Kepribadian

10 Alasan Manusia Semakin Jahat – Mengapa Kejahatan Semakin Merajalela Dalam Dunia Ini?

Penyebab Manusia Semakin Jahat – Mengapa Kejahatan Semakin Merajalela

Alam semesta adalah ilmu pengetahuan kita. Saat hendak belajar tentang moralitas, lebih baik memandang kepada perilaku hewan yang hidup di padang belantara. Sekalipun, secara morfologi dan fisiologi mereka memiliki sangat banyak perbedaan dengan kita, tetap saja perilaku mereka ada hubungannya dengan perilaku kita. Sehingga bisa dikatakan bahwa memahami alam semesta adalah memahami diri sendiri. Namun di satu sisi, kitapun harus berhati-hati dengan wawasan yang terbilang mencakup hal-hal yang luas tersebut. Sebab selalu mengarah kepada dua ujung yang berbeda, nah disinilah butuh hati yang bijaksana untuk memilih jalan kepada kebenaran dibandingkan jalan yang menyesatkan.

Saat mengamati kehidupan binatang (terutama hewan peliharaan) secara terus-menerus maka akan menemukan bahwa perilaku mereka sangat bergantung dari makanan yang kita berikan. Saat dikasih makanan yang mencukupi dari waktu ke waktu niscaya mereka akan menjadi jinak. Mereka tidak akan pernah beranjak jauh lagi keluar dari sekitar pemukiman melainkan lebih memilih untuk menetap. Tetapi saat makanan yang diberikan terbatas niscaya kaki mereka tidak tenang dan cenderung berkeliaran di dalam hutan. Dari sini kita belajar bagaimana cara membuat manusia tenang tetapi jangan berlebihan agar hidupnya selalu aktif dari hari ke hari.

Ada juga binatang yang awalnya sangat liar, setiap kali kita ada selalu menjauh dan lari ketakutan sekalipun sedang dikasih makanan. Tetapi seiring berjalannya waktu mereka akan semakin jinak. Dari sini kita belajar bahwa setiap orang butuh terbiasa untuk bisa bergaul dan berbaur dengan sesama. Tidak ada seorangpun yang begitu lahir ke dunia langsung pandai berbaur dengan orang lain sebab setiap orang dilahirkan secara sendiri-sendiri (individualis). Semuanya butuh proses belajar yang mungkin berlangsung cukup lama tergantung dari kerelaan hati untuk dicobai. Sebab yang namanya pergaulan ada-ada saja kekhilafan karena tidak ada manusia yang sempurna.

Ada juga hewan yang awalnya galak tetapi saat disentuh dan dielus lama-lama semakin jinak. Disisi lain ada pula hewan yang terlihat jinak tetapi saat disentuh malah meraung ketakutan. Dari seini kita bisa belajar tentang betapa pentingnya sikap membiasakan diri dengan pola-pola tertentu. Sebab saat kita berlaku di luar dari kebiasaan yang dijalani bisa saja orang lain salah menduga lalu berpikir bahwa kita sudah berubah. Kita juga bisa memahami bahwa sikap kita yang baik kepada orang yang satu belum tentu dianggap baik oleh orang lain. Artinya, setiap orang memberikan penilaian yang berbeda-beda terhadap diri ini. Jadi jangan pernah merasa bahwa apa yang kita lakukan sudah benar semuanya.

Pengertian dunia yang jahat

Dunia yang jahat adalah manusia itu sendiri sebab sumber dari segala kejahatan berasal dari pikiran masing-masing orang. Jahat adalah perilaku buruk yang diekspresikan sehingga beresiko merugikan orang lain, lingkungan sekitar dan diri sendiri. Pada dasarnya, kejahatan masing-masing orang sifatnya relatif, ini seperti semakin jahat seorang manusia maka semakin tinggi pula kebajikan yang akan mengimbangi hal tersebut. Jadi ketika di sekitar kita tidak ada aksi kejahatan maka demikian pula tidak ada kebajikan yang akan ditegakkan. Seperti yang kami lakukan di blog ini, jika tidak ada masalah serius yang di bahas-bahas maka tepat saat itulah tidak ada tulisan. Oleh karena itu, kami memilih untuk mencari-cari soal dimana saja sehingga ada sesuatu yang bisa di tulis di blog ini dari waktu ke waktu. Itulah mengapa kami menegaskan di kolom komentar bahwa blog ini hanyalah perumpamaan yang tidak membahas tentang fakta tetapi lebih menekankan pada pengalaman berilmu.

Alasan mengapa manusia semakin jahat.

Dari awal kejahatan itu sudah ada di dalam diri setiap orang. Sekarang, tergantung dari kemampuan seseorang memanajemen pola pikir yang dimilinya. Kemampuan mengelola pola pikir inilah yang sangat menentukan tindak tanduk setiap orang dalam bersikap. Semakin baik kemampuan mengendalikan mindset maka semakin baik pula kemampuan mengendalikan diri dari hal-hal yang buruk. Tetapi ketika manusia mulai kehilangan kemampuannya untuk berfokus pada hal-hal yang baik maka tepat saat itu kejahatannya semakin menjadi-jadi. Berikut akan kami tampilkan beberapa faktor yang mempengaruhi dunia sehingga semakin kejam.

Ketersedian sumber daya alam.

  1. Sumber daya habis.

    Saat populasi masyarakat terus meningkat sedangkan stok makanan dan minuman mulai berkurang bahkan menipis maka orang-orang akan menjadi ketar-ketir dalam saat bertahan hidup. Temperamen menjadi buruk yang diperparah oleh rasa lapar yang menjadi-jadi. Hewan-hewan akan saling memakan (kanibalisme) saat pasokan makanannya mulai habisa bahkan tidak ada lagi. Lalu apa yang terjadi pada manusia saat makanan dan minuman habis? Semoga tidak terjadi aksi kanibalisme karena air laut masih banyak sehingga sekalipun bahan makanan menipis tetapi masih bisa hidup dengan mengkonsumsi air garam manis dari lautan nan luas.

    Ketika sistem di wilayah kita sangat mengandalkan minyak bumi untuk penerangan, air bersih, pendingin, transportasi, pertanian dalam gedung dan suplai air ke berbagai bangunan berlantai banyak. Akibatnya, kemampuan alam untuk memproduksi minyak bumi lebih lambat ketimbang kecepatan konsumsi masyarakat yang dilakukan hari lepas hari. Ujung-ujungnya, orang-orang cerdas bersama kapitalis yang serakah akan mengaplikasikan berbagai aksi manipulasi yang dibalut dalam konspirasi untuk menekan dan memeras sampai melenyapkan kehidupan kalangan tertentu.

    Kesalahan dari dalam diri manusia itu sendiri.

  2. Tuhan semakin jauh.

    Fokus kepada Tuhan seperti penjaga hati manusia yang senantiasa menjadi antivirus terbaik dalam pikiran masing-masing orang. Selama kita memusatkan konsentrasi kepada-Nya dalam doa, firman dan nyanyian pujian maka selama itu pula kehidupan ini tebebas dari hal-hal yang jahat. Tetapi saat fokus kita lari kepada hal-hal duniawi, yaitu kepada uang, harta benda dan kuasa niscaya sikap kita juga menjadi tidak terkendali semakin jahat dan semakin liar saja.

    Kebanyakan manusia yang jahat tidak langsung dapat diamati perilaku tersebut dengan mata kepala. Melainkan keadaan ini berlangsung kecil-kecil dan diam-diam terwujud menjadi gangguan sosial. Keadaan ini akan semakin buruk saja ketika perilaku kitapun menjadi agresif membalas gangguan tersebut (dendam) tetapi saat didiamkan saja pastilah semuanya akan berlalu begitu saja.

  3. Kebaikan yang berkurang.

    Hidup ini penuh dengan serba salah tetapi orang bijak mampu menempuh jalan yang berat walau sesak tetapi akhirnya terbiasa. Salah juga kalau kita mengabaikan orang lain tetpi kalau terlalu baik juga nanti malah mereka terbiasa. Begitu sika yang baik dan ramah itu tiba-tiba saja berubah menjadi penuh dengan pengabaian maka tepat saat itu pula orang lain akan menilai kita telah berubah sehingga lebih mudah terguncang.

    Pengalaman kami adalah, kalau kita baik maka harus baik terus. Bila menjadi orang ramah maka ramahlah terus. Sebab tepat saat kita berubah maka orang lain bisa mengenali bahwa suasana hati kita telah menjadi buruk sehingga lebih mudah diguncang oleh berbagai gangguan kecil.

    Kami sendiripun terkadang mengalami kemunduran kebaikan hati tetapi itu tidak berlangsung lama. Hanya beberapa saat saja sampai mereset kembali pola pikir kepada kerendahan hati (menyangkal diri) lalu kembali fokus kepada Tuhan sambil memuji-muji nama-Nya. Kecepatan mereset pikiran inilah yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang sehingga kekalutan hatinya tidak sampai membuat hidupnya kacau.

  4. Sikap egois – arogan.

    Orang yang mementingkan diri sendiri biasanya tidak peduli dengan keberadaan sesamanya. Ketika kebiasaan buruk ini terus terjadi lagi dan lagi bisa semakin buruk saja sehingga membuat seseorang rela mengorbankan orang lain demi kepentingannya. Kejahatan ini akan semakin menjadi-jadi ketika sikap mementingkan diri sendiri membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mencapai segala tujuannya yang salah.

  5. Iri hati dan kesombongan.

    Semakin besar kesombongan maka semakin tinggi rasa iri. Dua sifat ini seperti lingkaran setan yang berputar-putar tidak berujung. Semuanya itu sudah ada dalam diri manusia semenjak daging-dagingnya dibentuk di dalam kandungan. Hanya saja, mengapa bisa semakin membesar, pemicunya lebih kepada sifat manusia itu sendiri yang semakin angkuh.

    Ketika kita menanggapi iri hati dengan sikap cuek, itu juga sombong namanya. Mengapa cuek itu sama dengan sombong? “Ya terserah guelah, suka-suka guelah, hidup-hidup gue kok, bukan hidup loe!” Menurut anda, perkataan yang cuek semacam itu sombong atau tidak? Silahkan di jawab sendiri-sendiri.

  6. Dendam di masa lalu dan amarah.

    Semakin banyak dendam yang kita pendam di dalam hati niscaya semakin tinggi kebencian terhadap orang-orang tertentu. Karena itulah, mengapa penting sekali untuk segera memaafkan kesalahan orang lain tepat setelah semuanya itu terjadi. Menumpuk dendam sama saja dengan menambah “kayu api amarah” di dalam hati sehingga suatu waktu akan dilampiaskan kepada orang lain, diri sendiri hingga lingkungan sekitar.

    Setiap tetes rasa benci yang telah tersimpan di dalam hati kita adalah pemicu lahirnya amarah yang berkobar-kobar. Ini seperti bahan bakar (minyak tanah) dalam setiap amarah dan kekerasan yang kita lampiaskan kepada sesama dan lingkungan sekitar. Rasa dendam ini akan menjadi trauma masa lalu sehingga jika hal tersebut diungkit maka sikap anda akan menjadi liar.

    Setiap kebencian manusia yang berasal dari iri hati, sombong, dendam dan amarah bisa berujung menjadi ucapan dan perilaku yang kasar terhadap orang lain dan diri sendiri. Perilaku yang kasar terhadap diri sendiri bisa saja berupa pelarian, seperti menggunakan narkoba, minuman keras dan makan secara berlebihan sampai membuat orang tersebut sakit.

  7. Kebodohan yang terus-menerus.

    Sikap yang kurang cerdas secara terus-menerus berkaitan erat dengan kemampuan seseorang atau suatu sistem untuk menjaga toleransi dirinya terhadap gangguan sosial sekaligus kemampuan menjaga keberadaan sumber daya secara terus-menerus.

    Orang yang kurang cerdas secara emosional memiliki mentalitas yang lemah terhadap terhadap masalah sehingga membuat sikapnya turut menjadi amburadul. Demikian juga, masyarakat yang tidak mampu mempertahankan sumber daya tetap terbarukan tinggal menunggu waktu saja hingga mereka saling berperang satu-sama lain (kanibalisme ala manusia adalah peperangan).

  8. Ketergantungan dengan hawa nafsu (materi atau kenikmatan duniawi).

    Candu terhadap hal-hal duniawi hanya membuat kita semakin rentan dengan situasi yang buruk di saat hal-hal yang kita inginkan tidak terjadi. Ketergantungan akan kenikmatan duniawi dan kemuliaan duniawi tertentu hanya membuat diri ini semakin jahat dikala keadaan tersebut gagal terwujud. Misalnya, kita sangat menginginkan suatu benda dimana setiap saat hal tersebut ada dan selalu diperoleh pada saat-saat tertentu. Akan tetapi karena alasan tertentu benda tersebut tiba-tiba tidak ada lagi dan hilang dari peredaran. Secara tidak langsung keadaan semacam ini murni akan membuat hati menjadi kesal sehingga sikap kepada orang lain cenderung berubah, tidak seperti biasanya. Kemungkinan besar seseorang akan bersikap amburadur dan meninggalkan kasih mula-mula oleh karena keinginannya tersebut tidak terpenuhi.
     

    Sistem yang salah.

  9. Ketidakadilan dalam kebersamaan.

    Ketidakadilan cenderung berdampak sistemik dan bersifat mendatang terhadap kehidupan manusia. Artinya, saat jumlah manusia sedikit, dampaknya tidak akan begitu terasa. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya populasi penduduk maka efek samping ketidakadilan sosial itu akan mulai kentara. Sebab peningkatan populasi menyebabkan pembagian sumber daya yang tidak adil sedikit saja bisa jadi akan mengorbankan sejumlah rakyat.

    Penguasaan sumber daya yang begitu banyak membuat kelompok tertentu mampu memobilisasi masa lebih banyak bahkan menjadikan mereka beringas. Akibatnya, persaingan akan menghasilkan perselisihan yang berujung kepada konflik horizontal yang merugikan kedua belah pihak. Dimana yang dikorbankan dari aksi huru-hara tersebut adalah masyarakat pendukung yang sebelumnya dimobilisasi dan tidak tahu apa-apa.

    • Cinta uang.

      Saat uang begitu dibangga-banggakan oleh manusia maka hal ini akan menjadi destinasi utama dan pertama untuk diraih sebesar-besarnya. Salah satu cara terbaik oknum kapitalis untuk menggandakan uangnya adalah dengan meningkatkan sifat individualisme di dalam masyarakat sehingga masing-masing orang lebih suka menggandeng teknologi daripada bekerja sama dengan orang lain. Kebiasaan masyarakat untuk menggandeng teknologi inilah yang kemudian akan mengakibatkan pemborosan bahan bakar yang berlangsung secara masif tetapi pasti. Suatu saat semuanya akan berujung pada konspirasi manipulasi untuk memperebutkan sumber daya yang tersisa.

    • Gila pengetahuan – picik.

      Manipulasi yang dipelopori oleh kaum intelektual juga sering kali bahkan selalu dan sudah terjadi di dalam masyarakat saat ini. Mereka menyembunyikan kebenaran sehingga manusia menjadi sesat lalu orang-orang ini akan mengambil keuntungan lewat semuanya itu. Uang yang banyak di tangan kaum intelektual juga membuat mereka menggandeng lebih banyak teknologi dalam kehidupannya ketimbang bekerja sama dengan sesama. Akibatnya BBM diboros-boroskan seiring semakin bertambahnya jumlah orang pintar dari tahun ke tahun. Akhirnya, kelangkaan BBM akan merebak sampai berujung pada manipulasi, konspirasi dan peperangan di berbagai wilayah rawan.

    • Gila kekuasaan.

      Demikian halnya juga dengan kekuasaan manusia. Semakin besar dan semakin luas suatu kekuasaan maka semakin banyak sumber daya yang akan dikuasainya. Keadaan ini jelas saja membuat uang yang berhasil mereka kumpulkan lebih banyak dan banyak lagi. Sedang para penguasa tersebut begitu arogan dalam mewujudkan hawa nafsunya maka tepat saat itu jugalah mereka mulai menghalalkan segala cara untuk mewujudkannya.

      Perilaku jahat tersebut membuat hatinya tidak tenang, gelisah, takut dan cemas sehingga mulai berpikir untuk mencari perlindungan dengan membangun rumah yang besar, mewah dan megah untuk melindungi keluarganya. Menggaji aparat keamanan dengan persenjataan lengkap untuk melindungi diri dari lawan-lawannya. Padahal sebenarnya, semua ketakutan itu tidak ada, hanya perasaan bersalah yang bertransformasi menjadi kekuatiran.

  10. Kemewahan, kemegahan, kenyamanan, foya-foya.

    Inti dari kerusakan sistem adalah ketidakadilan sosial. Ketika orang-orang tertentu dimanjakan dengan banyak-banyak materi maka merekapun cenderung tidak lagi membutuhkan orang lain. Sikap egois semacam ini bisa berujung pada kesombongan lalu berakhir dengan arogansi. Orang yang arogan susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah. Mereka akan berupaya mengejar kesenangan duniawi yang menunjukkan betapa hebatnya dan betapa supernya dia ketimbang orang lain. Keadaan ini jelas membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk mewujudkannya. Jadi bisa dikatakan bahwa kemewahan, kemegahan, kenyamanan dan foya-foya adalah cara tercepat untuk menghancurkan bumi. Semunya ini akan berujung pada persaingan sengit untuk memperebutkan energi yaitu peperangan, entah itu perang langsung maupun perang dingin. Lirik juga, Cara licik menurunkan jumlah penduduk.

  11. Selalu menghindari ujian sosial bahkan tidak ada.

    Ketidakadilan sosial juga membuat kalangan atas dibentengi oleh power yang dimilikinya sehingga orang biasa tidak mudah menguji mereka. Mereka melindungi dirinya sendiri dengan peraturan yang mereka buat sendiri agar seolah-olah tidak tersentuh oleh masalah. Sehingga ketika ujian kehidupan itu berlangsung maka mulailah mereka mencari-cari pelarian bahkan melakukan aksi balasan. Akibatnya, ketika jabatan yang mereka emban berakhir maka mulailah timbul niat untuk meraihnya dengan menghalalkan segala cara. Jika hal tersebut tidak terwujud maka mulailah mereka hidup secara kolektif lalu mengurung dirinya dalam istana megah, mewah dan super luas untuk menjaga dia tetap jauh dari ujian sosial. Akibat proses mengasingkan diri ini maka lebih banyak lahan yang dibutuhkan dan lebih banyak sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkannya. Sebab mereka tidak mau bertetangga bersama orang lain dan tidak ingin hari-harinya diganggu oleh keributan entah berantah.

Mengapa Kejahatan Semakin Merajalela Dalam Dunia Ini?

Sebenarnya rumus kejahatan itu mudah saja, “dimana ada aksi maka disitu ada reaksi.” Ketika anda membalas aksi kejahatan yang mengganggu dengan reaksi yang jahat maka gangguan tersebut akan semakin besar dan besar saja. Tetapi saat anda mampu menanggapi masalah dengan kepala dingin, tabah, bertahan, rendah hati, dan tetap santun niscaya semuanya akan berlangsung dengan damai. Sebaliknya semua kejadian tersebut malah meningkatkan kecerdasan emosional sendiri. Ketahuilah kejahatan yang dilakukan seseorang sebanding dengan rasa bersalah dan ketakutan yang timbul dari dalam dirinya sendiri. Jadi, orang lain segan bukan karena kita hebat tetapi karena mereka banyak salahnya. Oleh karena itu, untuk menjadi orang yang disegani, tanggung dan tabahlah menjalani lebih banyak ujian kehidupan tanpa harus membalasnya dengan kejahatan yang sama tetapi balaslah dengan sikap yang santun. Simak juga, Alasan kejahatan itu selalu ada.

Salam, jadilah pribadi yang tegar tapi lembut!

9 replies »

  1. Kejahatan terus berkembang disebabkan karena orang Tua tdk mendidik anaknya sesuai perintah Tuhan bukankah Kasih yg diajarkan Tuhan sdh jelas,namun bg orang percaya sdh byk yg meninggalkan Kasih itu wajar bg orang yg tdk percaya jk mereka tdk mengasihi sebab mereka tdk ditekankan untuk 2 hukum dasar orang percaya.tdk ada kasih terhadap anak maka anak akan memiliki karakter tdk bertanggung jawab,egois,seenaknya,merugikan orang lain bukankah itu merupakan suatu bentuk kejahatan? Dan dari seorang anak saja yg tdk memiliki budi pekerti yg luhur tdk sadar/bertobat maka akan ada generasi penerus yg dpt membetuk suatu organisasi,jaringan kejahatan.menakutkan sekali,semoga Tuhan menjauhkan dan selalu memberi hikmad dlm jiwa kita.Amen.salam damai dr saya

    Disukai oleh 1 orang

    • Semua itu sebenarnya bisa terbentuk karena dukungan oknum kapitalisme.
      Hanya generasi yang tidak memahami kasih bisa diajarkan kembali.
      Tetapi ketika mereka keluar dari sistem masyarakat,
      dan mampu bertahan sendiri di luar sana,
      tepat saat itulah mereka bisa liar,
      membentuk ajaran sesat dan organisasi kejahatan.
      Kita doakan saja kapitalis itu orang baik.

      Suka

    • Semua itu sebenarnya bisa terbentuk karena dukungan oknum kapitalisme.
      Hanya generasi yang tidak memahami kasih bisa diajarkan kembali.
      Tetapi ketika mereka keluar dari sistem masyarakat,
      dan mampu bertahan sendiri di luar sana,
      tepat saat itulah mereka bisa liar,
      membentuk ajaran sesat dan organisasi kejahatan.
      Kita doakan saja kapitalis itu orang baik.
      Amin

      Suka

  2. Jaman skrng yg jahat di ikuti yg baik di bilang iblispun menyamar jd malaikat Tuhan ??? Kadang jd binggung juga membedakan antara gelap dan terang sampai Tuhan sendiri menampakan kejahatannya.yg tobat dibilang pura pura kadang manusia jadi seperti Tuhan menghakimi tanpa melihat sisi yg sebenarnya terjadi.jk kasih itu tetap di pegang maka Damai akan tercipta.

    Disukai oleh 1 orang

    • Kami juga berusaha untuk tidak menghakimi siapapun.
      Ini blog hanya perumpamaan dan masalah yang kami bahas
      Adalah sesuatu yang ada di dalam imajinasi sendiri.
      Mungkin hal tersebut tidak terjadi di kehidupan nyata.
      Terimakasih.

      Suka

      • Tentunya pemikiran pemikiran yg terlahir dlm suatu tulisan bukanlah suatu imaginasi tetapi dr apa yg sdh terjadi dan terlihat yg akan terjadi dr data yg terkumpul didlm otak yg tersembunyi kadang kala kita tdk sadar menghakimi seseorang .seolah olah kita berdiri di posisi TUHAN

        Disukai oleh 1 orang

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.