Gejolak Sosial

+7 Penyebab Hama Lintah Banyak Di Lingkungan Sekitar – Jangan Biarkan Lingkungan Alamiah Yang Gratis Dirusakkan Oleh Uang Kapitalis Kotor (Oknum)


Penyebab Hama Lintah Merebak Di Lingkungan Sekitar

Ada ilmu pengetahuan yang beredar di luar sana tetapi rancu secara logika dan tidak benar secara kenyataan. Tujuannya semata-mata agar manusia menjadi egois lalu merasa dirinya sempurna sehingga bisa hidup tanpa makhluk lain. Melakukan penangkapan secara besar-besaran terhadap makhluk ini-itu semata-mata demi uang. Orang yang kurang cerdas atau sekalipun cerdas tetapi turut serta memanfaatkan kesesatan pengetahuan tersebut akan ikut-ikutan melakukan eksploitasi. Akibatnya, terjadilah gangguan keseimbangan alam sehingga manusia repot sendiri bukan main mengurus masalah hama yang menyerang kawasan pertanian bahkan memasuki rumah warga.

Kapitalis menghancurkan hal-hal alamiah dengan uangnya yang banyak

Kapitalisme memang edan, inilah yang terus kami perjuangkan sampai sekarang agar kepemilikan uang dibatasi. Sebab saat para pemilik modal memiliki dompet yang sangat-sangat tebal maka mereka akan dengan mudah merusak ekosistem alamiah dengan membeli berbagai hal dari antara rakyat banyak. Masyarakat pertanian yang ekonominya lemah juga mau saja mengambil uang dalam jumlah banyak tersebut sebab mereka butuh uang. Mereka lantas memburu berbagai-bagai burung, kadal, menebang pohon, memburu ular dan lain sebagainya secara habis-habisan. Bagaimana masyarakat tidak mau melakukannya jika uang yang ditawarkan kepada mereka sangat besar untuk melakukan semuanya itu.

Habitat alamiah yang lenyap membuat petani ketergantungan pestisida

Lalu, pertanyaan yang kemudian muncul, “siapa yang dirugikan atas semua aksi perburuan liar tersebut?” Apakah kapitalis merugi? Tentu saja tidak, melainkan yang dirugikan dari kebiasaan berburu binatang liar secara berlebihan adalah para petani dan masyarakat pedesaan sendiri. Siap-siap saja, diserang oleh hama serangga yang akan merusak tanaman pertanian bahkan memasuki wilayah pedesaan. Ujung-ujungnya, para petani tersebut akan ketergantungan terhadap obat serangga alias pestisida yang diperjual-belikan oknum kapitalis untuk membasmi hama diladangnya. Jadi, oknum kapitalis ini sangat-sangat licik, mereka akan menghancurkan yang alami dengan cara membelinya sedang akibatnya membuat rakyat sangat ketergantungan dengan obat-obat kimia serangga yang mereka sediakan.

Pada bagian ini, akan membahas tentang keberadaan lintah dalam jumlah yang berlebihan di sekitar lingkungan hidup kita. Yang disebabkan oleh lenyapnya berbagai predator alaminya. Saat hewan yang biasanya ada untuk memangsa dan mengendalikannya sudah tidak ada lagi maka tinggal menunggu waktu saja sampai keberadaannya menjadi hama bahkan mengganggu kehidupan kita secara langsung. Lalu siapa yang akan kita salahkan terhadap hilangnya berbagai hewan pemangsa yang jenisnya laku keras di pasaran? Apakah petani yang serakah akan uang dan memburu hewan-hewan tersebut? Atau pengusaha/ kapitalis yang sengaja membeli hewan tersebut dengan harga tinggi (mahal)? Jelaslah bahwa INI SEPERTI BENANG KUSUT YANG TIDAK ADA UJUNG PANGKALNYA kecuali karena uang!

Lintah

Lintah adalah hewan air seperti cacing, berbadan pipih bergelang-gelang, berwarna hitam atau cokelat tua, pada kepala dan ujung badannya terdapat alat untuk mengisap darah (KBBI Luring). Merupakan hewan sejenis anelida yang bertubuh kecil dan memiliki alat pengisap di salah satu ujung badannya. Sama seperti hewan pengisap darah lainnya, mereka memiliki racun yang membuat korban tidak merasakan keberadaannya. Secara umum ada dua jenisnya, yakni yang ada di perairan dikenal sebagai lintah air (Hirudo medicinalis) dan yang hidup di daratan disebut pacet (Hirudo zeylanica). Klasifikasinya adalah sebagai berikut.

Kingdom : Animalia

Phylum : Annelida

Class : Clitellata

Subclass : Hirudinea

Ordo : Arhynchobdellae

Family : Hirudinidae

Genus : Hirudo

Spesies : Hirudo sp.

Hirudo sp. adalah indikator kerusakan lingkungan

Keberadaan lintah yang melimpah adalah petunjuk bahwa suatu lingkungan telah kehilangan kemampuannya untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Ini bisa jadi dipengaruhi oleh hilangnya beberapa predator kunci yang tersebar dalam suatu wilayah, baik perairan maupun daratan. Jumlahnya yang banyak adalah sebuah pertanda bahwa keserakahan manusia untuk memelihara bahkan memakan daging hewan liar sangatlah tinggi. Oknum kapitalis yang haus darah dan ingin mengoleksi hewan langka yang dilindungi termasuk pemicu keadaan ini. Sedangkan keadaan ekonomi masyarakat yang lemah menjadi pendorong keadaan tersebut.

Dalam sebuah artikel yang kami baca di situs Kompasiana.Com menemukan bahwa lintah digunakan sebagai salah satu spesies yang mengindikasikan tingkat pencemaran air yang sangat rentan. Semakin banyak hirudo ditemukan dalam suatu perairan maka semakin tercemar perairan tersebut. Ada lima level pencemaran air yang digambarkan dimana pada tahap akhir ditemukan lebih banyak spesiesnya. Berikut penjelasan yang menunjukkan kelas air dan bioindikatornya yang menjadi standar dalam mengevaluasi kualitas air tawar, antara lain:

Indikator Pencemaran Air - Lintah [Sumber; Ministry of Environment Republic of Korea, 2010]

Indikator Pencemaran Air – Lintah (Leech), Sumber: Ministry of Environment Republic of Korea, 2010

  1. Air kelas satu.

    Bersih dan tidak berbau sehingga dapat digunakan sebagai air minum setelah melakukan suatu proses pemurnian sederhana. Pada air kelas satu, bioindikator yang dapat digunakan adalah ikan lenox, udang, stone fly, planaria, dan freshwater crayfish. Jika menemukan bioindikator tersebut pada suatu perairan tawar dalam jumlah yang berlimpah, maka air pada perairan tawar tersebut termasuk air kelas satu. Jika tidak menemukan bioindikator tersebut, maka air pada perairan tawar tersebut termasuk air kelas lain (selain air kelas satu).

  2. Air kelas dua.

    Dapat dimanfaatkan untuk minum setelah melalui proses tertentu, mandi, dan berenang. Pada air kelas satu, bioindikator yang dapat digunakan adalah keong hitam, caddis fly larva, kalajengking air, larva capung, anggang-anggang, dan kutu busuk air. Jika menemukan bioindikator tersebut pada suatu perairan tawar dalam jumlah yang berlimpah, maka air pada perairan tawar tersebut termasuk air kelas dua. Jika tidak menemukan bioindikator tersebut, maka air pada perairan tawar tersebut termasuk air kelas lain (selain air kelas dua).

  3. Air kelas tiga.

    Berlumpur dengan warna coklat kekuning-kuningan. Pada air kelas satu, bioindikator yang dapat digunakan adalah freshwater snail, lintah, keong, shellfish, anggang-anggang, dan kutu busuk air. Jika menemukan bioindikator tersebut pada suatu perairan tawar dalam jumlah yang berlimpah, maka air pada perairan tawar tersebut termasuk air kelas tiga. Jika tidak menemukan bioindikator tersebut, maka air pada perairan tawar tersebut termasuk air kelas lain (selain air kelas tiga).

  4. Air kelas empat.

    Air yang tercemar serius dan jika berenang dapat menyebabkan gangguan/penyakit kulit. Pada air kelas satu, bioindikator yang dapat digunakan adalah Tubifex, larva kupu-kupu, midge, dan lintah. Jika menemukan bioindikator tersebut pada suatu perairan tawar dalam jumlah yang berlimpah, maka air pada perairan tawar tersebut termasuk air kelas empat. Jika tidak menemukan bioindikator tersebut, maka air pada perairan tawar tersebut termasuk air kelas lain (selain air kelas empat).

  5. Air kelas lima.

    Air yang sangat tercemar sehingga tidak ada organisme yang dapat hidup.

Dapat diamati bahwa leech (lintah) merupakan bioindikator pada air kelas empat. Dimana hanya beberapa spesies yang dapat hidup pada kualitas air tersebut antara lain tubifex, larva kupu-kupu, sejenis serangga kecil, dan lintah. Jika lintah (Hirudo medicinalis) mendominansi suatu perairan tawar, maka perairan tersebut telah tercemar. Dan jika Hirudo medicinalis tidak mendominasi suatu perairan tawar, maka perairan tersebut belum tercemar.

Faktor penyebab populasi lintah marak di sekitar kita

Di alam liar  kehidupan senantiasa berputar-putar. Keberadaan satu organisme dikendalikan oleh organisme lain lewat jalur rantai makanan. Ketika salah satu organisme di dalam rantai makanan tersebut tiba-tiba berkurang/ hilang/ punah oleh karena aktivitas perburuan liar maka dapat dipastikan bahwa hewan yang ada dibawahnya (yang harusnya menjadi mangsanya) akan meningkat jumlahnya di lingkungan sekitar. Berikut ini, beberapa predator yang hilang dari lingkungan sekitar anda ketika hirudo sp. ada dimana-mana (banyak-melimpah).

  1. Berburu semua jenis burung.

    Dasar oknum kapitalis, memang mereka sangat mengenali potensi alam yang sangat menggiurkan di suatu daerah. Mentang-mentang uangnya sudah banyak maka rumahnya dipenuhi oleh berbagai-bagai jenis burung yang dikoleksi dari seluruh daerah Indonesia. Apakah aktivitas ini benar-benar legal dan sah oleh pemerintah setempat? Kita tidak tahu, yang kami takutkan adalah jangan-jangan “mas-mas tukang piara burungnya saudara pejabat (anggota dewan) dan pemimpin (gubernur, bupati, walikota)? Kalau begini ceritanya, bakalan sulit juga meminta masyarakat untuk berhenti berburu burung, “orang pejabatnya saja suka pelihara burung atuh…. wkwkwkwkkkkk”

    Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa di sekitar lingkungan kita semakin banyak lintah di temukan. Sebab burung adalah predatornya dan ketika burung ini diburu habis-habisan maka mangsanya (leech) akan berkembang biak dengan subur.

  2. Berburu ayam hutan.

    Ayam hutan adalah salah satu jenis unggas yang cukup tangguh untuk ditaklukkan. Selain itu binatang ini juga dapat berperan aktif untuk mengkonsumsi berbagai serangga kecil disekitarnya. Termasuk didalamnya adalah melenyapkan lintah dari lingkungan sekitar kita (lebih tepatnya menekan populasi). Memang mereka tidak melenyapkannya secara keseluruhan tetap setidak-tidaknya berada dalam kadar yang wajar.

  3. Berburu kelelawar (segala jenisnya).

    Apakah kelelawar memakan lintah? Kami juga tidak tahu, silahkan cari tahu sendiri. Berhubungan karna kelelawar adalah hewan nocturnal maka dapat dipastikan bahwa hewan tersebut akan menemukan Hirudo sp. yang hidup di batang pohon dan dedaunan pada sore hari.

  4. Berburu kadal (all variant).

    Tok-tok-tok-tok…. Lucu juga suara kadal itu ya… Kami sempat mendengar dahulu bahwa kadal dibeli dengan harga tinggi sebagai salah satu jenis obat yang manjur untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Ternyata hewan ini sangat berperan aktif dalam memberantas lintah yang hidup di balik pepohonan. Melenyapkan mereka sama saja dengan membiarkan hama berkembang di lingkungan anda.

  5. Berburu ular (segala jenis terutama ular pohon).

    Kami pernah mendengar di sebuah berita bahwa ada pulau yang hanya di huni oleh ular saja dan tidak pernah di masuki oleh manusia. Apakah ini benar adanya? Kami sendiripun curiga, jika memang di pulau itu hanya ada ular, siapakah yang akan menjadi mangsanya? Ini adalah salah satu propaganda kapitalis untuk menghasut para pemirsa agar segera membasmi ular di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Bahkan yang di temukan di dalam hutan sekalipun harus dilenyapkan, mengapa? AGAR SERANGGA PENGGANGGU MERUSAK TANAMAN PERTANIAN DAN PESTISIDA LAKU KERAS. Ular adalah salah satu binatang pemakan serangga.

  6. Menghancurkan sarang dan membunuh laba-laba.

    Ketahuilah bahwa serangga yang satu ini memiliki cakupan wilayah jebakan yang cukup luas.  Adalah baik bagi anda untuk tidak melewati beberapa tempat yang memang disana ada sarang laba-laba. Mereka bisa saja memburu lintah yang tiba-tiba jatuh dari atas pohon atau terbang dihempaskan angin.

    Jika di tanah milik anda di hutan banyak laba-laba, ketahuilah bahwa disana, banyak juga yang menjadi sumber makananannya. Tetapi saat sumber makanannya hilang niscaya mereka akan saling makan (kanibalisme) sehingga jumlahnyapun berkurang.

  7. Meracun sungai – membunuh ikan.

    Haya…. Hayo…. Siapakah oknum yang memperjualbelikan racun air (air mas) secara bebas di pasaran? Atau lebih tepatnya, apakah yang membuat kapitalis memperjualbelikan racun perairan dengan harga murah? Sadarilah bahwa hal ini dilakukan semata-mata agar ekosistem diberbagai sungai terganggu bahkan tercemar dan penduduk itu sendiripun sakit karenanya. Jangan berpikir bahwa anda yang mengkonsumsi ikan yang mati diracun tidak akan terpengaruh oleh racun tersebut. Sadarilah bahwa sistem kerja sel-sel tubuh kita dan ikan adalah seiras hanya saja tubuh mereka lebih kecil sehingga ketika diracun sedikit saja sudah teler. Tetapi manusia yang terkena racun tersebut dalam jumlah banyak pastilah akan sakit juga.

    Tidak hanya memburu lintah, ikan di sungai-sungai juga berperan aktif untuk memburu larva nyamuk di perairan sehingga lingkungan anda terbebas dari berbagai spesies nyamuk Aedes aegipty maupun Aedes albopictus.

  8. Meracun perairan – membunuh katak/ kodok.

    Katak adalah salah satu binatang penjaga perairan yang akan menetralisir keberadaan lintah di perairan maupun yang berada di daratan. Saat keserakahan manusia akan hasil sungai merajalela maka besar kemungkinan racun yang dipasang untuk menetralisir ikan, belut dan udang akan turut membunuh kodok/ katak disekitarnya. Katak/ kodok bukan saja menjadi predator bagi keberadaan Hirudo sp. melainkan turut pula membasmi nyamuk yang berterbangan di sekitar perairan tersebut (baik yang ingin bertelur maupun yang baru saja menetas).

  9. dan masih banyak lagi silahkan cari sendiri (misalnya semut, kalajengking).

Lintah/ pacet itu selalu ada tetapi dalam jumlah minimalis dan tidak sampai mengganggu aktivitas manusia. Jikalau populasinya meledak berarti habitat tempatnya tumbuh dan berkembang telah kehilangan banyak predator (hewan pemangsa) yang diburu secara liar dan diperjual-belikan secara bebas.

Jangan Biarkan Lingkungan Alamiah Yang Gratis Dirusakkan Oleh Uang Kapitalis Kotor (Oknum)

Manusia jangan egois lalu berpikir bahwa kita bisa hidup seorang diri saja di dunia ini dengan menyingkirkan berbagai-bagai hewan lain baik untuk dimakan dagingnya maupun untuk dikoleksi (dikandangkan). CERDASLAH JADI MASYARAKAT, JANGAN SAMPAI KAPITALIS KELUARKAN DUIT MERAH AJA, UDAH KLEPEK-KLEPEK NGGAK KARUAN DAN MAU-MAU SAJA DISURUH UNTUK MEMBURU BINATANG INI-ITU (andai kita hidup di zaman sosialis yang seperti itu tidak ada). Sadarilah bahwa kebiasaan memburu hewan liar sembarangan hanya akan menambah tekanan dalam kehidupan kita sebab serangga pengganggu akan menjadi teror yang menyerang tanaman pertanian (hama) bahkan pemukiman juga. Ujung-ujungnya para Petanilah yang harus membayar biaya lebih besar untuk membeli sejumlah pestisida yang diperjual-belikan oleh oknum kapitalis. Oleh karena itu, JANGAN BIARKAN LINGKUNGAN ALAMIAH YANG GRATIS dirusak oleh uang sehingga andapun harus mengeluarkan dana lebih banyak lagi untuk mencari nafkah hari demi hari.

Salam, biarkan hewan liar hidup di tanah milik anda!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.