Konflik Horizontal

10 Prinsip & Pengertian Ateis – Kapitalisme Sejajar Ateisme, Ingin Kehancuran Total Sistem Dengan Mengorbankan Rakyat

Prinsip & Pengertian Ateis – Prinsip Kapitalisme Sejajar Dengan Ateisme – Menginginkan Kehancuran Total Sistem Dengan Mengorbankan Rakyat

Manusia dengan segala ilmu pengetahuannya mencoba menyibak rahasia dunia ini. Mereka melakukannya dengan niat untuk mencari nama sekedar uang untuk menambah pemasukan. Bila sebatas itu saja sebenarnya tidak berbahaya sebab kamipun menulis blog ini demi uang sambil-sambil mengeluarkan beberapa ide agar bisa terus berkembang. Akan tetapi, masalah tersebut kemudian akan berkembang ketika tujuan kita semata-mata untuk lebih unggul dari orang lain (arogansi). Sikap yang arogan cenderung menggiring manusia kepada keserakahan sebab hawa nafsu itu akan terus berkembang dan berkembang hingga tak tertampung lagi, dalam artian menghasilkan dampak buruk yang merusak.

Ketamakan dan arogansi mereka, melegalkan seleksi alam

Arogansi dan keserakahan adalah ciri khas orang ateis sebab mereka percaya dengan teori evolusi milik Charles Darwin yang telah dikembangkan sedemikian rupa. Inti dari teori evolusi adalah “yang kuat bertahan sedangkan yang lemah akan tersisih lalu punah sama-sekali.” Jadi, bisa dikatakan bahwa para penganut paham yang tidak beragama ini menempatkan manusia dalam posisi persaingan tingkat tinggi. Setiap organisme yang kalah tentu saja akan tersingkirkan dari jalur kehidupan sedang manusia yang memiliki tingkat kelicikan yang mumpuni akan menemukan jalan kepada kemajuan menuju spesies manusia jenis baru.

Pengertian

Ateis adalah orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan (KBBI Luring). Menurut kami ateis adalah orang yang kurang memiliki logika spiritual sehingga membuat mereka tidak mampu merasakan kekuatan Tuhan di dalam pikirannya. Kapitalis adalah pengusaha swasta yang menguasai suatu sumber daya untuk dirinya sendiri dan kelompoknya. Baik kapitalisme maupun ateisme memiliki prinsip-prinsip yang sama dalam menjalankan aturan hidupnya.

Ketika orang yang tak beragama berusaha menjeleskan keyakinannya, sadarilah bahwa mereka hampir saja mengatakan bahwa “kamilah tuhannya! Dengan segala ilmu pengetahuan yang dikuasai, kami akan mengendalikan segala sesuatu!” Jadi bisa dikatakan bahwa ketika seseorang tidak mengakui tentang adanya Sang Pencipta maka besar kecenderungan menganggap dirinya sebagai pencipta terhadap dirinya sendiri. Kesombongan dalam hati telah membuat mereka gelap mata.

Tidak percaya akhir zaman bebas melakukan pelanggaran di tempat tersembunyi

Dalam banyak pernyataan yang mereka keluarkan, nyatalah bahwa orang-orang ini tidak mempercayai bahwa ada akhir zaman dimana semua orang yang pernah hidup akan dihakimi. Ateis tidak akan percaya kepada neraka ketika mereka melakukan kesalahan. Satu-satunya yang mereka takuti adalah hukum positif yang dikeluarkan oleh suatu negara termasuk norma-norma yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat. Mereka bisa saja melakukan kesalahan di dalam hatinya bahkan lewat perkataan dan perilaku, terbukti melakukan kesalahan hanya saja dijalankan pada tempat-tempat yang tersembunyi. Artinya, moralitas orang-orang tak beragama ini bisa jadi amburadul di luar sana tepat di saat tidak ada yang mengawasi mereka.

Ateisme adalah ancaman bagi negara

Mereka juga cenderung tidak meyakini tentang adanya surga dan tidak memahami hari kebangkitan dimana orang benar akan masuk surga dan orang jahat akan didrop ke neraka. Yang mereka percayai adalah, “hidup hanya sekali jadi puaskanlah dirimu menikmati semua itu.” Keadaan ini cenderung menggiring mereka untuk memanfaatkan uang secara lebay, mabuk-mabukan, menikmati hidup berlebihan dan juga menimbun harta sebanyak-banyaknya (serakah). Akhirnya, dampak yang ditimbulkan dari aktivitas konsumsi yang tinggi menyebabkan kerusakan lingkungan yang merugikan kehidupan masyarakat di daerah pinggiran. Kecepatan habisnya sumber daya menjadi ancaman serius, dalam artian “samakin banyak orang yang tidak beragama maka semakin cepat kehancuran suatu negara akibat sikap yang konsumtif terhadap sumber daya.”

Prinsip mendasar orang yang tak beragama

Kontrol moralitas terhadap orang-orang ateis sangat diragukan sebab kita tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya dan apa yang biasa dilakukannya di tempat-tempat tersembunyi dimana tidak ada orang yang mengawasi. Ancaman degradasi moral akan memperparah keberadaan sistem bahkan besar kemungkinan orang-orang ini menjadi perusak sumber daya yang berpotensi besar mengobrak-abrik dan menghancurkan negara dari dalam.

Orang agamawi haruslah membedakan dirinya dari orang yang tidak beragama. Saat orang tak beragama mencontoh perilaku binatang maka orang agamawi harus meneladani sikap tokoh inti dalam ajarannya. Berikut ini, beberapa prinsip orang ateis yang perlu dijauhi oleh orang Indonesia sebagai masyarakat yang beragama.

  1. Individualisme kental.

    Namanya juga penganut teori seleksi alam, mereka hanya mementingkan dirinya sendiri/ kelompoknya. Minimnya kebersamaan di dalam keluarga dan tempat kerja menandakan bahwa sifat yang memetak-metakkan diri sendiri adalah bagian dari usaha mencari nyaman sendiri. Mereka enggan untuk hidup bersama orang lain atau bertetangga sebab tidak ingin diganggu oleh siapapun. Lagipula orang-orang ini sangatlah egois, hanya mau mengurus dirinya sendiri sedangkan orang lain adalah saingan berat.

    Sikap yang individualisme dapat tercipta oleh karena konsumsi terhadap mesin-mesin berteknologi tinggi. Manusia kaya raya tidak lagi membutuhkan orang lain untuk membantunya mengerjakan ini-itu sebab semuanya sudah ditanggung dan dihendel oleh barang elektronik canggih.

    Harusnya, perbedaan antara orang yang tak beragama dengan orang beragama dipertegas lewat sikap para Imam/ Pastor/ Pendetanya. Mereka harus mampu menjauhkan diri dari sikap individualis sebab hanya ateislah yang memiliki itu. Jika ada orang percaya yang individualis berarti bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah “agamanya ktp doang!”

  2. Materialisme kentara.

    Sifat meterialisme orang tak beragama sangatlah kentara. Mereka tidak meyakini adanya hari penghakiman atau kehidupan kedua sehingga pencapaian akan kepemilikan materi dan kemuliaan dari dunia ini adalah mutlak harus dikejar. Oleh karena itu, kebiasaan buruk orang-orang ateis adalah memiliki harta benda yang sangat-sangat banyak untuk dititipkan kepada anak-cucunya kelak. Mereka tampak seperti manusia yang sedang kehausan dengan materi. Padahal apa yang dicarinya sehari-hari tidak habis semuanya dikonsumsi hari itu dan kebanyakan ditimbun lagi dan lagi.

    Jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada maka tidak seharusnya kita menimbun harta banyak-banyak di rumah sebab kebiasaan macam ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan yang menjamin hidupnya di masa depan.

  3. Konsumtif banget.

    Bagi orang yang tidak percaya tentang adanya kehidupan ke dua, mereka cenderung menikmati hidup sepuas-puasnya. Menghabiskan uangnya dalam kemewahan, kemegahan dan foya-foya, seolah-olah itu adalah hari terakhir baginya untuk hidup. Keadaan ini tentu saja berdampak buruk bagi ketersediaan sumber daya yang semakin terbatas dan semakin mahal dari waktu ke waktu.

    Jangan sampai ada anak-anak Tuhan yang berperilaku sangat konsumtif, menghabiskan sumber daya secara besar-besaran hanya untuk mempestakan/ merayakan sesuatu. Sudah seharusnya orang-orang yang beragama itu hidup sederhana.

  4. Kasta sosial sangat kentara.

    Dalam pemahaman sederhana, strata sosial yang diemban oleh orang-orang kapitalis ditiru langsung dari binatang. Mereka menempatkan predator sebagai penguasa yang disusul oleh orang-orang kuat yang lebih rendah dari predator utama. Bagi ateis, rakyat jelata sudah sama seperti lahan yang sudah siap dipanen dan diperah untuk dimanafaatkan bagi kepentingan pribadi dan kelompok.

    Seharusnya kehidupam bermasyarakat orang-orang agamawi jauh dari kasta sosial. Sebab semua orang adalah ciptaan Tuhan dan Allah tidak pernah mengehendaki satupun manusia ciptaan-Nya diperlakukan buruk oleh pihak lain. Oleh karena itu, persatukan negara di bawah satu sistem dan setarakan pembayaran gaji, perolehan pengetahuan dan kekuasaan masing-masing orang.

  5. Tidak ada teman, masing-masing orang adalah saingan.

    Masyarakat ateis tidak ada ubahnya seperti di alam rimba. Mereka saling menggagahi satu sama lain untuk membuat dirinya/ kelompoknya lebih unggul dari pihak lain. Hukum rimba berlaku di antara masyarakat, “yang kuat berlaku semena-mena untuk memanfaatkan kaum yang lemah.” Hanya saja berlangsung secara halus, diam-diam dan tersembunyi. Tidak ada orang yang benar-benar tulus melainkan masing-masing menggunakan kelicikannya demi memenangkan pertarungan ekonomi.

    Saatnya pemeluk agama mengembangkan prinsip kebersamaan di antara warga. Untuk menciptakan rasa kebersamaan yang dibutuhkan adalah keadilan sosial dimana kekuatan ilmu pengetahuan, penggajian dan kekuasaan disetarakan. Tanpa kesetaraan power maka kekuatan inilah yang kelak akan mencabik-cabik masyarakat secara perlahan-lahan tapi pasti.

  6. Penguasaan sumber daya oleh swasta (kapitalisasi).

    Masyarakat telah terpetak-petak dalam berbagai gugusan dimana satu pihak berkuasa atas satu sumber daya bagi kelompoknya sendiri. Setiap kelompok akan berusaha untuk menyaingi kelompok lain dengan perusahaan yang dimilikinya. Perebutan kekuasaan antar kapitalis kerap kali terjadi yang menyebabkan kerugian materil bahkan sampai kehilangan nyawa.

    Sudah saatnya masyarakat yang percaya terhadap keberadaan Tuhan mengelola sumber daya secara bersama-sama. Masing-masing potensi daerah yang ada dimanfaatkan untuk mensejahterakan semua kalangan. Bukankah Allah mengehendaki semua anak-Nya sejahtera adanya?

  7. Yang terkuat adalah pemenang (arogansi).

    Inilah ciri umum masyarakat ateis, mereka selalu saja mencari yang terkuat. Baginya kekuatan itu ditunjukkan oleh kelicikan dan kemampuan memanfaatkan potensi yang ada untuk mengalahkan pihak lain. Mereka selalu saja mencari pemenang sebab dengan memenangkan suatu pertarungan maka kemampuannya untuk menguasai sumber daya menjadi lebih luas. Artinya ketika suatu kelompok berada di atas maka kelompok lain akan menjadi pijakan.

    Masyarakat beragama tidak seharusnya mencari pemenang sebab mereka adalah satu nenek moyang, yaitu Adam dan Hawa. Lagipula bukankah nabi Nuh adalah satu-satunya nenek moyang yang kemudian hidup menjadi cikal-bakal seluruh umat manusia? Oleh karena itu, hindari usaha untuk mencari pemenang sebab kita bersama-sama adalah pemenang.

  8. Eksploitasi sumber daya alam dibenarkan demi kepentingan pribadi (serakah).

    Penggunaan sumber daya yang tersedia dilakukan secara besar-besaran. Sebab masyarakat ateis sangat konsumtif akan kenikmatan dan kemewahan duniawi. Mereka menjadikan gemerlapan duniawi itu sebagai sumber kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman di dalam hatinya. Padahal semuanya itu fana sehingga besar kemungkinan untuk dikonsumsi secara terus-menerus hingga membuat sumber daya yang tersedia menipis bahkan habis. Jadi habisnya BBM bagi masyarakat ateis adalah sesuatu yang sudah mereka tebak dan dinanti-nantikan sejak lama.

    Sudah saatnya masyarakat yang percaya akan keberadaan Tuhan menghentikan eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam. Sebab alam sekitar kita adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang harus turut dijaga untuk keberlangsungan hidup di bumi dari generasi ke generasi.

  9. Pengorbanan diperlukan untuk menyuplai sistem.

    Prinsip kapitalis sama dengan prinsip orang ateis sebab kedua-duanya percaya akan adanya seleksi alam dan itu berlaku bagi manusia. Mereka memberlakukan hukum rimba terhadap umat manusia, bukankah kapitalis/ ateislah yang sebenarnya tidak manusiawi itu?

    Orang-orang ateis secara tidak langsung membutuhkan pengorbanan di saat populasi penduduk telah meningkat tajam. Ada orang-orang yang mereka tentukan mati muda oleh karena penyalahgunaan obat-obat terlarang, narkoba, miras, rokok dan berbagai-bagai bahan kimia berbahaya lainnya. Ada seleksi alam yang diletakkan dalam bentuk penyedap rasa, pengawet, pewarna, pemanis dan lain sebagainya semata-mata untuk mengeliminasi orang-orang yang menurutnya lemah.

    Orang-orang yang memiliki agama sudah seharusnya meniadakan sistem pengendalian penduduk semacam ini. Sebab praktek tersebut tidak jauh-jauh dari kejahatan tersembunyi yang bisa menjerat setiap orang di akhirat nanti. Tidak ada penduduk yang harus dikorbankan sebab tata kelola sosialisme telah mempersatukan seluruh sistem sehingga dapat dilakukan manajemen sumber daya yang komprehensif dan berkelanjutan.

  10. Kehancuran dibutuhkan untuk memulai yang baru (termasuk bencana alam, peperangan dan konflik berkepanjangan).

    Namanya juga seleksi alam, sudah pasti orang-orang ateis sangat menunggu-nunggu terjadinya bencana alam yang besar untuk mengendalikan jumlah penduduk yang mulai berlebihan. Mereka menantikan air bah, gempa bumi, tsunami, badai es, badai tropis, topan, tornado dan lainnya untuk membunuh warga yang mereka anggap sebagai junk alias sampah.

    Orang ateis juga dengan sengaja memicu terjadinya perang saudara dan perang dingin antara kelompok tertentu. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kelebihan penduduk sehingga menjadi ideal menurut penilaiannya sendiri.

    Perbandingan antara orang ateis dan agamawi haruslah jelas adanya. Sudah sepatutnya orang beragama tidak menunggu datangnya bencana untuk memusnahkan saudara-saudaranya. Melainkan lebih memilih untuk menginformasikan kemungkinan tentang bencana tersebut kepada warga agar jumlah korban lebih sedikit adanya.

Prinsip orang ateis semata-mata menguntungkan bagi dirinya dan bagi kelompoknya saja. Tidak peduli mereka dengan pihak lain, yang terpenting sumber daya dikuasainya, uangnya banyak, mewah hidupnya, nyaman harinya, dipuji dia, terkenal rupanya dan lain sebagainya. Semua gemerlapan duniawi yang hanya sesaat itulah yang menjadi tujuan orang-orang yang tidak beragama. Sebab kepuasan indra sangat menguasai kehidupannya sedangkan suasana hati dalam kehampaan. Akibatnya, berapapun materi dan kemuliaan yang dikonsumsinya tetap saja tidak pernah puas lalu ingin lebih dan lebih lagi (serakah cs arogan). Tidak demikian dengan yang percaya kepada Tuhan, mereka percaya bahwa semua manusia adalah ciptaan Tuhan yang notabene adalah anak Allah. Tidak ada satu orangpun yang ditekan apalagi dikorbankan sebab mereka hidup dalam kebersamaan di dalam satu sisitem sosialisme yang adil-setara satu-sama lain.

Salam sosialis sejati!
Salam kebersamaan!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.