anak

7 Alasan Kesejajaran Planet Tidak Mungkin – Bintang Sejajar Adalah Asumsi


Alasan Kesejajaran Planet Tidak Mungkin – Bintang Sejajar Adalah Asumsi

Keberadaan energi di alam semesta berada dalam keadaan seimbang satu sama lain, tidak ada sisi yang lebih kuat atau lemah. Melainkan setiap pancarannya akan merata di seluruh bidang. Demikian jugalah dengan kasih Tuhan atas manusia merata sama satu sama lain, menurut umur dan kebutuhan masing-masing. Tetapi kapitalis lebih menyukai perbedaan seperti layaknya di alam rimba, ada yang besar dan ada yang kecil. Jadi yang besar itu bisa melahap yang kecil, kapanpun dibutuhkannya. Sekalipun demikian, alam punya cara sendiri menyeimbangkannya yaitu dengan menganugerahkan energi memiliki keturunan sangat banyak bagi yang kecil sedangkan yang besar lambat dalam hal memiliki anak.

Penyebaran energi terjadi secara merata dan seimbang

Pernahkah anda melihat lampu, kira-kira bagaimana menurutmu pancaran dari energi lampu tersebut? Bukankah itu tersebar merata? Dari sini bisa kita pahami bahwa sesungguhnya hal-hal kecil di alam semesta menjelaskan yang besarnya. Demikian juga dengan matahari, pernahkah anda temukan energi matahari di suatu wilayah tidak tersebar merata (dengan catatan cuaca cerah dan tidak ada setitikpun awan di udara)? Tentu saja tidak, kecuali untuk daerah yang sangat jauh (misalnya antar negara atau benua). Penyebaran sinar matahari sama hanya dengan penyebaran sinar lampu, semakin dekat semakin terang tetapi semakin jauh maka akan semakin redup.

Kita perlu memahami pola-pola umum yang terjadi di alam semesta ini. Salah satu dari sekian banyak pola tersebut adalah prinsip tentang keseimbangan dan pemerataan. Energi selalu tersebar secara merata dan seimbang satu-sama lain. Artinya, energi yang satu akan mampu menahan imbang energi yang lain dan semua energi masing-masing disebarkan secara merata. Medan elektromagnetik matahari yang kuat menarik setiap planet untuk mengelilinginya tersebar merata di seluruh alam semesta. Sekalipun demikian, setiap planet memiliki medan elektromagnetik sendiri sehingga mampu memelihara setiap makhluk yang ada di dalamnya. Lagipula admosfer yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau dan lautan menjadi salah satu tameng (pelindung) untuk menghalau sinar matahari sehingga intensitas yang sampai ke permukaan bumi tidak sampai merusak.

Struktur alam semesta seperti atom 3 dimensi bukan elips/ lempengan 2 dimensi

Pada dasarnya, keadaan ini seperti struktuk neutron, proton dan elektron dalam suatu atom, dimana proton & neutron sebagai inti dan elektron sebagai kulit luar yang berlapis-lapis mengelilingi inti tersebut. Penyebaran setiap elektron terjadi sama dalam setiap sisi pada intinya (proton, neutron). Demikianlah juga dengan alam semesta ini, persebaran planet di seluruh sisi terjadi secara merata mengisi ruangan-ruang yang tersedia pada jarak tertentu mengelilingi matahari. Sebab di alam semesta tidak ada yang namanya arah atas atau bawah dan kanan atau kiri. Melainkan medan elektromagnetika matahari menyebar secara merata di seluruh penjuru jagad raya. Banyaknya jumlah planet di setiap sisi seharusnya sama ketika kita melihatnya dari luar atau berada di dalam pusat energi panas tersebut.

Mengapa Bintang Sejajar Satu-Sama Lain - Struktur Atom Sama Dengan Alam Semesta by Physics Net

Gambar Oleh Physics Net

Sayang, kenyataannya, kita hanyalah planet kecil di antara sekian banyak bintang di luar sana. Adalah mustahil kita bisa mengamati alam semesta secara utuh karena luasnya yang tidak bisa dijangkau oleh lapang pandang biasa. Bahkan sekalipun kita bisa meletakkan kamera di permukaan matahari tetap saja tidak dapat memantau seluruh alam semesta karena keterbatasan lapang pandang. Gambar alam semesta yang rajin di buat orang di internet hanyalah sebuah ilustrasi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Seperti yang kami katakan tadi bahwa penyebaran planet di seluruh sisi matahari terjadi secara merata, tetapi mengapa kita tidak melihatnya dalam suspensi yang sama? Mengapa justru yang kita amati, bintang-bintang seolah berhamburan tidak beraturan di seluruh jagad raya?

Susunan planet-planet yang terlihat seperti bintang adalah pertanda kuat bahwa bumi bukan pusat tata surya.

Susunan bintang di malam hari yang tidak beraturan adalah bukti konkrit yang menyatakan bahwa bumi bukanlah pusat dari alam semesata. Akibatnya, pandangan kita yang terbatas hanya mampu mengamati objek yang dekat-dekat saja. Padahal jikalau kita dimampukan untuk mengamati keseluruhannya maka akan menemukan bahwa penyebaran berbagai planet tidak ada ubahnya seperti struktur atom yang memili elktron yang tersebar rata di setiap sisinya dengan posisi yang berlapis-lapis. Jika saja kita bisa mengambil sudut pandang dari dalam matahari maka akan menemukan bahwa bintang-bintang (planet) tersebar secara merata di atas permukaannya.

Faktor penyebab planet tidak akan pernah sejajar

Pengertian – Sejajar adalah (1) sebaris; seleret; (2) sejalan (sama arah dan jaraknya); paralel; (3) sama derajat (tingkat dan sebagainya – KBBI Luring). Jadi bisa diartikan bahwa kesejajaran planet adalah suatu fenomena dimana bintang-bintang di luar angkasa terlihat seolah-olah berbaris membentuk satu pola garis lurus.

Teori tentang kesejajaran planet adalah mitos kuno yang sudah di tinggalkan oleh banyak ilmuan. Kesejajaran planet dan matahari adalah fenomena yang langka. Jikapun ini terjadi maka hal tersebut hanyalah sebuah kebetulan oleh karena kemampuan mata memandang suatu objek terbatas adanya. Berikut ini akan kami ajukan beberapa alasan mengapa semua planet tidak dimungkinkan untuk sejajar.

Alasan Kesejajaran Planet Tidak Ada - Susunan Alam Semesta Sama Dengan Struktur Atom by SustainableBalance.com

Illustration representing basic structure of atom. For education purpose by SustainableBalance.com

  1. Penyebaran planet di alam semesta seperti struktur atom.

    Siapa yang tidak pernah belajar tentang struktur atom? Ini adalah pelajaran kimia yang biasanya diajarkan di SMP dan SMA sederajat. Setiap atom memiliki proton dan neutron sebagai inti sedangkan elektronnya mengelilingi sebagai kulit. Demikianlah juga dengan planet-planet dan matahari, setiap bintang memiliki lintasannya sendiri-sendiri yang tidak sejajar dengan bintang lainnya. Jikalau kesejajaran ini terjadi maka bisa dipastikan bahwa akan terjadi tabrakan dan instabilitas di alam semesta.

  2. Penyebaran medan elektromagnetik yang seimbang.

    Medan elektromagnetik matahari tersebar secara merata di seluruh sisinya. Tidak ada yang benar-benar sejajar sebab gaya elektrognetik tersebut tersebar secara merata di seluruh sisi-sisinya mengisi alam semesta yang luas. Ini bukan seperti struktur dua dimensi seperti yang digambarkan oleh beberapa ilustrasi dimana posisi planet seperti piringan. Melainkan medan tersebut berlaku serupa di seluruh penjuru jagad raya sehingga mustahil seluruh planet berada dalam posisi sejajar. Justru kesejajaran planet dapat beresiko pada tabrakan, bencana dan kiamat (akhir zaman).

  3. Energi tidak pernah tenang – dinamis teratur.

    Pergerakan energi elektromagnetik membuat bagian-bagian dari alam semesta ini tidak pernah diam. Matahari, planet, satelit dan semua bagian di dalamnya (termasuk makhluh hidup di atasnya) selalu memiliki gerakan khusus yang bisa saja unik dan berbeda dari yang lainnya. Pergerakan energi elektromagnetik yang senantiasa dinamis tapi teratur inilah yang tidak memungkinkan planet-planet berada dalam posisi yang sejajar.

  4. Semakin jauh jarak suatu benda maka semakin sedikit penyimpangannya.

    Ini masalah cara kita memandang suatu objek. Lingkup lapang pandang yang terbatas menciptakan horizon yang seolah-olah sama dan sejajar tetapi pada dasarnya berbeda-beda satu-sama lain. Misalnya, ada tiga objek yang anda letakkan tidak sejajar: batu satu, batu dua dan batu tiga. Dari dekat kita bisa mengamati dengan jelas bahwa ketiga benda tersebut tidaklah sejajar. Tetapi coba lihat benda-benda tersebut dari jarak 10 m, 20 m, 30 m dan 50 m:   pastilah akan terlihat seolah-olah sejajar padahal kenyataannya bila kita dekat tidak demikian. Inilah yang kami maksud dengan keterbatasan lapang pandang menyebabkan penilaian yang kurang tepat.

  5. Orang di daerah lain bisa melihatnya tidak sejajar.

    Inilah bukti konkrit yang menyatakan bahwa kesejajaran planet adalah semu. Orang di satu daerah bisa melihat bintang-bintang di langit dalam keadaan sejajar tetapi bisa saja di daerah yang lain tidak bisa mengamatinya hal tersebut. Sudut pandang manusia yang relatif sangat tergantung dari arah mana kita mengamati. Belum lagi masalah lengkungan bumi yang turut membuat perbedaan posisi pada objek-objek di luar angkasa. Juga demikian dengan faktor alam, misalnya cuaca, kelembaban dan keberadaan awan bisa turut menciptakan diferensiasi. Semakin jauh jarak antara pengamat maka semakin berbeda pula hasil pengamatannya.

  6. Sekalipun ada beberapa planet yang “kelihatan sejajar tapi tidak semua.”

    Kita perlu menyadari bahwa sehebat dan setinggi apapun ilmu pengetahuan yang kita miliki tetap saja, ada kelemahan yang membuat diri ini tidak bisa menjangkau segala sesuatu termasuk dalam hal ini seluruh alam semesta. Jadi, saat anda melihat beberapa planet bila ditarik garis lurus seolah-olah sejajar, ketahuilah bahwa itu bukanlah nilai mutlak yang berlaku di seluruh daerah di Indonesia apalagi di seluruh negara. Sekalipun ada beberapa planet yang dipersepsikan sejajar satu-sama lain, tetap saja hal tersebut tidak berlaku untuk semua. Artinya, hanya ada beberapa yang dipersepsikan sejajar sedangkan yang lainnya bertaburan secara acak di langit yang luas.

  7. Planet sejajar hanyalah asumsi.

    Semua planet sejajar hanyalah suatu asumsi yang menegaskan bahwa besar kemungkinan kenyataan yang sesungguhnya tidak seperti itu. Tetapi karena kita begitu yakin dan diyakinkan oleh berbagai media akan peristiwa tersebut maka kitapun ikut-ikutan menjadi percaya padahal semuanya itu hanyalah dugaan.

    Segala sesuatu tentang ilmu pengetahuan hanyalah sebuah asumsi, demikian juga dengan apa yang kami lakukan disini. Struktur atom yang mengandung elektron, proton dan neutron juga hanyalah suatu asumsi dan tidak ada orang yang benar-benar telah melihat hal itu secara nyata dengan mata telanjang bahkan dengan menggunakan mikroskop tercanggih sekalipun.

    Sama juga yang terjadi dengan letak matahari dan planet adalah sesuatu yang diasumsikan dengan beberapa logika berpikir yang komprehensif. Sedang untuk penampakannya secara nyata, tidak pernah ada yang mengamatinya oleh karena keterbatasan lapang pandang manusia.

Mitologi tentang planet-planet yang sejajar dengan matahari hanyalah sebuah kisah fiksi, dongeng tidur untuk anak-anak. Pada hakekatnya, semua bintang tersebar merata diseluruh alam semesta dimana matahari adalah pusatnya. Mata yang lemah membuat cara pandang kita mengasumsikan bahwa telah terjadi kesejajaran antara planet dan matahari. Terlebih ketika keadaan ini di dukung oleh pernyataan yang terdapat dalam beberapa media. Selalu sadari bahwa semua penilaian itu bukanlah sesuatu yang mutlak dan berlaku secara universal sebab sudut pandang yang berbeda, jarak yang jauh, lengkungan bumi, kelembaban udara, awan, ketinggian dan kemiringan tempat pengamatan turut memberikan asumsi yang berbeda-beda.

Salam, Segala kisah tentang jagad raya adalah asumsi, bukan fakta!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.