Ekonomi

+10 Alasan & Cara Pulau Diklaim Negara Lain (Asing) – Konspirasi Yang Melibatkan Pemimpin Yang Tamak


Alasan & Cara Suatu Pulau Diambil Alih Negara Lain (Asing) – Konspirasi Yang Melibatkan Pemimpin Yang Tamak

Ilustrasi untuk meningkatkan nasionalisme rakyat Indonesia – Apa yang bisa kita pertahankan di dunia ini saat saat semua orang menggilai uang? Tidak ada sebab-sebab yang lebih fundamental yang memicu suatu kejadian tanpa dipelopori oleh kertas ajaib ini. Jika masyarakat biasa saja rela menjual dirinya demi hal tersebut maka tidak tertutup kemungkinan para pemimpin dan pejabat juga melakukan hal yang serupa. Itulah yang dimaksud dengan  “mereka yang punya uang, mereka yang mengontrol dunia.” Jadi tidaklah salah jika kita melihat dan memperhatikan diberbagai-bagai siaran berita, betapa sengitnya pertarungan yang terjadi antara manusia ketika hadiah yang diperebutkan sangatlah besar. Ambil saja contoh dekat, saat pemilihan pemimpin/ penguasa di daerah anda.

Nafsu akan uang menepis rasa saling memiliki (nasionalisme)

Manusia yang dikuasai oleh uang tidak lagi memikirkan sesuatu tentang orang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana ia terus-menerus kaya dan kaya lagi. Apapun akan dilakukan semata-mata demi mewujudkan hal tersebut. Dia gagal fokus memahami arti nasionalisme dan cinta tanah air sebab yang ada di dalam hatinya adalah bagaimana agar terus kaya-raya hingga anak-cucunya juga terjamin kehidupan mereka. Jika memang semuanya sudah tersedia, apa artinya sebuah perjuangan hidup? Menyediakan harta bagi anak cucu seperti “memelihara hewan di dalam kandangnya dimana semua kebutuhannya sudah disediakan oleh majikannya.”  Pantaslah anak-anak yang hanya dipelihara seperti hewan terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.

Mengejar materi demi kemuliaan

Lagipula untuk apa uang banyak bagi seorang kaya-raya jikalau tidak bisa melakukan apa-apa? Target terakhir mereka biasanya adalah kemuliaan. Menjadi orang yang terhormat dimana namanya telah dicatat jelas dalam buku sejarah umat manusia. Inilah yang mereka impikan sebagai sebuah pencapaian hidup dan itulah yang membahagiakan mereka, katanya…. Padahal semua itu, hanyalah sia-sia belaka sebab segala sesuatu ada masanya alias tidak ada yang abadi. Sekalipun mereka telah mencapai semuanya dengan menghalalkan segala cara , dipenghujung usianya pastilah ada juga penyesalan (cepat atau lambat). Belum lagi masalah ketakutan dan kegelisahan yang menghampirinya akibat dipersalahkan oleh dosa sendiri.

Ketika pulau yang kaya sumber daya diperebutkan

Sumber daya adalah bahan rebutan utama diseantero muka bumi. Semua pihak ingin menguasainya demi kekayaan materi dan kekuasaan yang lebih lama. Saat suatu pulau memiliki kekayaan alam yang lumayan besar maka banyak pihak akan berusaha menguasainya. Mereka bisa melakukan itu secara baik-baik atau terkadang pernah juga ada yang melakukannya dengan mengedepankan kekerasan. Seberapa besar nilai sumber daya yang terdapat disana maka sebesar itu jugalah orang-orang akan berani bertaruh untuk memperebutkannya. Semakin besar nilai sumber daya yang terdapat disana maka semakin besar pula nilai uang yang bisa dikorbankan untuk memiliki semuanya itu.

Lebih baik lewat jalan belakang, biar aman dan minim resiko

Politik dan ekonomi telah menyatu dengan baik terlebih ketika mereka yang suka berpolitik serakah terhadap nilai uang yang tinggi. Pihak-pihak yang ingin menguasai sumber daya yang tersedia mulai mencari-cari cara agar ada jalan masuk untuk memilikinya. Tentu saja, mereka menginginkan cara yang paling cantik untuk mengambilnya tanpa haru melakukan perlawanan yang melibatkan senjata dan perisai. Sehubungan karena mereka memiliki uang yang cukup banyak atau istilah kata yang lebih tepatnya adalah “tinggal cetak saja dan semuanya jadi.” Terlebih ketika pemimpin yang berkuasa atas pulau tersebut telah kehilangan rasa nasionalismenya dan sedang dikuasai oleh keserakahan akan uang.

Mereka mencari jalan belakang untuk menegosiasikannya secara sembunyi-sembunyi. Mengambil keputusan sepihak agar pemimpin yang gila uang tersebut menyerahkan pulau dengan kompensasi yang sangat besar. Ketika semuanya sudah setuju maka masing-masing pihak mengatur rencana yang matang untuk mengumbarnya ke publik dengan alasan-alasan yang sebenarnya dibuat-buat. Sedang masyarakat luas percaya saja dengan semua alasan yang diumbar oleh para pemimpin dan pejabatnya. Mereka akan melempar bola panas tersebut secara habis-habisan selama beberapa waktu. Tetapi tiba-tiba saja muncullah penetrasi entah berantah yang membuat semua kasus tersebut selesai. Lantas masyarakat juga melupakan hal tersebut sebab ada isu yang lebih seru dibahas oleh media.

Alasan dan cara suatu pulau dapat diambil oleh negara lain

Sebenarnya, manusia bisa hidup secara mandiri di bumi ini tanpa membutuhkan sumber daya yang besar melainkan menggunakan potensi apa adanya yang disediakan oleh alam. Tetapi, banyak orang lebih memilih kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi untuk dirinya sendiri sebab telah terbius oleh trend dipasaran. Keadaan ini, jelas-jelas membuat mereka memboroskan banyak sumber daya sehingga memaksanya untuk menguasai lebih banyak potensi alam yang tersedia. Berikut ini, beberapa  faktor penyebab dan cara suatu pulau berpindah tangan ke negara lain.

Penyebab yang memicu perpindahan kepemilikan (klaim) pulau tersebut adalah.

  1. Sumber daya yang kaya raya di wilayah tersebut.

    Perebutan sumber daya adalah hal yang rawan terjadi dimana-mana bahkan di negara yang rawan konflik hal tersebut diperjuangkan secara kekerasan. Berhubung karena tingginya sumber daya terutama minyak bumi dan gas yang terkandung dalam suatu wilayah maka pulau tersebut akan berusaha dijangkau oleh pihak asing.

  2. Pemimpin yang tamak akan uang.

    Para pemimpin yang serakah akan uang dan kekuasaan akan menghalalkan segala cara agar dirinya beroleh semuanya itu. Sedang di pihak lain, ketamakan tersebut akan terpantau oleh pejabat di negara lain. Tamak tidaknya pemimpin di suatu negeri memang tidak berpengaruh terhadap situasi dan kondisi di negeri lain. Tetapi, biasanya hal ini akan dimanfaatkan oleh negeri asing untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dari negara dimaksud.

  3. Rendahnya rasa nasionalisme pemipin dan pejabat.

    Orang-orang ini tidak lagi memiliki rasa patriotisme terhadap negaranya sebab hawa nafsu yang berlebihan telah menguasai kehidupannya. Mereka juga tidak lagi cinta terhadap tanah airnya dan tidak cinta terhadap rakyat yang sejak dari semula memilihnya. Besar indikasi bahwa kaum yang rasa nasionalismenya rendah ini menjalankan tugasnya bukan untuk mengabdi demi kepentingan bangsa dan negara tetapi demi beroleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya (materi).

  4. Masyarakat yang kurang cerdas.

    Beginilah ruginya ketika suatu masyarakat memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang rendah. Para pemimpin dan pejabatnya yang serakah akan dengan mudah membodoh-bodohi mereka dengan mengubah fokus informasi yang disajikan. Terlebih ketika orang yang berkuasa atas pemerintahan juga menguasai arus informasi yang dihadirkan ke publik (media masa: elektronik dan cetak). Lewat semuanya itu masyarakat akan dikibuli dengan mudah oleh aparat pemerintahannya sendiri.

  5. Media yang bisa disetir oleh pemimpin.

    Inilah kelemahan dari sistem kapitalisme dimana media-media yang ada dengan mudah dikekang oleh para pemimpin. Mengapa kami berkata demikian? Sebab penguasa mengontrol penuh aliran dana ke media tersebut. Sehingga secara tidak langsung jika medianya macam-macam maka aliran dana tersebut akan dibuat terguncang/ digoyang dengan mudahnya untuk mengendalikan orang-orang didalamnya. Atau bisa juga karena memang media kapitalis yang gila uang sama dengan pemimpinnya yang haus dengan rupiah.

  6. Informasi yang salah tentang masa depan.

    Beberapa informasi yang tersebar disekeliling kita memang tidak selalu benar. Ada diantara hal-hal tersebut yang lebih menjurus kepada penyesatan. Salah satu informasi yang pernah kami saksikan itu adalah “bahwa di masa depan ketika bencana besar terjadi, hanya orang-orang kayalah yang dapat selamat dari musibah tersebut.” Ini adalah cerita fiksi ilmiah yang tidak benar karena hanya berupa khayalan belaka yang beresiko membuat manusia semakin tamak terhadap uang bahkan sampai menghalalkan segala cara untuk memilikinya.

    Konspirasi suatu pulau beralih kepemilikan (diklaim) oleh negara lain.

  7. Ada kongkalingkong buta antara ke dua pemimpin negara.

    Inilah usaha menjalin hubungan diplomatik yang tidak resmi. Artinya, mereka melakukannya lewat jalan belakang dimana hal tersebut tidak akan pernah dipublikasikan kepada masyarakat luas. Dari pertemuan-pertemuan semacam inilah, pulau-pulau penting dijadwalkan berada dalam transaksi gelap yang terselubung.

  8. Ada uang banyak yang ditawarkan oleh salah satu negara.

    Negara yang satu rela membayar pemimpin di negara yang memiliki pulau yang kaya akan sumber daya. Nilai yang mereka tawarkan untuk memilikinya pastilah tidak tanggung-tanggung. Mereka lantas mengatur konspirasi yang sangat terstruktur dan sistematis untuk memuluskan rencana yang dimaksud. Pembayarannya terdiri dari beberapa tahap, ada yang dibayarkan pada tahap awal (uang muka), tahapan proses dan tahap akhir.

  9. Pemimpin tersebut akan membagi-bagikan uangnya kepada aparat terkait.

    Setelah pemimpin yang memiliki pulau menerima semuanya itu, lantas semua uang tersebut akan dibagi-bagikan kepada para pejabat terkait sehingga mereka pura-pura lupa dan tidak ingat lagi tentang hal tersebut. Ini menandakan betapa haus dan gilanya orang-orang tersebut terhadap gelontoran uang yang luar biasa besarnya. Orang-orang ini memang tidak bertanggung jawab atas posisinya dalam suatu negara. Mereka justru menginak-injak negara yang telah menopang kehidupannya selama ini di jalan-jalan di muka internasional.

  10. Menyusun sejarah omong kosong demi merangkai kronologi pengambilan.

    Mereka menyusun sejarah yang dibuat-buat dengan merekayasa dokumen-dokumen yang ada. Ini dilakukan agar hal tersebut seolah-olah terjadi secara alamiah dan sudah dikuasai oleh negara lain sejak lama bahkan mungkin lebih lama dari sejarah kemerdekaan negara bersangkutan. Semua ini semata-mata dibuat untuk mengklaim pemindahan kekuasaan terhadap pulau tersebut agar terkesan alami tanpa kekerasan.

  11. Mempersiapkan mahkamah internasional yang sudah diatur kian.

    Pemindahan kepemilikan pulau ini sudah masuk dalam lingkup konspirasi multinasional yang melibatkan banyak negara. Mereka akan membuat kejadian ini selogis mungkin sehingga konspirasi tersebut tidak tercium hawa yang mencurikan oleh publik. Tentu saja hal ini melibatkan para kapitalis yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dan politik termasuk menguasai jaringan informasi yang terhubung langsung dengan telinga dan mata publik.

  12. Menyebarkan berita kekalahan kepada masyarakat dan mendiamkan (menyogok) tokoh nasional yang protes.

    Konspirasi pemindahan kekuasaan terhadap sumber daya yang tersedia berjalan dengan lancar diantara para pemimpin dan pejabat kedua negara. Sekarang masalahnya adalah tinggal dalam hal menutup mata, bibir dan telinga para tokoh inti dalam masyarakat. Mereka yang dikenal cerdas dan mampu menganalisis kejadian tersebut diberikan sejumlah uang agar mengabaikannya. Sedangkan isu terus saja bergulir dari peristwa yang satu ke peristiwa yang lain. Dimana isu yang baru muncul lagi dan justru lebih seru sebab melibatkan suasana emosional yang tinggi dan berhubungan langsung dengan kehidupan rakyat banyak.

Ketika rasa nasionalisme di dalam hati mulai terkubur oleh keserakahan yang tinggi akan kertas ajaib niscaya siapapun orangnya akan menghalalkan segala cara untuk memilikinya. Orang-orang tidak akan lagi peduli akan harga diri bangsa melainkan lebih memilih untuk merebahkan diri lalu tenggelam dalam hawa nafsunya yang berlebihan. Mereka akan mengorbankan apapun demi mewujudkan apa yang diinginkan oleh hatinya termasuk dengan menjual sebuah pulau secara diam-diam. Semakin tinggi sumber daya dalam pulau tersebut maka semakin tinggi pula minat negara lain untuk memilikinya. Sehingga negara asing rela menggelontorkan dana sebanyak-banyaknya untuk menguasainya. Jadi, dalam konspirasi ini siapa yang salah, para pemimpin suatu negara yang gila uang atau para pejabat negara lain yang gila sumber daya?

Salam, Mari tingkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.