Kesetaraan Manusia

Transformasi Pendekatan Tuhan Terhadap Umat Manusia – Perubahan Taktik Tuhan Menobatkan, Membenarkan & Menolong Dari Indra Ke Hati

Transformasi Pendekatan Tuhan Terhadap Umat Manusia - Perubahan Taktik Tuhan Menobatkan, Membenarkan & Menolong Dari Indra Ke Hati

Ciptaan Tuhan sempurna jika selalu bersama

Alam semesta dengan segala komponen yang ada di dalamnya merupakan sebuah sistem yang sempurna. Karena masing-masing bagian bagian di dalamnya terhubung satu sama lain dalam suatu ikatan energi yang berlangsung secara terus-menerus. Kebutuhan akan energi inilah yang membuat satu komponen memerlukan kehadiran yang lainnya. Artinya tidak ada yang lebih penting dari antara semua ciptaan sebab tanpa kehadiran satu bagian saja, sistem akan mengalami ketimpangan. Karena itulah, kita tidak berhak memunahkan satu jenis saja dari semua ciptaan Tuhan sebab pemusnahan satu komponen akan berdampak pada yang lainnya. Dari sini kita mengerti bahwa sesungguhnya ciptaan Tuhan itu sempurna adanya.

Arogansi dan sifat tamak yang tinggi adalah awal bencana

Hanya saja, umat manusia itu bebal karena telah tenggelam dalam arogansi dan keserakahan untuk memanfaatkan potensi lingkungan. Yang ada dalam pikiran kita adalah bagaimana agar hidup ini kelihatan waw, megah, mewah dan luar biasa bahkan berhasrat agar segala sesuatu menjadi instan dan mutlak otomatis. Mengembangkan teknologi yang benar-benar menghendel semua tanggung jawab yang harusnya kita kerjakan agar diri ini duduk santai terus dan goyang-goyang kaki. Akhirnya, semua yang kita inginkan dalam hidup ini telah menjadi jerat yang pada awalnya akan merusak lingkungan, merugikan sesama dan diri sendiri. Teknologi serba cepat, harta berlimpah dan jabatan tinggi yang dibangga-banggakan telah mendorong bumi dalam bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Terlalu cinta terhadap gemerlapan duniawi adalah awal bencana

Semuanya ini terjadi karena umat manusia terlalu fokus terhadap keindahan indra sehingga mengeksploitasi segala sesuatu secara berlebihan. Lewat ilmu yang dimiliki, kita menciptakan kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang terkesan berlebih-lebihan. Kita mendorong masyarakat agar tergila-gila terhadap pesona indra tersebut sehingga uang mengalir ke kantong orang-orang tertentu. Aliran uang sepihak ini membuat orang tertentu sangat-sangat kaya sedang kebanyakan masyarakat masih berada di bawah garis kemiskinan. Kekuatan (ilmu, kekayaan dan kekuasaan) yang tidak seimbang telah mendorong sikap semena-mena yang cenderung hipereksplorasi alam dan hipereksploitasi manusia. Semua keadaan ini akan berujung pada bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Terlena dengan hal-hal duniawi adalah awal bencana

Semua keterangan di atas menunjukkan bahwa manusia terlalu fokus terhadap kenikmatan indra sampai sampai hal tersebut memabukkan kehidupannya. Hal-hal duniawi telah membuat mata hati kita menjauh dari kebenaran yang sejati. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang terlalu instan membuat kita lupa menggeluti aktivitas positif. Gelimangan harta membuat manusia terlalu banyak menikmati hidup dan kurang mampu mengendalikan diri sehingga temperamen cenderung memburuk. Kekuasaan yang terlalu besar membuat seseorang berlaku sewenang-wenang, merugikan sesama dan sangat merusak lingkungan. Pada akhirnya, semua pesona indra yang membuat terbuai tersebut, lama-kelamaan akan mengantarkan kita untuk mencicipi pahitnya bencana alam dan sesaknya bencana kemanusiaan.

Manusia terbuai oleh berhala duniawi sehingga membelakangi Tuhan

Saat kenikmatan dan kemuliaan duniawi terlalu tinggi, besar kemungkinan manusia menjadikan hal tersebut sebagai berhala yang dipuja-pujinya. Ketika ilmu pengetahuan yang dikuasai terlalu bombastis, manusia mulai memuja orang-orang jenis dan beramai-ramai mengikutinya dari belakang namun Allah dilupakannya. Saat harta kekayaan terlalu banyak, manusia lupa beraktivitas, lebih banyak santai dan tidak mampu lagi mengendalikan sikapnya. Sewaktu kekuasaan terlalu besar, manusia mula membanggakan diri, menganggap diri sudah hebat dan membenarkan diri sendiri. Karena dia merasa benar maka mulailah berlaku serampangan sehingga tutur kata dan sikapnya sangat menyimpang di hadapan Tuhan. Fokus manusia yang lebay terhadap pencapaian pengetahuan, kepemilikan harta benda dan kedudukan dalam jabatan strategis telah membuatnya berangsur-angsur meninggalkan Tuhan. Jalan-jalan di mari juga teman, Bahaya kemewahan memenjarakan kehidupan manusia.

Tuhan mengubah cara dalam mendekati manusia

Di zaman dahulu kala, Tuhan menampakkan diri kepada umat manusia dalam rupa-rupa yang luar biasa, dahsyat dan ajaib menurut pengamatan indra manusia. Ketakutan yang dihasilkan karena penglihatan yang luar biasa tersebut telah membuat manusia patuh & taat terhadap kebenaran. Sayang hal tersebut tidaklah berlangsung lama karena pesona indra akan kembali menggelapkan matanya. Bukankah hati manusia itu dipenuhi oleh kedagingan yang syarat dengan kejahatan? Mudah saja baginya untuk melupakan Tuhan saat gemerlapan duniawi merayu-rayu untuk menjerumuskannya ke dalam dosa. Terlebih lagi ketika orang-orang yang pernah menyaksikan keajaiban tersebut telah berpulang ke alam baka, kondisi generasi selanjutnya semakin amburadul tenggelam dalam pengagungan akan berhala-berhala duniawi.

Tidak mungkin Allah terus melakukan hal-hal yang ajaib di hadapan manusia sebab jika demikian maka ketakutan yang timbul adalah sesuatu yang dipaksakan. Lagipula hal-hal yang ajaib itu bisa mengganggu keseimbangan alam dan berbahaya bagi kehidupan orang lain. Masakan Tuhan harus membunuh sekelompok orang yang berdosa di hadapan kita untuk membuat diri ini segan terhadap-Nya dan mengikuti firman-Nya? Padahal kita sudah tahu bahwa tidak ada orang yang dibenarkan karena semua manusia telah berdosa. Jadi Allah mulai melakukan transformasi kehadiran-Nya di tengah-tengah umat manusia. Dari yang awalnya berorientasi kepada indra menjadi orientasi pada hati. Dari yang awalnya menyentuh indra, kini Dia hadir menyentuh hati setiap orang yang percaya.

Kemampuan menyentuh hati inilah yang kemudian kita kenal dengan kekuatan Roh Kudus, suatu kekuatan yang hampir tidak dapat dicitrakan oleh indra manusia tetapi sangat dirasakan oleh hati masing-masing orang. Pikiran adalah inti kehidupan seorang manusia, dari dalam sinilah Tuhan mulai mempengaruhi dan mengubahkan seseorang. Tentu saja, ini harus diiringi oleh respon manusia itu sendiri yang senantiasa fokus kepada-Nya dalam doa, firman dan nyanyian pujian untuk memuliakan nama-Nya. Saat Tuhan sudah bertahta dalam hati seseorang maka semakin besar kecenderungan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, baik lewat pelajaran dan pekerjaan yang ditekuni dari waktu ke waktu.

Transformasi pendekatan Tuhan Terhadap umat manusia (perubahan taktik Tuhan dalam menobatkan, membenarkan dan menolong kita)

Hidup ini penuh dengan transformasi untuk menuju kepada titik sempurna dimana kita berperan mempersatukan, memelihara, mengembangkan dan memajukan seluruh ciptaan untuk kepentingan bersama. Sebab semua manusia adalah anak-anak Tuhan dimana tidak pernah sedikitpun Dia berkehendak agar salah satu dari ciptaan-Nya dimusnahkan/ dikorbankan demi kepentingan yang lainnya. Oleh karena itu, Dia membagi Roh Kudus secara merata kepada seluruh manusia yang percaya kepada-Nya. Roh tersebut menghasilkan ekspresi yang berbeda-beda dalam diri masing-masing orang. Ada orang yang potensinya untuk melakukan pekerjaan otot dan ada pula manusia yang lebhi mahir menggunakan otaknya saat bekerja. Setiap orang dengan bakat yang berbeda-beda ini, tidak dapat dipisahkan satu-sama lain tetapi semuanya harus bekerja sama dalam satu tubuh dan satu sistem.

Berikut ini transformasi pendekatan Tuhan untuk menobatkan, membenarkan dan menolong umat manusia

  1. Pada awalnya Allah menampakkan diri dalam pribadi yang gilang-gemilang.

    Pribadi Allah Bapa yang ajaib dan hebat adalah pencipta segala masa, yang awal dan yang akhir. Dialah yang menciptakan segala sesuatu di seluruh alam semesta sehingga semuanya itu sempurna adanya. Allah sebagai pencipta adalah pribadi yang luar biasa bahkan ketika Ia menyatakan diri kepada orang Israel di gunung Horeb, segala sesuatu bergetar: gunung-gunung bergoyang, kilat dan guntur bersahut-sahutan menyambut kedatangan-Nya. Kedahsyatan-Nya mengatasi segala sesuatu yang pernah berlangsung di bawah kaki langit.

    Dalam beberapa kehidupan, Allah juga menyatakan dirinya kepada orang per orang. Sehingga orang-orang tersebut tampil sebagai pribadi yang dsertai oleh kekuatan yang luar biasa. Mereka dikenal sebagai tokoh nabi, hakim-hakim dan raja di Israel. Umumnya, masing-masing dari orang tersebut memiliki kekuatan khusus yang dari Allah dan membuat orang takjub.

  2. Manusia menjadi takjub dan takut akan hadirat-Nya sekaligus patuh dan taat terhadap Taurat.

    Orang Israel yang menyaksikan segala keajaiban tersebut menjadi takjub. Mereka keheranan sekaligus takut terhadap pernyataan Allah baik dalam bentuk tanda-tanda alam, kekuatan supernatural sampai membuat musuh-musuhnya berserakan dimana-mana. Tentu saja ketakutan ini akan diiringi dengan kepatuhan kepada hukum Taurat. Manusia yang menyaksikan semuanya itu dengan mata kepalanya lalu bergetar hatinya karena ketakutan cenderung lebih mematuhi segala perintah dan larangan-Nya. Semua keajaiban yang nyata dan dapat disaksikan oleh indra tersebut telah membuat manusia secara kasat mata taat kepada hukum-hukum Allah.

  3. Penglihatan kepada hal-hal yang ajaib tersebut membuat manusia bangga dan arogan.

    Inilah salah satu efek samping saat seseorang atau sekelompok orang telah menyaksikan kedahsyatan Allah Bapa Sang Penguasa Alam Semesta. Lagi pula kekuatan tersebut telah berjalan di depan mereka untuk memberikan kemenangan dari musuh-musuhnya. Semua keadaan ini terakumulasi di dalam hati masing-masing orang sehingga muncullah rasa bangga karena Allah telah menganugerahkan keberuntungan yang tak pernah terduga di dalam kehidupannya.

    Kemudian rasa bangga tersebut akan berubah menjadi sikap yang arogan. Ia merasa lebih baik dari orang lain dan ingin berkuasa atas sesamanya. Mereka hendak menggagahi jemaat Allah lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai orang yang layak dihormati dan dipuja-puji.

  4. Manusia kembali jatuh dalam dosa karena tingginya hawa nafsu berujung ketamakan.

    Manusia itu kembali jatuh dalam rayuan indranya. Penglihatannya yang berbinar-binar melihat harta duniawi membuat pikiran penuh tipu muslihat mengusahakan ini-itu. Badannya yang ingin tenang, senang dan duduk terus membuatnya menggaji lebih banyak budak untuk menjadi pembantunya. Matanya yang genit melihat perempuan menginginkan istri yang lebih banyak. Dirinya yang melihat kebesaran dan kemegahan pepohonan lebat di hutan mulai berpikir untuk membuat rumah yang mewah-mewah dan megah. Untuk beroleh laba yang lebih besar ia membuat lahan-lahan pertanian yang sangat luas dengan mengancurkan banyak hutan. Ternaknya ada ratusan bahkan ribuan yang dikelola oleh sekumpulan gembala. Mereka akan mewujudkan semua keinginan tersebut dengan memerangi dan memeras orang-orang asing yang mereka anggap fasik dan kafir.

  5. Keturunannya yang belum pernah menyaksikan penglihatan yang ajaib tersebut malah lebih jahat lagi.

    Anak, cucu dan cicit bahkan keturunan mereka berikutnya yang belum pernah menyaksikan kedahsyatan dan kemahakuasaan Allah mulai menyimpang sangat jauh dari nilai-nilai kebenaran. Memang dari penampilannya (dari luarnya) orang-orang tersebut kelihatan alim dan benar tetapi sebenarnya mereka melakukan kejahatan di jalan-jalan sunyi dan di tempat-tempat gelap memeras orang miskin, janda dan anak yatim. Hati mereka justru dipenuhi oleh berhala-berhala duniawi sedang Allah hanyalah menjadi KTP identitas formal dan informal.

    Pengetahuan yang tinggi membuat sikapnya sangat manipulatif terhadap orang lain. Harta yang banyak membuat mereka terlalu nyaman, manja dan hidup ogah-ogahan. Kuasa/ jabatan yang besar membuatnya berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain. Lebih parahnya lagi, mereka akan melakukan berbagai perilaku busuk tersebut terhadap saudara-saudaranya sendiri. Orang-orang yang lemah di antara mereka akan dibiarkan terjungkal, terjatuh dan miskin sehingga mereka bisa menguasai harta benda, rumah dan tanah-tanahnya.

    Ada banyak perilaku mereka yang terkesan hipereksplorasi alam dan hipereksploitasi manusia yang membuat tatanan alamiah di bumi ini menjadi hancur. Memang hanya hidupnya dan yang tinggal di dalam rumahnyalah yang baik, sedang jika kita melihat sekelilingnya akan terpantau gersang dan tandus bahkan hampir berubah jadi padang gurun akibat penggunaan yang berlebih-lebihan.

  6. Alam Merana – Terjadilah bencana alam.

    Manusia yang kaya raya akan berlaku sewenang-wenang terhadap alam sekitarnya. Mereka bebas mengupah orang untuk membuka lahan-lahan pertanian yang sangat luas. Orang-orang tersebut memiliki ribuan ternak yang digembalakan oleh pesuruh-pesuruh yang digaji penuh. Menebang pohon-pohon berkayu kuat yang tinggi dan besar untuk membangun rumah idaman bak istana yang megah. Mereka memusnahkan hutan-hutan dalam sekejap sehingga banyak hewan buas yang kehilangan tempat tinggalnya. Semua keadaan ini menyebabkan timbulnya bencana alam yang dimulai dari hama (misal belalang), penyaki gandum, kekeringan, kelaparan, serangan binatang buas, penyakit sampar dan berbagai-bagai wabah lainnya juga gempa bumi.

  7. Doa orang terlantar di dengarkan – bencana kemanusiaan (peperangan).

    Sedang saat bencana terjadi dimana-mana, para penguasa dan orang-orang kaya (kapitalis) melakukan berbagai-bagai aksi penipuan untuk memperkaya dirinya sendiri. Pemimpin yang duduk untuk menghakimi telah disumbat hatinya oleh uang suap sehingga menyelewengkan kebenaran. Orang-orang yang telah disumpal mulutnya oleh uang menjadi saksi dusta. Doa-doa orang miskin, orang asing dan anak yatim untuk memohon keadilan Tuhan terangkat ke surga. Semua kebobrokan moral dan kejahatan yang merajalela di dalam masyarakat secara tidak langsung telah menabuh genderang perang terhadap Sang Penguasa Kebenaran, yaitu TUHAN Allah sendiri. Akhirnya Tuhan mengutus bangsa-bangsa asing yang sungguh kuat, kejam dan bengis untuk berperang mengalahkan kerajaan tersebut hingga takluk di bawah kakinya. Mereka akan menumpas kapitalis fasik yang tamak itu dari muka bumi sedangkan yang lainnya akan dibawa dalam pembuangan untuk menjadi budak.
    Pola Kehidupan Masyarakat Berputar Disitu-Situ Saja Akibat Miinimnya Kebersamaan Dan Keadilan Sosial Tetapi Tinggi Arogansi

  8. Allah kembali menampakkan diri dalam rupa-rupa yang ajaib untuk menyatakan kasih-Nya.

    Umat yang hidup di dalam penindasan telah didengar doa-doanya di hadapan Tuhan. Mereka akan kembali beroleh belas kasihan yang daripada Allah sehingga di dalam penindasan sekalipun kehidupannya akan dipelihara dengan baik. Bahkan beberapa dari mereka di bekali oleh tanda-tanda ajaib. Sekalipun berada di dalam penjajahan, mereka tetap disegani sehingga tidak ada satupun penguasa yang benar-benar berani menumpas orang-orang tersebut. Pada akhirnya, orang-orang ini akan berkembang dan kembali dibebaskan dari musuh-musuhnya dengan cara yang ajaib. Orang yang menyaksikannya juga akan melihat dengan heran. Betapa beruntungnya bangsa tersebut sebab tidak pernah terjadi pada zaman sebelumnya bahwa mukzizat akan berjalan di depan menghalau dan menyingkirkan musuh-musuhnya.

  9. Manusia bertobat, namun setelah lupa akan kembali berdosa lagi dan hal yang sama berulang kali terjadi.

    Orang-orang yang telah dibebaskan dari berbagai bentuk penjajahan dengan cara yang ajaib akan kembali hidup dalam hukum yang benar, yaitu hukum Taurat. Mereka akan hidup bersungguh-sungguh untuk mentaati segala perintah dan larangan-Nya sebab mata kepalanya telah secara langsung melihat keajaiban tersebut. Ini bisa berlangsung selama beberapa waktu yang disebut dengan zaman damai.

    Kapitalis yang kaya raya kembali lagi membuat ladang-ladang yang luasnya berhektar-hektar dengan menggundulkan hutan. Sedangkan mereka sendiri memiliki gembala upahan yang menjaga ternaknya untuk merumput di wilayah tertentu. Jumlah ternak itu tidak tanggung-tanggung, mencapai ratusan hingga ribuan yang dimiliki oleh satu keluarga saja. Bukankah mereka memiliki uang yang banyak untuk membayar pekerja dan budak mengelola ladang dan ternak yang luar biasa itu? Uang yang banyak itu juga turut mereka manfaatkan untuk membangun hunian yang mewah dan megah semata-mata demi kebanggan: pujian dan penghormatan.

    Segala bentuk ketamakan telah merusak lingkungan alamiah sehingga orang-orang kecil tidak mampu lagi bertahan hidup dari alam sebab tanah-tanah telah tandus dan tidak memberikan hasil apa-apa saat dikelola. Lagi-lagi masyarakat berada di ujung bencana hama pertanian, gagal panen, kelaparan, serangan binatang buas dan penyakit sampar dimana-mana juga gempa bumi bisa datang tiba-tiba. Keadaan ini semakin parah saja akibat moralitas para pejabat yang mulai amburadul semata-mata demi kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang mempesona indra.

    Sayang, lagi-lagi sistem bermasyarakat terancam oleh karena ketidakadilan sosial. Manusia terlalu fokus terhadap kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang begitu mempesona. Orang-orang pintar mulai lagi mencari uang dengan cara-cara licik-menipu sedangkan orang kaya raya berburu kenikmatan hidup lewat pelacuran bakti. Hipereksplorasi terhadap lingkungan alamiah terjadi dimana-mana. Semua ini untuk mengejar kekayaan, kemewahan, kemegahan, kemudahan dan kenyamanan hidup. Sedang para penguasa yang telah diracuni oleh birahi yang serakah akan menggunakan jabatannya untuk meraup lebih banyak uang, tanah dan harta benda lainnya.

    Akibat dosa, masyarakat kembali berada dalam bentuk-bentuk bencana alam dan bencana kemanusiaan yang menghapus segala sesuatu di dalam suatu wilayah seperti menghapus tahi hingga tak tersisa sama sekali. Orang-orang ini akan mengalami perang besar sehingga sampai kalah, bertekuk lutut, dibuang dan menjadi budak di negeri orang. Barulah ditengah-tengah rasa malu dan penindasan yang berat, mereka akan kembali berbalik kepada Tuhan, menaati Taurat-Nya dan bertobat dari segala kejahatannya.

    Tuhan kembali pula mengingat orang-orang kudus-Nya. Ia menyelamatkan mereka dengan cara yang ajaib lewat tangan seorang pahlawan, raja, dan nabi. Lantas mereka terbabas dari himpitan musuh-musuhnya dan kembali sebagai orang merdeka ke negerinya. Semuanya kisah ini akan berputar-putar disitu saja, sebab pesona kenikmatan dan kemulian duniawi kembali mengancam sistem masyarakat. Indra mereka yang menginginkan hal-hal duniawi sangat kuat memaksa dirinya untuk mengejar kepemilikan harta benda dan kehormatan sebanyak-banyaknya. Sedang rasa arogan menjadi bahan bakar yang baik untuk meningkatkan persaingan di antara manusia sehingga masing-masing orang akan melakukan hipereksplorasi alam dan hipereksploitasi manusia. Dan semua kisah yang memilukan tersebut akan terulang kembali.
    HIDUP MANUSIA BERPUTAR-PUTAR KARENA TIDAK PAHAM BAGAIMANA SEHARUSNYA MELAKUKAN KEBENARAN YANG HAKIKI

  10. Allah memberikan teladan yang baik bagaimana cara melakukan kebenaran sejati (Allah Anak).

    Kebenaran sejati telah lama diketahui oleh umat manusia tetapi sistem bermasyarakat selalu saja mengalami kegagalan. Pemerintah tidak mampu menjaga ketersedian sumber daya apalagi menghalau tingkat kecemburuan yang tinggi di antara manusia. Semua bentuk iri hati tersebut beresiko tinggi menimbulkan persaingan sengit sehingga para kapitalis bermodal besar akan kembali jatuh dalam berbagai pemanfaatan uang yang sifatnya lebay. Semuanya itu, dilakukan demi memperoleh nama besar, jabatan, pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas di antara masyarakat luas.

    Kesalahan dalam pelaksanaan kebenaran ini hendak diperbaiki oleh Allah Anak. Sebab setiap kali orang pilihan diutus Allah, mereka terjebak dalam hawa nafsunya yang arogan dan serakah yang cenderung menggagahi sistem. Sedang orang-orang ini enggan untuk berlelah apalagi mengalami penderitaan, ogah banget! Semuanya ini akan berakumulasi menciptakan pribadi yang sombong dan mengarahkannya untuk mencari kenikmatan dan kemuliaan duniawi secara tidak wajar.

    Oleh karena itu, Yesus Kristus datang untuk memberi teladan yang baik tentang bagaimana seharusnya mengikut jalan kebenran yang hakiki. Hal pertama yang diajarkan Tuhan kepada kita adalah “memikul salib.” Setiap orang harus menanggung dengan ikhlas segala penderitaan yang dialaminya selama menjalani hidup ini. Perlu mengembangkan jiwa pemaaf yang mau mengampuni orang yang bersalah dengan setulus hati agar pikirannya sendiri dibebaskan dari hal negatif. Jika pikiran memburuk karena dipenuhi dendam maka besar kemungkinan sikap seseorang terhadap sesamanya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda yang bersahabat.

    Ajaran penting lainnya dari Tuhan, yakni yang kedua adalah “menyangkal diri.” Orang yang selalu menyangkal diri adalah yang memiliki sikap rendah hati. Mereka mampu menghancurkan sisi arogan di dalam dirinya lalu mulai menyadari bahwa sebenarnya dirinya bukanlah apa-apa. Orang yang menyangkal dirinya menyadari bahwa dia hanyalah entitas kecil yang hina dan penuh dosa. Mereka bukan orang yang suka membanggakan kehidupannya sebab hari-hari yang dijalaninya sama saja dengan orang-orang pada umumnya. Berusaha untuk selalu tampil sederhana agar kehadirannya tidak membuat orang lain cemburu. Ia tidak beroleh keberanian lewat rasa sombong melainkan selalu memohonkan untuk “kuatkan hatiku ya Tuhan.”

    Berikut yang tidak kalah penting dari Tuhan Yesus adalah ajaran-Nya tentang mengikut “kebenaran sejati (ikutlah Aku).” Orang yang mengikut kebenaran selalu terhubungan dengan Sang Khalik dalam doa, firman dan nyanyian pujian untuk kemuliaan nama-Nya. Kasih kepada Allah dilakukan seutuhnya bahkan aktivitas fokus kepada Tuhan dapat dilakukan secara multitasking bersama aktivitas lainnya. Sedang dirinya sendiri senantiasa berbagi kasih kepada sesama lewat aktivitas belajar dan bekerja yang digeluti. Dia mengasihi sesama seperti diri sendiri dan tidak menggagahi orang lain agar memuji dan melebihkan haknya untuk beroleh kekayaan. Melainkan berusaha hidup setara seperti orang-orang pada umumnya.

  11. Allah membagi-bagikan Roh-Nya secara merata kepada semua orang (Roh Kudus).

    Kasih Allah sama rata atas semua orang. Tidak ada yang memiliki Roh yang lebih besar dari yang lainnya tetapi masing-masing orang mendapatkan yang setara. Pekerjaan Roh tersebut sesungguhnya tergantung dari intensitas aktivitas dan banyaknya tekanan kehidupan yang dialami. Pada dasarnya, masyarakat seperti satu tubuh dimana masing-masing orang memiliki keahlian yang berbeda. Potensinya itulah yang membuat profesi setiap pekerja berbeda-beda, bidang pekerjaannya juga berbeda. Tetapi semuanya bersama-sama mengambil andil penting untuk menjalankan sistem di dalam masyarakat. Tidak ada satupun orang yang tidak penting sebab justru tanpa kehadiran satu orang itulah, sistem menjadi tidak lengkap sehingga tidak mampu bekerja maksimal bahkan bisa saja mengalami kepincangan hingga kegagalan.

    Allah adalah hukum yang ditinggikan atas seluruh umat manusia. Segala hukum-hukumnya dipatuhi karena semuanya bermanfaat untuk mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan bersama bagi semua orang. Allah seperti Ibu yang mengasihi anak-anak-Nya sama (sejajar) satu sama lain.

  12. Masing-masing orang harus fokus Tuhan untuk merasakan hadirat Allah.

    Jika dahulu, masyarakat begitu bahagia dan tenteram setelah melihat keperkasaan Allah Bapa yang ajaib, sekarang momen tersebut telah diubah secara ekstrim. Transformasi kepribadian Allah Bapa ke Yesus Kristus hingga Roh Kudus mengajarkan kita bahwa diri-Nya kini lebih dekat dengan umat manusia. Jikalau dahulu keberadaan-Nya yang disertai dengan tanda-tanda ajaib yang disaksikan oleh mata kepala ini, sangat langka. Hal dahsyat tersebut tidak terjadi setiap tahun bahkan ada zaman kegelapan dalam hidup manusia dimana tidak ada satupun keajaiban yang membuat hati bahagia dan tenteram karena kita memiliki Allah yang hidup.

    Saat ini, Ia hadir lebih dekat bahkan sangat dekat dalam kehidupan setiap manusia. Orang sering mengatakan bahwa “Yesus hanya sejauh doa.” Bahkan saat berbisik-bisik di dalam hati, Ia mampu mendengarnya. Tujukanlah hatimu kepada-Nya di segala waktu yang dilalui niscaya rasa damai, bahagia, lega dan tenteram itu akan menjadi milik selamanya. Kita bisa senantiasa memfokuskan kehidupan kepada Allah sambil berdoa, membaca-mendengar firman dan bernyanyi memuliakan nama-Nya yang kudus. Saat hati selalu terkonsentrasi kepada Allah niscaya hadiranya nyata dalam setiap hembusan nafas ini.

  13. Manusia dimampukan untuk mengasihi sesamanya setara dengan diri sendiri.

    Saat kita memahami dengan sungguh-sungguh bahwa Tuhan telah menetap di dalam diri ini, yang dibutuhkan bukanlah diam-diam saja. Melainkan marilah kita memfokuskan pikiran hanya kepadanya saja. Sebab kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati yang terus dirasakan bagaikan energi yang selalu memberi semangat untuk melakukan hal yang benar. Kebenaran kedua yang tidak kalah pentingnya dalam kehidupan ini adalah kesanggupan mengasihi sesama layaknya diri sendiri. Aktivitas fokus kepada Tuhan bagaikan energi yang memberikan kita kemampuan untuk mengasihi orang lain dimulai dari hal-hal kecil, misalnya sikap yang santun dan ramah. Selanjutnya kebaikan itu bisa dinyatakan dalam bentuk materi dan potensi yang dimiliki. Bukankah hal-hal yang baik ini dapat kita lakukan sembari melakukan aktivitas positif lainnya seperti bekerja dan belajar?

  14. Kita mampu menanggung beratnya ujian kehidupan.

    Hati yang selalu tertuju kepada Tuhan sanggup menjadi energi positif yang menekan kebinatangan di dalam daging ini. Saat kita berada di tengah pergumulan hidup akan dimampukan untuk mengendalikan diri agar tidak sampai menunjukkan sikap-sikap yang berlebihan dan cenderung menyimpang. Semakin mantap kemampuan fokus kepada Tuhan, niscaya di tengah persoalan sekalipun, kita mampu menjaga sikap. Bahkan pada satu titik ketika sudah terbiasa mengasihi musuh, kita dimampukan untuk menanggapi mereka dengan cara yang sangat bersahabat. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan semua itu berlangsung tanpa menyisakan dendam bahkan kitapun menanggapi kejadian tersebut dengan ramah.

    Kita dimampukan untuk mengikuti alunan nada-nada gangguan sosial lalu mengubahnya menjadi puji-pujian kepada Tuhan. Roh Kudus akan melatih kita secara langsung bagaimana cara-cara menghadapi persoalan hidup tanpa harus terkotori oleh semua gejolak tersebut. Hanya saja baiklah kita berusaha tegar tapi santun menghadapi semuanya itu sembari mengisi hari-hari dengan berbagai aktivitas positif lainnya (belajar dan bekerja)

  15. Kita sanggup merendahkan hati dan hidup sederhana.

    Semua manusia bawaannya adalah sombong. Terlebih ketika kita memiliki bebeerapa hal yang lebih dari orang lain, apalagi kalau kemampuan itu sangat besar. Ketahuilah bahwa semakin besar keunggulan kita maka semakin intens pula kebiasaan untuk menyangkal diri. Kita harus paham betul bahwa diri ini bukanlah apa-apa di alam semesta. Bisa dikatakan bahwa “Alam semesta bisa berjalan sebagaimana adanya tanpa manusia.” Oleh karena itu, selalu sadari darimana asal-usul kehidupan kita, yaitu dari debu dan tanah. Sadari jugalah bahwa kita adalah makhluk yang penuh dengan dosa.

    Saat kita mau memelihara sikap yang rendah hati maka hal ini harus diiringi dengan sikap hidup sederhana. Orang yang mampu hidup sederhana, tidak berlebihan, memanfaatkan apa yang dibutuhkan saja dan tidak menimbun harta secara lebay. Mereka hidup sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya sebab tidak ingin menjadi batu sandungan yang membuat orang lain dengki menyaksikan kehidupannya.

  16. Manusia mampu mengembangkan sistem yang menjunjung tinggi keadilan sosial.

    Ketika kita percaya bahwa kedamaian, kebahagiaan, kepuasan dan ketenteraman bisa diperoleh hanya dengan memiliki hati yang selalu tertuju kepada Tuhan. Sudah seharusnya berbagai-bagai gemerlapan materi yang biasanya hanya menimbulkan iri hati persaingan, habisnya sumber daya dan kerusakan lingkungan, ditiadakan sama sekali. Kita tidak bermaksud untuk menghilangkan hal tersebut sebab materi juga membuat perdagangan dan pekerjaan tetap ada. Tetapi yang kita maksudkan adalah membagikannya secara merata. Jika hal tersebut terlalu sedikit maka kita akan membagikannya secara bergilir. Semua sumber daya yang ada seharusnya menjadi milik dan dikelola secara bersama-sama (tidak ada milik pribadi – swasta).

    Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa sesungguhnya sistem bermasyarakat akan terus berputar-putar dalam bencana alam dan bencana kemanusiaan jika keadilan sosial tidak ditegakkan. Sebab kecenderungan manusia adalah selalu berusaha mencapai hal-hal yang tinggi dalam hidupnya. Saat ilmu pengetahuan, uang dan kekuasaan ditinggikan di dalam masyarakat maka dapat dipastikan bahwa hampir semua orang akan bersaing untuk mengejar hal tersebut. Lagipula perputaran uang tinggi di sekitar power yang dibangga-banggakan tersebut sehingga mampu memobilisasi masyarakat dalam jumlah yang sangat-sangat banyak. Keadaan ini jelas beresiko tinggi menimbulkan konflik horizontal yang bisa berakhir dengan kerusuhan dimana-mana.
    KETIDAKADILAN AKAR DARI SEGALA KEJAHATAN

  17. Manusia berperan penting menjaga kelestarian alam.

    Apa yang dicari orang di dunia ini selain kepuasan, kedamaian, kebahagiaan, kelegaan dan ketenteraman hati? Bukankah kita mampu memperolehnya dengan memiliki hati yang selalu tertuju kepada Allah dan mampu mengasihi sesama sejajar dengan diri sendiri? Jika memang demikian adanya, maka sudah seharusnya berbagai-bagai bentuk kesenangan duniawi yang berlebihan bisa ditiadakan. Sebab gemerlapan duniawi yang lebay cenderung mendorong timbulnya persaingan tidak sehat dan berpotensi merugikan sesama hingga degradasi lingkungan.

    Jika memang kita mengasihi sesama seperti diri sendiri maka sudah seharusnya mampu memelihara kelestarian lingkungan. Sebab tumbuhan hijau adalah komponen penjaga yang diutus Tuhan di bumi sebagai penyeimbang kekuatan sinar matahari. Energi foton dari sinar matahari sesungguhnya mampu membakar permukaan bumi tetapi keberadaan air dan tumbuh-tumbuhan telah menjadi komponen penyuplai atmosfer. Dengan adanya tanaman hijau yang selalu melahirkan berbagai udara bersih dan air laut yang menguap setiap siang menjadi pelindung bagi kehidupan di bumi ini. Kita tidak lagi menghadapi anomali cuaca yang tak pasti, temperatur udara tidak sampai merusak dan berbagai jenis bencana alam jauh dari negeri ini. Jadi lingkungan yang asri secara masif, bertahap dan terstruktur telah menjauhkan musibah yang bisa beresiko menyebabkan kerugian materil, moril dan korban jiwa.

  18. Manusia hidup dalam damai sejahtera dari generasi ke generasi.

    Dengan memanfaatkan garam perjanjian yang daripada Tuhan, kita bisa memutar sumber daya alam sehingga tetap dan selalu ada untuk mensejahterakan seluruh anggota masyarakat. Tidak ada yang kaya atau miskin tetapi semuanya hidup makmur dimana segala kebutuhannya (bukan keinginan) terpenuhi. Ilmu pengetahuan dan teknologi akan digunakan secara bersama-sama (bukan secara pribadi) sehingga energi yang digunakan lebih hemat. Masyarakat akan diedukasi bahwa yang namanya kepuasan, kedamaian, kebahagiaan, kelegaan dan ketenteraman hanya diperoleh dengan melakukan kebenaran yang sejati (kasih kepada Tuhan seutuhnya dan sesama sama dengan diri sendiri)

    Perebutan materi yang selama ini dipelihara oleh sistem kapitalisme tidak akan terjadi lagi. Sebab persaingan kekayaan inilah yang beresiko tinggi menyebabkan bencana alam dan peperangan (bencana kemanusiaan). Bila manusia mampu membagi kemakmuran secara merata niscaya tidak harus ada yang namanya persaingan yang bisa berujung pada konflik. Bahkan angka kejadian iri hati lebih minimalis sekalipun ada rasa dengki hal tersebut tidak sampai menimbulkan persaingan sebab apa yang dimiliki oleh satu orang juga dimiliki oleh orang lain (secara materi)

    Selama ini kekuasaan dijadikan sebagai ajang untuk mencari lebih banyak uang dan pujian. Tidak ada lagi yang namanya penyalahgunaan kekuasaan sebab materi untuk satu-satu orang sama saja. Bukankah materi dan kemuliaan ini sangat dicari orang karena diyakini memberi kepuasan, kedamaian, kebahagiaan, kelegaan dan ketenteraman? Oleh karena itu, manusia diajarkan dan diarahkan untuk fokus kepada Tuhan (doa, firman dan nyanyian pujian) juga mengasihi sesama sembari beraktivitas positif (belajar & bekerja). Justru materi dan kemuliaan hanya menawarkan suasana hati yang baik sesaat saja tetapi orang yang memperjuangkan kebenaran sejati beroleh puas, damai, bahagia, lega dan tenteram selamanya.

Kesimpulan – teknik pendekatan Tuhan yang berbeda untuk mengubah manusia

Allah Bapa adalah pribadi yang gilang gemilang dengan kedahsyatan, kemahakuasaan dan kebesaran yang tidak terkirakan bahkan orang-orang Israel sendiri sampai gemetar ketakutan menyaksikan kehadiran-Nya di gunung Horeb (disebut juga gunung Sinai). Kepatuhan manusia kala itu akan perintah dan larangan-Nya hanya terbatas setelah penglihatan yang luar biasa itu dinyatakan (menyaksikan keajaiban Allah). Tidak lama berselang, pesona materi akan membuat mereka berdosa bahkan keturunan mereka yang kemudian (belum menyaksikan keajaiban Allah) lebih jahat lagi. Manusia jatuh dalam dosa yang membuatnya mendapat hukuman, baik berupa penyakit, kelaparan, bencana alam, binatang buas, peperangan, pembuangan (perbudakan) dan lain sebagainya. Kemudian Tuhan kembali memberi penglihatan dengan menunjukkan keajaiban yang menggemparkan indra sehingga semua orang bertobat. Tetapi tidak lama setelah itu, manusia lupa lalu lagi-lagi terpesona dengan indra (pesona duniawi) sampai melakukan dosa. Siklus ini terus saja berputar-putar. Kunjungilah kawan, Makna yang dipelajari dari Allah Tritunggal.

Sejak saat itu, Tuhan mulai mengubah teknik menyadarkan manusia. Ia tidak lagi menempatkan diri dalam bentuk-bentuk yang dahsyat dan luar biasa melainkan mengambil rupa yang sederhana, yaitu Yesus Kristus. Lewat pribadi Yesuslah, Tuhan mengajarkan kita bagaimana seharusnya menjadi orang benar di tengah dunia yang semakin bergejolak. Ia memberi teladan yang baik untuk mengarahkan kita pada kebenaran aplikatif yang dikehendaki Allah dan bukannya pada kebenaran yang penuh dengan kepalsuan seperti yang dipraktekkan oleh orang-orang farisi dan ahli taurat kala itu. Kebenaran sejati juga jangan sampai membuat hati arogan dan serakah akan sumber daya yang tersedia. Justru arogansi dan ketamakanlah yang membuat kebenaran kita hambar sebab sesungguhnya yang kita kehendaki adalah gaji yang lebih tinngi, pujian yang lebih banyak dan popularitas yang melejit. Dengan mengarahkan masyarakat untuk fokus mencari kenikmatan dan kemuliaan duniawi, sadarilah bahwa hal tersebut adalah awal dari bencana alam dan bencanakemanusiaan. Saksikanlah, Penyebab Allah orang kristen banyak?

Tidak perlu berjalan jauh mencari Tuhan. Dia tidak pernah jauh dari orang-orang yang percaya kepada-Nya. Ketahuilah bahwa hal-hal yang luar biasa yang dulu bisa dilakukan oleh Tuhan dapat pula diperbuat oleh manusia dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didanai oleh konglomerat kelas atas (oknum kapitalis). Jika fokus kehidupan kita tertuju pada hal-hal yang mempesona indra tersebut niscaya akan timbul ketidakadilan yang memicu persaingan. Akumulasi persaingan tinggi di dalam masyarakat membuat keberadaan sumber daya akan terkuras lebih cepat, sampah-polutan memenuhi  lingkungan dan kerusakan alam. Artinya, fokus kepada indra (gemerlapan duniawi) berujung pada bencana (alam dan kemanusiaan) tetapi fokus kepada pikiran yang selalu tertuju kepada kebenaran (mengasihi Tuhan seutuhnya dan sesama sama dengan diri sendiri) akan menciptakan kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan kelegaan di dalam hati tiap-tiap orang dari waktu ke waktu. Simak juga, Trinitas Allah Yang Masuk Akal.

Salam, Transformasikan fokus
dari indra ke hati
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.