Kepribadian

7 Perbedaan Hawa Nafsu Manusia Dan Binatang (Hewan Lainnya Tidak Berdosa)


Perbedaan Hawa Nafsu Manusia Dengan Binatang (Hewan Lainnya Tidak Berdosa)

Tidak ada satupun makhluk hidup yang tidak memiliki hawa nafsu. Ini adalah nilai default yang mau tidak mau harus selalu hadir dalam setiap diri masing-masing orang. Segala makhluk memiliki keinginan yang menandakan bahwa mereka masih manusiawi. Tanpa  hawa nafsu, kit juga diperhadapkan dengan situasi yang menjadi kurang semangat/ kurang bergairah. Jadi keinginan kitalah yang membuat hidup ini bergairah. Masalahnya sekarang adalah, dimana dan kemanakah akan anda arahkan seluruh kehidupan pelik yang dijalani? Kemanapun itu, pastikan untuk selalu berjalan di jalur yang benar adanya.

Pengertian

Menurut KBBI Luring, hawa nafsu adalah desakan hati dan keinginan keras (untuk menurutkan hati, melepaskan marah, dan sebagainya). Merupakan hasrat yang terdalam terhadap sesuatu hal yang lahir dari dalam lubuk hati manusia. Ia juga dikenal luas sebagai keinginan yang bisa muncul begitu saja tanpa ada dasar apapun. Artinya, seseorang bisa saja memunculkan segala sesuatu dari dalam dirinya, nafsu baik ataupun jahat, semua tergantung dari pilihan masing-masing orang. Biasanya, apa yang sering kita ekspresikan adalah sesuatu yang sudah dibiasakan. Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap kebiasaan anda, jangan mulai mengekspresikan yang jahat sebab itu bisa saja sebagai sebuah pancingan awal dari membiasakan diri.

Saat apa yang kita inginkan sudah terpenuhi semuanya maka keadaan tersebut bisa berujung pada kesenangan. Rasa ini memang hanya berlangsung sesaat saja tetapi cukup-cukup makan untuk membuat hari-hari kita seolah lebih cerah dan nyaman untuk dijalani. Sayang, kita bukanlah makhluk sempurna yang selalu bisa mencapai semua yang diinginkannya. Terkadang ada juga rasa kecewa yang muncul akibat hawa nafsu yang tidak kunjung kelar sejak lama diikrarkan. Ada orang yang tenggelam dalam kekecewaan yang besar sehingga mendorong kehidupannya dipenghujung kehidupan yang merana dan berakhir tragis.

Sementara orang-orang yang cerdas lagi bijak memandang kekecewaan sebagai sebuah awal rasa untuk belajar lebih kuat. Pertama-tama mungkin kesannya akan memicu rasa sedih dan galau tetapi lama kelamaan menjadi seorang yang mampu menyesuaikan diri. Tentu saja hal ini, tidak langsung kelar begitu rasa kecewa datang melainkan butuh banyak kekecewaan sehingga kita bisa mengiklaskan segala sesuatu yang bertentangan sekaligus menyakitkan hati masing-masing. Sebuah pembelajaran hidup memang dituai dari rasa sakit dan mereka yang mampu menanggungnya adalah orang yang tahan uji.

Kekecewaan adalah kesempatan untuk menghilangkan keinginan

Kami hendak mengatakan kepada para pembaca bahwa “segala masalah yang kita hadap ada manfaatnya.” Jangan pernah bersungut-sungut apalagi menyesal terhadap semua persoalan yang terjadi di dalam kehidan anda teman, sebab semuanya mengandung sisi positif. Disinilah pikiran yang benar-benar positif dibutuhkan untuk memahami kehidupan. Saat anda dikecewakan maka hal tersebut adalah kesempatan untuk menghilangkan hawa nafsu di bidang itu. Seperti kami, yang dahulu begitu menginginkan dan merindukan seorang pendamping hidup. Tetapi setelah melalui beberapa tahapan kekecewaan, kami mengalami kepahitan, menyesuaikan diri dan berimprovisasi hingga memutuskan untuk membuang keinginan tentang hal tersebut.

Makhluk hidup lainnya tidak berdosa

Mengapa kami yakin betul bahwa makhluk hidup lainnya tidak berdosa? Ini sebenarnya merupakan sebuah fakta sebab sampai sekarang hanya manusialah yang menjadi penyebab utama kacau-balaunya dunia ini. Lagipula setiap hewan tidak memahami yang namanya kebenaran sebab mereka hanya diprogram untuk melakukan beberapa rutinitas yang bisa dihitung dengan jari (diantaranya makan, minum, berjalan, tidur, seks dan lain-lain). Dimana semua keadaan ini, tidak merusak banyak sumber daya, bahkan bisa dikatakan bahwa apa yang mereka ambil dari alam pada dasarnya bisa kembali diproduksi oleh alam itu sendiri. Sedang saat binatang tertentu terlalu serakah maka hewan buas lain akan menghentikan langkahnya dan manusia sendirilah yang akan menjadi lawannya. Kitalah yang berkuasa atas hewan dan tumbuhan dan mengendalikan keserakahan mereka.

Pada dasarnya, alam sendiri memiliki mekanisme khusus untuk menetralisir binatang yang serakah. Ketamakan akan membuat mereka kekurangan suplai makanan sehingga beresiko saling adu jotos dan saling makan (kanibalisme). Jadi mekanisme ini akan terus menjadi pengendali hewan liar, yaitu saat mereka serakah maka persediaan makanan akan berkurang, aksi kanibalisme akan berlangsung, manusia bisa turut dalam memburunya, jumlahnya akan menurun (si serakah telah dinetralisir). Semua mekanisme alamiah ini akan terus ada di lingkungan sekitar untuk menciptakan keseimbangan alam.

Jadi jelaslah bahwa hewan tidak memiliki hawa nafsu yang berlebihan, mengapa kami mengatakan demikian? Karena setiap kali ada yang hawa nafsunya lebay pastilah akan membuat stok makanan berkurang. Keadaan ini membuat mereka saling serang untuk memperebutkan sisa stok yang masih ada. Manusia juga akan turut memburu binatang yang serakah tersebut sebab hewan yang sudah mati-matian bertarung dengan jenisnya, sekalipun dia menang, akan menjadi lelah. Karena faktor kelelahan inilah hewan tersebut tidak dapat lagi bersembunyi dan mudah diburu oleh manusia. Jadi, tidak ada binatang yang serakah alias makhluk hidup lain tidak berdosa.

Perbedaan hawa nafsu manusia dan makhluk hidup lainnya

Semua makhluk memang memiliki keinginan tetapi tidak semua keinginan itu jahat adanya. Misalnya saja, kita manusia ingin makan lalu membunuh tanaman dan beberapa hewan, apakah itu salah? Tentu saja tidak, selama yang kita sembelih adalah kepunyaan sendiri dan bukan hasil curian dari milik orang lain. Demikian juga binatang, selama apa yang dikonsumsinya hanya sebatas apa yang dibutuhkan maka selama itu pula mereka benar. Berikut akan kami jelaskan beberapa perbedaan sekaligus perbandingan antara keinginan binatang dan manusia.

No.

Perbandingan Antara

Binatang

Manusia

1.

Tidak cerdas dan tidak memiliki kesadaran.

Pernahkan anda mengatakan kepada bayi yang baru lahir “jangan pipis atau pup di celana ya dedek….” Tentu saja bayi tersebut tidak akan mendengarkanmu dan tetap saja melakukan hal yang menurut kita agak menjijikkan tersebut. Itulah yang namanya tidak cerdas dan tidak memiliki kesadaran. Dengan demikian para hewan dan makhluk hidup lainnya secara otomatis tidak mengenal/ memahami sesuatu tentang kebenaran.

Memiliki kecerdasan dan kesadaran.

Itulah mengapa seorang bayi sampai remaja dosa-dosanya ditanggung oleh orang tua. Sebab pada umur tersebut manusia belum paham tentang kebenaran dan aturan yang menyertainya, sehingga sudah seharusnya tugas ini diemban oleh orang tua yang harus melatihnya untuk cerdas dan sadar.

2.

Mereka tidak mengenal kebenaran.

Binatang tidak dapat memahami apa itu kebenaran. Mereka tidak memiliki kesadaran sehingga tidak mengerti nilai-nilai tentang yang baik dan yang jahat. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang kebenaran yang hakiki. Oleh karena itu, sikap dan hawa nafsu yang mereka ekspresikan tidak perlu dibandingkan dengan nilai-nilai yang benar karena binatang tidak memiliki standar apapun dalam hidupnya.

Kita mengenal kebenaran.

Manusia sudah dianugrahkan dengan kecerdasan sehingga mampu memahami nilai-nilai yang benar. Oleh karena itu, setiap orang yang terlalu serakah mengeksploitasi alam sekitarnya akan mendapatkan hukuman pada waktunya. Pengenalan akan kebenaran yang sejati seharusnya mampu membatasi keinginan yang kita miliki.

3.

Hawa nafsunya terbatas

Apa yang diambil hewan dari lingkungan hanyalah sebatas apa yang muat dalam perutnya saja. Jika dia herbivora maka akan mengkonsumsi rumput yang muat dalam perutnya saja. Bagi karnivora, mereka hanya akan berburu di waktu-waktu tertentu saja (tidak setiap hari). Tentu saja soal jumlah tergantung dari ukuran/ bobot dari hewan tersebut.

Hawa nafsunya tidak terbatas.

Manusia dengan segala kecerdasarnnya memiliki hawa nafsunya yang tidak terbatas. Itulah mengapa penting juga bagi kita untuk berpuasa dan merasa kecewa. Sebab hal-hal semacam inilah yang membuat hawa nafsu kita terbatas. Selain itu, biasanya semakin besar sumber daya yang dikuasai oleh seseorang maka semakin tinggi peluangnya untuk melampiaskan hasrat yang lebih lagi.

4.

Hanya mengambil apa yang dibutuhkannya.

Itu sajalah yang diambil oleh hewan binatan ini, yaitu apa yang diperlukannya hari lepas hari. Hanya herbivoralah yang setiap hari mencari makan sedangkan karnivora berburu di waktu-waktu tertentu saja (tidak setiap hari membunuh makhluk lainnya). Itu semua kebutuhannya yang diambil secara langsung dari alam.

Manusia bisa mengambil lebih banyak (serakah).

Kita dengan tingkat kecerdasan yang mumpuni dapat menampung semua sumber daya yang ada lalu menimbunnya di suatu tempat. Kebiasaan inilah yang kerap kali disebut sebagai aktivitas yang serakah. Tidak hanya sampai disitu saja, kita juga kerap kali membunuh tanaman dan hewan secara sengaja lalu membiarkannya menjadi bangkai tak berguna, ini jelas sebagai sebuah keserakahan yang menimbulkan dosa.

5.

Binatang tidak bisa menyimpan.

Hewan tidak memiliki lumbung atau kulkas dimana ia bisa menyimpan bahan makanan dan minumannya sehingga ada waktu baginya untuk bersantai di hari esok. Lihatlah semua binatang itu tetap aktif mencari makanan seumur hidupnya bahkan hingga ajal menjemputnya.

Manusia bisa menyimpan.

Tapi coba lihat apa yang kita lakukan dengan semua lumbung dan tempat penyimpanan harta benda yang dimiliki. Yang lebih anehnya lagi adalah ketika ada masa pensiun dimana kita tidak aktif bekerja melainkan menggunakan apa yang sudah di timbun di masa muda. Bukankah masa-masa seperti ini justru berbahaya? Seharusnya, kita tetap aktif agar tetap cerdas dan tetap sadar sehingga mampu mengendalikan diri.

Kebiasaan menyimpan ini jugalah yang membuat manusia semakin korupsi. Padahal gaji mereka perbulan saja tidak habis dipakai oleh keluarganya tetapi masih saja korup dan manipulatif. Lebih baik harta itu dikembalikan kepada negara ketika seseorang meninggal agar praktek korupsi tidak merajalela.

6.

Hewan tidak merusak.

Sebesar-besarnya hawa nafsu hewan, apa yang dikonsumsinya tidak sampai menimbulkan kepunahan tanaman atau binatang lainnya. Sebab ketika terjadi kelangkaan maka mereka akan saling membunuh untuk bertahan hidup sehingga bahan makannya tidak pernah punah. Kanibalisme adalah salah satu mekanisme yang menciptakan keseimbangan antara predator dan mangsanya.

Manusia bisa merusak.

Manusia dengan segala ilmu pengetahuan, harta benda dan kekuasaan yang dimilikinya bisa saja memunahkan hewan atau tanaman tertentu sesuai dengan keinginanya. Sumber daya yang berlebihan inilah yang membuat manusia semakin sewenang-wenang (jahat) dalam mewujudkan hawa nafsunya.

7.

Hewan dikendalikan oleh sesama jenisnya, kekuatan alam dan manusia itu sendiri (seleksi alam).

Binatang bukanlah makhluk yang berada di atas puncak rantai makanan. Keadaan ini membuat mereka masih dikendalikan oleh makhluk hidup lainnya, yaitu predator alaminya dan manusia itu sendiri. Ketika binatang mulai serakah akibatnya mereka mulai saling serang dan mati. Sehingga sifat-sifat serakah itu tidak berkembang dimana setiap binatan yang memiliki sifat tersebut akan terseleksi. Inilah yang disebut sebagai seleksi alam, yaitu sifat-sifat yang merugikan akan ditinggalkan sedang sifat yang unggul akan terus berkembang.

Manusia adalah puncak rantai makanan dan tidak dikendalikan siapapun.

Manusia sebagai penguasa yang berada di puncak rantai makanan lebih agresif dan sulit untuk dikendalikan. Terutama ketika orang tersebut memiliki ilmu, teknologi, uang dan kuasa yang lebih dari yang lainnya. Posisi semacam ini akan membuat seseorang semakin serakah sehingga berpotensi besar melakukan ekspoitasi besar-besar terhadap alam sekitar. Akibatnya, tumbuhan hijau akan dibabat sampai kepinggiran dan hewan akan dimusnahkan sampai ke dalam hutan. Kesewenang-wenangan ini tidak terkendali dan semakin merusak karena kitalah yang berkuasa.

Pada dasarnya, TIDAK ADA BINATANG YANG JAHAT sebab setiap sifat-sifat jahat tersebut pasti akan dinetralisir oleh mekanisme alamiah rantai makanan (seleksi alam) dimana manusia juga sebagai penguasa di dalamnya. Ketika sifat-sifat jahat akan muncul di dalam diri hewan tersebut maka secara tidak langsung ia akan berhadapan dengan jenisnya sendiri (kanibalisme) atau bisa juga dinetralisir oleh manusia itu sendiri (diburu). Sedang HAWA NAFSU MANUSIA BISA MENJADI JAHAT terlebih ketika ilmu pengetahuan, uang (harta benda) dan kekuasaan yang dimilikinya sungguh amat banyak. Semakin banyak sumber daya yang dikuasai oleh seseorang maka resiko kesewenang-wenangan yang merugikan sesama dan lingkungan sekitar akan semakin besar pula. Oleh karena itu, penting sekali pelepasan sumber daya dari tangan perorangan (kapitalis swasta) agar pemanfaatannya tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Salam, keinginan semakin liar ketika power semakin besar,
Jadikan power sebagai miliki bersama agar tidak salah dimanfaatkan!
Power = ilmu pengetahuan, pendapatan-uang, kekuasaan.

2 replies »

  1. keinginan semakin liar ketika power semakin besar,
    Bisa jd demikian sy jadi teringat saat seseorang mengatakan tenang saja,perbaiki hubungan kalian,nanti x yg bilang ke pace dan jk x yg bicara pace pasti setuju !
    Disisi lain secara non verbal sikap yg di tunjukan sangat tdk wellcom?memandang sj tdk menunjuk iya,dan menurut kesaksian siapa yg tdk tunduk padanya Atm,uang cas,semua akan ditarik .
    Beliau punya power yg besar
    Ya beliau memiliki keinginan tetapi meski bisa dikatakan LIAR untuk melihat dr sisi yg lain bisa dikatakan Wajar sebab beliau ingin berkuasa ? Takut tersaingi ? Puji Tuhan.
    Jadikan power sebagai miliki bersama agar tidak salah dimanfaatkan! Bukankah lebih baik menjadi manusia yg dimanfaatkan dr pada manusia yg memanfaatkan ?
    Power = ilmu pengetahuan, pendapatan-uang, kekuasaan.
    Hari kedatangan Tuhan sdh dekat ,tdk ada yg Benar dimata Tuhan,manusia hanya benar dimata dirinya sebab kebenaran hanya milik Tuhan.salam damai dr saya.

    Disukai oleh 1 orang

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.