Ekonomi

7 Pengorbanan Berdasarkan Untung – Apa Yang Kita Korbankan Selama Hidup Di Dunia Ini


Pengorbanan Berdasarkan Untung - Apa Yang Kita Korbankan Selama Hidup Di Dunia Ini

Kisah-kisah tentang pengorbanan adalah peristiwa yang tidak pernah usai sebab hidup ini penuh dengan aktivitas berkorban. Tidak ada cerita yang lebih indah selain mendengarkan sebuah kenyataan yang menunjukkan tindakan maksimal seorang manusia saat berbuat baik bagi sesamanya. Sebab tanpa kasih yang tulus maka kehidupan kita menghilang dari eksistensi yang sebenarnya. Malahan yang terjadi adalah arah pergerakan berbagai usaha yang dilakukan hanyalah berpikir untuk membuat diri sendiri untung sedang orang lain tidak dipedulikan lagi.

Bisakah anda mengerti pola kerja dan sistem hidup bermasyarakat di seluruh penjuru bumi? Pesan yang terkandung di dalam setiap kejadian ekonomi kehidupan adalah di setiap keuntungan pastilah ada yang dirugikan. Artinya, bila saat ini anda beruntung karena sesuatu maka di luar sana ada juga orang yang mengalami kerugian. Ambil saja satu contoh, saat gaji kita di sini terlalu besar maka di luar sana ada orang yang tidak bergaji sama-sekali. Lagi saat seorang pedagang beruntung memiliki banyak pelanggan maka di luar sana banyak konsumen yang kehilangan harta bendanya (terutama uangnya).

Dari sistem masyarakat yang dapat kita amati selama ini adalah pola-pola yang terjadi di sekitar kita tersirat bahwa “semakin cerdas seorang manusia mengumpulkan pelanggan maka semakin tinggi dan besar keuntungan yang diperolehnya, sedang di sisi lain kehidupan ada orang yang sangat minimalis bahkan pas-pasan.” Keadaan ini membuktikan bahwa kita tidak mengasihi sesama seperti diri sendiri sebab apa yang menjadi keuntungan bagi kita menjadi kerugian bagi orang lain. Menurut anda, “apakah masih bisa hidup dalam damai setelah melakukan kecurangan terhadap orang lain?”

Zaman sekarang, manusia menggunakan pengorbanan semata-mata demi menarik lebih banyak perhatian ke arahnya. Artinya, kebaikan seseorang tidak pernah lagi benar-benar murni 100% sebab “ada udang di balik batu, ada maksud yang tersembunyi.” Keadaan ini tidak ada ubahnya seperti seorang pedagang yang selalu berusaha mengambil harga lebih dari apa yang bisa dilakukan oleh orang lain. Mereka menganggap itu sebagai hal biasa tetapi bukankan itu sama saja dengan membungakan uang orang lain? Seseorang capek-capek mencari uang sedangkan dirinya hanya duduk goyang-goyang kaki menantikan seseorang datang membawakannya sejumlah uang sehingga bisa dibungakan.

Pengorbanan orang jaman sekarang telah sangat menjauh dari kasih yang sesungguhnya. Mereka tidak lagi memberi dengan ketulusan hati melainkan memberi karena ada niat agar kebaikan tersebut dilepaskan kembali kepadanya dalam bentuk lain. Manusia tidak lagi berbuat baik tanpa basa-basi, mereka akan meninggalkan ketulusan itu sebab masing-masing berupaya untuk mencari apa lebihnya dirinya dari orang lain. Orang-orang ini akan berusaha berbagi kepada sesama tetapi apa yang mereka bagikan itu masih jauh lebih tidak berharga dibandingkan dengan apa yang mereka peroleh.

Jenis pengorbanan berdasarkan keuntungan yang didapatkan

Dari kisah di atas bisa kita ketahui bahwa ada beberapa motif seseorang ketika melakukan sesuatu untuk orang lain. Dari semua motivasi yang ada, rata-rata manusia lebih memilih untuk berkorban saat dia tahu bahwa kelak ada sesuatu yang bisa diperolehnya dari hal tersebut. Sedang yang namanya korban tanpa tanda jasa itu kerap kali kita temukan di dalam keluarga. Tapi masih adakah seorang Ibu atau Ayah yang tidak pernah menyoal kelelahannya dan tidak menyesali pemberiannya juga tidak pernah memaki anaknya? Sebab jika orang tua sudah melakukan hal negatif tersebut maka dapat dipastikan bahwa kasihnya kepada anak benar-benar tidak tulus.

Berikut ini akan kami jabarkan beberapa jenis korban yang diberikan seseorang kepada sesamanya atau pihak lainnya.

  1. Berkorban untuk kebaikan sendiri untuk kesehatan fisik dan mental (bahagia).

    Ada hal yang dikorbankan untuk kepentingan pribadi dimana manfaatnya diberdayakan untuk pengurusan diri sendiri. Saat anda makan dan minum, itu juga aktivitas yang menyehatkan. Ketika kita memberi waktu untuk belajar Kitab Suci, itu juga sudah bagian dari peningkatan kemampuan intelektual. Sewaktu anda mau berlelah untuk mandi, hal tersebut semata-mata demi kebersihan badan agar bebas dari bau dan mikroorganisme. Bila kita mau dengan rela hati mengikuti ujian kehidupan – menghadapi masalah senyatanya, ini semata-mata untuk meningkatkan kecerdasan emosional masing-masing orang. Kitapun berlelah dalam setiap pekerjaan yang ditekuni dari waktu ke waktu, hal itu semata-mata untuk memberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi diri sendiri. Yang dikorbankan juga untuk diri sendiri sudah termasuk di dalamnya adalah menikmati hidup.

  2. Berkorban untuk kebaikan pihak lain untuk bahagia.

    Hendaknya kita jangan egois selama menjalani hari-hari yang tidak mudah di dunia yang fana ini. Harus mampu menjadi pribadi yang menjaga keseimbangan dari pengorbanannya, tidak saja hanya ditujukan untuk kebaikan sendiri tetapi juga ditujukan untuk kepentingan orang lain. Pernahkan anda berlelah untuk memperjuangkan hak-hak orang lain? Apakah anda bisa menemukan peran sendiri dalam kehidupan orang lain? Peran kita dalam aktivitas sesama sangat menentukan kepuasan dan kebahagiaan di dalam hati. Itulah mengapa seorang manusia diwajibkan untuk memiliki keluarga; bila tidak ada keluarga sedarah setidak-tidaknya teman-teman setianya bisa dijadikan sebagai tempat untuk berbagi.

    Sadar atau tidak, di dalam hati setiap manusia ada hasrat untuk berbagi kasih, bila tidak mampu memenuhi perasaan tersebut maka rasa-rasanya hampa hati ini. Jika kita hanya mengambil untung saja kepada sesama maka secara tidak langsung ada suatu rasa bersalah yang membuat kita kurang semangat dalam menjalani hidup. Inilah yang disebut dengan aura kebenaran yang selalu menuntut kita untuk menegakkan dan melakukan hal-hal yang benar di setiap langkah kaki ini. Jadi selain mengorbankan sesuatu untuk diri sendiri, lakukanlah juga itu untuk kebaikan sesama. Terlebih bagi anda yang memiliki sumber daya dan kekuatan lebih untuk mewujudkannya, sebab semakin diberkati seseorang maka semakin banyak pula berkat yang dibagikannya kepada orang lain.

    Manusia yang diberkati adalah manusia yang selalu berbagi. Orang yang pelit adalah pertanda hidup tidak pernah diberkati Tuhan. Pelit adalah sudah ada dan mampu bahkan berlimpah tetapi enggan untuk memberikannya kepada sesama.

    Hindari menunggu di berkati terlebih dahulu baru mau berbuat baik kepada sesama. Bukankah kita sudah diberikan pikiran, perkataan dan perilaku sebagai bagian tubuh yang sudah ada secara default (bawaan)? Gunakanlah apa yang sudah ada itu untuk berbagi kepada sesama. Doakan kebaikan orang lain, ramah kepada siapapun dan santunlah dalam bersikap. Anda tidak harus diberkati untuk melakukan semuanya itu!

    Jangan salah sangka, kita juga bisa berkorban untuk lingkungan sekitar. Mengorbankan ego dan arogansi yang sangat menginginkan kemewahan, kenyamanan dan kemudahan yang berlebih-lebihan. Saat kita mau hidup sederhana maka rumah yang dimiliki apa adanya saja, tumbuhan hijau tumbuh subur di sekitar dan hewan berkeriapan dimana-mana. Berbuat baik bagi ciptaan lain sudah termasuk dalam pengorbanan karena telah berhasil menundukkan arogansinya yang mau hidup unggul seorang diri saja.

  3. Berkorban untuk mendapatkan untung yang lebih besar.

    Jelaslah bahwa semua orang ingin melakukan hal ini. Ambisi mereka besar sehingga merelakan apa saja semata-mata untuk mewujudkan semuanya itu. Beberapa orang bisa saja mengorbankan hal-hal penting dalam kehidupannya semata-mata demi sebuah pencapaian tingkat tinggi yang tidak biasa. Ini seperti kejadian para calon presiden/ kepala daerah/ anggota dewan yang budiman dimana sikap mereka saat pencalonan dan masa kampanye sangat-sangat rendah hati. Mereka turun ke jalan-jalan, bahkan yang tidak pernah naik becak akan menaikinya. Berkeliling sambil mengangkat tangan dan tersenyum lebar, semuanya itu semata-mata agar terpilih sebagai calon pejabat yang terhormat dan mulia.

    Tapi amatilah setelah masa kampanye berlalu bahkan setelah mereka menang, apa yang terjadi? Kemana para calon pemimpin kita yang biasanya jalan kaki di trotoar dan blusukan ke tempat-tempat yang bahkan tidak diperhatikan oleh orang lain? Inilah kenyataan yang terjadi di antara para pemimpin kita, sikap mereka yang baik dan santun menguap begitu masa kampanye dan pemilu berakhir. Bahkan uap sekalipun sisa-sisanya masih bisa diamati namun jejak para pemimpin yang mencalonkan diri dalam proses pemilihan umum sama sekali tidak meninggalkan bekas.

    Inilah kebiasaan para pemimpin kita, mereka halus, mulus dan lembut di awal-awal tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa sikapnya akan selalu seperti itu? Seharusnya perlu ada aturan yang mengendalikan kekuasaan yang mereka pegang agar tidak semena-mena lalu menyelewengkannya untuk digunakan dalam hal-hal yang jahat dan keji demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

  4. Berkorban sekedar memenuhi kewajiban.

    Mengorbankan sesuatu semata-mata untuk kebaikan orang lain bisa juga dilakukan oleh seorang pelayan yang bekerja di kantor pemerintah atau perusahaan swasta. Karena mereka telah diwajibkan oleh perusahaan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan semata-mata untuk memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan. Setiap pegawai/ karyawan yang berhubungan langsung dengan pelanggan memiliki Protap atau lebih dikenal sebagai Standar Prosedur Operasional. Bekerja sesuai dengan SOP adalah sebuah jalan menuju keberhasilan manajemen yang efektif dan efisien. Jadi, bisa dikatakan bahwa segala sesuatu yang kita korbankan di dunia kerja sudah ada upahnya sehingga tidak ada lagi upah di sorga karena kelelahan kita saat melakukannya telah terpenuhi.

  5. Berkorban untuk mendapatkan keuntungan segera.

    Layaknya kebaikan seorang pedangang pedagang kepada setiap pembeli yang datang, mereka disambutnya dengan senyuman dan kata-kata yang penuh keramahan. Bukankah semua itu terjadi karena si penjual tersebut paham betul bahwa “orang-orang ini datang untuk memberikan uangnya jadi saya harus bersukacita karena meraka akan menunjukkan nilai uang yang lumayan besar untuk perusahaan.”

    Biasanya praktek berbagi semacam ini seperti barter, “saya baik ke kamu agar kamu kasih saya ini-itu.” Ini seperti saat kita berlelah untuk melakukan komunikasi kepada sesama, kita mengucapkan sesuatu karena tahu bahwa orang tersebut akan menjawabnya. Tetapi tepat saat kita tidak mendengarkan jawabannya maka berhenti jugalah perkataan itu. Keadaan ini juga sama seperti saat masing-masing orang saling tukar kado pada momen-moment khusus.

    Setiap orang akan berbuat baik saat dia mengetahui bahwa kebaikannya tersebut pasti akan dibalas oleh orang lain. Masalahnya sekarang, kita tidak bisa menjamin atau mengharuskan seseorang untuk membalas setiap manfaat yang diberikan sebab tidak ada surat perjanjian khusus yang dibuat saat hal tersebut dilakukan. Satu-satunya rasa yang ada pada kita adalah sikap saling percaya sehingga apapun balasannya semua diterima apa adanya.

  6. Berkorban untuk mendapatkan keuntungan di masa depan.

    Ada rasa tolong menolong antara sesama teman yang dilakukan karena sebuah kebiasaan. Ini juga bisa kita temukan dalam hubungan antara saudara dan sahabat. Seseorang akan memberikan sesuatu kepada sahabatnya sehingga di hari yang akan datang ketika dirinya menemukan problematika, bisa langsung bertemu untuk meminta bantuan. Di dalam keluarga, ini terjadi secara otomatis di antara para saudara, sikap saling tolong menolong ini memang dimanfaatkan untuk menjalin kedekatan yang lebih intens lagi.

    Sekalipun demikian, sikap tolong-menolong semacam ini sama saja dengan ikut lotere/ jula-jula, setiap orang yang menang akan mendapatkan sejumlah uang dari semua peserta. Demikian keadaan ini terus berlanjut dimana semua orang akan menang yang ditentukan secara undian/ cabut lot agar kemenangan itu bergilir dari orang yang satu ke yang lainnya.  Jadi, sudah otomatis kebaikan seperti ini upahnya sudah diperoleh di bumi sehingga tidak ada lagi upah di sorga, bukankah semuanya sudah dibayarkan selama kita masih hidup?

  7. Berkorban tanpa pamrih.

    Orang yang berkorban tanpa pamrih adalah mereka yang sudah diberkati lalu kembali menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Anda tidak mungkin bisa korban kepada orang lain jika sebelumnya tidak diberkati Allah. Mereka yang diberkati dengan hartanya akan membagikannya kepada orang yang membutuhkan, yang diberkati lewat pengetahuan akan membagikannya lewat berbagai media, yang diberkati lewat tanamannya akan menjadi berkat dengan berbagi hasil panen, yang diberkati lewat ternaknya akan menjadi berkat lewat berbagi daging. Jadi sesungguhnya, TIDAK ADA ORANG MISKIN DAN PENGANGGURAN JIKA SEMUA ORANG MAU BERBAGI DENGAN IKHLAS TANPA PAMRIH.

    Intinya adalah, bukankah berkat yang anda dapatkan itu berlebih? Jadi mengapa tidak dibagikan? Jika memang pas-pasan ya nggak masalah jika tidak dibagikan tetapi saat harta yang kita miliki jutaan bahkan miliaran di bank, apa tidak merasa bersalah karena kita pelit?

    Sekali lagi kami tegaskan, seandainya manusia-manusia di Indonesia mau berbagi alhasil tidak ada orang yang miskin dan menganggur. Sebaliknya, ketika kita pelit terhadap berkat yang seharusnya bisa dibagikan niscaya ada rasa bersalah di dalam hati. Bila hati ini sudah dipenuhi dengan rasa bersalah maka bertemu orang lainpun takut. Itulah mengapa banyak pejabat/ pemimpin yang awalnya ramah tetapi lama-kelamaan menyendiri bahkan mengasingkan diri karena banyak dosanya sehingga bertemu orang lain saja takut dan gemetaran.

Alam semesta ini diikat dalam satu sistem yang saling berkorban satu-sama lain. Ikatan ini menjadi suatu penghubung yang membuat sistem tersebut saling bergerak dan berputar dari generasi ke generasi. Apa yang kita korbankan adalah berkat yang sudah dilebihkan Tuhan di dalam hidup masing-masing. Saat kita mampu membagikan berkat-berp-at berkat-berkat tersebut niscaya hati dipenuhi dengan kepuasan, kelegaan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman. Tetapi mereka yang pelit lalu membiarkan saudaranya melarat karena miskin, menderita karena bodoh dan lemah karena sakit; pastilah akan menemukan kehampaan, kegelisahan dan ketakutan dimanapun berada. Di balik semuanya itu, jadilah pengorban yang tulus tanpa pamrih dan cerdik meliuk keluar dari jebakan. Jangan sampai kebaikan hatimu dimanfaatkan orang lain untuk menghancurkan dirimu sendiri.

Salam, pengorban yang tulus dan cerdik!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s