Ekonomi

+10 Bahaya MLM Adalah Penipu – Sistem Pemasaran Berjenjang Beresiko Tinggi, Sama Seperti Membungakan Uang


Bahaya MLM Adalah Penipu – Sistem Pemasaran Berjenjang Beresiko Tinggi, Sama Seperti Membungakan Uang

Semua orang berjuang untuk mencari uang. Terlebih ketika benih-benih keserakahan di dalam hati sudah duluan ada, alhasil peperangan sekalipun akan ditempuh demi terwujudnya hal yang diiming-imingkan. Bukan kita tidak butuh uang sama sekali, melainkan yang kami maksudkan di sini adalah mengendalikan hawa nafsu terhadap kertas ajaib tersebut. Anda harusnya memahami bahwa kesenangan yang diberikan oleh komuditas barang dan jasa yang dimilikinya hanya berlangsung sesaat saja. Daripada mengejar terlalu keras tetapi nggak sampai-sampai, alangkah lebih baik jikalau anda melakukannya dengan santai sambil fokus kepada Tuhan, mempelajari hal yang positif dan menyelesaikan pekerjaan.

Beginilah jadinya sistem yang tidak menjaga keadilan sosial, masing-masing berlomba untuk meraih uang yang lebih banyak sekalipun menghalalkan segala cara. Sebab rasa arogan dalam hati menjadi pendorong yang memberi tenaga untuk membuat jalan baru yang lebih singkat untuk menjadi kaya-raya. Jalan semacam ini beresiko tinggi menuju ke alam baka karena terlalu melebar yang membuat setiap orang yang ada di dalamnya bebas bebuat apa saja. Mereka lantas menempuh cara-cara instan yang kotor semata-mata demi rupiah yang tidak ternilai harganya. Sedang jalan yang menuju kepada kebenaran juga tidak ada, tidak ada yang memberi mereka pekerjaan di tempat lain, sehingga dengan terpaksa terjebak di dalam dosa yang disengaja.

Semua orang ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini. Salah satu syarat untuk itu adalah bekerja agar bisa memperoleh uang. Nah…, sekarang masalahnya tidak ada orang yang memperkerjakan mereka sebab uang telah ditumpuk dalam tangan dua-tiga orang kapitalis saja. Saat beberapa orang semakin kaya raya, segelongan pihak tidak mendapatkan penghidupan yang layak oleh karena berbagai himpitan ekonomi. Keadaan ini jelas akan meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan sehingga barang dan jasa juga kurang laku di wilayah tersebut. Artinya, perkembangan usaha masyarakat di daerah tersebut tidak berjalan dengan lancar dikarenakan keserakahan oknum kapitalis terhadap sumber daya (uang) yang tersedia.

Ditengah kondisi ekonomi yang labil dimana tingkat ketidakadilan sangat tinggi di dalam masyarakat. Mudah sekali untuk membangkitkan persaingan di antara manusia. Sebab rasa cemburu yang besar itu kelihatan dengan jelas di depan mata manusia akibatnya rasa inilah yang kerap kali dibangkitkan secara sengaja oleh oleh mentor yang menjadi pembicara. Mereka menampilkan dirinya sebagai orang yang telah lebih dahulu sukses, mengumbar betapa hebatnya dia dan memamerkan rasa bahagia di depan seluruh pemirsa yang baru diprospek. Anggota baru ini akan di doktrin dengan berbagai-bagai sugesti materialisme. Bisa dipastikan bahwa anak baru yang juga tergila-gila dengan uang akan turut mengiyakan setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh mentornya.

Pengertian sistem pemasaran berjenjang (Multi level marketing)

Sistem pemasaran berjenjang adalah sistem penjualan dimana sales tidak hanya memperoleh keuntungan dari barang & jasa yang dijual melainkan keuntungannya diperoleh dari setiap anggota baru yang berhasil dibawa masuk untuk bergabung. Jika pedagang eceran, toko dan swalayan menjual produknya langsung kepada konsumen dimana untung yang diperoleh hanya untuk pemiliknya saja. Tetapi jika bisnis anda bergerak di bidang MLM maka keuntungan dari hasil penjualan dirasakan marketing lainnya hingga ke jenjang atas. Akibatnya, harga barang yang anda tawarkan kepada konsumen sangat-sangat tinggi. Jika saja produk tersebut dijual secara eceran biasa niscaya harganya tidak semahal itu.

Dua jenis multi level marketing

Bisnis pemasaran berantai ini terdiri dari dua macam, ada yang menawarkan barang tertentu dan ada pula yang sifatnya asli tok penghasilannya diperoleh dari anggota baru yang berhasil direkrut. Bisnis MLM yang menawarkan barang tertentu masih logis untuk dipandang sebagai sebuah penghasilan yang berkelanjutan asalkan konsumen tetap membeli barang. Tetapi bisnis MLM yang jelas-jelas tidak menawarkan apa-apa tetapi hanya keanggotaan saja yang dibayar dengan sejumlah uang tunai yang cukup besar adalah yang paling tidak masuk akal. Mereka yang berkecimpung pada model multi level marketing tipe ke dua tidak memiliki sumber daya yang sifatnya berkelanjutan, satu-satunya cara untuk menghasilkan uang adalah dengan merekrut member  (anggota) baru.

Dampak negatif multi level marketing

Saat menjual sesuatu kepada orang lain dengan harga lebih mahal dari harga yang kita keluarkan saat membelinya, sudah termasuk dalam praktek penipuan. Kita tidak memahami bahwa sesungguhnya mengambil untung kecil itu juga salah, apalagi orang yang melakukan MLM dimana keuntungan yang diperoleh adalah berlipat kali ganda dari harga barang sesungguhnya. Oleh karena itu, kami sarankan kepada siapapun anda yang cenderung gemar melakukan bisnis semacam ini agar segera menghentikannya karena benar-benar tidak halal. Berikut beberapa alasan mengapa bisnis MLM sangatlah berbahaya untuk dihidupi.

  1. Menipu Langsung makmur (MLM) adalah bisnis yang penuh tipu muslihat.

    Penipuan pertama yang dilakukan pengusaha yang bergerak dalam multi level marketing adalah dalam hal harga barang. Oleh karena oknum marketing yang mendapatkan keuntungan tidak hanya penjualnya saja, melainkan sampai beberapa tingkat di atasnya bahkan distributornya juga turut mendapatkannya yang membuat harganya tidak lagi jujur. Keuntungan yang didapatkan tidak lagi 1-2% dari harga barang melainkan keuntungannya bisa-bisa berkali lipat dari harga barang yang sebenarnya. Ini jelas namanya membungaka uang dan termasuk dosa hanya dibalut oleh bahasa yang keren, Menipu langsung makmur.

    Penipuan kedua pihak multi level marketing adalah iming-iming kekayaan yang selalu ditawarkan kepada anggota-anggota baru. Terlebih ketika para pemimpinnya memberikan motivasi kepada seluruh anggota tim, disinilah berbagai-bagai kebohongan itu diumbar sebanyak-banyaknya. Padahal, untuk mencapai posisi dimaksud membutuhkan keanggotaan yang mencapai ribuan orang. Sadarilah bahwa seminar yang mereka adakan semata-mata untuk membuat member baru semakin gencar melakukan prospek. Padahal keuntungan terbesar dari setiap penjualan produk dinikmati oleh distributor atau direktur atau pemimpinnya.

  2. Harga barang lebih tinggi dari harga aslinya.

    Konsumen yang cerdas tidak akan membeli barang secara MLM sebab harganya lipat kali ganda daripada yang dijual secara eceran. Sebab saat anda adalah seorang marketing yang terjebak dalam bisnis tersebut, ketahuilah bahwa keuntungan yang diperoleh tidak dinikmati sendiri melainkan semuanya dibagikan menurut aturan perusahaan. Bila sebenarnya produk yang dijual adalah berharga sangat ekonomis tetapi dengan adanya sistem penjualan berjenjang, membuat harga barang melambung tinggi sehingga untuk menawarkannya kepada orang biasa (masyarakat ekonomi menengah ke bawah) cenderung mustahil.

  3. Hanya mampu diperjual-belikan kepada kalangan menengah ke atas.

    Bisnis semacam ini memang bisa lancar jika kita memiliki banyak kenalan dari keluarga menengah ke atas. Sebab harga produk yang mereka tetapkan sangatlah tinggi dibandingkan harga prodak yang sama di pasaran. Semakin banyak teman-teman anda yang sudah sejahtera maka akan semakin laris prodak itu (mungkin). Tetapi saat barang-barang mahal yang katanya eksklusif tersebut tentu saja tidak akan laku bila dijual kepada masyarakat dengan ekonomi pas-pasan yang tersebar diberbagai pedesan. Artinya, produk yang kita pasarkan dengan sistem MLM hanya bisa diterapkan di kota-kota saja, mustahil memasuki daerah pinggiran yang kumuh.

  4. Sama saja dengan memperalat orang lain.

    Dampak negatif berikutnya dari bisnis penjualan berantai ini adalah “seperti memperbudak orang lain.” Artinya, ketika level anda sudah mencapai posisi tinggi atau bintang bagus, dimampukan untuk berhenti bekerja dan duduk-tidur saja di rumah sembari menunggu para anak baru di level bawah melakukan prospek kepada orang lain. Sebab sudah secara otomatis, setiap penjualan yang dilakukan oleh satu anak baru untungnya masuk ke anda. Terlebih ketika penjual anakan di bawah anda cukup banyak, tinggal dimotivasi saja mereka, disuruh ikut seminar, ditraktir dan lain sebagainya. Pendeknya, untuk menggenjot penjualan maka yang perlu ditekan habis-habisan adalah penjual yang berafiliasi dibawahmu.

  5. Sama saja dengan malakin orang.

    Bila preman pasar malakin pedagang kaki lima yang suka berdagang dengan muka yang sangar, kejam dan beringas. Ketahuilah bahwa bisnil MLM juga menjadi alat untuk malakin orang-orang yang berhasil anda rekrut, hanya saja dipalak dengan cara-cara halus. Dipikir berulang kalipun, modus memalak itu sudah tertanam di dasar sistem penjualan berjenjang ini. Sebab memasang harga yang terlalu tinggi dari harga barang aslinya semata-mata agar tukang sales di atasnya dan di atasnya lagi sekaligus distributornya (manajer) mendapatkan jatah. Bukankah sikap ambil jatah semacam ini sama seperti preman pasar? Hanya lebih halus saja….

  6. Kita dicap sebagai tukang prospek – orang lain agak gimana gitu.

    Saat anda terlalu menghidupi produk MLM, alhasil setiap ketemu orang baru langsung diprospek. Saat bertemu dengan saudara buru-buru diprospek, kalau ada yang keras kepala, diprospek terus dan terus. Banyak orang yang cenderung mengenali muka kita sebagai tukang prospek. Sehingga beberapa dari mereka akan merasa ilfil dengan kehadiran kita di sekitar.

  7. Bisnis yang tidak memiliki sumber daya yang nyata.

    Ini adalah jenis bisnis Multi level marketing yang tidak menawarkan barang apapun. Keanggotaan hanya didasarkan kepada sejumlah uang yang ditawarkan ketika seseorang baru pertama mendaftar. Satu-satunya yang membuat mereka beroleh keuntungan adalah dengan menemukan lebih banyak anggota baru. Sumber penghasilan mereka berpusat agar semua penjuallnya gencar melakukan prospek dimanapun, kapanpun dan apapun yang sedang terjadi. Untuk mewujudkan hal tersebut maka seminar motivasi yang yang syarat tipu-tipu semakin gencar dilakukan agar para seller semakin giat bekerja.

  8. Usaha yang sangat menekankan kepada arogansi (ego).

    Sistem pemasaran berjenjang merupakan sangat menekankan substansi usaha yang yang berusaha memanas-manaskan arogansi di dalam hati setiap anggotanya. Mereka akan berkata “anda mampu menjadi orang seperti saya, berjuanglah dan raih itu tepat di depanmu.” Rasa ingin lebih baik seperti ini memang selalu ada dalam hati manusia dan dimanfaatkan oleh manusia lainnya . Arogansi semacam ini jugalah yang dimanfaatkan oleh team leader agar semkin gencar melakukan prospek kepada siapapun.

  9. Menggiring manusia pada budaya materialisme.

    Seorang mentor sekaligus senior akan menyemangati rekan-rekan di bawahnya dengan memberi mereka iming-iming tentang kekayaan dan kemewahan hidup. Para pendatang baru akan diajak dalam taburan janji-janji manis agar mereka gencar mencari pelanggan. Semua kemewahan dan kemegahan hidup yang dikecap oleh manajer akan dihamparkan untuk memicu rasa iri hati sehingga kecemburuan akan menjadi penyemangat yang membuat mereka bekerja ekstra keras. Budaya ini biasanya membuat seseorang menjadi konsumtif semata-mata untuk memuaskan hati kepada kemewahan hidup.

  10. Mengarahkan seseorang pada praktek penjualan yang menyimpang.

    Hal ini umumnya akan dirasakan oleh marketing lapangan yang sehari-harinya masuk ke kantor dan rumah penduduk. Mereka akan melakukan apa saja agar seseorang mau mendaftar sebagai pelanggan tetap terhadap produk tersebut. Apa saja dalam hal ini adalah termasuk memelas (meminta belas kasihan) dan menakuti (menggertak) hingga mau-mau saja disuruh melakukan ini itu oleh sang pelanggan yang terhormat.

  11. Uang datang cepat, pasti habisnya juga cepat.

    Segala sesuatu yang diawali dengan instan pastilah akan berakhir dengan sangat cepat, sampai-sampai anda sendiri tidak menyadari hal tersebut. Dari yang kami ketahui, pemasukan jutaan rupiah, bisa raib begitu saja (dalam sekejap/ dalam semalam). Inilah bukti konkrit bahwa uang yang diperoleh secara tidak halal, tidak akan tenang di tangan. Hasil dosa itu tidak akan betah di sisimu melainkan cenderung dibelanjakan untuk keperluan ini dan itu yang sebenarnya tidak penting.

  12. Sekali terjerumus, sulit ditinggalkan.

    Ada orang yang terlanjut memasuki bisnis MLM yang sumber dayanya nihil (tidak ada barang yang diperjual-belikan), dimana satu-satunya penghasilan adalah dengan bertambahnya anggota baru. Mereka yang sudah terlanjut masuk di awal-awal susah untuk keluar sebab modal yang besar sudah terlanjur dikeluarkan. Padahal anggota yang telah dia rekrut masih sangat sedikit jumlahnya.

    Beberapa yang lainnya dalam bisnis ini sulit untuk meninggalkannya karena tidak ada pekerjaan lain yang rasanya lebih nyaman. Lagipula sikawan tersebut sudah terlanjur tergiur dengan budaya bermewah-mewahan dan berfoya-foya. Gaya hidup yang sudah terlanjur glamour membuat manusia sulit beranjak keluar dari kebiasaan menipu orang lain. Bisnis MLM ini seolah-olah sudah membuatnya senang walau dengan cara memeras dan memanipulasi orang-orang yang ada di sekitarnya.

  13. Membuat rasa bersalah.

    Dosa ya tetap dosa, Sistem pemasaran multi level marketing syarat dengan membungakan uang. Sebab harga barang yang dijual lebih tinggi dari harga yang sebenarnya. Bisa jadi harga suatu produk telah dilipatgandakan (berkali-kali) demi menyuplai tagihan dari marketing lainnya. Orang yang menyadari keadaan ini pastilah akan segera meninggalkan sistem penjualan Multi Level Marketing (MLM) sebab tidak ada manusia yang rela masuk neraka selamanya hanya demi kesenangan sesaat selama masih hidup di bumi.

  14. Menimbulkan stres berkepanjangan.

    Kita sering sekali berada dalam posisi stres karena ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Ketika kita begitu terpesona dengan gaya motivator yang sangat menjanjikan kemakmuran di balik kerja keras, ada kecenderungan harapan dalam hati meninggi. Tetapi kenyataannya adalah bisnis yang sama telah banyak digeluti oleh pengusaha lainnya sehingga bintang/ peringkat/ level kita tetap segitu-gitu saja padahal sudah berjuang mati-matian selama beberapa bulan. Keadaan yang tidak seimbang ini bila tidak dimaklumi sambil bersyukur, alhasil akan membuat pikiran stres.Oleh karena itu, berhati-hatilah saat berharap kawanku.

  15. Merugikan orang lain, lingkungan sekitar dan diri sendiri.

    Secara tidak langsung, bisnis MLM yang disertai dengan perbuatan menyimpang cenderung menyebabkan kerugian bagi orang lain. Terlebih ketika seorang marketing mendesak-desak konsumen untuk membeli produknya. Padahal costomer tidak membutuhkan produk yang anda pasarkan. Mereka mengeluarkan uang sekedar pemborosan yang beresiko mengganggu tabungan masa depan anda.

    Saat anda meng-handle suatu produk yang melibatkan penjualan multi level marketing, secara tidak langsung anda juga adalah konsumen yang memakai barang tersebut. Padahal barang-barang tersebut belum tentu anda butuhkan tetapi demi meraih poin/ bintang/ level tertentu, tetap juga dikonsumsi. Keadaan ini secara tidak langsung meningkatkan pemakaian uang yang seharusnya dapat ditabung untuk pendidikan anak malah dibuang-buang untuk suatu prodak dengan manfaat entah berantah.

    Budaya konsumtif yang syarat dengan hidup bermewah-mewahan merupakan ancaman serius yang merusak lingkungan: meningkatkan jumlah polutan dan menambah volume sampah. Apabila ini terus berlanjut selama bertahun-tahun, besar kemungkinan kerusakan lingkungan semakin parah saja.

  16. Menurunnya kecerdasan dan pengendalian diri.

    Orang yang sudah mencapai grade tinggi dalam dunia MLM lebih banyak menghabiskan harinya sambil duduk, senang dan menikmati hidup. Keadaan ini berujung pada menurunnya tingkat kecerdasan yang diiringi dengan jatuhnya kesadaran seseorang. Jadi bisa dikatakan bahwa oleh karena minimnya aktivitas para tuan tanah yang berpangkat tinggi tetapi aktivitas rendah, mereka akan lebih susah meraih kebahagiaan. Sekalipun wajah mereka terlihat bersahabat tetapi hal-hal sepele saja sudah bisa mengganggu kehidupannya, membuat emosinya labil, marah-marah bahkan kekerasan menyertai perilakunya bagaikan “hewan yang lepas kendali, membabi buta dan menyerang siapa saja.”

  17. Bencana alam dan bencana kemanusiaan.

    Semakin banyak orang yang melakukan bisnis multi level marketing maka semakin tinggi sikap konsumerisme. Orang-orang semakin doyan membeli dan menggunakan sesuatu semata-mata demi meningkatkan levelnya pada tingkat yang setinggi-tingginya. Sedangkan para pemimpinnya yang dilimpahi keuntungan oleh karena kerja keras prajurit lapangan hidup dalam kesenganan, kemewahan dan kenyamanan luar biasa. Mereka lantas memanfaatkan uang yang diperoleh untuk membeli berbagai barang yang indah-indah dan mesin-mesin berteknologi tinggi (peralatan elektronik rumahan dan kendaraan pribadi yang berkelas).

    Semua tentang budaya materialisme hanya membawa sistem bermasyarakat ke dalam kehancuran. Semakin banyak orang yang berprofesi sebagai MLM, semakin tinggi kerusakan lingkungan dan semakin besar resiko terjadinya berbagai bencana alam. Mulai dari angin kencang, banjir, banjir bandang, longsor, topan, tornado, badai tropis, gempa bumi, gunung meletus, gelombang panas dan badai matahari. Sedang di lain pihak, muncullah berbagai masalah krisis energi yang menyebabkan kelaparan, penyakit dan peperangan (langsung maupun tidak langsung).

Multi Level Marketing benar-benar sebuah bencana ekonomi laten jika terus-menerus dibiarkan berkembang merambah seluruh penduduk dari waktu ke waktu. Pembagian keuntungan semacam ini juga sangatlah rentan dengan ketidakadilan sebab saat pangkat anda sudah berada di atas angin, pekerjaan tinggal duduk saja menunggu penen raya yang dilaksanakan oleh petugas lapangan. Orang yang sudah berada di level tertinggi cenderung sangat makmur kehidupannya sedangkan mereka yang benar-benar baru memulai hanya akan menjadi objek eksploitasi dari sikap konsumtif. Pada akhirnya, aktivitas ekonomi yang menggambarkan kelebihan muatan semacam ini berpotensi besar menyebabkan pemborosan sumber daya oleh pihak tertentu. Ujung-ujungnya, kerusakan lingkungan menyebabkan bencana alam dan menipisnya sumber daya menyebabkan krisis energi hingga bencana kemanusiaan.

Salam, sistem penjualan berantai awal bencana!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s