Keluarga

7 Alasan Yesus Kristus Disalibkan (Dikorbankan) – Mengapa Allah Mengorbankan Anak-Nya Yang Tunggal?

Alasan Yesus Kristus Disalibkan (Dikorbankan) – Mengapa Allah Mengorbankan Anak-Nya Yang Tunggal

Kristen Sejati – Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik emosi berbunyi demikian “Apakah Tuhan bisa mati?“ Lantas bagaimana menurut anda? Apakah ini sebuah kebenaran? Tentu saja keadaan tersebut adalah sebuah kebenaran karena sudah pernah terjadi di kota Yerusalem, tepatnya di bukit Golgota. Kebenaran lainnya adalah pertanyaan yang disampaikan itu tanggung. Oleh sebab itu, turut dijelaskan pula bahwa setelah Tuhan mati maka Ia bangkit kembali. Artinya, Yesus Kristus tidak dapat ditahan lebih lama lagi oleh kerajaan maut. Ia telah berjuang melawan kerjaan maut sampai memenangkannya dan bangkit dari antara orang mati.

Berita kematian Tuhan tidak lengkap tanpa mewartakan kebangkitannya. Ini menandakan betapa Allah kita berkuasa atas segala sesuatu: di surga Dia ada, di bumi Dia hadir dan di alam maut sekalipun Dia berkuasa. Jadi, kita jangan mempetak-petakkan kekuatan Allah sebab Dia adalah pribadi yang luar biasa, sekalipun kita mencoba memahami kebesarannya, semua itu bukan apa-apa. Allah lebih dari apapun yang pernah terbayangkan oleh akal pikiran manusia itu sendiri. Dialah pribadi yang tak dapat dibatasi oleh sekat-sekat ruang dan waktu, sebab Dialah yang menciptakan dan berkuasa atas ruang dan waktu tersebut.

Hidup yang berkorban adalah Kristen Sejati

Jalan salib yang ditempuh Yesus Kristus adalah sebuah teladan yang menandakan bahwa kehidupan orang percaya syarat dengan pengorbanan. Tanpa adanya pengorbanan tidak ada kebenaran sebab masing-masing orang mencari untung. Hati yang tidak mau berkorban saat menghadapi masalah enggan menerima rasa sakit dan kekecewaan. Kebaikan yang kita lakukan tanpa pengorbanan hanyalah aktivitas berdagang yang selalu mengharap balasan (upah) dari manusia. Meraih kebahagiaan tanpa pengorbanan hanya menggiring kita untuk terus menikmati hidup dan lupa bersyukur atas masalah (penderitaan) yang sedang dihadapi.

Orang yang berkorban adalah orang yang tulus hati

Jalan pengorbanan itulah yang hendak diajarkan Tuhan dalam kehidupan ini. Sebab segala sesuatu tidak bisa kita lakukan dengan penuh ketulusan tanpa pengorbanan. Dimana ada orang yang aktif melakukan hal-hal yang positif maka tepat saat itulah dia mengeluarkan tenaga untuk berlelah menekuni semuanya itu. Rasa capek yang kita temukan saat aktif fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja juga tergolong mengorbankan energi. Demikian juga ketika anda menemukan rasa sakit dan kepahitan hidup dalam setiap pergumulan yang dihadapi, itu juga berkorban namanya. Jadi tidak ada sesuatu apapun yang dilakukan di bumi ini tanpa pengorbanan.

Tidak ada yang kita korbankan saat menikmati hidup, justru kita meminta orang lain berkorban

Jelaslah bahwa saat kita menikmati hidup, tidak ada yang dikorbankan, mengapa kami berkata demikian? Sebab saat membeli sesuatu, kita sekedar memberi sejumlah uang  lalu orang lainlah yang aktif melayani kita. Memang sejumlah uang telah diberikan kepada pelayan tersebut namun aktivitas kita masih sangat minim (tidak sampai lelah/ mengeluarkan keringat). Sebaliknya, orang yang melayani kitalah yang kelelahan. Jadi, jangan terlalu banyak menikmati hidup atau lebih tepatnya jangan lakukan secara berlebih-lebihan. Melainkan nikmatilah materi seperlunya saja, sebaliknya berupayalah untuk tetap aktif berkorban dengan selalu memusatkan pikiran kepada Tuhan dan mengasihi sesama dalam setiap pelajaran dan pekerjaan yang digeluti.

Terlalu banyak menikmati hidup menurunkan kecerdasan

Menikmati materi memang dibutuhkan tetapi bukan dalam arti setiap waktu kita melakukannya. Melainkan berikan juga kesempatan untuk berkorban, ikuti kata hatimu. Biasanya, suara hati sendiri sering menyuruh kita untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, jangan menghindari arahan tersebut. Tetapi ambillah saran tersebut lalu lakukan kebaikan kepada orang lain. Apapun hasilnya iklaskan saja, sebab pengorbanan sejati itu hanya memberi tak harap kembali. Jadi saat kebaikan kita diabaikan, berusahalah untuk mengiklaskannya agar rasa sakit itu tidak bertahan lama melainkan langsung dilepaskan. Kemudian lanjutkan aktivitas positif yang sedang ditekuni (fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja).

Tahukah anda bahwa orang yang tidak pernah atau jarang-jarang berkorban adalah mereka yang aktivitasnya minim bahkan tidak ada. Atau sekalipun ada, itu hanya kesibukan mengurus diri sendiri. Tetapi mereka enggan untuk berbuat baik kepada orang lain. Padahal, sebenarnya jika dipikirkan lagi, berbagi kasih kepada sesama itu bisa dilakukan dengan cara-cara yang sederhana, misalnya beramah tamah (senyum, salam, sapa, terimakasih, tolong, maaf dan menjadi pendengar yang baik). Mereka yang membatasi dirinya untuk melakukan kebaikan yang sederhana ini cenderung menurun kecerdasannya.

Penurunan tingkat kecerdasan ini akan turut pula memicu jatuhnya tingkat kesadaran seseorang. Keadaan ini bisa jadi melemahkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri. Sehingga ada kemungkinan, moralitas mereka cenderung labil sehingga mengarah kepada hal-hal yang negatif. Artinya, daya tahannya saat mengalami ujian kehidupan sangat lemah sehingga sisi emosionalnya begitu kentara. Keadaan ini bisa saja menggiringnya untuk melakukan aksi balasan yang bisa berupa kekerasan verbal (kata-kata, suara) maupun kekerasan non verbal (perilaku yang buruk). Jadi jelaslah bahwa orang yang tidak sering berkorban kepada sesama tidak tahan uji dan cenderung melakukan pelarian.

Faktor penyebab Yesus Kristus disalibkan

Penyaliban Yesus Kristus adalah kisah pengorbanan hidup yang paling menggugah hati. Tidak ada aksi yang paling heroik selain kisah tentang penderitaan Tuhan untuk menanggung dosa-dosa manusia. Padahal, sesungguhnya manusia itu adalah makhluk rendahan yang bukan apa-apa bila dibandingkan dengan Tuhan yang merupakan segala-galanya dalam kehidupan kita. Jadi sebenarnya, ada apa di balik kisah kematian Tuhan Yesus di Bukit Golgota yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu? Apakah cerita atau pendekatan yang paling logis untuk menjelaskan urutan peristiwa tersebut? Berikut ini akan kami ceritakan alasan mengapa Yesus Kristus disalibkan di bukit Golgota.

  1. Manusia telah melanggar Hukum Allah, Hukum Sorgawi, Hukum Taurat.

    Hukum Taurat adalah hukum sorgawi, demikianlah orang-orang dalam kerajaan sorga hidup selamanya. Ini juga merupakan sebuah cara Tuhan untuk mengajari umat manusia tentang apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan kebenaran dan apa pula itu dosa?  Artinya, hukum Taurat bermanfaat untuk memberitahu (mengedukasi) bahwa ini dan itu adalah benar sedang yang sana dan sini adalah salah sehingga manusia terus berusaha untuk menghindari semua pelanggaran akan hukum tersebut. Seperti ada tertulis.

    (Roma  7:7) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!”

    Sejak dari awal setelah berakhirnya hari-hari penciptaan, Adam dan Hawa serta seluruh keturunannya (kita umat manusia) terus berdosa dari waktu ke waktu. Awal dosa tersebut dimulai dari ketidaktaatan manusia terhadap perintah Allah sejak dari Taman Eden. Keadaan ini terus berlanjut sampai diturunkannya hukum Taurat, yaitu hukum sorgawi: bagaimana seharusnya sikap hidup seorang manusia agar ia bisa mencapai kehidupan sorgawi yang sejati. Sayang, tidak ada satu orangpun yang bisa terbebas dari hukuman terhadap pelanggaran atas hukum Taurat sebab semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Seperti ada tertulis.

    (Roma  3:23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

    Padahal berdasarkan hukum sorgawi, hukum Taurat upah dosa adalah kutuk dan kematian. Artinya, melanggar satu saja poin dalam hukum taurat sudah menempatkan seseorang untuk layak di hukum mati. Sebab kemurnian yang dituntut oleh hukum Taurat berasal dari dalam hati, perkataan dan perbuatan. Artinya, sekalipun perbuatan kita sesuai hukum Taurat, siapakah yang menjamin perkataan kita sudah benar? Atau siapakah yang menjamin isi hati kita sudah benar? Bukankah kita sering sekali terperosok dan terjebak untuk memikirkan hal-hal yang jahat?

    Kata-kata kita sering sekali mengucapkan dosa dan itu layak di hukum mati. Seperti ada tertulis.

    (Matius 5:21-22) Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

    Bahkan pikiran kita yang berdosa sekalipun layak dihukum mati. Seperti ada tertulis.

    (Matius 5:27-28) Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

    Semua orang beramai-ramai mengikuti hukum Taurat sebab semua manusia ingin hidup di dalam kerajaan sorga. Sayang, ada azas keutuhan yang diperlukan saat kita mengikut hukum tersebut, dimana melanggar satu saja dari perintah yang tertulis di dalamnya akan dihukum mati. Lantas semua manusia sudah seharusnya dihukum mati dan tidak layak masuk dalam kerajaan sorga. Tetapi Sang Pencipta tidak pernah merencanakan yang jahat kepada umat-Nya, melainkan semua rancangannya adalah untuk kebaikan umat manusia.

    (Yeremia 29:11) Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

    Jadi, Tuhan tidak menghendaki agar seluruh umat manusia masuk neraka melainkan Ia memberikan kesempatan kepada orang-orang percaya untuk dilayakkan masuk dalam kerajaan-Nya. Lantas, semua kutuk yang seharusnya dirasakan oleh umat manusia kini telah ditanggungkan kepada Anak-Nya yang tunggal. Sehingga setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus beroleh hidup yang kekal.

    Semua kutuk akibat dosa yang dilakukan manusia dari sejak awal setelah penciptaan hingga kini telah ditanggung oleh Yesus Kristus di kayu salib, sekali untuk selama-lamanya.

    (Ulangan 21:22-23) “Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.”

  1. Manusia adalah ciptaan Allah >> anak Allah.

    Pernahkah anda sewaktu-waktu membuat kue di rumah? Atau pernahkah anda merawat bunga di kebun? Bagi yang bapak-bapak, pernahkah anda memiliki sepeda atau motor dan kendaraan lainnya? Adakah orang yang mau kepunyaannya tersebut rusak? Mungkinkan seorang Ibu memasak untuk menciptakan kue yang bantat dan tidak enak? Atau mungkinkan seorang gadis merawat bunga untuk dilayukan sehingga mati? Mungkin jugakah seorang ayah membeli barang-barang tertentu untuk dirusak?

    Tentu saja tidak ada seorangpun pencipta atau anda bisa juga menyebutnya sebagai pemilik yang membuat sesuatu untuk diihancurkan orang lain. Sadar atau tidak, ada hubungan emosional antara Pencipta dengan hasil ciptaan-Nya. Kedekatan inilah yang membuat seorang creatorman tidak akan pernah rela jika hasil ciptaan-Nya itu hancur lebur akibat kejahatan. Yang Dia inginkan adalah bagaimana hasil ciptaan-Nya tersebut bisa berkembang, dewasa dan maju dari waktu ke waktu. Tentu saja Sang Pencipta juga tidak mengehendaki hasil ciptaan yang suka membangkang, tidak mampu memahami-Nya, menipu, saling rusuh, cek-cok dan lain sebagainya. Melainkan Ia mengehendaki seorang sahabat yang taat dan bijak memanajemen sumber daya yang tersedia.

    Sekarang, Tuhan sebagai Sang Pencipta berkehendak agar semua anak-Nya hidup benar, sebab di dalam kebenaran ada rasa bahagia, damai, sukacita, puas, tenang dan tenteram hidupnya. Sedangkan satu-satunya cara untuk menempuh semuanya itu adalah lewat pengorbanan dan penderitaan. Padahal kita tahu sendiri bahwa sebagian besar umat manusia sukanya menikmati hidup, kenyamanan, kemewahan dan hal-hal lainnya. Artinya, berat jalan yang ditempuh untuk meraih kebaikan hati tetapi manusia lebih terlena dan terbuai oleh pesona yang menawan indra (materi dan kemuliaan duniawi). Akibatnya, karena terlalu fokus terhadap hal-hal duniawi maka manusia itupun jatuh dalam dosa.

    Lantas Allah ingin kita memahami bahwa hanya dalam penderitaan dan rasa sakitlah sikap yang benar itu dapat dibinia, dilatih dan dibangun. Orang yang hidup mengasihi Allah seutuhnya dan sesama seperti diri sendiri akan merasakan kebaikan hati (kepuasan, kebahagiaan, ketenteraman). Sehingga Ia tampil memberi contoh untuk menunjukkan aksi heroik pengorbanan terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Seandainya, kisah kematian Tuhan Yesus biasa-biasa saja pasti masih lebih banyak kisah yang lebih besar. Tetapi Tuhan Yesus hendak memberi kesan yang luar biasa sehingga kisah pengorbanan di kayu salib adalah kebaikan terbesar dan terus diingat sepanjang masa.

    Seluruh umat manusia adalah anak Allah. Seperti ada tertulis.

    (Lukas  3:38) anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.

  2. Adam dan Hawa membawa ilmu pengetahuan ke dunia ini tetapi Tuhan Yesus Kristus membawa kasih.

    Adam dan Hawa adalah ciptaan Allah langsung yang membawa ilmu pengetahuan dan dosa ke dalam dunia ini. Mereka mewariskan ilmu pengetahuan yang menghasilkan dosa tersebut kepada seluruh keturunannya, yaitu kita umat manusia yang hidup sampai saat ini. Seperti ada tertulis.

    (Kejadian 3:6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

    Sayang warisan ilmu itu syarat dengan arogansi yang menggiring manusia untuk saling mendengki, bersaing dan berperang satu-sama lain. Semuanya itu terjadi untuk mencari tahu siapa yang terhebat, terunggul dan terbaik sehingga dihasilkanlah seorang pemenang. Manusia sampai sekarang memanfaatkan pengetahuan yang di bawa oleh Adam dan Hawa untuk membuat dirinya kaya-raya dan berkuasa. Akibatnya, berbagai ketidaktaatan, penipuaan, kejahatan, manipulasi dan konspirasi mewarnai sejarah kehidupan kita dari awal masa penciptaan hingga saat ini. Semuanya itu hanya menggiring kehidupan kita pada bencana alam dan bencana kemanusiaan (banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, kekeringan, gelombang panas, penyakit, kelaparan, peperangan dan lain sebagainya).

    Manusia tidak akan pernah hidup damai dengan semua ilmu pengetahuan dan arogansi yang dimilikinya. Oleh karena itu, Allah datang sendiri untuk memberi petunjuk kepada umat manusia, bagaimana seharusnya membangun hidup dalam kepuasan, kedamaian, kebahagiaan, ketenangan, kelegaan dan ketenteraman: yaitu lewat jalan pengorbanan.

    Kasih adalah pengorbanan dan tanpa berkorban, tidak ada yang namanya rasa puas, lega, bahagia, damai, tenang dan tenteram. Oleh karena itu, Tuhan Yesus memberi pedoman untuk tampil di depan sambil berkata “begini lho yang namanya pengorbanan itu?” Jadi jalan pengorbanan itulah yang seharusnya kita tiru. Hanya saja kita harus cerdik namun tetap tulus dalam mengasihi sesama agar kita tidak masuk jebakan dan kehilangan segalanya. Sebab Tuhan Yesus pernah berpesan agar orang kristen mampu bertahan dalam setiap pencobaan yang dihadapinya [Ketahui juga, Mengapa orang kristen harus tetap hidup?]. Bertahan berbuat baik bisa dianggap sebagai wujud konsistensi. Artinya, saat orang-orang duniawi tidak lagi saling mengasihi, malah cenderung saling membenci, cuek, mengejek, membully, menghina dan memfitnah satu-sama lain tetapi orang percaya harus tetap konsisten untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Seperti ada tertulis.

    (Matius 24:12-13) Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

    Tetapi Tuhan tidak pernah menyuruh orang percaya untuk berkorban sampai mati melainkan bertahan untuk tetap mengasihi. Memang dalam zaman sebelumnya, ada orang kristen yang memberi nyawanya sebagai kesaksian untuk kemuliaan nama Tuhan (martir) di tengah tekanan yang kuat terhadap kekristenan. Tetapi saat ini abad kekelaman telah berlalu, masing-masing orang dijamin kebebasannya untuk memeluk dan beribadah menurut agama yang diyakini, termasuk Kristen. Kesanggupan untuk bertahan dalam zaman ini adalah kemampuan bertahan hidup sambil menebar kasih Kristus kepada semua orang. Hanya orang-orang yang tetap hiduplah yang mampu bertahan sambil mengasihi Allah seutuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Niscaya, orang yang tetap mengasihi sekalipun hidupnya diujung tanduk, pasti akan selamat.

    Jadi, manusia pertama Adam dan Hawa yang diciptakan langsung oleh Allah telah membawa ilmu pengetahuan yang mendatangkan dosa besar dalam kehidupan kita. Tetapi Tuhan Yesus datang membawa kasih untuk meredakan eksploitasi ilmu pengetahuan yang merusak alam dan merusak manusia itu sendiri. Satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah arogansi adalah dengan memberlakukan kesetaraan, yaitu kasihilah sesamamu seperti diri sendiri. [Simak juga, Sosialisme sayap kir bukan komunis]

    Seperti ada tertulis.

    (Markus 12:33) Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

  3. Dosa telah dimulai langsung oleh anak Allah (alamiah – jasmaniah) maka akan diakhiri oleh Anak Allah (rohaniah)

    Hidup ini adalah pola. Segala rentetan peristiwa yang berlangsung sepanjang sejarah umat manusia memiliki pola-pola khusus. Sama halnya seperti dosa yang diakibatkan oleh ketidaktaatan satu orang maka demikian juga ketaatan akan dibawa oleh satu orang. Demikian juga dosa datang atas kejahatan satu orang maka keselamatan juga akan dibawa oleh satu orang. Seperti ada tertulis.

    (Roma 5:19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

    Anak Allah yaitu Adam & Hawa yang memiliki tubuh jasmani yang dibangun dari debu dan tanah adalah makhluk hidup yang fana. Anak yang pertama-tama ini penuh dengan hawa nafsu dan arogansi sehingga menggiring mereka untuk memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk meraih materi dan kemuliaan duniawi yang lebih dan lebih lagi. Manusia pertama datang dengan sifat individualisme yang memicu sikap iri hati, kesombongan dan arogansi di antara umat manusia. Tetapi Adam (Yesus Kristus) yang kemudian datang adalah makhluk sorgawi yang membawa kebiasaan-kebiasaan sorga dalam setiap sikapnya. Kebiasaan orang sorgawi adalah kebenaran yang hakiki, yaitu kasih yang penuh dengan pengorbanan. Inilah yang hendak diajarkan Kristus Yesus kepada kita, seluruh umat manusia, yaitu hidup adalah pengorbanan dan tanpanya tidak ada yang namanya kedamaian, kelegaan, kebahagiaan dan ketenteraman.

    Manusia jasmani adalah orang yang egois dan arogan tetap manusia rohani adalah mereka yang saling mengasihi dan rajin berkorban. Tanpa pengorbanan tidak ada kerajaan sorga sebab kerajaan sorga didasarkan atas kasih. Jadi Yesus Kristus mendahului kita untuk memberikan contoh (pedoman) sikap mengasihi yang terbesar sepanjang masa. Itulah yang menjadi teladan kepada semua orang kristen agar mau dengan rela hati berkorban untuk mengasihi Allah sepenuhnya dan sesama seperti diri sendiri alias kesetaraan.

    Seperti ada tertulis.

    (I Korintus 15:45-50) Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.

  4. Sebuah pendekatan : Pekerjaan Imam Besar di Bait Suci.

    Kemah Suci atau selanjutnya disebut sebagai Bait Suci adalah rumah doa bagi seluruh bangsa Israel. Di sinilah semua orang Israel berkumpul untuk membayarkan persepuluhan, persembahan dan nazarnya kepada Allah. Kemah suci tersebut memiliki ruangan yang kudus dan ruangan maha kudus. Adalah ruangan maha kudus yang telah dipisahkan dengan bagian yang lain oleh tirai. Hanya Imam besar sajalah yang bisa masuk ke sana untuk beribadah dan bercakap-cakap memanjatkan doa kepada Tuhan Allah israel, itupun hanya sekali setahun. Setiap kali, Imam Besar hendak masuk kedalamnya ada persembahan dari darah untuk menyucikan dirinya sendiri dan untuk menyucikan seluruh umat. Bahkan segala barang-barang yang ada di dalam Kemah Suci tersebut disucikan dengan memercikkan darah.

    Keadaan ini menandakan bahwa hubungan manusia dengan Allah belum benar-benar terbuka di zaman itu. Seorang penduduk biasa membutuhkan Imam besar untuk menyampaikan doa kepada Allah. Imam besar itu sendiri melayakkan dirinya untuk beribadah kepada Allah dengan darah persembahan untuk menyucikan dosanya dan dosa bangsa Israel sebelum masuk ke ruang maha kudus tersebut (bnd Imamat 16:17). Akan tetapi, saat ini Tuhan Yesus Kristuslah yang telah menjadi Imam Besar yang hakiki dalam hidup kita sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya bisa langsung menyampaikan permohonan kepada Allah dengan mengatasnamakan permohonan tersebut “di dalam nama Yesus.” Sebab Dialah Imam Besar yang telah menyucikan diri bukan dari korban yang biasa (darah domba) melainkan lewat pengorbanan yang luar biasa yakni dirinya sendiri di atas kayu salib sekali untuk selamanya (bnd Ibrani 9:1-10).

    Yesus Kristus adalah Imam Besar Yang Sejati sekaligus persembahan yang menyucikan dosa umat manusia sehingga setiap doa-doa kita panjatkan dalam nama-Nya. Seperti ada tertulis.

    (Yohanes  14:13) dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

  5. Sebuap pendekatan : Keselamatan seperti wasiat.

    Pendekatan ini seperti yang disampaikan oleh rasul Paulus (bnd Galatia 3:15) dan penulis kitab Ibrani (bnd Ibrani 9:17). Yaitu suatu wasiat yang telah disahkan tidak akan berlaku sebelum pemberi wasiat tersebut meninggal. Bukankah jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus telah dijanjikan-Nya, baik yang disampaikannya langsung maupun yang disampaikan oleh nabi-nabi sebelumnya. Wasiat tentang keselamatan tersebut tidak akan berlaku sebelum orang yang memberikan-Nya mati. Allah telah menyampaikan wasiat tersebut jauh sebelum Yesus Kristus datang. Seperti ada tertulis.

    (Yesaya 1:18) Marilah, baiklah kita beperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

    (Yesaya 51:22) Beginilah firman Tuhanmu, TUHAN, Allahmu yang memperjuangkan perkara umat-Nya: “Sesungguhnya, Aku mengambil dari tanganmu piala dengan isinya yang memusingkan, dan isi cangkir kehangatan murka-Ku tidak akan kauminum lagi,

    Wasiat keselamatan itu telah diberikan kepada umat manusia melalui kematian Sang Juruselamat Yesus Kristus di atas kayu salib. Dimana inti dari seluruh penyelamatan tersebut adalah kasih, yaitu kasih kepada Allah yang seutuhnya dan kasih kepada sesama seperti diri sendiri. Segala sesuatu tentang kasih tidak pernah jauh-jauh dari pengorbanan. Orang yang berupaya mengasihi Allah dan mematuhi ajaran-Nya seutuhnya butuh berkorban. Demikian juga untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri alias kesetaraan membutuhkan pengorbanan. Kuncinya di sini adalah bagaimana kita mengorbankan rasa arogansi yang selalu ingin lebih dan lebih lagi dari orang lain semata-mata untuk kesetaraan. Sebab dimana ada kesetaraan di sana ada kedamaian, kepuasan, kebahagiaan, ketenteraman dan kelegaan. Sedangkan tanpa kesetaraan kehidupan masyarakat bagaikan lingkaran rantai makanan di alam rimba dimana orang-orang yang kuat memanfaatkan orang yang lemah untuk keuntungan dan kepentingannya juga kelompoknya.

  6. Sebuah pendekatan : Ajaran Yesus seperti biji yang harus mati terlebih dahulu agar ajaran tersebut bisa berkembang.

    Ini adalah perumpamaan yang langsung disampaikan oleh Tuhan Yesus sendiri. Sebutir biji gandum tidak akan bisa menghasilkan apa-apa kalau ia masih di simpan dalam keleng perbenihan. Tetapi bila benih gandum tersebut ditanam di dalam tanah dan disiram setiap hari, alhasil biji tersebut akan mati lalu beregenerasi menjadi bibit. Bibit tersebut akan semakin tumbuh baik hingga memberikan bulir-bulir gandum yang suatu saat nanti siap untuk dipanen.

    Jadi, bisa dikatakan bahwa kematian Tuhan Yesus Kristus adalah sebuah daya tarik yang sangat menggugah hati setiap orang yang menyadarinya. Kisah penyaliban tidak hanya indah untuk diceritakan tetapi juga sangat sensasional hingga menyentuh ulu hati setiap orang yang mampu memahaminya. Apa yang dilakukan-Nya adalah sebuah tindakan heroik yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh umat manusia yang hidup egois dan arogan. Sudah seharusnya kita meniru jalan pengorbanan yang dicontohkan oleh Yesus Kristus dengan menyerukan dan memperjuangkan sosialisme. Sebab tanpa kebersamaan maka iri hati, persaingan, perselisihan dan konflik akan menjadi makanan kita sehari-hari. Sedang bencana alam (banjir, badai, longsor, gempa, tsunami, gelombang panas dan lainnya) dan bencana kemanusiaan (kelaparan, penyakit, peperangan) akibat berebut sumber daya sudah menanti di depan (lebih tepatnya di masa mendatang) tanpa memberlakukan kesejajaran antar manusia. Jangankan di masa depan, sekarang saja bencana alam dan bencana kemanusiaan tersebut telah dan sedang melanda saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia.

    Seperti ada tertulis.

    (Yohanes 12:24) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Alasan mengapa Kristus Yesus adalah Tuhan

Seandainya, orang yang secerdas Tuhan Yesus Kristus adalah manusia biasa maka sudah bisa dipastikan bahwa Ia akan hidup jadi penguasa dan pengusaha tersukses sekaligus terkaya sepanjang masa. Di sinilah kita bisa menyelidiki keilahian-Nya, yaitu dengan semua kemampuan yang luar biasa tersebut, Ia tidak mementingkan diri sendiri tetapi membagi-bagikan muzizat kepada banyak orang. Kristus Yesus juga bukan orang yang arogan dan ambisius seperti manusia di zaman tersebut sebab Dia pernah membasuh kaki murid-murid-Nya. Dengan semua kekuatan yang dimiliki-Nya itu, Dia bisa saja membangun kekuatan untuk melakukan pemberontakan terhadap kekaisaran Romawi atau Kerajaan Israel. Tetapi Ia tidak berusaha untuk melawan kekuasaan yang syarat dengan arogansi sebab dengan demikian  Ia juga arogan. Siapa lagi yang bisa melakukan semuanya itu selain Tuhan itu sendiri? Jadi pantaslah kita meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Ilustrasi raja yang dikorbankan untuk membebaskan sahabat-sahabatnya

Kami juga memiliki perumpamaan tersendiri untuk menjelaskan “Mengapa Yesus Kristus yang adalah Tuhan harus disalibkan untuk menebus dosa umat manusia?” Bahkan kamipun sempat berpikir, mengapa Allah tidak secara langsung memberikan keselamatan tersebut seperti sihir “sim sala bim” maka semuanya jadi? Yang pasti hal-hal yang sifatnya instan tersebut tidaklah baik untuk pendewasaan umat manusia itu sendiri, jadi jangan gemar dengan budaya instan saudaraku. Alkisah ada seorang raja yang sangat tegas dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Sedang dalam memimpin rakyat, ada banyak sahabat yang membantunya melayani seluruh masyarakat. Tetapi ada seorang musuh yang sengaja menjebak Raja yang tegas tersebut untuk mengeluarkan suatu peraturan yang menantang (hukum Taurat).

Selang beberapa waktu lamanya, para sahabat yang selama ini membantunya menjalankan pemerintahan terbukti telah melanggar peraturan tersebut. Raja yang tegas tersebut tidak rela hati menghukum mati sahabat-sahabatnya (orang percaya) tetapi diapun tidak boleh mencabut kembali aturan yang telah diberikannya. Satu-satunya jalan agar peraturan tersebut gugur adalah lewat kematiannya. Lantas karena begitu tinggi kasihnya kepada para sahabat itu, ia melakukan konspirasi dengan sengaja memanggil pembunuh bayaran secara diam-diam untuk mencabut nyawanya. Suatu hari sebelum waktu penghukuman (eksekusi) bagi seluruh tahanan kerajaan, raja tersebut melakukan perjalanan ke suatu tempat, iapun dibunuh oleh serdadu-serdadu yang sengaja dimobilisasi melakukan penyergapan. Akhirnya, para sahabat yang awalnya ditahan karena peraturan raja dibebaskan karena sang pemberi perintah telah tiada.

Kesimpulan

Sejarah kekristenan adalah sebuah jalan panjang yang bermanfaat untuk mempertemukan (mengedukasi) umat manusia dengan jati diri yang sesungguhnya. Allah memberi kita dua pilihan, mengikuti jalan yang egois dan syarat dengan arogansi atau mengikuti jalan kasih yang syarat dengan pengorbanan. Bila umat manusia mengikuti kedagingannya lalu memilih untuk mencari keuntungan alhasil kedengkian, persaingan, perselisihan dan konflik akan mewarnai jalan hidup kita. Kondisi masyarakat tak ubahnya seperti di alam rimba yang syarat dengan seleksi alam dimana yang kuat dan kaya akan hidup untuk menginjak dan memanfaatkan orang yang lemah, miskin dan tak berdaya. Tetapi bila masyarakat bisa belajar dari sejarah Yesus Kristus maka seluruh sistem akan dipersatukan dalam kebersamaan dimana pengorbanan adalah ikon kehidupan seluruh umat manusia sedangkan kekuatan ilmu pengetahuan, kekuasaan dan pendapatan disetarakan, itulah sosialisme.

Salam, hidup tanpa pengorbanan adalah mati rasa!

2 replies »

  1. Shallom,HIDUP tanpa pengorbanan adalah mati rasa/bisa dikatakan tawar hati .ini realita yg terjadi dikalangan kita,bukankah sdh dikatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah = 0 ,miris memang karena saat ini ajaran kristen mula mula sdh mulai tergeser karena ketidak pahaman akan pengorbanan Tuhan,seperti sebuah kisah yg saya alami secara pribadi saat mengikuti KKR kuasa Allah saat itu turun hujan deras ada seorang ibu yg mengendong anaknya dan tangan lainnya memegang bekal,beliau terpisah dr bibinya yg brrusia 60 th -/+,meminta tolong seorang crew untuk pinjam sebuah payung dan alhasil No action tdk ada respon,bagaimana itu kita satu lho ? Ibu itu menangis di dpn saya dan bercerita sy hanya bisa mengatakan bersabarlah pasti Tuhan bantu,melihat realita itu sy prihatin sekali,Doktrin yg ditanamkan hanya bersuka cita bg siapa ? Bgm bisa memuliakan Tuhan jika bgt ? Ini Tugas berat bagi para imam untuk membimbing domba dombanya.

    Disukai oleh 1 orang

    • Pengorbanan itu memang diperlukan, sebelum berkorban untuk hal-hal yang besar maka belajarlah berkorban pada hal-hal kecil. Kami bukanlah seorang imam, ini hanya blog abal-abal yang tidak berguna.

      Tetapi, kami berupaya untuk membagikan hal-hal kecil kepada sesama dimulai dari sekarang, Hal kecil itu adalah sikap yang santun dan ramah kepada sesama. Niscaya jika pengorbanan kecil saja bisa kita lakukan maka yang besar-besarpun akan dibimbing oleh Kristus Yesus.
      Terimakasih.

      Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.