Kepribadian

7 Alasan Untuk Tetap Hidup: Menjadi Cerdik & Tetap Tulus, Apakah Orang Kristen Harus Mati Sama Seperti Tuhan Yesus Mati?

Alasan Untuk Tetap Hidup Menjadi Cerdik & Tetap Tulus, Apakah Orang Kristen Harus Mati Sama Seperti Tuhan Yesus Mati

Kristen Sejati – Terkadang dalam pemahaman kita, hidup ini terlalu sempit sehingga cenderung memandang segala sesuatu apa adanya. Padahal ada banyak makna yang tersirat dalam setiap peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan kita. Artinya sebuah peristiwa tidak bisa dilihat secara tunggal melainkan baiklah kita memandangnya secara utuh. Sehingga dari setiap kejadian itu dapat ditarik suatu makna positif untuk diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Anda perlu sebuah sudut pandang yang positif untuk memandang segala sesuatu di dunia ini. Mungkin bisa dilakukan dengan menganggap cerita tersebut sebagai perumpamaan yang harus dimaknai inti-intinya saja.

Haruskah orang Kristen berkorban sampai mati sama seperti Yesus Mati?

Terkadang kita terbawa suasana dengan kisah-kisah Alkitab lalu membayangkan bahwa kitalah yang diceritakan di dalam sana. Akibatnya, kerap kali ada orang Kristen yang merasa dirinya harus berkorban lebih sampai menyerahkan nyawanya di zaman damai ini untuk orang lain. Seandainya kita ada ditengah orang-orang fasik dimana kehidupan kekristenan ditekan secara jelas dan nyata, mungkin pengorbanan yang heroik seperti ini masih dibutuhkan. Tetapi lihatlah kawan, jamannya sudah berubah, kita dibiarkan untuk beribadah kepada Allah bahkan Gereja di bangun di mana-mana. Bukankah semuanya berjalan dengan adil dan damai dan bukankah semuanya telah berlangsung sesuai dengan aturan yang berlaku secara universal (aturan pemerintah)? Jadi kita tidak harus berperang membela kebenaran sampai mengorbankan nyawa sendiri sebab negara sudah ada untuk memerangi kejahatan di sekitar kita.

a. Alasan mengapa Yesus Kristus disalibkan

Kita tahu sekarang bahwa Sang Juruselamat umat manusia, yaitu Yesus Kristus telah merelakan dirinya untuk dihukum, disiksa, diludahi, diejek dan dihina di depan banyak orang. Hal itu tidak terjadi secara kebetulan melainkan semuanya adalah bagian dari rencana Tuhan. Bahkan itu telah dinyatakan kepaa bapa Abraham sejak dari awal masa dipanggil-Nya dia untuk keluar dari tanah milik orang tuanya sendiri. Allah telah menjanjikan hal tersebut sejak lama, bahkan ketika nenek moyang kita, Adam dan Hawa melakukan kesalahan dengan tidak taat kepada perintah-Nya. Saat itulah pengorbanan pertama dilakukan yaitu saat Allah mengambil kulit hewan di padang untuk di jadikan sebagai pakaian karena mereka menyadari dirinya telanjang.

Tuhan Yesus tidak meninggal karena para imam besar dan orang farisi lebih kuat. Ia juga tidak mati karena prajurit kekaisaran romawi lebih tangguh. Sebab ketahuilah bahwa Allah selalu siap sedia untuk mengirimkan bala tentara surga membela Anak-Nya. Tetapi, Yesus bisa disalibkan oleh orang romawi karena semuanya itu datang dari pihak Allah, semua kejadian tersebut telah digariskan sejak dari awal mula kehidupan. Oleh karena itu, Allah Bapa sendiri telah meninggalkan Yesus ketika Ia berkata.

(Matius 26:52-53) Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?

Lagi katanya…

(Matius  27:46) Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

b. Tidak ada lagi penebusan, jika hidup kita berakhir itu bukan karena orang lain tetapi waktu Tuhan dan akibat kesalahan sendiri.

Harus paham betul bahwa setiap orang kristen diajarkan untuk berkorban dari waktu ke waktu bukan berarti sampai kita kehilangan nyawa. Ketahuilah bahwa kisah-kisah penebusan telah dilakukan secara utuh oleh Yesus Kristus lebih dari 2000 tahun yang lalu. Jadi sekalipun saat ini andapun dikorbankan dan dibakar hidup-hidup: apa yang anda lakukan bukan ditujukan untuk menebus dosa orang lain melainkan itu hanyalah perjuangan sendiri. Seperti yang kami katakan bahwa pengorbanan terhadap dosa manusia sudah berlalu, saat ini yang sedang anda hadapi adalah mati demi diri sendiri (dosa sendiri) dan bukan ditujukan untuk siapapun. Oleh karena itu, hindari aksi heroik lalu mau saja mati sia-sia sebab lebih baik kita hidup sehingga lebih banyak kesempatan mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Seperti ada tertulis.

(I Petrus  3:18) Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,

c. Tugas utama kita di dunia adalah berkorban.

Intinya dalam kehidupan ini adalah pengorbanan, itulah yang hendak diajarkan oleh Allah kepada kita. Semakin banyak berkorban maka semakin banyak pula kebahagiaan yang kita peroleh. Saat kita berkorban maka kepribadian ini akan dibentuk hanya untuk fokus kepada Allah dari waktu ke waktu sebab Dialah sumber kekuatan, kedamaian, ketengan, kebahagiaan dan ketenteraman hati umat manusia. Orang yang banyak-banyak berkorban adalah mereka yang kuat, tabah menjalani hidup yang penuh tantangan-ujian yang beraneka ragam. Mereka yang mampu melewati kesemua pencobaan tersebut tanpa harus bersikap keras dan marah niscaya akan menemukan kehidupan kekal yang penuh kemenangan.

Jadilah Cerdik & Tetap Tulus dalam berkorban. Cerdik adalah lakukan pengorbanan sesuai dengan kemampuan, potensi dan sumber daya yang diberikan Allah kepadamu – tidak perlu sampai mati sia-sia karena alasan tidak jelas. Tetapi tuluslah dalam berbagi kasih dan tidak perlu mengharapkan balasan dari orang. Melainkan nantikanlah upahmu di dalam kekekalan, di sorga kelak. Sebab keuntungan di dunia ini akan berakhit tetapi upah di sorga tidak akan berakhir (selamanya).

d. Kemenangan yang sejati.

Kemenangan kita bukanlah sebuah sorak-sorai yang dipuja-puji oleh banyak orang tetap kemenangan yang sejati adalah menang atas rasa sakit yang dijalani. Saat anda diabaikan, diejek, dihina dan dibully orang lain, lantas langsung merasa sakit seolah tersayat-sayat hati ini. Keadaan seperti ini jelas sebagai sebuah kekalahan telak. Tetapi seorang pejuang sejati akan terus berjuang dan berjuang dari waktu ke waktu hingga akhirnya ia benar-benar kebal terhadap rasa itu sebab mampu mengalihkannya dengan senantiasa mengkonsentrasikan pikiran pada hal-hal positif. Oleh karena itu, jangan menyerah jika sampai saat ini anda masih merasa terguncang saat menerima bully dan penghinaan dari orang lain.

Faktor penyebab manusia harus tetap hidup

Allah Bapa telah memberikan kita nafas-Nya agar tubuh yang  dari tanah ini bisa hidup. Ia memberikan kita hidup untuk menjadikan manusia sebagai si ahli manajemen yang mengatur segala sesuatu sehingga semuanya berjalan sesuai dengan fungsinya. Sekarang, janganlah kita berpikir untuk mati dengan merampas kehidupan yang telah diberikan Allah lewat ketelodoran sendiri (bunuh diri). Allah Bapa tidak memberikan kita hidup lalu dengan sembarangan kita menyia-nyiakan semuanya itu. Oleh karena itu, berusahalah untuk tetap hidup dan teruslah hidup hingga ajal menjemput karena kehendak Tuhan bukan akibat kesengajaan. Berikut ini beberapa alasan mengapa kita harus tetap hidup.

  1. Ajakan untuk sabar menanggung derita di masa muda.

    Ada orang yang mengakhiri hidup di masa mudanya sebab merasa bahwa dengan demikian dia akan mengikut jalan Tuhan Yesus yang juga mati di kayu salib. Mereka melakukannya karena sudah tidak tahan lagi dengan penderitaan yang dirasakan. Orang yang masih muda terus mengalami kesulitan hidup dari waktu ke waktu, diejek, dihina, dibully bahkan difitnah secara verbal. Dia merasa tubuhnya tidak kuat karena hatinya lemah menanggung semuanya itu. Padahal sesungguhnya jika saja ia mau berpikir positif melihat manfaat dibalik semua peristiwa tersebut niscaya akan memahami bahwa penderitaan itu mendatangkan

    Selalu sadari bahwa ujian kehidupan ada untuk menjaga dan melatih kekebalan emosional seseorang sehingga bisa menanggung masalah apapun yang dihadapinya.  Kekebalan emosional ini akan semakin kuat yang ditandai dengan semakin sabarnya seseorang dalam menjalani pencobaan. Pada satu titik, kekebalan ini akan membuat anda terbebas dari rasa sakit seiring dengan semakin mantapnya fokus kepada Tuhan (doa, firman, puji-pujian kepada-Nya), pelajaran dan pekerjaan.

    Seperti ada tertulis.

    (Ratapan 3:27-32) Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan. Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.

  2. Ajakan untuk bersabar menanggung pemurnian hati.

    Ada orang yang dalam hidupnya mau mati saja karena begitu beratnya penderitaan yang dia alami. Hidup sendiri, tidak ada yang memperhatikan, tidak ada pujian, tidak ada pasangan hidup dimana hari-harinya hanya dijalani dengan penuh pengabaian, ejekan dan penghinaan seolah-olah seluruh dunia meninggalkannya seorang diri.

    Pada tahapan ini, seseorang sudah sampai pada pemurnian hati dari berbagai rasa benci dan dendam. Orang yang masih dipenuhi dengan dendam karena berbagai-bagai masalah yang dihadapinya, menyimpan kebencian di dalam hati kepada orang yang suka menjahilinya niscaya akan semakin tenggelam dan termakan oleh dendam itu. Satu-satunya cara untuk hidup dan memenangkan pemurnian hati ini adalah dengan memaafkan orang yang bersalah kepada kita lalu berbuat baik kepada mereka.

    Sebelum kita terbebas dari rasa dendam ini dan menikmati penderitaan yang dijalani maka tidak ada kedamaian, ketenteraman apalagi kebahagiaan. Oleh karena itu, saat anda mengalami hal-hal tersebut, (a) tetap fokus bernyanyi-nyanyi kepada Tuhan (bisa juga berdoa, membaca firman), belajar dan bekerja. (b) Rendahkanlah hatimu lalu sangkal diri, katakan kepada dirimu, “biarlah saya kalah dan orang ini menang ya Tuhan. Mohon kuatkan hati menjalani semuanya.” (c) Maafkanlah kesalahannya lalu (d) berbuat baiklah kepada orang tersebut di mulai dari hal kecil (misal ramah-tamah: senyum, sapa, salam, terimakasih, tolong, maaf). Setelah itu anda bisa berbuat baik sesuai dengan kemampuan (di dunia kerja dan pendidikan), potensi (bakat) dan suber daya yang dimiliki.

    Seperti ada tertulis.

    (Daniel 11:35) Sebagian dari orang-orang bijaksana itu akan jatuh, supaya dengan demikian diadakan pengujian, penyaringan dan pemurnian di antara mereka, sampai pada akhir zaman; sebab akhir zaman itu belum mencapai waktu yang telah ditetapkan.

  3. Ajakan untuk bertahan.

    Semakin lama kasih kebanyak orang mulai menjadi dingin. Kasih mula-mula yang awalnya bersemangat di dalam dirinya kini telah memudar bahkan telah kehilangan faedahnya yang membawa perubahan. Sebab kita berusaha mengasihi orang lain dan melayani mereka dengan kata-kata, yaitu beramah tamah tetapi justru kita dicuekin. Seolah-olah saat kita semakin baik hati, orang lain semakin abar terhadap diri ini. Oleh karena itu, ada orang yang memilih untuk menceraikan hubungannya dan mengakhiri hidupnya karena hampir semua orang mengabaikan dirinya.

    Sadarilah dengan betul bahwa DUNIA INI ADALAH UJIAN UNTUK BERTAHAN. Setiap kebaikan yang kita lakukan akan ada tantangannya, semacam perintang agar kita tidak lagi menjadi orang yang baik. Ketahuilah bahwa keadaan ini beresiko tinggi untuk membuat kita patah semangat dimana motivasi awal hilang sehingga kehidupan kita terkatung-katung.

    Oleh karena itu, JANGAN PERNAH KEHILANGAN ENERGI KEBAIKAN HATI. Selalu pastikan bahwa pikiran tetap fokus kepada Tuhan dengan memuji-muji nama-Nya, baik di dalam hati, menggunakan bibir, alat musik dan sambil menari. Berusahalah untuk mengasihi sesama disela-sela aktivitas belajar dan bekerja hari lepas hari. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti beramah tamah. Ingatlah untuk melakukan kasih bukan untuk dibalas orang lain tetapi tujukanlah semua kebaikan terhadap sesama kepada Tuhan saja. JANGAN BERHENTI BERBUAT BAIK KAWAN SEKALIPUN KAWAN-KAWANMU SUDAH TIDAK BAIK LAGI! BERTAHANLAH TEMAN!

    Seperti ada tertulis.

    (Matius 24:12-13) Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

  4. Masih banyak kesempatan untuk mengasihi Tuhan.

    Apa yang bisa kita lakukan di dalam dunia orang mati? Bukankah disana tidak ada lagi yang bisa diperbuat sebab semuanya sudah menjadi debu dan tanah. Tetapi saat kita hidup, ada banyak hal yang dapat kita perbuat untuk menyatakan kemuliaan nama-Nya. Mulai dari aktivitas memusatkan konsentrasi kepada-Nya dalam doa, membaca/ mendengar firman dan bernyanyi-nyanyi memuliakan nama-Nya. Intinya adalah dalam segala hal yang kita lakukan, nyatakanlah kebenaran sebab dengan berlaku demikian, kita menjadi saksi-saksi Kristus lewat lisan-tulisan dan perbuatan yang ditekuni. Artinya, dalam setiap sikap yang kita ekspresikan, ada kebenaran Tuhan yang bisa diamati secara langsung oleh sesama manusia.

    Surat Kristus tidak berguna saat sudah dikubur di dalam tanah tetapi saat manusia itu hidup maka semua orang akan melihat pernyataan dari surat tersebut. Seperti ada tertulis.

    (II Korintus 3:3) Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.

  5. Masih banyak kesempatan untuk mengasihi sesama.

    Kasih kepada sesama tidak akan pernah berakhir, kita bisa melakukannya kapanpun, dimanapun dan apapun yang dijalani hari demi hari. Ini adalah sebuah ekspresi sikap yang keluar dari dalam hati sendiri lalu meluap dalam bentuk tutur kata yang santun dan ramah kepada sesama. Juga meluap dalam bentuk perilaku yang sopan dan mau membantu orang lain dengan setulus hati.

    Memang ada banyak tantang saat kita hendak melakukan kebaikan kepada sesama, mulai dari masalah dengki dan arogansi yang meradang di dalam hati. Oleh sebab itu, langkah pertama untuk menjadi seorang pribadi yang suka berkorban adalah memiliki kerendahan hati dan selalu menyangkal diri di segala waktu. Jadilah pribadi yang berbagi kasih kepada orang lain sesuai dengan momen yang dihadapi. Cerdik dan tuluslahlah berkorban: lakukan pada waktu yang tepat dan tanpa mengharapkan balasan apapun.

    Tanggunglah setiap cobaan, seperti pengabaikan, cuek, ejekan, hinaan dan fitnah yang menyertai kebaikan hati tersebut. Maafkan semua kesalahan/ kegagalan yang terjadi dan tetap fokus kepada Tuhan sebagai sumber segala energi kebaikan sejati. Anggap masalah sebagai jalan kepada pendewasaan diri sehingga menjadi lebih bijak dalam menjalani hidup.

    Kalau orang Kristen meninggal, tidak ada lagi kebaikan yang bisa dilakukannya sebab semuanya sudah jadi debu dan tanah. Sedang saat masih hidup, ada begitu banyak kesempatan untuk menyatakan kasih Allah kepada dunia ini, baik melalui kemampuan, bakat (potensi) dan sumber daya yang dimiliki. Pertama-tama adalah layanilah sesama dengan sikap kita yang ramah seorang terhadap yang lain.. Manfaatkan dan jangan sia-siakan kesempatan itu teman.

    Seperti ada tertulis.

    (I Korintus 13:4-8) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

  6. Hindari terjebak karena dosa – kebencian sendiri.

    Mengapa manusia cenderung mudah kesal lalu putus asa hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya? Salah satunya karena dosa-dosanya semakin banyak sehingga menggap dirinya tidak layak lagi untuk hidup. Karena begitu tingginya rasa bersalah di dalam hatinya sehingga ia tidak bisa lagi memandang muka orang lain karena perbuatan yang memalukan tersebut.

    Kita juga sering terjebak pada dendam yang disimpan di dalam hati. Saat suatu kejadian sedang berlangsung tiba-tiba saja kebencian akan hal tersebut muncul ke permukaan. Ini dikarenakan oleh trauma masa lalu dimana kita masih menyimpan dendam terhadap kejadian tersebut. Keadaan tersebut dapat membuat kita melampiaskan amarah dan kekerasan secara membabi buta. Sehingga pada satu titik muncullah rasa bersalah yang dalam.

    Ingatlah teman bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menyelamatkan engkau. Ia rela memberikan seluruh kehidupan-Nya, yaitu nyawa-Nya untuk menbus segenap kesalahan manusia termasuk dosa anda dan saya. Bahkan dosa terburuk sekalipun telah dihapuskannya. Hanya saja jangan lagi kembali kepada kesalahan tersebut. Melainkan berusahalah meminta maaf kepada orang yang pernah anda sakiti (terserah mereka mau memaafan atau tidak) lalu tetap fokus kepada Tuhan dan jangan pernah lupa berbuat baik kepada sesama disela-sela pelajaran dan pekerjaan yang digeluti dari waktu ke waktu.

    Seperti ada tertulis.

    (Yesaya 1:18) Marilah, baiklah kita beperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

    Ingatlah bahwa Tuhan tidak mengehendaki seorangpun dari anak-anak-Nya dikorbankan, malahan sekalipun hanya ada satu orang anak-Nya yang tersesat tetap saja Dia selamatkan (bnd Matius 18:12-14). Seperti ada tertulis.

    (Matius 18:14) Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

  7. Hindari terjebak karena ketergantungan akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi.

    Manusia dimabukkan oleh gemerlapan duniawi sehingga terlena dan lupa diri juga melupakan kebenaran sejati. Ketergantungan akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi juga membuat orang sering kali mengakhiri hidupnya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang berlebihan jelas membuat anda jatuh sakit hingga meninggal dunia: ini juga bunuh diri secara tidak langsung.

    Berhati-hatilah terhadap kecanduan akan pujian dan popularitas sebab semuanya itu adalah sia-sia dan sesaat saja. Jikalau anda terjebak oleh hasrat kemuliaan duniawi semacam ini niscaya ketika polularitas dan pujian itu sudah meredup maka pikiran mulai stres dan menggila hingga akhirnya mengakhiri hidup.

    Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari ketergantungan terhadap materi apapun di dunia ini. Baik itu berupa makanan, pakaian, perhiasan, barang elektronik dan mesin apapun. Jangan sampai kekurangan atau kelebihan akan hal-hal tersebut membuat dorongan dalam diri ini untuk merusak kehidupan sendiri. Nikmati materi secara fluktuatif, kadang enak-juga pahit, kadang manis-juga asin, kadang mahal-juga murahan dan lain sebagainya. Jika ada sesuatu yang membuat anda ketagihan, berusahalah untuk mengecewakan diri dengan tidak mengkonsumsinya (puasa) selama beberapa waktu.

    Selain itu, untuk mengatasi kecanduan akan kemuliaan: penghargaan, penghormatan, pujian, popularitas dan lainnya. Berusahalah untuk senantiasa fokus kepada Tuhan, menyibukkan diri dengan belajar dan bekerja positif. Selain itu, berilah pujian, penghargaan dan penghormatan yang layak kepada sesama tanpa mengharapkan balasannya. Lakukanlah semua kebaikan itu seperti untuk Tuhan dan bukan kepada manusia.

    Seperti ada tertulis.

    (Lukas 21:33-34) Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.

Marilah kita menjalani hidup ini dengan tetap fokus kepada Tuhan sembari berbuat baik kepada orang lain. Dua aktivitas ini memang sangat sederhana saat diucapkan tetapi sesungguhnya HIDUP SANGAT MEMBUTUHKAN PENGORBANAN. Demikian juga saat menjalani ujian kehidupan, kita mengorbankan perasaan. Jika anda memutuskan untuk hidup di dalam kebenaran maka mantapkan hati untuk berkorban tetapi bukan sampai mati juga kali…. Sebab karya penebusan sudah selesai di kayu salib oleh Sang Kristus Yesus lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Saat ini, Allah tidak menginginkan satupun dari anak-anak-Nya tercecer atau hilang apalagi dikorbankan. Lagipula saat kita tetap hidup, ada banyak kebaikan yang dapat kita lakukan dan semakin banyak pula kebenaran Allah yang kita nyatakan kepada keluarga, tetangga, warga satu dusun, sedesa, sekota, seprovinsi, senegara bahkan kepada seluruh dunia. Ketahuilah bahwa seorang nabi telah bernubuat bahwa suatu saat orang-orang percaya akan terbiasa dengan rasa sakit (karena sering berkorban) dan umur mereka akan mencapai seratus tahun lebih. Seperti ada tertulis.

(Yesaya 65:19-20) Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erang pun tidak. Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk.

Salam, hari Tuhan sudah dekat, berjaga-jagalah dan
tetap berbuat baik kepada siapapun
!

2 replies »

  1. Rancangan keselamatan sering membuat kita lupa akan kebaikan Tuhan ! Kita tdk sadar sudah menghancurkan kemuliaan Tuhan ! Membuat malu kristus = diurapi ,siapa diri kita ini ? Yg seenaknya mengatakan Engkaulah Tuhanku Yesus jk kita tdk memuliakan namaNya,jgn mentang mentang kita di tebus dan hidup seenaknya SADAR betapa baiknya Tuhan kepada kita ,tp kebanyakan dr kita tdk dgn sungguh sungguh melakukan teladan yg baik,bagaimana kita bisa membawa kebaikan jk kita sendiri yg menjadi penghancur,bahkan bg kita yg mengenalkan Yesus pd seorang yg awalnya tdk percaya Yesus,kemudian memberikan teladan yg tdk bertanggung jawab.kita bukanlah manusia tanpa cela tetapi akankah kita terus akan membuka cela bg iblis sehingga kita berbuat hal yg melukai,menghakimi,merugikan,bahkan menghacurkan,ingatlah buah dr Roh itu segalanya yg baik ,yg adil,yg benar.
    Cerdik= licik terhadap siapa ?
    Terhadap manusia lain yg hidup tulus dgnmu at dg orang yg jelas jelas memusuhimu ? Tetaplah memegang hukum kasih yg tertulis sebab tanpa hukum kasih itu tdk akan ada yg sanggup menyelamatkanmu dr panas AmarahNYA.

    Disukai oleh 1 orang

    • Setuju…..
      kita harus menjadi orang yang benar dan selalu memegang kebenaran sejati itu, yakni, mengasih Allah dan sesama manusia. Terimakasih.

      Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.