Ekonomi

7 Tanggung Jawab Gaji Besar – Bergaji Tinggi Tanggung Jawabnya Juga Harus Banyak


Tanggung Jawab Gaji Besar – Bergaji Besar Tanggung Jawabnya Juga Harus Banyak

Hidup ini penuh dengan perbedaan, yang satu bisa ini dan yang lain bisa itu. Masing-masing dari kita memiliki tanggungan yang berbeda-beda sesuai dengan potensi yang dimiliki. Ada orang yang pintar dalam hal ini-itu, mereka akan digiring untuk melakukan aktivitas lapangan lebih sedikit tetapi pekerjaan di belakang meja adalah bagiannya. Pula ada orang yang kuat menggunakan otot-ototnya, mereka akan diarahkan untuk melakukan pekerjaan yang lebih minim di dalam rumah tetapi lebih lama di luar rumah. Sekalipun masing-masing dari kita melakukan pekerjaan yang berbeda, tetap saja, semuanya adalah satu gabungan untuk menjalankan sebuah sistem.

Keahlian yang berbeda membuat kita bersama untuk menjalankan sistem

Perbedaan adalah sebuah takdir yang harus kita maklumi satu sama lain. Selama kita mampu memahami bahwa kehidupan ini sebagai sebuah kesatuan yang utuh maka selama itu pulalah kita bisa menerima perbedaan itu. Sebab seperti sebuah organisme yang memiliki anggota-anggota yang berbeda maka demikianlah kehidupan kita di dunia ini, berbeda-beda tetapi memiliki maksud dan tujuan yang sama. Jadi karena jalan yang hendak kita tempuh sama, mengapa tidak bekerja sama untuk melakukan fungsi yang layak demi mengakselerasi kemampuan sistem mencapai tujuan yang diharapkan. Sebaliknya, orang-orang yang bergotong royong, masing-masing akan menyumbangkan kontribusinya demi kebaikan bersama.

Pembagian kerja di dalam organisasi

Sekarang masalahnya adalah, diantara semua orang yang berpartisipasi, siapakah yang paling bertanggung jawab untuk mengelola semuanya? Dialah kepala yang akan memanajemen proses-proses yang berlangsung sehingga berlangsung dengan baik untuk menghasilkan mutu  (kualitas) yang lebih baik lagi. Lantas orang-orang ini akan menjadi proyeksi yang diangkat menginspirasi semua orang di dalam sistem agar bekerja lebih giat untuk kebaikan bersama. Merekalah yang menjadi icon seolah-olah raja promosi untuk mendulang berbagai proses-proses pengenalan kepada publik baik secara internal maupun secara eksternal.

Pengertian tanggung jawab dan pendapatan

Tanggung jawab adalah (1) keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya); (2) fungsi menerima pembebanan, sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain (KBBI Luring). Menurut kami ini adalah kewajiban yang harus diemban oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap hal tertentu (materi) atau pihak tertentu (sesama). Di dalam suatu organisasi masing-masing orang memiliki kewajiban yang berbeda-beda. Tentu saja setiap tugas yang mereka emban sudah ditentukan dari awal berdasarkan kemampuan dan kepercayaan yang diberikan oleh atasan atau pihak manajemen.

Gaji adalah (1) upah kerja yang dibayar dalam waktu yang tetap; (2) balas jasa yang diterima pekerja dalam bentuk uang berdasarkan waktu tertentu (KBBI Luring). Merupakan keuntungan yang diperoleh seseorang setelah bekerja selama beberapa waktu lamanya sesuai dengan kesepakatan bersama. Pendapatan masing-masing orang berbeda-beda adanya, dasar perbedaan ini dilihat dari sudut pandang tanggung jawab yang diberikan. Sebenarnya jika setiap orang memiliki SOP yang harus diselesaikannya maka Protap tersebut bisa di bagi-bagi kepada beberapa orang agar jumlah pekerja bisa bertambah sehingga angka pengangguran dan kemiskinan menurun.

Siapakah orang yang paling berhak mendapatkan gaji tinggi

Masalah yang yang kemudian muncul adalah setelah seluruh organisasi, katakanlah perusahaan tersebut mampu meraih hasil yang memuaskan, lantas siapakah yang lebih berhak mendapatkan keuntungan? Apakah orang yang bekerja keras dengan tenaganya atau mereka yang berpikir keras dengan otaknya. Atau jangan-jangan, mereka yang sukanya hanya tampil ke depan mengeluarkan beberapa stagment kontroversial sekedar tebar pesona alias cari-cari sensasi? Bila dipertimbangkan baik-baik maka yang paling capek kerjanya adalah pekerja lapangan, yang paling lelah otaknya adalah pekerja cerdas sedangkan yang paling mudah pekerjaannya adalah orang yang sukanya tanda tangan dan promosi pelayanan kepada masyarakat.

Daripada kita mempersoalkan tentang siapa orang yang paling berhak untuk mendapatkan bayaran yang lebih tinggi. Dalam banyak teori tentang pembayaran pendapatan, dikatakan bahwa tanggung jawab sejalan dengan gajinya. Sekarang, dari semua karyawan atau pegawai yang bekerja, siapakah yang beban dan waktu kerjanya paling lama? Bukankah masing-masing anggota memiliki kewajiban yang berbeda-beda namun tetap seimbang? Artinya, tidak ada orang yang beban kerjanya sampai pusing kepala karena susah untuk diselesaikan, melainkan semuanya sudah ada prosedur pengerjaannya (PROTAP) yang terinci. Jadi mengapa ada perbedaan pendapatan? Bukankah saat para pegawainya pulang maka pemimpin dan manajemennya juga pulang di waktu yang sama? Bahkan terkadang mereka terlambat datang tetapi pulang cepat sedangkan gaji besar, dimana keadilan itu? Dimana kesetaraan itu? Mereka hanya orang-orang manja yang berkuasa memegang, menulis dan membuat aturan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri.

Manusia di bayar seperti pada jaman raja-raja, semuanya ada kelas sosialnya

Sebenarnya, sadar atau tidak, sistem pembayaran gaji yang dianut oleh masyarakat jaman sekarang masih belum meninggalkan sistem penggajian raja-raja masa lampau. Dimana raja sebagai pahlawan super yang memiliki bayaran paling tinggi, sedang para penasehat alias menterinya mendapatkan gaji yang tetap tinggi tetapi masih di bawah sang raja. Demikianlah dengan para prajurit yang bertugas memberi keamanan, mereka juga di gaji dengan angka yang lebih rendah dibanding para penasehat. Padahal kalau-kalau misalnya kita mengurut semua kelelahan yang dirasakan maka akan menemukan bahwa para petinggi tersebutlah yang aktivitas dan kelelahannya paling minim.

Akibat bergaji tinggi berbalik menendang dampak negatif nyata

Para petinggi dalam sebuah organisasi awalnya berpikir bangga dengan minimnya pekerjaan tetapi gaji yang besar-besar. Mereka menjadikan ini sebagai bagian dari arogansinya sendiri untuk menyenangkan hati maupun untuk dipamerkan kepada rekan-rekan/ koleganya. Padahal semuanya itu akan berdampak buruk kelak dikarenakan minimnya aktivitas kerja tetapi tingginya angka menikmati hidup. Keadaan ini justru mengarahkan kehidupannya ke arah yang negatif sehingga muncullah perilaku manipulatif akibat berbagai ketidakpuasan yang muncul di dalam hatinya. Terlalu menikmati hidup menggiring manusia dalam kejenuhan, akibatnya hawa nafsu dalam hatinya berkembang sehingga menginginkan lebih. Inilah yang menjadi awal munculnya aksi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Jadi, jangan pernah berkata “untung saya memiliki gaji tinggi” sebab resiko memiliki uang banyak juga lebih berat ke arah yang buruk. Manusia dengan segala dukungan keuangan di dalam dirinya justru bisa mendestruksi kehidupan sendiri. Bahkan keadaan ini dapat pula menghancurkan kehidupan orang lain. Sebab materi membuat seseorang menikmati hidup secara berlebihan, membuatnya mudah iri hati, bersikap sombong dan melakukan berbagai aksi manipulasi agar uang terus tetap ada. Sebab begitu seseorang ketergantungan terhadap uang maka tepat saat itu juga muncul kekuatiran yang mendorong dirinya untuk menimbun lebih banyak dan semakin banyak untuk mengamankan kehidupannya sendiri maupun keluarganya.

Pada titik ini, keserakahan manusia akan merajalela terutama karena harta milik yang bisa diturunkan kepada kaum keluarganya. Jadi, dia berpikir untuk berbuat baik kepada keturunannya dengan menimbun lebih banyak uang lewat aksi manipulatif (KKN). Padahal dia tidak memahami bahwa uang itulah kelak yang akan menghancurkan buat hatinya akibat penyalahgunaan yang tidak bertanggung jawab. Dia tidak mampu melihat kedepan, betapa rapuhnya masa depan seorang anak akibat sifat manja yang dihasilkan lewat materi yang berlimpah-limpah. Apa yang menurutnya sebagai keuntungan, suatu saat kelak akan berubah arah dan berbalik merugikan kepribadian anak-anaknya yang semakin arogan dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Simak juga, Dampak buruk uang yang banyak.

Tanggung jawab bergaji tinggi

Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa untuk apa perbedaan gaji yang sangat signifikan? Bukankah kalau kerja kita sama-sama, datang sama-sama, pulang juga sama-sama: jadi mengapa kalangan tertentu dibayar sangat-sangat tinggi tetapi kontribusi kita sama? Baiklah, anda lelah berpikir, ada yang lelah mengetik, ada yang lelah otot-ototnya dan ada pula yang kerja sampai berkeringat. Bukankah kita disini bergotong royong untuk membuat ekonomi berputar sembari memenuhi kebutuhan sehari-hari? Lalu mengapa ada orang yang di bayar dengan sangat tinggi padahal gaji yang diperolehnya tidak habisnya dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, masih banyak yang disimpannya? Bukankah simpanan yang banyak itu kelak yang membuat seseorang membangun rumah yang besar, megah, mewah dimana merusak lingkungan sekitarnya. Belum lagi masalah dia yang menjadi individualis (egois) dan susah melihat orang lain senang (iri hati).

Berikut ini, beberapa tanggung jawab orang yang digaji dengan sangat tinggi.

  1. Pekerjaan yang dilakukan menemukan hal baru.

    Dahulu di zaman raja-raja, mereka tidak diam-diam saja untuk memerintahkan rakyat tetapi mulai mencari wilayah baru untuk dikuasai. Para petinggi kerajaan ini akan melakukan eksploitasi terhadap sumber daya yang tersedia secara besar-besaran sedang keuntungannya hanya dibagi-bagi untuk dirinya sendiri.

    Jaman sekarang, para pemimpin dan manejemen terus di gaji dengan angka yang fantastis, belum lagi tunjangan dan fasilitas yang diterima. Masalahnya sekarang adalah, apa penemuan baru yang mereka adakan selama mereka memimpin? Atau lebih tepatnya apa hal-hal baru atau peraturan baru yang mereka hasilkan untuk kebaikan semua orang?

    Sedangkan saat ini kita sudah tahu semuanya tentang membuat aturan di dalam sebuah organisasi, bukankah itu semua tentang kopi-paste peraturan dari instansi lain? Yang dilakukan hanyalah mengubah dan menyesuaikannya sedikit-sedikit dengan unit pelayanan yang dikerjakan/ digeluti. Jadi, tidak ada hal-hal baru yang mereka ciptakan, semuanya adalah hal-hal lama yang ditiru-tiru dari instansi lain.

  2. Pekerjaan yang dilakukan lebih berat.

    Kita sudah lama meninggalkan zaman kerajaan masa lampau dimana kediktatoran merajalela. Orang-orang ini tidak hanya arogan dan sombong, mereka juga sangatlah manipulatif terhadap rakyatnya sendiri. Jaman sekarang sudah seharusnya orang yang dibayar tinggi-tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih berat. Nilai berat itu adalah sesuatu yang bisa dilihat dari sudut pandang kekuatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika orang-orang tersebut hanya melaksanakan rutinitas manajemen dimana semua ada SOP-nya, bukankah kehidupannya sama saja dengan pegawai lainnya? Orang lain juga melaksanakan pekerjaan yang sama bahkan beban kerja mereka lebih banyak tetapi pendapatannya biasa-biasa saja.

  3. Pekerjaan yang dilakukan lebih lama.

    Masakan pendapatannya tinggi sekali tetapi kerjanya cepat amat selesai. Disaat orang lain belum berhenti bekerja, masakan mereka sudah pada pulang semuanya? Inikah yang disebut dengan keadilan zaman raja-raja masa lalu, dimana para petingginya duduk bersantai-santai disinggasana kerajaan. Para petinggi ini seharian penuh, mereka hanya bicara dan mengikuti berbagai perjamuan kerajaan. Sedang ia bisa datang ke istana sesuka hati, paling juga untuk melapor dan setelah itu pulang. Kalau soal pulang merekalah yang paling cepat tetapi datangnya paling terlambat. Jaman kapitalis ini hanya membuat manusia-manusia tersebut semakin egois dan arogan.

  4. Masalah yang dihadapinya juga besar.

    Dalam sistem raja-raja jaman dahulu, pemimpin adalah orang yang paling sering diperhadapkan dengan berbagai persoalan yang terjadi di kerajaan. Dialah orang yang paling bijaksana yang dipercayakan untuk mencari solusi terhadap semua masalah tersebut sehingga harta (upeti) yang dibayarkan kerajaan juga besar kepadanya. Lah sekarang, masalah yang dihadapi oleh para pemimpin dan pihak manajemen perusahaan apa coba? Bukankah semuanya ada bidang tertentu yang dihadapkan kepada masalah, entah itu bidang hukum, hubungan masyarakat, peraturan ini-itu dan lain sebagainya. Jadi, sudah sepatutnya para pemimpin yang hanya menjalankan SOP tersebut disama-ratakan pendapatannya dengan yang lain, toh masalah yang dihadapi oleh organisasi tidak mereka tangani langsung melainkan ada staf khusus yang membidangi hal tersebut.

  5. Mampu menjadi orang yang segala bisa.

    Ow man… Di jaman raja-raja dahulu kala, para pemimpin ini memiliki keahlian khusus alias ilmu sihir dan kesaktiannya tinggi sehingga merekalah yang di daulat untuk berdiri di atas tahta kerajaan. Lah, sekarang, para pemimpin dan pihak manajemen dalam suatu negara bukankah semuanya memiliki kemampuan yang sama saja dengan rakyat biasa? Bahkan keberadaan mereka juga bisa saja digantikan oleh pihak lain, entah itu dari kalangan akademisi maupun dari kalangan rakyat biasa. Lebih tepatnya, apa yang mereka lakukan adalah hal-hal biasa yang juga bisa dilakukan oleh masyarakat.

    Paling-paling, membutuhkan sedikit training disana-sini selama dua atau tiga bulan untuk melatih dirinya bersikap sebagai seorang pemimpin. Sebab tentang penguasaan terhadap aturan ini dan aturan itu, bukankah sudah ada staf khusus untuk melakukan dan mensortir setiap kebijakan yang dikeluarkannya? Jadi memimpin dan memanajemen itu tidak sulit sebab semuanya sudah ada SOP/ Protapnya.

  6. Saat masa damai dia di depan.

    Orang yang digaji lebih tinggi di kerajaan jaman dulu adalah mereka yang hidupnya makmur karena beroleh susu dan madu langsung dari kas kerajaan. Saat masa-masa damai maka kehidupannya dan kehidupan keluarganya dan semua kolega-koleganyalah yang diutamakan oleh pihak kerajaan. Sedangkan saat ini, hal yang sama juga terjadi, hanya saja perbedaannya adalah, jika di zaman dahulu kaum keluarga kerajaan memperoleh uang langsung dari pajak rakyat. Zaman sekarang, para pemimpin dan pihak manajemen memperoleh gajinya dari bank dunia, bukankah semua uang dolar itu gratis…?

  7. Saat terjadi perang dia di depan.

    Sebagai orang yang disejahterakan kerajaan maka sudah pastilah para raja dan penasehat juga punggawa ini akan berada di depan saat ada persaingan dengan negara lain. Mereka akan memimpin pasukannya dengan membawa kesaktian dan ilmu sihir yang dimilikinya untuk mencapai kemenangan. Sudah seharusnya, demikianlah juga saat ini, para pemimpin dan pihak manajemen yang akan menghadapi peperangan ketika ada yang hendak di perebutkan dengan negara lain. Bahkan saat rebutan aset dengan instansi lain maka yang menjadi punggawa untuk tampil di depan adalah para petingginya. Tentu saja kita tidak mengharapkan pemimpin yang PENGECUT yang diam-diam saja dan berada di barisan paling belakang saat konflik terjadi. Sudah seharusnya, orang-orang yang memiliki gaji tinggi, fasilitas mewah dan dukungan penuh dari negara dapat tampil di depan untuk meraih kemenangan terhadap persaingan dengan negara lain (lebih tepatnya perang dingin). Simak juga, Menolak wajib militer.

Tidak masalah, jika pembayaran gaji di zaman yang serba modern ini masih dilakukan dengan mengadopsi cara-cara kerajaan yang sangat otoriter jaman dahulu. Memang mereka terkesan demokratis dari segi aturan yang diberlakukan tetapi sesungguhnya sifat otoriter tersebut telah dimuat dalam nilai gaji yang yang diterimanya. Perolehan pendapatan yang otoritarian telah menunjukkan betapa kehidupan bermasyarakat modern masih tersusun atas kelas-kelas sosial yang syarat dengan ketidak-adilan. Mengapa kami berkata tidak adil? Toh mereka yang bergaji tinggi itu bukan manusia super, mungkin kalau mereka adalah Supeman, pantaslah memiliki gaji tinggi. Tapi saat ini, apa yang mereka lakukan bisa juga dilakukan oleh orang lain. Untuk orang baru, paling-paling di training dua sampai tiga bulan agar bisa melakukan hal yang sama. Jika memang pekerjaan mereka berat-berat sekali, bukankah bisa ditambah orang untuk melakukan hal yang sama?Jadi, kesetaraan itu adalah mutlak bagi seluruh anggota organisasi agar masing-masing orang menjalankan fungsinya dengan maksimal dan penyalahgunaan uang tidak merusak manusia itu sendiri karena sesuatu yang berlebihan bisa mengarah kepada tindakan kejahatan. Simak juga, Kerusakan yang ditimbulkan orang kaya.

Salam, sosialisme adalah masa depan dan
kapitalisme adalah masa lalu
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.