Kepribadian

+10 Penyebab Tuhan Mati, Belajar Dari Penderitaan & Kematian Yesus Kristus


Penyebab Tuhan Mati, Belajar Dari Penderitaan & Kematian Yesus Kristus

Manusia selalu berpikir sempit dalam kehidupannya. Pikirannya tertuju kepada materi sampai-sampai berpikir bahwa materilah yang lebih penting baginya sedangkan hidupnya hanyalah nomor ke sekian. Sering sekali kita terjebak dalam godaan indra sehingga besar kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Hanya ada dua kesalahan fatal di dunia ini, yaitu melupakan Tuhan dan tidak mengasihi sesama setara seperti diri sendiri. Kita mengabaikan dua kebenaran ini lalu lebih lihai mengejar hal-hal yang menyenangkan dan membanggakan indra. Akhirnya, semua situasi tersebut menggiring manusia kepada keserakahan dan arogansi yang cenderung melemahkan kebaikan hati ini.

Hal-hal duniawi membuat kita saling berebut

Dengan fokus kepada indra, kita berlaku seperti binatang. Melakukan sesuatu semata-mata demi materi yang berlimpah-limpah dan kemuliaan yang bersahut-sahutan. Orang-orang kehilangan perasaannya karena lebih banyak menghabiskan waktu demi kesenangan indra dan mengabaikan kedewasaan hatinya. Kita berjuang mati-matian untuk mencari uang padahal sudah tahu bahwa materi apapun tidak dibawa mati. Makanan hati, yaitu melakukan kebenaran: fokus kepada Tuhan, berbuat baik kepada sesama dan memperjuangkan kesetaraan cenderung diabaikan. Padahal kita sudah tahu, tanpa hal-hal yang benar itu maka kehidupan ini hanya tertambat diujung iri hati, persaingan, perselisihan, konflik dan peperangan.

Fokus Indra membuat kita serakah terhadap sumber daya

Teologi Tuhan sudah mati yang diartikan secara sempit adalah pertanda bahwa kehidupan manusia telah mengarah total kepada kekuatan materi. Segala sesuatu tentang materi adalah apa yang berhubungan erat dengan panca indranya. Selama kesenangan dan kepuasan kita selalu bergantung kepada indra maka selama itu pulalah kehidupan ini berada dalam kuat kuasa uang. Keadaan ini membuat manusia hanya memikirkan dirinya sendiri sehingga mengabaikan keberadaan orang lain. Menampung semua sumber daya untuk dirinya sendiri dan menghadang juga menantang orang lain yang ingin turut memintanya.

Sumber daya bermanfaat merangsang potensi untuk melengkapi kehidupan

Kita merasa bahwa menahan sumber daya untuk diri sendiri adalah sebuah keuntungan. Padahal jika saja uang tersebut bisa dimanfaatkan secara luas untuk menggali potensi-potensi yang ada di dalam diri manusia lainnya. Niscaya di dalam masyarakat akan muncul berbagai-bagai bakat unik yang dapat mencampur rasa di dalam hati sehingga hidup ini lebih indah. Pemanfaatan sumber daya yang disebarkan secara merata bermanfaat untuk menggali bakat-bakat alamiah yang dimiliki oleh masing-masing orang sehingga ada keberagaman di dalam masyarakat yang membuat kita menjadi lengkap (bersama kita sempurna).

Hal-hal duniawi telah menjadi jerat yang memanjakan manusia

Kita merasa sangat beruntung kalau sudah memiliki rumah mewah, mobil banyak dan bergelimangan harta benda. Padahal semuanya itu telah menjadi jerat yang melemahkan hati dan membuat kita semakin jauh dari kepuasan, kebahagiaan dan ketenteraman sejati. Kekayaan yang kita miliki telah melindungi diri ini dari persoalan di sekitar sehingga kita manja dan tidak pernah dewasa. Akibatnya, tidak mampu lagi mengendalikan sensitivitas indra sehingga mudah sekali tersinggung pada hal-hal sepele. Gangguan-gangguan kecil (recehan) sudah bisa membuat kita tidak damai, bahagia menjauh dan rasa tenteram hilang. Kepribadian kita menjadi sangat rapuh oleh karena tembok kemewahan dan teknologi yang berlebihan.

Mengejar keuntungan duniawi membuat konsumtif sedang intelektual dan moralitas memburuk

Kita hanya menjadi manusia konsumtif yang otaknya minus. Sangat menggantungkan diri pada materi dan kemuliaan duniawi sehingga kebutuhan akan uang terus meningkat. Terjebak dalam iri hati, digiring dalam persaingan sengit, memasuki pintu perselisihan dan berada dalam jalur konflik dengan sesama. Demi hal-hal duniawi kita mematikan Tuhan dan melupakan kasih kepada sesama. Justru yang ada dalam pikiran kita hanyalah, bagaimana bisa untung secara materi? Kita melupakan jalan pengorbanan dengan memikirkan keuntungan. Alhasil semuanya ini membuat manusia semakin jauh dari kepuasan, kebahagiaan dan ketenteraman yang hakiki.

Lewat kematian-Nya: Tuhan mengajari kita berkorban demi kebenaran

Berkorbanlah demi kebenaran saudaraku. Berkorbanlah dengan senantiasa fokus kepada Tuhan, berikan waktu untuk belajar dan bekerjalah melakukan hal yang baik. Berupayalah untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, berkat yang anda terima bagikan kepada orang lain dan potensi yang dimiliki jadikan bermanfaat untuk kehidupan sesama. Hadapilah tantangan yang menyertainya, jalani ujian kehidupan dengan penuh kerendahan hati dan tetap pertahankan kualitas kebaikan hatimu. Jangan pernah menyerah berbuat baik hanya karena ada rintangan yang menghadang, bertahanlah, maafkan orang yang terlibat dan hadapilah dengan sikap yang santun penuh dengan keramahan: karena itulah Tuhan mati!

Ketenteraman sejati hanya diperoleh oleh orang yang kuat menghadapi cobaan

Kita berpikir berulang kali, mengapa Tuhan bisa mati? Mengapa Yesus Kristus mau saja disalibkan? Padahal Dia tidak lemah, Dia bisa menurunkan batu dan api untuk menghajar orang-orang Yahudi dan Romawi kala itu. Inilah yang ditunjukkan Tuhan lewat kematian-Nya, Dia ingin kita berkorban dalam hidup ini untuk mencapai kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati. Saat kita mengasihi sesama seperti diri sendiri dan berbaik hati kepada mereka sebagaimana adanya diri ini sambil menanggung setiap cobaan: pengabaian, ejekan, hinaan dan fitnah yang menyertainya. Orang yang mampu bertahan untuk tetap baik kepada sesamanya di tengah derasnya fitnah, penghinaan, ejekan dan pengabaian akan menemukan ketenteraman sejati.

Ketenteraman sejati hanya diperoleh setelah berkorban, menjalani ujian dan tetap rendah hati berbuat baik

Mereka yang memiliki rasa puas, bahagia, damai dan tenteram yang sejati tidak akan pernah kehilangan hal-hal positif itu. Sebab semuanya ada di dalam hatinya dan dibentuk di dalam pikiran masing-masing sehingga mustahil bisa dicuri oleh orang lain dan tidak akan bisa dihapus oleh situasi di sekitarnya. Inilah yang hendak diajarkan Tuhan lewat kematiannya, jalan kepada ketenteraman hidup harus ditampuh lewat pengorbanan, geluti hal-hal positif (fokus Tuhan, belajar, bekerja) selalu berupaya melakukan kebaikan, bertahan menanggung masalah dan selalu rendah hati dengan tetap mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Tuhan mati menyatakan betapa pentingnya kesetaraan power, tanpa kesetaraan, power menjadi berhala

Tuhan mati untuk mengajarkan kita betapa pentingnya kesetaraan. Kesewenang-wenangan kekuasaan dan uang telah membuat manusia kehilangan memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk memiliki segalanya (tamak) sampai lebih dari orang lain (arogansi). Materi yang begitu mewah dan membanggakan telah menjadi berhala yang dipuja-puji oleh manusia. Sekalipun kita tidak menyembah uang tetapi sikap yang menghalalkan segala cara untuk mencarinya adalah tunduk kepada kejahatan dan bagian dari penyembahan berhala. Pada akhirnya, materi itulah yang memanjakan, membodohkan, melemahkan dan menghancurkan kehidupan ini.

Alasan mengapa Tuhan mati di kayu salib (Disalibkan)

Ada pelajaran penting di balik kematian Yesus Kristus di bukit Golgota. Ini bukanlah sebuah kejadian yang sifatnya kebetulan saja melainkan sudah direncanakan sejak dari awal mulanya kehidupan. Suatu karya penebusan yang ditujukan untuk mewakili seluruh hukuman atas dosa umat manusia. Makna yang hendak disampaikan Tuhan bukan itu saja melainkan masih banyak lagi kebiasaan manusia yang harus diubah. Suatu pola yang awalnya dikira sebagai sebuah kebaikan tetapi ternyata menuju keburukan. Pola-pola yang salah inilah yang harus diubah sehingga kehidupan umat manusia lebih mengarah kepada kebenaran yang hakiki.

Berikut beberapa faktor penyebab Tuhan mati dalam hal hendak mengajarkan kita tentang berbagai-bagai pola yang baru.

  1. Memberi tahu manusia bahwa hidup harus senantiasa beraktivitas.

    Pola pemikiran manusia pada dasarnya menyatakan bahwa “orang hebat itu lebih banyak duduk, sedikit bekerja dan minim aktivitas. Tuhan Yesus hendak mengubah pemikiran ini menjadi, “orang hebat itu, lebih banyak bekerja dan lebih ramai beraktivitas.”

    Orang hebat minim aktivitas adalah pandangan raja-raja masa lalu. Semua kaum keluarganya bahkan para penasehat raja adalah orang yang aktivitasnya minim dan mereka merasa hebat dengan pekerjaan yang sedikit tersebut. Tetapi coba perhatikan Yesus selama masa hidup-Nya, apakah perilakunya seperti orang yang hanya suka duduk-duduk saja? Atau apakah Dia suka naik kuda, unta atau kendaraan lainnya saat berjalan ke sana-ke mari?

    Sadarilah bahwa semasa hidup, Tuhan Yesus tidak pernah tenang, Ia selalu aktif mengajar ke berbagai tempat. Bahkan Ia sendiri tidak pernah menaiki kuda saat menuju ke daerah yang jauh melainkan dengan hanya bermodalkan jalan kaki saja, demikianlah juga seharusnya perilaku kita para pengikut-Nya.

    Jangan pernah mau duduk-duduk saja seharian penuh menikmati hidup di depan televisi. Berilah juga waktu untuk multitasking fokus kepada Tuhan, pelajari berbagai hal positif dan kerjakan hal-hal yang baik untuk mengisi hari-hari yang dijalani. Berupayalah untuk menebarkan kebaikan kepada sesama di tengah aktivitas positif yang dijalan dimulai dari hal-hal kecil, misalnya sikap yang santun dan ramah. Jauhi kebiasaan duduk sambil beraktivitas selama seharian melainkan berikan juga waktu untuk berdiri sambil bekerja.

  2. Memberi tahu manusia bahwa hidup harus senantiasa berkorban.

    Pola-pola yang biasa dalam hidup manusia adalah “orang besar mengorbankan orang kecil untuk kepentingan pribadinya.” Lantas Yesus mencoba mengubah paradigma ini dengan menegaskan “orang besar lebih banyak berkorban daripada orang kecil.” Dalam hal ini bahwa semakin besar seseorang maka semakin banyak kebaikan yang diberikannya kepada orang lain. Orang yang besar lebih banyak diberkati sehingga semakin menjadi berkat bagi kehidupan lebih banyak orang.

    Pengorbanan yang kita lakukan adalah pelayanan kepada sesama. Bagaimana cara anda melayani sesama? Inilah yang sering sekali menjadi masalah di dalam hati setiap orang. Beberapa mengatakan bahwa ia melayani sesama dengan pekerjaan yang ditekuninya, ada yang melayani dengan uang yang dimilikinya dan yang lain melayani orang lain lewat bakatnya. Tetapi, tahukah anda bahwa pelayanan semacam ini hanya berlangsung kadang-kadang? Artinya tidak setiap saat kita mampu memberikan uang kepada teman dan tidak selalu kita bisa membantu menyelesaikan pekerjaannya tetapi kita bisa selalu ramah kepada siapapun, dimanapun dan apapun yang sedang terjadi. Oleh karena itu, mulai sekarang belajarlah berkorban melayani sesama lewat sikap yang kita ekspresikan sehari-hari.

    Namun bukan pengorbanan namanya jika kita beroleh bayaran yang setimpal atau bahkan lebih lagi. Pengorbanan yang dibayar lebih layaknya seorang pedagang yang mengharuskan setiap konsumen yang datang untuk membayar harga barang lebih dari modal yang dikeluarkannya.

  3. Memberi tahu manusia bahwa kesederhanaan adalah dasarnya.

    Kebiasaan raja dan para pembesarnya adalah hidup yang penuh dengan kemewahan, kemegahan dan syarat foya-foya. Namun selama hidup di dunia ini, Tuhan Yesus Kristus membawa pesan-pesan yang syarat dengan kesederhanaan.

    Adalah sudah saatnya, kita mulai melajar hidup minimalis sebab kemewahan hanya membuat orang lain iri hati. Kita bisa jatuh dalam jerat persaingan yang membuka jalan kepada perselisihan bahkan beresiko tinggi menjadi konflik. Sadarilah bahwa hidup mewah dalam kemegahan hanya berusaha melindungi diri ini dari ketakutan indra. Tembok rumah yang besar, tinggi, tebal dan lebar hanya melindungi kita dari gangguan sosial sehingga cenderung mudah tersinggung kita mengalaminya. Akibatnya, suasana hati tidak stabil dan rentan dengan rasa kesal, amarah dan kekerasan.

  4. Memberi tahu kita bahwa hidup penuh penderitaan.

    Slogan raja-raja jaman dahulu adalah “keluarga raja tidak boleh ditekan apalagi disakiti.” Tetapi di zaman Tuhan Yesus, persepsi tersebut diubah drastis menjadi “pemimpin adalah orang yang paling banyak menerima tekanan rasa sakit tetapi mampu bertahan dan membalasnya dengan keramahan.”

    Paradigma baru ini memang betul-betul nyeleneh sebab sebab di masa raja-raja, orang hebat adalah yang paling jarang sekali menderita dan justru rakyat kecillah yang menderita. Akibatnya, para raja tersebut sangat rapuh karena hatinya begitu lemah akibat tidak pernah mengalami rasa sakit. Kepahitan dan penderitaan adalah cara terbaik untuk mendewasakan seorang manusia sehingga menjadi pribadi yang cerdas dan mandiri. Rasa sakit ini menjadi cara baru untuk membuat kepribadian seseorang menjadilebih tangguh dan bijak menapaki kehidupan.

  5. Memberi tahu kita bahwa musuhmu ada disampingmu.

    Anggapan raja-raja masa lalu menyatakan bahwa “musuh mereka berada di tempat yang jauh di kerajaan yang lain.” Tetapi semenjak Tuhan Yesus hadir di dunia ini maka Ia menyatakan bahwa “musuh kita adalah diri sendiri, keluarga, sahabat dan orang-orang terdekat di sekitar kita.”

    Perubahan paradigma yang di bawa Tuhan Yesus sangatlah radikal. Ia mengajarkan para pengikutnya bahwa sesungguhnya musuh itu telah tersembunyi di dalam diri kita sendiri, yaitu alam bawah sadar. Bila kita sudah mampu untuk menyelesaikan masalah di alam bawah sadar dengan senantiasa fokus kepada Tuhan maka musuh itu selanjutnya adalah keluarga sendiri. Ada juga bebeberapa musuh kita yang berasal dari antara sahabat dan orang-orang di sekitar kita.

    Kita harus siap menghadapi penolakan, ujian dan tantangan kehidupan dari dalam keluarga, di antara saudara dan teman-teman lainnya. Jikalau anda mulai memahami bahwa sudah dipermain-mainkan oleh orang-orang terdekatmu; jangan bersedih, melainkan fokus kepada Tuhan, maafkan dan berbuat baiklah kepada mereka.

  6. Memberi tahu kita untuk saling memaafkan dan membalas kebaikan ganti kejahatan.

    Ketahuilah bahwa orang-orang jaman dahulu sukar sekali memaafkan, prinsip mereka “kau pukul aku satu kali ku balas kau tujuh kali.” Tetapi Tuhan Yesus mengubah prinsip ini dengan berkata “balaslah kebaikan ganti kejahatan yang dilakukan orang lain kepadamu.”

    Sudah tidak zaman lagi membalas kejahatan dengan perilaku yang lebih jahat. Sadarilah bahwa ini adalah awal dari kedamaian yang sejati. Ketika kita mampu menjawab setiap sikap buruk dengan penuh santun niscaya tidak ada perselisihan yang berlarut-larut melainkan semua bisa dimaafkan begitu kesalahan tersebut terjadi.

    Anda harus belajar memaafkan orang lain sesegera mungkin. Jangan pernah biarkan hatimu diisi oleh dendam sebab kebencian manusia berasal darinya. Orang yang terikat dengan dendam akan selalu membenci seumur hidupnya. Oleh karena itu, maafkanlah setiap dosa yang dilakukan orang kepadamu dengan demikian hubungan terhadap sesama jadi enakan. Ketika musuh-musuhmu adalah keluargamu sendiri maka prinsip membalas kejahatan ganti kebaikan ini dapat dimulai dari sikap yang tetap santun dan ramah saat menghadapi mereka. Sekalipun musuh-musuh memperlakukan kita dengan buruk jangan pernah membalasnya dengan keburukan tetapi tanggapilah mereka dengan santun dan ramah. Bahkan jika anda bisa melakukan lebih, bantulah mereka dalam setiap situasi sulit yang sedang mereka hadapi.

  7. Memberi tahu manusia untuk fokus kepada hati (pikiran) bukan kepada indra.

    Raja-raja jaman dahulu adalah yang memerintah atas kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang dirasakannya. “Mereka memfokuskan perhatiannya kepada hal-hal duniawi yang gemerlapan sebagai sumber kepuasan dan kebahagiaan.” Di zamannya Tuhan Yesus mengajarkan para pengikutnya “untuk tidak fokus kepada hal-hal duniawi yang menggoda melainkan lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa lewat hati masing-masing.”

    Fokuslah kepada suasana hati anda, jangan pedulikan berbagai situasi buruk yang terjadi di sekitar. Timbulnya gangguan indra adalah godaan untuk melemahkan konsentrasi kita. Suara-suara kotor yang diserap oleh indra indra bisa diabaikan dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian.

  8. Memberi tahu kita bahwa tekanan ada untuk meningkatkan kedewasaan.

    Di zaman raja-raja, kedewasaan seseorang dilatih dengan cara mendidik anak tentang literasi kerajaan. Tetapi Tuhan Yesus datang mengubah kebiasaan tersebut dengan cara menegaskan bahwa “kedewasaa dan kebijaksanaan dapat dirangsang lewat tekanan kehidupan.”

    Pemahaman ini jelas sekali seperti yang dialami oleh Yesus Kristus sendiri. Karena kehidupannya terus ditekan oleh imam dan ahli-ahli taurat maka dirinya terus berkembang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, janganlah pernah membenci suasana buruk yang sedang anda hadapi saat ini. Tetapi menyesuaikan dirilah, bersahabat dengan mereka dan bersikap ramah menanggapinya.

  9. Memberi tahu kita bahwa tekanan ada untuk meningkatkan level kepribadian, menemukan bakat.

    Para raja-raja jaman dahulu tidak suka ditekan. Tetapi dengan matinya Tuhan Yesus di dalam penderitaan telah melayakkan Dia untuk naik level kembali kepada bapa-Nya yang di sorga.

    Penderitaan yang dialami Tuhan Yesus telah membuat level kehidupan-Nya meningkat tajam. Akhir dari setiap penderitaan tersebut adalah kemuliaan untuk kembali kepada Bapa bersama-sama di dalam kerajaan sorga. Jadi, mulai sekarang hadapilah penderitaanmu dengan setulus hati namun upayakan untuk tetap bertahan dengan tetap melakukan hal-hal yang baik kepada para lawanmu.

    Dari apa yang kami pahami, penderitaan yang dialami membuat tulisan kami banyak. Artinya, salah satu manfaat masalah adalah membuat kita mampu menemukan potensi diri sebagai bakat alami untuk dibagikan kepada sesama. Jadi persoalan hidup membukakan pintu berkat agar kita bisa membawa berkat tersebut untuk dibagikan kepada sesama manusia.

    Di balik semuanya itu, jadilah orang benar yang cerdik dalam bertindak dan tulus dalam bersikap. Artinya, jangan sampai kebaikan hatimu dimanfaatkan untuk menjebakmu dalam jerat hukuman. Oleh karena itu, selalu kenali apa yang menjadi hak-hakmu dan janganlah menuntutnya secara berlebihan. Gunakanlah hak-hakmu itu agar orang lain tidak memperlakukanmu dengan semena-mena. Tetapi tetap saja, berbuat baiklah kepada musuhmu dan ramahlah membalas kejahatan mereka.

  10. Memberi tahu kita bahwa tidak ada milik pribadi di bumi ini.

    Saat para raja-raja zaman dahulu sibuk mengumpulkan hartanya tetapi Tuhan Yesus mengajarkan para pengikutnya untuk tidak memiliki apa-apa di bumi ini.

    Raja-raja di bumi sangat mengutamakan gemerlapan duniawi bagi dirinya sendiri dan bagi keluarganya. Sebab dalam pemahamannya semakin banyak harta yang dikumpulkan maka semakin bahagia dan tenteram kehidupannya. Tetapi Tuhan Yesus menyarankan kita untuk tidak mengumpulkan harta di bumi melainkan mengumpulkan warisan di sorga dengan memperjuangkan kasih kepada Allah yang seutuhnya dan kepada sesama seperti diri sendiri.

    Harta benda yang kita miliki adalah hasil eksploitasi ilmu pengetahuan dimana kita mengorbankan lingkungan alamiah dan kepentingan sesama saat meraihnya. Misalnya, seseorang memiliki sebatang pohon, ia menjualnya, menebangnya lalu menjadikannya sebagai papan dan balok kayu. Ia beroleh uang dari semuanya itu, yaitu dengan membunuh tanaman lain. Sama halnya saat kita berdagang, mengambil harga dari pembeli segini tetapi ternyata harganya lebih rendah dari itu agar kita beroleh untung. Bukankah dengan cara demikian kita menipu orang lain?

    Jadi, jelaslah bahwa segala keuntungan yang kita peroleh dari dunia ini adalah dosa. Semuanya itu merupakan hasil eksploitasi alam, menipu orang lain dan memanipulasi sistem. Dalam situasi ini kita telah menggunakan ilmu pengetahuan untuk lebih unggul dari orang lain (arogansi). Ini adalah bentuk penyimpangan dari kebenran sejati yang ke dua, berbunyi “kasihilah sesamamu seperti (setara dengan) diri sendiri.”

    Sama seperti saat kita lahir ke dunia ini tidak membawa apa-apa maka demikianlah kita mati tidak membawa apa-apa. Orang yang mati dengan meninggalkan harta sama dengan meninggalkan dosa. Artinya, ketika ia menurunkan harta warisannya itu kepada anak-anaknya maka sudah sama dengan menurunkan semua dosa-dosanya kepada anak cucu yang menerima warisan tersebut. Oleh karena itu, batasi mengumpulkan harta di bumi melainkan kumpulkan harta di sorga dengan cara mengasih Allah seutuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

  11. Memberi tahu kita bahwa semua derita yang kita rasakan dalam hidup ini tidak ada bandingannya dengan upah yang akan kita terima kelak.

    Tuhan menegaskan kepada kita bahwa untuk beroleh manfaat yang luar biasa yakni kelegaan, kebahagiaan dan ketenteraman hati yang tidak terbatas harus melalui jalan penderitaan. Selama kita mau berkorban dan menderita untuk mengasihi Allah seutuhnya dan sesama manusia seperti diri sendiri maka selama itupula Ia menjanjikan ada kelegaan, kepuasan dan kedamaian juga kebahagiaan di balik aktivitas tersebut.

    Selama anda belum terbiasa memperjuangkan kebenaran yang hakiki, berusaha untuk berkorban, memberi diri diuji orang lain, memaafkan dan mengasihi kembali maka rasa puas, bahagia, damai dan tenteram itu serasa masih sangat-sangat jauh ke depan. Ketahuilah bahwa kemampuan anda untuk bertahan, menyesuaikan diri, terbiasa memaafkan dan berbagi keramahan adalah awal untuk mencicipi sorga dunia.

    Sorga di bumi ini adalah saat kita masih bisa merasa damai, bahagia dan tenteram padahal suasana lingkungan di sekitar sedang bergejolak penuh emosi.

    Sorga terakhir yang hendak kita alami adalah kehidupan kekal bersama-sama dengan Tuhan Yesus di Yerusalem yang baru. Di sana tidak ada tangis, penderitaan dan rasa sakit melainkan hanya ada sukacita dimana kita memuji-muji Allah selalu untuk selamanya. Jadi penderitaan yang kita alami selama di bumi ini tidak ada bandingannya dengan hidup yang kekal yang akan kita peroleh kelak. Oleh karena itu, BERTAHANLAH UNTUK TETAP FOKUS KEPADA TUHAN DAN KASIHILAH SESAMA SEPERTI DIRI SENDIRI DALAM SETIAP PELAJARAN DAN PEKERJAAN YANG KITA GELUTI.

  12. Silahkan tambahkan jika anda menemukan yang lain.

Yesus Kristus bukan sekedar penyelamat rohani dalam kehidupan umat manusia. Ia tidak hanya datang untuk menyelamatkan jiwa kita dari maut tetapi Ia juga hendak menyelamatkan kehidupan bermasyarakat yang kita jalani dari waktu ke waktu. Jika saja setiap orang yang percaya kepada-Nya mengikuti gaya hidup Sang Juruselamat niscaya bumi ini akan berada dalam kedamaian yang sejati. Sebab masalah utama umat manusia adalah memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk lebih dari orang lain (arogan) sehingga menggiringnya dalam ketamakan yang melemahkan kehidupan orang lain, menghancurkan lingkungan dan merugikan dirinya sendiri. Akan tetapi pemanfaatan ilmu pengetahuan, pendapatan (penggajian) dan kekuasaan yang disetarakan adalah solusi dari semua gejolak yang terjadi di antara umat manusia.

Salam, keadilan sosial kunci penyelesaian masalah!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.