Kepribadian

+10 Alasan Zaman Raja-Raja Berakhir – Kekayaan Cs Kemewahan Berujung Pada Kerentanan & Kehancuran


Alasan Jaman Raja-Raja Berakhir - Kekayaan Berujung Pada Kerentanan & Kehancuran

Alam semesta memiliki sistem sendiri untuk menjaga bagian-bagiannya agar tetap berada dalam keadaan yang seimbang. Jikalau salah satu bagiannya berlaku lebay maka bagian yang lainnya akan memperlambatnya. Ketika komponen tertentu melambat maka komponen yang lainnya akan mendorongnya. Bila matahari terlalu panas maka air laut akan menguap sehingga molekul uap air di udara membatasi masuknya cahaya. Saat mentari terlalu redup maka kelembaban akan menurun, uap air menjadi embun sehingga radiasi lebih mudah mencapai permukaan bumi.

Sewaktu hewan-hewan predator di padang terlalu rakus memakan daging, mangsanya akan semakin menurun jumlahnya sehingga sulit untuk diburu. Ketika hewan pemakan rumput meningkat jumlahnya maka jumlah rumput akan habis dengan cepat, akibatnya herbivora kelaparan sehingga mudah dimangsa oleh karnivora. Hewan pemakan rumput yang meningkat pula akan membuat karnivora lebih mudah menangkap dan melahap mereka.  Saat hewan pemakan rumput sedikit jumlahnya, niscaya karnivora semakin sulit berburu, kanibalisme akan berlangsung sehingga jumlah predator juga menurun.

Hal yang sama juga akan terjadi kepada umat manusia saat kita tidak mampu menjaga keadilan sosial. Iri hati akan meradang sehingga timbullah cobaan hidup yang luar biasa. Orang lain akan turut ke dalam konspirasi sehingga jumlah orang kaya semakin bertambah-tambah banyak. Persaingan antara orang tajir akan merajalela sehingga gaya hidup mewah-mewahan merebak dimana-mana. Pemborosan energi dan sumber daya semakin meningkat. Kerusakan alam juga terus merebak sehingga persaingan yang pelik akan melibatkan para kapitalis dalam memperebutkan energi dan sumber daya yang ada. Dengan demikian persaingan dan peperangan tidak bisa dihindari sehingga orang-orang serakah akan tersisih oleh ketamakannya sendiri.

Keserakahan tidak punya tempat di bumi ini. Itulah yang hendak di jelaskan alam semesta buat kita. Pada satu titik kelak, orang-orang tamak itu akan terlibat dalam persaingan & peperangan yang sangat pelik sehingga mereka akan terlibat saling membunuh satu-sama lain. Peristiwa ini mejelaskan kepada kita bahwa segala kerakusan secara tidak langsung akan dinetralisir oleh manusia lainnya. Bahkan saat kejahatan itu sangat-sangat tinggi niscaya kuasa-kuasa ajaib yang terbang di atas bumi dan jatuh dari langit akan menimpa batu kepala setiap pembuat onar dan orang lalim lainnya.

Pengertian zaman raja-raja dunia

Raja adalah (1) penguasa tertinggi pada suatu kerajaan (biasanya diperoleh sebagai warisan); orang yang mengepalai dan memerintah suatu bangsa atau negara; (2) kepala daerah istimewa; kepala suku; sultan; (3) sebutan untuk penguasa tertinggi dari suatu kerajaan; (4) orang yang besar kekuasaannya (pengaruhnya) dalam suatu lingkungan (perusahaan; (5) orang yang mempunyai keistimewaan khusus (seperti sifat, kepandaian, kelicikan; (6) binatang (jin dan sebagainya) yang dianggap berkuasa terhadap sesamanya; (7) buah catur yang terpenting; (8) kartu (truf) yang bergambar raja (KBBI Luring). Jadi, raja adalah penguasa tertinggidalam suatu wilayah yang diperoleh dari garis keturunan atau lewat peperangan melawan kerajaan lain

Zaman raja-raja adalah abad keemasan di tengah kebodohan. Seseorang menduduki tahta sebagai pemimpin tertinggi dalam bidang segala-galanya yang menjalankan kekuasaan secara otoriter, turun-temurun dan absolut. Zaman ini telah lama berlalu dan ketinggalan zaman karena ketidakadilan yang terjadi secara luas, keserakahan yang terus meningkat dan ketidak-mampuan menjaga sumber daya tetap terbarukan. Pada masa ini, seorang raja akan dianggap sebagai utusan Tuhan yang segala perkataannya adalah benar dan tidak boleh dibantah. Mereka dianggap sebagai dewa denga kesaktian khusus dan tidak pernah salah.

Faktor penyebab zaman raja-raja telah lama berakhir

Abad kebodohan tentu saja berubah ke arah yang lebih positif saat masyarakat dalam wilayah tersebut telah meningkat pengetahuannya. Pengalaman hidup yang pahit saat dimiliki oleh sekelompok orang akan menjadi pengetahuan untuk mengedukasi betapa kejamnya pihak kerajaan memperlakukan warganya. Kekuasaan raja pada akhirnya akan berlalu seiring dengan semakin banyaknya kejahatan yang dilakukan dan semakin tidak adilnya pemerintahan yang dipimpinnya. Dan masih banyak faktor-faktor lainnya yang menyebabkan raja yang berkuasa tersebut lengser bahkan kehilangan segala-galanya. Berikut selengkapnya alasan mengapa atau lebih tepatnya proses saat zaman kerajaan berlalu begitu saja/ tanpa bekas.

Proses Berakhirnya Zaman Raja-Raja

  1. Sebagian besar rakyat bodoh.

    Zaman raja-raja berawal dari kebodohan dimana jumlah orang-orang cerdas diantara warga masyarakat sangat-sangat sedikit. Dahulu kala, masih belum ada yang namanya pendidikan dan masing-masing orang melakukan apa yang menurutnya benar. Sekalipun ada orang atau anak yang dididik secara intens, tetap saja mereka berasal dari kalangan masyarakat bangsawan dan kaum keluarga kerajaan.

  2. Diangkatlah seorang raja yang memiliki keistimewaan.

    Pengangkatan seorang raja bisa terjadi oleh orang yang dianggap sebagai imam. Di zaman dahulu mereka lebih dikenal dengan sebutan dukun sebab ia memiliki kontribusi yang besar terhadap kehidupan masyarakat. Orang yang diangkat sebagai raja juga bisa salah satu dari pahlawan yang menyelamatkan desa tersebut dari tangan gerombolan/ penjahat lainnya. Kekuasaan yang mereka emban bersifat absolut dan sangat otoriter sedangkan rakyat tunduk kepada pihak kerajaan dengan ditantang oleh ujung tombak dan mata pedang. Artinya, setiap warga yang tidak tunduk dan patuh terhadap raja, nyawanya tidak terselamatkan.

  3. Kerajaan penuh arogansi.

    Raja yang duduk di singgasana dan para penasehat yang ada disekelilingnya adalah orang-orang yang arogan. Mereka selalu ingin lebih dari orang lain dan selalu berusaha unggul dari orang-orang disekitarnya. Orang-orang ini selalu individualis dan satu-satunya yang mengendalikan mereka adalah rumor yang berkembang tentang kesaktian orang yang duduk di singgasana. Mereka juga memiliki kekaguman tersendiri terhadap rajanya yang telah memberikan kemenangan secara langsung atau tidak langsung di medan. Sebab biar bagaimanapun, mereka pastilah dapat jatah dari kemenangan peperangan tersebut. Belum lagi soal jatah yang dipungut dari rakyat dalam bentuk upeti (pajak).

  4. Harta benda melimpah-limpah.

    Jelaslah bahwa harta benda mereka melimpah-limpah, ini tergantung dari kemampuan kalangan bangsawan sebagai kaum intelektual yang berperan mengeksploitasi sumber daya yang tersedia. Semakin pintar kalangan bangsawan memanen sumber daya maka semakin kaya kerajaan tersebut. Sebaliknya, tanpa orang-orang yang pintar itu maka tidak ada suatu hartapun yang dimiliki oleh raja, keluarganya dan para penasehatnya.

  5. Hidup dalam kemewahan.

    Mereka sanga fokus kepada indranya. Apa yang membuatnya bahagia adalah apa yang bisa dicitrakan oleh kelima indranya. Kemungkinan pada zaman itu, kebahagiaan hati hanya ditemukan oleh rakyat biasa yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan. Sebab semakin kaya seseorang maka semakin jauh hatinya dari Tuhan. Melainkan harta kekayaan yang membuat hidupnya mewah itulah yang selalu dipikirkan & membuatnya senang dari hari ke hari. Tentu saja masalah tingkat kemewahan ini tergantung dari tokoh intelektual yang mampu menciptakan sesuatu yang berkelas.

  6. Hidup dalam foya-foya.

    Kelimpahan hasil pertanian jelas membuat kerajaan tersebut makmur. Tetapi belum tentu rakyatnya makmur semuanya. Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri dan berpikir bagaimana cara membuat hatinya senang. Satu-satunya yang diperlukan adalah dengan menikmati harta kerajaan dalam pesta-pesta besar dan mewah. Tentu saja saat bahan yang melimpah hanya makanan dan minuman maka itulah yang dihambur-hamburkan. Tenggelam dalam pesta pora yang tentu saja syarat dengan miras dan seks bebas.

  7. Tingkat kecemburuan dihatinya tinggi.

    Iri hati adalah momok yang sudah ada sejak awal kehidupan. Para raja dan penasehatnya akan sangat cemburu saat ada diantara rakyat yang maju sedikit. Orang-orang seperti ini akan langsung ditekan sehingga tidak berkembang. Demikian juga saat ada kerajaan lain disekitarnya, mereka pasti akan datang mengeroyok dan menghancurkan wilayah tersebut dengan semena-mena. Semua iri hati itu membuat hidupnya sangat beringas dan selalu berlaku buruk dihadapan orang-orang yang dianggapnya rendahan.

  8. Hawa nafsu tinggi terhadap wilayah yang lebih luas dan pajak yang lebih besar.

    Keberadaan para serdadu dan prajurit yang telah dilengkapi dengan persenjataan lengkap membuat mereka kepedean. Kerajaan inipun melakukan ekspansi ke daerah-daerah disekitarnya untuk menaklukkan wilayah lain. Mereka akan turut memperluas wilayah kerajaannya untuk menghasilkan upeti yang lebih banyak. Keserakahan terhadap wilayah yang luas adalah untuk mewujudkan kerajaan yang lebih kaya-raya. Kerajaan lain yang didengarnya makmur akan berusaha dimata-matai siapa tahu ada kesempatan untuk mengepung dan menguasai wilayah tersebut.

  9. Terlalu banyak bersantai – Menikmati hidup berlebihan.

    Mereka menghabiskan harinya dengan menikmati hidup secara berlebihan. Keadaan ini jelas membuatnya semakin serakah akan sumber daya yang lebih besar. Hidup yang hanya dihabiskan dengan duduk-duduk saja disinggasana membuatnya berpikir untuk mengeluarkan berbagai peraturan (dahulu disebut perintah) yang membuatnya senang dan keluarganya juga senang. Mereka sudah merasa bangga minta ampun bukan kepayang hanya dengan melihat lumbung-lumbungnya dan perbendaharaan hartanya penuh dengan benda-benda berharga.

  10. Tidak peduli dengan nasib rakyat.

    Mereka tidak memikirkan sesuatu tentang kesejahteraan rakyat dan kemajuan kerajaan. Menurut pemahamannya, baik tidaknya kerajaan tergantung dari penghargaan dan penghormatan yang diberikan rakyat kepadanya. Raja, penasehat dan kaum bangsawan adalah pusat dari seluruh kerajaan, merekalah yang aakan sangat dihormati dan dilayani oleh seluruh rakyat.

  11. Dikuasai oleh kebodohan.

    Kesombongan yang menguasai hati membuatnya jarang berkata-kata agar terlihat berwibawa dan garang. Padahal dengan berlaku demikian kemampuan kosa-katanya tidak berkembang dan otaknyapun mandek untuk berpikir. Demikian juga sifat individualis di dalam dirinya membuat mereka menyingkirkan orang-orang yang seharusnya mampu melindungi sang raja dan keluarganya. Mereka yang dikuasai oleh rasa dengki susah sekali melihat orang lain yang lebih baik dari dirinya – pasti akan dibuang jauh-jauh.

    Kebiasaan terus menerus menikmati hidup dan mengosongkan aktivitas juga turut membuat orang-orang dalam kerajaan tersebut kurang cerdas dalam bersikap termasuk dalam hal memperkirakan masa depan. Mereka hanya taunya hari ini dan ketika hari ini sudah puas dan senang maka hari-hari berikutnya diabaikan, yang penting dulu bisa hidup. Keadaan ini akan diperparah dengan minimnya pengalaman yang dimiliki.

    Kebiasaan yang terus-menerus menikmati hidup, waktu luang banyak dan tidak ada kerjaan membuat orang-orang dalam kerajaan tersebut menurun kepintarannya. Penurunan tingkat kecerdasan ini akan turut pula memicu jatuhnya tingkat kesadaran seseorang. Keadaan ini bisa jadi melemahkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri. Sehingga ada kemungkinan, moralitas mereka cenderung labil sehingga mengarah kepada hal-hal yang negatif. Akibatnya, kelaliman mereka semakin merajalela, tipu muslihatnya semakin kentara dan hawa nafsu yang serakah akan materi semakin tinggi. Jadi bisa dikatakan bahwa kebodohan emosional (tidak mampu mengendalikan diri) sangat dekat dengan kejahatan.

  12. Dikuasai oleh sikap kurang waspada.

    Sikap mereka yang kurang berhati-hati membuat dirinya sering terjebak dalam kesalahan tetapi selalu mengkambing hitamkan orang lain atas keadaan tersebut. Demikian juga mereka kurang waspada terhadap keberadaan oknum yang sudah mulai jengkel dengan kesombongan dan kesewenang-wenangan kerajaan.

  13. Terlibat dengan perang sengit terhadap wilayah lain.

    Kerajaan bisa saja berada diambang kehancuran oleh karena para penasehat dan panglima kerajaan yang terlena dengan kemakmuran. Mereka akan mendapatkan serangan mendadak dari kerajaan lain sehingga kerajaan berada di ujung kehancuran. Kemenangan dan kekalahan tergantung dari tingkat kewaspadaan para penasehat dan panglimanya. Semakin lemah orang-orang ini karena terlena dan tenggelam untuk menikmati hidup maka semakin rentan kerajaan tersebut dengan kekalahan. Jika memang para petinggi kerajaan masih belum jatuh dalam kemabukan dan pesta pora maka kemungkinan kerajaan itu masih bertahan dari peperangan besar sekalipun.

  14. Dikhianati oleh anak atau kaum keluarganya sendiri atau penasehatnya atau petinggi lainnya.

    Arogansi yang berkembang luas di antara pegawai kerajaan tidak dapat terelakkan. Mungkin tampak dari luar mukanya halus seperti puteri tetapi hatinya merancangkan kelaliman dan pemberontakan. Mereka bisa saja melancarkan serangan dengan bersekutu untuk membunuh raja dan para pendukungnya secara diam-diam. Ini bisa juga dilakukan dengan menjebaknya di tengah perjalanan atau dengan meracuni. Semua tergantung dari strategi yang dimiliki masing-masing.

    Orang yang membangkang biasanya punya kedengkian yang tinggi terhadap kesombongan pihak kerajaan dan penasehatnya. Pemberontak ini bisa jadi siapa saja, baik itu mereka yang berasal dari kaum keluarga raja sendiri, diantara penasehatnya dan diantara gubernur yang membawahi daerah yang dikuasainya. Tentu saja orang-orang ini di dukung oleh pendanaan yang cukup besar dari kalangan bangsawan.

    Pemberontakan ini akan sukses ketika banyak pihak yang kuat, kaya dan berpengaruh bergabung dengannya. Tetapi jika para penasehat raja tidak jatuh dalam candu kemewahan dan kenikmatan duniawi niscaya rencana tersebut akan diketahui dan diwaspadai terlebih dahulu.

  15. Tidak mampu mengatasi krisis kejahatan, pangan dan penyakit yang merajalela.

    Sementara pihak kerajaan telah mabuk dalam gemerlapan materi, keadaan rakyat justru kacau-balau. Kejahatan semakin berkembang diantara masyarakat, praktek kriminal terjadi secara sembunyi-sembunyi bahkan terang-terangan. Pihak kerajaan seolah tidak peduli dengan nasib masyarakat, mereka hanya akan menanggapinya secara dingin karena merasa orang-orang tersebut bukan kerabatnya. Satu-satunya yang membuatnya bertindak tegas adalah saat yang dijahatin tersebut adalah sanak-saudaranya. Sebab pikirannya yang bodoh merasa tidak ada pengaruhnya antara kematian penduduk dengan kemakmuran raja. Padahal, selama ini kerajaan makmur karena sumber daya (pajak) yang diperoleh dari antara warga masyarakat.

    Masyarakat tambah sengsara oleh keadaan tersebut ditambah lagi oleh karena serangan penyakit tertentu yang merajalela dan bisa saja menular hingga membunuh lebih banyak orang. Pihak kerajaan dengan pengetahuan yang terbatas tidak akan mampu menangani hal tersebut. Atau sekalipun mereka mampu tetapi tidak peduli dengan nasib rakyat. Sebab pikirnya, tidak ada hubungan antara kematian penduduk dengan kondisi kerajaan. Padahal selama ini pihak kerajaan jelas-jelas mengumpulkan upeti dari antara masyarakat, jadi kalau sudah pada mati, apa uang itu datang sendiri (terbang sendiri)?

    Demikian juga halnya dengan kondisi alam yang mulai memburuk dimana hujan sangat jarang turun sehingga para Petani tidak bisa menghasilkan apa-apa. Sekalipun ada hasil panen tetapi jumlahnya terus menurun dari tahun ke tahun. Keadaan ini jelas menimbulkan krisis pangan di wilayah kerajaan tersebut atau lebih dikenal sebagai kelaparan.

  16. Mulai muncul tokoh intelektual dari antara rakyat.

    Hadirnya tokoh intelektual diantara rakyat adalah sebuah kebijaksanaan Tuhan untuk menciptakan keseimbangan agar kerajaan tersebut lebih memperhatikan penegakan hukum yang seadil-adilnya. Tetapi ketika keadilan itu tidak kunjung terwujud maka kalangan pemberontak akan terkumpul dalam jumlah sangat banyak sehingga cukup untuk melakukan suatu aksi huru-hara yang meresahkan. Jika para pemberontak ini memiliki dukungan dari rakyat niscaya kerajaan tersebut akan guncang dan bubar. Namun selama pihak kerajaan mampu memikat hati masyarakat sehingga tetap bergairah untuk patuh terhadap rajanya, alhasil kerajaan tersebut tetap utuh.

  17. Pemberontakan atas ketidakadilan dan tindakan yang sewenang-wenang.

    Tidak ada masyarakat yang memperoleh pendidikan tentang bagaimana seharusnya kerajaan memperlakukan mereka. Apa yang menjadi hak dan kewajibannya dari pemerintah yang berkuasa. Yang mereka tahu adalah upeti harus selalu dikirimkan pada waktu-waktu tertentu.

    Penderitaan yang dirasakan terhadap titah raja, para penasehat dan prajurit yang semena-mena membuat mereka sakit hati, namun memendam semuanya itu. Rasa sakit adalah pengetahuan yang diperoleh rakyat atas kesewenang-wenangan kerajaan. Tepat ketika ada tokoh intelektual yang menghasut mereka dan menjelek-jelekkan pihak kerajaan maka tepat saat itu jugalah pemberontakan mulai terkonsentrasi di beberapa wilayah. Keadaan ini bisa saja berujung pada peperangan (menggulingkan pemerintahan), perpecahan kerajaan dan lain sebagainya. Atau bisa jadi aroma pemberontakan ini telah dicium oleh para penasehat dan panglima sehingga bisa diredam sebelum mekar.

    Perilaku kalangan kerajaan yang semena-mena menindas dan menyakiti hati masyarakat bisa jadi berubah sebagai alat edukasi bagi rakyat itu sendiri. Mereka yang awalnya menganggap pihak kerajaan sebagai orang-orang sakti dan sakral akan mulai mengubah cara pandangnya. Artinya, sifat pemerintah yang jahat dan sewenang-wenang bisa menjadi alat untuk mencerdaskan dan memotivasi masyarakat untuk melakukan aksi pemberontakan.

Kekayaan Cs Kemewahan Berujung Pada Kerentanan & Kehancuran

Kerajaan jaman dahulu terbunuh oleh hawa nafsunya sendiri. Mereka menikmati materi dan kemuliaan duniawi secara berlebih-lebihan sehingga cepat sekali menemui titik jenuh. Keadaan ini membuat dirinya menginginkan sesuatu yang lebih besar dan luas. Mereka akan menempuh ketamakannya dengan memerah rakyat jelata dan menyerang kerajaan lain. Setelah puas dengan kemenangan yang diperoleh dimana semua keinginannya tercapai, seluruh kerajaan akan terlena dalam pesta pora yang tiada henti. Situasi dan kondisi semacam ini membuat negara tersebut semakin rapuh sehingga lebih mudah diserang oleh kerajaan lainnya. Musuhnya bisa saja kerajaan lain yang jauh disana tetapi lebih banyak adalah rakyatnya sendiri yang memberontak akibat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Pengkhianatan itu bisa juga muncul dari antara keluarga raja, penasehat, panglima dan kaum bangsawan yang dengki dan muak dengan angkara murka.

Salam, Satu kapitalis adalah satu kerajaan,
dimana kasta sosial dibedakan menurut gaji yang diterima
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.