Kepribadian

10 Alasan Kejahatan Tetap Ada – Mengapa Orang Jahat Masih Ada?

Alasan Kejahatan Tetap Ada – Mengapa Orang Jahat Masih Ada

Bila diumpamakan maka kejahatan itu seperti gelap yang menerangi ruang. Manusia yang berjalan di tengah gelap gulitanya malam pastilah akan tersandung atau menabrak dirinya terhadap sesuatu. Inilah petunjuk yang menegaskan bahwa kegelapan yang terlalu gelap pastilah akan menjerumuskan manusia pada keadaan yang semakin memburuk. Bahkan kejadian yang sebenarnya biasa-biasa saja menjadi sangat jahat sehingga menyebabkan kerugian yang besar tidak hanya menyangkut satu pihak saja tetapi juga menyangkut banyak pihak.

Hal-hal yang jahat bukanlah baru-baru pertama ada di zaman sekarang melainkan dari zaman dahulu bahkan dari masa awal penciptaan hal buruk itu telah di mulai. Jika kembali lagi kita telisik ke belakang maka akan menemukan bahwa bukan makhluk hidup lain dan bukan alam ini yang menciptakan kejahatan. Melainkan manusialah yang menjadi aktor utama kejahatan itu sendiri. Demikianlah hal ini terus saja berlanjut sampai sekarang, sekalipun ada berbagai kerusakan dan bencana yang ditimbulkan oleh alam sekitar (makhluk hidup lain dan lingkungan) tetap saja hal tersebut pada awalnya dipicu oleh manusia.

Pengertian

Kejahatan adalah (1) perbuatan yang jahat; (2) sifat yang jahat; (3) dosa; (4) perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku yang telah disahkan oleh hukum tertulis. Ini adalah sisi buruk dalam diri seseorang yang membuatnya tidak taat dan cenderung melepaskan energi negatif (kekuatan jahat) dari dalam dirinya sehingga merugikan sesama manusia, makhluk hidup lain dan lingkungan sekitar. Tidak ada oknum yang lebih kuat sebagai pemicu aksi kejahatan selain manusia itu sendiri. Sekalipun makhluk hidup lain bisa melakukan hal yang negatif misalnya membunuh sesamanya demi makanan tetap saja itu hanya sebatas kebutuhannya.

Alasan mengapa hawa nafsu binatang tidak berbahaya sedangkan keinginan manusia berbahaya

Mengapa kalau binatang mengekspresikan hawa nafsunya maka tidak terjadi apa-apa atau tidak terjadi kerusakan. Tetapi mengapa kalau manusia yang berusaha mewujudkan hawa nafsunya  maka selalu berdampak pada pengurangan sumber daya dan kelangkaan hingga berujung pada habisnya sumber daya itu sendiri. Ini dikarenakan kitalah yang berada di puncak dari segala rantai makanan sehingga kekuatan untuk melakukan tindakan yang semena-mena semakin besar kerusakannya. Sedangkan hewan dan tumbuhan keberadaan mereka dibatasi oleh makhluk hidup lain dan manusia itu sendiri. Satu lagi yang membuat hawa nafsu makhluk hidup lain tidak berbahaya adalah mereka tidak pernah menyimpan sesuatu (tidak memiliki lumbung & koleksi harta benda lainnya).

Apakah kejahatan tidak bisa dihilangkan?

Menghilangkan kejahatan sama dengan menghilangkan manusia itu sendiri dari muka bumi, mengapa kami berkata demikian? Sebab sumber segala sesuatu yang jahat itu ada di dalam diri manusia itu sendiri, tepatnya di hati masing-masing orang. Jadi, apakah ada orang yang mampu mencopot hatinya dari tubuh sendiri? Tentu saja tidak sebab pikiran (hati atau otak) sudah ada sejak kita dibentuk di dalam rahim Ibunda. Sisi negatif ini sebenarnya sudah ada di dalam diri setiap orang tanpa terkecuali, mulai dari yang kecil sampai besar, yang ubanan sampai anakan dan yang sudah menikah juga yang belum. Masalahnya sekarang adalah menghilangkan tidak mungkin lalu bagaimana meminimalisir dan menekannya?

Sumber segala sesuatu yang terjadi di bumi ini adalah otak (hati)

Pusat kejahatan yang sebenarnya adalah pikiran manusia bukannya segala sesuatu yang ada disekitar kita. Hal-hal jahat yang berlangsung disekitar kita sesungguhnya hanya faktor yang kemudian muncul (faktor ke dua). Misalnya saat di sekitar lingkungan kita terjadi banjir, siapa yang salah? Ya, manusia yang terlalu serakah menebang pepohonan sembarangan demi uang, kemewahan, kenyamanan dan kemudahan duniawi sehingga terjadilah banjir. Demikian juga saat ada serangan hewan buas, pasti manusialah yang membabat habis hutan-hutan sehingga hewan tersebut masuk pemukiman masyarakat. Terlebih berbagai potensi jahat di sekitar kehidupan kita seperti penyalahgunaan narkoba, maling dan lain sebagainya. Bukankah itu semua terjadi demi uang?

Menjaga alam bawah sadar tetap di bawah

Manusia Yang Fokus Kepada Gemerlapan Duniawi Akan Dikuasai Oleh Alam Bawah Sadarnya Yang Penuh Kedagingan

Jika kita kembali menelisik ke belakang maka akan menemukan tulisan tentang alam bawah sadar di dalam pikiran manusia. Sisi buruk dalam otak ini disebut rasul Paulus sebagai perbuatan daging. Segala sesuatu yang jahat sudah ada melekat di dalam daging kita. Masalahnya sekarang adalah, mengapa hal tersebut bisa muncul sehingga diekspresikan lewat tutur kata dan perilaku yang buruk? Ini disebabkan oleh karena kesadaran kita menurun sehingga alam bawah sadar aktif lalu keluarlah berbagai hal negatif dari dalam diri sendiri. Satu-satunya yang bisa menekan alam bawah sadar adalah lewat aktivitas yang positif. Upayakan untuk selalu fokus kepada Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian), belajar dan bekerja (sesuai bakat dan tempat kerja).

Manusia Yang Fokus Kepada Tuhan Akan Dikuasai Oleh Sistem Sadar Otak Yang Menginginkan Kebenaran (Mengasihi Allah & Sesama)

Faktor penyebab kejahatan tetap ada sampai sekarang

Mungkin ada beberapa orang dari kita yang mulai bosan dengan hari-harinya lalu bertanya-tanya: “heran saya, mengapa orang-orang jahat itu selalu ada ya? Mereka hanya membuat orang lain menjadi jengkel saja?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya sebab bukan alam sekitar atau makhluk hidup lainlah yang jahat melainkan manusia itu sendiri yang mengekspresikan hal tersebut. Berikut ini kami akan mencoba menjelaskan faktor yang mempengaruhi sehingga kejahatan tersebut selalu ada dari dulu, sekaran dan yang akan datang.

  1. Sudah takdir Yang Maha Kuasa.

    Memang benarlah bahwa nafas kita berasal dari Allah saja, yaitu nafas kebenaran. Sayang kita hidup dalam tubuh yang dikuasai iblis yang penuh dengan kedagingan (perbuatan daging). Apakah Tuhan tidak mengetahui hal tersebut? Mengapa Dia yang syarat dengan kebenaran meletakkan nafas-Nya di tubuh yang penuh hasrat yang tinggi akan hal-hal daging (jahat)? Mau bagaimana lagi, itulah takdir kita yang telah ditetapkan oleh Allah. Dimana hal tersebut akan menjadi perintang yang sekaligus akan melatih diri ini untuk senantiasa dekat dengan Tuhan.

    Coba bayangkan, jika saja alam bawah sadar yang syarat kedagingan itu tidak ada? Pasti kita tidak akan pernah fokus terus-menerus kepada Tuhan. Toh saat pikiran kosong semuanya baik-baik saja. Tetapi karena ada hasrat jahat yang penuh kedagingan di dalam hati masing-masing maka tepat saat itulah kita diharuskan untuk senantiasa berdoa, membaca firman dan bernyanyi memuliakan Allah agar sikap tetap baik dan benar adanya.

  2. Menjaga keseimbangan – sebagai pengingat.

    Hidup ini penuh dengan dualisme. Dimana ada aksi disitu ada reaksi yang masing-masing seimbang. Kejahatan ini tetap ada untuk menjaga sikap kita tidak menjadi sesat dan berlebihan. Sebab segala sesuatu yang lebay cenderung salah dan jahat adanya. Misalnya saja, saat kita terlalu mengeksploitasi pepohonan lalu menebangnya secara luas maka erosi akan meningkat dan suhu lingkungan akan semakin tinggi.

    Dalam hal ini, apa yang jahat sedang tertidur lelap. Tepat saat tindakan manusia sesat dan berlebihan maka saat itu jugalah berbagai keburukan akan keluar. Jadi hal-hal negatif ini akan terbangun alias bereaksi tepat saat aksi yang kita lakukan syarat dengan keserakahan.

  3. Melatih orang benar tetap taat.

    Pada bagian ini, kita mengenal kejahatan sebagai salah satu sarana untuk menguji hati setiap orang. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang merugikan secara materi melainkan lebih kepada tindakan yang berupaya menyesatkan. Ini seperti yang dilakukan ular terhadap Hawa. Hewan ini menyesatkan pikiran nenek moyang kita bukan merugikan mereka secara fisik (mencuri/ mematuk/ menggigit).

    Orang jahat yang menyesatkan kita selalu ada. Mereka tidak berusaha merugikan manusia secara fisik tetapi berusaha merusak pemahaman/ pola pikir/ cara pandang kita terhadap kebenaran sehingga kita mengikuti keburukan yang ada sudah duluan ada di dalam pikiran sendiri. Pada akhirnya para penyesat dan orang berdosa itu sendiri akan dihukum Allah, sama seperti yang dialami Adam, Hawa dan ular.

  4. Melatih ketulusan/ keikhlasan dalam bersikap di hati masing-masing orang.

    Kejahatan dalam hal ini ada untuk menguji manusia. Apakah kita sudah benar-benar tulus dalam bersikap? Artinya, apakah yang keluar dari dalam diri ini (perkataan dan perbuatan) sudah sesuai dengan kata hati? Atau jangan-jangan, kitalah orang munafik, musang berbulu domba itu. Yang perkataan, perilaku dan penampilannya begitu menyenangkan tetapi yang sebenarnya motivasinya untuk melakukan semuanya itu jahat adanya.

    Ujian kehidupan ada untuk menelanjangi kumunafikan manusia. Mereka yang hanya menampilkan hal-hal baik dimuka tetapi hatinya keji niscaya tidak tahan uji sehingga cenderung melampiaskan sisi emosional yang tidak stabil. Akibatnya, sikap (perkataan dan perilaku) orang tersebut memburuk saat menghadapi masalah.

  5. Fokus kepada Tuhan hilang.

    Ketika manusia lebih fokus kepada materi dan kemuliaan duniawi maka secara otomatis Tuhan ditinggalkannya. Sebab, Tuhan ada di dalam hati dimana untuk merasakan keberadaan Tuhan maka yang dibutuhkan adalah berdoa, membaca firman dan bernyanyi memuliakan nama-Nya. Sedangkan saat menikmati hidup terus-menerus, indra kita terlena dan pikiran tertawan sehingga hati menjadi lemah dan hubungan dengan Tuhanpun menjadi regang. Berikut ini, beberapa hal buruk yang kita rasakan akibat fokus kepada Tuhan hilang.

    • Kebodohan, menurunkan kecerdasan & kesadaran sehingga kemampuan mengendalikan diri minus.

      Saat kita terlena dengan kenikmatan dan kemuliaan duniawi secara maraton yang dikarenakan oleh uang di tangan banyak sehingga bisa meraih hal-hal duniawi itu dengan mudahnya. Sadarilah bahwa menikmati hidup dengan cara berlebihan seperti ini sama dengan mengosongkan pikiran dalam waktu yang lama. Akibatnya, kecerdasan kita akan menurun dan kesadaran juga turun. Ujung-ujungnya, kita tidak bisa mengendalikan diri lalu berbuat kejahatan yang merugikan orang lain dan diri sendiri.

    • Hawa nafsu yang berlebihan – sesat.

      Ada nafsu terhadap materi (uang) sehingga membuat manusia mencuri, menipu bahkan korupsi (adeknya KKN). Juga ada nafsu yang besar untuk terpuji, terkenal (populer). dihargai, terhormat dan lain sebagainya. Sekali terjebak dalam berbagai keinginan ini maka tepat saat itulah kita menjadi jahat sejahat-jahatnya. Hal ini ditandai dengan sikap yang ketagihan terhadap semuanya itu.

      Keinginan manusia jelas tak terbatas. Bahkan saat seseorang memiliki seluruh dunia ini sekalipun, hawa nafsu tersebut tidak akan terpuaskan. Sebab pikiran kita adalah milik Tuhan dan satu-satunya yang bisa memuaskan hati adalah dengan senantiasa kembali kepada-Nya dalam doa, firman dan nyanyian pujian untuk memuliakan nama-Nya. Saat hawa nafsu manusia tidak ditekan oleh aktivitas positif (fokus Tuhan) niscaya perkataan dan perbuatan kita bisa menjadi jahat semata-mata demi mewujudkan hal yang kita iming-imingi tersebut.

    • Adanya mementingkan diri sendiri.

      Sifat egois beresiko membuat seseorang menjadi penjahat, mengapa demikian? Karena saat kita mementingkan diri sendiri maka kepentingan orang lain akan diabaikan bahkan tidak dipedulikan lagi. Keadaan ini jelas memperbesar kemungkinan bagi seseorang untuk memanipulasi/ membohongi sesamanya demi uang dan kekuasaan belaka.

    • Adanya reaksi antara iri hati vs kesombongan.

      Iri hati dan kesombongan adalah tabiat manusia dari awal. Rasa ini membuat seseorang menginginkan sesuatu yang lebih dari apa yang dimiliki sesamanya. Karena seseorang dengki maka ia tidak lagi peduli saat orang yang disampingnya mencoba ramah. Akibat sombong maka seorang manusia akan cenderung suka pamer dan sok-sok’an atas kelebihan yang dimilikinya.

    • Adanya gabungan antara kebencian dan amarah.

      Seseorang yang memiliki dendam dengan sesamanya cenderung menyimpan rasa benci di dalam hatinya. Ini terbukti ketika ia melihat orang tersebut maka mulailah hatinya kesal. Bahkan melihat orang itu tertawa juga hatinya masih merasakan kepahitan padahal lawannya tersebut sedikitpun/ sama sekali belum menyinggung/ mengganggunya. Jika kebencian ini berubah wujud menjadi amarah niscaya seseorang akan melampiaskan kekesalannya dengan berbuat jahat.

  6. Belum ada keadilan sosial – kesetaraan.

    Kesetaraan dibutuhkan untuk mengendalikan kepemilikan sumber daya oleh masing-masing orang. Sebab dasar teorinya adalah semakin banyak uang seseorang maka akan semakin besar pula potensi kejahatan yang dapat dilakukannya. Demikian juga, semakin tinggi kekuasaan seseorang maka akan semakin besar kerusakan yang dapat ditimbulkannya. Oleh karena itu, tanpa keadilan sosial, manusia akan menggunakan ilmu, uang dan kekuasaan yang dimilikinya untuk membohongi dan menyesatkan orang lain. Sedang dia sendiri beroleh keuntungan dari semuanya itu.

    • Uang yang banyak dan tidak terkendali.

      Semakin banyak harta benda yang dimiliki seseorang maka semakin besar pula kemungkinan tingkat kejahatan yang dapat dilakukannya. Misalnya saja dalam hal kepemilikan senjata api. Orang-orang tersebut bisa saja menggunakan uangnya yang banyak untuk membeli senjata api ilegal secara diam-diam, siapa yang tahu? Mereka bisa juga membayar orang lain untuk mewujudkan keinginannya. Misalnya saja saat dalam pilkada, mereka akan membayarkan sejumlah uang kepada masyarakat agar dirinya terpilih menjadi kepala daerah, bukankah itu kejahatan kampanye?

    • Kekuasaan yang berlebihan dan tidak terkendali.

      Seorang pemimpin (sekumpulan pejabat) yang memiliki kekuasaan tak terbatas pastilah akan bisa menggunakan kekuasaan tersebut sesuka hatinya. Terlebih ketika yang diinginkannya adalah kedikjayaan untuk mempertahankan kuasa tersebut selama mungkin. Dalam proses mempertahankan kekuasaan inilah seorang pemimpin bisa menggunakan kuasanya yang tak terbatas untuk menghalalkan segala cara demi terwujudnya impian tersebut.

    • Pengetahuan dan teknologi yang lebay dan tidak terkendali.

      Saat seorang manusia memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih dan beragam, bisa saja semua hal tersebut akan dimanfaatkan untuk melegalkan maksud hatinya yang jahat. Mereka memanfaatkan teknologi yang telah ditemukannya untuk meraih lebih banyak uang. Menipu orang lain sana-sini lalu menawarkan teknologinya sebagai solusi buat persoalan yang dihadapi.

      Kejahatan para kaum intelek ini juga bisa berupa merusak lingkungan alamiah disekitarnya sehingga mengalami degradasi. Dengan demikian, seluruh penduduk akan ketergantungan dengan pasokan air bersih dari perusahaan, pendingin udara, pertanian dalam gedung, rumah yang tertutup rapat dan berbagai fasilitas lainnya harus dibeli kepada perusahaan tertentu.

  7. Tidak ada batas yang mengatur (Hukum, peraturan, undang-undang tidak memadai).

    Kejahatan terus terjadi karena hukum yang berlaku di suatu wilayah tidak komprehensif. Sebab peraturan yang ada hanya berpihak kepada kalangan atas, borjuis dan penguasa saja. Sistem seolah-olah menjaga mereka begitu rapat dan aman bahkan segala tindak-tanduknya untuk melegalkan kepemilikan gaji dan fasilitas serba mewah akan disahkan. Sebab merekalah yang membuat peraturan untuk dirinya sendiri.

    Uang negara yang harusnya menjadi hak seluruh rakyat hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Sedangkan rakyat jelata diberikan remeh-remehnya saja.  Istilahnya adalah bagian mereka satu miliar per orang sedangkan bagian rakyat hanya seratus ribu per orang.

  8. Sanksi yang tidak sebanding.

    Seorang pelaku kejahatan yang merugikan masyarakat sampai angka miliaran rupiah ternyata hanya dihukum selama beberapa tahun saja. Bahkan mereka diberikan fasilitas penjara khusus yang menjanjikan kenyamanan. Tidak hanya itu saja, para koruptor ini juga diberikan berbagai pengurangan hukuman di hari-hari besar nasional dan keagamaan.

    Hukuman untuk seorang koruptor terlalu cemen sehingga para penjahat ini tetap melakukan aksinya. Sebab manfaat yang mereka peroleh dari hasil korupsi bisa mencapai miliaran rupiah bahkan sampai menjamin kehidupan beberapa generasi setelahnya.

  9. Sumber daya yang tersedia menipis bahkan habis – kebutuhan tidak tercukupi.

    Sumber daya yang habis bisa saja disebabkan oleh karena pemborosan yang dilakukan oleh oknum kapitalis tertentu sehingga rakyat banyak tidak kebagian jatah. Terlebih ketika mereka hidup berfoya-foya memboros-boroskan hartanya lalu mengadakan pesta di rumahnya tiap bulan, bukankan itu mubazir? Keadaan ini membuat semua barang kebutuhan yang tersedia di pasar akan dibeli mereka sehingga stok menipis. Akibatnya terjadilah peningkatan/ kenaikan harga barang yang signifikan sehingga membuat masyarakat kurang mampu membeli barang tersebut.

    Saat seorang manusia kebutuhannya tidak tercukupi maka ada kemungkinan untuk melakukan aksi kejahatan demi memenuhinya. Kebiasaan copet/ maling merupakan salah satu pertanda lemahnya sumber daya sehingga membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk memenuhi hal tersebut.

    Hewan-hewan di alam saat makanan telah habis maka akan saling memakan (kanibalisme) sekalipun antar sesama spesies sendiri. Kami pikir demikian jugalah manusia, saat sumber daya yang tersedia menipis maka akan muncullah aksi konspirasi untuk melenyapkan nyawa orang lain agar kelompok tertentu tetap hidup.

    Ini persis seperti saat dunia mengalami kelangkaan bahan bakar. Akibatnya, negara-negara akan saling berperang satu sama lain untuk memperebutkan ladang minyak yang masih tersisa. Demikian juga saat sumber daya alam di sekitar kita tidak mencukupi untuk hidup maka seseorang akan menjadi jahat lalu mencuri sana-sini demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

  10. Kedahsyatan yang dari Allah untuk merusak kehidupan para penjahat.

    Silahkan baca lagi Kitab Suci yang anda miliki maka disana akan terlihat dengan jelas bagaimana cara Allah yang ajaib untuk menetralisir perilaku manusia yang jahat. Berbagai hal-hal yang mengherankan akan terjadi untuk menimpa para penjahat tersebut seperti kebingungan, ketakutan hujan batu dari langit dan bencana alam lain sebagainya. Orang yang buruk tabiatnya dimana kesalahannya sudah genap memenuhi kehidupannya maka kedahsyatan yang daripada Allah akan menimpa orang tersebut.

Biasanya kejahatan itu ada sebagai penyesat umat manusia. Disatu sisi hal-hal jahat semakin menjadi-jadi ketika keadilan sosial belum diterapkan sehingga membuat orang tertentu menggunakan sumber daya yang dikuasainya untuk menipu (memanipulasi) dan menekan orang/ kelompok tertentu. Disisi lain hal buruk yang lebih dahsyat sedang tertidur (bencana alam) menunggu manusia untuk berbuat jahat. Saat kebebalan seseorang penuh maka genaplah waktu pembalasan bagi orang tersebut yang datangnya langsung dari Allah. Satu-satunya cara untuk menekan dan meminimalisir kedagingan di dalam hidup kita adalah dengan senantiasa memusatkan konsentrasi kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Anda juga bisa menghabiskan waktu dengan senantiasa belajar dan bekerja sesuai dengan bidang dan potensi yang dimiliki. Semua aktivitas positif tersebut pastilah akan membuat kecerdasan dan kesadaran meningkat sehingga kemampuan untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang jahat semakin lama semakin baik dan mahir.

Salam, kedagingan hanya bisa ditekan dan diminimalisir, selebihnya hal tersebut adalah ujian kehidupan yang harus kita hadapi dengan tegar tapi tetap santun!

2 replies »

  1. Mantab sekali Bapak kebetulan sekali dgn pergumulan hidup saya,dimana seorang ibu mertua yg sama sekali tdk punya hati,lebih lagi seorang adik dr suami sy yg mengatakan bahwa saya adlh iblis ,setan dia itu,dan menjadikan saya sebagai kambing hitam,kita tdk tau isi hati tiap jiwa tetapi semua itu akan nampak pada sikap dan perilaku.dengan sengaja memutuskan hubungan suami istri ,dan menunjukan bahwa hal itu adalah sebuah kebenaran ,apa dan bagaimana sesungguhnya kebenaran yg dari Atas bukanlah dan tdk akan pernah sama dgn kebenaran yg dipikan manusia tetapi pada dasarnya siapapun yg meminta Tuhan pimpin dalam memutuskan masalah maka akan ada damai,tetapi barang siapa memutuskan masalah tdk dgn meminta Tuhan pimpin akan mengakibatkan kerugian salah satu pihak,Bapak kejahatan akan selalu ada baik nampak at tdk bahkan yg mengenal Tuhan yg sejak lahir sj masih bisa berbuat jahat terhadap sesama terlebih lagi para pemimpin umat yg hanya mendengar dr 1 pihak tanpa melibatkan pihak lain yg juga perlu dilibatkan dalam urusan kejahatan,tanpa tau permasalahan dgn jelas dan memutuskan ‘dia wanita jahat’ itupun suatu kekejian dihadapan Tuhan .shallom Bapak Tuhan memberkati

    Disukai oleh 1 orang

    • Setuju, selalu libatkan Tuhan dalam segala sesuatu. Usahakan untuk berfokus kepada-Nya (doa, firman, nyanyian pujian) disegala waktu dengan demikian Ia bisa menunjukkan jalan….
      Terimakasih.

      Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.