Kepribadian

Cara Berhenti Jadi Artis Bila Terjerat Narkoba – Sanksi Sosial Kepada Selebriti Yang Melanggar Aturan


Cara Berhenti Jadi Artis Bila Terjerat Narkoba – Memberi Sanksi Sosial Kepada Selebriti Yang Melanggar Aturan

Ide cemerlang dilontarkan oleh Kompol Vivick Tjangkung yang mengajukan deklarasi sekaligus penandatanganan MoU, “Bersedia Berhenti Menjadi Artis jika terbukti melakukan penyalahgunaan Narkoba. Ini sehubungan dengan semakin maraknya penyalahgunaan narkoba diantara seleb baru-baru ini. Mereka seharusnya menjadi ikon positif bagi masyarakat bukan malah sebaliknya. Seolah-olah pencitraan yang mereka timbulkan saat ditangkap, “inilah kami dan jadilah seperti kami!”

Siapakah artis itu? Pengertian selebriti

Artis adalah ahli seni; seniman, seniwati (seperti penyanyi, pemain film, pelukis, pemain drama – KBBI Offline). Merupakan orang yang sengaja dipopulerkan oleh media masa dan elektronik (offline dan online) dengan tujuan positif. Jadi inti keartisan adalah popularitas sebab dengan ketenaran itu diharapkan mereka dapat membawa dampak yang luas bagi masyarakat. Menurut pemahaman kami, orang yang menjadi artis bisa siapa saja sebab masing-masing kapitalis mengangkat ikon produknya sendiri-sendiri.

Dalam deklarasi dan penandatangan MoU yang berbunyi “Bersedia Berhenti Jadi Artis Jika Terbukti Melakukan Penyalahgunaan Narkoba” harus juga melibatkan kalangan media, setidak-tidaknya media lokal dan nasional. Sedangkan untuk media berskala internasional agak sulit untuk merangkul mereka sebab pada dasarnya media sosial memiliki fasilitas sendiri untuk menjadikan seseorang menjadi terkenal, yaitu dengan “beriklan.”  Jadi, sesungguhnya untuk mengendalikan seluruh selebritis di tanah air jelas tidaklah mudah sebab zaman sekarang mudah sekali menjadi terkenal asalkan uang tebal atau dibekingi oleh oknum kapitalis (pengusaha) tertentu.

Ini adalah sebuah gagasan pembukaan yang sangat briliant dari pihak Kepolisian dan kami berharap ditindaklanjuti secara konsisten dari waktu ke waktu. Setidak-tidaknya bisa meng-cover selebriti yang sering tampil dilayar kaca (TV) lewat saluran pemerintah maupun swasta yang berskala nasional mupun lokal. Jika diperluas maka kesannya bisa bias sebab masing-masing media sosial juga memiliki selebnya sendiri-sendiri. Belum lagi pihak pengusaha yang juga turut menghasilkan icon produknya sendiri-sendiri.

Masalahnya sekarang seleb yang terjerat….

Bila kita amati baik-baik, orang-orang yang terjerat narkoba biasanya mantan artis yang dulunya terkenal tetapi sekarang sudah turun pamornya. Atau mereka yang dulunya memiliki prestasi gemilang dan dipuji-puja tetapi sekarang sudah sepi peminat. Mereka juga termasuk dalam keluarga/ sahabat/ teman selebriti yang juga ikut terkenal tetapi setelahnya terjerat kasus penggunaan obat-obat terlarang. Sulit juga melakukan MoU terhadap orang-orang ini sebab mereka sedang tidak ada jobs (pekerjaan) baik di media cetak, media elektronik dan dikalangan perusahaan lainnya. Sekalipun demikian, kami akan mengajukan beberapa ide untuk membuat mereka tidak bangga masuk TV/ media lainnya karena kasus kriminal.

Ada baiknya mulai sekarang para artis papan atas yang sedang populer jangan sampai gelap mata lalu berpikir bahwa pujian dan popularitas adalah segalanya sumber kebahagiaan. Sebaiknya mereka mulai melihat ke dalam dirinya sendiri lalu melatih pikiran masing-masing untuk menghasilkan kebahagiaan itu. Sadarilah bahwa kebahagiaan adalah perwujudan dari hubungan yang baik dengan Tuhan dan dengan sesama manusia dimana semuanya itu berupa aktivitas. Artinya, aktivitasmulah yang membuat anda bahagia. Apa yang terpancar keluar dari dalam dirimu, itulah kebahagiaanmu; jadi STOP CANDU TERHADAP PUJIAN DAN POPULARITAS!

Seandainya Indonesia telah dipersatukan dalam sistem tunggal

Indonesia masih belum benar-benar dipersatukan oleh sistem tunggal yang menyentuh segala lini kehidupan manusia. Pemerintah hanya berperan aktiv menjalankan negara sedangkan kapitalis menjamur untuk melakukan panen masal disegala penjuru negeri ini. Akibatnya, kesenjangan sosial terjadi dimana-mana dan salah satu masalahnya lagi adalah masing-masing pengusaha berhak mengangkat artisnya sendiri-sendiri. Para kapitalis ini bisa mengangkat nama siapa saja sebab mereka bisa membayar media berskala lokal, nasional bahkan yang berskala multinasional, yaitu media sosial sekelas Facebook, Twitter, Instagram dan lain-lain. Baca juga, Awal mula ketamakan adalah kapitalisme.

Jelas sulit untuk mengendalikan kapitalis sebab “satu badan usaha (pengusaha) adalah satu kerajaan” yang bisa mengurus dirinya sendiri dan bebas dari intervensi pihak manapun termasuk pemerintah. Hanya saja ada semacam tanggung jawab moral yang berlaku secara umum dan otomatis, yaitu “mustahil seorang pengusaha cerdas menjadikan mantan pengguna narkoba menjadi icon produk yang dihasilkannya.” Tentu saja tidak ada pengusaha lokal yang mau mempopulerkan selebriti yang terjerat banyak skandal terkecuali bagi badan usaha abal-abal (memasarkan produk luar negeri yang nggak jelas) sekedar numpang cari nama besar di tanah air.

Dampak buruk penyalahgunaan

Narkotika dan zat adiktif lainnya adalah suatu bahan yang menyerang, melumatkan dan melunakkan sistem syaraf pusat sehingga panggunanya akan merasakan sensasi yang menenangkan (nge-fly). Narkoba memang sangat ampuh dan memberikan efek yang lama pada saat penggunaan pertama kali. Tetapi lama-kelamaan waktu nge-fly yang ditimbulkannya akan semakin singkat dan cepat. Sehingga ada kecenderungan bagi mereka yang ingin terus-menerus merasakan sensasi tersebut menjadi ketagihan.

Seperti yang kami katakan bahwa obat-obatan terlarang ini menyerang, melumatkan dan melunakkan otak. Ini termasuk dalam bagian menikmati hidup bahkan lebih merusak lagi. Pikiran tidak hanya kosong dibuatnya melainkan obat haram ini juga turut melemahkan hubungan antar sel syaraf otak pada tingkat yang parah sampai membuat seseorang kehilangan kesadaran. Pada akhirnya keadaan ini akan membuat seseorang menjadi lemat, kurang tanggap/ merespon orang-orang disekitarnya bahkan bisa berujung pada kebodohan dan kegilaan.

Efek merusak lainnya dari narkoba adalah saat seseorang jatuh dalam jurang kecanduan yang tidak ada habisnya. Keadaan ini didorong kuat oleh keberadaan finansial (keuangan) yang memadai sehingga membuat seseorang bebas membeli dan mengkonsumsinya lagi dan lagi. Sebab semakin lama digunakan maka efeknya semakin singkat saja sehingga mendorong seseorang yang ketergantungan melakukannya berkali-kali hanya dalam waktu yang berdekatan. Akibatnya, resiko over dosis menanti di depan yang jika segera tidak ditangani akan menyebabkan kehilangan nyawa.

Pihak-pihak terkait yang harus bekerja sama untuk mewujudkannya

Saran kami: Sebaiknya, konsep semacam ini diberlakukan secara nasional agar mereka harus bisa membawa diri kemanapun dan dimanapun berada diseluruh Indonesia. Jika ini hanya berlangsung di Jakarta, bisa jadi saat mereka keluar daerah maka disanalah akan dipuas-puaskan untuk nge-drugs, miras dan lain sebagainya. Jadi realisasi ide ini untuk ditindaklanjuti secara serius di seluruh Indonesia sangat briliant. Adapun pihak-pihak terkait yang harus bekerja sama adalah.

  • Pihak Kepolisian.
  • Kalangan artis.
  • Manejer artis.
  • Pihak produser.
  • Media masa (offline dan online – elektronik & cetak)
  • Satu lagi pihak yang tidak boleh terlupakan adalah pengusaha.

Cara memberi sanksi kepada artis yang terjerat kasus narkoba

Dalam rangka membuat efek jera yang semakin kentara maka perlu dilakukan tindakan yang sistematis dan terencana dengan baik. Ada beberapa bentuk sanksi yang harus disepakati oleh semua lembaga ini bagi para artis yang terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. Berikut akan kami ajukan beberapa masukan untuk melakukan pemberhentian atau lebih tepatnya menjerat mereka dengan sanksi sosial yang setimpal saat melanggar aturan yang berlaku.

  1. Menggesernya ke belakang layar atau mengeluarkannya dari sinetron, ftv, reality show dan acara lain yang diperankannya – kerja sama dengan produser.
  2. Melakukan sensor terhadap namanya (hanya diberi inisial saja) saat kasusnya diberitakan oleh awak media – kerja sama media lokal dan nasional.
  3. Untuk mengurangi angka kebanggaan karena masuk TV atau media cetak juga elektronik maka wajahnyapun sebaiknya disensor (dikaburkan) agar benar-benar menyadari tindakannya – kerja sama media cetak dan elektronik.
  4. Menghentikan aktivitasnya sebagai icon suatu produk yang diendorsnya – bersama pengusaha.
  5. Menurunkan setiap poster, pamflet, baliho dan lainnya yang berisikan fotonya – bersama pengusaha.
  6. Menggeser posisinya ke belakang panggung atau meniadakannya dalam event-event yang dilaksanakan dibeberapa daerah – kerja sama kapitalis.
  7. Menjeratnya dengan hukuman yang setimpal – bersama Kepolisian.

Ada baiknya kita berpikir dengan jernih selama menjalani hidup di dunia ini. Pangkas keangkuhan lalu rendahkan hati sambil memperbaiki pola pikir tentang kebahagiaan dan rasa sakit. Sadarilah bahwa rasa sakit adalah sesuatu yang harus kita rasakan agar menjadi manusia seutuhnya. Tidak ada manusia yang mampu hidup normal dan realistis tanpa meresakan kepahitan hidup. Justru lewat kepahitan dan kekecewaan di masa lalu kita belajar lebih banyak sabar selama menjalani hidup. Juga tidak lupa untuk senantiasa mengkonsentrasikan pikiran kepada Tuhan (doa, firman dan nyanyian pujian). Tidak lupa untuk berbagi kasih dengan sesama lewat pelajaran dan pekerjaan yang dilakukan (dimulai dari hal-hal kecil, ramah) : semua aktivitas positif ini adalah sumber kebahagiaan yang bisa kita rasakan kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun sikon yang dihadapi. Intinya adalah aktif dan lakukan kebaikan bagi Tuhan dan kepada sesama!

Salam, Fokus Tuhan dan berbuat kebajikan adalah narkoba terindah!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s