Kepribadian

7 Alasan Tuhan Mengusir Manusia Dari Bumi (Taman Eden) – Pengetahuan Membuat Kita Serakah Dan Merusak Sehingga Menjadi Bencana Alam Dan Bencana Kemanusiaan

Alasan Tuhan Mengusir Manusia Dari Bumi (Taman Eden) - Pengetahuan Membuat Kita Serakah Dan Merusak Sehingga Menjadi Bencana Alam Dan Bencana Kemanusiaan

Segala sesuatu di bumi ini terhubung satu-sama lain. Tidak hanya sebatas itu saja, melainkan seluruh alam semesta juga terhubung yang satu dengan yang lainnya. Kisah-kisah kehidupan yang terjadi di masa lalu adalah cerminan tentang kejadian di masa depan. Oleh karena itu, jangan pernah lupakan sejarah kehidupanmu kawanku…. Pahami itu baik-baik, walaupun cerita itu sederhana dan begitu kecil, ketahuilah bahwa hal-hal kecil mengantarkan kita untuk memahami peristiwa besar. Sadarilah bahwa memahami masa lalu bisa jadi mengantarkan kita kepada sebuah pemahaman untuk menemukan solusi terbaik terhadap masalah yang kita hadapi saat ini. Sekali lagi, jangan abaikan berbagai kejadian sederhana disekitarmu, bisa jadi itu sebuah gambaran dari peristiwa besar yang akan dialami kelak.

Bumi yang hijau dan asri adalah Taman Eden

Kita kadang berpikir bahwa berbagai cerita dalam Kitab Suci hanyalah sejarah biasa tentang masa lalu manusia yang sungguh kelam. Tetapi, setelah dipahami baaik-baik, ada pesan kemaknaan yang sangat penting dibalik semua cerita tersebut. Kisah tentang Taman Eden yang melukiskan tentang betapa indahnya bumi ini. Buah-buahan ada dimana-mana dan hewan akrab dengan manusia. Tidak ada satupun binatang yang mencoba menyakiti kita sedang kebutuhan sehari-hari telah tercukupi. Sadarilah seluruh bumi ini dahulu demikian adanya, semua hijau, semua asri dan semua alami. Sayang, tangan-tangan jahil yang penuh nafsu arogan dan sepenggal ilmu, melakukan eksploitasi besar-besaran sehingga terjadilah pemanasan global: bencana alam dan bencana kemanusiaan. Jika, Taman Eden yang anda tempati saat ini kurang nyaman, ketahuilah bahwa itu akibat keserakahan.  Baca juga, Bumi adalah Taman Eden.

Sebenarnya masalah kita berputar-putar disitu-situ aja

Bisakah melihat dan merasakan dunia tempat dimana kita berpijak saat ini? Seolah-olah bumi ini terus berbicara tentang sesuatu. Ia berteriak dari sejak zaman purbakala hingga sekarang. Meraung dengan keras sampai membuat air meluap, tanah bergoyang, badai menghantam dan masih banyak lagi bencana alam lainnya yang terjadi. Tidak cukup sampai disitu saja, manusiapun kehilangan arah hidup, masing-masing mencari peruntungannya sendiri. Bagaimana biar dia semakin kaya dan semakin besar sedang orang lain semakin kecil dan miskin. Manusia dikuasai oleh arogansi, bagaimana agar dia lebih dan lebih lagi menang terus hingga berkuasa dan mengendalikan segala sesuatu. Hal-hal seperti inipun terus saja berputar-putar dan selalu berkahir dengan pemusnahan oleh alam atau mereka saling memusnahkan satu sama lain.

Masih belum kapok dengan bencana yang sudah-sudah. Semakin kaya-raya seorang manusia, semakin boros penggunannya terhadap sumber daya, semakin tinggi kemampuannya merusak hutan dan semakin gila pemanfaatannya terhadap teknologi. Semuanya itu, menyebabkan alam bergelora menuntut balas, menghancurkan apa yang dibangga-banggakan manusia  bahkan merenggut beberapa nyawa. Tetapi, tetap saja masih belum kapok, terus mengulang ketamakannya akan kenyamanan, kemegahan dan kenyamanan duniawi. Semuanya ini, diwujudkan dengan mengoperasikan mesin-mesin teknologi tingkat tinggi yang membutuhkan BBM. Pada akhirnya, masing-masing mereka saling serang untuk berperang karena kehausan akan energi (BBM) yang terbatas.

Manusia terjebak dalam masalah itu-itu saja sejak dari zaman dahulu kala

Tidak ada hal lain yang merusak kehidupan kita selain ketamakan. Kita menciptakan sebuah sistem yang sangat memelihara sikap yang arogan. Sehingga semakin banyak pula manusia yang selalu ingin lebih dari sesamanya. Merangsang suatu pola-pola dalam masyarakat yang membuat mereka ingin mengejar yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Akibatnya, budaya konsumtif tak terelakan, pemborosan sumber daya luar biasa sebab masing-masing orang mengejar yang super mewah, megah dan nyaman. Para pemimpin dan pejabatnya menjadi rool model pemborosan sumber daya. Rakyat banyakpun iri lalu berlomba-lomba untuk meraih hal yang sama. Di dalam perlombaan/ persaingan inilah sering terjadi konflik berkepanjang. Belum lagi masalah bencana alam yang akan kita hadapi berkat situasi tersebut. Hanya antara hal inilah kita berputar-putar, yaitu setiap kali sistem maju pesat maka akan serta-merta hancur oleh bencana alam  atau peperangan (bencana kemanusiaan), cepat atau lambat.

Faktor penyebab manusia diusir dari Taman Eden (Bumi)

Sekalipun dalam bagian ini, kita berbicara tentang manusia pertama yang diusir dari taman eden dahulu kala namun kita tidak sedang membicarakan masa lalu secara utuh. Melainkan merefleksikan beberapa kisah di masa lalu kemudian menghubung-hubungkannya dengan kenyataan yang sedang berlangsung saat ini. Oleh karena itu, kami mengajak para pembaca sekalian untuk serta-merta melihat dan menimbang baik-baik tentang kisah di Taman Eden yang menjadi gambaran dari perilaku umat manusia dari tahun ke tahun dan dari awal dunia ini dijadikan hingga saat ini. Berikut selengkapnya alasan mengapa manusia diusir atau lebih tepatnya dilenyapkan dari muka bumi.

  1. Tidak taat terhadap perintah Allah.

    Perintah Allah terhadap nenek moyang kita, Adam & Hawa sudah jelas. Tetapi mereka tidak fokus terhadap firman Allah tetapi lebih fokus terhadap kata-kata iblis yang menawarkan kepadanya kekuatan dan kemuliaan yang sama seperti Allah.

    Beginilah, kehidupan kita saat ini, terlena mencari harta duniawi dan kemuliaan duniawi disana-sini. Kita terlalu fokus untuk mengejar semuanya itu sehingga lupa akan firman Allah, lupa akan Hukum Taurat, lupa akan Kitab para nabi dan lupa terhadap firman yang disampaikan oleh Tuhan Yesus. Sehingga seumur hidup yang kita lalui penuh dengan dosa dimana semuanya menentang perintah dan larangan-Nya.

    Berikut ini firman yang dilupakan/ diabaikan oleh manusia.
    (Kejadian 2:16-17) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

  2. Hawa nafsu penuh arogansi, ingin sama seperti Allah.

    Keinginan memang tidak ada batas dan tidak pernah habis. Hawa nafsu yang selalu menginginkan lebih akan selalu menjebak manusia. Itulah yang terjadi dari masa-masa yang telah berlalu. Saat melihat binatang buas berlarian di padang maka kita menciptakan sepeda/ sepeda motor. Ketika menyaksikan pepohonan yang besar dan menjulang tinggi maka kita ingin memiliki rumah yang besar, mewah dan megah. Ketika melihat burung di udara maka kitapun ingin terbang kemana-mana.

    Manusia terjebak oleh pesona yang dicitrakan panca indra. Saat ada sesuatu yang waw diamatinya maka hatinya langsung menginginkan hal tersebut. Misalnya saat kita melihat indahnya Bali maka langsung ingin berkunjung ke sana. Begitu menyaksikan betapa ramainya Kota Jakarta, sontak – kitapun langsung ingin ke sana. Ketika melihat orang kaya, semua orang juga ingin kaya-raya dan sukses (sekalipun dengan mengibuli rekannya). Sewaktu melihat kehidupan para pejabat dan pemimpin yang serba glamor, Lantas kitapun langsung pengen jadi seperti itu.

    Inilah tabiat manusia sejak dari awal, sejak ia dilaharikan sampai hari matinya. Perbedaan itu memang selalu ada, tetapi perbedaan power yang terlalu kontras beresiko menimbulkan persaingan yang tinggi yang mengorbankan banyak hal. Oleh karena itu, alangkah lebih baik bagi kita untuk menyetarakan power (pengetahuan umum, pendapatan, kekuasaan) yang dimiliki untuk meminimalisir pelanggaran dan konflik.

    Berikut ini kata-kata iblis yang membuat manusia pertama ngiler.
    (Kejadian 3:4-5) Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

  3. Pengetahuan membuatnya manipulatif sampai melupakan Allah.

    Sikap yang manipulatif sudah tertanam di dalam diri kita semenjak manusia pertama diciptakan. Sampai sekarang sikap tersebut terus ada dan tetap ada yang secara tidak sadar telah membuat kita menjadi penipu ulung. Melakukan tipu muslihat di mana-mana, yang semata-mata demi menginginkan uang, harta benda, penghargaan, penghormatan dan popularitas yang lebih banyak dan lebih lama.

    Sadarilah bahwa semakin kita mengejar uang, emas, permata yang berilau-kiluan, penghargaan, penghormatan dan pujian juga popularitas. Maka semakin tinggi pula resiko untuk ketergantungan. Akibat dari sikap yang ketagihan adalah tidak dapat meninggalkan kebiasaan tersebut walau hanya sedetik saja sampai-sampai ia memanipulasi beberapa hal. Semuanya ini, semata-mata demi keuntungan pribadi sekalipun merugikan sesamanya. Padahal Allah sudah jelas berpesan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri.

    Berikut ini kata-kata Hawa yang syarat manipullasi ketika menjawab pertanyaan ular.
    (Kejadian 3:2-3) Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

  4. Ingin berkuasa terhadap sesamanya.

    Perintah Tuhan kepada manusia sangat jelas dan tegas. Kita hanya diperbolehkan untuk menaklukkan dan berkuasa atas makhluk hidup lainnya (tumbuhan dan hewan) juga lingkungan sekitar. Tetapi tidak ada satupun perintah Tuhan yang menyatakan bahwa seorang manusia atau sekelompok manusia berhak untuk berkuasa atas sesamanya. Sebab saat seorang manusia ditinggikan atas sesamanya maka besar kemungkinan, dia menjadi sombong lalu memanfaatkan hal itu untuk tujuan sempit/ salah alias bertindak sewenang-wenang. Sedang orang lain yang melihatnya akan menjadi dengki lalu berusaha mencapai hal yang sama dalam bidang lainnya sekalipun dengan jalan memanipulasi orang lain.

    Berikut firman yang menyatakan bahwa manusia tidak boleh berkuasa atas sesamanya.
    (Kejadian 1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

  5. SERAKAH – Merusak hutan secara berlebihan & Membunuh binatang secara berlebihan.

    Taman Eden adalah bumi ini yakni tempat yang sangat subur dimana Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon yang berbuah dan menarik. Sedang manusia itu sendiri akrab-dekat dengan binatang-binatang yang ada di bumi dimana Adam masing-masing menamai mereka menurut pemahamannya.

    Bisakah anda menduga, apa yang mungkin terjadi di Taman Eden ketika manusia dengan hawa nafsu yang arogan plus pengetahuan tetap ada di Taman tersebut? Ya, yang akan terjadi adalah mereka akan menebang semua pohon-pohon yang berbuah dan menarik itu demi membangun hunian yang besar bagi dirinya sendiri. Bukankah itu yang terjadi sampai sekarang? Manusia menebang pohon sampai masuk lebih dalam ke hutan belantara, semata-mata demi membangun hunian yang mewah dan megah bagi dirinya sendiri?

    Demikian juga dengan hewan-hewan yang ada di sana, pasti banyak yang akan di bunuh berlebihan, semata-mata demi melaksanakan berbagai-bagai pesta yang syarat foya-foya. Bukankah itu yang kita lakukan sampai sekarang? Bahkan ada-ada saja orang yang membunuh/ menembak burung dan hewan liar lainnya lalu membiarkan bangkainya begitu saja. Ketamakan semacam ini  jelas tidak diinginkan Tuhan agar terjadi di Taman Eden, yaitu bumi kita. Akibatnya, iapun mengusir kita dengan mengadakan berbagai-bagai bencana yang memunahkan manusia-manusia serakah.

    Adapun firman yang menunjukkan bahwa Taman Eden (bumi yang belum  rusak akan keserakahan manusia) sangat baik keadaannya.
    (Kejadian 2:9) Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

    (Kejadian 2:19) Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

  6. SERAKAH – Melakukan eksploitasi terhadap kekayaan alam.

    Taman Eden adalah tempat yang penuh emas dan permata yang indahnya luar biasa. Disana ada emas, damar bedolah dan batu krisopras. Bukankah bumi juga dahulu demikian? Bahkan gunung-gunung di timur Indonesia, permukaannya penuh emas dan tembaga, tapi lihatlah sekarang! Manusia berlomba-lomba untuk mengeksploitasinya. Menggalinya hingga ke pusat bumi yang paling dalam lalu mengeruk berbagai-bagai hal yang indah di sana. Eksploitasi PT Freeport dikenal sebagai eksploitasi emas terbesar sepanjang masa. Lalu apa yang disisakannya kelak ketika semuanya habis dikeruk? Ya, tentu saja kerusakan alam yang sangat ekstrim.

    Berikut ini adalah hal yang menunjukkan betapa kayanya Taman Eden (bumi yang belum terjamah oleh keserakahan manusia).
    (Kejadian 2:10-12) Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras.

  7. TAMAK – Ingin sama seperti allah lewat (pengetahuan) kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi yang ditawarkan teknologi.

    Betapa bodohnya manusia itu, hidupnya sudah terjaga dalam pemeliharaan Tuhan tetapi masih saja belum puas malah ingin menjadi allah atas sesamanya. Sadarilah bahwa arogansi kita yang selalu menginginkan apa yang lebih waw akan menjebak diri ini berulang kali dalam dosa. Keinginan manusia agar terlihat seperti allah diwujudkan dengan menggunakan berbagai-bagai kostum yang glamour dan super mahal (seperti yang dilakukan artis kece). Tidak hanya cukup sampai disitu saja, mereka juga membangun hunian yang serba mewah dan megah, membeli kendaraan dengan harga selangit dan masih banyak lagi aksinya yang menunjukkan bahwa dialah dewanya dewa para artis. Dimana semuanya itu dilakukan semata-mata demi pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas.

    Firman tentang kehidupan manusia yang menggunakan pengetahuan untuk menjadi sama seperti allah adalah sebagai berikut.
    (Kejadian 3:6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

    Aktivitas manusia yang ingin menyaingi Allah dengan pengetahuan yang dimilikinya juga tertulis jelas dalam pembangunan Menara Babel.
    (Kejadian 11:3-4) Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan tér gala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

Dunia ini seadanya adalah surga, yang kita kenal selama ini sebagai Taman Eden. Tanaman hijau tumbuh besar menjulang tinggi ke langit bahkan lebih tinggi dari rumah yang selalu menghasilkan buah yang menarik. Hewan-hewan di padang berkeliaran bebas dan semuanya segan juga tidak pernah menyerang manusia. Sayang hawa nafsu yang arogan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan yang berlebihan telah merusak keindahan surga yang gemah ripah loh jinawi tersebut. Keserakahan akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi membuat kita menghancurkan hutan sehingga binatang menjadi buas karena mereka kekurangan makanan. Kita menggali bumi sedalam-dalamnya demi kemilau emas dan permata yang indah-indah. Sadarilah bahwa pada saatnya nanti Tuhan akan muak dengan ketamakan tersebut maka bencana alam akan melindas manusia diatasnya. Bahkan peperangan (bencana kemanusiaan) mengancam generasi kita akibat kegilaan terhadap berbagai teknologi yang lebay. Bisakah kita mengembalikan Indonesia seperti apa adanya dan menjauhkan tangan-tangan yang serakah dari Taman Eden milik kita sendiri?

Salam, Ayo kembalikan bumi ke bentuk alaminya!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.