Kepribadian

Taman Eden Adalah Bumi Yang Belum Rusak Oleh Keserakahan Manusia (Nafsu Yang Arogan & Ilmu Pengetahuan)


Taman Eden Adalah Bumi Yang Belum Rusak Oleh Keserakahan Manusia (Nafsu Yang Arogan & Ilmu Pengetahuan)

Sungguh, kisah-kisah di dalam Kitab Suci adalah sesuatu yang sepertinya membicarakan hal yang sangat jauh. Kita merasa bahwa hal tersebut adalah cerita masa lampau yang sungguh jauh dari kenyataan yang sedang berlangsung saat ini. Berpikir bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang kurang sinkron jika dibandingkan dengan kejadian yang sedang berlangsung sekarang/ di zaman dimana kita hidup. Tetapi, nyatanya tidak selalu begitu, justru apa yang terjadi di masa lalu adalah penggambaran dari segala peristiwa yang sedang berlangsung saat ini. Sebuah tragedi yang terus saja berulang-ulang dari waktu ke waktu dan manusia masih saja bebal karena tidak mau menundukkan arogansinya untuk belajar dari pengalaman yang terjadi.

Baru-baru ini, kami sendiri baru menyadari bahwa kisah di Taman Eden adalah pencitraan tentang keseluruhan isi bumi dari dulu  sampai sekarang. Ini memang kisah yang sangat-sangat sederhana. Saking sederhana, beberapa membacanya asal sudah lalu melupakannya begitu saja karena dianggap seperti cerita dongeng lainnya yang hanya bermanfaat bagi seorang ahli sejarah. Tetapi sesungguhnya kisah ini adalah salah satu cerita kemaknaan yang menggambarkan seluruh isi dunia ini dari awal sampai akhir. Bila kita mampu mengerti tentang hal tersebut maka akan memahami dengan benar duduk segala persoalan yang timbul di sekitar. Dan yang pasti, ketika mengetahui penyebabnya maka kitapun dimungkinkan untuk menciptakan sistem yang lebih baik lagi dari yang sudah ada saat ini.

Masalah utama manusia adalah hawa nafsu yang tidak pernah puas – selalu ingin lebih

Mau puas – ingin lebih, inilah gambaran dari kepribadian manusia itu sendiri. Sejak pertama kali kita dilahirkan ke dunia ini, ada begitu banyak keinginan yang arogan di dalam hati. Sebuah hasrat yang selalu ingin mencapai puncak, apa saja hal-hal yang tinggi yang kita lihat maka itu jugalah yang diinginkan oleh hati ini. Ketika melihat betapa besarnya gajah, kita ingin memiliki kendaraan yang besar dan tangguh bila perlu bisa mengeluarkan peluru dan api. Sewaktu menyaksikan betapa garangnya auman singa, kitapun mau memiliki motor gede dengan knalpot rusak yang bising kemana-mana. Saat melihat pohon besar menjulang tinggi, kitapun ingin membangun rumah yang lebih besar dan tinggi dari itu. Kemudian saat menyaksikan burung di udara, kitapun ingin terbang menjulang tinggi ke angkasa. Inilah yang kami maksudkan bahwa keinginan manusia tidak ada habisnya.

Persoalan ke dua yang dialami oleh seorang manusia adalah pemanfaatan ilmu pengetahuan

Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat sebenarnya anugrah Tuhan. Tetapi dibalik kekuatannya yang besar itu, kita harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan jugalah yang membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Puncak tertinggi dari keburukan ilmu adalah ketika seorang manusia tidak mengakui adanya Tuhan alias menjadi ateis. Akibat fatal lainnya dari pemanfaatan ilmu pengetahuan adalah saat menggunakannya tanpa hati nurani dan tanpa kendali. Situasi semacam ini jelas-jelas menyebabkan penyimpangan yang berpotensi mengganggu bahkan merugikan sesama manusia. Bukan hanya itu saja, ilmu inipun berpotensi besar untuk merusak lingkungan sekitar kita. Akibat negatif lainnya adalah saat kita terlalu sombong dengan semua kelebihan itu lalu dengan semena-mena merendahkan bahkan tega menindas sesama manusia lainnya.

Pada akhirnya manusia menjadi tamak (gabungan dari keduanya)

Inilah mode puncak dari dua doaa sebelumnya dari seorang manusia. Tidak ada makhluk hidup lain yang lebih serakah daripada manusia itu sendiri. Keadaan ini dibentuk dari dua kesalahan sebelumnya yang mengalami fusion lalu berubah menjadi ketamakan. Suatu sifat yang membuat manusia terus dan terus saja menimbun segala sumber daya yang ada di sekitarnya untuk kepentingannya seorang. Pengetahuan yang dimilikinya seperti melegalkan dan memuluskan dirinya untuk menguasai lalu mengumpulkan berbagai-bagai harta duniawi untuk dirinya sendiri. Ini dimulai dari saat manusia melihat berbagai-bagai benda berharga dan lain dari yang lain. Diantaranya adalah emas, intan, batu permata dan lain sebagainya. Lantas orang tersebut terus mengeksploitasi segala sesuatu sampai lingkungan sekitar rusak parah.

keinginan manusia akan berbagai-bagai barang yang berharga dan mewah telah dilengkapkan oleh penguasaan ilmu yang mempuni. Keadaan ini membuat kita dapat melakukan tindakan yang spesifik untuk menimbun lebih banyak lagi harta duniawi. Keta membuat rumah-rumah bak gedung tinggi yang besar dan megah menjulang tinggi ke angkasa. Dengan teknologi pemotong kayu, kita membabat habis berbagai-bagai pepohonan yang tinggi dan besar untuk dijadikan bahan bangunan. Lewat senjata yang ada di tangan, kita memunahkan memunahkan binatang liar dan menyeretnya sampai ke pinggiran bahkan membuatkan tempat khusus dalam kekang yang disebut dengan kebun binatang. Lewat pengetahuan yang dimiliki, kita menemukan cara untuk memanipulasi kehidupan orang lain sehingga beroleh keuntungan yang sebesar-besarnya lewat semuanya itu. Bahkan lingkungan sekitar di rusak habis-habisan untuk mengeksploitasi seluruh sumber daya yang ada.

Keserakanan pada akhirnya membuat manusia di usir Tuhan

Begitu manusia merealisasikan keinginannya untuk sama bahkan lebih tinggi dari Allah yang di dorong dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Maka tepat saat itu jugalah, nenek moyang kita diusir dari Taman Eden. Sebab arogansi yang penuh hawa nafsu ditambah dengan pengetahuan adalah awal bagi manusia untu memiliki sifat serakah. Jadi Tuhan tidak membiarkan nenek moyang kita untuk tetap berada di Taman Eden sebab arogansi plus hawa nafsu plus pengetahuan beresiko tinggi membuat Adam dan Hawa melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap segala harta duniawi yang ada di Taman Eden. Tanpa disadari, keadaan ini jugalah yang terus terjadi di bumi tempat kita berpijak. Yaitu akibat orang-orang yang serakah akan uang dan harta duniawi, lingkungan menjadi rusak lalu timbullah bencana alam bahkan bencana kemanusiaan. Sadarilah bahwa bencana alam (banjir, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, angin kencang/ badai, kekeringan, fuso) dan bencana kemanusiaan (kelaparan dan peperangan) adalah bukti nyata bahwa Tuhan telah mengusir manusia dari tanah tempatnya berpijak (Taman Eden).

Manusia diusir dari Taman Eden (bumi itu sendiri) akibat keserakahannya

Lihatlah negeri kita Indonesia, dari ujung ke ujuang dan dari atas ke bawah, bukankah ini adalah negeri gemah ripah loh jinawi? Inilah Taman Eden yang sesungguhnya sebelum gedung-gedung mewah dan jalanan yang lebar-panjang di bangun disana-sini. Tanpa kita sadari, secara masif dan bertahap telah mengubah lingkungan alamiah yang hijau dan rindang menjadi pemukiman yang elit dan berkelas. Membangun sejumlah infrastruktur yang berlebihan semata-mata demi uang. Bahkan teknologi yang terus menghasilkan polutan telah merusak udara disekitar lingkungan kita berada. Berikut selengkapnya alasan mengapa manusia diusir dari bumi tempanya berpijak alias Taman Eden.

Bumi adalah Taman Eden

Seperti yang kami sebutkan sebelumnya bahwa kisah-kisah di dalam Alkitab mencerminkan kehidupan manusia dari zaman ke zaman. Cerita itu memang sangat sederhana tetapi ada peristiwa kemaknaan dibalik kesederhanaannya. Bumi ini adalah taman eden yang dipenuhi dengan pohon buah-buahan yang lezat dan bergizi. Sedangkan air mengalir deras diantara semua pepohonan itu. Bahkan didalamnya juga terdapat  harta berharga yang disebut sebagai barang tambah: emas, batu bara, intan dan berbagai-bagai permata lainnya. Akan tetapi sikap manusia yang arogan syarat dengan hawa nafsu yang semakin lengkap dengan ilmu pengetahuan membuat diri ini menjadi serakah lalu melakukan eksploitasi besar-besar terhadap sumber daya alam. Kita ingin mencari nama di bumi ini dengan disebut sebagai orang terkaya di dunia lalu mendirikan berbagai-bagai fasilitas pribadi yang mewah dan megah sehingga merusak tatanan alamiah bumi ini.

Peristiwa di Taman Eden mencerminkan betapa merusaknya arogansi yang syarat dengan hawa nafsu itu yang dilengkapi dengan penguasaan akan ilmu pengetahuan. Sekali lagi kami tegaskan, manusia ingin cari nama dan berkuasa atas bumi ini sehingga ia dikenal turun-temurun. Ia melakukan berbagai-bagai pemanfaatan sumber daya yang berlebihan: menebang sampai ke dalam hutan, menggali sampai ke dalam bumi dan menjulang tinggi hingga ke angkasa. Semuanya ini semata-mata demi mencari nama dan dikenal oleh seluruh umat manusia secara turun-temurun. Sayang akibatnya tidak tanggung-tanggung: banjir, tanah longsor, banjir bandang, badai/ angin kencang, gagal panen dan lain sebagainya. Langkah selanjutnya adalah melakukan berbagai aksi-aksi manipulasi untuk melemahkan, memeras dan menginjak pihak lain agar dirinya sendiri beroleh keuntungan. Akibatnya peperangan, kelaparan dan pengungsi tumpah dimana-mana.

Pengertian – Taman Eden adalah bumi di masa awal yang masih alami dan asri seperti apa yang diciptakan Tuhan dimana belum rusak akibat keserakahan manusia. Ketamakan adalah hawa nafsu yang selalu ingin lebih ditambah ilmu pengetahuan). Manusia selalu menentang Allah dengan mengubah tatanan alamiah menjadi bentuk lain seperti yang diinginkan hatinya lewat ketamakan (arogansi + ilmu pengetahuan). Cara Tuhan mengusir manusia dari bumi yaitu lewat bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Kesimpulan

Marilah kita belajar dari kejadian yang telah berlangsung selama ribuan tahun yang lalu. Bercerminlah dari peristiwa di Taman Eden: akibat mengejar hawa nafsu yang ingin lebih bahkan sama seperti Tuhan (arogansi)  ditambah lagi dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki maka jadilah kita sebagai perusak sejati dari bumi ini. Karena itulah bencana alam terus terjadi dan bencana kemanusiaan mengancam generasi kita berikutnya. Oleh karena itu, mulai dari sekarang, berhentilah mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan hentikan kebiasaan yang selalu ingin lebih unggul bahkan menang dari orang lain. Sebab dua hal ini berpotensi besar membuat kita merusak lingkungan dan mengorbankan sesama manusia demi kemewahan, kemegahan dan kenyamanan belaka. Marilah menjunjung tinggi kesetaraan power (pengetahuan, pendapatan dan kekuasaan) untuk meminimalisir arogansi yang selalu ingin lebih dari orang lain. Juga alangkah baiknya jika segala yang telah diambil (dari negara) selama hidup di bumi dikembalikan lagi kepada negara tepat saat diri ini meninggal, dengan begitu keserakahan akan ditepis dari dalam diri setiap manusia.

Salam, hidup kesetaraan, kembalikan hartamu kepada negara!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.