Ekonomi

+10 Cara Mengusir Manusia Di Bumi (Taman Eden Yang Rusak) – Kita Memunahkan Diri Sendiri Lewat Keserakahan (Hawa Nafsu Yang Arogan & Ilmu Pengetahuan Yang Lebay)

Menyingkirlah manusia-manusia tamak – Sebuah Ilustrasi

Teganya  kau menata ulang ciptaan-Ku! Udah taukan akibatnya?

Hus… hus, manusia-manusia serakah, hus…

Pergi dari tanah-Ku, pergi dari bumi-Ku.

Ini adalah hasil karya-Ku, ini adalah ciptaan-Ku.

Kau hanyalah pengelola tapi malah semena-mena.

Kau hanyalah pengatur tapi malah merusak sana-sini.

Kau bukanlah apa-apa tapi malah cari nama dan pujian.

Mengubah apa yang sejak dari semula Saya ciptakan,

Menjadi ciptaan versimu sendiri.

Merombak apa yang telah Saya tata dengan rapi,

Menjadi kemewahan, kemegahan dan kenyamananmu sendiri.

Menghancurkan apa yang telah Saya atur baik-baik,

Menjadi tempat mesin-mesin berteknologi yang berasap dimana-mana.

Tau sendirikan akibatnya….

Jangan tanya mengapa bencana alam terjadi.

Jangan tanya mengapa bencna kemanusiaan – peperangan bergejolak.

Bukankah itu, hasil dari ilmu pengetahuan yang kamu bangga-banggakan?

Bukankah itu, akibat hawa nafsu dan arogansimu sendiri?

Hus… hus, manusia-manusia serakah, hus…

Cara Tuhan Mengusir Manusia Dari Bumi (Taman Eden Yang Telah Rusak)

Manusia selalu berpikir tentang perubahan dan inovasi dimana semuanya itu didasari dengan pengambangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki. Terlalu membanggakan segala ilmu yang diperoleh selama hidup lalu mengeksploitasi segala sesuatu untuk ditimbun bagi dirinya sendiri dan kelompoknya. Kita tidak memahami bahwa sesungguhnya, apa yang telah dilakukan adalah merusak komponen alamiah yang berperan penting untuk menopang kehidupan manusia. Terlalu fokus dengan kebanggaan yang dimiliki sehingga tidak lagi peduli terhadap makhluk hidup lainnya bahkan saat sesama manusia dirugikan kita lagi peduli. Yang terpenting adalah mewujudnyatakan apa yang dibanggakan di dunia ini. Akibatnya, manusia sendiri yang kewalahan karena perangkat alamiah yang menopang kehidupannya telah rusak yang memicu bencana alam. Rasa haus yang tinggi terhadap BBM meningkat tajam hingga membuat mereka saling berperang satu-sama lain.

Manusia merasa sudah sempurna lalu menimbun sampai meluap-luap dengan merugikan sesama dan mengeksploitasi lingkungan

Dengan segala kegemilangan dan penemuaannya, manusia terlalu sombong untuk membaca dan mempelajari sejarah awal penciptaan. Kita berpikir bahwa diri inilah yang menjadi pusat dari segala sesuatu yang ada di muka bumi bahkan menganggap bahwa seluruh alam semesta menceritakan tentang manusia. Karena menganggap diri sudah hebat dengan segala kepintaran yang dimiliki lantas tidak menginginkan ciptaan lain (makhluk hidup lain) disekitar. Kita merombak alam yang diciptakan Tuhan selama enam hari dengan merusaknya demi alasan pemanfaatan alias eksploitasi yang berlebihan. Padahal semua pemanfaatan itu semata-mata untuk membuat diri sendiri kaya raya melimpah-limpah. Bahkan sekalipun lumbung-lumbung harta benda yang kita miliki sudah penuh masih tettap saja ditimbun dan ditimbun lagi semata-mata untuk memuaskan keserakahan di dalam hati masing-masing.

Dengan uang yang banyak, kita memperbudak mesin dan sesama manusia

Logika kita menjadi terbalik. Manusia yang diberkahi dengan tungkai (sendi), otot dan tulang malah lebih suka duduk senang-senang menikmati hidup. Kita berpikir bahwa saat diri ini kurang kerjaan atau tidak ada kerjaan maka sudah hebat rasanya. Mengepalai banyak orang lalu menyuruh mereka bekerja keras sedangkan diri sendiri tidak melakukan apa-apa. Dengan uang yang banyak di tangan membeli berbagai-bagai mesin berteknologi tinggi (barang elektronik dan kendaraan) dimana kita memperbudak mesin sedang diri sendiri duduk santai nggak ada kerjaan selama seharian penuh. Lantas berpikir bahwa semuanya itu adalah kebanggan, yakni saat kita lebih banyak diam sedang orang lain dan teknologi berseliweran menyelesaikan aktivitasnya masing-masing. Namun dengan berlaku demikian, yakni kegiatan minim – aktivitas tidak ada, secara tidak langsung kita membodohi diri sendiri. Sebab lama-kelamaan tingkat kecerdasan menurun secara masif tetapi pasti.

Otak terbalik, berpikir bahwa gemerlapan (kenikmatan & kemuliaan) duniawi adalah sumber kedamaian dan kebahagiaan, padahal fana

Manusia menggila lalu menganggap bahwa kebahagiaannya terletak pada materi. Otaknya yang menumpul karena aktivitas terlalu minim bahkan tidak ada sama sekali malah hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan menikmati hidup terus-menerus. Untuk fokus saja pada pekerjaannya, dia tidak mampu lagi terlebih ketika ada gangguan disana sini, konsentrasinya jadi kacau balau. Orang yang tidak lagi menemukan kebahagiaan di dalam dirinya akan berburu materi dan kemuliaan duniawi. Mereka membeli barang yang mewah-mewah, membangun rumah yang jauh dari orang-orang, memamerkan kehidupannya yang glamour di media sosial. Semuanya dilakukan semata-mata demi pengakuan, pujian, penghargaan, penghormatan, dan popularitas. Padahal semuanya itu hanyalah sesaat saja, seperti angin yang berlalu, belum lima detik semuanya sudah terlupakan. Akibatnya, mereka sangat konsumtif, membeli dan membeli lagi dimana semuanyaa itu membutuhkan cost (ongkos – uang) yang lebih banyak. Melegalkan berbagai macam cara semaca-mata demi uang termasuk memanipulasi sesamanya (menipu) dan sistem (korupsi). Simak juga, Mengapa materi hanya memberi kenikmatan sesaat saja?

Manusia mengkonversi sumber daya dengan cepat lewat sistem perekonomian sehingga menyebabkan kerusakan alam dan memicu bencana alam

Semakin lama, semakin banyak orang cerdas dan semakin tinggi jumlah penduduk. Ketamakan manusia akan uang juga semakin menjadi-jadi. Mereka mengkonversi berbagai sumber daya yang biasanya dihasilkan oleh lingkungan (tumbuhan hijau) secara alamiah kedalam model industri. Mengkaburkan proses-proses alamiah semata-mata demi membuat namanya lebih dikenang dari lingkungan alami disekitarnya. Meniru peran alam lalu mengadaptasikannya ke dalam proses-proses teknologi modern semata-mata demi uang yang lebih banyak, sangat banyak. Merusak kehidupan alamiah disekitarnya (ekosistem hutan) agar penduduk kehilangan perlindungan alamiah yang asri dan gratis. Sedang produk yang dipasarkannya semakin laris manis. Padahal dengan berlaku demikian kehidupannya semakin terancam atau lebih tepatnya kehidupan masyarakat luas semakin terancam oleh bencana alam. Sudah menunggu di depan banjir, longsor, banjir bandang, kemarau panjang, kekeringan, fuso, badai (angin kencang), gelombang panas, badai elektromagnetik, badai matahari dan lain sebagainya.

Penggunaan teknologi meluas, masyarakat kehausan energi – peperangan demi merebut sumber daya

Sedang teknologi yang mereka  perjual-belikan semakin laris manis, uang yang beredar di tengah masyarakat juga semakin tinggi. Rumah-rumah mewah, megah dan luas semakin menjamur. Seluruh penduduk juga ikut-ikutan membeli dan menggantungkan kehidupannya kepada teknologi mesin. Manusia yang menggunakan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi mesin semakin menurun tingkat kecerdasannya. Akibatnya, rakyat menjadi sangat materialistik dan konsumtif. Pemakaian BBM menjadi sangat tinggi sehingga stok yang tersedia semakin menipis saja. Seluruh masyarakat yang menggantungkan perlindungannya terhadap kecanggihan teknologi mesin kehausan minyak (BBM) di tengah kelangkaan yang mendunia. Masing-masing pemerintahan ketar-ketir menghadapi krisis bahan bakar yang merebak diseantero negeri. Pejabat pertahanan dan keamanan nasional mengambil jalan kekerasan untuk mempertahankan dan memperebutkan sumber daya yang masih tersisa. Peperangan merebak dimana-mana sedang kehidupan masyarakat luas berada diujung bencana kelaparan. Belum lagi masalah wabah penyakit menular yang merebak dimana-mana. Tidak ada lagi damai dan ketenangan kecuali anda memegang senjata dan menembaki setiap orang yang mendekat (demi mempertahankan sumber daya yang tersisa)

Bumi tanpa keserakahan adalah Taman Eden

Begitulah kehidupan manusia yang berakhir dengan bencana alam dan bencana kemanusiaan (peperangan) karena tenggelam oleh keserakahan (hawa nafsu yang arogan ditambah ilmu pengetahuan dan teknologi). Manusia menentang hal-hal alamiah yang adalah ciptaan Tuhan dari awal, itulah Taman Eden yang dibicarakan di dalam Kitab Suci. Yakni bumi ini ketika masih belum dirusakkan oleh ketamakan umat manusia itu sendiri. Kita menganggap bahwa kisah di awal kehidupan manusia adalah jauh dari kenyataan masa kini. Padahal kisah di Taman Eden adalah penggambaran dari kenyataan yang sedang berlangsung di zaman sekarang. Manusia diusir dari Taman dimana semuanya sudah tersedia secara mencukupi dengan alasan demi mengejar hawa nafsu yang ingin menccapai kemuliaan yang lebih tinggi diantara sesamanya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologinya yang sempit (negatif). Itulah yang terjadi hingga sekarang dimana orang-orang tenggelam dalam hawa nafsunya yang tinggi demi kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Ia bahkan meraihnya tanpa peduli aturan, menghalalkan segala cara: memanipulasi orang lain dan merusak lingkungan sekitarnya.

Manusia yang tamak akan diusir juga, cepat atau lambat

Karena manusia serakah akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi bumi menuntut balas dan alam bergelora. Bahkan komponen alamiah yang paling lemah sekalipun, yaitu angin dan air telah mendatangkan bencana dahsyat yang merusak infrastruktur dan rumah-rumah warga bahkan nyawapun hilang sudah. Begitulah kehidupan kita yang sial oleh karena perilaku sendiri dan cenderung menentang alam dan merugikan sesama manusia.Yang berpikir bahwa dirinya sempurna dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya. Orang yang menjadikan materi yang fana sebagai alat pemuas dan sumber kebahagiaan yang semu. Manusia yang dengan sengaja merusak alam sekitarnya yang alami demi kemewahan, kenikmatan dan kenyamanan dunia. Mereka yang berbangga hati dengan hanya duduk santai tak ada kerjaan seharian. Cepat atau lambat Tuhan akan mengusir orang-orang seperti ini dari muka bumi, baik lewat bencana alam maupun lewat bencana kemanusiaan.

Segala sesuatu hidup dari nafas Allah

Marilah kita mulai menyadari dari sekarang bahwa bukan hanya manusia saja yang memiliki nafas Allah. Hindari sikap sombong dengan menganggap bahwa kita adalah makhluk yang sempurna dibandingkan ciptaan lainnya. Janganlah menganggap diri lebih tinggi dari makhluk lainnya sehingga sikap kita ke mereka cenderung semena-mena (mengekspoitasi secara berlebihan). Sadarilah bahwa masing-masing ciptaan dibentuk oleh karya firman Allah. Saat firman terucap maka nafas kehidupan keluar lalu merasuk dalam setiap ciptaan. Manusia juga mendapatkan nafas kebenaran, yakni nafas Allah itu mengalir dalam setiap tetes darah ini. Bumi juga mendapatkan nafas itu sehingga terus berputar (berotasi) dan berevolusi. Udara, air, awan dan benda-benda mati lainnya mendapatkan nafas kebenaran (nafas Allah) sehingga masing-masing terlibat dalam sistem yang berputar-putar. Jadi manfaatkan segala sesuatu tanpa menyepelekannya (menindas/ mengeksploitasi) sebab SEGALA SESUATU DI ALAM SEMESTA HIDUP oleh nafas Allah. Hargai ciptaan lainnya dengan memanfaatkannya apa adanya (apa yang dibutuhkan) saja tanpa melakukan eksploitasi untuk menimbun secara besar-besaran.

Ikuti panduanya – sebuah pendekatan

Ini lho manusia yang Saya ciptakan….

Ini panduannya, ikutlah….

Kok malah buat aturan sendiri….?

Apa yang Saya ciptakan mau ditata ulang ya….?

Berpikir bahwa kau lebih pintar dari-Ku?

Yo, wes… Lanjutkan….

Kita lihat saja nanti!

Manusia inovator sejati, perubahannya sampai di bawa mati

Manusia dengan segala kecerdasannya berpikir bahwa dia sudah sempurna adanya. Didalam hati, ia berucap, “akulah yang terhebat, makhluk hidup lain bukan apa-apa, ha… ha… ha…!” Lantas saja, manusia itu hampir-hampir memunahkan hewan liar, tanaman hijau dibabat habis hingga wilayah hutan tersisa secuil saja. Ia mulai berpikir untuk untuk menciptakan dunianya sendiri. Katanya, “bumi ini kuno, saya punya ide untuk mengubah semuanya itu. Letakkan gedung-gedung mewah disana-sini. Jalankan mesin-mesin canggih di dalam dan di luar rumah bahkan di jalan-jalan raya juga. Bersenang-senanglah dan hamburkan kekayaanmu. Santailah dan nikmati hidupmu sebab semuanya telah ditangani/ dihendel oleh penemuan-penemuan baru yang disebut sebagai mesin berteknologi.

Kita begitu membangga-banggakan kota-kota maju yang dimiliki. Menganggap bahwa itu adalah modernisasi yang syarat dengan kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi. Padahal, akibat dari semuanya itu, daerah pinggiran mengalami tekanan. Berbagai-bagai bencana alam terjadi diantara rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa.  Sedang orang-orang yang begitu mengagung-agungkan modernisasi diam dengan naman di kota-kotanya yang modern dan serba glamour. Masih belum kapok juga dengan inovasinya yang lebay, manusia terus mengadakan perubahan disana-sini. Lambat-laun tidak menyadari bahwa dirinya semakin ketergantungan sekaligus kehausan dengan energi sedang stok yang dimilikinya sangat terbatas.  Akibatnya, penghujung usianya terancam oleh perang besar untuk berebut energi dari berbagai pihak, terutama dari yang lemah. Korban perang dimana-mana tidak bisa dihindari.

Cara bencana mengusir manusia serakah dari Taman-Nya yang indah, yaitu bumi ini

Pernahkah anda memiliki taman? Entah itu disekitar rumah atau suatu kebun yang telah ditanami oleh beberapa tanaman palawija seperti timun, semangka, kacang-panjang, labu, wortel dan lain sebagainya? Kira-kira bagaimana perasaan anda ketika taman atau kebun yang anda miliki diinjak-injak oleh orang lain atau hewan liar yang sedang berkeliaran disekitarnya? Ya tentu saja hendak mengusir orang atau hewan tersebut; bukan hanya anda, kamipun akan melakukan hal yang sama jika taman dan kebun yang kami rawat dengan baik dikacaukan. TUHAN MENGUSIR KITA DARI BUMI DENGAN MEMBIARKAN MANUSIA DALAM KEDEGILAN HATINYA SAMPAI GANGGUAN KESEIMBANGAN ALAM AKAN MENELAN DAN MELENYAPKANNYA DALAM BENCANA DAHSYAT.

Berikut ini, beberapa cara bencana mengusir orang-orang tamak dari antara ciptaan lainnya.

Lewat bencana alam.

  1. Banjir melanda.

    Ini adalah bencana paling lumrah ketika pepohon dan hutan mulai dihilangkan oleh oknum yang menyebut dirinya sebagai kapitalis yang memiliki banyak uang. Ditambah lagi mereka akan menutupi permukaan tanah dengan sesuatu yang disebutnya sebagai infrastruktur yang mewah dan mengagumkan. Akibatnya terjadilah penumpukan awan yang memicu hujan deras sedang tanah-tanah tidak lagi mampu menyerap air secara maksimal karena kegemburannya telah hilang. Debit air permukaan yang mengalir di atas tanah semakin meningkat ditambah lagi semakin banyaknya wilayah yang tertutupi oleh infrastruktur dan perumahan mewah. Akhirnya sungai-sungai akan meluap dan mencapai rumah-rumah penduduk di dataran rendah yang dekat dengan bantaran sungai dan pantai.

  2. Tanah longsor mengancam.

    Orang-orang kaya-raya akan membeli kayu-kayu dari penduduk dengan harga mahal. Mereka yang tidak menyadari manfaat pohon akan menebang sana-sini demi uanya yang banyak. Saking tertariknya mereka dengan uang, kayu yang berada di daerah lereng gunung dan tebing juga turut disikat habis. Akibatnya, ketika musim hujan tiba, tanah di daerah yang tidak lagi memiliki pohon besar akan rentan terhadap pergerakan bahkan bisa berubah menjadi longsuran yang membahayakan pemukiman disekitar tempat tersebut.

  3. Banjir bandang menanti.

    Hujan lebat yang terjadi di bukit dan lereng gunung yang telah gundul akan membuat tanah di wilayah tersebut bergeser hingga terjadi longsoran. Debit air yang tinggi dari arah perbukitan dan hulu sungai menyebabkan banjir yang membawa material longsoran berupa lumpur dan batang kayu ke arah hilir. Akibatnya, rumah-rumah penduduk di dataran rendah yang terletak dekat dengan bantaran sungai akan dipenuhi oleh material lumpur dan berbagai jenis kayu dari wilayah hulu sungai.

  4. Angin kencang dan hujan deras (badai) menunggu.

    Tingginya polusi udara dan minimnya jumlah pohon telah menyebabkan zat pencemar yang terdiri dari karbon dan mineral loga memenuhi udara sekitar. Akibatnya, karbon dan mineral ini membuat udara lebih berat dan lebih lama menahan radiasi sinar matahari sehingga memicu perbedaan tekanan yang sangat kontras. Angin kencang dengan kecepatan tinggi akan menimpa wilayah tersebut bahkan ini bisa menjadi angin terkencang yang pernah ada seperti angin topan, puting beliung dan tornado. Biasanya badai yang sangat merusak ini disertai dengan hujan dan angin kencang yang menghancurkan dan menerbangkan segala sesuatu yang ada didepannya.

  5. Kemarau berkepanjangan.

    Hutan adalah pusat dari AC alamiah yang keberadaannya lebih tua daripada manusia itu sendiri. Pepohonan yang tidak lagi ada membuat udara panas secara terus-menerus. Awan yang terbentuk tidak kunjung turun menjadi hujan karena suhu udara yang tinggi. Akibatnya hujan tidak turun-turn selama berbulan-bulan. Keadaan ini membuat penduduk tidak bisa lagi berharap pada air hujan melainkan harus menggali sumur-sumur yang dalam untuk beroleh air bersih.

  6. Kekeringan menerpa.

    Hujan yang tidak kunjung turun sementara mata air yang masih tersedia juga turut mengering akibat cuaca ekstrim membuat tanah-tanah terbuka merekah. Jangankan tanaman, rumput-rumput saja di daerah tersebut tidak bisa lagi tumbuh sehingga beresiko menjadi tandus dan gersang. Lahan-lahan yang dulunya hijau dan asri akan berubah menjadi padang pasir yang gersang, cepat atau lambat.

  7. Gagal panen.

    Penggunaan pupuk kimiawi yang terlalu berlebihan membuat pH tanah berubah drastis sehingga tanaman tidak lagi tumbuh dengan subur melainkan cenderung menguning hingga layu sama-sekali. Bencana banjir selama berhari-hari yang menimpa wilayah di dataran rendah akan menyerang lahan pertanian sehingga menyebabkan gagal panen. Kemarau yang sangat panjang beresiko membuat irigasi menjadi kering sehingga tanaman kekurangan air lalu layu sia-sia.

  8. Gelombang panas/ badai elektromagnetik.

    Saat suatu wilayah kehilangan pendingin alaminya (hutan dan tanaman berklorofil) maka sinar matahari akan lebih banyak terpantul sehingga intensitasnya menjadi sangat tinggi. Belum lagi masalah polusi udara yang membuat senyawa karbon dan logam semakin meningkat dilingkungan. Alhasil semua keadaan ini menyebabkan panasnya matahari meningkatkan suhu hingga melebihi ambang batas normal. Akibatnya, tanaman, hewan dan manusia yang kekurangan cairan beresiko kehilangan harapan hidup dalam sekejap saja.

  9. Kebakaran dimana-mana.

    Hutan-hutan yang telah kehilangan populasi pepohonan yang rapat akan kehilangan kelembabannya. Matahari akan menyentuh/ mencapai tanah sehingga pemanasan yang terus menerus beresiko memicu munculnya titik api. Wilayah yang sebagian besar memiliki dedaunan dan ranting yang kering juga kaya dengan gambut akan menjadi tempat yang dapat diperkaya oleh titik api dan menjalar dengan cepat. Keadaan ini juga dipicu oleh perilaku oknum yang sengaja melakukan aksi pembakaran lahan demi mendapatkan tanah yang katanya akan menjadi subur. Padahal kerusakan yang ditimbulkan oleh pembakaran lahan lebih tinggi daripada manfaat yang diberikannya.

  10. Badai elektromagnetik.

    Keadaan ini dipicu oleh menipisnya lapisan ozon yang berperan sebagai tameng bagi bumi dari efek gelombang elektoromagnetik yang dipancarkan oleh sinar matahari. Saat radiasi elektromagnetik tingkat tinggi mampu mencapai permukaan bumi maka hal tersebut beresiko merusak berbagai-bagai instalasi listrik hingga membuat perangkat elektronik tidak lagi berfungsi. Bayangkan bagaimana jadinya kekuatan gelombang elektromagnetik yang mampu menyeret bumi berevolusi, saat kekuatan sebesar itu mencapai permukaan?

    Bencana kemanusiaan.

  11. Penyakit merajalela.

    Manusia berada diambang krisis energi. Kerusakan lingkungan yang semakin parah membuat manusia sangat ketergantungan dengan BBM untuk melindungi dirinya dari kerasnya alam (cuaca ekstrim). Matahari yang sangat menyengat dan membakar membuat manusia tetap di dalam rumah dilindungi oleh mesin-mesin pendingin udara yang membutuhkan banyak listrik. Beberapa oknum kapitalis mulai berpikir keras untuk melakukan pengurangan jumlah penduduk. Dengan sengaja, mereka akan menyebarkan wabah penyakit tertentu yang menyerang dan mematikan dengan cepat. Mereka menganggap itu sebagai seleksi alam padahal merekalah dalang dibalik semua peristiwa tersebut.

  12. Kelaparan melemahkan.

    Alam yang tidak lagi memberikan hasilnya sebab tanah-tanah telah berubah menjadi gersang memaksa manusia melakukan pertanian di dalam gedung. Sedang masyarakat telah berada diujung krisis energi yang memaksa mereka untuk mengurangi penggunaan listrik. Pasokan listrik di wilayah yang melakukan pertanian dalam gedung turut dikurangi. Akibatnya beberapa lantai tidak dapat dioperasikan bahkan beberapa lainnya memberikan hasil panen yang tidak maksimal. Akibatnya pasokan pangan akan dikurangi dengan menaikkan harga-harga bahan makanan dan minuman. Keadaan ini membuat rakyat jelata yang tidak punya dana lebih akan kehilangan kesempatan hidup karena tenggelam dalam bencana kelaparan yang merajalela.

  13. Perkelahian dan adu jotos merebak hingga peperangan.

    Kekerasan meluas di dalam masyarakat oleh karena kebutuhan ekonomi yang tidak lagi mencukupi. Manusia akan hidup dalam kelompok kecil yang tidak punya aturan (yang kuat berkuasa). Banyak orang akan beralih profesi menjadi preman, mereka akan menyerang pusat pertokoan dan lumbung-lumbung yang dikenal masih menyimpan stok makanan.

    Sedang pemerintah sibuk melindungi para pejabatnya dari kekerasan yang merebak dijalanan. Tidak ada lagi aturan untuk melindungi sumber daya yang tersisa, setiap yang mendekat pasti akan menghadapi timah panas. Bahkan keadaan ini beresiko meluas antar negara untuk saling berebut minyak bumi yang diketahui masih tersedia dalam stok yang cukup untuk beberapa bulan bahkan tahun ke depan.

  14. Akhir dari segala sesuatu : Badai matahari.

    Ada yang mengatakan bahwa di luar atmosfer bumi, radiasi sinar matahari bisa melebihi 40000C. Tetapi intensitas sebesar itu telah ditahan banyak oleh lapisan pelindung atmosfer yang sangat tebal. Udara yang senantiasa dihasilkan oleh klorofil membuat atmosfer selalu ada untuk menahan imbang suhu yang tinggi tersebut. Selain tanaman hijau, atmosfer juga turut diproduksi oleh aktivitas makhluk hidup dan penguapan yang terjadi dilautan yang luas.

    Kekerasan dan peperangan yang merebak di mana-mana telah menimbulkan asap dimana-mana. Kota-kota yang dahulu besar dan megah telah luluh lantak dan api dimana-mana. Berbagai-bagai zat pencemar (karbon dan logam) telah meningkatkan suhu & polusi udara. Sedangkan hutan-hutan yang masih tersisa turut pula terbakar oleh karena pengaruh intensitas sinar matahari yang sangat tinggi. Akibatnya, selimut pelindung bumi yang dikenal sebagai atmosfer tidak lagi ada sehingga sinar matahari yang sangat kuat menyebabkan badai matahari yang membakar segala sesuatu yang ada di atas permukaan bumi. Bahkan para kapitalis yang bersembunyi di dalam bunker raksasa yang dalam sekalipun tidak akan terlindungi dari panasnya intensitas matahari.

Kesimpulan I – Menghargai ciptaan lainnya dengan memanfaatkannya seadanya

Tuhan hadir dalam setiap ciptaan-Nya, itulah sebabnya bumi: tanah, udara, air; matahari dan lain sebagainya senantiasa berputar dalam siklus kehidupannya masing-masing. Jika saja kita mau lebih peka merasakan hal tersebut niscaya ada keengganan untuk melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap lingkungan. Tetapi bagaimana seseorang bisa menghargai lingkungan hidup sedangkan sesama manusia saja turut dikibuli, dilemahkan dan ditindas. Jelaslah bahwa jika kita peduli dengan kehidupan orang lain maka keasrian lingkungan sekitar akan dijaga baik-baik. Sebab tumbuhan hijau pada khususnya merupakan komponen yang mengimbangi aktivitas manusia di bumi ini. Jaga hati dari hawa nafsu yang arogan dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian untuk kemuliaan nama-Nya. Manfaatkan kepintaran (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang dimiliki dengan mengasihi sesama seperti diri sendiri alias memberlakukan kesetaraan di bidang pengetahuan umum, pendapatan dan kekuasaan. Alhasil keberadaan umat manusia di bumi ini akan berkembang dan maju bersama tanpa harus mengorbankan ciptaan lainnya termasuk sesama manusia.

Kesimpulan II – Kita mengusir diri sendiri karena tidak mampu memanajemen sumber daya yang ada di bumi

Kita berpikir bahwa Tuhan itu tidak nyata, Dia pribadi yang tidak bisa diidentifikasikan. Padahal Dia mencerminkan sebagian diri-Nya lewat berbagai-bagai ciptaan-Nya. Ketika Ia berfirman, nafas-Nya mengalir dalam setiap ciptaan yang terbentuk. Tuhan telah memberikan kepada kita tempat tinggal, yaitu bumi yang sempurna bahkan untuk generasi yang berikutnya juga. Tetapi, manusia itu tamak dan cenderung tidak menerima karya Allah atas alam semesta apa adanya. Kita lebih suka berdiam diri lalu memperbudak sesama manusia dan teknologi untuk mengerjakan segala sesuatu. Akibatnya, otak menumpul dan hidup sangat ketagihan dengan kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Dengan dalil kreativitas, inovasi dan kolaborasi yang sempit, kita menata ulang ciptaan secara ekstrim hingga merusak tatanan lingkungan yang seimbang. Akibatnya YANG PALING LEMAH DI BUMI INI MENJADI SENJATA UNTUK MENGUSIR & MENGHANCURKAN MANUSIA ITU SENDIRI.

Memang ada bagian diri Tuhan dalam setiap ciptaan tetapi bukan Tuhanlah yang menyebabkan kita terusir/ tersingkir/ lenyap/ punah dari bumi ini tetapi diri sendirilah yang serakah sehingga mengganggu keseimbangan alam. Akibatnya, komponen terkecil sekalipun bisa menendang dan menghancurkan kehidupan ini. Tuhan telah menyerahkan bumi ini untuk dikelola demi kepentingan bersama, mengapa kita harus menghancurkannya demi kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi yang sia-sia?

Tugas kita di bumi ini adalah untuk mengelola sumber daya yang ada demi kemajuan bersama. Tetapi kapitalisme akan melegalkan hawa nafsu yang arogan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan demi kepentingan pribadi dan kelompok. Manusia akan memanipulasi sesamanya (penipuan) dan sistem (korupsi) demi uang dan jabatan. Sedang penggunaan sumber daya yang terkesan boros memicu gangguan keseimbangan alam. Akibatnya, udara yang sangat sepele bisa menjadi topan yang menerjang dan tornado yang mengamuk untuk meluluh lantakkan segala sesuatu. Air yang bahkan tidak memiliki bentuk, menghanyutkan dan menenggelamkan segala sesuatu bahkan nyawapun hilang. Sinar matahari yang dulunya hangat dan lembut, bisa membakar hingga ke tulang-tulang. Dan masih banyak kebaikan alam lainnya yang berubah jadi bencana. Oleh karena itu, jika tidak mau diusir dari tempat anda berada saat ini, manfaatkanlah alam seadanya saja, jauhkan diri dari kegilaan akan kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi yang fana. Tiadakan nafsu tinggi terhadap pengakuan, pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas sebab semuanya itu sia-sia. Tetapi jadilah bermanfaat untuk kemuliaan nama Tuhan dan berbagi kasihlah kepada sesama manusia: itulah sumber kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman hati yang sejati.

Salam, singkirkan keserakahan sebelum ketamakan itu melenyapkanmu!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.