Internet & Media Sosial

10 Cara Teknologi Menjauhkan Suami-Istri & Memisahkannya Lalu Menjadikan Teknologi Sebagai Istri/ Suaminya


Cara Teknologi Menjauhkan dan Memisahkan Suami Dari Istri Kemudian Menjadikan Teknologi Sebagai Istri - Suaminya

Bumi ini penuh dengan buah simalakama. Hanya ada satu tetapi bisa dimanfaatkan secara positif dan secara negatif.  Tidak ada sesuatu yang benar-benar baik dan tidak ada sesuatu yang benar-benar jahat, melainkan semuanya itu bergantung bagaimana kita memakai dan memanfaatkannya. Jadi, bisa dikatakan bahwa saat sesuatu terjadi saat kita menggunakan sesuatu dan lain hal maka kesalahannya murni terletak pada diri masing-masing. Artinya, bukan kesalahan benda/ alat tersebut tetapi kesalahan sendiri. Penggunaan yang berlebihan mendekatkan kita kepada kejahatan dan penggunaan yang sewajarnya mendekatkan kita pada kebaikan. Oleh karena itu, adalah baik bagi kita semua untuk lebih berhati-hati (mawas diri) dalam berkata-kata dan berperilaku.

Pengertian Teknologi

Teknologi adalah (1) metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan; (2) keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia (KBBI Luring). Jadi bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah hasil karya manusia yang membuat segala sesuatu lebih mudah dan lebih cepat. Tidak ada peralatan elektronik yang diciptakan dengan tujuan yang salah. Semuanya itu semata-mata diperuntukkan untuk memudahkan hal-hal yang biasanya berat. Sedang, manusia jaman sekarang yang hidupnya dipenuhi dengan uang yang berlimpah-limpah memiliki kecenderungan untuk membeli barang-barang elektroni tanpa tahu efek sampingnya bagi kehidupan berumah tangga (berkeluarga).

Kami tidak mengatakan bahwa semua teknologi adalah jahat.

Seperti kami sampaikan di awal tulisan ini bahwa kita harus sadar betul dengan keadaan yang sedang dihadapi saat ini. Apapun modernisasi yang anda alami bisa saja hal tersebut berdampak baik dan dapat pula berdampak buruk. Semua itu bergantung di tangan anda masing-masing. Artinya, saat penggunaannya salah maka kita tidak sepantasnya menyalahkan barang elektronik ini dan itu sebab tangan inilah yang memakainya. Pakailah itu sewajarnya saja agar tidak menyisakan dampak buruk. Pertanyaannya sekarang, sampai dimana ukuran wajar itu? Menurut pemahaman kami, menggunakan alat elektronik yang wajar adalah hanya memanfaatkannya jika memang tidak ada lagi waktu untuk itu. Akan tetapi selama waktu anda mencukupi untuk mengerjakannya secara manual (konvensional) maka kerjakanlah itu secara konvensional sebab orang yang beraktivitas adalah orang yang bahagia.

Ketika teknologi menjadi pelarian saat ada masalah.

Setiap orang punya masalah dan setiap persoalan pastilah ada solusinya. Hanya saja beberapa orang tidak tahan dengan rasa sakit lalu tanpa pikir panjang, mereka langsung mencari-cari pelarian untuk menepis rasa itu. Mereka berpikir bahwa saat dirinya menikmati hidup maka semua masalah itu berlalu. Ada pula yang mengatakan bahwa ketika mereka merokok, mabuk-mabukan dan nge-drugs maka hal tersebut akan terlupakan di belakang, benerkah demikian? Memang berbagai kenikmatan duniawi ini akan memberi sedikit kelowongan dalam dirimu sehingga dapat merasakan kelegaan walau hanya sesaat. Tetapi, sadarilah bahwa itu sebentar saja, bahkan berlangsungnya seperti angin yang berhembus lalu dengan cepat berlalu. Bahkan ada kecenderungan mengkonsumsinya secara berulang-ulang. Tetapi ini tentunya pasi akan membuat ketergantungan hingga over dosis.

Mungkin ada juga orang yang saat dirinya ditimpa masalah, lebih memilih pelariannya untuk menikmati berbagai-bagai fasilitas berteknologi canggih yang ada disekitarnya. Misal dengan mencari pelarian sambil menonton televisi, mendengarkan radio, bermain game, surfing ke sosial media, chatting dan lain sebagainya. Semua teknologi ini pada dasarnya sama fungsinya dengan kenikmatan duniawi lainnya, yaitu dapat menghilangkan rasa sakit dan kepahitan dari dalam hati walau hanya sesaat saja. Tetapi sadarilah bahwa setelah semuanya itu, rasa yang sama akan muncul lagi secara perlahan tapi pasti. Hilang timbulnya ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan jelas saja membuat anda terus melakukan hal tersebut lalu menjadi ketergantungan. Sifat semacam ini beresiko mengantarkan anda pada hawa nafsu yang lebih lagi (menginginknkan kenikmatan dunia dengan nilai yang lebih tinggi, lebih mahal dan lebih mewah).

Banyak manusia yang mencari-cari pelarian saat menghadapi masalah semata-mata demi terselesaikannya masalah itu. Sayang, kebiasaan semacam itu malah membuat mereka semakin ketergantungan dengan hal-hal duniawi. Bahkan pada satu titik mereka akan sampai pada tahapan over dosis. Bila anda mau lebih merendahkan hati untuk melihat ke dalam diri sendiri maka akan menemukan bahwa sesungguhnya pergumulan hidup sebesar apapun dapat terselesaikan saat kita senantiasa memfokuskan pikiran kepada Tuhan sambil-sambil berbuat baik kepada sesama manusia.

Waspada ketergantungan dan cara menjaga diri dari buruknya tekanan adalah dengan fokus Tuhan dan selalu berbuat baik

Baik bagi anda untuk turut pula mengawasi sifat-sifat ketergantungan yang dimiliki. Semakin ketergantungan kita dengan dunia ini maka semakin sering memburuk suasana hati. Sebab orang yang candu terhadap sesuatu, sifatnya sangat tidak fleksibel ketika ada sesuatu yang berbeda disekitarnya. Yang kami maksudkan adalah, terbiasalah menyesuaikan diri dengan sikon sekitarmu sebab banyak orang yang menjadi labil hanya karena terlalu candu terhadap sesuatu sehingga cenderung membuat dirinya gusar, gelisah dan sedih hati saat hal tersebut tidak/ belum terjadi. Jadi, berusahalah untuk tidak terlalu berharap atau menebak masa depan sesuai keinginan sepihak tetapi fokuskan pikiran kepada Tuhan sambil bernyanyi-nyanyi memuliakan nama-Nya (bisa juga dengan berdoa dan membaca firman). Tidak lupa juga untuk selalu berbuat baik kepada siapapun mulai dari hal-hal sederhana, seperti ramah tamah.

Menebak masa depan dan mengharapkan hari esok sesuai dengan yang kita inginkan merupakan awal dari kekalutan, kegelisahan dan kegundahan hati. Oleh karena itu, berhenti fokus pada masa depan tapi fokuslah untuk mengasihi Allah dan sesama manusia.

Keluarga dan teknologi

Di zaman modern sekarang ini, hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada satupun keluarga yang tidak memiliki mesin teknologi canggih di dalam rumahnya. Paling tidak adalah radio (alat hiburan lainnya) atau alat komunikasi seperti handphone pastilah ada di dalam tempat tinggal kita. Semua barang elektronik tersebut tidak salah tetapi sadarilah bahwa semakin banyak barang elektronik di dalam rumah anda maka semakin sedikit aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang yang menghuninya. Sebab teknologi berhubungan erat dengan kenikmatan duniawi sedang saat menikmati hidup biasanya pikiran lebih banyak kosong. Akibatnya, tingkat kecerdasan anggota keluarga berangsur-angsur akan menurun dari hari ke hari. Akibatnya, kemampuan untuk mengendalikan diri saat ada masalah agak buruk dan cenderung amburadur. Sehingga dikit-dikit emosian, dikit-dikit memukul sana sini (pukul meja, tembok, melempar piring, gelas dan lain-lain). Jadi berhati-hatilah teman….

Sekali lagi kami akan menarik kronologi kejadiannya.  [1] Penggunaan alat elektronik yang tinggi dalam keluarga identik dengan menikmati hidup. [2] Biasanya saat seseorang menikmati hidup maka pikirannya kosong. [3] Terlalu banyak menikmati hidup beresiko menurunkan tingkat kecerdasan seseorang. [4] Menurunnya kecerdasan berpengaruh besar terhadap kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri. [5] Akibatnya, saat ada masalah sedikit (sepele) saja di dalam keluarga maka emosi meledak-ledak dan kekerasan terhadap benda-benda tertentu di rumah semakin intens. [6] Belum lagi resiko yang dialami akibat kecanduan dan adanya hasrat untuk keluar (cerai) demi mencari idaman hati yang lebih baik.

Cara teknologi menjauhkan & memisahkan suami dari istri dan sebaliknya – Saat suami/ istri menjadikan mesin sebagai cintanya seumur hidup

Sejak dari awal kehidupan, Tuhan telah melarang kita untuk memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan sebab beresiko menyebabkan tindakan yang super lebay dan  cenderung individualis. Kita menyangka bahwa hari-hari yang dilalui sungguh luar biasa dengan mesin-mesin berteknologi canggih yang ada di sekitar. Tetapi sayang sekali, barang elektronik tersebut telah menggantikan peran penting dari masing-masing anggota keluarga. Akibatnya, ada yang menganggur dan waktunya habis terbuang sia-sia sampai-sampai membuatnya ketagihan akan kenikmatan duniawi sehingga menjadi sangat konsumtif. Ketika sifat konsumtifnya tidak terpenuhi maka mulailah pikiran kacau, bicara sembarangan dan sikap amburadur. Akhirnya, memutuskan untuk jauh-jauhan sampai berpisah lama. Bak dikata air dan api yang tidak akan pernah menyatu hingga memutuskan untuk bercerai. Berikut ini cara teknologi menjauhkan sumai dari istri dan sebaliknya hingga seorang suami/ istri menjadikan barang elektronik sebagai pasangan hidupnya.

  1. Suami lebih suka mendengarkan berita terbaru di televisi ketimbang cerita istrinya.

    Ayah sepertinya begitu candu dengan berita ter-update, bahkan begitu bangun pagi ia lebih suka mejeng tampang di depan televisi daripada bertemu dengan istrinya/ menyapa atau anggota keluarga lainnya. Bahkan ketika pasangan hidupnya mulai curhat-curhat, dia enggan untuk mendengar dan segera melakukan pelarian dengan berkata, aduh kepalaku pusing atau aduh pekerjaanku lagi banyak atau aduh ada pejabat lagi siaran langsung dan lain sebagainya. Banyak alibi yang diumbar untuk menjauh dari cerita belahan jiwanya itu.

  2. Istri lebih suka menyuci dengan mesin dan enggan untuk berlelah.

    Istripun berkata, “buk, ini dikasih suamiku lho…. Barang baru keluaran Korea.” Memang perempuan yang begini senang minta ampun sampai mesin cuci barunya diperdengarkan kepada warga sekampung. Nggak masalah asalkan kesibukannya jelas banyak di rumah,”lah ini si kawan ngapaian saat ada mesin cuci baru, kerjaannya malah nonton intotaiment seharian.” Makanya pas suaminya pulang, “permintaannya banyak amat untuk dibelikan ini, dibelikan itu, model ini, model itu” dan lain sebagainya.

  3. Istri lebih suka memasak “tinggal cok” atau “tinggal pesan/ beli dari luar” daripada membuatnya sendiri.

    Katanya demikian, “aduh jeng masih manual ya, sekarang udah jaman modern lho…. Yang macam itu udah lama lewat.”

    Ketahuilah bahwa saat kita turut akif berperan mengambil bagian demi kebaikan anggota keluarga maka akan tercipta semacam hubungan emosional yang semakin erat. Oleh karena itu, kalau memang tidak terlalu sibuk bekerja maka alangkah lebih baik jika semuanya dilakukan tanpa teknologi. Sebab cinta itu butuh pengorbanan dan salah satu pengorbanan itu adalah dengan memasak kebutuhan anggota keluarga lainnya. Ketahuilah bahwa setiap pengorbanan yang kita lakukan adalah kebaikan yang suci dihadapan Tuhan dan manusia.

  4. Istri tidak melakukan apa-apa sebab suaminya telah menyewa pembantu.

    Satu harian ini, istrinya di depan televisi terus, udah bosan ke sana maka terjun ke dunia maya – media sosial. Terkadang, manusia salah kaprah selama menjalani hidup di dunia ini. Dia berpikir bahwa dirinya seperti pohon yang akan bahagia saat diam, duduk dan santai terus-menerus. Sadarilah bahwa kebiasaan ini justru menurunkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri. Sebab kecerdasan emosional bila didiamkan terus akan semakin lemah dan tidak akan bertahan lama (sabar) saat menghadapi cobaan hidup).

    Ini seperti seorang pahlawan yang memenangkan banyak peperangan tetapi pada suatu masa dia diangkat menjadi raja lalu tidak pernah lagi bertarung selama beberapa waktu. Suatu saat ada orang yang menantang dia untuk bertempur satu-lawan-satu dan iapun tidak ingin direndahkan lalu menerima tawaran tersebut. Lalu yang terjadi adalah, dia kalah telak oleh anak ingusan entah berantah yang baru dikenalnya selama beberapa waktu. Bahkan anak itu tidak pernah memenangkan perang apapun, tidak sebanding dengan raja yang adalah mantan pahlawan yang telah merebut kemenangan ratusan kali.

    Apa arti dibalik semuanya ini? Intinya adalah yang namanya kecerdasan manusia harus selalu dilatih dan salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan senantiasa beraktivitas melakukan hal yang bermanfaat untuk kemuliaan Tuhan dan bermanfaat bagi kebaikan sesama manusia.

  5. Suami lebih suka mempermainkan Handphone/ smartphone daripada main-main dengan istrinya.

    Aduh…. Aduh…. Ayah jaman now memang edan. Handphone/ smartphone/ laptop dan alat elektronik lainnya telah menawan hati suami.

    Mereka lebih suka mempermainkan game sexy yang ada di Google Store daripada bermain-main dengan istrinya. Saat disuruh untuk mencet-mencet keyboard smartphone/ tablet/ laptop sampai ribuan kali, mau saja dia. Tetapi ketika diminta untuk mengkusut istrinya yang kelelahan menyuci, malah ogah: jangankan dikusut, disentuh/ diraba aja ogah sebab kedua tangannya sedang sibuk mencat-mencet papan ketik. Ha-hai… 😀 Memang edan ya…. Itulah dampak buruk teknologi yang semakin menjauhkan suami dari istrinya dan sebaliknya.

  6. Istri lebih suka curhat di media sosial atau kepada teman-temannya daripada bercerita dengan suaminya.

    Ketika seorang Ibu bermasalah entah disana dan disini, ia lebih suka mengumbarnya kepada teman-teman satu geng-nya (geng ngerumpi). Ia juga lebih doyan mengadukan hal tersebut di grup-grup facebook tersembunyi dimana penghuninya adalah ibu-ibu rempong satu kampung. Demikian juga dengan seorang Ayah yang lebih suka mengumbar persoalan pribadinya kepada teman-teman di cafetaria.

    Ini adalah teknik komunikasi yang sudah tidak lagi benar di dalam keluarga. Cek-cok dalam keluarga seharusnya diselesaikan di dalam lembaga sederhana ini tanpa terlebih dahulu mengumbarnya kemana-mana. Kecuali jika persoalan tersebut tidak kunjung selesai-selesai sehingga perlu diperdengarkan kepada keluarga besar (saudara dekat lainnya). Sebaiknya jika ada masalah maka cobalah untuk menyelesaikannya sendiri. Saat tidak mampu sendiri maka ceritakanlah hal tersebut kepada pasangan hidup anda. Itulah salah satu gunanya mengapa orang menikah untuk membentuk keluarga, salah satunya untuk berbagi cerita dan masalah (curhat) bersama.

  7. Suami lebih suka mengumbar masalah pribadi dengan teman-teman di grup facebook daripada dengan istrinya.

    Demikian juga dengan seorang Ayah yang lebih suka mengumbar persoalan pribadinya kepada teman-teman di cafetaria. Mungkin juga ada yang suka mengumbar masalahnya di media sosial. Sadarilah bahwa kita cuma rakyat biasa, lain halnya dengan artis-artis Ibu Kota yang menjadi trend setter di media sosial tertentu. Setiap kali mereka cari sensasi di media sosial pastilah selalu ada bayarannya.

  8. Suami berkata, untuk apa-ku istri, toh ada pembantu di rumah.

    Kebetulan Ayah ini adalah super, bekerja sebagai pejabat di perusahaan yang mengusung teman tentang teknologi terbarukan untuk memudahkan klien saat beraktivitas. Atau mungkin dia adalah seorang pejabat publik dengan gaji luar biasa banyak sehingga bisa membeli teknologi apa saja, pembantu rumah tangga: apalagi!

    Begini-begitu lho akibatnya, ketika seorang suami sudah memiliki orang lain yang bertanggung jawab terhadap dirinya. Saat semua kebutuhan si ayah dihandel oleh mesin maka suamipun saat minta sesuatu tidak lagi langsung ke istrinya melainkan suruh-suruh pembantu. Akibatnya, istri merasa diabaikan, merasa kurang diperhatikan, merasa kurang disayang-sayang padahal ini hari Valentine lho…. Tapi tidak ada surprise apa-apa bahkan bisikan kata-kata manis “aku cinta padamu” atau “aku sayang kamu” juga tidak lagi terucap.

    Beginilah akhir tragis dari hubungan suami-istri, sebab masing-masing tidak saling berkomunikasi dan tidak saling membutuhkan satu sama lain. Melainkan semuanya sudah dihandel oleh pembantu di rumah.

  9. Suami berkata, untuk apa-ku istri, toh banyak mesin canggihku di rumah.

    Sebentar lagi kalau ada robot cantik yang pandai melakukan urusan rumah tangga keluaran Amerika pasti di beli oleh orang ini. Mengapa sih orang jaman sekarang suka banget sama mesin juga beriming-iming untuk membuat robot segala macam bentuknya? Sebab robot dan mesin “manut-manut wae.” Jadi itulah mengapa Ayah atau Ibu psikopat lebih suka dengan teknologi robotika dan barang elektronik serba canggih. Sebab sekali berucap si robot langsung menanggap “baik boss;” sekali berkata, “siap tuan” dan lain sebagainya.

    Siapapun anda saat ini diseluruh Indonesia bahkan diseluruh dunia, selalu sadari bahwa anda tidak menikah dengan robot yang tidak memiliki kelemahan sama sekali. Melainkan setiap pasangan harus menyadari bahwa dia menjalin asmara dengan kekasih yang tidak selalu sempurna. Mereka juga manusia biasa yang kadang-kadang ada masalah ini-itu sehingga harus dimengerti. Tanyakan apa masalah yang sedang dihadapi oleh pasangan atau berikan waktu kepadanya untuk membersihkan hati sambil fokus kepada Tuhan saat dia mulai tampak berubah air mukanya.  Baca juga, Kisah asmara tak seromantis lagu.

    Ingatlah kembali bahwa masalah murni sangat bermanfaat dan tepat saat anda mampu menyelesaikannya maka kebahagiaan hatimu akan meluap melebihi kebahagiaan yang dirasakan selama ini. Indahnya hidup ini saat kita mampu menyesaikan (setidaknya bertahan) dari pergumulan hidup akan membuat rasa bahagiamu meledak. Oleh karena itu, di tengah persoalan tegarlah menghadapinya tetapi tetap berusaha ramah (santun) menanggapi siapapun.

  10. Istri akan berkata, untuk apa-ku suami, toh aku bisa cari uang sendiri.

    Jaman jelas sudah berubah. Emansipasi wanita menjalar kemana-mana menghantam setiap keluarga. Ini memang ada positif dan ada juga negatifnya. Saat anda memiliki istri yang sudah bisa mandiri maka ketahuilah bahwa andalah (suaminya) yang akan dikendalikan olehnya. Terlebih ketika pendapatan Ibu lebih besar niscaya perilaku dan perkataannyapun lebih dominan daripada si Ayah. Semuanya ini memang tidak masalah asalkan keluarga tersebut dibawa ke jalan yang benar. Akan tetapi saat istri lebih dominan lalu dengan semena-mena bicaranya mulai ngawur dan menjelek-jelekkan suaminya sendiri niscaya ini sama saja dengan “meludahi muka sendiri.”

Selamat Valentine semuanya….! Bukan perkara besar ketika di rumah ada berbagai-bagai barang elektronik. Jika memang hal tersebut hanya untuk meringankan jadwal yang sangat padat/ super sibuk, silahkan saja…. Akan tetapi, penggunaan teknologi yang hanya sekedar bermanja-manja sembari menghabiskan waktu lebih banyak menikmati hidup untuk duduk di depan televisi/ smartphone/ laptop sepanjang hari, murni tidak sehat. Sadarilah bahwa kelelahan yang anda dedikasikan untuk suami/ istri dan anak-anak adalah suatu pengorbanan yang semakin membuat proses sosialisasi dan komunikasi lebih intens. Ada kedekatan emosional yang terbentuk ketika masing-masing pihak mengambil peran untuk kebaikan rumah tangga. Kedekatan inilah yang semakin membuat rasa cinta/ sayang dan perhatian terjalin secara terus-menerus dari waktu ke waktu. Ambil komitmen untuk mendasari setiap sikap di dalam berumah tangga, yaitu demi kemuliaan nama Allah dan perwujudan nyata dari tindakan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Salam, happy Valentine day!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s