Ekonomi

10 Akar Keserakahan & Korupsi Adalah Kapitalisme – Semakin Kaya Raya, Semakin Bebas & Merusak

Akar Keserakahan & Korupsi Adalah Kapitalisme

Sesungguhnya sifat-sifat di dalam diri manusia muncul karena adanya sebuah sistem yang memicu aksi timbal balik yang disebut sebagai aksi-reaksi. Suatu aksi yang kita lakukan berpotensi menghasilkan reaksi baik dari diri sendiri maupun dari orang lain maupun lingkungan sekitar. Ini seperti saat kita melemparkan bola karet ke dinding maka bola tersebut akan kembali untuk menghantam/ menabrak kita. Sadar atau tidak, demikianlah sesungguhnya kehidupan kita di dunia yang fana ini. Istilah lainnya adalah “apa yang ditabur maka itu juga yang akan dituai.” Oleh karena itu, berhati-hatilah menabur atau lebih tepatnya “ekspresikan sikap dengan bijak sebab suatu saat nanti hal yang sama akan anda terima bahkan lebih lagi.”

Pengertian keserakahan, korupsi dan kapitalisme

Serakah adalah selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki; loba; tamak; rakus. Tamak adalah selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri; loba; serakah (KBBI Luring). Dua kata ini memiliki arti dan maksud yang sama, adalah selalu ingin memiliki bahkan menguasai apa yang telah dicitrakannya oleh panca indra. Bisa dikatakan bahwa sifat ini berawal dari panca indra seseorang. Saat ia melihat pohon yang tinggi maka hatinya hendak membangun rumah sebesar dan setinggi pohon. Sewaktu melihat hewan berlarian sangat cepat maka hatinya ingin menemukan mesin bertenaga kuda yang disebut sepeda motor dan mobil. Ketika menyaksikan burung-burung terbang bebas di udara maka iapun hendak menaiki pesawat terbang saat berpergian kemana-mana. Jadi, ketamakan adalah sifat yang dipicu oleh indra tetapi hatinya langsung terbayang-bayang untuk memiliki dan menguasai semua itu.

Korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain (KBBI Luring). Merupakan penggelapan materi yang bernilai demi keuntungan diri sendiri atau sekelompok orang. Ini adalah praktek ilegal yang paling lumrah diseluruh belahan bumi. Tahukah anda bahwa “kebanyakan koruptor mencuri uang dari negara dalam jumlah sangat besar dimana dia sendiri tidak mungkin menghabiskannya.” Ini adalah kenyataan bahwa manusia itu sangat rakus (tamak) karena uang yang dikorupsikannya itu tidak habis dikonsumsi bahkan sampai matipun masih banyak lagi yang tersisa. Simak juga, Alasan seseorang menjadi koruptor.

Kapitalisme adalah sistem dan paham ekonomi (perekonomian) yang modalnya (penanaman modalnya, kegiatan industrinya) bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas (KBBI Offline). Merupakan dilegalkannya kepemilikan pribadi untuk mengelola sumber daya yang tersedia. Akibat adanya kepemilikan pribadi ini maka saat mencari harta seseorang terkesan individualis dan sangat egois. Mereka cenderung ingin menguasai segala-galanya (tamak) padahal semua yang ada adalah milik bersama. Kepemilikan pribadi semacam ini juga meningkatkan potensi seseorang untuk melakukan korupsi demi memenuhi keserakahan yang bersarang dalam dirinya.

Sebelumnya kami perlu mengingatkan bahwa apa yang kami tuliskan pada bagian ini hanyalah ilustrasi/ perumpamaan/ penggambaran logis yang bisa sama atau tidak mirip dengan kehidupan kita yang sebenarnya.

Masalah nenek moyang yang tidak pernah terselesaikan sampai sekarang

Keserakahan adalah tema permasalahan yang sudah ada sejak dari dulu. Ini adalan masalah klasik yang masih saja dihadapi oleh manusia-manusia jaman sekarang.  Seperti tidak ada matinya dan tidak putus-putusnya orang yang tamak itu. Saat satu pelaku aksi ketamakan di tangkap maka akan muncul pula pelaku lainnya. Mereka mungkin berbeda dan memiliki modus yang berbeda pula tetapi sadarilah bahwa dasar mereka berbuat demikian adalah karena hatinya dipenuhi oleh ketamakan. Sekarang, semua persoalan tersebut telah sampai kepada generasi kita lalu bagaimanakah caranya untuk mengatasi hal tersebut? Pada bagian ini kami akan lebih khusus menghubungkan sifat tamak yang hanyalah suatu reaksi yang berawal dari aksi kepemilikan pribadi (kapitalisme).

Ketamakan tidak ada matinya

Seperti sebelumnya yang kami jelaskan bahwa yang namanya keserakahan berawal dari pencitraan yang dilakukan oleh ke lima indra manusia. Bisa dikatakan bahwa selama manusia mampu mengamati segala sesuatu yang ada disekelilingnya maka selama itu pula sifat-sifat yang serakah akan bermunculan. Artinya sifat ini seiras dengan hawa nafsu yang dibarengi dengan arogansi. Sesungguhnya, sampai disitu saja keinginan yang selalu menghendaki yang lebih, tidak apa-apa: apalah yang bisa dilakukan oleh seorang manusia? Tetapi lain ceritanya ketika sifat-sifat tamak ini turut pula disertai dengan kecerdasan, niscaya semakin pintar seorang manusia maka semakin merusak hawa nafsunya yang berlebih itu. Dampak kerusakan inilah yang sebenarnya harus kita antisipasi sebab tidak hanya merugikan dirinya sendiri melainkan sesama manusia bahkan lingkungan sekitar juga ikut dikorbankan.

Semakin cerdas –> semakin  kaya –> enggan berbuat baik –>  semakin serakah –> semakin merusak

Orang yang cerdas dapat mencari lebih banyak uang dengan berbagai cara. Mereka akan menemukan hal-hal yang tidak ditemukan oleh orang lain. Dapat mengatasi masalah yang pada umumnya dialami oleh orang–orang biasa. Dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang cerdas termasuk di dalamnya adalah tindakan manipulatif untuk meraih lebih banyak keuntungan bagi dirinya sendiri/ kelompoknya. Sama seperti banyak hal lainnya di dunia ini, kepintaran manusia juga seperti buah simalakama yang dapat berdampak baik dan dapat pula berdampak buruk. Apapun dampak/ akibat yang ditimbulkannya, pada umumnya, kecerdasan menghasilkan lebih banyak uang, jabatan dan kekuasaan. Artinya, semakin pintar seorang manusia maka kemungkinan besar untuk memiliki banyaak uang, jabatan dan kekuasaan. Orang-orang ini memang sangat berpengaruh terhadap suatu sistem masyarakat, sayang terkadang pengaruh itu  tidak semuanya ke arah positif tetapi ada juga yang mengarah ke hal negatif.

Kecerdasan yang identik dengan kemampuan mencari uang telah membuat kaum intelektual semakin kaya raya. Orang yang banyak uangnya itu, sebenarnya sebuah keuntungan bagi sistem tetapi yang menjadikannya kerugiaan adalah ketika mereka begitu menggilai pujian dan popularitas terhadap semua pencapaiannya. Keadaan ini membuat mereka sangat ketergantungan dengan kemuliaan duniawi, yaitu penghargaan, penghormatan, pujian dan popularitas. Ketahuilah bahwa ketika seseorang begitu candu (sangat menyukai) kemuliaan maka secara otomatis hal tersebut membuatnya segera risih terhadap ejekan/ bullya dari pihak lain. Artinya, saat mereka direndahkan orang lain maka akan cenderung membenci dan melakukan aksi balasan. Keadaan ini jelas tidak baik bagi kepribadian seorang manusia, dengan berlaku demikian berarti mereka cenderung enggan diuji oleh hal-hal kecil bahkan lebih sehingga menghindari lebih banyak kebaikan. Ini adalah pertanda buruk bagi kehidupan manusia, sebab minimnya kebaikan hati membuat seseorang menjadi individualis bahkan beresiko anti sosial.

Orang yang tibak berbuat baik kepada sesama cenderung egois dan tidak mau memikirkan kehidupan orang lain. Satu-satunya yang ada di dalam pikirannya adalah bagaiman agar dirinya beruntung lagi dan lagi. Bahkan sifat bawannya yang cenderung anti sosial dapat semakin meyakinkan dirinya agar terus melakukan praktek korup yang serakah. Keinginan untuk korupsi semakin diperkuat oleh hasrat yang tinggi terhadap kemuliaan duniawi yang sudah mengarah pada posisi yang kecanduan. Akibatnya, iapun berjalan-jalan dalam hawa nafsu yang semakin tinggi untuk terus-menerus mendapatkan sesuatu. Bahkan sekalipun ia sudah banyak mendapatkan hal-hal yang glamor dan ekstra nyaman tetapi rasa-rasanya semua itu belum cukup. Ia masih menginginkan segala sesuatu yang lain dan lebih daripada itu. Inilah yang kami maksudkan dengan keserakahan, yakni fusion antara hawa nafsu yang arogan ditambah dengan tingkat kecerdasan yang mumpuni. Sekalipun sesorang memiliki harta kekayaan yang melimpah tapi semuanya itu masih kurang dan ia masih mengejar berbagai hal sekalipun dengan melegalkan segala cara.

Semakin banyak uang –> semakin tinggi konversi sumber daya –> semakin tinggi pencemaran–> semakin boros penggunaan BBM –> bencana alam –> bencana kemanusiaan

Lantas, iapun memanfaatkan semua sumber daya yang diberikan kepadanya untuk memuaskan hasrat di dalam dirinya. Agar ia terlihat seperti Tuhan maka ia membuat seluruh penampilannya benar-benar di atas awan sebab semuanya akan ditambahkan kesan yang terasa glamour, mewah, megah dan besar. Keadaan ini lantas saja membutuhkan berbagai penggunaan sumber daya yang lebih besar dari semestinya. Bahkan ada kecenderungan lebih terkesan boros alias upaya foya-foya. Akibatnya hutan-hutan di babat habis sampai ke pinggiran, hewan-hewan di matikan bersamaan dengan musnahnya hutan, penggunaan BBM meningkat tajam dan bahan pencemar (polutan) yang dihasilkan juga sungguh tak terhingga). Jadi, bisa dikatakan bahwa penggunaan uang yang lebih banyak untuk membangun hunian mewah, membeli & mengoperasikan kendaraan berkelas,  pendingin udara yang lebih besar. Juga penggunaan barang elektronik yang lebih banyak, fasilitas hiburan yang serba mewah  dan berbagai hal lainnya. Semua ini akan terakumulasi menyebabkan kerusakan lingkungan sekaligus menimbulkan ketergantungan terhadap energi yang sangat tinggi (penggunaan minyak bumi – BBM).

Penggunaan sumber daya yang besar demi kemewahan, kemegahan dan kenyamanan pribadi tidak masalah ketika jumlah orang-orang kaya hanya beberapa. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya populasi dan semakin lamanya waktu maka  jumlah uang yang beredar di masyarakat lebih banyak. Akibatnya, jumlah orang yang kaya-raya akan semakin banyak sehingga pemakaian sumber daya sangatlah boros. Keadaan ini akan semakin parah akibat iri hati diantara masyarakat. Ada semacam gerakan perssaingan gaya hidup diantara orang-orang kaya walau sifatnya masif dan hanya terjadi di media sosial. Keadaan ini akan memicu pemborosan sumber daya yang sangat besar sehingga kerusakan lingkungan akan semakin besar saja. Efek doble-doble (multiside) dari persaingan life style, pemakaian bahan bakar yang boros dan kerusakan lingkungan menyebabkan bencana alam sekaligus krisis energi. Akhir perjalanan dari krisis minyak (energi) adalah bencana kemanusiaan atau lebih dikenal dengan peperangan.

Alasan mengapa keserakahan merupakan akar/ awal/ dampak dari kapitalisme

Apa yang kami jelaskan di atas adalah proses ketika uang menjadi alat pemuas hati manusia sehingga menyebabkan angka persaingan yang tinggi. Akibatnya, konversi sumber daya semakin tinggi yang menghasilkan berbagai-bagai barang sekaligus sampah dan polutan juga membutuhkan bahan bakar yang banyak untuk mewujudkan semuanya itu. Akibatnya, kerusakan lingkungan semakin merajalela yang berimbas pada bencana alam. Sedangkan pemakaian energi yang semakin tinggi akan menimbulkan konspirasi untuk memanipulasi orang lain bahkan meniadakan/ menghilangkan/ memusnahkan mereka lewat rentetan konspirasi fenomenal. Semuanya ini, semata-mata demi penghematan energi padahal yang memboroskan energi selama ini adalah orang-orang yang kaya raya. Berikut selengkapnya, faktor penyebab kapitalisme adalah  pemicu utama ketamakan dan kebiasaan korup di dalam masyarakat.

  1. Kapitalis identik dengan kurang kerjaan sehingga alam bawah sadar menguasai.

    Kekayaan yang luar biasa telah membuat orang-orang ini dapat membeli berbagai-bagai peralatan elektronik yang serba canggih. Tidak sampai disitu saja, mereka juga menyukai teknologi yang sifatnya otomatis sehinga dirinya hanya berucap sepatah-dua patah kata saja maka semuanya selesai. Keadaan ini membuat mereka kurang kerjaan sehingga lebih banyak menikmati hidup. Akibatnya, mereka berpikir bahwa kebahagiaan berasal dari kenyamanan, kemewahan dan kenikmatan duniawi. Ini membuat pikirannya lebih banyak kosong sehingga tingkat kecerdasan menurun dan tidak mampu menciptakan kebahagiaannya sendiri.

    Kronologi:
    pemanfaatan teknologi lebay.
    –>
    aktivitas jarang.
    –>
    lebih banyak santai & menikmati hidup.
    –>
    pikiran kosong.
    –>
    kecerdasan menurun.
    –>
    tidak bisa menciptakan kebahagiaan sendiri.
    –>
    timbullah keserakahan akan harta duniawi
    .

  2. Kaum borjus sangat sombong dalam bersikap (terlalu membanggakan harta benda yang dimiliki).

    Para kapitalis yang memiliki banyak harta benda di bandingkan orang-orang disekitarnya menjadi sangat sombong. Mereka cenderung mencari kebahagiaan lewat keangkuhannya. Memikirkan betapa lemah dan rendahnya orang lain sedang dirinya begitu powerfull dan penuh dengan kemuliaan jabatan. Keadaan ini, secara berangsur-angsur tetapi pasti membuat para pemilik modal berpikir keras untuk mempertahankan bahkan menambah kekayaannya. Tanpa disadari mereka terjebak dalam keserakahan yang teramat dalam.

    Jalan cerita:
    mengejar kebahagiaan semu.
    –>
    menyombongkan diri.
    –>
    membanggakan kekayaannya.
    –>
    tidak mau kekayaannya berkurang sedikitpun (pelit) bila perlu bertambah.
    –>
    begitu tamak terhadap sumber daya demi uang yang lebih banyak.

  3. Pemilik modal tidak tahan uji.

    Seperti yang kami sampaikan pada tulisan sebelumnya bahwa dimana ada kelebihan maka disanalah cobaan hidup lebih besar. Orang-orang yang memiliki harta benda yang lebih banyak cenderung mendapatkan ujian kehidupan lebih banyak daripada orang biasa. Tetapi, sayang sekali hal tersebut tidak membuat mereka belajar sabar dan bertahan melainkan lebih suka mengaburkan rasa sakit itu dengan menikmati gemerlapan duniawi. Akibatnya, tingkat konsumsi yang tinggi terhadap materi membuatnya sangat konsumtif. Butuh biaya yang lebih banyak untuk mengakomodasi sifat konsumtif tersebut. Inilah yang membuatnya sangat serakah terhadap uang sampai-sampai melakukan penggelapan (korupsi).

    Kronologi:
    enggan untuk diuji oleh orang lain.
    –>
    saat diuji cenderung melakukan pelarian.
    –>
    mengaburkan rasa sakit dengan menikmati hidup.
    –>
    menjadi orang yang konsumtif.
    –>
    butuh biaya besar untuk membeli ini itu.
    –>
    mencari-cari cara agar penghasilannya semakin bertambah (tamak terhadap pekerjaan misal dengan doble jobs).

  4. Kapitalis enggan berbuat baik sehingga menjadi individualis.

    Para pemilik modal enggan untuk berbagi kepada sesama bahkan senyuman saja tidak terpancar dari bibirnya saat bertemu orang lain. Mereka merasa bahwa kebaikan itu dilakukan dengan mengadakan pesta yang besar dan membagi-bagikan nasi kotak, souveni dan daging kepada orang lain. Padahal hal semacam ini hanya dilakukan sekali setahun (pas hari raya saja), itupun kalau mereka merasa beruntung. Sedang ada juga yang melakukannya sekali dalam dua-tiga-atau-lima tahun saja. Mereka enggan untuk berbuat baik setiap hari (beramah tamah) kepada orang melainkan hanya berbaik hati sekali setahun/ sekali dua tahun/ sekali tiga tahun/ sekali lima tahun saja. Akibatnya, orang-orang ini sangat individualis dan lebih mementingkan dirinya dalam berbagai situasi. Bahkan uang proyek dan uang rakyat sekalipun akan diembat karena hatinya dipenuhi dengan keserakahan.

    Kronologi:
    jarang berbuat baik.
    –>
    paling sekali setahun atau sekali lima tahun saja.
    –>
    tidak mau melakukan kebaikan yang sederhana (ramah tamah).
    –>
    menjadi individualis.
    –>
    sangat mementingkan diri sendiri.
    –>
    hak-hak rakyat dimasukkannya dalam kantong sendiri (korupsi besar-besaran dan berjamaah).

  5. Pemilik modal terlanjur ketagihan akan kenikmatan duniawi.

    Mereka sangat menggilai hal-hal materi, seolah itu telah menjadi kehidupannya yang tidak akan pernah lepas lagi. Terlalu sering menikmati hidup dalam sisi-sisi tertentu membuatnya menjadi ketergantungan. Keadaan tersebut menyebabkan mereka terjebak dalam rasa ketagihan yang kronis dan berlangsung lama. Bahkan dengan adanya dorongan media elektronik, keinginan mereka semakin berkembang saja. Saat candu dengan satu kenikmatan maka setelah beberapa waktu akan menjadi bosan lalu menginginkan yang lain sesuai dengan perputaran trend dipasaran. Keadaan ini jelas-jelas membuatnya konsumtif sehingga membutuhkan biaya besar untuk merealisasikan semuanya itu. Akibatnya, mereka sangat tamak terhadap jabatan dan proyek yang dikenal sebagai lahan untuk memanen uang yang lebih banyak. Bahkan ketika ada kesempatan untuk melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme maka itu akan dilegalkan demi memperoleh uang yang lebih banyak.

    Jalan cerita:
    kenikmatan duniawi.
    –>
    dijadikan sumber kesenangan.
    –>
    dijadikan kebanggaan.
    –>
    ketergantungan.
    –>
    sangat konsumtif.
    –>
    menginginkan hal yang lebih bernilai.
    –>
    keuangan boros.
    –>
    menempati lahan-lahan basah dipemerintahan.
    –>
    menjadi serakah lalu korupsi.

  6. Kaum berjuis terlanjur ketagihan dengan kemuliaan duniawi.

    Orang-orang yang kaya raya, oknum pengusaha serakah akan kemuliaan duniawi. Pada awalnya mereka bangga kalau kemana-mana dihargai, dihormati dan dipuji orang lain. Mereka juga bangga bila namanya masuk dibeberapa media, baik lokal maupun nasional. Lama kelamaan, merekapun sangat ketergantungan dengan keadaan tersebut. Timbul keinginan di dalam hatinya untuk tamak meraih popularitas dalam berbagai-bagai bidang. Akibatnya, mulailah sikawan cari-cari sensasi, membangun rumah super mewah, memiliki kendaraan dengan harga miliaran rupiah dipublikasikan semuanya lewat media. Bahkan makanan yang tersaji di atas mejanya sungguh banyak tetapi tidak habis dimakan dan banyak yang terbuang. Mereka juga memamerkan harga pakaian, tas, sepatu dan asesoris lainnya yang mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Semua ketenaran ini, tentu saja membutuhkan biaya besar maka ia memenuhinya dengan melakukan aksi paling serakah untuk memanipulasi sesama manusia dan sistem demi keuntungan pribadi dan kelompok.

    Kronologi:
    suka dipuji-puji orang lain.
    –>
    suka dihargai dan dihormati bak raja (lebay deh….) jika hendak kemana-mana.
    –>
    ingin menjadi orang yang populer.
    –>
    meraih popularitas dengan hidup mewah dan glamor.
    –>
    semuanya itu butuh ongkos yang tinggi.
    –>
    serakah terhadap uang lalu meraihnya dengan memanipulasi orang lain (menipu) dan memanipulasi sistem (korupsi, kolusi, nepotisme – KKN).

  7. Orang-orang kaya terlibat dalam persaingan gaya hidup yang masif dan disebar lewat media.

    Oknum kapitalis super begitu menjaga harga dirinya sehingga ada rasa untuk tidak mau kalah dengan para pesaing-pesainya. Mereka mungkin tidak menyatakan itu secara blak-blakan melainkan melakukannya secara masif lalu pamer di media sosial. Saat pengusaha saingannya memiliki gaya hidup yang baru maka dengan buru-buru, ia juga segera mempublis ke akun media sosial gaya hidup paling glamour versinya sendiri. Persaingan yang melibatkan harga diri dan gengsi ekstra tinggi seperti ini jelas-jelas membuat pemakaian akan uang yang luar biasa. Lantas mereka memenuhi semua biaya tersebut dengan melakukan aksi manipulasi (penipuan) terhadap orang lain juga dengan memanipulasi sistem (korupsi). Semuanya ini mencerminkan keserakahan akan uang sangat mumpuni.

    Kronologi:
    pengusaha yang sangat memetingkan harga diri di hadapan media dan lawan-lawannya.
    –>
    memiliki seorang rival kapitalis yang imbang-imbangan kekayaannya.
    –>
    media sosial dan warganet memicu gejolak dengan meninggikan life style salah seorang dari mereka.
    –>
    ini ditanggapi serius oleh rivalnya lalu memunculkan life style yang juga tidak kalah mewah.
    –>
    semua ini butuh biaya besar.
    –>
    memenihinya dengan menipu sesama manusia dan melakukan korupsi.

  8. Mereka cenderung menghalalkan segala cara untuk membuat dirinya sendiri kaya.

    Para kapitalis yang begitu haus akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang berlebih cenderung menghalalkan segala cara untuk mewujudkan hawa nafsunya tersebut. Mereka terlibat dalam satu konspirasi yang membuatnya untung besar. Belum cukup sampai disitu saja, mereka sangat tamak terhadap uang, emas dan kemilau permata lalu melakukan konspirasi lainnya. Aksi manipulatif yang mereka lakukan ternyata telah membuat dirinya untung besar dan dan masih ingin menimbun keuntungan dengan melakukan tipu muslihat lainnya.

    Jalan cerita:
    loba akan gemerlapan duniawi.
    –>
    cenderung menghalalkan segala cara.
    –>
    beroleh untung besar.
    –>
    masih belum puas.
    –>
    melakukan konspirasi lainnya.
    –>
    kecanduan melakukan konspirasi yang syarat manipulatif demi uang.
    –>
    secara tidak sadar keserakahan telah menguasainya sejak dari awal.

  9. Mereka terlalu kuatir akan masa depan.

    Para pemilik modal yang cerdas lalu menerawang masa depan sehingga menemukan bahwa uang dan minyak bumi adalah komoditas terpenting di masa depan. Merekapun terlalu sinis melihat jumlah penduduk lalu menganggap bahwa penambahan jumlah penduduk adalah ancaman. Orang-orang ini sangat kuatir terhadap masa depan yang semakin suram karena bahan bakar minyak yang akan habis. Padahal aktivitas mereka yang boros dan syarat foya-foyalah yang menyebabkan krisis energi tersebut. Mereka enggan untuk menghilangkan kebiasaan hidup bermewah-mewahan lalu berusaha menjalankan penipuan untuk mendapatkan uang lebih banyak dari rakyat dan turut mengkibuli sistem pemerintahan (korupsi, kolusi, nepotisme)

    Jalan cerita singkat:
    hidup foya-foya.
    –>
    menghambur-hamburkan uang.
    –>
    memakai sumber daya dengan boros.
    –>
    membuat pemakaian energi (BBM) sangat tinggi.
    –>
    timbul kekuatiran tentang ketersediaan minyak bumi di masa depan.
    –>
    berusaha mengurangi jumlah penduduk.
    –>
    menipu rakyat demi keuntungan yang lebih banyak.
    –>
    mengakali sistem yang ada dengan praktek KKN –> semuanya ini demi menguasai lebih banyak sumber daya dan uang (tamak).

  10. Harta yang mereka cari diturunkan kepada generasinya.

    Tahukah anda bahwa uang yang di cari oleh para pengusaha cerdas itu selama hidupnya sangatlah banyak. Semua itu diambil secara halu dari tangan rakyat dimana sumbernya dari pemerintah/ negara. Bahkan sekalipun ia sendiri menghabiskan waktu untuk menikmati kekayaan tersebut seumur hidup tetap saja tidak akan habis. Padahal semuanya uang tersebut asalnya dari negara dan ditimbun secara besar-besaran di rekening miliknya. Padahal kebanyakan atau sebagian dari harta benda itu dicarinya dengan melegalkan segala cara, salah satu contohnya dengan praktek KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Semua aksi ini telah merugikan rakyat luas dan juga negara yang mana utang luar negeri bukan semakin turun malahan semakin tinggi.

    Kronologi:
    kapitalis menguasai sumber daya tertentu.
    –>
    keuntungannya dimasukkan ke kantong sendiri dan kelompoknya.
    –>
    mereka sangat-sangat kaya.
    –>
    praktek konspirasi manipulasi besar-besaran bahkan melebihi apa yang sanggup dikonsumsinya hari demi hari.
    –>
    padahal semua itu tidak habis dikonsumsinya seumur hidup. –>
    harta kekayaannya akan diturunkan kepada keturunannya.

Solusi keserakahan manusia dimana salah satunya adalah praktek korup

Pada dasarnya untuk mengatasi dan mengendalikan sifat tamak yang sudah ada dalam diri manusia itu sendiri maka yang dibutuhkan adalah rekayasa sistem. Kami membagi ini dalam tiga pilihan utama dan berharap bahwa dengan memilih salah satunya maka praktek korup dan kebiasaan yang serakah lainnya bisa ditekan hingga ke dasar, berikut cara yang kami maksudkan.

  • Menerapkan kesetaraan power (kekuasaan, pendapatan dan ilmu pengetahuan umum). Juga dengan mengembalikan setiap uang yang dikumpulkan oleh seseorang (harta) kepada negara sesaat setelah ia meninggal dunia.
  • Menerapkan kesetaraan power saja (kekuasaan, ilmu pengetahuan umum dan pendapatan).
  • Hanya dengan mengembalikan setiap harta benda yang dikumpulkan seseorang selama ia hidup kepada negara tepat setelah orang tersebut meninggal dunia.
    • Dengan catatan: semua perusahaan yang dikelola oleh swasta akan dinasionalisasi menjadi milik negara alias milik kita bersama.

Dasar segala segala sesuatu di bumi ini adalah siklus. Masing-masing komponen berputar-putar saling terhubung dan menyeimbangkan satu-sama lain. Prinsip dasar dari siklus yang berputar adalah “dari nol maka akan kembali menjadi nol.” Demikian juga dengan kehidupan seorang manusia, sejak dari kecilnya ia dibentuk dalam rahim dan tidak membawa apa-apa sampai matinyapun tidak membawa apa-apa: “dari debu akan kembali menjadi debu.” Sedangkan kepemilikan pribadi (kapitalisme) cenderung membuat seseorang menimbun dan menimbun segala hartanya (serakah) untuk diri sendiri dan keturunannya. Sifat individualisme ini sangatlah egois sehingga membuatnya dan keturunannya memanfaatkan segala harta benda tersebut untuk kepenting sempit. Diantaranya adalah demi kemewahan, kemegahan dan kenyamanan pribadi. Memang saat jumlah kapitalis sedikit, hanya satu-dua keluarga saja pasti efeknya tidak begitu kentara terhadap lingkungan sekitar. Tetapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah manusia maka jumlah orang-orang kaya ini akan meningkat tajam sehingga gaya hidup mereka yang berfoya-foya dan bermewah-mewahan sangat merusak lingkungan dengan pemakaian BBM juga sangat tinggi. Pada akhirnya, semua ini akan menyebabkan bencana alam dan bencana kemanusiaan (perang). Dimana kerugiaan dan penderitaan yang sangat besar akan lebih banyak dialami oleh rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa.

Salam, hentikan kapitalisme yang merusak dan dukung sosialisme demi kegotongroyongan sejati!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.