Kepribadian

11 Alasan & Mengatasi Kasih Mula-Mula Menjadi Dingin, Pudar Bahkan Hilang

Alasan & Mengatasi Kasih Mula-Mula Pudar Bahkan Hilang

Tanpa kasih manusia tidak ada, sebab tidak ada kebersamaan. Semua terjebak dalam sikap individualis yang berujung pada arogansi yang mematikan sistem. Orang akan terjebak dalam hawa nafsu berlebihan bahkan sesat sehingga mendorongnya dalam perilaku menyimpang. Keadaan ini jelas akan merugikan sesamanya bahkan lingkungan sekitar juga turut dihancurkan. Terlebih ketika manusia tersebut memiliki kepintaran yang mumpuni maka kerusakan yang ditimbulkannya akan lebih besar lagi, sebab semakin cerdas seseorang maka semakin tinggi keinginannya. Pada akhirnya, orang-orang yang liciknya saja (pintar saja) yang kentara sedangkan kebaikan hatinya tidak ada, pastilah akan dinetralisir oleh alam (bencana alam).

Satu-satunya yang membedakan kita dari binatang adalah sifat-sifat belas kasihan yang ada di dalam hati setiap manusia. Mengapa kami berkata demikian? Karena hewan itu sangat egois, mereka hanya mau hidup sendiri-sendiri dan tidak pernah mau peduli dengan sesamanya. Bahkan pada titik tertentu ketika lingkungan tidak lagi menyediakan cukup banyak makanan maka perilaku kanibalisme akan berlangsung dalam setiap jalan yang ditampuhnya. Sebaliknya dengan kasih, kita berusaha menjaga perasaan orang lain agar sikap (perkataan dan perbuatan) sendiri tidak sampai melukainya. Sekalipun itu terjadi, orang-orang akan memakluminya sebagai ketelodoran/ kekhilafan yang perlu segera dimaafkan.

Pengertian

Kasih adalah beri, memberi (KBBI Luring). Menurut kami, ini adalah kemampuan seorang manusia untuk berkorban demi kepentingan orang lain. Seandainya momen pengorbanan ini tidak ada maka kasih itu juga secara otomatis hilang. Sebab kehidupan manusia bila hanya fokus kepada dirinya sendiri, apa yang dibutuhkannya dan apa yang diperlukannya saja, cenderung menggiring seseorang menjadi egois. Sikap mementingkan diri sendiri ini akan diawali dengan perilaku yang tidak peduli terhadap kebutuhan orang lain. Jika perasaan semacam ini terus membesar dan membesar lagi maka akan berubah menjadi arogansi yang cenderung mengorbankan kepentingan orang lain demi keunngulannya sendiri.

“Kasih mula-mula adalah pengorbanan yang begitu besar setelah kita merasakan betapa besarnya kemurahan hati Tuhan kepada umat manusia. Pengorbanan tersebut bisa saja ditujukan kepada Tuhan dan bisa juga kepada sesama manusia.” Kebaikan hati yang meredup bisa saja disebabkan oleh berbagai hal.  Misalnya, oleh pengaruh kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang lebih intens. Bisa juga disebabkan oleh karena lemahnya mental saat menghadapi ujian kehidupan. Secara umum keadaan ini bisa juga ditimbulkan oleh karena fokus kepada Tuhan yang tidak lagi tekun.

Kasih adalah pengorbanan

Tanpa berkorban, tidak ada seorangpun yang bisa mengasihi orang lain. Aktivitas berbuat baik tanpa mengorbankan sesuatu sama saja dengan berdagang, kita memberi barang kepada seseorang lalu menunggu dengan sabar sampai orang tersebut melunasi hutang-hutangnya. Jika kita tidak ikhlas dalam memberi maka besar kecenderungan memiliki maksud-maksud tertentu dibaliknya. Misalnya saat kita menginginkan agar seseorang baik dengan kita maka kitapun hendak menunjukkan kebaikan kepada mereka. Akibat dari kasih yang tidak rela berkorban ini adalah penyesalan, yaitu kita menyesal telah mengasihi orang lain karena ternyata orang tersebut tidak memberi manfaat apa-apa kepada diri ini.

Kunci dari kasih yang ikhlas adalah pengorbanan. Orang yang rela berkorban niscaya tidak akan mudah patah semangat saat kebaikannya bertepuk sebelah tangan. Sedang kunci yang kedua dari kasih adalah melakukan segala sesuatu seperti melakukannya untuk Tuhan. Saat setiap manfaat yang kita pancarkan kepada orang lain ditujukan kepada Tuhan maka secara otomatis kita tidak menuntut balasannya dari dunia ini melainkan menunggu upahnya di akhirat kelak. Pengharapan akan adanya hari penghakiman di akhir zaman membuat kita semakin mantap hati untuk mengalamatkan kebaikan yang dilakukan terhadap sesama kepada Tuhan.

Energi kasih adalah fokus kepada Tuhan

Tidak ada kekuatan spesial yang kita butuhkan untuk melakukan kebaikan. Melainkan satu-satunya hal yang paling penting adalah hubungan baik kita dengan Sang Khalik. Semakin baik hubungan kita dengan Tuhan maka semakin manis rasanya saat pikiran fokus kepada-Nya. Tetapi saat hidup ini dipenuhi dengan kesalahan dan dosa niscaya rasa-rasanya semakin mendekat kepada Allah, kita semakin merasa jauh. Oleh karena itu, berusahalah menjaga kesucian, maafkan kesalahan orang lain lalu berkonsentrasilah memuji-muji Tuhan di dalam hati hingga rasa senang – sukacita yang terkendali tenang dan damai itu penuh lalu meluap dalam senyuman mungil di bibir masing-masing.

Puncak kasih adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri

Ketika seorang manusia telah mencapai puncak pengenalan akan Tuhan yang sejati niscaya kasihnya kepada sesama seperti mengasihi dirinya sendiri. Artinya tidak ada perbedaan signifikan antara kebaikan yang dilkukannya terhadap diri sendiri dengan  kebaikan yang dilakukannya dengan orang lain. Dari sinilah muncul pemahaman akan betapa pentingnya sikap untuk saling menempatkan diri setara dengan orang lain. Tidak ada kasih yang lebih besar dari kesetaraan sebab semua manusia adalah anak Adam, yaitu anak Allah sendiri. Berbahagialah mereka yang memelihara dan memperjuangkan keadilan sosial dalam seluruh kehidupannya.

Alasan utama kasih mula-mula menjadi dingin

(Matius 24:12-13) Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Tuhan Yesus telah memperingatkan kita dengan sangat soal hal ini. Kedurhakaan manusia menyebabkan orang percaya mengalami ujian kehidupan yang berlangsung terus-menerus. Masalah yang datang secara bertubi-tubi inilah yang kemudian membua kebaikan orang kristen menjadi dingin. Ia yang biasanya murah senyum dan ramah kepada orang lain, kini menjadi cuek dan suka geram kepada sesama. Sadarilah bahwa semakin kita memusatkan pikiran kepada persoalan hidup maka semakin susah dan merana hati ini sehingga sikap cenderung jauh dari kebaikan hati.

Ada baiknya jika tekanan kehidupan sedang melanda hari-hari kita, janganlah fokus terhadap pergumulan yang sedang di hadapi. Tetapi selalu pusatkan pikiran anda dengan senantiasa bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati (bisa juga dengan berdoa, membaca firman). Jika kita senantiasa fokus kepada Tuhan niscaya kasih kepada sesama tentap kentara sekalipun mereka terkadang membalasnya dengan pengabaian dan cuek bahkan mengejek balik. Rajinlah menyangkal diri saat menderita, katakan pada dirimu, “Saya ini hanyalah sampah yang penuh dengan dosa. Ini sudah seharusnya terjadi. Kuatkan hati menjalani semuanya ya Tuhan.” Harus terbiasa dengan rasa sakit sebab kebaikan yang dilakukan bukan ditujukan untuk manusia tetapi kita melakukan semuanya itu untuk menyatakan kemuliaan Allah kepada sesama di setiap langkah kaki yang dijalani. Ingat janji Tuhan “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Faktor penyebab sekaligus cara mengatasi kasih mula-mula yang mulai memudar bahkan hilang.

Wahyu  2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

Meninggalkan kasih sama dengan meninggalkan keintiman dengan Tuhan sebab lewat kebaikan kitalah segala sesuatu yang ada di dalam Kitab Suci akan dinyatakan kepada dunia ini. Saat kita tidak bertindak maka hal-hal positif di dalam Alkitab hanya menjadi sanjak-sanjak indah yang tidak membawa dampak nyata bagi orang-orang disekitar. Bahkan bila perlu, jangan melulu hanya jadi terang terhadap orang-orang yang kita kita sukai saja tetapi jadilah terang di tempat-tempat yang gelap dan tidak disukai orang lain. Berikut akan kami utarakan beberapa penyebab memudarnya kasih mula-mula dalam kehidupank sehari-hari.

  1. Fokus kepada Tuhan hilang.

    Bila pikiran kita sudah tidak lagi tertuju kepada Tuhan maka besar kemungkinan tidak ada lagi kebahagiaan di dalam hati. Mungkin selama ini justru memfokuskan pencariannya kepada hal-hal materi dan kemuliaan duniawi. Oleh karena itu, jangan pernah lupakan aktivitas ini, bila perlu lakukan hal tersebut bersamaan dengan aktivitas lainnya, misalnya saat belajar dan bekerja seperti biasa.

    Aktivitas memusatkan pikiran kepada Tuhan seperti energi bagi kebaikan hati. Selama kita berkonsentrasi kepada Tuhan maka tepat saat itu jugalah diri ini seperti seseorang yang sedang menimbun energi positif untuk kemudian dilepaskan berupa kebaikan kepada sesama manusia. Saat anda ramah kepada siapapun pastikanlah untuk melakukannya sambil menyanyi-nyanyi memuji Tuhan di dalam hati dengan demikian pikiran tetap positif sekalipun kerap kali kita diabaikan karenanya. [Saksikan juga, Tips kreasi memusatkan pikiran kepada Tuhan]

  2. Tidak tekun berbagi kasih.

    Kebaikan yang tidak dilakukan dengan tekun rasanya tanggung. Bahagianya hati seperti puzzle yang masih berlubang-lubang dan tidak langkap oleh karena dilakukan plin-plan. Atau ini juga bisa terjadi dikarenakan kita yang tidak mau mengikuti kata hati sendiri, suara hati ini berkata “ayo lakukan, ayolah….” Tetapi kita malah mengabaikan suara-suara tersebut sehingga cenderung mengabaikan perkataan Roh yang ada di dalam hati ini.

    Saat hati gundah-gulana karena sesuatu dan lain hal, berusahalah untuk segera mereset suasana tersebut dengan merefresh pikiran sambil memohon ampun dan merendahkan hati lalu teruslah memuji-muji nama Tuhan di dalam hati masing-masing.

  3. Tidak tulus – kurang rela berkorban.

    Tanpa pengorbanan tidak ada yang namanya kasih. Jadi, bila kita tidak mau merendahkan hati lalu menganggap bahwa berkorban demi orang lain itu tidak penting maka tepat saat itu jugalah timbul rasa cuek di dalam hati.

    Untuk melatih dan memantapkan ketulusan saat berkorban berupayalah untuk menujukan kebaikan terhadap sesama kepada Tuhan. Dengan mengalamatkan setiap kasih yang kita lakukan terhadap orang lain kepada Tuhan maka tepat saat itu jugalah hati rela berkorban. Dalam artian, kita tidak menuntut balasan atas hal tersebut dari orang-orang duniawi tetapi mengharapkan balasannya di akhir zaman kelak.

  4. Kurang komitmen untuk mengasihi.

    Mungkin saat baru-baru pertama bertobat dan menyadari betapa besarnya kabaikan Tuhan dalam hidup kita, kasih mula-mula itu begitu kentara. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, semangat mulai kendur dan komitmen mulai pudar. Oleh karena itu, mulailah kembali gali komitmen tersebut dengan mengatakannya di dalam hati. Mungkin komitmen itu seperti ini.

    • Tuhan sudah mengasihi saya maka sayapun harus mengasihi sesama dimulai dari hal-hal kecil misalnya ramah-tamah.
    • Perbuatan Allah yang besar dalam hidup ini telah membuat saya kuat sampai sekarang. Mampukan saya menyatakan kasih-Mu kepada orang-orang disekitar, ya Tuhan.
    • Hidup di dunia ini singkat saja, saya harus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyatakan kasih Allah kepada sesama.
    • Kami harus rajin berbuat baik sebab tidak mau kelak menjalani hidup dalam keegoisan.
    • Harus berkorban dan merelakan rasa sakit ini, sebab kami mengasihi untuk kemuliaan nama Tuhan.
    • Hidup tanpa rasa sakit itu hambar, sesekali kita dicuekin orang itu juga bagus agar kita mensyukuri bahwa masih ada Tuhan yang memperhatikan kita.
    • Mengasihi itu penuh tantangan. Saat ada masalah yang menyertainya, sadarilah bahwa itu bermanfaat untuk membuat kita terbiasa, cerdas, dewasa bahkan bijak menjalani hari.
    • Hari Tuhan sudah dekat, baiklah saya mulai bergiat untuk memuliakan nama-Nya sembari berbagi kebaikan kepada sesama. Mampukan saya berbagi kasih ya Tuhan!

  5. Rasa bersalah.

    Rasa bersalah juga kerap kali membuat kasih mula-mula yang panas di dalam diri kita menjadi dingin. Seolah semua terasa hampa dan sia-sia karena kita tidak mampu menjaga konsistensi dalam bersikap. Oleh karena itu, teruslah mohon maaf, bertobat, merendahkan hati dan memuji-muji Tuhan di dalam hati. Berusahalah menjaga sikap agar tetap benar di hadapan Allah dan dihadapan manusia. Jika memang terjadi ketelodoran silahkan segera meminta maaf atau memaafkan.

  6. Cenderung egois.

    Pastikanlah bahwa hari-hari yang anda lalui tidak dijalani tanpa bertemu dengan orang lain selama beberapa waktu lamanya. Sekalipun dalam dunia ini kita kerap bekerja sendiri-sendiri, tetap saja, berusahalah untuk berbaur. Entah itu sambil bersama dengan keluarga atau teman-teman yang lain, bai di rumah sendiri maupun di tempat-tempat tertentu.

    Bila perlu, terbiasalah untuk berkunjung ke tempat-tempat ramai untuk mengikis rasa individualis karena seharian bekerja sendiri. Adalah baik juga bagi anda untuk memiliki tetangga dengan demikian kehidupan anda tetap diramaikan oleh aktivitas sendiri maupun oleh aktivitas tetangga sebelah.

    Cara terbaik untuk menghilangkan sikap egois adalah dengan berbagi kasih dan kebaikan kepada orang-orang tersebut.

  7. Hati yang sombong.

    Kasih mula-mula juga kerap kali memudar. karena kita telah di tawan oleh rasa sombong. Kesombongan bisa saja dipicu oleh karena terlalu senang dan terlena terhadap suara-suara di dalam hati yang memuji-muji anda. Keangkuhan membuat kita lebih cuek dan tidak peduli lagi dengan sesama. Oleh sebab itu, berusahalah untuk menyangkal diri dan jangan fokus kepada kelebihan kita melainkan teruslah memuji-muji Tuhan di dalam hati (bisa juga dilakukan dengan berdoa dan membaca firman).

    Sadarilah bahwa hati yang angkuh saat menjalani ujian kehidupan membuat kita tidak mau mengalah sehingga rasa sakit saat dicobai orang lain semakin kentara. Artinya, semakin sombong kita maka semakin berat penderitaan yang dirasakan karena masalah yang terus terjadi. Oleh karena itu, rendahkan hati dan sangkal diri dengan berkata dalam hati, “biarkan mereka memang ya Tuhan dan kalahkan saya di bawah kaki-Mu. Itu sudah seharusnya terjadi. Kuatkan hati menjalani semuanya ini.”

  8. Takut dengan ujian kehidupan.

    Jangan pernah takut dengan ujian kehidupan. Keadaan ini cenderung membuat kasih mula-mula yanag kita miliki memudar bahkan hilang. Kita mengubur dalam-dalam maksud hati untuk berbuat baik kepada sesama hanya karena takut diuji/ dicobai lewat semuanya itu.

    Masalah yang datang bertubi-tubi jelas tidak membuat hidup kita nyaman. Tetapi keadaan ini bisa dibiasakan hingga membuat hati tetap bahagia menjalaninya. Terlebih ketika kitapun mengetahui bahwa sesungguhnya setiap masalah yang dihadapi dapat meningkatkan kecerdasan, kesadaran dan kemampuan mengendalikan diri.

  9. Terlalu ketergantungan dengan materi.

    Sifat candu terhadap materi tertentu membuat pkiran ini mudah buyar dan kacau balau ketika hal tersebut tidak terpenuhi. Setiap rasa ketagihan yang tidak terjawab bisa jadai menghasilkan masalah baru, melawan orang tua, mabuk-mabuk, dan ugal-ugalan di jalan. Keadaan ini justru akan membuat hubungan dengan Tuhan menjadi terganggu.

    Berusahalah untuk menikmati materi secara fluktuatif. Selalu pastikan bahwa anda tidak ketergantungan karena hal tersebut melainkan nikmati secara bergantian. Cara lain lagi untuk menghilangkan kecanduan terhadap hal-hal duniawi adalah dengan berpuasa. Dan cara terakhir untuk melupakan hawa nafsu yang tinggi terhadap kebiasaan tertentu adalah dengan mengecewakan diri sendiri.

  10. Terlalu menggilai kemuliaan duniawi.

    Saat kita gila hormat maka seolah-olah menggantungkan segala rasa bahagia itu lewat penghormatan yang diberikan kepada diri ini. Sadarilah bahwa kebiasaan tersebut jelas tidak baik untuk ditekuni sebab bisa saja orang yang satu menghargai dan orang yang lain mengabaikan. Meletakkan rasa bahagia pada hal tersebut sama saja dengan membuat bahagia dan tenteramnya hati kita fluktuatif dan tidak menentu.

    Adalah baik bagi kita untuk tidak mengharapkan dihargai dan dihormati orang lain tetapi biarlah kita yang berusaha untuk menghargai dan menghormati Ini juga merupakan sebuah wujud dari kemauan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Orang yang mau berkorban pastilah mampu menjalaninya tetapi mereka yang tidak mampu berkorban akan terjebak dalam rasa canggung dan rasa bersalah oleh karena tidak menuruti kata hati sendiri.

  11. Kurang mampu menerima kenyataan apa adanya.

    Kasih mula-mula juga kerap kali menghilang karena kita terlalu memaksakan kehendak. Saat menginginkan sesuatu kita mengharuskan hal tersebut. Akibatnya ketika apa yang dikehendaki tidak terwujud maka tepat saat itu jugalah pikiran jadi amburadur. Kebaikan hati kepada sesama juga cenderung hilang timbul sehingga kurang dinikmati.

    Oleh karena itu, berusahalah untuk hidup apa adanya, terima kenyataan yang terjadi sebagai sebuah kepasrahan hidup kepada Tuhan. Anggap semuanya itu adalah yang terbaik dan sudah sepantasnya terjadi. Bersyukurlah atas apapun yang terjadi dalam segenap hari-harimu lalu mohonkanlah kepada Tuhan agar Ia menguatkan hatimu. Bernyanyi-nyanyilah memuji Tuhan di dalam hati sembari menebarkan kasih kepada siapapun yang ditemui dari waktu ke waktu.

(Wahyu  2:5) Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Gejolak materi dan kemuliaan duniawi yang kita dapatkan dari waktu ke waktu kerap kali mempengaruhi kasih kepada Allah dan sesama. Sebab hal-hal duniawi beresiko membuat kita terlena lalu menikmatinya terus-menerus sehingga menurunkan kecerdasan dan melemahkan kesadaran sendiri. Keadaan inilah yang beresiko membuat kebaikan hati ini menjadi kendur bahkan semakin hilang saat kehidupan kita juga dipenuhi oleh masalah. Oleh karena itu, perjuangkan kesetaraan sosial dan nikmatilah hidup seadanya saja. Berusahalah untuk mengisi hari-hari dengan aktivitas yang positif seperti memusatkan pikiran kepada Tuhan, belajar dan bekerja.  Jangan lupa juga untuk berbagi kasih kepada sesama dalam segala situasi yang dimungkinkan. Ingat-ingatkan dirimu bahwa “hari Tuhan sudah dekat, bergiatlah memperjuangkan kebenaran!”

Salam, kebaikan hati!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.