Kepribadian

+10 Bahaya Keserakahan Melemahkan Kehidupan, Memecah-Belah Dan Mengacaukan – Serakah (Tamak) Menghancurkan Sistem


Bahaya Keserakahan Melemahkan Kehidupan, Memecah-Belah Dan Mengacaukan

Kehidupan manusia di bumi ini adalah siklus dimana segala sesuatu berputar-putar lalu masing-masing akan kembali ke tempat asalnya. Tanah akan kembali menjadi tanah,debu akan kembali menjadi debu dan abu akan kembali menjadi abu. Ini adalah hukum alam yang sudah berlaku dari masa ke masa dari makhluk hidup yang satu kepada makhluk hidup yang lain. Bahkan tubuh jasmani kita sendiri mengalami hal tersebut. Tetapi ada satu hal yang tidak mengalami siklus dalam kehidupan ini dan akibatnya memang fatal. Sebab saat satu hukum alam tidak berlaku maka dampak buruk yang disebabkan oleh perilaku tersebut akan mendatangkan kerugian bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar kita.

Segala sesuatu adalah siklus semata-mata demi keseimbangan alam

Diseluruh penjuru negeri bahkan di seluruh dunia ini tidak ada tempat untuk keabadian. Satu-satunya hal yang abadi adalah kenangan kita bersama-sama dengan orang lain dan kebaikan yang diekspresikan hari lepas hari. Selain daripada itu, segala sesuatu di bumi ini senantiasa bergerak dan berjalan mengikuti aturannya masing-masing. Tetapi pada intinya, mereka akan kembali ke posisinya semula, cepat ataupun lambat. Bahkan benda-benda mati yang kita anggap tidak bernyawa sekalipun akan mengalami hal demikian. Dibalik semuanya itu, perlu dipahami bahwa saat kehidupan ini berjalan dalam siklus maka tepat saat itlah terwujud keseimbangan alam.

Pengertian keserakahan, kelemahan, memecah-belah dan mengacaukan

Serakah adalah selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki; loba; tamak; rakus. Lemah adalah (1) tidak kuat; tidak bertenaga; (2) tidak keras hati; lembut; tidak tegas; (3) tidak kuat; kurang berdasar. Pecah belah adalah  (a) cerai-berai; pisah-pisah (tidak bersatu lagi); (b) kocar-kacir; morat-marit; (c) barang-barang tembikar (seperti cangkir, piring, mangkuk). Kacau adalah (1) campur aduk (sehingga tidak terbeda-bedakan lagi); bancuh; (2) kusut (kalut) tidak keruan; (3) rusuh; tidak aman; tidak tenteram; (4) bercampur aduk dengan (tidak dibeda-bedakan dengan); bertukar-tukar dengan (KBBI Luring).

Menurut pemahaman kami keserakahan adalah sifat manusia yang terus merasa kurang dan hendak menguasai segalah sesuatu. Kelemahan adalah sifat yang membuat seseorang mudah sekali tersingkirkan (terseleksi. Memecah-belah adalah usaha untuk meregangkan hubungan baik antar manusia bahkan sampai membuatnya tercerai-berai. Sedangkan mengacaukan adalah usaha untuk menghilangkan kedamaian, kesejahteraan dan keamanan di dalam suatu wilayah. Pada dasarnya kesemua hal ini adalah terhubung satu sama lain sehingga gabungannya membentuk suatu alur peristiwa yang kronologi ceritanya dapat diperkirakan. Pada bagian ini kami akan menjelaskan alur kronologis tentang semuaya itu dalam pendekatan perumpamaan (ilustrasi).

Ketamakan akan menggiring seseorang mengorbankan yang lain demi kepentingan pribadi/ kelompok

Pada awalnya orang yang tamak hatinya dipenuhi oleh berbagai-bagai keinginan disana-sini. Saat melihat ini-itu, mereka menginginkannya. Sewaktu mendengar ini-itu, mereka menginginkannya dan sewaktu berpikir ini-itu, mereka juga menginginkannya. Ketahuilah bahwa hawa nafsu tidak ada matinya. Saat seseorang tidak mampu menahan hawa nafsunya lebih lama dan juga tidak mampu mengabaikannya maka saat itulah, sikap boros mulai tercermin. Untuk memenuhi kebutuhan akan uang yang tinggi, mereka akan berusaha keras, banting setir mencari sumber daya yang mampu diperah sebanyak-banyaknya. Keadaan ini jelas beresiko menggiring mereka untuk menghalalkan segala cara untuk mewujudkannya.

Melegalkan hal-hal yang salah jelas menyalahi aturan yang berlaku. Oleh karena itu, orang-orang ini dengan sengaja berkonspirasi sehingga kejahatan mereka bisa tersembunyi dari hadapan khalayak ramai. Saat orang yang serakah diperhadapkan dengan persaingan maka tepat saat itu juga mereka tidak bisa mengendalikan dirinya. Hawa nafsu yang arogan di dalam dirinya sangat mengingini kemenangan mutlak. Keadaan yang memaksakan kehendak inilah yang membuat mereka cenderung bergerak dalam jalan-jalan yang penuh kelaliman dan kejahatan, merugikan orang lain, lingkungan sekitar hingga akhirnya diri sendiri juga.

Ketamakan akan kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi juga berpotensi besar untuk membuat sekelompok orang rela mengorbankan sesamanya demi penguasaan terhadap sumber daya. Sebab segala hal yang mewah, megah dan nyaman membutuhkan pasokan energi listrik yang lebih besar. Hal ini berkontribusi langsung pada pemakainan bahan bakar minyak yang terlanjur tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka beberapa orang diantara mereka berpikiran untuk melakukan aksi  manipulasi secara diam-diam sehingga BBM tetap ada. Mereka bahkan rela mengorbankan beberapa penduduk untuk dijadikan alasan sebagai sebuah usaha untuk mengadakan perlawanan kepada pihak tertentu. Padahal, itu hanyalah akal-akalan untuk merebut sumber daya minyak di tempat lain.

Dampak buruk  keserakahan bisa menimbulkan kelemahan, tercerai-berai dan kekacauan

Setiap orang punya hawa nafsu, kami juga dan para pembaca sekalian. Tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah kita sudah puas dengan semua pencapaian yang telah diraih selama ini? Jika sudah berarti, anda adalah orang yang sama dengan manusia Indonesia pada umumnya. Sayang, bagi mereka yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapainya dan ingin meraih yang lebih tinggi, besar dan luas lagi merupakan ciri khas orang yang serakah. Berikut akan kami ceritakan bagaimana kronologinya ketamakan bisa berujung pada kekacauan masyarakat.

Dampak negatif awal –
melemahkan rasa kebersamaan

  1. Erat dengan hawa nafsu berlebihan.

    Orang yang memiliki keinginan yang lebay beresiko tidak pernah puas. Ia sepertinya hendak menguasai segalanya dan hendak memiliki segalanya. Akibat keinginan sesat tersebut hubungannya dengan orang lain terganggu karena sudah tidak lagi pernah berbagi kepada siapapun. Secara berangsur-angsur tapi pasti, kehidupannya hanya difokuskan kepada diri sendiri saja (mengejar apa yang diimpikannya) tanpa mau mempedulikan sesamanya.

  2. Erat dengan sikap individualisme.

    Mereka yang hanya fokus kepada dirinya sendiri beresiko tinggi mengharapkan hal-hal yang baik saja dalam hidup ini. Ketika mereka bertemu dengan orang-orang yang suka mengabaikannya (mengujinya) maka merekapun langsung menjauhkan diri dari orang-orang tersebut. Besar kemungkinan tidak ada lagi kepedulian kepada orang lain bahkan beramah-tamahpun tidak sebab ia terlalu terlena oleh dirinya sendiri sehingga melupakan sesama manusia.

  3. Erat dengan iri hati dan kesombongan.

    Pada awalnya sikap sombong dan iri hati diekspresikan dengan jelas dan tanpa masalah besar karena ini menguntungkan para pegiat di bidang ekonomi. Tetapi lama kelamaan seorang yang suka menyombongkan diri cenderung memicu gelombang iri hati yang besar sehingga beberapa orang mulai menjaga jarak dari orang lain. Ada oknum yang sangat tidak disenangi dimana ia menjadikan materi sebagai sumber kebanggaan dan kesenangan. Gelombang pemisahan diri yang disusul dengan rasa penyesalan tentang ini dan itu (misalnya tentang jerih-lelah seseorang) pada akhirnya akan menggiring manusia menjadi terpetak-petak satu sama lain.

  4. Erat dengan kebodohan.

    sistem masyarakat yang lemah, erat kaitannya dengan menurunnya tingkat kecerdasan. Seiring dengan meningkatnya keserakahan akan kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi maka aktivitas manusia semakin minim. Keadaan ini secara berangsur-angsur melemahkan pikiran manusia itu sendiri. Tanpa ia sadari kenyamanan hidup yang berlebihan telah menjadi pembodohan bagi dirinya sendiri.

    Disisi lain, oknum kapitalis licik menenangkan rakyat dengan membiarkan narkoba beredar dimana-mana. Mereka berpikir bahwa hal tersebut sebagai sebuah keuntungan padahal orang yang telah kecanduan narkoba cenderung melakukan aksi kriminal (kejahatan) untuk memenuhi kebutuhannya.

  5. Erat dengan manipulasi.

    Manipulasi memang pada awalnya menguntungkan beberapa orang secara ekonomi tetap pada akhirnya hal tersebut bisa menjadi kelemahan. Sebab orang-orang miskin ekonominya bisa saja dikendalikan oleh siapapun sehingga mereka cenderung melakukan berbagai hal yang salah untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya mencuri, jambret dan lain sebagainya. Bahkan orang yang tidak bertanggung jawab bisa menjadikan mereka sebagai pelaku teror alias terorois. Tidak hanya itu saja, semakin banyak orang miskin maka semakin besar dampaknya ketika mereka melakukan protes terhadap sesuatu alias demonstrasi.

  6. Erat dengan pemborosan sumber daya.

    Para kapitalis yang menyukai kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi memboroskan banyak energi untuk memenuhi keinginannya tersebut. Keserakahan akan uang yang meningkatkan angka manipulasi membuat kalangan tertentu semakin kaya raya. Mereka lantas menganggap kesenangan duniawi sebagai sumber kebahagiaannya dengan mengadakan pesta yang syarat dengan foya-foya.

    Dampak buruk berikutnya –
    Mencerai beraikan masyarakat.

  7. Erat dengan persaingan.

    Persaingan individu ditingkat rakyat meledak dan meregangkan kebersamaan. Sedang persaingan antara kapitalis (pengusaha, politik partai, perebutan jabatan) melibatkan banyak sumber daya (uang) dan menggiring sekelompok masyarakat dalam hubungan yang semakin sengit. Masing-masing membela oknum kapitalis yang di dukungnya secara tegas dan jelas lalu merendahkan pihak lainnya. Orang-orang saling jauh-jauhan hanya karena berbeda dukungan, ditambah lagi ketika para kapitalis membius pendukungnya dengan informasi hoax (black campaign). Sekalipun persaingan tersebut telah berlalu namun rakyat banyak masih menyimpan (mengingat) di dalam hatinya segala pesan-pesan untuk memusuhi pihak lain.

  8. Erat dengan ingin menang sendiri (arogansi).

    Segala bentuk persaingan di zaman kapitalis syarat dengan keserakahan dimana salah satu pihak beroleh kemenangan besar sedang pihak lainnya terbuang dan tidak terpakai. Karena hasil yang beresiko besar maka masing-masing pihak akan berjuang mati-matian untuk memenangkan persaingan. Tidak ada cara lain yang dapat ditempuh selain menyebarkan kebohongan sebab bila semua jujur maka masa depan terancam terjun bebas. Sebab tidak ada satupun pihak yang rela menderita kerugian besar akibat kekalahan. Mereka berusaha menang dengan menginjak kehidupan orang lain secara tidak langsung sehingga ia bisa menjadi penguasa tunggal.

  9. Erat dengan perbuatan menyimpang.

    Bagaimana mungkin manusia tidak serakah dengan kekuasaan sebab hasil/ sumber daya/ uang yang didapatkan kelak sangatlah menjanjikan. Bahkan ada yang berkata bahwa harta yang diperoleh tidak akan habis tujuh turunan. Segala benefit yang didapatkan seperti magnet yang besar sehingga menarik sejumlah besar masyarakat untuk berbondong-bondong berusaha memenangkan orang-orang yang didukungnya. Tidak ada orang yang mau kalah dalam pertarungan yang besar tersebut sehingga masing-masing melakukan berbagai aksi yang menyimpang sekalipun secara dam-diam. Rakyat yang telah tercerai berai secara masif hanya menunggu waktu saja sampai terjadi konflik horizontal yang menimbulkan perpecahan.

  10. Provokasi dari orang yang tidak bertanggung jawab.

    Masyarakat yang tidak sejahtera sedangkan dia sendiri melihat para pejabat disekitarnya berfoya-foya menghamburkan harta akan dipenuhi oleh iri hati dan kebencian. Saat muncul seorang provokator entah berantah yang berusaha melakukan aksi perlawanan maka penggalangan masa akan dapat dilakukan dengan mudah. Banyak partisipan yang masuk secara sukarela karena mereka sudah muak dengan omong kosong yang diumbar oleh para pemimpinnya. Sedang pada kenyataannya kehidupan mereka begitu-begitu saja padahal para kapitalis semakin melesit maju. Hanya dengan membakar api kecil iri hati ini saja maka seorang provokator akan bangkit melakukan perlawanan sehingga membuat masyarakat semakin tercerai-berai.

    Bahaya selanjutnya,
    mengacau balaukan rakyat.

  11. Erat dengan aktivitas yang merugikan orang lain.

    Berbagai aksi yang serakah terhadap uang dan sumber daya telah membuat manusia memanipulasi manusia lainnya secara masif. Keadaan ini terus saja berlanjut sebab mereka mengambil keuntungan dengan membodohi pihak lainnya. Pembodohan masal yang berasal dari informasi yang sengaja dikacaukan menyebabkan orang lain resah. Sedang orang-orang intelektual memanen hasil yang besar dari konspirasi tersebut.

  12. Erat dengan kesenjangan ekonomi yang tidak dicicipi oleh masyarakat menengah ke bawah dan hanya berputar diantara masyarakat kelas menengah ke atas

    Disatu sisi, sekumpulan masyarakat hidup dalam kenikmatan duniawi yang berlebihan. Sedangkan di sisi lain ada lebih banyak masyarakat yang hidupnya berhemat luar biasa. Mereka bahkan tidak lagi mengingat kapan terakhir kali melakukan perjalanan bersama keluarga.

    Sedangkan pergerakan uang dan kemajuan ekonomi hanya dirasakan oleh masyarakat menengah ke atas. Namun masyarakat menengah ke bawah hidupnya stagnan dalam kemelaratan dan terus-menerus diperah habis-habisan oleh oknum kapitalis tertentu.

  13. Erat dengan kemajuan ekonomi yang merusak lingkungan.

    Para pemilik modal begitu serakah akan rumah-rumah yang luas dan banyak, tamak terhadap peralatan elektronik dan kendaraan mewah selangit. Dengan uang mereka yang sangat-sangat banyak, hanya dalam waktu sekejab saja sumber daya yang besar jumlahnya habis begitu saja. Belum lagi masalah polusi yang mereka hasilkan karena jumlah sampah dan polutan tinggi yang dibuang sembarangan. Semuanya ini berakumulasi pada kerusakan lingkungan yang semakin parah saja.

  14. Erat dengan bencana alam.

    Dampak terburuk dari ketamakan manusia adalah bencana alam. Oknum kapitalis yang sangat egois berpikir bahwa ia bisa hidup seorang diri di dunia ini dengan melenyapkan pepohonan dan binatang liar. Membangun hunian mewah dengan kota-kota yang berkelas dengan menyingkirkan ekosistem hutan ke daerah pinggiran bahkan memetak-metakkannya dalam kebun binatang. Mereka membangun suaka alam yang hanya menyisakan sebagian kecil saja dari wilayah yang sebenarnya.

    Akibatnya, mereka membutuhkan energi lebih untuk menerbangkan pesawat-pesawat khusus di atas awan mencegah terjadinya hujan deras di suatu wilayah. Ini menambah daftar pemborosan energi, saat pesawat-pesawat itu tidak didanai maka hujan deras akan turun, membanjiri dan menenggelamkan segala sesuatu.

    Daerah lereng gunung yang gundul terancam erosi, longsor dan akan membawa banjir bandang ke daerah yang lebih rendah. Lahan-lahan pertanian akan menjadi gersang oleh karena penggunaan pupuk kimia berlebihan dan kekeringan berkepanjangan. Angin dan badai yang dahsyat akan mengancam sewaktu-waktu. Sedangkan teriknya matahari bisa sampai membakar kulit akibat gelombang panas yang ekstrim.

  15. Erat dengan konflik dan peperangan.

    Oknum kapitalis licik akan menganggap bahwa jumlah penduduk yang terlalu banyak adalah ancaman. Mereka akan berusaha menguranginya dengan memanipulasi keadaan. Menggiring masyarakat tertentu untuk saling membenci satu-sama lain sehingga pecahlah konflik berkepanjangan yang menimbulkan banyak korban jiwa. Mereka menganggap itu sebagai seleksi alam yang harus terjadi agar penduduk yang tersisa bisa memperoleh energi yang mencukupi untuk hidup. Padahal sebenarnya, kota-kotanya yang mewah, megah dan nyamanlah yang kehausan energi.

    Perebutan sumber daya akan berkembang dengan sangat luas. Berbagai konspirasi dijalankan untuk menguasai lebih banyak sumber daya dengan kekuatan militer dan kekerasan. Semuanya itu semata-mata demi mengisi minyak kendaraan mereka yang sudah mulai habis. Demi menghidupkan peralatan elektronik di rumah yang kehausan listrik. Pada akhirnya perang minyak pecah hanya agar tempat-tempat hiburan yang mereka miliki aktif kembali.

Keserakahan akan uang dan kekuasaan hanya menggiring masyarakat dalam perpecahan sebab satu kapitalis adalah satu kerajaan yang berusaha dengan sengit bahkan sampai menghalalkan segala cara agar kerajaannya bisa bertahan dari waktu ke waktu. Keadaan ini memicu gejolak di dalam masyarakat sehingga satu kapitalis saja yang kalah dalam persaingan akan memicu aksi pemberontakan karena kerugian yang dideritanya besar. Belum lagi masalah menurunnya tingkat kecerdasan manusia karena ketergantungan yang membuat mereka semakin gila akan kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi. Pada akhirnya, ketamakan akan materi tidak hanya mendatangkan kelemahan bagi sistem tetapi turut pula memecah-belah kebersamaan hingga akhirnya berujung pada kekacauan massal. Ketika masyarakat kacau balau maka provokasi sedikit saja bisa menghancurkan suatu negara. Oleh karena itu, jauhi kerakusan yang tidak ada habisnya lalu mulailah berbagi.

Salam, Indonesia – bebaskan dirimu dari keserakahan!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s