Kepribadian

+10 Bahaya Hidup Menyendiri Terus-Menerus

Bahaya Hidup Menyendiri Terus-Menerus

Segala yang diciptakan Tuhan dalam kehidupan kita sangat memperhatikan berbagai unsur dimana pola yang paling umum adalah keseimbangan. Ada kekuatan yang besar dan ada pula yang namanya kemampuan untuk mengimbanginya. Layaknya kekuatan ombak menghantam pinggir pantai yang beresiko menarik ke bawah semua pasir yang ada di sana, bisa diimbangi dengan kekuatan batu karang yang selalu bisa memecah kekuatan tersebut. Demikianlah juga seharusnya kita memanajemen berbagai kebiasaan yang ada di dalam diri ini, jangan biarkan satu aktivitas menguasai kehidupan anda terus-menerus, melainkan lakukanlah penataan sedemikian rupa agar semuanya berimbang satu-sama lain.

Beberapa contoh kebiasaan hidup menyendiri

Coba lihat sekeliling anda, liriklah kepada kehidupan flora yang tersebar dibiarkan tumbuh begitu saja oleh pemiliknya. Mereka pasti terlihat kurang berkembang tetapi cobalah tarik tanaman tersebut (ukuran kecil) pasti akarnya sangat kuat. Tetapi silahkan amati juga tanaman lain yang sangat dirawat oleh pemiliknya sehingga tidak ada satupun rumput liar di sekitarnya, coba tariklah itu, pasti akarnya kurang kuat. Jika ingin membuktikan pernyataan silahkan lakukan sendiri eksperimen kecil-kecilan, antara menanam tanaman di dalam pot khusus atau yang dibiarkan hidup liar begitu saja: siapakah yang akarnya lebih kuat?

Satu lagi kami ambil contoh tentang ternak yang dipelihara sendiri dengan yang dipelihara bersama dengan yang lainnya. Silahkan lakukan percobaan ini dengan memelihara ternak di kandang secara sendiri-sendiri dan yang dipelihara bersama teman-temannya di kandang tertutup sisinya yang berbeda. Berikan mereka perlakuan yang sama dalam segala hal. Kira-kira apa perbedaan yang anda temukan pada masing-masing ternak itu? Mungkin saja hal umum yang sering terjadi adalah yang sendiri itu lebih tambun tetapi sensitif sedangkan yang hidup bersama posturnya biasa saja tetapi sikapnya tidak begitu sensitif terhadap gangguan.

Siapa saja yang mengalaminya?

Mengapa hidup sendiri? Banyak alasan yang membuat seseorang hidup sendiri. Umumnya karena masalah mengejar pendidikan yang lebih baik ke luar daerah. Merantau untuk melanjutkan sekolah/ kuliah ke tempat tujuan yang selama ini diimpi-impikan. Kami juga dulu hanya sendiri saja saat diperantauan, tidak ada kerabat yang menemani hanya hidup dalam kesendirian yang terkadang ditemani oleh teman-teman yang sebelumnya kenal atau yang dahulu sekolahnya sama. Ada orang yang sendiri karena telah ditinggal pergi oleh keluarga tercinta, ada pula yang hidup sendiri karena terlalu banyak memendam kebencian dalam hati dan yang lain memilih untuk hidup menyendiri semata-mata untuk menikmati hidup.

Pengertian

Sendiri adalah (1) seorang diri; tidak dengan orang lain; (2) tidak dibantu (dipengaruhi) orang lain; (3) tidak dibantu alat lain; otomatis; (4) kepunyaan dari yang disebut (yang bersangkutan), bukan kepunyaan orang lain; (5) diri dari yang bersangkutan (bukan wakil atau pengganti); orang yg sesungguhnya (berkepentingan; (6) terpisah dari yang lain; terasing; sendiri-sendiri; (7) yang paling (KBBI Luring). Jadi bisa dikatakan bahwa menyendiri adalah sikap hati yang diputuskan (dipilih) oleh seseorang untuk sebisa mungkin menjauhi kerumunan masa. Ada satu istilah yang sering sekali menggambarkan betapa buruknya hal ini, yaitu kesepian.

Menurut pemahaman kami orang yang suka sendiri itu tidak selalu merasa kesepian. Sebab rasa kesepian lebih dikarenakan oleh suasana hati yang dalam keadaan hampa. Kekosongan hati yang kerap kali dialami seseorang oleh karena terlalu banyak menikmati hidup dan tidak ada kerjaan adalam masalah yang sangat serius. Sebab keadaan ini dapat diikuti oleh berbagai kerapuhan dalam hidup, misalnya suka bersedih, galau dan gundah hatinya. Oleh karena itu, kami menyarankan agar sekalipun anda sedang menyendiri saat ini, pastikanlah bahwa ada berbagai aktivitas yang dilakukan, misalhnya fokus kepada Tuhan, belajar dan berdoa.

Sendiri bukan masalah saat anda tetap memiliki sikap hati mengasih sesama

Menyendiri bukanlah hal yang buruk sobat, sebab ada berbagai momen positif yang bisa dilakukan saat sendiri, misalnya sambil menulis, membaca, mempelajari sesuatu, mengerjakan aktivitas biasa, bersih-bersih, rapi-rapi dan lain sebagainya. Jadilah penyendiri yang kreatif selalu sibuk dengan berbagai kebiasaan yang baik. Jangan lupa juga untuk selalu memelihara sikap yang ramah untuk menjaga kebaikan hatimu tetap kentara. Lewat kebaikan itu jugalah kita bisa selalu ditempatkan dalam posisi menghadapi ujian kehidupan. Ketahuilah bahwa dimana ada ujian, disanalah kekuatan hati kita dibangun  sedemikian rupa dan fokus kehidupan dilatih untuk lebih dekat lagi kepada Tuhan (berdoa, membaca firman, bernyanyi memuliakan-Nya) sambil-sambil menemukan kepuasan, kebahagiaan dan ketenteraman.

Hal yang paling berbahaya

Kesendirian yang lebih parah adalah ketika keberadaan kita cukup jauh dari pemukiman warga lainnya. Membangun rumah di tempat-tempat terpencil yang jauh dari kerumunan sangat beresiko menyebabkan kerapuhan emosi. Orang semacam ini memiliki sifat yang cenderung egois, arogan, sombong dan terlalu mudah terganggu. Ketahuilah bahwa kemampuan untuk menyesuaikan diri sangat tergantung dari gangguan yang kita alami. Semakin intens suatu gangguan maka semakin canggih kemampuan seseorang untuk beradaptasi bahkan menikmatinya lalu melakukan improvisasi. Yang hendak kami katakan di sini adalah, jangan terus hidup sendiri setidak-tidaknya milikilah keluarga untuk disayangi.

Ketahuilah bahwa seburuk-buruknya hidup bertetangga lebih buruk lagi hidup sendiri di tempat sunyi. Saat kita sendiri tetapi memiliki banyak tetangga, alhasil kehidupan kita ramai juga walau kebanyakan berupa hal yang ribut-ribut. Tetapi itu sangatlah penting untuk melatih kemampuan kita  untuk menyesuaikan diri. Sedangkan saat hidup sendiri di tempat terpencil tidak ada gangguan sama sekali yang beresiko menyebabkan kita menjadi pribadi yang begitu sensitif dan sukar menyesuaikan diri dengan gejolak yang terjadi di sekitar.

Dampak negatif sikap menyendiri yang lebay

Manusia memang dilahirkan sendiri-sendiri yang membuat sikap individualis ada di dalam hati masing-masing tanpa harus diajarkan sedikitpun. Sikap ini memang erat kaitannya dengan kehidupan yang senantiasa berada dalam zona nyaman sehingga termasuk dalam salah satu golongan aktivitas menikmati hidup. Masalahnya sekarang adalah, apakah baik bagi kita untuk selalu menikmati hidup dari waktu ke waktu? Jelas keadaan ini tidak baik sebab hal-hal yang berlebihan jika selalu dilakukan beresiko tinggi menyebabkan dampak buruk bagi kehidupan ini. Berikut selengkapnya, bahaya terus-menerus hidup dalam kesendirian.

  1. Beresiko menjadi egois

    Kitab Suci juga berpesan bahwa sebaiknya manusia hidup bersama orang lain. Saat seorang anak dibesarkan sendiri, ada kecenderungan menjadi orang yang lebih mementingkan diri sendiri. Satu-satunya cara untuk menghindari hal ini adalah agar orang tua selalu mengajak anak berkomunikasi atau membuatkannya saudara yang lain. Beberapa orang anak tunggal dalam keluarga juga bisa jauh dari sikap individualisme yang hanya mementingkan diri sendiri oleh karena sering bermain dengan anak-anak tetangga lainnya.

  2. Beresiko menjadi arogan.

    Sikap yang arogan ini sebenarnya selalu ada di dalam diri manusia, hanya saja saat kita sendiri sikap yang arogan tersebut tidak pernah diuji. Ketika suatu kebiasaan buruk tidak pernah diuji, besar kemungkinan bahwa sifat-sifat itu selalu ditanam di dalam hati. Namun ketika anda bersama orang lain, niscaya ada kemungkinan sifat buruk itu muncul sehingga anda bisa belajar untuk mengendalikannya.

  3. Beresiko acuh tak acuh.

    Kami sendiri sering sekali tinggal sendiri di rumah untuk menulis beberapa hal yang hendak di publish ke blog ini. Hanya saja kami berusaha untuk menjaga sikap peduli dengan senantiasa berada dalam posisi yang ramah terhadap sesama. Sikap yang ramah ini membuat rasa acuh tak acuh akibat menyendiri tidak begitu kentara dalam hari-hari yang dilalui. Kami juga berusaha menempatkan sifat sensitif yang dimiliki untuk lebih mengenali dan memahami keberadaan orang lain.

  4. Kurang suka diuji – tidak siap diuji.

    Posisi yang terus-menerus menyendiri untuk menikmati hidup jelas tidak selalu menguntungkan. Saat kita seorang diri, besar kemungkinan tidak ada masalah yang terjadi sehingga menantang untuk diselesaikan. Oleh karena itu, bagi yang sudah dewasa tetapi masih saja sendiri di rumah kontrakan, sebaiknya cari pasangan hidup dan menikahlah. Terlalu lama sendiri cenderung membuat kita tidak siap untuk diuji tetapi saat memiliki keluarga/ pasangan hidup, setidak-tidaknya ada kesalahan kecil yang membuat kita selalu siap meneri kenyataan apa adanya.

  5. Kurang sabar. – mudah emosian

    Ketika rumah kita jauh dari pemukiman warga yang lain, ada kemungkinan menjadi terbiasa hidup dalam suasana yang hening dan terkendali. Begitu menginap di rumah teman yang situasinya ramai banget, kita menjadi kurang sabar lalu ingin cepat-cepat pulang untuk kembali “rumahku istanaku.” Beberapa orang juga tidak sabar menjalani hidup karena di rumah semuanya serba instan dan ada orang yang suka membantu pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan sendiri.

  6. Mudah iri hati.

    Sama seperti poin sebelumnya, ketika kita kurang menghadapi pencobaan hidup maka ada kecenderungan untuk mengalami tingginya reaksi terhadap sifat manusiawi. Kedengkian adalah suatu keadaan dimana kita diperhadapkan dengan orang yang lebih baik atau mereka yang hidupnya lebih beruntung. Ketika di luar kesendirian tersebut kita temukan orang yang lebih baik dari diri sendiri maka besar kemungkinan rasa cemburu itu masih kentara. Sebenarnya nafsu yang penuh kedangkian ini semakin mantap untuk dikendalikan jikalau semakin sering muncul ke permukaan. Jika di sekitar kita ada banyak tetangga yang menimbulkan kecemburuan, berterimakasihlah sebab itu kesempatan untuk menghilangkan rasa iri hati.

  7. Mudah terjebak dalam persaingan.

    Orang yang suka menyendiri berada dalam posisi PW, tidak ada yang mengganggu dan menggoda. Keadaan ini menimbulkan kekuatan kejahatan di dalam hati tidak sering muncul. Akibatnya ketika ada hal-hal yang membuatnya tersinggung niscaya tindakannya langsung agresif meniru saingannya bahkan bila perlu ia memiliki hal yang lebih baik dari itu. Tetapi bagi mereka yang hidup bertetangga dengan orang lain dimana ada banyak bentuk kedengkian yang muncul, tidak akan sampai membuatnya tersulut emosi untuk bersaing pada hal-hal yang tidak penting.

  8. Kurang mampu menyesuaikan diri.

    Kemampuan beradaptasi adalah evolusi yang sejati. Jika anda ingin berevolusi, belajarlah untuk menyesuaikan diri. Saat kita hanya suka menyendiri, ketahuilah bahwa keadaan tersebut justru meninabobokan otak. Ketika muncul berbagai perubahan yang begitu cepat di sekitar, langsung melarikan diri atau terus menghindar dari situasi. Memang menghindari itu bagus tetapi sampai kapan anda terus mengelak dari sebuah kenyataan yang terus-menerus berlangsung? Oleh karena itu, biasakanlah dirimu dan beradaptasilah!

  9. Kurang mampu memaafkan – pendendam, kebencian.

    Ini juga masih seputar resiko kenyamanan yang membuat kemampuan kita menjadi tumpul. Ketahuilah bahwa memaafkan itu harus dilatih, ini bukan sifat yang sudah ada secara default (bawaan) tetapi kita perlu merangsang perkembangannya dengan lebih banyak fokus kepada Tuhan sambil terus melatih kemampuan tersebut. Berikan waktu anda untuk memeriksa hati sendiri, apa masih ada rasa dendam yang tersimpan di dalamnya? Selama rasa dendam masih ada maka besar kemungkinan kita akan melihat seseorang dengan penuh rasa benci. Oleh karena itu, belajarlah mengampuni dimulai dari dalam keluarga sendiri.

  10. Hidup tidak tenang.

    Saat kita suka menyendiri memang hidup sangat tenang ya…. Tetapi begitu keluar dari zona nyaman tersebut, berkunjung ke tempat lain, bertandang ke area wisata, berlabuh suatu lokasi yang asin dan benar-benar beda dari kehidupan sepi yang dijalani selama ini, alhasil hati menjadi tidak tenang dan cemas saat menghadapinya. Terlalu lama berada di zona nyaman membuat kita semakin rapuh menjalani hari sebab gejolak sedikit saja sudah bisa menimbulkan ketakutan di dalam hati ini.

  11. Kecerdasan menurun.

    Orang yang cerdas mengendalikan diri dimampukan untuk bertahan di segala situasi termasuk di tengah pergumulan hidup sekalipun. Tetapi mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri menjadi kurang cerdas saat mengendalikan emosi. Keadaan ini turut pula didukung oleh tingkat kesadaran diri yang kurang akibat minimnya aktivitas otak (fokus Tuhan, belajar dan bekerja). Oleh karena itu, sesekali keluarlah dari kesendirianmu agar hidup sesekali diasah oleh persoalan sehingga otak tetap cerdas.

  12. Kurang sadar dan kurang bijak menjalani hidup.

    Biasanya mereka yang tingkat kesadarannya kurang selama menjalani hidup cenderung kurang waspada. Akibatnya, saat ada hal-hal buruk yang terjadi, mereka tidak tahu harus melakukan apa dan malah jatuh dalam sudut yang membingungkan. Pikiran yang buntu adalah tanda-tanda bahwa anda kurang bijak menjalani hidup. Oleh karena itu, belajarlah untuk berbaur dengan sesama, baca berbagai literatur dan hadapi masalahmu senyatanya. Sebab orang yang bijak selalu mampu mengenali manfaat di balik setiap permasalahan yang dihadapinya.

  13. Kurang terlatih berbuat baik – pelit.

    Ketahuilah bahwa yang namanya kebaikan hati itu harus senantiasa dilatih, sebab ini bukanlah sifat asli manusia yang syarat dengan kedagingan. Oleh karena tidak ada orang di sekitarmu maka kebaikan hatimu juga tidak bisa dilatih dengan baik. Anda cenderung lebih banyak mencintai diri sendiri sedangkan saat ada orang yang meminta ini itu, sangat kikir. Padahal jumlah yang anda miliki di rumah bisa sangat banyak bahkan berlimpah hartamu tetapi kebaikan sangat ciut. Oleh karena itu, belajarlah berbagi rejeki dimulai dari sekarang, mulai dari yang kecil-kecil dahulu agar bisa belajar untuk melakukan kebaikan yang lebih lagi.

  14. Kurang diketahui orang keadaan kita baik atau buruk.

    Membangun rumah sendiri di tempat sunyi adalah kabar terburuk seumur hidup. Sewaktu kita suka hidup menyendiri, punya rumah sendiri-sendiri, tinggal jauh dari kerumunan dan tidak memiliki tetangga, bagaimana jika ada sesuatu yang buruk terjadi? Siapa yang akan mengenali atau mengetahui keadaan tersebut sebab pemukiman penduduk sangat jauh dari tempat tinggal kita. Oleh karena itu, berhentilah membuat rumah di tempat-tempat sepi demi mengejar kenyamanan indra sebab memiliki tetangga itu lebih baik.

  15. Kita mudah menjadi sasaran kejahatan/ kekerasan.

    Apabila hunian anda jauh dari rumah penduduk lainnya semata-mata demi mengejar kenyamanan, jauh dari kebisingan dan keributan tetangga usil, sadarilah bahwa posisi tersebut hanya membuat anda menjadi sasaran empuk. Ketika ada orang yang hendak berniat jahat, mungkinkah itu musuh atau hanya sekedar kebetulan lewat saja, besar kemungkinan aksinya berhasil tanpa diketahui orang lain. Sebab sekalipun anda berteri-teriak, tidak akan pernah ada orang yang datang, siapa suruh hidup menyendiri jauh dari warga lainnya?

Menyendiri itu adalah hal yang biasa tetapi terus-menerus hidup sendiri adalah lebay. Cara efektif untuk menghadapi masalah ini adalah dengan senantiasa fokus kepada Tuhan, belajar, bekerja, memiliki keluarga dan milikilah tetangga. Jelaslah bahwa kebiasaan yang terlalu berlebihan tidaklah baik untuk dipelihara. Bagi yang kebetulan sering bekerja sendiri, tetaplah bersikap ramah kepada orang lain agar kepedulian kita dengan keberadaan sesama tetapi terasah baik. Bagi seorang blogger yang suka mengelola blog sendiri, berusahalah untuk bergabung dengan komunitas tertentu atau carilah teman untuk menulis bersama agar sikap individualis itu menjauh. Pada dasarnya, jika dalam bersikap selalu disempatkan untuk berbagi kasih kepada sesama, besar kemungkinan sifat-sifat buruk tersebut di atas bisa terkikis jauh. Oleh karena itu, seimbangkan aktivitas sendiri dengan tidak berhenti/ tidak lelah berbuat baik dimulai dari hal-hal kecil dari dalam keluarga dan orang-orang terdekat.

Salam, hidup bersama itu lebih baik!

2 replies »

  1. anda telah salah memahami para penyendiri, anda jangan menganggap sebelah mata para penyendiri,dia adalah manusia sejati,tidak ada manusia yang paling mengenal dirinya kecuali para penyendiri,anda akan kagum jika anda mengetahui apa yang dia rasakan,dia mempunyai prinsip hidup,mata batinnya sangat tajam dan telah menemukan kebahagian hakiki, INGAT…DAN INGAT..UNTUK MENGENAL TUHAN SESEORANG TERLEBIH DAHULU HARUS MENGENAL DIRINYA SENDIRI DENGAN SEBENAR-BENARNYA DAN UNTUK MENGENAL DIRI DENGAN SEBENAR-BENARNYA TIDAK BISA DENGAN BERKUMPUL SESAMA MANUSIA INI ADALAH SALAH SATU JALANNYA UNTUK MENEMUKAN TUHAN

    Suka

    • Setuju teman…
      Kami pun orang yang suka menyendiri tetapi tidak menyendiri dalam kemewahan dimana sekeliling benar-benar sepi. Sekali pun kami menyendiri, masih ada suara tetangga di samping rumah dan suara kendaraan dari luar.

      Yang kami maksudkan adalah orang yang suka menyendiri dalam kemewahan yang berlebihan sehingga sifat egois dan arogannya terus berkembang yang memperburuk hubungan dengan sesama.

      Lebih dari itu, kami sudah katakan bahwa blog ini hanyalah tong sampah berisi banyak hal yang tidak penting. Buang saja kalau tidak mau tetapi kalau ingin mendaur ulangnya silahkan dikantongi teman…..
      Salam jumpa kembali……

      Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.