarnya alam sekitar kita untuk dijadikan sebagai pedoman hidup sebab hewan dan tumbuhan tidak memiliki otak yang cukup cerdas untuk berpikir. Jika liarnya alam diaplikasikan dalam hidup sehari-hari maka kita cenderung mengeksploitasi kehidupan sesama secara berlebihan bahkan sampai tega mengakhiri kehidupannya. Oleh sebab itu, jangan meniru kesetaraan lingkungan hidup sebab perbedaan kekuatan diantara mereka sangatlah kontras. Tetapi mari menirukan kesetaraan daun-daunan hijau dalam satu pohon. Kita umpamakan, satu pohon ukurannya adalah sebuah sistem yang menopang kehidupan ribuan dedaunan hijau yang bentuk dan ukurannya hampir sama persis. Kesetaraan dedaunan hijau merupakan salah satu model keadilan sosial semacam ini ditopang sepenuhnya oleh negara (akar, ranting dan batangnya.

Satu lagi model keadilan sosial yang dapat kita saksikan disekitar adalah setelah hujan gerimis turun maka sinar matahari yang segera menerangi membentuk pelangi yang melengkung dan indah. Susunan pelangi saling sejajar dan seiras satu sama lain dimana masing-masing bagiannya membentuk pola yang sama. Satu-satunya hal yang berbeda dari sistem ini adalah warna yang mereka hasilnya sangat indah dan mempesona saat dilihat dengan mata sendiri. Kesetaraan didalamnya adalah pola, arah dan bentuk yang sama sehingga begitu menawan saat dipandang. Beginilah seharusnya kesetaraan sebuah sistem, dimana masing-masing profesi memberi warna/ corak yang khas sehingga tampak enak dan nyaman saat dipandang. Setiap orang didalamnya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengusahakan sesuatu (menurut potensinya) demi kemaslahatan seluruh anggota masyarakat.

Otak tidak bisa berbuat apa-apa tanpa otot

Di dunia ini, ada dua macam jenis manusia, yakni orang yang otaknya pintar dan orang yang ototnya kuat. Masing-masing bagian ini memiliki peran yang penting di dalam tubuh manusia. Hanya dengan cerdas saja, mustahil dapat hidup sebab tidak mampu beraktivitas dengan maksimal mewujudkan semua ide-idenya. Tetapi hanya dengan otot saja maka kita hanya akan menjadi sosok yang diperbudak oleh pihak lain. Oleh karena itu, setiap dari kita di tempat ini perlu meningkatkan kepintaran sembari memperkuat otot-otot. Jika keduanya sudah sama-sama kuat maka kitapun bisa melanjutkan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari berkreasi menurut kemampuan masing-masing. Jadi jelaslah bahwa orang pintar yang kuat otaknya tetap membutuhkan orang bodoh yang kuat ototnya sehingga masing-masing bersinergi untuk menyelesaikan tanggung jawab yang diemban.

Mungkinkah orang cerdas tidak butuh otot karena ada mesin berteknologi yang bekerja?

Benarkah mesin-mesin berteknologi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan bisa menolong orang  cerdas sehingga dengan mudahnya menginjak orang bosoh yang kuat ototnya? Ini jelas mustahil untuk dilakukan sebab alat elektronik tersebut membutuhkan minyak yang lebih untuk memasok energi yang dibutuhkan. Sedang seluruh dunia saat ini, khawatir tentang pasokan minyak beberapa puluh tahun ke depan. Sehingga banyak kalangan yang menyerukan tindakan penghematan di berbagai lini. Jadi, sekarang pilih mana, mau mengaktifkan robot-robot yang boros energi atau mempekerjakan orang-orang yang ototnya kuat tetapi kebutuhannya organik dimana selalu terjaga ketersediaannya.

Kamu pintar dan pekerjaannmu duduk-duduk saja, apa itu tidak cukup?

Bila kita banding-bandingkan maka akan menemukan bahwa pekerjaan orang-orang pintar jelas lebih mudah ketimbang pekerjaan mereka yang menggunakan otot. Bahkan orang yang cerdas biasanya hanya menempati ruangannya saja sambil menyibukkan diri dengan berbagai-bagai laporan administrasi di sana-sini. Sedangkan orang yang orientasi kerjanya pada otot cenderung menghabiskan waktu dengan bersusah-susah hingga keringat keluar dan lelah menjadi nyata. Lalu pantaskah orang yang bekerja santai di kantor lebih banyak mendapatkan gaji dan fasilitas dibandingkan dengan orang yang bekerja sambil mengeluarkan keringat? Memang lelah mengerjakan aktivitas yang menguras kekuatan pikiran, sudahkah anda mengeluarkan keringat? Demikian juga halnya, lelah yang dirasakan oleh orang yang bekerja menggunakan otot sampai mengeluarkan keringat.

Beberapa alibi dan pembelaan untuk menjawab pertanyaan dari pekerja yang intelektualnya mumpuni –

  • Pernyataan: Menurut orang yang kepintarannya tinggi ini beban yang ditanggung pekerja otot lebih ringan dari yang mereka tanggung. Sebab tidak mudah menguras otak (katanya), salah-salah dikit bisa-bisa stres.

  • Sanggahan: Kalau memang pekerja yang intelek berpikir demikian lalu mengapa tidak tukar tempat saja? Anda yang berlelah-lelah ke kebun dan biar tukang kebun yang duduk-duduk di meja keraja anda, mau?

  • Pernyataan: Pekerjaan orang-orang yang IQ-nya tinggi sangat terlalu berat untuk mengerjakan tanggung jawabnya.

  • Jawaban: Kalau begitu ceritanya, dibanyakkan saja orang yang bekerja di bagian itu sehingga lebih ringan, bagaimana, mau?

Pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang cerdas

Ada banyak pekerjaan yang ada dilingkungan sekitar kita tetapi tidak semuanya dapat diselesaikan dengan duduk bangku. Jika orang pintar tidak egois maka mereka yang otot-ototnya kuat akan menghendel semua pekerjaan tersebut. Tetapi tetap saja menurut orang yang kepintarannya tinggi ini beban yang ditanggung pekerja otot lebih ringan dari yang mereka tanggung. Sebab tidak mudah menguras otak (katanya), salah-salah dikit bisa-bisa stres. Kalau memang pekerja yang intelek berpikir demikian lalu mengapa tidak tukar tempat saja? Anda yang berlelah-lelah ke kebun dan biar tukang kebun yang duduk-duduk di meja keraja anda, mau? Atau kalau memang pekerjaan orang-orang yang IQ-nya tinggi ini sangat terlalu berat baginya maka dibanyakkan saja orang yang bekerja di bagian itu sehingga lebih ringan, bagaimana, mau? Berikut selengkapnya pekerjaan yang kami maksudkan.

  1. Mau jadi cleaning service?
  2. Bagaimana kalau nyadap karet, bisa?
  3. Mending gali parit, ada orang pejabat yang mau?
  4. Angkat kayulah dari hutan?
  5. Tukang sampah aja yups, mau?
  6. Mungkin ada yang mau jadi kuli bangunan kah?
  7. Bagaimana mau angkat barang dari satu tempat ke tempat lain, mau?
  8. Pertimbangkan juga ya untuk nyuci piring, nyuci baju udah pernah coba? Makanya dibaik-baikkan tuh perempuan di rumah.
  9. Jadi petugas kebersihan aja yang membersihkan jalanlah pak!
  10. Coba aja deh jadi pedagang keliling pasti lebih beruntung….
  11. Daripada orang cerdas duduk-duduk bosan di belakang meja, mending jadi petugas parkir aja yups….
  12. Dan masih banyak lagi, silahkan cari sendiri.

Makna kehidupan manusia adalah bersimbiosis dalam kesetaraan

Manusia tidak dapat hidup di dunia ini dengan modal pintar saja. Demikian juga mustahil otot dapat bergerak secara terkoordinasi tanpa kehadiran otak yang cerdas. Jadi pada hakekatnya dua komponen ini saling terhubung dan bersinergi satu sama lain. Tidak ada yang boleh mengatakan bahwa “saya lebih unggul darimu.” Atau “saya lebih penting darimu” juga bukan rasa “saya lebih dibutuhkan darimu.” Jika masing-masing pihak terlena melakukan perdebatan sengit niscaya tanggung jawab yang diemban tidak akan pernah selesai tepat pada waktunya. Sebab saat semuanya terpisah-pisah (tercerai-berai) maka pekerjaan sekecil apapun tidak akan pernah selesai.

Adalah baik bagi masing-masing pihak untuk saling merendahkan hati dan mengerti satu-sama lain lalu berkata, “tanpamu aku tak bernilai dan tanpaku kamu tak berharga.” Bila saja penguasa otak yakni orang-orang pintar mau merendahkan hatinya maka akan menyadari bahwa segala perintah/ arahan/ instruksi yang diberikannya tidak akan membawa dampak apa-apa jika tidak ada orang yang walau kurang cerdas tetapi kuat dan giat bekerja menggunakan tenaganya. Sedang kaum yang hanya kuat bekerja saja tidak begitu menuntut apa-apa melainkan hanya pengertian maka kesetaraan mutlak dibutuhkan. Sebab tanpa keadilan sosial orang-orang kaya akan menggunakan sumber daya secara berlebihan sehingga tidak mencukupi untuk semua orang. Akibatnya, krisis ini dan itu terus berlangsung padahal sesungguhnya orang inteleklah yang serakah dan menghabiskan kekayaan alam yang tersedia.

Salam, hidup kesetaraan!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s