Keluarga

+10 Bahaya Poligami, Martabat Perempuan Semakin Jatuh Dipoligami


Dampak Buruk Bahaya Poligami, Martabat Perempuan Semakin Jatuh Dipoligami

Seperti pinang dibelah dua,” demikianlah jadinya jodoh seorang manusia diumpamakan. Ada laki-laki dan perempuan, masing-masing mereka saling melengkapi satu sama lain. Sebagai sebuah pasangan sehidup-semati, demikianlah Adam dan Hawa diciptakan oleh Allah untuk berkuasa dan menaklukkan lingkungan sekitarnya. Tetapi, apa jadinya ketika pasangan tersebut diduakan, ditigakan, diempatkan dan lain sebagainya?  Sungguh makna kelengkapannya menjadi tidak seimbang sebab hanya ada satu laki-laki untuk mengimbangi dua, tiga, empat hingga lima (dan seterusnya) perempuan.

Poligami tidak masuk teori cinta apapun. Sebab cinta membutuhkan keseimbangan jumlah, dimana satu laki-laki sebanding dengan satu perempuan. Apa jadinya rumah tangga ketika satu suami disandingkan dengan dua, tiga, empat (dan seterusnya) istri? Tidak ada lagi istilah cinta sebab yang namanya jodoh itu seperti pinang dibelah dua. Pernahkah anda melihat pinang dibelah tiga, empat, lima dan seterusnya? Bahkan sampai sekarang juga yang namanya belahan jiwa (soul-mate) selalu hanya satu orang untuk satu yang lainnya (sepasang). Jika suatu hubungan dilandaskan atas nama cinta maka istilah sejiwa selalu muncul untuk meyakinkan setiap orang bahwa lawan jenis yang dihadapannya adalah jodohnya.

Poligami lebih erat kepada budaya raja-raja kuno yang notabene begitu haus akan penghormatan, pujian dan serakah terhadap hal-hal duniawi. Para raja ini juga lebih cenderung memandang kepada kehidupan hewan-hewan di sekitarnya. Mereka melihat ayam yang memiliki banyak betina-betina muda di sisinya. Memandang kepada babi yang dijadikan sebagai pejantan tangguh, dibawa kemana-mana oleh pemiliknya untuk kawin dengan babi-babi betina yang ada di rumah tetangga yang jauh maupun dekat. Menatap kehidupan raja singa yang membawahi beberapa betina untuk melayaninya. Tidak ada hewan yang hidup sepasang-sepasang di alam liar kecuali merpati. Jadi jelaslah bahwa perilaku poligami ditiru dari hewan.

Bagi anda yang percaya bahwa memiliki banyak istri itu baik, silahkan diembat semuanya dan semampunya. Tetapi tugas kami di sini adalah mengingatkan para perempuan agar tidak mau diduakan oleh lelaki manapun. Sebab resikonya sangatlah besar dimana yang pertama-tama akan anda rasakan adalah harkat dan martabat sebagai istri bisa diinjak-injak oleh suami. Kami akan menjelaskan hal tersebut pada poin selanjutnya bagaimana pola-pola penindasan itu bisa terjadi secara halus tetapi anda sebagai Ibu Rumah Tangga menjadi tak berdaya (tak bisa berbuat apa-apa) saat menghadapinya. Bagi Ibu-Ibu yang sudah terlanjur dipoligami, yah mau bagaimana lagi, jalani saja hidup ini dengan penuh rasa syukur sekalipun rasanya agak sepet ketika cinta itu dibagi-bagi.

Pengertian

Poligami adalah  sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan (KBBI Luring). Bagi kami sendiri praktek ini adalah salah satu bentuk ketamakan manusia yang disebabkan oleh karena ketidaksetaraan kekuatan (pengetahuan, pendapatan, kekuasaan) sehingga membuatnya merasa berhak memiliki lebih banyak pendamping ketimbang orang lain (arogansi). Ada pendapat yang mengatakan “Realitas kehidupan perempuan yang dipoligami cenderung lebih banyak mengalami kekerasan daripada kebahagiaan.”  Demikian Prof Tri Lisiani mengatakan seperti yang dikutip detikcom dari pidato pengukuhan guru besar hukum perdata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah (20/11/2013 – sumber Detik Com).

Bahaya poligami bagi kehidupan berumah tangga (utamanya bagi perempuan)

Bila kita belajar lebih teliti secara alamiah, apakah berpoligami itu baik adanya? Mari sedikit imajinasi anda kami bawa untuk melihat kehidupan hewan-hewan liar di alam rimba. Atau jangan jauh-jauhlah ke hutan belantara tetapi mari lihat ke belakang rumah, tepat dimana ayam-ayam dipelihara dalam kandangnya atau boleh juga dibiarkan hidup bebas. Perhatikan kehidupan para penjantan, bagaimana mereka memperoleh betina-betinanya. Ya, mereka memperolehnya lewat pertarungan yang sengit dengan pejantan lain.  Ketahuilah bahwa demikianlah semua hewan memperoleh pasangannya di padang belantara. Berikut selengkapnya dampak negatif dari praktek memiliki banyak istri.

  1. Suami adalah raja – antikesetaraan.

    Sama seperti jaman dahulu ketika para raja berkuasa, mereka menempatkan dirinya lebih tinggi di atas orang lain. Para raja yang serakah ini memang memiliki hak dan wewenang yang lebih luas dan bebas untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak hatinya.

    Satu dibanding dua, tiga, empat, lima (dan seterusnya), menandakan kehidupan rumah tangga yang tidak saling berimbang. Kesetaraan itu hanya akan menjadi mimpi sebab raja selalu lebih berkuasa dari yang lain-lainnya itu.

  2. Suami menjadi arogan – sombong.

    Seorang laki-laki yang memperistri banyak perempuan, memiliki rasa bangga yang kental dalam dirinya. Seolah dia memiliki dayang-dayang yang selalu siap untuk melakukan apa yang diperintahkannya tanpa berkompromi terlebih dahulu. Tentu saja sikap yang arogan ini turut menghasilkan berbagai perilaku buruk lain, seperti yang akan kami bahas pada poin berikutnya.

  3. Suami menjadi pilih kasih.

    Sadarilah bahwa pada hakekatnya manusia tidak mampu mendua, sebab jika dia mengasihi yang satu maka akan membenci yang lain. Sedangkan istri yang disayang-sayang itu akan semakin elok lakunya karena diperhatikan terus. Tetapi istri yang kurang disayang itu akan semakin merasa diri tersisih sehingga sikapnya juga tidak akan dielok-elokkannya sebab perhatian yang diberikan kepadanya terlalu sedikit.

    Wujud nyata cinta adalah perhatian saat istri diperhatikan niscaya semakin lengket tetapi saat yang lainnya kurang diperhatikan alhasil sifatnya juga semakin acuh terhadap suami. Sehingga dari sinilah berawal yang namanya pilih-pilih kasih yang merupakan salah satu resiko dari praktek poligami.

  4. Semua keinginan suami harus dituruti.

    Ini juga menjadi suatu masalah serius yang kelak dihadapi oleh istri ketika ada istri lain yang menjadi rivalnya. Apapun keinginan suaminya pasti akan dituruti sebab jika tidak dituruti maka sisuami akan hijrah ke istri mudanya. Seolah-olah si Ayah bisa mengancam Ibu, “nggak mau nurut yang saya perintahkan? Ya wes, selamat tinggal, urus diri sendiri, saya punya istri lain kok!”

  5. Suami lebih mudah mengendalikan istri.

    Kekuatan ancaman ketika ada saingan itu hebat lho teman…. Suami bisa dengan mudah mengendalikan istrinya, disuruh ngapa-ngapain juga mau saja. Sebab “awas lho – awas, tak tinggal baru tahu rasa!” 😀 😀 😀

  6. Suami bertindak semena-mena.

    Ketika seorang suami memiliki kemampuan sepenuhnya (totalitas) untuk mengendalikan istri-istrinya, niscaya dia perintahkan melakukan apa saja pasti mau tuh…. Padahal kita sudah tahu ya bahwa kekuasaan yang terlalu besar macam ini rawan dengan praktek penyimpangan. Mungkin saja istrinya bisa disuruh-suruh untuk melakukan hal yang absurd, jahat dan tidak masuk akal termasuk dalam hal ini adalah kekerasan seksual.

  7. Suami tidak suka mendengar masukan/ saran sang Istri.

    Jelas sekali bahwa sikap diktator akan berkembang dengan baik dalam keluarga yang berpoligami. Sebab hanya ada satu daging yang diperebutkan oleh dua, tiga, empat (dan lebih lagi). Mereka yang berebut daging ini pasti akan mau-mau saja disuruh melakukan apapun asalkan dijatahin. Sedangkan masukan/ sarannya ketika suatu peristiwa terjadi cenderung tidak ada dan tidak mau didengarkan oleh penguasa daging. Sebab mereka terlena dan terbuai untuk berebut daging sehingga hal-hal lainnya tidak akan dipikirkannya/ tidak dipedulikan lagi; istilahnya “yang penting dapat daging!” 😀 😀 😀

  8. Istri tidak bisa bermanja-manja.

    Pastinya kalau seorang istri tunggal ingin dibelikan ini atau ingin dibelikan itu oleh yayangnya, nggak dituruti, ada acara ngambek terus bisa saja nggak mau cakapan berhari-hari. Tetapi ketika seorang istri ganda melakukan gaya-gaya ngambek gitu, pastilah suami dengan mudahnya minggat ke istri lain sampai mengkeknya hilang ditelan bumi. Artinya, posisi tawar istri tidak setara dengan suami – istri tidak berdaya untuk mengancam tetapi suaminya semakin leluasa memberi ancaman.

  9. Istri bisa saja (beresiko) dimadu.

    Jika saja istri ganda ini sikapnya terlalu keras kepala kepada sang junjungan maha mulia terhormat dan terpuji raja suami tercinta, dengan mudahnya raja akan berbalik lengket dengan yayang lainnya. Sambil-sambil juga tuh yayang mudanya dimanja-manjain di depan, biar sekalian si old women tau diri, siapa yang berkuasa di sini. wkwkwkkkkk 😀 😀 😀

  10. Istri tidak bebas di rumahnya sendiri.

    Rasanya nyesek sampai nyungsep saat diduakan oleh orang lain. Bagaimana coba saat keduanya/ ketiganya/ keempatnya (dan seterusnya) berada dalam satu rumah? Apa rasanya nggak terlalu sempit itu rumah, saat mau kemana-mana ketemu dengan saingannya?

    Jadi, bisa dikatakan bahwa lebih baik saat istrinya banyak dibeliin rumah satu-satu, apabila semuanya berada dalam satu atap niscaya rasa bebasnya terenggut total. Sebab satu orang itu seleranya berbeda-beda, hobinya berbeda-beda dan gayanya juga beda.

  11. Iri hati yang berujung persaingan.

    Orang yang bersaudara kandung saja pasti ada yang namanya iri hati, apalagi jika orang yang tidak bersaudara disatukan di dalam rumah yang sama, yakin tidak saling mendengki? Silahkan saja coba berpoligami jika memang yakin bahwa rasa cemburu antara istri yang banyak tidak akan timbul. Tetapi tunggu dulu, akibatnya ditanggung seumur hidup lho….!

    Iri hati adalah tabiat dasar manusia, ketika ada orang lain yang menyaingi posisi seseorang maka rasa cemburu itu akan membuatnya berusaha agar tampil lebih baik dari rivalnya. Usaha-usaha untuk menjadi lebih baik inilah yang sebenarnya berkembang pesat di antara para istri hanya tidak diungkapkan secara langsung karena segan dengan junjungan maha mulia raja yang agung dan perkasa, suami tercinta. 😀 😀 😀

  12. Konflik panjang atau pendek.

    Pemaduan di dalam rumah tangga mungkin awalnya terkesan baik-baik saja. Tetapi siapa yang tahu setelah beberapa waktu lamanya, semua itu akan berubah drastis? Diperlakukan tidak adil itu memang menyakitkan. Jika anda sebagai perempuan sudah siap untuk menanggungnya, silahkan lanjutkan rencana itu!

Kali ini tulisan kami lebih banyak lawaknya ya. Sebab kami hanya kasihan saja membayangkan nasib seorang istri yang diduakan/ ditigakan/ diempatkan (dan seterusnya) oleh suaminya. Sangat memprihatinkan penampakan seputar memiliki banyak pasangan hidup sebab dengan demikian yang tunggal memiliki posisi yang lebih tinggi daripada yang banyak. Suami menjadi bahan rebutan istri-istrinya sehingga dengan mudahnya si Ayah ini menyusahkan mereka (secara halus) sesuka hatinya. Orang yang saingannya banyak pasti harganya diobral menjadi “tiga seribu atau beli satu dapat tiga” 😀 😀 😀 sungguh kasihan sekali nasib seorang istri yang diposisikan tidak setara dengan suaminya. Mereka akan menjadi korban perlakuan kasar yang berada dalam posisi terancam kalau-kalau dirinya buka mulut (mengadu) tentang keluarga yang kurang bahagia atau kurang yang lain-lainnya. Si suami dapat dengan mudah mengendalikan istri yang sudah dimadu sesuka hatinya.

Salam, hai wanita jangan mau dipermadukan,
jadilah perempuan cerdas lagi bijak
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.