Gejolak Sosial

11 Hal Yang Menjauhkan Suami-Istri Dan Antara Orang Tua-Anak – Masalah Bukanlah Ancaman Tetapi Awal Kedewasaan


Kejadian Yang Menjauhkan Kedekatan Antara Suami – Istri Dan Antara Orang Tua – Anak

Segala yang terjadi dalam hidup ini tidak seperti yang kita pikirkan atau lebih dikenal dengan istilah “tidak semua yang terjadi seperti yang direncanakan.” Selalu saja ada kesempatan dimana kita diperhadapkan dengan kondisi surprise (kejutan), baik dari sisi negatif maupun dari sisi positif. Ada orang yang menerima kejadian ini dengan lapang dada, terutama bisa yang berlangsung adalah hal yang baik. Tetapi ada juga orang yang tidak bisa menerima hal tersebut apa adanya terlebih jika yang terjadi adalah sesuatu yang buruk. Keburukan inilah yang sering sekali membuat hubungan kita dengan sesama terganggu, salah satunya adalah kedekatan di dalam keluarga.

Manusia diciptakan untuk hidup bersama

Keluarga adalah tempat yang baik untuk berkembang dan ada firman yang berpesan, seperti berikut ini (Kejadian 2:18a) TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” Jelaslah bahwa setiap manusia di dunia ini membutuhkan yang namanya keluarga. Bahkan bisa dikatakan bahwa tidak ada seorangpun yang hadir di dunia ini tanpa keberadaan orang-orang terdekatnya, terkecuali untuk beberapa kasus dimana orang tua sengaja membuang bayinya. Oleh karena itu, berusahalah untuk menjaga kedekatan di dalam keluarga sehingga masing-masing bisa saling menjalin ikatan kasih yang sehat satu sama lain.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, “apa yang kami maksud dengan kasih yang sehat?” Sadarilah bahwa tidak ada anggota keluarga yang sempurna. Bila anda mampu memahami mindset ini maka akan mengerti tentang sesama manusia yang selalu tidak bisa tampil seperti apa yang kita inginkan. Terkadang mereka mengekspresikan ketelodoran (kesalahan) yang jika tidak ditoleransi dengan baik akan menimbulkan kekesalan dari dalam hati. Keadaan ini bisa berujung pada amarah yang menjauhkan orang tua dengan anak dan sebaliknya. Tetapi Ayah & Bunda yang bijak pastilah akan menemukan jalan kepada solusi untuk mendekatkan hubungan yang regang tersebut.

Kasih yang sehat adalah kebaikan yang tidak membuat seseorang manja tetapi mendewasakan. Sama halnya ketika kita sehat terus malah tidak baik, kadang juga kita butuh sakit untuk menguji daya tahan tubuh ini sekaligus meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri. Bila kita memberikan yang baik-baik terus kepada sesama anggota dalam kehidupan berumah tangga, kapan ia akan menjadi dewasa? Tapi yang kami maksudkan bukan pula dalam rangka mencari gara-gara sehingga dia dewasa tetapi lebih kepada membiarkannya terpapar sendiri (mandiri) menghadapi kesalahan demi kekhilafan baik yang terjadi di dalam maupun di luar rumah. Jangan langsung memberi bantuan tetapi biarkan dia (anak) bermasalah selama beberapa hari lalu anda (ortu) dapat mengarahkannya di hari berikutnya. Ingat juga untuk tidak memberinya uang yang besar sebab hal tersebut bisa jadi pelarian.

Mampu menyelesaikan masalah keluarga cenderung lebih sigap menyelesaikan masalah dengan orang lain

Manusia secara individua tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Tetapi dari keluarga, ia bisa belajar banyak bagaimana menangani berbagai persoalan. Umumnya cara yang diterapkan seseorang untuk menyelesaikan persoalan tersebut diadopsi dari cara orang tua menyelesaikan persoalan mereka. Selain itu, ada juga yang mampu menirukan teknik penyelesaikan berdasarkan sesuatu yang diamatinya dari berbagai media, diantaranya adalah media sosial dan blog. Tentu saja penyelesaian yang ditiru dari media ini hanya berlaku bagi anak yang sudah remaja sedangkan mereka yang masih kecil 100% menirunya dari perilaku orang di dalam rumah sendiri.

Saat pergumulan hidup yang terjadi di rumah bisa diselesaikan maka kita telah di-training (dilatih) untuk menyelesaikan hal-hal kecil. Ketahuilah bahwa dalam hidup ini, hal-hal kecil tidak jauh beda dengan yang besar, mengapa kami berkata demikian? Karena sekalipun dua kejadian ini terjadi dalam konteks yang berbeda tetapi pada kenyataannya pola-pola yang mereka tunjukkan adalah sama. Jadi kesamaan pola inilah yang membuat kita bisa lebih tanggap dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang berasal dari lingkungan sekitar. Misalnya, jika dari rumah kita suka memaafkan kekhilafan orang tua dan saudara kandung maka di tempat lain (lingkungan sekitar, sekolah dan tempat kerja) juga kita bisa mengupayakan hal tersebut.

Kejadian yang menjauhkan orang tua dan anak

Peristiwa yang kami maksudkan dalam bagian ini adalah hal-hal yang buruk. Memang jelas saat semua dipenuhi oleh kebaikan maka kedekatan itu tetap terjaga tetapi apa jadinya ketika hal-hal yang negatif terjadi di dalam keluarga? Masihkah kedekatan dan kemesraan itu terjalin dengan baik? Mereka yang bisa memandang kebaikan di tengah keburukan akan beroleh hati yang penuh dengan damai dan kebahagiaan. Orang yang selalu memberi perhatian sekalipun mereka dirintangi oleh pengabaian adalah sebuah simbol kekuatan hati yang terlatih dengan baik. Berikut ini beberapa situasi yang meregangkan hubungan antara suami dan isti atau sebaliknya juga antara orang tua dan anak atau sebaliknya.

  1. Hubungan dengan Tuhan yang menjauh.

    Bagaimana cara agar hubungan antara “suami – istri – anak” terjalin baik dari awal sampai akhir hayat? Salah satu kunci utamanya adalah dengan mendekatkan diri dengan Sang Khalik. Orang yang dekat dengan Yang Maha Kuasa biasanya lebih mampu mengasihi sesamanya apa adanya sebab ajaran-Nya melatih manusia untuk saling mengerti dan bersabar satu-sama lain. Bila Tuhan sudah mulai menjauh dari suatu rumah tangga, waktu bersekutu bersama di dalam keluarga tidak lagi terjalin. Beresiko terjatuh dalam kebiasaan saling menyalahkan dan saling tuduh tentang ini-itu satu sama lain.

    Jadi, usahakan agar seluruh anggota aktif bersekutu dengan Tuhan hari lepas hari dan juga aktif beribadah setiap minggunya. Selain itu, arahkan setiap anggota untuk menjaga kedekatan dengan Tuhan lewat aktivitas fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian.

  2. Perbedaan pendapat.

    Perbedaan pendapat ini bisa berujung dalam perang yang sengit hingga membawa emosi meledak-ledak. Oleh sebab itu, bila pembicaraan mulai ribut dan nada suara sudah mulai tinggi dan kata-kata kasar mulai terlontar. Diharapkan bagi yang sudah dewasa lebih baik mengalah dan jangan dilanjutkan lagi atau alihkan kepada pembicaraan lainnya. Mengalah dalam hal pendapat bukan masalah besar, nanti juga seiring berjalannya waktu semuanya akan nyata – terang benderang.

  3. Perselisihan antara suami dan istri.

    Jika kedua orang tua tidak akur niscaya anak-anak pada kocar-kacir menciat-ciat kesana-kemari seperti “anak ayam kehilangan induknya.” Oleh karena itu, suami dan istri harus menyelesaikan masalahnya di kamar dan begitu keluar dari kamar maka masing-masing menjalankan fungsinya. Jika ada yang masih belum kelar maka sebaiknya dilanjutkan lagi nanti, di kamar…. Ini dilakukan agar urusan rumah tangga tidak terbengkalai seperti, Ibu tidak memasak, ayah tidak mau melakukan tanggung jawabnya dan lain sebagainya.

  4. Perselisihan antara orang tua dan anak.

    Persoalan antara orang tua dan anak adalah hal yang biasa. Yang penting dan harus dipegang oleh orang tua adalah peraturan, yang melanggar aturan pastilah akan mendapat sanksi. Tetapi masalah lain muncul ketika hal itu disebabkan oleh karena orang tua tidak mengkabulkan keinginan anak. Memang ada hal yang wajib dan harus dikabulkan oleh orang tua seperti uang sekolah, sumbangan dan lain-lain. Tetapi kalau soal keinginan sebaiknya ditanggungkan dahulu jika memang belum bisa dipastikan, jangan pernah dijanjikan.

  5. Persaingan – perselisihan antara saudara.

    Hanya ada dua penyebab umum yang menjadi sumber perselisihan antara saudara, yaitu iri hati dan kesombongan. Oleh karena itu, pandai-pandailah mendidik anak agar jauh dari sikap tersebut. Ada kalanya juga orang tua harus menguji anak dalam hal ini. Misalnya dengan membeli sesuatu untuk si kakak sedangkan si adek jangan dibelikan. Kecuali dia bertanya, maka katakan bulan depan, tiga bulan lagi atau tahun depan atau waktu lainnya. Ini adalah salah satu cara untuk melatih agar mereka bisa bersabar dan mampu mengendalikan rasa iri di dalam hatinya.

  6. Waktu bersama yang kurang dimanfaatkan untuk berbagi cerita.

    Saat sedang liburan, mau di luar atau di rumah saja juga tidak masalah. Manfaatkan kebersamaan ini untuk saling mencari tahu satu sama lain tentang aktivitas yang dilakukan hari demi hari. Ini bisa mendekatkan hubungan yang sempat regang karena sibuknya aktivitas sehari-hari (bekerja atau sekolah).

  7. Waktu dan jadwal kerja yang padat.

    Pekerjaan memang sumber utama untuk menafkahi keluarga secara fisik tetapi jangan lupa juga dengan menafkahi keluarga secara emosional. Menafkahi keluarga secara rohani dapat dilakukan seperti yang kami sebutkan pada poin satu.

    Nafkah emosional atau lebih tepatnya perhatian sebenarnya cara paling singkat untuk melakukannya adalah dengan beramah tamah. Kemana-mana selalu upayakan untuk pamit. Sebab masing-masing anggota sebenarnya punya urusan masing-masing tetapi ketika terjadi persinggungan kepentingan atau hendak pergi keluar maka acara pamit-pamitan ini diperlukan. Memang ini terkesan lebay tetapi hanya inilah komunikasi yang bisa mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak.

    Ada satu lagi yang bisa mendekatkan hubungan emosional itu yakni, bertanya tentang segala sesuatu. Tetapi ini tidak bisa dilakukan setiap saat. Oleh karena itu, beramah tamahlah untuk saling menyatakan kasih kepada sesama anggota.

  8. Pergumulan hidup dengan lingkungan sekitar (tetangga).

    Saat sedang menghadapi pergumulan hidup dengan tetangga sebaiknya orang tua jangan langsung ikut campur, biarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Perhatikan apa yang dilakukannya untuk menyelesaikan hal tersebut lalu berikan sedikit arahan jika ada yang perlu dikoreksi. Koreksi dalam hal ini terutama soal kesombongan, iri hati. Tidak ada hal lain yang menyebabkan soal-soal kehidupan selain keangkuhan dan kedengkian.

  9. Masalah di sekolah.

    Jika gelagat anak mulai berubah dari biasanya, mungkin saja dia ada masalah di sekolah, coba tanyakan lalu berikan sedikit arahan. Arahannya tidak perlu bertele-tele tetapi katakanlah, “semua pasti akan baik-baik saja, lebih baik fokuslah belajar dan fokuslah kepada Tuhan.” Kejadian yang cukup menggelisahkan anak bisa meregangkan hubungannya dengan anggota keluarga lainnya. Ini bisa ditandai dengan jelas dengan berkurangnya keramahan yang diekspresikannya.

  10. Persoalan di tempat kerja.

    Hal-hal yang kurang menguntungkan di tempat kerja dapat membuat seseorang menjadi galau sehingga kurang peka dengan keberadaan anggota keluarga lainnya. Dia yang biasanya ramah bisa jadi cuek dan tidak peduli lagi sama orang karena sedang ada gejolak batin dalam dirinya sendiri. Sebaiknya, hal-hal seperti ini jangan terus-menerus dipikirkan tetapi upayakanlah untuk senantiasa fokus memuliakan Tuhan hari lepas hari.

  11. Selisih antara mertua dan kaum keluarga pasangan lainnya.

    Ini adalah masalah antara orang yang sudah sama-sama dewasa. Sebaiknya harus ada sikap saling mengalah sebab di saat kita mengalah, hati lebih damai dan lega menghadapi semuanya itu. Lebih dari pada itu, silahkan doakan kebaikan musuhmu dan berbuat baiklah kepadanya. Bila anda mampu memperbaiki cara pandang maka akan menemukan bahwa musuh adalah orang yang rela bersusah payah untuk mentraining kita – gratis lagi! Hanya saja bukan dalam arti, kita tidak waspada. Berhati-hati itu memang diperlukan tetapi tetaplah berbuat baik kepada mereka (setidak-tidaknya ramah tamah).

Tidak ada persoalan di bawah kaki langit yang tidak disebabkan oleh iri hati dan kesombongan, dua hal inilah yang membuat manusia terus bergumul.

Rumah tangga adalah awal dari sekolah pembelajaran hidup. Berlatih hingga telaten disini berarti mahir dan lihai menangani soal-soal yang lebih bersar di luar sana.

Pergumulan Hidup Bukanlah Ancaman Tetapi Awal Kedewasaan

Keluarga bagaikan sekolah dasar (SD) yang mengajari kita banyak hal tentang pergumulan hidup dan bagaimana cara menanganinya. Ketahuilah bahwa bila di dasar anda bisa menyelesaikannya niscaya dalam bidang lainnyapun akan dimampukan untuk mengatasinya. Masalah yang timbul, jangan biarkan menjadi alat untuk meregangkan hubungan kedekatan itu. Tetapi berpikir positiflah, anggap persoalan sebagai latihan untuk membentuk kepribadian anda menjadi lebih dewasa lagi bijak menjalani hidup. Selain itu, jangan fokus pada masalah yang sedang dihadapi tetapi terima apa adanya lalu silahkan kembalikan fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujan. Upayakan juga untuk senantiasa berbagi kasih di dalam keluarga dimulai dari hal-hal kecil yaitu ramah tamah (termasuk didalamnya perhatian, peduli dan saling memahami satu sama lain).

Salam keluarga tangguh!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s