Kepribadian

7 Alasan Manusia Lebih Sempurna Dari Makhluk Lainnya – Kita Bukan Apa-Apa Tanpa Ciptaan Lainnya


Alasan Manusia Lebih Sempurna Dari Makhluk Lainnya – Kita Bukan Apa-Apa Tanpa Ciptaan Lainnya

Kesombongan adalah esensi paling merusak di bumi ini. Kita bisa terjebak dalam banyak masalah karena sifat ini. Sebab suasana hati seperti ini sam saja dengan menempatkan diri lebih tinggi di atas orang lain sekalipun hal tersebut hanya dipikirkan di dalam hari. Memang awalnya sikap angkuh dapat menimbulkan rasa senang sesaat. Ia berkata dalam hatinya, wah ternyata aku masih jauh lebih baik dari orang itu, atau, aku juga lebih dihargai darinya, atau, dia itu bukan apa-apa, aku masih lebih lagi dan lain sebagainya. Memang pada awalnya kebiasaan yang arogan ini membuat kita senang rasa-rasanya bahagia. Tetapi sadarilah bahwa itu hanya sesaat saja, bila kita melebarkan mata lalu melihat lebih jauh ke seberang, menerawang masuk ke dalam internet dan melompat dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Maka sesungguhnya masih banyak orang yang lebih baik dari diri ini.

Kesombongan adalah awal ketidakpuasan

Tetapi orang sombong memang selalu banyak cara untuk memuaskan dirinya agar terkesan lebih baik dari yang lain. Ia berkata bahwa setidaknya aku lebih baik se-Indonesia; atau, setidaknya aku lebih  unggul di kota ini; atau, setidaknya aku pemenang dari semua orang dikampung ini; atau, yang penting awak juara satu RT dan lain-lain. Begitulah orang yang tinggi hati menciptakan kebahagiaannya yang semu. Ia tidak menyadari bahwa sesungguhnya tindakan tersebut telah meluluskan sifat arogan di dalam dirinya. Tanpa disadarinya, hawa nafsu yang arogan ini terus berkembang dan berkembang. Di dalam hatinya mulai muncul bibit-bibit ketidakpuasan sehingga menginginkan yang lebih baik lagi. Iapun mulai mencari-cari cara untuk melegalkan maksud hatinya yang jahat bahkan sampai menghalalkan segala cara.

Tinggi hati menggiring kita pandai menyembunyikan kejahatan tetapi kebenaran adalah segala-galanya

Ketahuilah bahwa tindakan mencari-cari kebahagiaan dengan membanggakan diri sendiri dengan segala potensi dan kemampuan yang kita miliki adalah sebuah kesalahan. Sebab kebiasaan ini membuat kita semakin ingin yang lebih lagi sekaligus haus akan pengakuan, pujian dan popularitas. Akibatnya, secara berangsur-angsur tapi pasti kehidupan kita mulai diseret dalam aksi kriminalitas. Hal ini diawali di dalam hati lalu mulut menjadi ceplas-ceplos dalam berkata-kata. Akhirnya tindakanpun menjadi terkesan jahat sekalipun kita munafik dan pandai menyembunyikan hal tersebut. Oleh karena itu, hanya cari kebahagiaanmu dengan memfokuskan pikiran untuk memuliakan naman Tuhan (bisa juga membaca firman dan berdoa). Juga jangan lupa untuk berbagi kasih kepada sesama lewat pelajaran dan pekerjaan yang kita lakukan, dimulai dari hal-hal kecil.

Kita selalu merasa lebih baik dari makhluk hidup lainnya

Benarkah kita lebih baik dari makhluk hidup lainnya? Atau benarkah manusia lebih sempurna dari spesies lainnya? Jawabannya adalah tidak sebab masing-masing dari kita memiliki peran yang tak tergantikan terhadap alam semesta. Mengapa kami berkata demikian, sebab sehebat dan sedahsyat apapun kepandaian kita, hal tersebut tidak membuat diri ini mampu menggantikan peran binatang dan tumbuhan berklorofil. Secerdas apapun teknologi yang kita bisa buat, tidak lebih efisien jika dibandingkan dengan hal-hal yang alamiah. Artinya, memang kita bisa membuat mesin yang menghasilkan udara bersih (misalnya AC), tetapi dibalik kemampuan itu, benda tersebut juga menghasilkan emisi yang besar. Tidak seperti pepohonan yang membuat udara bersih dengan sederet manfaat lainnya tanpa emisi sama-sekali.

Tuhan hadir dalam setiap ciptaan

Ada enam hari masa penciptaan tetapi lima hari sebelumnya, Allah hanya berfirman maka semuanya jadi. Tetapi khusus di hari ke enam, Ia bekerja membuat kita dari tanah lalu menghembuskan nafas-Nya ke dalam diri ini. Lalu banyak orang yang berpikir bahwa dengan begitu manusia adalah makhluk yang lebih sempurna dari yang lain sebab Allah berlelah untuk membuat kita lalu menghembuskan nafas-Nya. Sadarilah  bahwa saat Allah menciptakan makhluk hidup lain bahkan benda mati (tanah, air, udara, api dan lainnya), Ia juga menghembuskan nafas-Nya. Sebab saat seseorang berkata-kata nafasnya keluar dan itulah yang membuat suara-Nya terdengar. Jadi dalam artian bahwa di dalam setiap ciptaan, ada bagian diri Allah (nafas-Nya). Konsekuensi dari kenyataan ini adalah, kita harus benar-benar memanfaatkan ciptaan lainnya seadanya saja (cukup apa yang diperlukan hari ini) tanpa harus mengeksploitasinya secara besar-besaran.

Sekarang tergantung kita bagaimana mengaturnya

Saat kita egois dan berjalan sendiri-sendiri lalu memperlakukan makhluk hidup lainnya dengan sembarangan. Sadarilah bahwa tindakan semacam itu adalah awal dari kegagalan kita untuk mengelola bumi ini. Bukan manusia yang sempurna tetapi saat kita mampu hidup bersimbiosis bersama-sama dengan ciptaan lainnya maka tepat saat itu jugalah sistemnya sempurna. Jadi bisa dikatakan bahwa, KEBERSAMAAN YANG MENYEMPURNAKAN KITA bukan sikap egois yang berlaku semena-mena terhadap ciptaan lainnya. Mulai sekarang, marilah masing-masing untuk belajar hidup, bukan saja hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan makhluk hidup lainnya. Ketika kita mampu mengelola semuanya dengan baik dan benar sehingga keseimbangan itu terjaga maka kemakmuran akan memenhi kehidupan kita dari waktu ke waktu.

Pengelolaan yang kita lakukan rusak seiring dengan berkembangnya ketamakan.

Hawa nafsu yang arogan ditambah dengan ilmu pengetahuan adalah gabungan yang elit untuk menghancurkan segala sesuatu yang ada di muka bumi. Bahkan akibat keserakahan semacam inipun, kita sendiri akan menjadi korbannya, cepat atau lambat. Oleh sebab itu,  berhati-hatilah dengan keserakahan yang ada di dalam dirimu. Jangan  biarkan hal tersebut sempat berkuasa sehingga membuatmu melakukan eksploitasi terhadap hewan, tumbuhan dan kekayaan alam lainnya. Selalu perhatikan sikap sendiri dan dengarkanlah peringatan dari orang lain sehingga kehidupan anda tidak sampai terjerumus dalam ketamakan yang merusak segala-galanya.

Biasanya saat seseorang sudah mulai ketergantungan terhadap pujian bahkan ada kesan bahwa dirinya mulai tidak nyaman saat ada orang lain yang tidak mengakui atau terkesan merendahkan/ menghinanya. Sadarilah bahwa it adalah tanda-tanda awal dari ketamakan. Sebab begitu seseorang ketergantungan terhadap pujian duniawi maka ia akan berusaha untuk melakukan hal-hal yang terkesan berlebihan. Semuanya itu semata-mata demi dipuji oleh orang lain. Keadaan ini tidak hanya berlaku terhadap pujian saja teapi berlaku juga terhadap keingina untuk populer, kaya raya, mewah, terhaormat, dan berharga di mata orang lain. Memang mungkin perta-tama saaat anda mengejar kenikmatan dan kemuliaan duniawi semacam ini, kesannya tidak ada apa-apa. Akan tetapi sifat yang menginginkan lebih dan rasa candu yang kuat dapat membuat perilaku seseorang menyimpang karena hl tersebut.

Alasan manusia tidak sempurna dibandingkan ciptaan lainnya

Selalu bersikap rendah hati dalam menjalani hidup sebab ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita mungkin saja terkesan lebih baik dari makhluk hidup lainnya. Sadarilah bahwa hal tersebut adalah sebuah ujian untuk mengeluarkan kesombongan dari dalam dirimu sehingga lama-kelamaan ketamakan itu akan muncul juga. Berusahalah untuk menjadi pribadi yang tidak ketergantungan terhadap hal-hal duniawi dan gantungkanlah segala yang anda butuhkan dengan senantiasa memuliakan Allah dan berbagi kasih dengan sesama dalam setiap aktivitas bekerja dan belajar yang dilalui. Berikut ini selengkapnya beberapa alasan mengapa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna.

  1. Bahkan sekalipun kita manusia super mustahil bisa hidup sendiri di dunia ini.

    Misalnya saja, bagaimana kalau di hari pertama, hari ke dua, hari ke tiga, hari ke empat, hari ke lima dan hari ke enam hanya manusia saja yang diciptakan di alam semesta yang masih dalam keadaan kosong? Apa kira-kira yang akan terjadi ketika hal tersebut terjadi? Tentu saja, manusia akan mati lemas karena segala sesuatu yang dibutuhkannya tidak ada. Atau mungkin juga ada beberapa manusia yang bertahan dengan memakan sesamanya snediri (kanibal). Jadi, adalah murni bahwa sehebat-hebatnya seorang manusia, ia tidak dapat hidup sendiri di bumi/ di alam semesta ini.

  2. Kita membutuhkan makhluk lainnya untuk bertahan hidup.

    Jika memang kita sempurna maka sudah seharusnya tidak membutuhkan makhluk hidup lainnya untuk tetap hidup di dunia ini. Melainkan mampu hidup tanpa mengkonsumsi ciptaan lainnya, baik hewan maupun tumbuhan. Sadarilah bahwa saat kita mengkonsumsi bahan pangan dan daging maka tepat saat itu juga hidup ini murni ketergantungan dengan hasil bumi yaitu ciptaan lainnya. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk merasa lebih berharga dari ciptaan lainnya sebab tanpa kehadiran mereka kita bukanlah apa-apa.

  3. Kita tidak mampu menggantikan peran ciptaan lain lainnya.

    Adakah orang yang mampu menggantikan peran matahari? Atau adakah orang yang mampu menggantikan peran air, garam dan tanah? Mungkinkah ada orang yang dapat menggantikan peran tumbuhan untuk menghasilkan oksigen? Jadi, bisa dikatakan bahwa sesungguhnya manusia bukanlah apa-apa tanpa keberadaan ciptaan lainnya untuk menopang kehidupannya.

  4. Sehebat-hebatnya teknologi mesin yang kita hasilkan tetap saja tidak efektif dan efisien.

    Oh, jangan lupa juga lho teman bahwa ada banyak ilmuan di luar sana yang bisa menciptakan berbagai-bagai penemuan untuk membuat benda-benda yang sangat bermanfaat? Ya, memang hal yang seperti itu ada juga. Tetapi sadarilah bahwa manfaat yang diberikan oleh barang elektronik yang mereka ciptakan juga turut menghasilkan emisi yang menghasilkan polutan. Sedangkan biaya operasional yang mereka butuhkan untuk menjalankan mesin-mesin tersebut sangatlah besar dan tidak sebanding dengan yang alamiah dimana rata-rata gratis. Misalnya saja, orang bisa menciptakan AC untuk menggantikan peran pohon tetapi polusi yang dihasilkannya tinggi dan energi (BBM atau listrik) yang dibutuhkannya banyak.

  5. Untuk berbuat baik kita butuh orang lain dan makhluk hidup lainnya.

    Salah satu, kebenaran menuntut kita untuk berbuat baik kepada sesama manusia. Bila kita ingin memikirkan tentang kebaikan sesama maka sudah sepatunya jika kita menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Sebab jika kita serakah lalu melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap berbagai-bagai sumber daya yang tersedia maka tepat saat itu jugalah bencana alam mengancam. Akibatnya orang lain akan dirugikan baik dari segi materil maupun dari sisi moril bahkan bisa sampai menimbulkan kehilangan nyawa. Jadi, bisa dikatakan bahwa berbuat baik kepada alam sama dengan melindungi dan menjaga kelestariannya sama dengan menjaga kehidupan sesama tetap jauh dari kerugian. Saat kita jahat dan serakah terhadap alam maka tepat saat itu juga merusak lingkungan dimana akibatnya adalah bencana alam yang berpotensi merugikan sesama manusia bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.

  6. Saat ada masalah kita butuh sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

    Ketika ada sesuatu yang terjadi disekitar dan sudah mencoba menyelesaikannya dengan kemampuan/ potensi yang dimiliki tetap saja tidak memberikan hasil. Ini adalah pertanda bahwa kita membutuhkan sesama manusia atau makhluk hidup lainnya untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut. Inilah pertanda bahwa kita bukan makhluk yang sempurna. Sebab sehebat apapun kemampuan dan teknologi yang dimiliki tetap saja bekerja sama dengan makhluk hidup lain lebih efektif dan efisien. Misalnya saja dalam hal pemberantasan nyamuk, memang kita bisa membeli anti nyamuk, reket listrik, kelambu khusus dan lain sebagainya. Tetapi semuanya itu membutuhkan biaya yang lebih dan bisa saja tidak efektif. Sebab nyamuk adalah makhluk hidup yang sama seperti kita dan bisa menyesuaikan diri terhadap berbagai-bagai toksin, cepat atau lambat (ini hanya masalah waktu saja).

  7. Manusia dan makhluk hidup lainnya terlibat dalam sistem yang berputar.

    Secara tidak sadar, kehidupan kita terhubung dengan ciptaan lainnya dalam formasi energi yang berubah-ubah bentukknya. Hubungan saling ketergantungan semacam ini membuat kita terikat dalam suatu sistem yang tidak akan pernah berakhir dari generasi ke generasi. Segala sesuatu di alam semesta terlibat dalam sistem yang berputar sempurna, yaitu dari nol kembali menjadi nol. Ini adalah sebuah filosofi dimana seseorang atau suatu makhluk dapat tumbuh, berkembang dan maju selama hidup di dunia ini. Tetapi pada satu titik akan terjadi bahwa semua yang diraihnya selama hidup akan dikembalikan kepada bumi ini, tanah akan kembali kepada tanah dan debu akan kembali kepada debu.

    Ini jugalah yang menjadi dasar kami mengatakan bahwa seharusnya seseorang yang mencari keuntungan dari negara seumur hidupnya sampai ia berkembang dan maju pesat. Pada saatnya nanti segala harta benda yang diraihnya selama hidup kelak akan dikembalikan kepada negara. Dengan demikian tidak ada lagi orang yang serakah dan tamak terhadap uang dan sumber daya. Juga kebiasaan korup akan hilang lewat aksi mengembalikan semuanya.

Segala sesuatu di alam semesta terlibat dalam sistem yang berputar sempurna, yaitu dari nol kembali menjadi nol

Entah darimana muncul ungkapan bahwa manusia lebih sempurna dari makhluk hidup lainnya. Bila ada orang yang mengatakan bahwa manusia itu sempurna dan lebih sempurna dari makhluk lainnya. Tanyakanlah kepadanya, “mampukah kesempurnaan itu membuatmu mandiri hingga tidak membutuhkan makhluk hidup lainnya (ciptaan lainnya)?

Jangan sombong, jika ada orang yang menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna, itu adalah kesalahan terbesar. Berhati-hatilah terhadap ungkapan semacam itu, sebab berpotensi besar mendorong rasa tinggi hati akut dan kronis. Lihatlah sekelilingmu lalu amati kehidupan makhluk lainnya maka akan mengetahui bahwa sesungguhnya kehidupan ini bergantung kepada spesies lain. Jika anda sudah menyadari hal ini maka mulai saat ini, manfaatkanlah berbagai-bagai sumber daya yang dimiliki dengan bijak dan terpimpin. Jangan terjebak dalam keserakahan akan gemerlapan duniawi sebab ketamakan hanya akan menindas dan menghancurkan ciptaan lainnya. Manfaatkanlah segala sesuatu seadanya saja, ambil dan gunakan apa yang dibutuhkan hari ini.  Tidak perlu mengumpulkan terlalu banyak (rakus) sebab sumber daya yang dibutuhkan tersedia banyak di sekitar kita.

Salam, Kita bukan apa-apa tanpa ciptaan lainnya!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.