Kepribadian

10 Cara Menjadi Pemimpin – Belajar Memimpin Seperti Pohon

Cara Menjadi Pemimpin - Belajar Memimpin Seperti Pohon

Bumi ini penuh dengan ilmu pengetahuan. Jika anda mampu melakukan pengamatan yang lebih mendetail maka akan menemukan bahwa segala sesuatu diciptakan berbeda untuk menambahkan wawasan yang baru tentang kehidupan. Tetapi harus juga diingat bahwa tidak semua hal yang diekspresikan oleh lingkungan adalah baik adanya, ada juga bagian-bagian tertentu yang sungguh jauh dari kebenaran. Misalnya saja dengan peristiwa rantai makanan, memang masing-masing makhluk saling membutuhkan tetapi tidak sampai saling memakan jugalah. Oleh sebab itu apapun yang anda lakukan terhadap kebiasaan alam semesta, kritis dan selektiflah

Pengertian filosofi

Filosofi atau lebih dikenal dengan filsafat adalah (1) pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; (2) teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; (3) ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi; (4) falsafah (KBBI Luring). Merupakan pelajaran yang dapat dipetik setelah mengamati, menganalisa dan menimbang segala sesuatu dengan tepat sehingga diperolehlah ilmu pengetahuan positif atau negatif untuk mendorong kehidupan manusia ke arah yang lebih baik.

Pengertian pemimpin atau manajer

Pemimpin adalah (1) orang yang memimpin; (2) petunjuk; buku petunjuk (pedoman). Sedangkan manajer adalah (a) orang yang mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran; (b) orang yang berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu (KBBI Offline). Jadi pemimpin atau manajer adalah seorang yang berada di depan memberikan contoh yang baik bagi seluruh pegawai tentang bagaimana seharusnya menjadi karyawan yang displin, bekerja keras, berkualitas, kompetan dan tekun di bidang yang digelutinya.

Beberapa hal yang dapat kita pelajari tentang pohon

Pernahkah mengamati baik-baik pepohonan yang tumbuh subur di sekitar lingkungan anda? Jika anda memperhatikan batang dan percabangan tumbuhan tersebut sama persis dengan hirarki sebuah organisasi/ institusi/ perusahaan/ negara. Amati lagi baik-baik kawan, niscaya anda akan menemukan bahwa pohon mencerminkan hirarki terbalik. Jika diumpamakan maka pemimpin/ area manajemen berada di bawah sedangkan yang ada di atas adalah bagian-bagian lain dan para karyawan yang bekerja dalam sebuah perusahaan.

Batang pohon menunjukkan kekuatan yang menopang berbagai-bagian bagai kekuatan yang ada di atasnya. Mendukung penuh aktivitas fotosintesis yang dilakukan oleh daun-daunnya. Memberikan suplai yang memadai kepada semua komponen produksi secara utuh. Menjaga keseimbangan pasokan yang diarahkan keseluruh tempat. Membagi seadil-adilnya sumber daya yang diperoleh agar daun-daun bekerja secara maksimal. Susunan daun pada ranting-rantingnya jelas sebagai sebuah simbol kesetaraan. Bila ingin belajar lebih banyak tentang keadilan sosial silahkan amati dedaunan di sekitar anda.

Batang tanaman adalah contoh ideal area manajemen sebuah organisasi yang menjunjung kesetaraan

Sekalipun batang adalah yang terkuat di antara segala bagian yang ada tetapi terbukti sangat rendah hati. Ia (batang) menempatkan diri di bawah sedangkan bagian-bagian yang lebih kecil berjejer dengan rapi di atasnya. Kerendahan hati inilah yang perlu ditiru oleh para pemimpin manusia di dunia modern. Bukan karena seseorang sudah memimpin maka kehidupannya berada di atas atau selalu menempatkan diri lebih tinggi dari rakyatnya. Melainkan pemimpin yang baik dan manajemen yang berkualitas selalu merendahkan hati demi kelanggangan setiap perusahaan yang dibentuknya.

Cara menjadi pemimpin dengan belajar dari pohon kepemimpinan

Ada banyak hal positif yang bisa kita pelajari dari tanaman yang satu ini. Kami menyebutnya sebagai filosofi pohon. Memang ada positif dan negatifnya tetapi masing-masing memberikan ciri khas yang sama untuk setiap jenisnya yang berbeda-beda. Pelajaran yang konsisten inilah yang perlu kita petik lalu diterapkan ke dalam profesi yang kita geluti masing-masing. Perlu dipahami juga bahwa sesungguhnya setiap orang adalah pemimpin setidak-tidaknya bagi dirinya sendiri. Jadi tolong tulisan kami ini jangan dimaknai secara sempit. Bukan karena negeri kita sedang ada dalam masa-masa Pilkada juga saat menjelang Pileg dan Pilpres maka kami bercerita tentang mereka.

Sekali lagi kami tegaskan, setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Anda tidak perlu menjadi seorang kepala desa, bupati,walikota dan presiden baru menerapkan hal-hal ini tetapi sebagai rakyat biasapun kita perlu menerapkan kepemimpinan positif setidak-tidaknya untuk kebaikan masing-masing. Berikut selengkapnya, hal yang dapat kita  pelajari/ pahami dari pola-pola kepemimpinan bergaya pohon.

Hierarki Kepemimpinan Gaya Pohon Kebalikan Dari Hierarki Organisasi Secara Umum

Hierarki Kepemimpinan Gaya Pohon Kebalikan Dari Hierarki Organisasi Secara Umum

  1. Rendah hati.

    Bisa dikatakan bahwa hierarki kepemimpinan bergaya pohon adalah kebalikan dari hierarki organisasi yang telah dikenal secara umum. Batang tanaman sebagai simbol dari area manajemen menempatkan dirinya di bawah. Kerendahan hati ini menunjukkan pengabdian mereka yang tulus ikhlas (tidak menuntut materi atau kemuliaan yang lebih). Bahkan anggota kakinya yang berperan untuk mencari sumber daya lebih suka menyembunyikan diri di bawah tanah. Para pencari/ pemberi sumber daya ini (akar) tidak suka memamerkan keunggulannya untuk sekedar menunjukkan bahwa merekalah yang sesungguhnya berada di dibelakang setiap kesuksesan sistem.

  2. Fokus untuk berbuat baik.

    Akar dan batang tanaman adalah simbol keberadaan pemimpin yang baik dan manajemen yang berkualitas. Mereka bertugas penting untuk mensuplai kebutuhan bagian-bagian yang lain dan yang lebih aktif. Demikian juga diharapkan area manjemen suatu perusahaan atau pemerintahan suatu negara haruslah berperan aktif untuk menebarkan kebaikan kepada seluruh anggota-anggotanya. Peran aktif berbuat baik ini tidak saja hanya ditunjukkan lewat pemberian gaji rutin sekali sebulan melainkan juga ditunjukkan lewat sikap yang diekspresikan dalam menghadapi seluruh karyawan yang memiliki kepribadian berbeda-beda.

  3. Melayani bukan untuk dilayani.

    Daun tidak berfotosintesis untuk kebutuhan dirinya saja melainkan untuk kelangsungan hidup bagian yang lain/ seluruh sitem/ perusahaan. Sedangkan batang dan akar tanaman bertugas untuk mensuplai segala kebutuhan mentah yang mengaktifkan proses-proses fotosintesis. Dalam hal ini pemimpin dan area manajemen tidak membanggakan dan mengunggulkan dirinya sendiri agar mendapatkan pelayanan, pujian dan gaji yang lebih tinggi. Melainkan mereka juga mengabdi untuk melayani seluruh rakyat/ karyawan. Mendedikasikan kemampuannya untuk kebaikan seluruh anggota dalam sistem. Memikirkan dan turut terbeban terhadap nasib seluruh bawahannya. Mereka bukan orang yang suka bersantai melainkan memiliki kesibukan sendiri untuk meningkatkan kualitas positif dari pengelolaan suatu negara.

  4. Unggul dalam hal kekuatan (hati) dari yang lainnya.

    Batang dan akar tanaman lebih kuat dari pada daun-daun yang ada di atasnya. Mereka adalah kekuatan yang mampu menopang setinggi dan sebesar apapun pohon tersebut. Jika diterapkan dalam kehidupan manusia maka yang dimaksudkan di sini adalah kekuatan hati. Orang-orang yang bekerja sebagai pemimpin dan bertugas di area manajemen adalah mereka yang tabah dalam menghadapi cobaan hidup. Tantangan yang pertama-tama adalah menghadapi kepribadian karyawan yang berbeda satu sama lain.

  5. Tahan uji terhadap berbagai pencobaan.

    Batang pohon adalah yang paling banyak mengalami penderitaan. Rasa sakit yang mereka derita lebih banyak timbul dari luar dirinya/ luar sistem. Tetapi seiring dengan semua kepahitan itu, kulitnya semakin tebal dan kebal terhadap berbagai cobaan. Untuk menghadapi ujian kehidupan, tidak hanya dibutuhkan kesabaran melainkan juga diperlukan yang namanya kecerdasan. Berhati-hatilah sebab kita tidak membutuhkan orang yang manipulatif untuk mencapai tujuan-tujuannya melainkan juga tetap menjaga konsistensinya untuk mempertahankan dirinya tetap berlaku benar.

  6. Mendukung aktivitas dan mensuplai kebutuhan yang lainnya.

    Seperti halnya akar dan batang tanaman yang senantiasa memberi topangan, dukungan dan sumber daya mentah ke seluruh bagian-bagiannya. Demikian juga dengan orang yang bertugas memimpin dan memanajemen sebuah sistem, harus mendukung dan memenuhi kebutuhan setiap pegawai yang bertugas. Mereka harus peka terhadap kemampuan seorang petugas, sehingga menempatkan orang tersebut pada posisi yang sesuai dengan kemampuannya. Menjauhkan diri dari praktek kolusi dan nepotisme melainkan mengedepankan penilaian yang objektif terhadap seluruh karyawan. Peka terhadap kebutuhan mereka dan memenuhi semuanya itu selama perusahaan/ negara sanggup melakukannya.

  7. Memotivasi seluruh anggotanya.

    Ada pohon yang daun-daunnya menutup (menguncup) ketika matahari telah terbenam. Memang ini tidak dipengaruhi oleh akar atau batang tanaman tetapi ini bisa kita pahami sebagai suatu motivasi yang tepat diberikan pada waktu yang tepat. Mereka yang bertugas memimpin dan memanajemen negara/ perusahaan berperan aktif untuk memberikan dorongan dan semangat kerja bagi seluruh pegawai. Motivasi yang selalu bisa diekspresikan adalah sikap (perkataan dan perilaku) seseorang terhadap sesamanya. Mereka yang sopan dan santun juga merupakan sebuah motivasi bagi orang lain sebab tentu saja sikap seperti ini membutuhkan pengorbanan. Motivasi lewat berpidato di depan mimbar juga dibutuhkan tetapi semangat lewat sikap itu bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan apapun keadaan kita.

  8. Adil dalam memberi manfaat.

    Bila akar dan batang tidak adil dalam memberi nutrisi maka pertumbuhan sebuah tanaman bisa saja mengalami kepincangan (berat sebelah di salah satu sisi). Tetapi hal ini tidak pernah terjadi kecuali untuk jenis pohon yang sengaja ditebas (dibersihkan) manusia. Lihatlah daun-daun dalam suatu tanaman, bukankah ukurannya hampir bersamaan? Yang muda pasti berukuran kecil tetapi yang sudah abangan pasti lebih lebar. Tetapi dari pemandangan keseluruhan maka bisa dikatakan bahwa ukuran mereka masing-masing serupa satu sama lain. Demikianlah seharusnya manajer/ pemimpin dalam memberlakukan seluruh pegawainya, tidak tebang pilih/ tidak pandang bulu/ tidak pilih kasih dalam mengambil keputusan.

  9. Meletakkan kaum muda di depan untuk bekerja keras.

    Coba perhatikan struktur tanaman, seolah-olah mereka menjadikan pucuk dan dun muda sebagai ujung tombak sedang yang sudah berpengalaman diletakkan di belakang. Seharusnya, demikianlah pihak manajemen dan pemimpin bekerja, meletakkan yang masih muda-muda di depan bukan untuk memimpin tetapi untuk aktif bekerja keras. Ini bertujuan agar kaum muda-mudi tidak terlena lalu menjadi bodoh dalam kemanjaannya melainkan agar pemuda/ pemudi memiliki skill yang hampir sama dengan orang yang sudah berpengalaman. Oleh karena itu, sebaiknya para petinggi di negeri kita tidak lagi memanjakan persaudaraan yang syarat kolusi dan nepotisme sebab hal tersebut sama saja dengan merugikan mereka, perlahan tetapi pasti.

  10. Menciptakan pemimpin yang setidak-tidaknya setara dengan dirinya.

    Suatu pohon bertambah besar bukan karena sel akar dan batangnya bertambah gede tetapi jumlah selnya bertambah banyak. Demikianlah seharusnya seorang pemimpin yang luar biasa mampu menciptakan orang-orang yang setidak-tidaknya setara dengan dirinya dan bila lebih juga maka tidak masalah. Manajer bukanlah seorang pendengki yang ketika melihat potensi seseorang maka langsung menyikut dan berusaha menjatuhkan lawannya. Atau yang hanya mengajarkan teknik kepemimpinan kepada kerabatnya saja (kolusi, nepotisme). Tetapi mereka adalah orang yang tulus dan mau membimbing calon-calon pemimpin kepada batas atas potensi mereka.

Pohon memberikan gambaran yang jelas kepada manusia bagaimana seharusnya seseorang menjadi pemimpin. Hanya saja, kalaulah diperhatikan secara seksama maka akan menemukan bahwa manajemen perusahaan yang ditunjukkan oleh tanaman bargaya terbalik dari skema kepemimpinan yang umumnya diterapkan dalam masyarakat awam. Jika seorang manajer biasanya berada di atas tetapi pohon lebih suka meletakkannya di bawah. Ini menunjukkan betapa pola-pola yang terbentuk di alam semesta mengharuskan seorang pemimpin untuk mampu bersikap rendah hati dalam kesehariaannya. Biasanya semakin sederhana seorang pemimpin maka prestasinya semakin baik, seperti Bapak Presiden Jokowi. Tetapi semakin angkuh/ sombong seorang pemimpin menandakan semakin minim prestasinya dan semakin kuat hasratnya untuk mempertahankan posisi tersebut bahkan sampai melegalkan hal-hal yang salah sekalipun (secara diam-diam).

Salam, jadilah manajer yang adil dan peduli!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.