Kepribadian

7 Ciri Khas Pengorbanan Sejati Yang Dapat Dilakukan Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Ciri Khas Dan Tanda Pengorbanan Sejati

Tiada hari tanpa pengorbanan. Itulah slogan yang sudah seharusnya diselami dan dihidupi oleh masing-masing orang di muka bumi. Ini seperti jiwa dan roh manusia itu sendiri. Sebab aktivitas ini akan turut memberikan inspirasi kepada kita untuk hidup dengan meninggalkan sifat-sifat individualisme yang sejalan dengan arogansi. Dua sejoli ini bisa jadi sebuah momok yang membawa bumi dalam kehancuran total – neraka asli panas membakar segala sesuatu (ujung pemanasan global). Oleh karena itu, dalam setiap hari yang dilalui, selain berkorban untuk diri sendiri, silahkan juga melakukannya untuk orang lain.

Pengertian

Korban adalah (1) pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb; kurban; (2) orang, binatang, dan sebagainya yang menjadi menderita (mati dan sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya (KBBI Luring). Jadi bisa dikatakan bahwa pengorbanan adalah aktivitas memberikan perhatian, materi dan perlakuan lainnya yang dibutuhkan sebagai bagian dari kepeduliaan terhadap oknum atau kelompok tertentu. Seperti yang kami singgung sebelumnya bahwa pada hakekatnya pekerjaan ini telah, sedang dan akan terus dilakukan manusia manapun di seantero penjuru bumi.

Pengorbanan sejati adalah aktivitas memberikan perhatian, materi dan perlakuan lainnya yang dibutuhkan sebagai bagian dari kepedulian terhadap seseorang atau sekelompok orang. Mengapa kami membatasi kebaikan itu hanya kepada sekelompok orang? Sebab kita hanyalah manusia biasa, sekalipun kita berkorban sampai mati, itu hanyalah untuk kepentingan orang atau pihak tertentu saja. Sedangkan pengorbanan yang dilakukan Tuhan Yesus adalah untuk semua orang dan segala bangsa di seluruh dunia ini. Artinya, sehebat apapun pengorbanan kita terhadap orang lain, itu hanya berlaku terhadap orang-orang dalam lingkup kecil tetapi Tuhan bisa melakukannya untuk seluruh umat manusia.

Tujuan kita mengorbankan sesuatu

Ada tiga arah pengorbanan yang kita lakukan dari hari ke hari, yaitu yang diarahkan untuk diri sendiri, kepada sesama manusia dan terhadap lingkungan sekitar. Saat anda terus berusaha untuk beraktivitas memfokuskan pikiran kepada Tuhan, belajar sesuatu yang positif dan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan, itulah yang dikorbankan untuk kebaikan sendiri. Ketika kita selalu berusaha berbagi kasih-perhatian kepada sesama dengan bersikap santun-ramah, itulah yang dikorbankan untuk kebaikan sesama. Apabila kita ingin berupaya memperjuangkan kesempatan hidup yang lebih layak bagi makhluk lain, itulah yang dikorbankan untuk lingkungan sekitar.

Meningkatkan kecerdasan dan pengendalian diri

Aktivitas berkorban ini adalah suatu cakupan keseluruhan atas kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Barang siapa yang aktif menjalani hidup akan dibaikkan potensi berpikirnya sehingga tingkat kecerdasannya semakin mumpuni. Sudah otomatis saat kemampuan berpikir seseorang semakin meningkat maka tingkat kesadarannya juga akan semakin membaik dari waktu ke waktu. Mereka yang selalu sadar saat bersikap semakin kecil kemungkinannya untuk melakukan perbuatan menyimpang, terkecuali jikalau orang tersebut memang sengaja melakukannya.

Landasan untuk melatih kita berbahagia di segala sikon

Orang yang menyempatkan diri untuk berkorban kepada sesama dalam setiap hari yang dijalaninya selain terlatih untuk menjadi pribadi yang cerdas juga sanggup mengabaikan rasa sakit akibat pengabaian yang menyertainya. Alhasil kehidupan orang-orang seperti ini akan digiring dalam kebahagiaan dari waktu ke waktu. Ingatlah lagi bahwa kebahagiaan sejati itu adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri dan tidak berasal dari materi, pujian, penghargaan dan penghormatan dari sesama. Keadaan ini jelas membuat kehidupan kita mandiri, bahagianya juga bisa sendiri. Tetapi bukan dalam arti kita tidak butuh orang lain, melainkan dengan adanya sesama manusialah maka kita bisa berkorban lebih aktif dan lebih banyak tentunya.

Namun tetap realistis

Disamping itu, kita juga harus menjadi seorang pengorban yang realistis. Saat orang lain menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang lebih dari yang dapat dilakukan (dalam arti di luar kemampuan kita) maka kita bisa memilih untuk meminta maaf dan menanggungkannya. Pengorban yang realistis juga bisa berarti adalah seseorang yang mampu mempelajari pola-pola kehidupan masyarakat sehingga mampu mengorbankan sesuatu dengan cerdik. Artinya, mereka berusaha menekan dan menghindari dampak buruk dari aktivitas tersebut, seminimal mungkin tidak ada yang dikorbankan secara tragis.

Ciri-ciri pengorbanan sejati

Pengorbanan sejati selalu diiringi oleh aktivitas yang dilakukan dengan penuh kebahagiaan. Artinya, berkorban, aktif dan bahagia adalah tiga sejoli yang selalu kita rasakan setiap kali melakukan kebaikan apapun bagi siapapun. Satu yang perlu kita pahami saat melayani pihak lain secara hakiki (sejati) adalah konsistensi. Semua orang sudah pernah korban dalam seumur hidupnya tetapi hanya pengorban yang luar biasa sajalah yang dapat melakukannya dengan tekun. Konsistensi menghasilkan ketekunan dan ketekunan mewujudkan mahkota kehidupan di sorga kelak. Berikut ini beberapa hal yang kami ketahui tentang ciri khas pengorbanan yang sejati.

Tanda inti.

  1. Selalu fokus kepada Tuhan.

    Bumi dan segala yang ada di dalamnya akan berlalu tetapi kerajaan sorga, Yerusalem yang baru itu akan muncul kelak setelah hari penghakiman. Jika di bumi ini, aktivitas kita selalu diiringi dengan multitasking sambil memusatkan konsentrasi kepada Tuhan maka di sorga kelak aktivitas ini akan selalu kita bawa-bawa. Kelak saat hidup di sorga Tuhan adalah satu-satunya kepunyaan kita yang paling berharga. Jika di sorga saja aktivitas fokus Tuhan adalah emas dan permata maka sudah seharusnya dengan berfokus kepada Tuhan di dunia ini sudah cukup untuk membuat kita selalu bahagia, puas, damai, tenang, lega dan tenteram. [Saksikan juga, Saat memusatkan pikiran kepada Tuhan]

  2. Selalu berbuat baik kepada sesama.

    Semua materi dan gemerlapan duniawi yang kita lihat, dengar, baui, kecap dan sentuh adalah fana dan akan hilang seiring dengan tibanya akhir zaman. Semua kebanggaan terhadap harta duniawi dan jabatan juga akan berlalu dengan cepat. Tetapi kebaikan hati adalah sesuatu yang selalu kita butuhkan dan senantiasa dapat diekspresikan dari waktu ke waktu. Kasih takkan pernah berlalu bahkan ketika bumi ini berlalu dimana umat manusia tiba di akhirat, di sorga juga kasih itu tetap nyata dan kentara. Berkorban untuk saling melayani sesama adalah aktivitas sorgawi. Bagaimana anda bisa layak masuk sorga jikalau tidak pernah mengorbankan sesuatu kepada sesama? Sebab sorga itu dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi satu-sama lain terlibat dalam lingkaran melayani – dilayani.

    Tanda pelengkap.

  3. Tidak menuntut balas.

    Orang yang mengasihi dengan tulus tidak pernah menuntut balas. Mereka hanya berkorban terhadap sesama tetapi mengalamatkan setiap kasih tersebut kepada Tuhan. Orang yang mau mengorbankan sesuatu kepada pihak lainnya tetapi menantikan balas budi langsung dari perbuatan tersebut tidaklah memiliki hati yang tulus. Itu hanya aktivitas berdagang yang disamarkan dalam balutan kata dan busana yang indah.Mengapa pengorbanan yang tulus itu hakiki? Sebab saat kita hanya memberi dan tak harap kembali maka kebaikan yang dilakukan bisa ditekuni secara konsisten dari waktu ke waktu. Tetapi, saat kita mengorbankan sesuatu lalu menantikan balasan, ada kemungkinan hal tersebut tidak dijawab. Akibatnya, diri ini kecewa sehingga berhenti berbagi manfaat kepada orang tersebut bahkan berhenti berbagi kepada orang lain juga. Ketika kasih yang dihaturkannya diabaikan, orang-orang tulus akan tetap semangat sehingga konsisten berbuat baik.

  4. Tidak kesal-marah saat kebaikannya diabaikan.

    Kasih adalah pengorbanan dan tanpanya kita tidak ubahnya seperti kapitalis yang membayar pegawai-pegawainya lalu menuntut mereka bekerja lebih keras. Apa yang anda lakukan ketika pelayanan yang anda berikan kepada sesama diabaikan bahkan mungkin beberapa dari mereka merepet-repet tidak jelas? Ada orang yang merasa tidak puas sehingga mereka menuntut lebih, ada pula yang tersinggung akibat sedikit kesalahan yang berlangsung cepat. Atau mungkin kerap kali kita ramah kepada orang lain tetapi orang itu lagi yang mengabaikannya.Apapun ceritanya, kita harus jadi saudara murah hati yang rendah hati. Sebab di dalam kesombongan, pengabaian akan ejekan akan ditanggapi dengan panas. Tetapi mereka yang mampu merendahkan hati dan menyangkal diri tentu saja dimampukan untuk menerima kenyataan tersebut apa adanya. Bahkan orang yang sudah terbiasa mengalaminya akan menanggapinya dengan santai sambil menebar senyum yang santun kepada mereka yang jahat kepada anda.

    Orang yang tabah (kuat) saat berbuat baik adalah mereka yang mampu Beradaptasi dengan rasa sakit sehingga tidak fokus terhadap hal tersebut melainkan fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja di segala waktu. Keadaan ini membuat mereka bisa terus-menerus berbuat baik dan jauh dari kata menyerah sekalipun kadang kala hal tersebut dijawab dengan diam.

  5. Tidak pernah berhenti sekalipun banyak halangan.

    Ada banyak hambatan saat kita terus menerus berbagi kasih kepada sesama. Hambatan tersebut bisa berupa penghalang yang merintangi kebaikaan sehingga tidak dapat berbagi kepada orang lain. Di satu sisi hal tersebut bisa timbul dari kelemahan/ kekurangan diri sendiri dan di sisi lain ini dapat dipicu oleh keberadaan orang lain yang susah diakses/ sulit dijangkau karena sesuatu.Mereka yang menyerah pada rintangan hidup cenderung akan mudah berhenti ketika dirinya dibatasi oleh hal tertentu. Orang yang tidak mau menempuh jalan berlikut tetapi mau yang nyamannya saja sehingga tantangan besar dan kecil mampu menciutkan nyali untuk beraktivitas memberi manfaat. Tetapi mereka yang mampu memandang masalah sebagai suatu cara untuk menggali potensi diri dan meningkatkan kecerdasan niscaya akan menemukan jalan pengorbanan yang penuh kesetiaan. Merekaa setia karena mencintai apa yang dikerjakannya.

  6. Tidak pernah habis sampai ajal menjemput.

    Sejati tidaknya suatu kebaikan sangat tergantung dari ketekunan kita menjalani semuanya itu. Orang yang berbagi dengan tekun tidak akan pernah berhenti berbagi kasih sekalipun beberapa pihak di sekitarnya telah jenuh melakukannya. Mereka adalah orang yang sanggup memiliki semangat dan terus bergairah menebar keramahan (perhatian) karena selalu berkata di dalam hatinya “hari Tuhan sudah dekat” (secara berulang-ulang). Materi/ uang di tangan mereka bisa saja terbatas tetapi sikap mereka yang santun terus melayani orang lain di segala waktu.

    Mulailah tampil melayani orang lain dari dalam keluarga sendiri. Awali dengan hal-hal kecil sebab yang sederhana ini bisa senantiasa dilakukan dari waktu ke waktu, misalnya sikap perhatian di antara sesama anggota keluarga. Sikap yang ramah kepada orang lain tidak akan pernah habis. Selama anda mampu berkata-kata dan bergerak dari waktu ke waktu maka selama itu pula keramahan kita mampu diekspresikan kepada sesama.

    Harta akan habis sehingga tidak bisa lagi diberikan kepada sesama tetapi sikap yang santun dan ramah tidak akan pernah berakhir. Anda bisa mengekspresikannya terus, selalu untuk selamanya.

    Satu hal yang harus kita pegang saat berbagi kebaikan kepada sesama adalah ketulusan dan sikap hati yang bertahan. Orang yang melandasi kebaikannya atas dasar hendak berbagi kasih Kristus yang terlebih dahulu dirasakannya memiliki ketulusan sejati. Sedangkan mereka yang mampu bertahan telah melewati setiap rintangan yang menghalangi pengorbanan tersebut, baik yang berupa rasa sakit hati, maupun kerugian materi. “Mereka yang mampu bertahan berbuat baik, semakin tinggi umurnya maka semakin banyak pula hal yang sudah dikorbankannya selama hidup di dunia yang fana ini.” Tetapi “orang yang tidak mampu bertahan, semakin tambah umurnya maka semakin banyak dendam yang dipendam di dalam hatinya.”

  7. Selalu memaafkan.

    Pengorbanan sejati adalah memberi & meminta maaf. Mengapa kami mengatakan bahwa berusaha memberi dan meminta maaf kepada orang lain adalah kebaikan yang terus-menerus dilakukan dari waktu ke waktu? Sebab manusia bukan makhluk yang sempurna, sedang kekurangan kita kerap kali menyinggung orang lain sedang orang lain juga kerap kali menyinggung perasaan ini. Jadi, karena manusia adalah makhluk yang penuh salah dan dosa maka kita perlu selalu sadar untuk meminta maaf kepada sesama dan memaafkan kesalahan orang lain.

    Mengakui kesalahan tidak hanya dilakukan kepada manusia. Ini juga merupakan aktivitas yang rutin kita perbuat kepada Sang Pencipta. Dengan mengakui kesalahan, kita merendahkan hati dan menundukkan kesombongan yang kerap kali meradang secara tiba-tiba. Jadi, pastikanlah bahwa anda akan selalu meminta maaf sebab yang namanya dosa bisa terjadi secara tiba-tiba dalam tiga dimensi kehidupan, yaitu pikiran, perkataan (lisan-tulisan) dan perbuatan.

Semua orang pasti pernah mengorbankan sesuatu untuk sesamanya, jangan dengan (a) materi (dukungan uang, barang dan jasa) lewat (b) kata-kata yang ramah dan (c) pikiran yang selalu mendoakan kebaikan orang lain sudah termasuk berkorban. Jadi aktivitas berkorban menyangkut tiga dimensi kehidupan yaitu, pikiran, tutur sapa dan perilaku. Saat uang yang kita miliki pas-pasan (cukup-cukup makan sekeluarga doang), kita masih bisa berbagi kasih kepada sesama dengan melayani mereka lewat sikap (perkataan dan perilaku) yang ditunjukkan ketika berbaur dan berkomunikasi dengan sesama. Ketahuilah bahwa manusia membutuhkan energi kebaikan agar bisa mengorbankan sesuatu untuk di bagikan kepada sesama. Energi ini hanya diperoleh saat anda bisa menikmati aktivitas memusatkan pikiran kepada Tuhan dalam doa, membaca-mendengar firman dan bernyanyi memuji-muji Allah dari waktu ke waktu. Semakin damai, sukacita, bahagia dan tenteram hati ketika fokus kepada Tuhan maka semakin sanggup kita untuk berbagi kasih kepada sesama.

Fokus kepada Tuhan adalah aktivitas yang berusaha menyelami nikmatnya suasana hati saat berdoa, membaca-mendengar firman, bernyanyi memuliakan Allah. Sembari mengabaikan indra yang kadang menimbulkan sensasi yang tidak stabil (kadang terlihat baik, kadang terdengar buruk) saat aktivitas ini kita tekuni. Artinya, abaikan gejolak yang mungkin dirasakan indra (penglihatan, pendengaran dan lainnya) saat fokus kepada Tuhan sebab semua itu bisa menjadi penggoda yang mengganggu aktivitas ini.

Salam, berkorbanlah karena Tuhan Yesus telah mendahului di depan tetapi cerdik, tetap tulus dan bertahan melakukannya walau banyak rintangan!

2 replies »

  1. Shallom,yg namanya pengorbanan itu sebenarnya tdk ada bg orang orang yg tdk mengenal Tuhannya,mengapa demikian ?

    Suka

    • Sebab mereka berkorban untuk mendapatkan keuntungan.
      Seperti seorang pedagang (kapitalis) yang memberikan barang dan jasa yang kita inginkan.
      Tetapi mereka mengharapkan balasan di balik semuanya itu.
      Jadi, setiap kebaikan yang berbalas bukanlah pengorbanan.
      terimakasih.

      Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.