Kepribadian

7 Alasan Manusia Serakah – Ketamakan Disebabkan Oleh Ilmu Pengetahuan, Kekayaan Dan Kekuasaan


Alasan Manusia Serakah - Ketamakan Disebabkan Oleh Ilmu Pengetahuan, Kekayaan Dan Kekuasaan

Berkelilinglah ke hutan-hutan di berbagai tempat niscaya tidak akan pernah menemukan keserakahan di antara tumbuhan dan hewan. Sekalipun ada tanaman yang berpokok besar dan tinggi tetapi ada banyak makhluk lain di sekelingnya, batangnya pastilah dipenuhi oleh tanaman rambat dan berbagai hewan ada di sekitarnya termasuk di atas cabang-cabangnya. Tentu saja hal ini hanya kita temukan pada hutan alamiah yang tidak tersentuh oleh tangan manusia. Tetapi khusus untuk jenis pohon yang ditanam dan dirawat oleh Petani/ Pekebun, pastilah berbagai hal yang mengganggu tersebut di eliminasi sejak dari mulanya. Dari sini terlihat jelas bahwa tidak ada satupun tanaman yang hidup serakah sendiri melainkan masing-masing menghidupi yang lainnya.

Seandainya kita diberikan kesempatan untuk berkeliling di seluruh alam semesta maka akan menemukan bahawa sesungguhnya tidak ada pihak yang terlalu serakah di seluruh kehidupan yang ada di bumi. Sebab masing-masing komponen akan diimbangi oleh kekuatan dari bagian lainnya. Keadaan ini membuat tidak ada satu bagianpun yang menggagahi bagian lainnya sampai hancur sebab satu komponen turut pula bermanfaat bagi yang lainnya. Ada hubungan timbal balik antara yang satu dengan bagian lainnya yang membuat interaksi tersebut semakin besar dan meluas dalam berbagai segi. Ketika satu bagian mengalami kerusakan atau gangguan maka bagian lainnya akan turut terpengaruh.

Segala sesuatu berjalan dengan semestinya tanpa ada satupun komponen yang terlalu kuat sehingga sangat destruktif bagi yang lainnya. Melainkan kekuatan yang satu akan dimbangi oleh potensi yang dimiliki yang lain. Misalnya saja tentang kekuatan matahari untuk membakar bumi diimbangi dengan potensi udara segar yang terus-menerus dihasilkan tanaman  dari waktu ke waktu. Karena itulah terjadi gangguan keseimbangan saat manusia terlalu serakah terhadap kemewahan, kemegahan dan kenyamanan hidup yang menggiringnya untuk menghancurkan hutan dan mengkonversi pohon sebagai balok-balok bangunan secara besar-besaran. Segala yang ada di seluruh bumi menjadi berbahaya akibat kerusakan hutan: air menenggelamkan banyak hal, matahari membakar kulit, angin kencang menerjang keras dan masih banyak lagi.

Satu-satunya makhluk dengan kehendak bebas di seluruh alam semesta adalah manusia. Sedangkan masing-masing ciptaan lainnya telah dikendalikan dengan seutuhnya. Contoh paling konkrit dari aktivitas saling mengimbangi kekuatan ini ternyata jelas pada peran matahari yang bisa sampai menyeret bumi untuk mengikuti kehendaknya. Sekalipun bumi mau menurut dengan pengaruh gelombang elektromagnetik yang sangat kuat dari matahari namun ekosfer tidak sampai rusak. Sebab tanaman penghasil udara segar akan terus menerus menghasilkan gas untuk melindungi sekaligus mendinginkan bumi ini. Terbukti ketika jumlah tumbuhan hijau dikurangi dengan membabat habis pohon-pohon besar di hutan, tepat saat itu jugalah suhu lingkungan akan terus meningkat dan bencana terjadi secara beruntun yang disebut dengan pemanasan global.

KETIDAKADILAN AKAR DARI SEGALA KEJAHATAN

Untuk sementara waktu bisa disimpulkan bahwa lawan ketamakan adalah bencana alam yang di dominasi oleh kekuatan matahari yang tidak akan mampu lagi ditahan imbang oleh bumi ini. Matahari sebagai komponen kekuatan yang mampu memaksa bumi untuk berevolusi akan turut mempengaruhi ekosfer yang ada di dalam planet tersebut. Itu hanyalah permulaan saja, naiknya suhu lingkungan adalah pertanda bahwa akan terjadi berbagai bencana yang jauh lebih besar. Tentu saja keadaan ini disusul oleh kerusakan infrastruktur dan hilangnya nyawa manusia. Apabila kehilangan materi dan nyawa yang dialami oleh sistem masih belum juga menyadarkan manusia di dalamnya untuk hidup lebih sederhana dan menanggalkan kesombongan teknologi. Alhasil bencana yang lebih besar yaitu gelombang panas dan badai matahari akan membakar hutan hutan yang tersisa dan menghanguskan pemukiman sehingga orang-orang serakah benar-benar dibersihkan dari muka bumi ini. Mereka yang masih selamat dari bencana alam akan diperhadapkan dengan krisis energi yang berujung pada bencana kemanusiaan (peperangan).

Faktor penyebab manusia serakah

Pengertian – Tamak adalah manusia yang selalu ingin lebih lagi dan lagi yang mengarah kepada kerakusan. Keserakahan adalah sifat yang selalu ingin lebih dan lebih lagi yang mengarah kepada kerakusan.

Kelobaan dalam diri manusia adalah pemicu utama dari terjadinya bencana alam dan bencana kemanusiaan di berbagai belahan bumi. Memang dalam skala kecil kerakusan itu tidak akan memiliki pengaruh yang besar. Akan tetapi, seiring dengan semakin bertambahnya akumulasi penduduk dan meningkatnya jumlah orang yang kaya raya niscaya persaingan di antara manusia semakin mempertinggi ketamakan itu. Di dalam setiap persaingan yang terus terjadi selalu saja ada yang dikorbankan, di antaranya adalah lingkungan (yang paling rusak) dan sesama manusia (hilang nyawa-melarat-disabilitas). Berikut akan kami sampaikan beberapa alasan mengapa manusia sering terkungkung pada ketamakannya sendiri hingga menyebabkan kehancuran sistem.

  1. Power (ilmu pengetahuan, kekayaan dan kekuasaan).

    Inilah penyebab utama mengapa penting sekali sistem yang memberlakukan kesetaraan. Sebab saat seorang manusia mampu menguasa sumber daya yang besar maka kemungkinan kekuatan tersebut akan menjadi alat untuk meraih apa yang diinginkan hatinya. Sedang kita tahu sendiri bahwa yang namanya hawa nafsu manusia tidak ada matinya.

    Kita tidak bisa menolak perkembangan ilmu pengetahuan sebab itu merupakan hasil kreativitas yang dianugerahkan Tuhan. Tetapi adalah salah juga jika memanfaatkan ilmu yang dimiliki untuk melakukan manipulasi terhadap orang lain. Siapapun orangnya berhak kaya tetapi pemanfaatan uang yang mubazir akan merusak lingkungan sekitar dan mempercepat pemanasan global. Menjadi pejabat memang hal yang baik tetapi siapakah yang bisa menjamin bahwa kekuasaan yang terlalu besar itu tidak dimanfaatkan untuk menekan kehidupan sesama hingga merusak lingkungan sekitar? Kekuatan yang kita miliki adalah sumber utama keserakahan.

    Untuk mengendalikan kekuatan secara perorangan bisa ditempuh dengan kembali mengatur ulang fokus kehidupan kepada Tuhan, pelajaran dan pekerjaan yang digeluti dari waktu ke waktu. Di samping itu dibutuhkan pengendalian sistem yang sifatnya terus-menerus untuk menjamin pemanfaatan sumber daya dalam skala besar tidak menjadi liar. Pengendalian tersebut bisa diwujudkan dengan mengeluarkan beberapa peraturan yang mengikat seluruh masyarakat.

  2. Pikiran kosong – Hilang fokus positif.

    Sadarilah selalu bahwa yang namanya hawa nafsu sifatnya tidak terbatas (unlimited). Keadaan ini setara dengan situasi otak manusia yang terus-menerus meningkat kecerdasannya dari waktu ke waktu. Artinya, semakin cerdas seseorang maka semakin tinggi pula keinginan di dalam hatinya. Oleh karena itu, seburuk-buruknya seorang manusia jauh lebih parah keadaan orang yang sering mengosongkan pikirannya. Kekosongan pikiran akan memaksa seseorang untuk mengikuti kata hatinya yang penuh dengan kedagingan. Kedagingan ini telah bangkit dari dalam alam bawah sadar manusia karena pikiran tidak terurus. Yang termasuk di dalam kedagingan itu adalah keserakahan dimana keadaan ini akan semakin memburuk ketika pengetahuan, pendapatan dan kekuasaan yang dipegang manusia tersebut tergolong luar biasa.

    Semua masalah yang terjadi di dalam kehidupan manusia semata-mata terjadi karena manusia terlalu fokus kepada indranya. Apa yang bisa dicitrakan oleh indra sifatnya duniawi yang terhampar luas di hadapan kita. Semua sumber daya itu telah menjadi fokus kehidupan masing-masing orang. Padahal dengan menginginkan semuanya itu, hal-hal duniawi tidak akan cukup untuk memuaskan hati manusia yang jumlahnya mencapai jutaan bahkan ratusan juta orang. Keadaan inilah yang secara tidak langsung akan menyebabkan persaingan sengit sehingga menimbulkan kekacauan halus sampai kasar di dalam masyarakat.

    Saat hati seluruh manusia fokus kepada kenikmatan dan kemuliaan duniawi maka tepat saat itulah hati menjadi serakah. Namun sekalipun demikian hal-hal duniawi ini tidak akan pernah memuaskan hati bahkan sekalipun seluruh dunia ini menjadi milikmu seorang, hati masih saja hampa. Semakin fokus kepada dunia maka semakin haus dan loba hati ini terhadap konsumsi yang sebenarnya sangat fana.

  3. Tinggi arogansi.

    Saat rasa arogan menguasai kehidupan seseorang maka secara otomatis kecemburuan itu kental di dalam dirinya. Sikap yang arogan ini akan semakin besar saja seiring dengan besarnya sumber daya yang dikuasainya. Sebab saat sumber daya (misalnya uang) semakin tinggi maka semakin luas pula ekspoitasi yang dapat dilakukannya. Sumber daya atau disebut juga sebagai power inilah yang mendorong terwujudnya keserakahan seseorang. Artinya, kekuatan (pengetahuan, harta, kekuasaan) adalah motor penggerak utama ketamakan manusia. Tentu saja bahan bakar penggerak mesinnya adalah ego atau lebih tepatnya sikap yang arogan.

  4. Sistem yang syarat dengan ketidakadilan.

    Sistem bermasyarakat yang cenderung memelihara ketidakadilan merupakan merupakan media paling subur untuk tumbuh kembangnya bibit-bibit keserakahan. Sebab secara tidak langsung kekuatan (pengetahuan, pendapatan-harta, kekuasaan) yang berbeda jauh di antara kalangan yang satu dengan yang lainnya membuat kecemburuan sosial semakin kentara. Keadaan ini lantas saja menimbulkan terjadinya berbagai persaingan sengit baik yang terbuka secara publik (konflik, perlombaan) maupun yang sifatnya tertutup (perang dingin). Situasi bermasyarakat benar-benar seperti di alam rimba, orang-orang yang memiliki power lebih bisa melakukan apa saja (sesuka hati), hanya cara-cara menerkam orang dilaksanakan dengan sehalus-halusnya. Oknum kapitalis tamak akan berkonspirasi untuk menjalankan tipu muslihat sekaligus manipulasi (termasuk korupsi) di antara rakyat agar kekayaan dan kekuasaan mereka semakin menggurita. Simak juga, Manfaat kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

  5. Hati yang dipenuhi oleh kecemasan, kegelisahan dan ketakutan.

    Segelintir orang berpikir bahwa kebahagiaan sejati yang mereka cari-cari terletak pada materi dan kemuliaan duniawi. Secara otomatis mereka mencari kemewahan, kemegahan, kenyamanan, pujian, penghormatan dan popularitas yang asalnya dari dunia ini semata-mata untuk memuaskan hatinya. Sayang sensasi kepuasan dan kebahagiaan yang ditimbulkan lewat semuanya itu bersifat sesaat saja dimana semua berlalu/ berakhir begitu cepat. Akibatnya, mereka mengkonsumsinya lagi dan lagi sedangkan untuk memperoleh semua hal-hal duniawi tersebut dibutuhkan uang yang lebih banyak.

    Lantas, mereka memenuhi kebutuhan yang tinggi akan uang dengan melakukan manipulasi: korupsi, menerima suap, meribakan uang, melegalkan narkoba, prostitusi, miras dan lain sebagainya. Padahal semakin penuh hidup seseorang dengan kejahatan, maka akan semakin tinggi rasa cemas, gelisah dan ketakutan yang timbul dari dalam hatinya.

    Untuk mengatasi rasa cemas, gelisah dan takut ini, mereka mengkonsumsi lebih banyak kenikmatan, kemewahan, kemegahan, pujian, penghargaan, penghormatan dan lain sebagainya. Padahal semuanya itu hanyalah sesaat saja sehingga mereka terus-menerus menambah jumlah konsumsinya. Keadaan inilah yang membuat orang-orang yang mencari pelarian dari kehampaan hatinya sangat tamak dalam mengkonsumsi kenikmatan dan kemuliaan duniawi.

  6. Hawa nafsu yang tak terkendali.

    Orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya cenderung melampiaskannya sembarangan. Keadaan ini bisa saja ditimbulkan oleh karena ketidakmampuan mengendalikan indra. Kurangnya aktivitas berpuasa turut pula menyebabkan hawa nafsu semakin tinggi saja yang bisa berujung pada kebiasaan tamak.

    Ketergantungan terhadap hal-hal tertentu turut pula membuat seseorang menjadi manusia yang sangat serakah terutama pada hal-hal yang diminatinya. Mereka akan melakukan konsumsi lagi dan lagi hingga tak terkendali lalu berakhir dengan over dosis: menyebabkan sakit fisik dan mental.

    Orang yang kecanduan tetapi berhasil melewati tahapan over dosis cenderung menginginkan yang lebih dan lebih lagi. Keadaan ini terutama terjadi kepada mereka yang memiliki sumber daya yang lebih luas sehingga memungkinkannya untuk mengakses objek-objek vital yang membutuhkan biaya mahal itu. Bukankah semua hasrat yang tidak terkendali itu mencirikan betapa serakahnya seorang manusia?Hawa nafsu tidak ada habisnya! Turut baca,

  7. Hidup menyendiri.

    Mengapa orang yang selalu menyendiri cenderung tamak? Sebab saat sendiri, kita hanya berpikir tentang apa yang kita inginkan dan bagaimana cara mewujudkannya sedang tidak peduli dengan orang lain. Rasa egoisme yang terus-menerus dibangun inilah yang membuat seseorang tidak peduli dengan keberadaan orang lain. Mereka hanya memikirkan apa yang diinginkannya dan bagaimana memuaskan hatinya. Orang ini akan semakin rakus saja ketika pikirannya kosong dan ditambah lagi dengan keberadaan sumber daya yang besar (ilmu, kekayaan dan kekuasaan).

Kekuatan hanya milik Tuhan, jika manusia mempunyai kekuatan sebaiknya disetarakan sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bersama

Sekalipun bumi ini di eksploitasi secara besar-besaran, kita tidak akan pernah puas. Kerakusan akan terus menawan hati ketika fokus ditujukan kepada kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Tetapi tujukanlah konsentrasi pada hal-hal positif yaitu fokus kepada Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian) dan berbagi kasih kepada sesama lewat pelajaran juga pekerjaan yang ditekuni dari waktu ke waktu. Niscaya hal-hal positif inilah yang menjadi sumber kepuasan utama bagi kehidupan sehingga kita tidak serakah terhadap materi. Ketahuilah juga bahwa sistem yang tidak adil cenderung memelihara sifat-sifat tamak tersebut. Sebab orang-orang yang memiliki sumber daya tinggi (pengetahuan, pendapatan, kekuasaan) akan menggunakannya untuk memperoleh lebih banyak kenikmatan, kemewahan, kemegahan, kenyamanan, pujian, penghargaan dan popularitas yang lebih hebat. Bukankah ini yang menjadi akar dari keserakahan? Baca-baca juga, Mengapa Nafsu Menjadi Lebay.

Salam, Alihkan fokus kepada Tuhan,
menepis ketamakan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.