Kepribadian

10 Kebahagiaan Yang Salah – Persepsi Yang Kurang Tepat, Sesaat Menyenangkan, Setelah Itu Menggelisahkan

Kebahagiaan Yang Salah – Persepsi Yang Kurang Tepat, Sesaat Menyenangkan, Setelah Itu Menggelisahkan

Segala sesuatu berawal dari pengetahuan positif yang meningkat. Kami masih ingat dahulu ketika masih berada dalam zona abu-abu tentang kebahagiaan, rasa yang selalu kami miliki adalah suasana hati yang terkesan datar-datar saja sebab tidak ada yang disenangi di sekitar. Seiring berjalannya waktu, kami mulai mengerti bahwa sesungguhnya bahagia yang sejati itu tidak berasal dari sekitar kita melainkan berasa dari dalam diri sendiri, yaitu dari hati masing-masing. Otak kita adalah organ yang bisa menghasilkan sensasi rasa yang berbahagia itu sendiri. Sekarang masalahnya adalah sudah mampukah anda mengelola atau memanajemen pola pikir yang dimiliki sehingga selalu membuatmu bahagia?

Hidup ini gado-gado tetapi bahagianya hati konsisten

Hidup di zaman sekarang sungguh teramat mudah tetapi dibalik itu ada berbagai gejolak yang terjadi hari lepas hari. Berkat penemuan berbagai ilmu pengetahuan maka kehidupan kita menjadi lebih sejahtera dan damai di dalam kebersamaan. Kita bisa menemukan banyak kenyamanan tetapi di sisi lain ada pula ketiknyamanan. Jadi berdasarkan pengalaman kami, hidup ini campur aduk dimana semua rasa menjadi satu. Saat kita mampu memahami, menyesuaikan diri dan menikmati (mengetahui manfaat) semua kejadian itu maka tepat saat inilah bahagia di dalam hati menjadi penuh.

Berbahagia itu saat kita tahu manfaat masalah

Intinya adalah saat hati ini berbahagia maka yang harus selalu dibina adalah kemampuan untuk memanajemen pola pikir dan segala argumen (opini) dengan situasi lingkungan sekitar. Saat kita mampu menyesuaikan diri dengan situasi di sekitar sembari menyibukkan diri dengan aktivitas positif niscaya kehidupan ini akan lebih membahagiakan. Kita harus menikmati segala yang terjadi dalam diri ini, sekalipun itu adalah sebuah keburukan. Cara terbaik untuk menerima pahitnya keburukan adalah dengan mengetahui apa manfaatnya lalu mensyukurinya. Misalnya saja saat anda mengalami nasib sial, maka langsung berkata dalam hati, “ini sudah seharusnya terjadi. Semuanya untuk melatih kesabaran dan kemampuan untuk mengendalikan diri. Kuatkan hatiku menghadapi semuanya Tuhan.”

Faktor penyebab persepsi manusia terhadap kebahagiaan kurang tepat

Tahukah anda mengapa banyak orang terjerumus menikmati kebahagiaan yang salah? Sebab mereka lebih fokus kepada apa yang bisa diamati oleh indra sedang mengabaikan apa yang ada di dalam dirinya sendiri. Sebab apa yang dilihat oleh indra kesannya lebih populer, mendapat pujian dan penghargaan dari banyak orang. Dibalik semuanya itu, ketahuilah bahwa rasa bahagia dari hal-hal yang berlangsung waw ini hanyalah sesaat saja. Bahkan anda sudah akan melupakan kejadian itu esok hari, saking cepatnya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rasa senang pada indra berlangsung sangat singkat karena indra hanyalah organ yang bergantung pada organ lain.

Bila diumpamakan sebagai sebuah sungai maka ke lima indra manusia adalah bagian muaranya sedangkan bagian hulunya adalah otak anda. Pada dasarnya segala sesuatu yang berlangsung di hilir pasti akan hanyut terbawa arus dengan cepat sehingga segera saja hilang.Tetapi saat anda melakukan sesuatu di bagian hulu maka hal tersebut akan terus berlanjut sepanjang badan sungai hingga ke muara. Demikianlah juga seharusnya, rasa bahagia itu kita ciptakan sendiri di otak (hulu sungai) agar seluruh kehidupan kita berpengaruh terhadap hal itu hari lepas hari.

Pengertian – Berbahagia itu bukan apa yang dilihat tetapi apa yang anda rasakan? Sudah damaikah? Ada rasa senangkah? Sudah terkendalikah? Bermanfaatkah? Maka syukurilah semuanya itu. Sebab kebahagiaan adalah rasa senang yang terkendali, penuh damai dan kebermanfaatan hidup yang selalu disyukuri dari waktu ke waktu.

Persepsi kebahagiaan yang salah

Bahagia itu murni harus dilatih dari hari ke hari. Jikalau anda masih muda dan cukup terlatih untuk melakukan berbagai hal yang baru maka sebaiknya hindari hal-hal yang akan kami sebutkan di bawah ini. Sebab, tidak selamanya yang namanya bahagia itu terkesan dan terasa luar biasa dihadapan orang lain. Melainkan kiranya rasa bahagia yang tidak baik walau disukai tetap harus kita tinggalkan sedini mungkin. Sebab hal-hal semacam ini justru membuat hati tidak damai dan mengacaukan kehidupan kita. Berikut selengkapnya persepsi yang kurang tepat tersebut.

  1. Bahagia itu dari materi di luar diri kita.

    Keinginan akan materi yang selalu terpenuhi bukanlah syarat utama untuk berbahagia. Mungkin kenikmatan duniawi yang dimiliki bisa membuat kita senang tetapi sehebat-hebatnya kesenangan itu hanyalah sesaat saja (sementara). Pesona yang dihasilkan oleh berbagai barang dan jasa yang kita beli lewat uang memang bisa mempengaruhi rasa senang. Tetapi rasanya yang fana cenderung membuat kita membeli dan mengkonsumsinya lagi dan lagi. Keadaan yang ketergantungan dengan kenikmatan duniawi tertentu justru bisa mengurangi rasa bahagia di dalam hati sebab bisa saja kemampuan kita untuk membeli hilang. Bisa juga, barang yang kita maksud kebetulan tidak ada atau sudah terbeli habis oleh pihak lain. Bila saat-saat seperti ini tidak bisa diatasi maka reaksi kita justru akan merasa kesal, marah dan sampai tidak senang lagi menjalani waktu kedepannya.

    Orang yang candu terhadap barang tertentu biasanya mengharuskan agar ia memiliki barang dan jasa tersebut. Ketika keinginannya tidak cercapai maka sikapnya bisa berubah menjadi buruk kepada orang lain dan juga kepada diri sendiri (menyakiti diri sendiri).

  2. Bahagia itu saat dihormati orang lain.

    Ketahuilah bahwa rasa hormat yang diberikan kepada kita berbeda-beda untuk setiap orang. Ada orang yang menghargai, ada pula yang mengacuhkan dan justru ada yang mengejek/ menghina. Bergantung terhadap situasi semacam ini jelas membuat kehidupan kita tidak nyaman sebab rasa senangnya tidak konsisten. Saat dihargai, kita senang dan saat diacuhkan orang lantas hati menjadi kesal. Ini jelas akan merenggut rasa damai di dalam hati yang merupakan salah satu syarat kunci untuk berbahagia.

    Hindari sikap yang ketergantungan dengan penghormatan yang di berikan seseorang tetapi berupayalah untuk menghormati sesama seperti diri sendiri. Saat kita menyibukkan diri dengan aktivitas positif maka tepat saat itu juga kebahagiaan menetap di dalam hati.

  3. Bahagia itu saat mendapat penghargaan dari tempat kerja/ organisasi tertentu.

    Pujian dari rekan-rekan kerja dan pengakuan dari pihak manajemen juga bisa membuat hati senang. Popularitas yang kita peroleh lewat prestasi yang diraih jelas membuat senyum melebar. Sayang ketika kita menjadikan hal ini sebagai sebuah dasar untuk selalu berbahagia, ketahuilah bahwa rasanya hanya sesaat saja. Sebab biasanya segala bentuk penghargaan semacam itu diberikan secara bergilir dan tidak melulu pada orang yang sama. Jika memang anda menjadikan penghargaan semacam ini sebagai sumber kebahagiaan maka “bahagiamu hanya sekali setahun saja.”

    Menjadi orang yang populer jelas membuat hati senang tetapi hal ini tidak terjadi setiap hari, pastilah semuanya fluktuatif dan tidak selalu bisa dipastikan kapan itu terjadi. Masakan rasa bahagia di dalam hati kita juga fluktuatif? Keadaan ini justru membawa hidup menjadi canggung sebab suasana hati tidak konsisten akibat dunia yang selalu berubah tidak pasti.

  4. Bahagianya hidup adalah saat kita senang terus tanpa masalah.

    Ini termasuk persepsi yang tidak tepat sebab sekaya dan semulia apapun seorang manusia pastilah akan bermasalah. Persoalan hidup memang ada-ada saja dan tepat saat kita mampu memahami dan menyesuaikan diri lalu mengetahui manfaat dibaliknya, niscaya pergumulan apapun mampu ditanggung seorang diri dan sebisa mungkin. Lagipula, rasa sakit yang didatangkan persoalan hidup membuat kita lebih menghargaik kebahagiaan yang dimiliki dari waktu ke waktu.

    Hidup yang terus-menerus senang juga tidak baik sebab kesenangan identik dengan sifat konsumtif. Bila kita terus-menerus mengkonsumsi sesuatu maka besar resiko mengalami penyakit metabolis (diabetes, kolesterol, asam urat berlebihan). Satu-satunya hal yang bisa terus-menerus dilakukan adalah saat kita tetap fokus kepada Tuhan sembari melakukan kebaikan kepada sesama dimulai dari hal-hal sederhana.

  5. Bahagianya hidup adalah saat kita lincah melarikan diri.

    Memang kebiasaan melarikan diri saat ada masalah turut membuat kita melupakan persoalan tersebut. Yakinlah bahwa keadaan ini hanya akan berlangsung sesaat saja. Bahkan anda sendiri akan melupakan kenikmatan tersebut dengan cepat lalu langsung beralih kepada masalah yang menyusahkan hati.

    Menghadapi masalah dengan mengkonsumsi makanan secara berlebihan, minum minuman keras dan mengkonsumsi narkoba jelas hanya akan merugikan diri sendiri. Melakukan hal yang salah dan lebay jelas akan merugikan kesehatan anda. Oleh karena itu, hadapi masalahmu senyatanya dan selesaikan itu semampunya saja. Lebih daripada itu pasrahkan kepada Tuhan dan hindari fokus terhadap masalah yang dihadapi.

  6. Bahagianya hati adalah saat menyadari kita jauh lebih baik dibandingkan orang lain (sombong)

    Ini adalah tipe kebahagiaan yang paling gila, mengapa kami berkata demikian? Rasanya sangat mustahil, kita sebagai makhluk yang memiliki kelemahan bisa terus-menerus lebih/ unggul/ menang dari orang lain. Yang jelas diri ini jauh dari sempurna tetapi saat bersama-sama dengan ciptaan lainnya, kita sempurna.

    Ada arogansi di dalam hati manusia memang sangat kental. Sebuah hasrat yang tidak pernah puas dan selalu menginginkan hal yang lebih dan lebih lagi. Jangan membiasakan diri untuk merasa lega karena berhasil menjadi orang yang lebih baik dari sesama. Ketahuilah bahwa “di atas monyet masih ada burung dan di atas burung masih ada langit.”

    Sifat yang arogan memang bisa saja membuat kita senang dengan berkata: “aku jauh lebih sukses dan kaya raya dari orang tersebut.” Tetapi ketahuilah bahwa pandangan semacam ini turut membuat temperamen buruk dan emosi meledak-ledak. Oleh karena itu, “rendahkan hati segera menyangkal diri dan biarkan orang lain menang.”

  7. Bahagianya hati adalah saat melihat orang lain lebih rendah dari kita (mengejek atau mencemooh).

    Ketika iri hati meradang, kita menjadi pribadi yang buruk. Ini adalah jenis kebahagiaan yang paling kurang asam. Sebab rasa bahagianya baru muncul saat merendahkan orang lain. Sikap yang iri hati jelas sebagai sebuah batu sandungan untuk mencapai kedamaian. Justru saat kita cemburu sama seseorang maka hati akan penuh dengan kegelisahan. Keadaan ini benar-benar membuat hidup tidak nyaman sekalipun di sekitar kita selalu ada orang lain yang mendukung.

    Ketahuilah bahwa ketika kita merendahkan seseorang di dalam hati maka tepat saat itu juga ada kesan menghakimi. Memang aktivitas menghakimi orang lain adalah kebiasaan yang menyenangkan terutama saat orang tersebut memiliki banyak kekurangan/ kesalahan dibanding diri ini (sok suci ni ye…). Pikiran yang selalu menghakimi sesama jelas hanya membawa kecemasan dan kekalutan di dalam pikiran sendiri sehingga suasananya jauh dari rasa yang berbahagia.

    Daripada mencarinya lewat jalur kedengkian, alangkah lebih baik jika kita mengucapkan selamat kepada orang tersebut. Atau bisa juga dengan mengatakan di dalam hati “biarkan dia menang dan kalahkan kami di bawah kaki-Mu ya Tuhan. Ini sudah sepantasnya terjadi, mohon kuatkan hati menghadapi semuanya.”

  8. Bahagianya hati saat kita mendatangkan keburukan dalam kehidupan orang lain.

    Ketika anda membenci seseorang maka tepat saat itu jugalah kehidupan kita berpotensi besar untuk mendatangkan keburukan kepada orang tersebut. Memang di awal terasa lega saat kita melihat musuh dalam keadaan terjatuh, baik secara fisik maupun secara mental. Hati yang berbahagia seperti ini menjadikan kita sebagai orang yang kejam. Seolah-olah kekejaman diri ini adalah keuntungan padahal sebenarnya kegagalan besar.

    Ada rasa bersalah yang mencul secara otomatis ketika kita melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Demikian juga saat berlaku buruk kepada orang lain, cepat atau lambat kita menyadarinya lalu menyesal. Keadaan ini jelas membuat suasana hati menjadi tidak tenang dan jauh dari kedamaian. Oleh karena itu, lepaskan dirimu dari segala kebencian dan iri hati agar lebih lega menjalani hidup.

  9. Orang yang berbahagia adalah yang suka cari sensasi.

    Berhati-hatilah dengan minatmu terhadap sesuatu. Jangan biarkan kerinduan akan popularitas membuat anda kehilangan logika sehingga mendorongmu untuk melakukan berbagai-bagai aksi berlebihan. Budaya cari sensasi memang berlaku baik untuk para artis sebab profesi mereka untuk mengisi berita dalam infotainment. Tetapi untuk orang awam hal semacam ini justru akan memperburuk citra anda.

    Ketahuilah bahwa dalam berbagai kesempatan, orang yang melakukan kejahatan memang awalnya cukup populer. Tetapi sadarilah bahwa itu hanyalah di awal-awal saja setelah itu resiko yang anda tanggung bisa lebih besar. Oleh karena itu, hentikan kegilaan akan pujian dan popularitas agar tidak ada orang yang mengendalikanmu karena rasa candu yang tinggi dari waktu ke waktu.

  10. Orang yang berbahagia adalah mereka yang suka berkhayal/ bermimpi.

    Tidak perlu memanipulasi diri sendiri dengan menghabiskan waktu untuk berkhayal. Memang sesekali keadaan ini baik untuk menghasilkan karya seni. Tetapi perlu anda ketahui bahwa menciptakan mimpi-mimpi indah secara tidak sengaja dapat meninabobokan pikiran dan menurunkan kesadaran hingga membuat seseorang bersikap tidak realistis.

    Memang benar saat berkhayal kita bisa jadi apa saja sehingga rasa senang itu keluar. Tetapi ketahuilah bahwa memanipulasi kehidupan jelas sama seperti orang yang membodohi dirinya sendiri. Oleh karena itu, berusahalah untuk bersikap realistis hari demi hari agar tetap bahagia saat rasa sakit terguling dalam kehidupan kita.

Ada dua puluh empat jam dalam sehari, apa saja yang anda lakukan dalam waktu seperti itu? Apakah sibuk mencari-cari cara agar hati senang lewat segala sesuatu yang ada di luar diri sendiri? Ketahuilah bahwa materi yang berasal dari luar sifatnya sangat rapuh dan sementara saja. Keadaan ini memaksa kita untuk ketergantungan pada berbagai kenikmatan dan kemuliaan duniawi tertentu. Akibatnya justru rasa candu inilah yang membuat hati menjadi gelisah tatkala hal tersebut tidak ada. Sehingga kebahagiaan itu justru semakin menjauh. Tetapi, raihlah segala sesuatu di dalam kebenaran dengan senantiasa aktif mengasihi Tuhan dan berjuang terus mengasihi sesama. Jalanilah harimu dengan rasa senang yang terkendali dan penuh damai juga ketahuilah bahwa masalah itu bermanfaat sehingga hati terus bersyukur dan bernyanyi memuliakan Tuhan di dalam segala sesuatu.

Salam, kebahagiaan sejati datangnya dari dalam diri sendiri!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.