Kecerdasan Manusia

10 Alasan Manusia Ditipu Oleh Indra – Kapitalis Indranya Lebih Aktif, Sosialis Hatinya Lebih Kuat


Alasan Manusia Ditipu Oleh Indra

Indra dan hati seperti hilir dan hulu. Air dari dari hilir tidak pernah menuju ke hulu demikian juga seharusnya apa yang terjadi di indra tidak akan pernah bisa mempengaruhi pikiran manusia. Tetapi di dalam banyak kondisi, hati manusia terlalu lemah sehingga sedikit saja godaan pada indra sudah bisa menggalaukan seluruh kehidupannya. Orang yang telah kehilangan kemampuan untuk mengendalikan hidupnya lebih cenderung dikuasai dan diatur sepenuhnya oleh informasi yang terdapat di indranya. Padahal, apa yang sedang berlangsung di sana hanyalah hal-hal yang sementara saja, tidak butuh lama dan semuanya berakhir. Rata-rata harus dibeli lagi agar dapat dinikmati kembali.

Otak adalah pengendali tetapi hati yang lemah rentan stres

Pikiran manusia adalah hulu segala informasi yang mengairi kehidupannya. Bila air yang terdapat di hulu jernih dan bersih, tentulah yang menuju hilir juga bersih dan jernih. Ketika pikiran baik, tentulah perkataan dan tindakan juga baik adanya. Sedangkan hal-hal yang termuat di indra adalah godaan yang senantiasa mencoba mempengaruhi kehidupan anda ke arah yang lebih buruk. Sebab ketika kita terlalu mengeksploitasi kenikmatan mata melihat, telinga mendengar, hidung membaui, kulit merabai dan lidah mengecap, tubuh tidak akan mampu lagi bertahan dari stres berat. Silahkan nonton televisi lebih dari dua jam atau konsumsi makanan sebanyak-banyaknya; kira-kira apa yang akan terjadi? Itulah salah satu contoh stres yang berujung pada penyakit fisik dan mental.

Kunci mengantisipasi godaan indra : FOKUS

Indra adalah suatu masukan yang membantu mendorong agar sebisa mungkin sebuah informasi bisa merasuki otak, entah informasi tersebut baik atau buruk. Ketahuilah bahwa anda memiliki wewenang penuh untuk menolak berbagai pengaruh yang ditimbulkan orang lain untuk mengganggu pikiran, tepatnya seluruh kehidupan ini. Kuasa tersebut sudah sepenuhnya berada di bawah kendali masing-masing orang. Sekarang, masalahnya adalah apakah anda telah mengembangkan seutuhnya hal tersebut sehingga secara totalitas bisa mengontrol pengaruh gangguan yang datangnya dari panca indra. Kemampuan tersebut tidak lain dan tidak bukan merupakan kesanggupan untuk berkonsentrasi.

Pedoman singkat mengatasi gangguan pada panca indra

Ada banyak berhala yang dipindai oleh indra, semuanya itu bertujuan untuk mencoba mengganggu bahkan merusak suasana hati anda. Apa tindakan selanjutnya yang akan anda tempuh? Membiarkan suasana hati berubah menjadi kesal atau memilih untuk (a) berdamai, (b) tidak melawan, (c) melepaskan kemenangan kepada mereka dan (d) terus bersyukur bahwa semuanya itu telah ada untuk melatih kesabaran menjadi lebih tangguh dari waktu ke waktu. (e) Selanjutnya yang perlu anda lakukan adalah melakukan aktivitas positif fokus kepada Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian), mempelajari hal-hal yang baik dan mengerjakan tanggung jawab yang dipercayakan kepada anda.

Faktor penyebab manusia diakali oleh indranya

Pikiran adalah pusat kehidupan seorang manusia, di sanalah terdapat pusat kendali segala sesuatu. Saat seseorang melakukan kesalahan, terjerumus dalam dosa, pengaruh utama di dominasi oleh otak sendiri. Orang yang pikirannya bisa dikacangi oleh kenikmatan dan kemuliaan duniawi telah jatuh dalam pelanggaran yang besar sampai kecil. Sebab sekali terjerembab dalam hal-hal duniawi, resiko menjadi ketergantungan jelas sangat tinggi. Apabila keadaan ini terus berlanjut, pastilah kehidupan akan selalu mengarah kepada hal-hal negatif. Oleh karena itu, jangan pernah mau sedikitpun tertipu oleh panca indra sendiri.

Berikut ini akan kami ulas lebih lengkap tentang penyebab manusia bisa dibohongi oleh indranya sendiri.

  1. Otak lemah, aliran informasi dari indra ke otak.

    Ketahulah saudaraku bahwa sekalipun panca indra ada banyak, tetap saja otak lebih berkuasa atasnya. Sebab aturannya adalah yang berada di hulu OTAK jadi secara otoritas pasti yang menjadi pengendali adalah akal sehat masing-masing orang. Tetapi, apa masalahnya, mengapa hati melemah saat digoda oleh hal-hal duniawi? Masalahnya adalah kita tidak mengasah kemampuan berpikir karena harta yang melimpah-limpah, hari-hari hidup lebih banyak dihabiskan untuk menikmati ini-itu. Posisi akal sehat saat menikmati materi dan kemuliaan adalah KOSONG yang lama-kelamaan akan menyebabkan menurunnya tingkat kecerdasan seseorang. Bisa dipastikan bahwa lambat-laun kehidupannya akan melemah sehingga mudah tersandung oleh tipuan kecil.

  2. Keinginan, otak dibius oleh hawa nafsu.

    Bagaimana bisa suspensi yang lebih berdaulat dan berkuasa bisa goyah oleh pengaruh gemerlapan duniawi yang sesungguhnya hanya sesaat saja? Ketelodoran ini ditimbulkan oleh hawa nafsu sendiri yang telah terlebih dahulu meradang lalu mengarah pada hal-hal tertentu. Misalnya, si anu sangat menginginkan A tetapi tidak pernah terwujud karena keterbatasnnya pada hal-hal tertentu. Begitu ada orang yang menawarkannya A langsung saja tergiur dengan tawaran tersebut sekalipun hanya bagian dari modus penipuan. Karena kita terlalu menginginkan sesuatu, dengan mudahnya orang lain bisa menghipnotis kita dengan hal-hal tersebut.

  3. Tidak menyadari bahwa yang dicitrakan penuh ilusi.

    Mengapa kami mengatakan bahwa panca indra manusia dipenuhi oleh ilusi? Sadarilah bahwa seindah apapun hal-hal duniawi yang dinikmati saat ini, semua itu hanyalah sementara saja. Sifatnya yang sementara inilah yang membuat kenikmatan indra hanyalah ilusi, saat dipuji orang – 3 detik, makan – 15 menit, beli baju baru – 3 hari, beli smartphone baru – 3 bulan dan seterusnya. Setelah waktu yang kami sebutkan itu berlalu maka semuanya akan menjadi biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa.

  4. Rasa di indra bisa hilang.

    Mereka yang terlalu memfokuskan pikiran kepada indranya lebih terbuai oleh hal-hal duniawi. Orang-orang semacam ini ditandai dengan aktivaitas positif (fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja) yang sangan rendah. Akibatnya, hidupnya lebih fokus untuk berburu tawaran hal-hal materi daripada beraktivitas memberi manfaat kepada Penciptanya dan sesama manusia lainya. Ia sendiri hendak menambahkan konsumsi yang dilakukan agar keindahan yang dirasakan tidak jatuh tempo. Padahal, begitu menambah jumlah konsumsi materi dan kemuliaan duniawi yang terjadi malah kelesuan sehingga nikmatnya hilang.

    Bukannya manusia tidak membutuhkan materi, keperluan terhadap hal-hal ini dipenuhi sewajarnya saja. Sebab sensasi rasa yang ditimbulkan hanyalah sesaat saja. Selanjutnya adalah harus membelinya lagi, jika sudah ketagihan, beli lagi dan lagi hingga akhirnya tak menyisakan rasa. Jadi, berhentilah mengharapkan kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman hati pada materi.

  5. Timbulnya nafsu serakah yang menginginkan lebih.

    Hati ini membutuhkan kepuasan, kedamaian dan ketenteraman secara terus-menerus, non stop 24 jam selama kita sadar. Sedang, sebelumnya kita telah mencoba untuk menambah konsumsi materi dan kemuliaan tersebut, tetapi yang terjadi malah ambiguitas yang semakin mengarah kepada kejenuhan dan berakhir dengan kehilangan nikmatnya. Padahal hati sedang butuh kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman; berhubung karena kemampuan membeli barang tinggi, mulailah dia beralih konsumsi ke komoditas yang lebih bernilai dan berkelas. Keadaan ini jelas akan membuat biaya kebutuhan hidup semakin tinggi dari waktu ke waktu. Untuk memenuhi semuanya itu, orang tersebut lantas melakukan aksi konspirasi manipulasi yang merugikan lebih banyak orang dan lingkungan sekitarnya.

  6. Pengalaman yang belum memadai.

    Ada beberapa orang yang terbuai oleh fatamorgana yang ditawarkan oleh indra. Mereka dibujuk oleh rayuan maut sehingga kesabarannya goyah lalu terjatuh dalam berbagai bentuk pelanggaran. Ketahuilah bahwa pelanggaran sifatnya mengakar yang akan semakin besar dan berkembang dari waktu ke waktu. Jadi terjerumus sekali adalah awal yang menyebabkan seseorang akan jatuh berulang-kali. Tetapi orang yang sudah berpengalaman akan berhenti dari dosa tersebut tepat setelah ia menyadarinya.

  7. Manusia terlena oleh materi dan kemuliaan.

    Mereka yang memiliki akses yang luas dan terjangkau dengan kekuasaan dan sumber daya, terus tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Mereka kehilangan arah dan tujuan hidup sebab semua yang dibutuhkannya sudah tersedia, banyak. Mereka lupa mengasah kemampuan hati sebab hari-harinya terlah terbius oleh kenikmatan yang terus-menerus ada (modal tebal, usaha banyak). Lupa menyibukkan diri kepada hal-hal positif (fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja) sehingga hidupnya berada dalam kehampaan akibat pikiran yang terus saja kosong.

    Jadi bisa dikatakan bahwa gemerlapan duniawi dapat membius seseorang sampai lupa segala-galanya, termasuk untuk menyibukkan diri dengan aktivitas yang positif.

  8. Lupa tentang betapa pentingnya penderitaan dan pengorbanan.

    Materi dan kemuliaan duniawi yang berlebihan menguasai kehidupan seseorang. Ia hanya peduli terhadap apa yang membuatnya senang, mencari sesuatu yang membuat indranya merasakan bunga-bunga cinta yang semerbak walau sesaat. Semuanya itu membuat hatinya menumpul dan rasa kemanusiaan hampir menghilang. Hidup dalam kesenangan fana namun mengabaikan tentang kasih kepada Tuhan dan sesama. Sebab di dalam pemikirannya kasih itu membutuhkan pengorbanan dan ada resiko untuk menderita.

    Misalnya saja, kita mengasihi sesama, berupaya berkorban sambil ramah kepada orang lain, tetapi tau-taunya dicuekin. Diabaikan seperti inilah yang dia tidak sukai sehingga membuatnya semakin menjauh dari sesama manusia. Banyak dendam kepada orang lain membuatnya cinta kepada berbagai penemuan mesin dan teknologi yang tidak pernah mengabaikan apalagi mengecewakannya. Di sinilah jelas sekali pengaruh menikmati hidup terus-menerus membuat seseorang sangat anti berkorban apalagi menderita.

    Manusia yang selalu menikmati materi dan kemuliaan sangat anti berkorban sebab selama ini dia dimanjakan oleh hal-hal duniawi itu. Padahal pengorbanan itu tidak mencuri sepeserpun dari uangnya sebab kebaikan hati itu semata-mata diekspresikan lewat sikap sehari-hari dalam bentuk ramah tamah. Kami sendiri heran kalau orang tidak mau menderita akibat ramah-tamah sebab aktivitas itu tidak mencuri apa-apa dari kepunyaan kita (materi).

  9. Ilmu, uang & jabatan menjadi berhala bagi manusia.

    Memang sudah bawaan dari sononya bahwa segala sesuatu yang ditinggikan di antara manusia riskan menjadi berhala. Sebab dengan ditinggikannya ketiga hal tersebut dapat memberikan segala sesuatu yang di kehendaki alias mengabulkan permintaan. Bukankah yang namanya mengabulkan permintaan ini adalah ciri khas Tuhan? Ketika seorang manusia memiliki ciri khas tuhan di dalam dirinya, pastilah langsung menjadi sombong: mulai dari sinilah orang tersebut meninggikan dirinya atas orang lain. Secara tidak langsung kebiasaan ini membuatnya menjadi berhala yang dipuja-puji oleh orang-orang tertentu (bahkan ia sendiripun menuntut agar diperlakukan lebih dari orang lain),

    Manusia lebih suka pada hal-hal yang langsung memenuhi keinginannya. Ketika ada sesuatu hal yang waw dan diinginkan indra, mereka lebih suka memintanya kepada berhala di sekitarnya. Otomatis hal tersebut membuatnya melupakan Tuhan sebab dirinya lebih suka bergaul pada berlaha yang memenuhi keinginannya. Juga secara otomatis berhala tersebut mengarahkannya pada hal-hal yang salah karena kecanduan  terhadap materi dan kemuliaan adalah kelemahan terhadap hati.

  10. Ketidakadilan yang semakin persaingan, manipulasi dan konspirasi.

    Manusia tidak pernah terpuaskan oleh pencapaian yang sudah ada dalam genggaman tangannya. Mereka ingin saja meneruskan pencariannya terhadap uang, padahal apa yang ada di kantongnya saat ini sudah hampir penuh dan lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya. Hidup yang terlalu fokus kepada uang dan pujian membuatnya lupa terhadap kebutuhan hati, yaitu kebenaran yang hakiki.

    Muncullah iri hati karena indra yang terkesima dengan penampilan dan gaya hidup orang lain: pejabat, pemimpin, anggota dewan, pemimpin daerah, pemimpin negara dan lain sebagainya. Mulailah ada persaingan sengit di antara manusia untuk menentukan siapa yang lebih kaya, hebat dan pintar. Semua gelar, nama besar dan popularitas itu tidak diperoleh dengan cara mudah melainkan melalui proses berkonspirasi sembari menyebar manipulasi.

    Orang yang terikat kepada pesona indra: uang, kemewahan, kemegahan, kenyamanan, jabatan, pujian, pengakuan dan popularitas akan berburu semuanya itu dengan melegalkan praktek manipulasi ala konspirasi. Tetapi mereka yang hatinya terpaut kepada kebenaran sejati akan senantiasa fokus kepada Tuhan (doa, firman dan nyanyian pujian) sambil berbuat baik kepada sesama di sela-sela proses belajar dan bekerja yang ditempuh setiap waktu.

KETIDAKADILAN AKAR DARI SEGALA KEJAHATAN

Kapitalis indranya lebih kuat daripada hatinya sedangkan sosialis hatinyalah yang lebih kuat daripada indranya

Pesona dan kekuatan indra jangan sampai membutakan hati. Memang dari dulu, sejak zaman purbakala hal-hal duniawi itu merayu-rayu umat manusia, berulang kali nenek moyang kita terjatuh dan terjebak. Akibatnya kehidupan mereka berputar-putar di situ-situ saja karena di tengah kemakmuran, bencana alam mendesak dan peperangan (bencana kemanusiaan) menumpas kebanyakan penduduk. Kita harus belajar dari sejarah kelam masa lalu, bahwa sesungguhnya pengetahuan, pendapatan dan kekuasaan yang tidak adil hanya meningkatkan persaingan di dalam masyarakat. Sebab pemanfaatan ketiga kekuatan tersebut secara sembarangan beresiko menyebabkan kekacauan di dalam masyarakat. Oleh karena itu, marilah hidup bersama sambil bergandengan tangan dalam satu sistem demokrasi sosialis dimana negara adalah kapitalis tunggal yang menyejahterakan seluruh penduduk.

Salam, indra menggiring kita semakin kapitalis,
hati melatih kita untuk semakin sosialis
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.