Menata Ulang Ilmu Pengetahuan

Teori Persatuan, Alasan Alam Semesta Adalah KITA Adalah Tumbuhan & Hewan – Manusia Menyatu Dengan Alam Semesta

Alasan Alam Semesta Adalah KITA Adalah Tumbuhan & Hewan - Teori Persatuan Manusia Menyatu Dengan Alam Semesta

Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri telah mengajarkan kepada kita untuk setia kepada perkara kecil, dengan demikian dipercayakan menyelesaikan perkara yang besar. Siapakah orang yang menyangka bahwa hal-hal kecil bisa menggambarkan hal besar? Kami sendiri tidak pernah menyangka pola yang satu ini tetapi lama kelamaan setelah proses belajar yang panjang, akhirnya kami mampu memahaminya. Dari sinilah kami mulai menyadari bahwa Kristus sebenarnya Allah yang menjadi manusia sebab banyak sekali ajarannya yang awalnya dianggap gila tetapi akhirnya kita memahami bahwa Dialah yang benar. Semua hal yang tertulis di dalam blog ini, kami kembangkan berdasarkan pola-pola yang diajarkan oleh Yesus sewaktu Ia masih menampakkan diri di bumi.

Semua energi yang ada dialam semesta telah tersebar dengan sangat baik dan merata adanya. Energi tersebut berbeda-beda bentuk yang satu dengan yang lainnya. Yang terkuat selalu menjadi pusatnya dan yang terkuat juga selalu mendapatkan suplai dari bagian lainnya. Ada proses memberi dan menerima antara planet dengan matahari, masing-masing mengirimkan sesuatu yang berbeda kepada yang lainnya. Bila bola api tersebut mengirimkan sinarnya yang panas membara maka bintang (termasuk bumi) mengirimkan gas aktif. Proses memberi dan menerima ini telah berlangsung sejak dari awal masa penciptaan hingga kini dan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.

Segala sesuatu di alam semesta terus bergerak. Tidak semua bagian-bagian tersebut berada dalam posisi yang sama, satu-satunya yang tidak bergerak adalah matahari, itupun tidak statis melainkan selalu berotasi pada sumbunya. Bagian yang tidak tenang adalah yang tidak mampu memancarkan energinya sendiri, yaitu planet dan satelit. Sedangkan kita, manusia yang kecil dan tidak tahu apa-apa justru DITIPU OLEH INDRA SENDIRI. Kita merasa bahwa bumi ini tenang-tenang saja padahal sesungguhnya bumi senantiasa bergerak dan berputar. Bukti konkrit bahwa bumi senantiasa bergerak adalah air laut yang tidak pernah tenang. Oleh karena itu, jika benda-benda yang kita anggap tidak bernyawa saja selalu aktif maka terlebih lagi dengan manusia yang hidup.

Sekali lagi kita salah persepsi lalu menyangka bahwa alam semesta ini tidak hidup. Karena bumi tidak bisa melawan saat kita injak, bukan berarti dia benda mati. Air yang selalu mengikuti bentuk wadah yang kita berikan, bukan berarti dia tak bernyawa. Udara yang selalu berteriak saat ditepuk, tidak berarti bahwa dia bukan makhluk hidup. Ketahuilah dengan pasti bahwa segala sesuatu di alam semesta itu hidup sebab semuanya bergerak secara beraturan. Tidak ada benda mati yang bisa bergerak untuk melakukan aktivitas yang sangat terkoordinir. Oleh karena itu, mulailah belajar memanfaatkan segala sesuatu seadanya saja, apa yang kita perlukan itu yang kita ambil. Mengambil secara berlebihan (serakah) hanya akan menggangu keseimbangan alam.

Pengertian teori persatuan alam semesta

Segala sesuatu yang ada di alam semesta berasal dari sumber yang sama, satu Pencipta yang telah menjadi perancang sistem yang sempurna ini. Teori persatuan alam semesta adalah segala sesuatu di alam semesta yang terdiri dari berbagai macam esensi rupa dan bentuk yang berbeda-beda berasal dari sumber yang sama yaitu Tuhan Allah. Masing-masing bergerak aktif dalam siklus yang sempurna untuk memenuhi takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan dimana satu-satunya yang bebas memilih sekaligus sebagai pengelola (berkuasa, menaklukkan) adalah manusia. Oleh karena itu, sudah sepatutnya sebagai seorang pengelola yang baik, kita memanfaatkan alam sesuai dengan kebutuhan tanpa harus melakukan pengrusakan secara berlebih-lebihan yang beresiko mengganggu keseimbangan alamiah.

Seseorang yang merasa bahwa dirinya adalah satu dengan semua hal yang berkeriapan di sekitarnya akan bertindak dengan bijak memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh membunuh tumbuhan dan hewan, bukankah Allah telah menyerahkan makhluk hidup lain di bawah kekuasaan kita? Sekalipun demikian, yang menjadi tanggung jawab manusia adalah memelihara semua ciptaan yang ada dengan menghindari pemusnahan terhadap spesies tertentu (memanfaatkan tidak sampai punah). Kuncinya terletak dalam hal pemanfaatan sumber daya yang ada secara tersistem dan terstruktur sehingga tidak terjadi aksi pemborosan atau penyia-nyiaan yang berlebihan.

Faktor penyebab alam semesta adalah kita adalah tumbuhan dan hewan

Dari awal segala sesuatu adalah satu berasal dari sumber yang sama. Semua seperti terasa berbeda setelah sekian lama tumbuh dalam lingkungan yang tidak sejenis. Kita lupa dengan asal darimana semua berawal sebab terlalu sibuk memikirkan diri sendiri, mencari kesenangan pribadi dan mengunggulkan diri sendiri. Padahal, kalau setiap manusia merasa menyatu dengan seluruh alam niscaya tidak ada niatan untuk bersikap serakah sebab penguasaan yang tamak hanya akan menghasilkan kehancuran dan kepunahan. Berikut selengkapnya alasan mengapa manusia menyatu dengan binatang, tumbuhan dan lingkungan sekitarnya bahkan seluruh alam semesta.

  1. Segala sesuatu diciptakan oleh nafas Allah/ firman yang keluar dari mulut Allah.

    Seperti yang diceritakan oleh kitab Kejadian, dari sana kita memahami bahwa sebenarnya Tuhanlah yang berkehendak untuk membangun seluruh alam semesta dalam satu sistem yang berputar seimbang satu sama lain. Dialah Perencana Yang Agung, menciptakan segala sesuatu, menempatkan yang satu sedemikian rupa dengan yang lainnya sehingga masing-masing terhubung satu dengan yang lainnya. Sekalipun komponen yang diciptkan-Nya berbeda-beda tetapi masing-masing saling terhubung oleh ikatan kebutuhan akan energi.

    Dikisahkan dalam kitab Kejadian bahwa pada awalnya semua kosong dan hanya terdiri dari onggokan padatan yang sangat besar yang disebut sebagai ibu dari segala planet dan matahari. Ibu planet inilah yang kemudian akan mengembang membentuk sistem tata surya yang terdiri dari matahari, planet dan satelit.

  2. Segala sesuatu di alam semesta hidup.

    Menurut anda, apa pertanda bahwa suatu esensi dianggap hidup? Bagi kami, sesuatu yang hidup itu haruslah senantiasa bergerak secara terus-menerus. Gerakan ini bisa saja tidak kasat mata tetapi sesungguhnya hal tersebut terus berlangsung dari waktu ke waktu. Tepat saat gerakan yang kontinue itu berhenti maka saat itu jugalah bisa dipastikan bahwa objek tersebut telah mengalami kematian. Seperti halnya seorang manusia, saat aktivitas denyut jantung dan gerakan nafasnya berhenti, disanalah kematian itu berlangsung.

    Matahari senantiasa aktif berputar (berotasi) sambil-sambil = memancarkan sinarnya yang hangat ke seluruh bagian alam semesta. Bumi yang kita rasakan diam, sebenarnya terus berada dalam perputaran yang stabil dengan sinar matahari sebagai pusatnya. Udara dapat pula kita amati sembari melihat aktivitasnya di tempat-tempat yang lebih tinggi. Air bisa kita temukan di lautan yang luas senantiasa bergulung-gulung sesuai dengan arah rotasi.

    Semua gerakan ini berlangsung secara terus-menerus yang menandakan bahwa segala sesuatu hidup di seluruh jagad semesta. Bukankah semua kehidupan yang kita rasakan tersebut berasal dari Allah. Jadi kesatuan antara manusia, hewan dan tumbuhan adalah suatu hal yang mutlak bukan sebuah kemungkinan lagi

  3. Segala sesuatu di alam semesta terhubung satu sama lain oleh kebutuhan akan energi.

    Seperti layaknya sebuah organisasi yang masing-masing bagiannya memiliki tugas demi keberlangsungan sekaligu perkembangan seluruh bagiannya. Demikianlah alam raya memiliki kebutuhan khusus yang diperoleh dari bagian lain agar masing-masing bisa melanjutkan kehidupannya. Kebutuhan itu adalah kepentingan energi: tumbuhan butuh energi matahari, manusia butuh energi dari tumbuhan dan hewan (makanan), matahari butuh gas yang dihasilkan oleh tanaman, lautan dan proses pembusukan.
    Perputara energi di alam semesta - Siklus yang sempurna dimana masing-masing bagian saling menguntungkan dan saling mengendalikanSekiranya setiap pihak mampu menghasilkan energinya, memenuhi kebutuhan sendiri, niscaya tidak ada yang namanya hubungan timbal-balik, melainkan masing-masing hidup sendiri-sendiri. Dalam artian, kebutuhan akan energi secara tidak langsung membuat kita saling terkoneksi sehingga mempersatukan semuanya dalam satu sistem.

  4. Segala sesuatu di alam semesta sangat terkoordinasi.

    Masing-masing benda langit bergerak dalam takdirnya sendiri-sendiri. Semuanya beraktivitas dalam jangkauan yang terukur sesuai dengan porsi kekuatannya satu sama lain. Matahari, bintang, bulan dan seluruh komponen yang terdapat di dalamnya bergerak pada pola-pola tertentu yang sangat terkendali sehingga masing-masing tidak menimbulkan gesekan yang berlebihan agar tidak terjadi tubrukan apalagi kehancuran. Demikian juga di lingkungan sekitar kita, jumlah predator selalu lebih sedikit dari mangsanya dan jumlah mangsa selalu lebih banyak dari predatornya. Biasanya, pihak yang dikorbankan sebagai mangsa memiliki tingkat reproduksi yang sangat tinggi.

    Satu-satunya yang tidak bergerak berdasarkan takdirnya adalah manusia sebab manusia telah diberikan kehendak bebas untuk melakukan apapun. Jadi benar-tidaknya, maju-mundurnya, kacau-tidaknya kelakuan kita sangat berhubungan erat dengan bencana alam yang terjadi. Semakin arogan, manipulatif dan serakah sekelompok manusia maka semakin besar kemungkinan untuk timbulnya bencana alam bahkan bencana kemanusiaan.

    Kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu disemua sisi jagad raya telah direncanakan dengan sangat terstruktur. Planet memiliki lintasannya sendiri sehingga tidak sampai bertabrakan dengan planet lain. Predator memiliki jalannya sendiri sehingga tidak sampai mengunyah dan menghabiskan semua mangsanya. Ini menunjukkan betapa rapi susunan masing-masing ciptaan sehingga dapat terus berjalan dalam siklus yang seimbang.

  5. Segala sesuatu di alam semesta saling mengasihi (memberi dan menerima).

    Tuhan Yesus mengajarkan kita tentang kamampuan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kasih tidak hanya terjadi di antara manusia saja melainkan di antara semua bagian-bagian lain juga terdapat yang namanya sikap yang saling melayani. Manusa merawat tanaman, menyiramnya dengan air air, memberinya pupuk, menyiangi rumput di sekitarnya dan pohon tersebut menghasilkan buah-buahan. Kita memelihara hewan, memberinya makan, minum dan suatu saat nanti akan dimanfaatkan untuk dijadikan daging. Matahari menghangatkan bumi dengan sinarnya yang terang dan sebaliknya tanaman berklorofil, lautan, proses pembusukan akan memberikannya gas aktif sebagai sumber bahan bakar. Jadi ada hubungan yang saling melayani dan dilayani diseluruh alam semesta yang membuat kita terhubung satu-sama lain dalam satu kesatuan yang tersistem.

  6. Segala sesuatu di alam semesta saling mengimbangi.

    Tahukah anda bahwa kekuatan pendukung yang terdapat dalam suatu ciptaan turut membantunya mengimbangi kekuatan ciptaan lain? Misalnya kekuatan sinar matahari yang sangat panas telah diimbangi oleh kapasitas atmosfer bumi yang senantiasa diproduksi oleh tanaman dan lautan. Sama halnya dengan kemampuan konsumsi hewan pemakan serangga telah diimbangi dengan kecepatan reproduksi serangga yang mencapai ratusan butir telur dalam sekali reeproduksi. Kedahsyatan untuk menghanyutkan dan menghancurkan oleh gelombang laut telah diimbangi oleh kekerasan batu karang yang menjadi barier daratan. Derasnya hujan tidak sampai mengikis permukaan bumi karena telah diimbangi oleh kehadiran pepohonan yang rapat, tinggi, besar dan tangguh. Kencangnya laju angin telah dihambat oleh kontur tanah yang bergunung-gunung dan keteguhan pepohonan yang menjulang tinggi ke angkasa.

    Bisa dikatakan bahwa sesungguhnya kekuatan yang terakumulasi di sekitar kita sangat dahsyat dan kuat. Tetapi masing-masing ciptaan memiliki peran yang penting untuk mengimbangi kekuatan yang lainnya. Tanpa kehadiran ciptaan lain bisa dipastikan bahwa sesungguhnya kita tidak akan mampu menanggung kekuatan yang dahsyat itu. Semua sudah punya tempat dan porsi masing-masing, bukankah lebih baik bila turut memelihara makhluk hidup lainnya agar eksistensi kita di alam semesta tidak hilang ditelan bencana?

  7. Segala sesuatu di alam semesta saling melengkapi.

    Mata kita membutuhkan cahaya agar bisa melihat, bekerja dan belajar. Tumbuhan membutuhkan kita untuk memberinya air, menyiangi rumput liar dan menebar pupuk sehingga pohon tersebut semakin subuh dan lebat buahnya. Sama halnya dengan keperluan kita terhadap dedaunan hijau yang senantiasa menyerap panas, menghasilkan atmosfer dan memicu terjadinya kondensasi. Kita juga membutuhkan hewan untuk menyuplai kebutuhan daging dengan rasa yang lebih nikmat. Manusia juga membutuhkan hewan-hewan liar yang buas sebagai penunggu hutan belantara agar keberadaan serangga tidak menyebabkan masalah serius karena memasuki pemukiman warga secara terus-menerus. Saat kita membutuhkan rumah atau jembatan maka akan memanfaatkan kayu-kayu besar yang hidup menua di hutan-hutan.

    Pemenuhan kebutuhan yang dapat diperoleh dari ciptaan lain menunjukkan bahwa kita saling melengkapi. Ciptaan lain yang lebih dahulu dihadirkan Allah di dunia ini telah menjadi suatu kekuatan untuk membuat hidup kita lengkap alias sempurnya. Jadi sudah seharusnya kita menyatu dengan kehidupan alamiah dan menghindari praktek eksploitasi secara berlebihan.

  8. Tidak ada yang benar-benar menjadi sampah di alam semesta.

    Kesatuan diseluruh alam raya tidak menghasilkan komponen yang tidak berguna, melainkan hal yang tidak bermanfaat bagi yang lain akan dimanfaatkan oleh bagian berikutnya. Tidak ada sampah yang tidak bermanfaat sebab semua bahan buangan akan diurai oleh mikroorganisme sehingga menjadi mineral yang siap dimanfaatkan oleh tumbuhan. Mikroorganisme adalah bahan utama pengurai sampah agar bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan hijau untuk membangun senyawa yang lebih kompleks misalnya, protein, karbohidrat dan lemak nabati. Oleh karena manusia hidup bersama – menyatu dalam sistem yang berbentuk siklus maka sudah seharusnya kita mampu mengkoordinir penggunaan sumber daya. Manajemen pemanfaatan energi yang baik dpat membuat keberlangsungan hidup kita di dunia terus terjaga dari generasi ke generasi.

  9. Manusia tidak bisa hidup sendiri di muka bumi ini.

    Sehebat apapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita miliki, tidak akan mampu mengimbangi kemampuan makhluk hidup lain untuk melindungi bumi dan kehidupan di dalamnya. Dari awal Tuhan merancang kehidupan ini untuk dipersatukan dengan alam raya, sudah seharusnya kita hidup bersama ciptaan lainnya dan bukan malah membangun aturan sendiri yang syarat dengan kemewahan, kemegahan, kenyamanan, foya-foya dan lain sebagainya. Kita harus tahu diri sebagai makhluk yang lemah dalam segala sesuatu, lebihnya diotak saja. Apabila kita memanfaatkan mesin-mesin berteknologi secara berlebihan niscaya keberadaan minyak bumi akan menipis, kritis, krisis dan habis hingga menimbulkan konflik untuk memperebutkannya. Selalu sadari bahwa mesin & teknologi tidak selamanya ada untuk melindungi kehidupan tetapi ciptaan (makhluk) lainnya akan selalu siap mempertahankan keberadaan manusia di muka bumi ini. Jadi, mari hidup bersatu bersama dengan seluruh komponen alamiah.

  10. Perilaku manusia yang arogan, manipulatif dan serakah akan memicu bencana alam dan bencana kemanusiaan

    Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa di antara seluruh ciptaan yang ada, hanya manusialah yang diberi kebebasan untuk menempuh jalan hidupnya sendiri-sendiri. Bila kebebasan ini kita manfaatkan untuk melegalkan arogansi, alhasil sistem bermasyarakat berada di tengah ketidakadilan yang beresiko memicu iri hati dan persaingan ketat. Ketika orang-orang sudah mulai bersaing untuk memperebutkan siapa yang lebih baik maka tepat saat itu jugalah resiko perselisihan menjadi besar. Ketika semua ketegangan yang berlangsung terakumulasi dalam waktu yang cukup lama, alhasil dapat menimbulkan konflik. Ada dua jenis konflik yaitu langsung (perang dengan kata-kata, senjata) dan konflik tidak langsung (perang teknologi, kemajuan ilmu, penghasilan, gaya hidup, penemuan-penemuan).

    Saat kita tidak mampu menyatu dengan alam semesta maka dapat dipastikan bahwa hal-hal kecil yang dulunya kita sepelekan akan menjadi perusak. Air yang sangat lembut bisa berubah menjadi banjir, banjir bandang dan tanah longsor. Udara yang bahkan tidak memiliki wajah (tidak berwujud) akan menjadi perusak yang menerjang pemukiman seperti angin kencang, puting beliung, topan, tornado, badai tropis dan lain sebagainya. Matahari yang awalnya hangat meriang pada kulit-kulit akan menjadi api yang membakar hutan, menyebabkan dehidrasi tidak terkendali, gelombang panas, badai matahari dan lain-lain. Oleh karena itu, bersatulah dengan alam sekitar sehingga diberi kesempatan ke dua untuk memperbaiki apa yang dahulu sempat dirusak

Apa yang membuat manusia tidak mampu menyatu dengan alam?

Ini adalah pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab. Keberadaan manusia telah mencapai umur ribuan tahun di bumi ini tetapi masih saja berlangsung konflik bahkan peperangan dimana-mana. Tahukah anda mengapa kejadian tersebut terus saja berlangsung? Pada hakekatnya semua itu terjadi demi perebutan penguasaan akan sumber daya (energi – BBM), uang dan kekuasaan. Ketiga hal ini diciptakan dan dikembangkan oleh kekuatan ilmu pengetahuan. Ketahuilah bahwa semua potensi tersebut telah memicu tingginya rasa arogansi di dalam diri manusia. Keadaan ini berakumulasi menyebabkan praktek ketidakadilan yang terjadi di semua lini kehidupan terutama dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan, pendapatan dan kekuasaan. Ketiga power ini akan menggiring manusia ke dalam arogansi, manipulasi dan keserakahan yang menyebabkan kurugian terhadap lingkungan alamiah dan sesama manusia. Jadi sebelum ketiga kekuatan ini disetarakan maka selama itu pula manusia tidak mampu menyatu dengan alam.

KETIDAKADILAN AKAR DARI SEGALA KEJAHATAN

ketahuilah bahwa ketidakadilan karena tingginya arogansi selalu memicu iri hati dan persaingan yang berujung pada aksi manipulatif (tipu-tipu) yang akhirnya menyebabkan gelombang keserakahan.

Mari menyatu dengan alam!

TUHAN Allah Semesta Langit adalah pencipta kita, hanya satu sumber kekuatan yang menghidupi setiap dalam diri ini dan nafas/ firman yang sama telah membuat semuanya menjadi hidup berseri-seri untuk kemuliaan nama Tuhan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang dibutuhkan sudah tersedia secara alamiah di sekitar, berhntilah mengeksploitasi alam demi membangun rangkaian teknologi tinggi yang berlebihan. Justru teknologi yang lebay terkesan memanjakan, meminimkan aktivitas, melemahkan otot, menurunkan kecerdasan dan mempersempit kesadaran hingga menimbulkan ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan. Oleh karena itu, menyatulah dengan alam, biarkan makhluk hidup lain berkeriapan di sekitar, penuhi kebutuhan secara alami, ambil apa yang dibutuhkan saja dan hindari eksploitasi yang lebay. Pemanfaatan alam yang terpimpin akan mengawetkan keberadaan umat manusia dari zaman ke zaman. Ciptaan lain juga ada untuk menguji agar hidup ini semakin kuat, cerdas dan bijak dari waktu ke waktu.

Salam, mempersatukan kehidupan
diawali dari sosialisme
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.